[FF] 미안 Mian (I'm Sorry)

1:05 PM 0 Comments A+ a-


미안
Mian
(I’m Sorry)
Author :             RetnoNateRiver
Genre :                Romance
Casts :                 - Moon Geun Young as Moon Geun Young
                                - SJ Yesung as Kim Ye Sung
                                - etc...
 
*****
Assalammuallaikum wr.wb.
Annyeong, yeoreobun...!
Kyaaa~~, FF ini Nate buat ¼ nya di sekolah gegara buku tulis FF-ku ketinggalan~...! ~_~ ^^padahal mau nulis ending-nya~~...?!^
Bosen, jadi buka buku coret-coretan buat nulis FF ini, yang emang one shot... ^^tapi panjang banget, ya, thor~~..? 16 HVS...!^ Namun baru nulis pembukaannya, Bu guru sudah masuk kelas dan siap memberi materi~~.. Geuraeseo, penulisan FF ini juga agak terhalang dengan kewajiban tersebut...
Meski begitu, Nate bisa lanjutin lagi pas jam kosong~~.. ^^namanya juga hobi, ya~~^ Dan ¾ nya aku lanjutkan di rumah dan langsung ditik~~
Daripada Reader-deul pada bosen dengan ocehan Nate, mending langsung baca FF ini aja, ya~~.. Oya, satu catatan yang harus dibaca sama Reader-deul...
Di FF ini, Geun Onni adalah yeoja yang agak ceroboh dan kurang hati-hati~~...!
Oya, satu lagi buat para YeMoon shippers, kita gak bisa berharap banyak dari couple favorit kita ini... Kita juga harus mengerti keadaan mereka yang sebenarnya di dunia nyata... Kita gak bisa menuntut mereka ini itu dengan keadaan seperti ini...
Ini memang bukan FF pertama Nate yang pernah ku tulis, tapi ini FF pertama yang Nate share di blog sebagai ‘hidangan pembuka’ sebelum FF-deul yang lainnya... Kalau responnya bagus, akan ku usahakan mengetik FF lagi~~...!
OK, Reader-deul...,
Happy Reading~~...!

Author

RetnoNateRiver
*****
[Geunyoung POV]
—“Aku memang bukan manusia sempurna... Maka dari itu, aku pasti punya banyak kesalahan... Tapi..., kenapa...? Kenapa seakan-akan..., Oppa tak memaafkan kelemahan itu...?”— (Moon Geun Young)

Beberapa minggu yang lalu...
Oppa baru saja mencium bibirku. Ya, Yesung Oppa menyempatkan waktunya yang sempit hanya untuk menjengukku.
“Kenapa Oppa menciumku? Aku, kan, sedang sakit...” ujarku sambil mendongak untuk menatap mata kecil namja yang punya tinggi 12cm lebih tinggi dariku ini.
“Hanya mengecek, kok...” Oppa beralasan, “Panasmu makin tinggi, jangan paksakan syuting dulu...”.
“Hu-uh...’’ aku mengiyakan, menuruti kata-katanya.
Oppa tersenyum tipis, ia mengusap kepalaku. “Galkke...” pamitnya, “Kau istirahat, ya...”.
“Ne...”.
Oppa kemudian mengecup keningku. Lalu ia memakai topi dan jaket hitamnya yang ia gunakan untuk menutupi identitasnya.
“Hati-hati...” pesanku.
Oppa hanya tersenyum. Ia kemudian beranjak pergi dari apartement-ku. Sebagai salah satu member SJ, ia memang sangat sibuk...

Tapi...,
apa karena hal itu..., Oppa tak bisa memaafkan kelemahanku ini...?

*mian*
Oneul...
“Geunyoung-ah..., kau tak apa...?” tanya Manager Oppa.
“Hm. Nan gwaenchanha...” jawabku.
“Aigoo~~... Lain kali kau harus lebih hati-hati lagi...” pesannya.
Aku hanya menunduk, duduk-duduk di atas kursi dengan seorang crew wanita yang mengobati luka di kakiku. Ya, scene bersepedaku ditunda sementara karena kecerobohanku : aku jatuh dari sepeda.
Kemudian, ponselku berdering. Aku sudah tau pasti siapa yang menelponku dari nada deringnya. Dan ketika ku lihat layar ponselku..., benar, Yesung Oppa.
“Yeoboseyo...?” ku angkat panggilannya.
“Kau kenapa? Kau terluka? Bagaimana keadaanmu?” tanya Yesung Oppa segera, dengan nada yang agak berat dan tergesa-gesa.
Aku hanya menghela nafas. “Hanya luka di kaki...” jawabku, sejujurnya berat untuk mengucapkannya.
“Aish...” gerutunya, “Kau harus hati-hati..! Jangan ceroboh..!” omelnya. Ah, tidak. Ia hanya menegurku, itulah yang Oppa lakukan disela-sela kesibukannya padaku akhir-akhir ini.
Lagi-lagi aku hanya menunduk, serasa menciut dengan kata-kata yang Oppa lontarkan. “Mian...” ujarku, hanya itu yang bisa ku ucapkan.
“Bagaimana lukamu? Sudah diobati?” tanyanya, masih dengan nada yang sama.
“Ne... Sudah...” jawabku.
Terdengar desahan nafasnya, ia menggerutu. “Jangan ulangi hal ceroboh seperti ini lagi..! Kau harus selalu berhati-hati..! Kau harus mengingatnya..!” kali ini aku benar-benar merasa kalau Oppa mengomeliku... Kali ini..., dan selama ini...
“Mian...” ujarku lagi. Ingin menangis rasanya mendengar Oppa mengomeliku dan membuatnya khawatir di kesibukannya karena kecerobohanku ini.
“Harusnya kau...,”.
“Ya, Yesung-ah...!” ku dengar sayup-sayup suara Leeteuk Oppa dari telepon, memanggil Yesung Oppa. Sudah waktunya baginya untuk menutup panggilan dan melanjutkan jadwalnya yang tertunda.
Lagi-lagi ku dengar Oppa mendesah. “Sudah.. Aku pergi dulu...” pamitnya.
“Ne, Oppa...” kataku.
“- - -” nada panggilan terputus. Oppa benar-benar sibuk, ia tak memberiku pesan terakhir seperti biasanya, tapi aku memaklumi hal kecil itu.
“Nugaegeseo...? (Dari siapa...?)” tanya Manager Oppa.
“Dari Oppa...” jawabku
“Oh...” Manager Oppa hanya mengangguk kecil, sudah mengerti bahwa Yesung Oppa-lah yang aku maksud.
“Geunyoung-ssi...” crew yeoja itu bangkit, “lukamu sudah ku obati...”.
Aku tersenyum, “Gomawoyo...” kataku.
“Han PD bilang, scene ditunda sampai besok karna kau harus is...,”.
“Tolong katakan..., pada Han PD...,” selaku segera, “aku siap untuk scene ini...”.
***
Aku kesulitan tidur.
Aku merasakan perih yang luar biasa di kakiku, luka tadi. Memang harusnya aku istirahat tadi, tapi aku tidak suka menunda pekerjaanku.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Ketika ku lirik, jam menunjukan pukul 10.04 pm. Aku yakin, Oppa pasti belum tidur.
Aku raih ponselku yang ada di atas meja dekat kasur. Aku segera menekan fast dial nomor satu, nomor ponsel Yesung Oppa.
Aku ingin Oppa mengangkat panggilanku, begitu harapku. Namun bahkan sampai panggilan yang ke 25, Oppa tak juga mengangkat panggilanku.
Oppa belum tidur pasti. Ya, karena ia masih punya jadwal sampai tengah malam ini, dan bodohnya itu tak terpikirkan olehku.
Sebenarnya, Oppa bukanlah orang yang suka mengomel, ia hanya cerewet. Aku tau, Oppa sangat menghormati perempuan. Tapi entah apa yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
“Oppa pasti sedang tertekan...” gumamku.
Kemudian, masih dengan perihnya luka di kakiku, aku beranjak tidur dengan perasaan yang tak karuan.
*mian*
Pagi-pagi begini...
Ku biarkan Manager Oppa duduk di jok mobilku yang ada di samping kiriku, ia sedang mengurus beberapa jadwalku yang sangat penting.
Ketika menyetir, ponselku yang ada di dasbor berdering. Aku meraihnya. Dan kemudian,
“Geunyoung-ah, awas...!!!” seru Manager Oppa, ketika tiba-tiba mobil yang ku kendarai hampir menabrak mobil lain.
Aku segera terkesiap dan membenarkan posisi mobilku dengan tiba-tiba, sehingga kami berdua hampir terjungkal. Lagi-lagi, kesalahanku...!
“Aigoo...” Manager Oppa hanya mengusap dada, hampir jantungan dengan ulahku. “Kau sedang menyetir...! Jangan mengangkat panggilan di ponsel sembarangan...!” katanya, “Harusnya, kau pakai handset atau apalah itu...!”.
Aku hanya mengangguk-angguk, “Ne... Mianhae...” kataku.
Manager Oppa kemudian meraih ponselku yang jatuh itu, “Biar aku yang angkat...” katanya, kemudian ia mengangkat panggilan itu. “Yeoboseyo...? Ah, Han PD...! Ne.., ...,”.
Tak lama, kami sampai ditujuan, dan panggilan yang rupanya dari Han PD itu juga sudah selesai.
“Handel & Gretel...?” ujar Manager Oppa ketika ia mengetahui tujuanku ini. Ia kemudian menatapku, “Mau apa ke sini...?” tanyanya kemudian.
“Nanti juga tau...” kataku.
Kami berdua segera turun dari mobil dan memasuki restoran kecil itu. Mataku menangkap Jongjin —adiknya Oppa— yang tengah membersihkan teras.
“Eh, Geunyoung-ah...?” ujarnya begitu melihatku datang, ia tersenyum padaku dan ku balas pula ia dengan senyuman.
***
“Ah, Yesung juga belum mengunjungi kami sejak empat atau tiga bulan yang lalu...” ungkap Ahjuma, Umma-nya Yesung Oppa. Ia sempatkan waktunya untuk duduk-duduk bersamaku. Beruntunglah, restoran ini masih sepi.
“Ne wol...? (Empat bulan...?)” ujarku, kaget. Rupanya, Oppa juga tidak ke sini selama itu, lebih lama daripada aku yang tak pernah ditemuinya yang jika dihitung baru dua bulan.
“Ah... Tapi tak apalah... Namanya juga bekerja...” kata Ahjuma, “Ia pasti sangat sibuk...”.
“Apa..., ia pernah menelpon Ahjuma atau anggota keluarga yang lainnya empat bulan ini...?” tanyaku.
“Hmm... Itu dia yang membuatku sedih...” kata Ahjuma, “Yesung tidak pernah sesibuk ini.. Bahkan kami tak menerima kontak apapun darinya... Ia lebih sibuk daripada biasanya...” jelasnya, “Meski sibuk, ia selalu menyempatkan waktunya untuk sekadar mengirim sms atau menelpon kami seminggu sekali..., itupun paling jarang... Tapi kali ini tidak.. Aku selalu khawatir akan kesehatannya...”.
Rupanya, Ahjuma mengalami hal yang juga aku alami.
“Telpon kami tak pernah dijawab, juga pesan tak pernah dibalas...” cerita Ahjuma, “Kalau ku lihat-lihat, ia memang sering muncul di televisi... Ia juga sering muncul di siaran radio selain Sukira yang letaknya ada di seberang sana...”.
Aku menunduk (lagi). Oppa benar-benar sesibuk itu rupanya.
***
Sesuai yang ia katakan dalam panggilan tadi, Han PD menyuruhku datang ke lokasi syuting. Tapi...,
“Geunyoung-ah...? Gwaenchanha...?” tanya Manager Oppa melihatku dengan pakaian yang akan ku gunakan untuk scene ini.
“Gwaenchanha...” kataku, heran, “Waeyo...?”.
“Kau..., kelihatannya agak pucat...?” kiranya, “Atau ini karena make up yang berlebihan...?”.
“Aku belum memakai make up...” ujarku, masih dengan nada heran.
Manager Oppa mengernyitkan dahi. Heran, tapi juga khawatir. “Kau..., yakin..., tidak apa-apa..?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk, “Hm. Tidak apa-apa...” kataku.
Manager Oppa hanya terdiam, ia sudah cukup bingung mungkin. Kemudian tak lama, seorang penata rias menghapiriku dan lalu me-make up-ku.
Namun kemudian...
Aneh, aku merasa pusing, tapi kenapa...?
“Geunyoung-ssi, gwaenchanhseumnikka...?” ujar penata rias itu cemas.
Mendengarnya, Manager Oppa berbalik memandangku. Kekhawatirannya ternyata benar-benar terjadi, tepat dugaannya.
Aku mendekap wajahku, semakin pusing.
Dan kemudian...


“Bruk!”


Semua gelap...?
*mian*
Aku membuka mataku, dan mendapati sinar lampu menyilaukan mataku. Ketika ku telusuri lagi ruangan tempatku berada,
“Aku..., di rumah sakit...?” gumamku.
Aku yang semula berbaring kemudian bangkit, duduk dengan tiba-tiba di atas ranjang yang aku tempati.
“Eo... Kau sudah bangun...?” Manager Oppa segera menghampiriku. Terlihat kelegaan di wajahnya. “Syukurlah...” ujarnya.
Aku memerhatikan sekeliling. “Kenapa..., aku bisa berada di sini...?” tanyaku.
“Kau tak ingat...?” ujar Manager Oppa, “Kau pingsan, tau...!”.
“Ng?” aku bingung sekaligus memutar otak untuk mengingat peristiwa yang ia katakan. Tapi kemudian kepalaku terasa pusing kembali.
“Ei, geuman.. Jangan diingat lagi...!” katanya, “Oya, tadi Umma-mu menelpon...” ia menyerahkan ponselku.
“Umma...?” ujarku, sambil meraih ponselku.
“Oya, dokter menyuruhmu istirahat sementara...” sambungnya, ”Seperti biasa, kau demam lagi...! Tapi tidak terlalu parah, jadi kau cukup istirahat saja...”.
“Bagaimana dengan syuting?” tanyaku segera.
“Aigoo...” ujarnya ^^BT, ya~~...?^, “Kau masih saja menanyakan itu ketika kau begini? Tentu saja ditunda!”.
“Mwo?!”.
“Tapi jangan khawatir soal itu...” Manager Oppa kemudian berpaling dariku, namun karena aku belum memberi respon ia kembali menatapku dan mendapatiku yang masih khawatir soal topik sebelumnya —syuting—. “Kenapa menatap begitu?!” ujarnya, “Telpon Umma-mu sekarang juga...! Ia sangat khawatir akan dirimu...!”.
***
[Author POV] ^^gantian, ya, Onnie~~..^
Malam yang dingin, tapi meski masih dengan jaket dan tas yang melekat padanya, Yesung tak peduli akan hal itu.
Yesung melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju sebuah kamar rawat. Kemudian, ia menemukan kamar yang dicarinya.
Ketika ia membuka pintu kamar itu, ia mendapati yeoja-nya tengah menyantap makanan yang rumah sakit berikan padanya.
Mata mereka saling bertemu.
Sendok yang hendak dilayangkan Geunyoung —yeoja-nya Yesung— ke mulutnya itu terhenti ketika matanya menangkap sosok Yesung yang sudah lama ditunggunya selama ini. “Yesung..., Oppa...?” ujarnya, setengah kaget tapi juga girang.
Tatapan Yesung berubah tajam. “Aish...” ia menggerutu, “Kau tak apa, kan...?” tanyanya, terdengar cuek.
Geunyoung mengangguk ragu, kegirangannya hilang ketika ia mendengar nada yang cuek itu. “Gwaenchanha...” jawabnya.
Yesung menatap Geunyoung kembali dengan tatapan tajam tadi, “Eo...? Ku bilang kau harus hati-hati...! Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri...?!” omelnya, “Daya tahan tubuhmu itu lemah...! Jadi, jaga dengan baik...! Sekali lengah, kau bisa langsung sakit...!”.
Geunyoung menunduk kembali. “Mian, Oppa...” ujarnya.
“Lain hari, aku tak mau mendengar kau kenapa-kenapa lagi...!” lanjut Yesung, “Kau ingat?”.
“Ne, Oppa... Aku akan mengingatnya...” jawab Geunyoung, suaranya bergetar.
“Eo...” ujar Yesung, sebagai tanda pamit.
Kemudian, Yesung melangkah keluar dari kamar tempat Geunyoung dirawat. Ia benar-benar pergi dengan langkah berat itu.
Ketika Yesung benar-benar tak ada di kamarnya, Geunyoung masih menunduk. Kemudian, ia melihat tetesan air mata di selimutnya, tanpa sadar ia menangis.
“Neon jinjja paboya, Geunyoung-ah...! (Kau memang bodoh, Geunyoung-ah...!)” gumamnya sendiri.
Ia tak lagi berselera makan, meski memang ia lapar dan Yesung pasti akan menyuruhnya untuk menghabiskan makanannya. Tapi itu takkan terjadi.
Sementara di luar, Yesung tak benar-benar pergi.
Ia masih di depan pintu. Tatapan tajam yang tadi ia arahkan pada Geunyoung, yeoja-nya, kini hilang dan berubah menjadi tatapan bersalah.
Yesung-ah, jugeulkke...!! (Yesung-ah, kau akan mati...!!)” kutuknya dalam hati pada dirinya sendiri, mendengar sayup-sayup suara Geunyoung dan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
*mian*
[Geunyoung POV]
Aku merasa baikan hari ini. Ku katakan pada Manager Oppa kalau kau ingin pulang hari ini juga.
“Aku tidak yakin...” ujar Manager Oppa, ketika ia menemaniku membereskan barang-barangku yang ada di ruang rawatku.
“Waeyo...?” tanyaku, sambil terseyum tipis padanya.
“Kau benar-benar sudah sembuh, ya...?” lanjutnya.
Aku hanya terkekeh, “Ah, Manager Oppa...! Malhajima...! (Jangan bilang begitu...!)” kataku.
Aku berjalan menuju balkon ruang rawatku, tapi tiba-tiba saja...
“Ah...” aku merasa pusing lagi. Ah, andwaeyo...!
“Geunyoung-ah?!” pekik Manager Oppa.
Ia mendekatiku yang tengah berpegangan pada pinggiran kasur sembari mendekap dahi.
“Apa ku bilang...? Jangan pulang sekarang...! Kau ini terlalu memaksakan diri...!” katanya di belakangku.
Namun, aku tak mampu merespon kata-katanya. Rasa pusing itu sudah mengunciku.
“Geunyoung-ah? Geunyoung-ah, kau dengar aku, kan?” Manager Oppa mulai khawatir, ia mengguncang pelan bahuku, “Geunyoung-ah? Kau dengar, kan? Ayo, jawab aku...!”.

“Ya...!”.

Pandanganku buram.

“Ya...! Geunyoung-ah...!”.

Suara-suara yang ku dengar perlahan pudar.

“Geunyoung-ah...!”.



“Bruk!”

Bersamaan dengan suara itu, pandanganku berubah gelap.

*mian*
Aku merasakan bahwa aku tengah terbaring di atas sebuah ranjang, namun ini bukan ranjangku. Hatiku sudah bisa menebak ranjang siapa ini.
Aku membuka mata, dan lagi-lagi ku dapati sinar lampu yang menyilaukan mataku itu. Ku telusuri sekeliling dan dugaanku benar-benar tidak salah ketika aku menyadari bahwa aku memang masih di rumah sakit, tidak pulang. Dan aku masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Ku dapati selang infus di samping kiriku, ujungnya menancap pada punggung telapak tangan kiriku. Ah, jinjja... Kini aku merasa bosan.
Kali ini, tak ada Manager Oppa di sini. Hari sudah malam, mungkin ia pulang ke rumah. Kasihan juga anak dan istrinya di rumah, apalagi anaknya yang masih kecil itu.
Aku belum sanggup bangkit, bahkan hanya untuk duduk di atas ranjang. Kemudian, aku melirik ke tasku yang ada di atas kursi sana dengan risleting yang terbuka, memamerkan lembaran-lembaran skenario dari Han PD yang ku simpan di dalamnya.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di pikiranku.
***
[Author POV] ^^saya lagi...^
Ia kabur dari siaran Sukira yang menunggunya, tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan pada Leeteuk yang paling dekat dengannya tadi. Dan untungnya (?) juga tak ada yang menyadari tindakannya sampai saat ini.
Ya, namja dengan jaket hitam dan tas abu-abu itu memang Yesung —orang yang kabur dari siaran—.
“Ada yang bisa kami bantu...?” tanya seorang resepsionist wanita ketika Yesung mendekat ke mejanya.
“Um... Aku mencari seorang pasien bernama Moon Geun Young... Yang waktu itu menempati ruang rawat di bagian Pparan... Apa ia masih di situ...?” tanya Yesung segera.
“Jamkkanman juseyo... (Mohon tunggu sebentar...)” ujar resepsionist itu. Kemudian ia mengecek nama yang Yesung maksud itu di layar komputernya. “Ah, Nn. Moon Geun Young, ya...?” ujarnya begitu menemukan nama yang dimaksud, “Ya. Ia masih di sana...”.
“Gamsa hamnida...!” ujar Yesung segera.
Tanpa basa-basi, ia segera melesat menuju ruang yang pernah ia datangi tempo hari itu. Letaknya ada di lantai dua.
Sampai di bagian Pparan, Yesung menelusuri koridor dan menemukan pintu ruang tempat Geunyoung dirawat.
Ia membuka pintu itu sesegera mungkin. Namun ia terkejut ketika ia tidak mendapati siapapun di dalamnya, tidak ada Geunyoung.
“Mwo?!” pekiknya, “Ke mana dia...?!” batinnya.
Kembali Yesung melesat keluar. Dan ketika ia melewati balkon, langkahnya terhenti. Ia mendengar suara seseorang yang dicarinya. Lantas Yesung mendekat ke balkon dan mencari sumber suara itu. Rupanya, dari bawah.
***
“... ‘Aku tidak akan menerimanya...!’...” Geunyoung membaca dialog di tangannya. Ia lalu menghirup nafas dalam-dalam, dan mulai berdialog tanpa lawan bicara itu (tengah menghafalkan dialog) —karna memang itulah yang ia lakukan sejak 30 menit yang lalu—, “Aku tidak akan...,”.
“Geunyoung-ah...” panggil sebuah suara dari belakangnya, suara seorang namja.
Penutup kepala dari jaket tebal yang Geunyoung pakai membuatnya tak mampu melirik namja itu. Jadi, ia berbalik dan mendapati Yesung-lah yang ada di belakangnya.
“Yesung..., Oppa...?” ujar Geunyoung ragu.
Kembali Yesung mendesah, dan menatap Geunyoung dengan tatapan tajamnya. “Malam dingin begini bisa-bisanya kau ada di luar...?” ujarnya, menatap Geunyoung dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ia ingat betul jaket merah muda pudar itu yang tengah Geunyoung pakai, beserta penutup kepalanya. Itu jaket yang pernah ia berikan pada Geunyoung setahun lalu ketika yeoja ini berulangtahun.Yesung sangat senang melihat Geunyoung memakai benda pemberiannya itu, apalagi yeoja ini terlihat sangat manis ketika menggunakannya.
“Mi, mi, mian...” ujar Geunyoung ragu.
“Aku mendapat kabar...” kata Yesung, “Harusnya hari ini kau pulang..., tapi kau kembali sakit dan masih di sini...” katanya.
Geunyoung menunduk, ia benar-benar merasa sedih.
Yesung mengatur nafasnya yang tidak beraturan, mencoba menabahkan diri. Tapi sepertinya, itu tak ada gunanya.
“Bukankah aku sudah bilang padamu agar kau menjaga diri dengan baik...?” ujar Yesung dingin, “Kenapa kau mengulangi kesalahanmu lagi?!! Wae?!!” kali ini —dan untuk pertama kalinya— ia membentak Geunyoung.
Kali ini, Geunyoung merasa benar-benar takut. “Mi, mian, Oppa... Mianhae...” ujarnya, lagi-lagi suaranya bergetar.
“Eo? Kau lupa?!” lanjut Yesung, “Kau bahkan sudah berjanji padaku untuk mengingatnya!!”.
Geunyoung tak mampu membalas kata-kata Yesung, bahkan hanya untuk membalas dengan kata ‘mian’.
“Ku rasa sudah cukup... Sampai di sini saja...” kata Yesung dingin, “Aku bahkan melewatkan banyak hal yang penting...,


hanya untuk menemuimu...“.


Mwo...?!” batin Geunyoung, “A, a, apa yang..., Oppa katakan...? Apa..., seberat itukah ia..., hanya untuk menemuiku...? Apa itu alasannya selama ini...?”.
Yesung kemudian berbalik, kata ‘Aish’ tak lagi dilontarkannya, menurutnya kini kata itu hanya kata biasa.
Air matanya jatuh (lagi). “Ini memang sakit... Tapi kata-kata itu lebih sakit lagi...” batin Geunyoung, hanya mampu menatap punggung Yesung  yang semakin menjauhinya, “Jika benar Oppa tak peduli lagi padaku..., jika benar seberat itu pengorbanan Oppa hanya untuk menemuiku..., kenapa Oppa masih meneruskannya...? Kenapa tidak Oppa putuskan saja..., agar ia bisa lebih fokus pada pekerjaannya...?”.
“Bruk!!”.
Yesung mendengar sebuah suara dari belakangnya. Langkahnya berhenti, dan ia menoleh ke belakang.
Ia terkejut ketika mendapati Geunyoung sudah tergeletak di atas rerumputan landai itu, tak sadarkan diri.
“Geunyoung-ah!!” pekik Yesung. Ia menjatuhkan tasnya begitu saja, dan menghampiri Geunyoung.
Tatapan dan kata-kata tajamnya seakan sirna secara tiba-tiba, ketika ia menyadari keadaan Geunyoung saat itu.
Ia merangkul Geunyoung dalam pangkuannya. “Geunyoung-ah! Kau mendengarku, kan?!” ia guncangkan tubuh Geunyoung, tapi tak ada respon dari yeoja-nya itu, “Geunyoung-ah!!” panggilnya.
***
Geunyoung sudah berada di ruang rawatnya kembali, meski ia dalam keadaan tidak sadar.
“Managaer hyung, terima kasih, ya, kau selalu memberitahuku soal keadaan Geunyoung...” kata Yesung ketika ia bersiap untuk pergi.
“Ah, awalnya aku juga ragu, apakah aku mengganggumu atau tidak...” kata Manager Geunyoung itu,”Kelihatannya..., kalian jarang bertemu, ya...? Kau pasti sibuk...”.
Yesung hanya tersenyum tipis mendengarnya.”Suatu hari nanti..., kami akan seperti dulu lagi...” katanya.
Manager memandang Yesung, “Aigoo... Daripada kalian berdua tertekan, kenapa tidak publikasikan saja... Bukankah di luar sana banyak penggemar yang mengharapkan kalian bersama-sama...?” sarannya.
“Jangan dulu...” kata Yesung, “Aku mengkhawatirkan Geunyoung kedepannya...” katanya. “Aku pergi dulu, Manager hyung...!” pamit Yesung setelahnya, tersenyum pada Manager.
Yesung kemudian bangkit. Langkah yang awalnya menuju pintu kemudian berbelok ke arah Geunyoung yang ada di ranjang.
Ia berjalan menuju yeoja yang masih terpejam itu. Kemudian, Yesung mengecup keningnya, ia rindu akan hal ini.
Bersabarlah, Geunyoung-ah...” batin Yesung, “Oppa-ga doraolkeoya... (Oppa akan kembali...)”.
*mian*
Seminggu kemudian...
[Geunyoung POV]
Aku sudah kembali beraktifitas seperti biasanya, melanjutkan syutingku  yang tertunda. Terpaksa mengecewakan para penonton yang sedang menanti kabar drama ini ditayangkan.
“Sukses buat syutingmu, ya...!”pesan Jongjin pagi ini ketika aku selesai mengunjungi Handel & Gretel, sekalian untuk bertemu dengan Ahjuma yang rupanya dalam keadaan kurang sehat.
“Gomawoyo...” kataku pada Jongjin, “Salam buat Ahjuma, ya...! Semoga cepat baikan...”.
“Akan ku sampaikan...!”.
Bahkan di saat seperti ini, Oppa tak mengunjungi Handel & Gretel, hanya sekadar untuk melihat-lihat keadaan Ahjuma. Tapi ini juga karena Ahjuma tak mau merepotkan Oppa, jadi beliau tak memberitahu berita ini pada anak sulungnya itu.
Aku kemudian memasuki mobil, bersiap untuk ke lokasi syuting. Kebiasaanku datang pagi-pagi ke Handel & Gretel rupanya juga sudah dimengerti oleh Ahjuma, Jongjin, dan juga karyawan H&G lainnya.
Minuman yang ku beli tadi ku letakan di jok di sampingku. Kali ini, syuting harus berjalan lancar!
“Geunyoung-ah...! Wasseo...!” sambut Manager Oppa begitu ia melihatku turun dari mobil dan menghampiri para crew.
“Annyeong haseyo, yeoreobun...!” sapaku pada setiap orang, dan mereka membalas.
Aku lantas duduk di kursi. Aku merasa senang bisa sembuh dan kembali ke sini, melanjutkan pekerjaanku yang tertunda...,


meski memang lagi-lagi...,
‘tanpa’ Oppa...
***
[Author POV]
Yesung memandangi ponselnya yang ia letakan di atas meja rias.
Sementara Ryeowook yang duduk di sampingnya hanya memerhatikannya, “Hyung-ah, waeyo...?” tanyanya.
“Ani...” kata Yesung.
“Masalah Geunyoung...?” serobot Leeteuk segera dari belakang Yesung dan Ryeowook, membuat keduanya terkejut.
“Ah, Teukie hyung...! Jangan sefrontal itu, dong...!” protes Ryeowook, mengingat kalau hubungan Yesung dan Geunyoung itu memang rahasia.
Leeteuk tak memperdulikannya. Ia kemudian menghampiri dua dongsaeng-nya itu. “Ruang tata rias ini cuma ada kita bertiga, kok... Yang lain sudah ada di luar...” katanya, “Malhaebwa, Yesung-ah... Ada masalah dengan Geunyoung...?” tebaknya, berujar pada Yesung.
Yesung termangu. Ia menatap nanar bayangan dirinya di cermin, “Aku rasa..., aku bukanlah aku yang biasanya...” katanya.
“Maksudmu, hyung...?” tanya Ryeowook.
Yesung ragu. “Aku memperlakukan Geunyoung seperti ini..., karena..., aku sangat mengkhawatirkannya dan tak sempat menjaganya seperti biasanya...” jelasnya.
Leeteuk menghela nafas, sebagai seorang leader ia memang sudah biasa menangani masalah seperti ini, tapi Ryeowook masih bingung. “Jangan begitu, Yesung-ah... Bukan begitu yang harus kau lakukan pada yeoja seperti Geunyoung...” katanya. “Geunyoung itu terlalu polos untuk kau tegur sekeras itu... Kecerobohannya itu memang harus kau tangani dengan perlahan dan lembut, harus dengan kesabaran, Yesung-ah...” lanjutnya.
Ryeowook memandangi Leeteuk dan Yesung bergantian. Ia masih tidak mengerti dengan omongan kedua hyung-nya ini. Ia orang yang terlalu polos ternyata.
“Aku selalu ingin menelponnya untuk mengetahui keadaannya... Tapi bahkan mengirim pesan pun aku tidak sempat...” kata Yesung.
“Hey, bukankah kita tengah senggang?” ujar Ryeowook, mulai mengerti percakapan yang menurutnya sulit ini, “Kenapa tidak kau telpon Geunyoung sekarang saja, Yesungie hyung...?” usulnya.
“Ah, geurae!” Leeteuk menyetujui, “Ayolah, Yesung-ah... Mungkin ini kesempatan yang baik untuk kalian... Coba telpon Geunyoung...!”.
Yesung terlihat berpikir. Baginya, ini mungkin memang waktu yang tepat. Lantas namja dengan hairstyle red wine ini meraih ponselnya.
Ketika hendak menekan fast dial nomor satu...,
“SJ! Dua menit lagi...!!” seru seorang crew KBS itu yang tiba-tiba masuk ke ruang tata rias, membuat niat Yesung hancur seketika. Kemudian crew itu kembali menghilang dari balik pintu.
Yesung kecewa, begitu juga Ryeowook dan Leeteuk. Waktunya mereka untuk tampil di stage.
“Ah, gwaenchanha, Yesung-ah...” hibur Leeteuk, “Mungkin sehabis acara ini, kau bisa menelponnya...”.
Yesung hanya menghela nafas.
“Fighting, Yesungie hyung...!” Ryeowook menyemangati.
Kemudian, Yesung hanya tersenyum, “Gomawoyo...” ujarnya.
***
“Gamsa hamnida... Gamsa hamnida...” Geunyoung membungkuk sopan pada setiap crew. Syutingnya berhasil berjalan dengan lancar.
Geunyoung kemudian menghampiri manager-nya, yang kelihatannya tengah mendapat telepon penting.
“Ye...!”ujar Manager sebelum menutup telepon.
“Manager Oppa, ada apa?” tanya Geunyoung.
“Ah..., jeoge...” Manager mencoba mengutarakan, “Aku harus menemui anakku segera... Jadi aku tidak bisa ke kantor sekarang... Kau saja, ya...”.
“Ah, geuraeyo...? Ada apa dengan anakmu?”.
“Panjang ceritanya... Besok akan aku ceritakan...” Manager mengambil tasnya, “Ja... Galkke... Hati-hati di jalan...!” pamitnya, kemudian meninggalkan Geunyoung.
“Kau juga hati-hati di jalan...!” pesan Geunyoung.
Kemudian, yeoja ini berjalan ke arah berlawanan dengan arah manager-nya pergi. Ia segera menghampiri mobilnya.
Sambil memasuki mobilnya, Geunyoung meletakan tasnya di jok di sampingnya dan ponsel touchscreen-nya di dasbor. Kemudian, mobil melaju.
***
Ketika semua member sibuk berbenah diri, Yesung malah melesat ke kursi dengan tas hitamnya yang ia letakan di atasnya.
Ia duduk di kursinya sambil mengubek tasnya, mencari ponselnya dan ingin berbicara dengan Geunyoung sesegera mungkin.
Ketika ponsel sudah dalam genggamannya, Yesung segera menekan fast dial nomor satu, nomor ponsel Geunyoung.
***
Di tengah sibuknya ia berkendara, sebuah panggilan masuk di ponsel Geunyoung. Ponsel itu bergetar di dasbornya.
“Omo..., ada telepon...” ujarnya.
Geunyoung melirik siapa yang menelponya,

Receive Call
“Oppa”

“Ah, dari Yesung Oppa...!!” pekiknya girang.
Geunyoung berusaha meraih ponselnya yang semakin menjauh setiap kali bergetar, ditambah lagi guncangan dari mobilnya yang sedang melaju ini.
Tangan kananya menyetir sementara tangan kirinya mencoba meraih ponselnya. Karena ini, laju mobilnya kurang terkendali.
Jarinya berhasil menyentuh tombol hijau itu.
“Yeoboseyo...? Geunyoung-ah...?” ujar suara bariton Yesung itu, terdengar dari ponsel Geunyoung.
“Oppa!! Naya!!” pekik Geunyoung senang.
Sementara di posisinya, Yesung tersenyum. “Geunyoung-ah, kau sedang berada di mana?” tanyanya.
“Di jalan...! Aku akan ke KBS sekarang juga...!” ujar Geunyoung.
“Mwo...? Geunyoung-ah, kau...,”
“WAAA...!!!” terdengar pekikan nyaring suara Geunyoung.


“BRAKK...!!!” di susul sebuah suara benturan yang sangat keras.


Mata kecilnya membulat mendengar suara bising itu, dan tak terdengar lagi suara manis yeoja-nya itu. “Geu, Geu, Geunyoung-ah?!” Yesung mulai panik.
Seruannya membuat kedua belas member lainnya menyorotnya.
“Ya, Yesung-ah! Museun iriya? (Ada apa?)” tanya Kangin.
Dengan tergesa, Yesung memutuskan panggilan dan mengambil kunci mobilnya. Tanpa basa-basi, ia lantas meninggalkan keduabelas member SJ yang lainnya di ruang break ini.
“Ya, Yesung-ah!!!” panggil Heechul, tapi Yesung tak peduli.
***
Dengan kecepatan tinggi, Yesung mengendarai mobilnya agar ia bisa sesegera mungkin menol0ng Geunyoung.
Sesekali ia melirik GPS di ponselnya itu, mencari letak Geunyoung berada. “Sedikit lagi, Geunyoung-ah... Tungggu aku...” batin Yesung.
GPS-nya kemudian menunjukan bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, ini jalan raya.
Yesung menangkap pemandangan ramai di depannya. Ambulance dan polisi ada di sana. Perasaannya mulai tidak enak.
Ia melihat sebuah ambulance berlalu ke arah berlawanan di sebelah kanannya. Dengan cepat, Yesung memutarbalik mobilnya dan kemudian mengikuti ke mana mobil itu pergi, berharap kalau ia masih bisa menemui Geunyoung.
Benar saja, ketika ambulance itu sampai di rumah sakit, rupanya Geunyoung-lah yang tengah mereka larikan ke rumah sakit.
Andwae...!!!” batin Yesung dalam hati.
Ia memarkirkan mobil hitamnya itu di sembarang tempat. Ia tak memperdulikan nasib mobilnya itu kedepannya, ia hanya memusatkan semuanya pada Geunyoung.
Yesung berlari ke arah mereka.

Ani... Bukan ini yang aku inginkan...


Jika aku harus melihatmu seperti ini sekarang..., aku takkan pernah melakukan ini sebelumnya...


Tapi..., semua itu tidak bisa kembali...


Yang aku dapat dari perbuatanku hanyalah satu...,



Penyesalan...” (Kim Ye Sung).

*mian*
[Geunyoung POV]
Aku seperti merasakan kehangatan di tangan kananku, rasa kehangatan yang tak pernah lagi aku rasakan selama ini... Bahkan aku rasa, kehangatan itu sudah tidak ada lagi... Berubah dingin dan membekukan...
Tapi..., di luar dugaan..., kehangatan itu kini tengah menggenggam tangan kananku... Apa ini saatnya..., aku terbangun...?


Aku membuka mataku perlahan. Berbarengan dengan ingatanku yang mulai mengingat apa yang terjadi padaku sebelumnya.
Sinar lampu ini, aroma ini, ranjang ini, perban ini, ... Tak salah lagi, ini rumah sakit...
Sesering inikah aku mampir ke tempat yang super bersih ini sehingga tanpa menelusuri sekitar pun aku sudah mengenal tempatku berbaring ini?
Aku baru ingat kalau aku baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas, kali ini kecerobohanku lagi! Menyebabkan luka di kepala dan kakiku... Bayangkan saja, mengendarai mobil sambil mengangkat telepon da..., tunggu!!
Yesung Oppa!!
“Ngh~~... Huuaamm...” ku dengar suara yang paling tak asing buatku itu dari samping kananku, si sumber kehangatan itu...,
Yesung Oppa...
Ia yang tengah menggenggam tanganku. Ia yang bersuara itu. Dan ialah yang menguap itu. Ia tengah menungguiku, satu kenyataan yang membuatku bahagia. Ya, ia masih peduli padaku...
Yesung Oppa kemudian mulai terbangun. Ia merenggangkan tubuhnya, dan kemudian menatapku.
“Geunyoung?!” pekiknya kaget. Matanya yang tadi sayu lantas membulat dengan tiba-tiba.
Ia lantas bangkit. Ia mendekat padaku, terlalu dekat malah. Jarak wajah kami mungkin hanya lima sampai sepuluh senti, atau malah kurang.
“Gwaenchanha? Jeongmal gwaenchanha?” sergapnya kemudian.
Aku yang tadinya kaget, kemudian hanya menunduk. Lagi-lagi aku membuatnya khawatir di tengah kesibukannya. “Gwaenchanha, Oppa...” kataku ragu.
“Aigoo... Harusnya kau lebih hati-hati...” tegurnya.
Ya, kali ini hanya menegur. Meski senang ia tak lagi mengomeliku, tapi aku tetap saja takut padanya. Aku masih mengingat bagaimana ia memarahiku malam itu.
“Ingat, ya... Jangan lagi mengangkat panggilan sewaktu kau mengendarai mobil...” ingatnya, “Aku benar-benar mengkhawatirkanmu... Apalagi kau mengangkat panggilan dariku... Aku...,”.
Tiba-tiba saja air mataku jatuh tanpa ku sadari, aku benar-benar takut kalau Oppa akan memarahi aku lagi.
“Mian, Oppa...” kataku, “Mian... Jeongmal mianhae...”.
Ku dengar Oppa mendesah. Apa ia akan memarahiku lagi? Aku memejamkan mata karena takut. Aku terlalu penakut untuk menghadapinya ternyata.
Tapi ku rasakan Oppa menepuk-nepuk kepalaku pelan —ia tau pasti kalau di balik perbanku ini ada luka—. “Jangan bilang ‘mian’ lagi...” katanya.
“Mian, Oppa...”.
“Geunyoung-ah, geuman...”.
“Mian...”.
“Geunyoung-ah...”.
“Mi...,”.
Kata-kataku terputus. Oppa mencium bibirku dengan hangat, sengaja memotong kata-kataku ku rasa. Tapi ia tak ingin melepasnya segera.

[ Super Junior - Andante]

Lima menit kemudian, ia baru melepaskannya.
Ia menatapku dalam. “Jangan bilang ‘mian’ lagi...” kata Oppa, “Setiap aku mendengarnya..., aku selalu merasa bersalah... Aku selalu mengutuk diriku sendiri karena telah membuatmu berkata seperti itu...
Ini semua mungkin hanya kesalahpahaman...
Aku tidak pernah mengacuhkanmu..., aku selalu mengkhawatirkanmu..., di setiap saat... Tapi pekerjaan yang padat mungkin mulai merubahku menjadi Oppa yang bukan sebenarnya...
Aku mulai mengomeli dan memarahimu... Aku mulai tertekan dan semakin khawatir... Ditambah rasa bersalah yang benar-benar seakan ingin menghabisiku...
Geunyoung-ah...,
harusnya akulah yang berkata ‘mian’...

Mian..., karena aku mulai tak memperdulikanmu...

Mian..., karena aku  sudah mulai memarahimu...

Mian..., karena...,”.

“Geumanhae, Oppa...” kataku, “Oppa tidak salah... Tidak ada satupun yang harus disalahkan...” lanjutku, “Ini hanya karena kelemahan manusia... Penuh kesalahan dan kelemahan...”.
Kali ini, tak ada yang ingin aku lakukan selain bersama Oppa. Aku benar-benar merindukan Oppa yang seperti ini, Oppa yang sebenarnya.
Aku memeluknya, dan rasanya tak ingin melepaskannya agar ia tetap menjadi Oppa yang aku kenal.


Oppa yang aneh...


Oppa yang menyayangiku...


Oppa yang cerewet...


Oppa yang tidak romantis...


Oppa yang tidak inisiatif...


Oppa yang bernama Kim Ye Sung...



Ya, ia Yesung Oppa...

Ia sudah kembali...


[ Super Junior - Andante]
*****
End

***
Kyaaa...
Ottae, ottae, ottaeyo, Reader-deul....???
Jotseumnikka, jotseumnikka, jotseumnikka....??? ^^eih~~, si author...? nuntut banget, deh, kedengarannya~~~?^
Kalau menurut Nate, sih, FF ini gak gitu bagus... Tapi at all aku senang bisa menyelesaikan FF dengan durasi pembuatan selama dua hari ini...
Walau emang kata Nate gak gitu bagus, tapi Reader-deul lah yang berhak menilai~~... Geuraeseo, Nate minta kritik dan saran yang membangun untuk perkembangan karyaku selanjutnya~~...
Gamsa hamnida, yeorebun...!!

Author

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^