[FF] 니가 아닌데 Not You Part 2

4:52 PM 0 Comments A+ a-

Not You
니가 아닌데

Author        : RetnoNateRiver
Genre        : Romance
Main Casts  : - SJ Yesung as Kim Jong Woon
               - Moon Geun Young as Moon Geun Young
 - SNSD Sooyoung as Choi Soo Young
               - TVXQ Max as Shim Chang Min
Other Cats  : - SJ Kyuhyn as Cho Kyu Hyun
               - SNSD Seohyun as Seo Joo Hyun
               - SJ Ryeowook as Kim Ryeo Wook
               - SNSD Tiffany as Tiffany Hwang
               - Yesung’s Family
              - SJ Hankyung as Moon Han Kyung
              - SJ Heechul as Kim Hee Chul
Cameo        : - Jang Geun Seok as Jang Geun Seok
***
Tadda...! Nate datang bersama kelanjutan FF Not You yang kedua~...!
Oya, jeongmal joesonghaeyo, kalau misalnya ada nama yang kurang srek gitu, ya~~... Atau ada penempatan tokoh yang kurang pas ^^kaya tokoh sebagai orangtua, murid, guru, dan sebagainya yang rasanya kurang pas dengan si pemain...^, jeongmal joesonghaeyo~~... (bow)
Ketinggalan Part sebelumnya?
Silahkan klik :
"Not You 니가 아닌데" Part 1

OK, sekarang...,
Happy Reading!

Author

RetnoNateRiver
***
[Jongwoon POV]
“Geunyoung-ah!!!”.



“Oppa...”.
Ah! Itu dia!

“Geunyoung-ah, tetaplah di situ!” kataku.
Aku berusaha menerobos kerumunan orang-orang itu dan memicingkan mataku untuk mencari sosok Geunyoung. Semakin ku dengar suara itu.
“Oppa...”.
“Geunyoung-ah, jangan ke mana-mana! Aku akan ke situ!” kataku sekali lagi.
Aku berulangkali mendengar suara Geunyoung, namun aku masih tak menemukan di mana letaknya. Lama mencari, akhirnya aku menemukannya, terduduk di lantai sambil bersandar pada dinding dan menutup kedua matanya. Ia aman, ia berada di luar kerumunan yang sibuk itu.
Aku menghampirinya, aku merendah agar posisiku sejajar dengannya meski rasa khawatir masih saja melekat dalam perasaanku.
“Oppa...” Geunyoung masih berujar.
“Geunyoung-ah, naya...” kataku, menenangkannya, “Kau sudah aman, kok... Buka saja matamu...”.
“Dowa juseyo...” Geunyoung masih saja berujar, “Oppa...”.
Ya, ketika kau menemukannya dalam keadaan seperti ini, ia takkan langsung ‘mengenalmu’, itu karena ia masih tidak fokus. Biasanya, kau hanya perlu membuka mata atau telinganya yang ditutupinya itu dan berbicara perlahan padanya.
Aku membuka tangannya agar ia dapat melihat, namun ia ternyata juga memejamkan matanya. Dan ia masih berujar, “Oppa... Oppa...”.
“Geunyoung-ah..., naya...” kataku.
“Oppa...”.
“Geunyoung-ah...”.
“Oppa... Op...,”.
Kata-katanya terputus. Entah ada perintah apa, aku mencium bibirnya hangat. Tapi ia tidak menolakku, bahkan sampai aku melepaskannya semenit kemudian.
Ia menatapku, ternyata ia mulai fokus, “Jongwoon Oppa..” panggilnya.
Syukurlah, ia mengenaliku. Aku kemudian mengusap kepalanya dengan perasaan lega. “Gwaenchanhayo? Ada yang sakit? Atau ada yang terluka?” tanyaku.
Geunyoung menggeleng. Ah, syukurlah...
***
[Author POV]
Jongwoon masih menggenggam tangan Geunyoung malam itu saat mereka baru saja pulang dari toko buku, mungkin namja itu masih ngeri dengan kejadian beberapa jam yang lalu.
“Oppa...” panggil Geunyoung.
“Hm?” sahut Jongwoon.
“Mianhae..., karena aku sudah menyusahkan Oppa tadi...”.
Mendengar itu, Jongwoon memandang Geunyoung yang tertunduk itu.
“Di kerumunan orang tadi siang... Aku mulai lagi... Aku tidak fokus dan melepaskan tanganmu..., dan kau terpaksa mencariku..., dan..,”.
“Gwaenchanha...” kata Jongwoon sengaja memotong kalimat Geunyoung.
Yeoja itu terdiam selama beberapa detik, dan kemudian ia berbicara, “Oppa..., menciumku, kan...?” tebaknya ragu.
Jongwoon tersenyum, “Kalau iya, kenapa?” tanyanya, seakan memojokan lawan bicaranya.
“Um..., aniyo...” kata Geunyoung, “Hal itu membuat pikiranku fokus kembali... Gomawo...”.
Jongwoon kembali tersenyum.
Langkah keduanya berhenti, sudah saatnya mereka berpisah, berjalan lewat jalannya masing-masing untuk kembali ke rumah.
“Sampai sini, Oppa...” pamit Geunyoung.
Jongwoon tak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengusap kepala Geunyoung dan membiarkannya pergi. Jongwoon terus memandanginya.
Geunyoung berjalan memunggungi Jongwoon. Di saat itu, ia tersenyum, ia senang. “Aku malu sekali... Oppa, gomawoyo... Saranghaeyo...” batinnya.
Tiba-tiba saja, Jongwoon menariknya hingga berbalik. Dan namja itu lagi-lagi mencium bibirnya hangat. Dan Geunyoung juga tetap menerimanya meski awalnya ia terkejut.
Masih di waktu yang sama, tak sengaja melihatnya, Sooyoung yang tengah iseng berjalan-jalan di malam hari itu —kebiasaannya— menangkap kejadian tersebut.
[ SHINee – Romeo+Juliette]

아픈 사랑이야기 내 맘 시려온 실어온 사랑에
Apeun sarangiyagi næ mam shiryôon shiroon sarange
또 난 숨가쁜 숨소리마저 멀어져 희미해져
Tto nan sumgappeun sumsorimajô môrôjyô himihaejyô
소녀가 소년을 만나
Sonyôga, sonyôreul manna
아픈 사랑이 이제 시작돼
Apeun sarangi ije shijakdwæ
말할 없는 사랑은 
Malhal su ômneun sarangeun
메아리가 되어 사랑이 시작돼
Meariga doeô sarangi tto shijakdwæ

Yeoja ini mendekap mulutnya, menahan suara isakan tangis yang bisa saja mengganggu keduanya dan menyadari keberadaannya. Ini memang lebih dari sakit buatnya, tapi ia tidak mampu berbuat apapun.
Sooyoung tau siapa yeoja itu, yeoja yang bersama Jongwoon. Yeoja itu adalah yeoja yang disukai Jongwoon.
Mungkin memang tidak ada pilihan lain selain melarikan diri dari tempat ini bagi Sooyoung. Ia berjalan menjauh dari situ. Lima menit melihat mereka seperti itu sudah lebih dari sekadar sakit buatnya, lebih dari sakitnya dimarahi Jongwoon atau semacamnya.
Tepat ketika Sooyoung berjalan menjauh, Jongwoon melepas ciumannya. Kemudian memandang Geunyoung dalam, begitu sebaliknya.

사랑이 시작돼 그대를 사랑한 
Geu sarangi tto shijakdwæ geudæreul saranghan
나의 맘조차 알지 못하고
Naui mamjocha nal alji mothago
아픈 사랑이 시작돼 너를 만날 때면
Apeun sarangi tto shijakdwæ nôreul mannal ttæmyôn
앞서는 감정들은 나를 제어하지 못하고
Apsôneun i gamjyôngdeureun nareul jeôhaji mothago
이별 같은 말은 싫어 사랑해라고 못할
Ibyôl gateun mareun shipô saranghærago mothal
바보처럼 너를 붙잡지도 못하고
Nan tto pabochôrôm nôreul butjapjido mothago
사랑해 네가 보고 싶어
Saranghæ niga bogo shipô

Apa yang akan terjadi jika aku mengatakan yang sebenarnya...? Apakah..., aku harus membawa kenyataan buruk setelah aku mengungkapkannya...?” batin Jongwoon.

[ SHINee – Romeo+Juliette]
***
Changmin berjalan menuju tasnya yang ia letakan di atas tumpukan kardus itu, sudah saatnya ia pulang dari pekerjaannya ini.
Namun seusainya ia mengambil tas dan memakainya, Changmin mendengar suara isakan. Membuatnya ngeri dan takut.
Arahnya dari belakang kardus itu, agak jauh dari situ.
Dengan rasa ‘takut tapi penasaran’nya, Changmin mencari sumber suara itu. Kali ini, ia sudah berjalan melewati tumpukan kardus itu. Sedikit lagi menuju si pemilik suara.
Itu suara apa, ya...? Bagaimana jadinya kalau aku malah mendapati hantu wanita yang menangis...?” pikir Changmin dalam hati, “Ah! Tidak boleh begitu! Ayolah, Shim Chang Min!”.
Changmin masih melangkahkan kakinya dan suara isakan itu makin dekat, rupanya dari balik semak-semak yang memagari lahan restoran.
Kemudian namja ini melongokan kepala melewati semak itu, dan menemukan si pemilik suara itu adalah, “Sooyoung?!” serunya.
***
Changmin hanya terbengong ketika ia melihat Sooyoung sudah melahap beberapa dari banyak porsi makanan di atas meja.
Karena menemukan Sooyoung dalam perasaan yang tidak baik, si hobi makan Changmin ini mentraktir Sooyoung makan di warung makan tradisional terdekat, mungkin dengan makan perasaan Sooyoung bisa menjadi lebih baik.
Biasanya, Changmin memesan lebih dari tiga porsi makanan untuk dimakannya sendiri, bisa dibilang tidak wajar buat namja tinggi ini yang jelas-jelas badannya kurus ini. Namun kali ini Changmin sepertinya harus mengalah melihat Sooyoung telah melahap setengah dari seluruh makanan yang dipesannya.
Rupanya, Sooyoung memiliki nafsu makan yang sama tingginya dengan Changmin. Ia kira, satu porsi saja sudah cukup buat yeoja cantik nan slim ini. Namun, rupa bukanlah segalanya, yeoreobun...
“Shikshin...?” gumam Changmin kecil, melirik Sooyoung sembari mengernyitkan dahi.
Seporsi makanan Sooyoung yang Changmin berikan tadi sudah sejak tadi habis dilahapnya, dan kini masih dengan perasaan yang kurang baik Sooyoung melahap beberapa makanan lagi di depan meja.
“Apa..., kau..., tidak makan dari..., tadi pagi...?” tanya Changmin, masih tercengang.
“Aku..., sudah makan, kok...” kata Sooyoung masih fokus makan dan berbicara dengan mulut yang tengah mengunyah.
Changmin bingung. Ia saja baru makan dua porsi, sedang Sooyoung sudah lebih dari itu. “Sebenarnya..., yang kau makan itu..., punyaku...” katanya pada akhirnya, meski memang agak berat dan tidak enak hati.
Mendengarnya, Sooyoung berhenti beraktifitas; berhenti mengunyah, mengambil makanan, semacamnya. Kemudian, ia terlihat lemas, tak bersemangat, dengan mulut penuh makanan dan ujung sumpit yang menempel pada bibirnya.
Lalu Sooyoung meletakan sumpitnya di atas meja, kemudian, “Joesong hamnida...” ia membungkuk sambil duduk dengan tidak bersemangat. Setelahnya, ia hanya bengong.
Melihatnya, Changmin jadi merasa tidak enak. Ia mencoba berpikir cara agar dapat memperbaiki suasana. Kemudian, ia mulai bertindak. “Mm..., kau mungkin..., boleh makan satu porsi yang..., kau suka...” katanya.
Sooyoung menatapnya. Semangatnya seakan terisi ulang. Sooyoung kemudian mencari seporsi makanan yang ia suka untuk dimakannya. Setelah menemukannya, ia memakannya dengan senang hati. Melihatnya, Changmin merasa lebih baik. Ia dapat makan dengan tenang sekarang, meski memang setengah dari pesanannya sudah lenyap. Itu lebih baik daripada harus melihat yeoja yang ditaksirnya itu bersedih.
***
“Appa!!” seru Geunyoung.
“Kau mau bilang apa sekarang?!” omel Hankyung, “Kau masih bersama namja itu?!”.
“Kenapa Appa selalu melarangku?!”.
“Karena aku tidak menyukainya!! Ia bukan orang yang sama dengan kita!!”.
“Tapi itu bukan masalah yang berarti!!”.
“Geuman!!!” kesabaran Hankyung sudah menipis. Seruannya berhasil membuat putrinya itu terdiam.
Geunyoung hanya tertunduk, duduk di atas ranjangnya dengan Hankyung berdiri di depannya.
“Joha...! Jika sikapmu seperti ini..., suatu hari nanti kau akan menyesal...!” kata Hankyung, “Cobalah untuk selalu berada di dekat namja itu, dan lihat apa yang akan terjadi padanya...”.
Geunyoung memandang ke arah Hankyung, dari tatapannya saja bisa dilihat bahwa ia terkejut. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya.
“Malam ini, Geun-seok datang...” kata Hankyung, “Ia sudah di halaman belakang... Temui ia sekarang...”.
Sebenarnya, Geunyoung tak mau diperlakukan seperti ini. Tapi dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, turun tangga, dan melangkah menuju halaman belakang rumahnya.
Terlihat Geun-seok di sana. Pandangan keduanya bertemu, di saat itulah Geun-seok tersenyum pada Geunyoung.
“Geunyoung-ah...?” sapanya.
*Not You*
“Geun-seok Oppa memang bukanlah orang jahat... Ia orang yang ramah dan sangat memperhatikanku...
Geurae, ia memang menyukaiku..., tapi aku justru sebaliknya... Aku hanya memilih Jongwoon Oppa.., tapi keadaanlah yang berbalik sekarang...
Aku tidak suka hidup seperti ini, tapi inilah hidupku...
Apakah cinta itu harus dipaksakan...?
Apalagi ini semua sudah terlambat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jongwoon Oppa..., hanya akan memperburuk keadaan... Tapi, apa Jongwoon Oppa juga menyukaiku...?
Aku harap, aku bertepuk sebelah tangan, agar hanya aku yang tersakiti... Aku harap begitu...”

“Tok, tok, tok...!” pintu kamarnya diketuk, Geunyoung segera meninggalkan catatan hariannya dan bergegas membuka pintu.
Ia menemukan salah seorang maid rumahnya yang mengetuk pintu kamarnya. “Agassi, Anda harus bersiap...” katanya.
“Bersiap? Untuk apa?” Geunyoung heran.
“Hari ini..., pengukuran gaun, Agassi...” jawabnya.
Geunyoung terkejut, “Pengukuran? Apa ini tidak terlalu cepat?” katanya.
Ia kemudian menengok ke kalender dinding di dalam kamarnya. Tanggal hari ini yang ia simak, tanggal yang sudah dicoret-coretnya,

29.
FLY di KBS Music Bank jam empat sore!!

“Agassi...” panggil maid itu, menyadarkan Geunyoung dari pikirannya.
“Ne?” Geunyoung menoleh.
“Anda harus segera bersiap... Mereka sudah menunggu...”.
Mereka. Geunyoung mengerti maksudnya. “Appa dan Geun-seok Oppa...” batinnya.
***
Jongwoon berjalan bersama ketiga sahabatnya itu. Mereka akan segera pulang dari gedung stasiun TV tempat mereka performe barusan.
“Aa..!” ujar Jongwoon, berhenti melangkah menuju mobil van mereka yang sudah menunggu.
Kyuhyun dan Ryeowook memandangnya, “Wae geurae, Hyung?” tanya Kyuhyun.
“Kalian ke dorm duluan...” kata Jongwoon, “Aku mau pulang ke rumah sebentar... Ada yang keinggalan...”.
Tanpa kata-kata pamit lagi, Jongwoon melesatkan dirinya bergegas menuju stasiun subway terdekat.
“Hyung! Kau juga harus membawa bass-mu itu?!” teriak Ryeowook, namun Jongwoon tak mendengar.
“Hyung! Aku akan mengunci pintu dorm buatmu!” teriak Kyuhyun ketika Jongwoon tak lagi terlihat.
Mendengar kalimat itu, Ryeowook hanya menatap tajam Kyuhyun, seakan tatapan itu berarti ancaman buat si magnae of the group tersebut. Tapi, Kyuhyun yang memang dasarnya the king of evil itu tak takut dengan tatapan tersebut, justru ia memberi tatapan tajam balik pada Ryeowook. Keduanya beradu tatapan... (?)
“♪♪” ponsel Ryeowook berdering, ada pesan masuk.

PESAN MASUK
sender : Fany Hwang

Ryeowook segera mengambil ponselnya yang ada di kantong kemejanya itu dan lantas membaca pesan yang masuk
Iseng-iseng, Kyuhyun mengintip pesan itu, mencari tau siapa pengirimnya.
“Oh, jadi kau punya nomor ponselnya Tiffany, ya~~~...?” ujarnya dengan nada usil.
Ryeowook terkesiap, “Kau ini?!” ujarnya.
“Jadi, kalian berteman~~..?”.
“Tentu saja!” kata Ryeowook mantap, “Memang apa urusannya denganmu?”.
“Ah, masa cuma berteman~~~?” usilnya Kyuhyun masih saja melekat.
Hal ini membuat Ryeowook memilih untuk menyerah dan segera masuk ke dalam van mereka, meninggalkan Kyuhyun di belakangnya.
***
Matahari sudah hampir tenggelam, dan Jongwoon sudah hampir sampai ke rumahnya. Tapi tepat di pertemuan perempatan itu, ia melihat Geunyoung tengah menunggunya.
Langkah Jongwoon berhenti ketika ia melihat Geunyoung di situ. Menyadari kehadiran Jongwoon, Geunyoung menoleh.
Jongwoon tersenyum senang, ia bertemu dengan Geunyoung. Tapi Geunyoung tak demikian. Jongwoon melangkah ringan menghampiri yeoja itu.
“Oppa, gwaenchanha?” satu pertanyaan dari Geunyoung, bukan seperti pertanyaan-pertanyaan yang Jongwoon perkirakan sebelumnya.
Agak aneh memang mendapat pertanyaan seperti itu, tapi Jongwoon tetap menjawabnya, “Nan jeongmal gwaenchanha...” jawabnya.
Harusnya, Geunyoung tersenyum atau menghela nafas lega mendengar jawaban positif itu, namun entah kenapa pertanyaan itu tak mampu menghilangkan rasa khawatir di dalam benaknya.
“Wae geurae?” selidik Jongwoon.
Geunyoung agak terkesiap, “Ah... A, a, aniyo...” jawabnya.
Suasana hening selama beberapa detik, membuat semilir angin dan gesekan dedaunan terdengar dengan mudah.
“Mian, aku tidak menonton performe-mu di KBS sore tadi...” ujar Geunyoung pada akhirnya.
“Ah, bukan apa, kok...” kata Jongwoon tersenyum, “Kau pasti punya kesibukan lain di rumah...” katanya ringan, seakan ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun sayangnya, Jongwoon memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Yang sebenarnya terjadi. Geunyoung baru saja pulang dari perjalanan mendadaknya itu dan diam-diam ia meninggalkan rumah untuk menunggu Jongwoon pulang. Rasa khawatirnya pada Jongwoon sudah menggunung.
“Mau mampir ke rumahku?” tawar Jongwoon.
Geunyoung ragu. “Mm..., tidak usah...”.
“Sebentar saja...”.
“Tidak, terima kasih...”.
Mendengar pernyataan teguh Geunyoung itu, Jongwoon akhirnya menyerah. Namun ia tak kehabisan ide. “Ya, sudah... Kita jalan sebentar..., ya?”.
Tidak, Geunyoung tak bisa menerimanya. “Tapi...,”.
“Sebentar saja...”.
“Aku..., ” Geunyoung mencari alasan, “aku..., sudah terlambat untuk pulang...”.
Sesuai dengan harapannya : Jongwoon membatalkan niatnya itu. “Joha... Mungkin kapan-kapan...” ujarnya. “Berhati-hatilah di jalan...!” pesannya.
Geunyoung tersenyum tipis. “Oppa juga...” katanya.
Keduanya segera berlalu, berjalan melewati arah yang berlawanan. Meski memang telah mendapatkan pernyataan itu dari Jongwoon, Geunyoung masih saja merassa khawatir.
Lama Geunyoung berjalan, tak jauh dari perempatan itu, ia mendengar suara keributan dari arah belaknganya. Langkahnya terhenti dan ia berbalik.
“YA!!!” seperti suara orang yang Geunyoung kenal, benar-benar dikenalnya.
“Andwaeyo!” gumam Geunyoung.
Yeoja itu tak hanya berjalan menuju sumber suara itu, ia berlari. Ia harus sampai secepatnya. Dan tepat di belokan perempatan yang biasa Jongwoon lewati ketika hendak pulang itu, ia menemukan apa yang paling dikhawatirkannya itu rupanya benar-benar terjadi.
Jongwoon sudah menyerah, tersandar pada dinding pagar tinggi salah satu rumah di remangnya malam. Ia sudah penuh luka, itu yang Geunyoung lihat.
Tapi tak hanya itu, ada Heechul di situ bersama beberapa pesuruhnya. Kim Hee Chul, tangan kanan dari ayahnya Geunyoung atau Geunyoung mengenalnya sebagai asisten ayahnya, Hankyung.
Dan bisa ditebak, apa yang sebenarnya Heechul dan pesuruhnya itu lakukan pada Jongwoon. Sebenarnya, Heechul hanya memerintahkan dan mengamati kerja dua pesuruhnya saja, selebihnya pesuruh itu yang melakukan tugas yang Hankyung berikan dan dibertahukan lewat Heechul. Hankyung memang tidak menyukai putrinya berada di dekat Jongwoon.
“Asisten Kim!!” seru Geunyoung sebelum beberapa pesuruh hendak memukul Jongwoon kembali.
“Oh? Nona Moon?” sahut Heechul, namun nadanya santai.
Geunyoung mendekat pada mereka, berdiri di depan Jongwoon, seakan ia melindunginya. “Jadi..., Aboji benar-benar..., melakukannya...?” katanya.
“Aigoo... Jadi, kau tidak percaya...?” ujar Heechul, tersenyum sinis. “Kau tau, kan, kalau ayahmu itu tidak menyukainya (Jongwoon), jadi tentu saja apa yang ia katakan waktu itu benar... Dan sekarang, kau melihatnya, kan? Kami diperintahkan untuk memberinya peringatan...”.
Geunyoung merasa kesal, tapi juga tidak percaya. “Tapi...,”.
“Nah? Apa yang akan kau lakukan sekarang, Agassi...?” kata Heechul, disusul tawa kecilnya dan beberapa pesuruhnya. “Jangan katakan hal ini pada Geun-seok..., OK...? Kami tidak mau dia akan melepaskanmu ke tangan namja buruk itu, dan membuat kami menerima hukuman dari ayahmu... Ara...?”.
“Andwae!!” kata Geunyoung, “Kalian maupun ayahku, tak bisa membatasi kehendak hidupku!!”.
“Oh? Jadi kau ingin melihat namja itu seperti ini di kemudian hari...?” ujar Heechul, sekaligus mengancam.
Geunyoung terkejut, “Mwo?”.
“Geurae...” kata Heechul, “Kenapa kami melakukan ini? Kenapa kami memukul namja ini? Kenapa kami hampir saja menghabisinya? Karena kau berada dekat denganya..., Agassi...” katanya.
“Mwoyo...?”.
“Aish!” gerutu Heechul, “Jangan membuatku mengulang kata-kata tadi, ya! Yang penting, setiap kau berada di dekat namja itu, maka kau akan mendapati namja itu dalam keadaan buruk esoknya... Itu karena ulah kami, dan terlebih lagi..., itu adalah perintah dari ayahmu...”.
Geunyoung membeku.
“Jadi, ada dua pilihan buatmu...” kata Heechul, “Jika memilih namja itu (Jongwoon), maka kau akan melihatnya selalu tersakiti. Tapi jika memilih Geun-seok, kau takkan melihat Jongwoon tersakiti dan kami akan mengharamkan tangan kami untuk menyentuhnya...” lanjutnya. “Semua keputusan ada di tanganmu, dan kau tinggal menjalaninya...”.
Geunyoung terdiam, menunduk. Beban berat beserta pilihan rumit seakan menimpanya sekarang.
“Joha... Come on, Kids...” Heechul memanggil seluruh pesuruhnya, “Agassi, kami pamit pulang dan ingat..., semua keputusan ada di tanganmu...” katanya.
Heechul beserta para pesuruhnya meninggalkan wilayah itu. Kemudian dengan segera, Geunyoung menghampiri Jongwoon.
“Oppa? Oppa!” panggilnya.
Jongwoon sedikit tersadar, “Hei, gwaenhanha?” tanyanya lirih, tersenyum kecil.
Rupanya, Jongwoon tidak tau sebelumnya kalau orang-orang tadi adalah orang-orang yang Geunyoung kenal. “Harusnya, aku yang bertanya... Gwaenchanha?” tanya Geunyoung.
“Kau khawatir, ya?” tanya Jongwoon usil, masih saja ada kesempatan seperti itu di saat keadaannya seperti ini.
Tapi Geunyoung tak peduli, ia harus menolong Jongwoon. Geunyoung meraih tas hitam besar milik Jongwoon yang berisi bass itu. Namun ketika tangannya menggenggam benda itu, ia merasa ada yang aneh dengan bentuk bass-nya.
Apa..., bass-nya tidak apa-apa...?” batin Geunyoung.
***
“Aigoo..., tidak perlu berkata seperti itu, Geunyoung-ssi...” kata Ibunya Jongwoon.
“Animnida, Ahjuma...” kata Geunyoung, “Ini semua karena kesalahan saya... Joesonghamnida...”.
Ibunya Jongwoon hanya bisa menghela nafas, memang sudah dari tadi Geunyoung meminta maaf dan kedengaran merasa sangat bersalah.
Tak lama, Ayahnya Jongwoon masuk ke ruang tengah itu, dan duduk di dekat mereka. Rumah Jongwoon ini memang sangat sederhana, hanya berupa rumah tradisional Korea dengan dinding dan lantai dari kayu. Duduk maupun tidur juga hanya memakai alas tikar atau kasur tipis seperti pada umumnya saja.
“Bagaimana keadaannya (Jongwoon)?” tanya Ibunya Jongwoon.
“Tenang saja... Ada Jongjin di dalam...” jawabnya, “Jongwoon sedang tidur...”.
“Um... Apa boleh..., aku melihat keadaannya...?” tanya Geunyoung pada mereka.
***
“Geunyoung-ssi?” ujar Jongjin begitu Geunyoung masuk ke kamar Jongwoon.
“Kenapa begitu formal? Bukankah kita seumuran...?” kata Geunyoung, “Panggil namaku saja...”.
“Baiklah, Geunyoung-ah...” kata Jongjin, “Kau..., mau melihat keadaan Jongwoon Hyung?” tebaknya.
Geunyoung tersenyum tipis, “Geurae...” katanya.
“Aku baru saja mengobatinya, lalu ia tertidur...” kata Jongjin, “Temui saja...” ujarnya sebelum akhirnya ia memberi bungkukan kecil pada Geunyoung sebagai tanda pamit, kemudian meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggalan Jongjin, Geunyoung memasuki kamar itu. Ia mendapati Jongwoon tengah tertidur di atas kasur tipis itu dengan selimut menutupi tiga perempat tubuhnya.
[ TVXQ – Why did I Falling in Love with You?]
Geunyoung berjalan menghampirinya, kemudian duduk di dekatnya.
“Oppa... Lihat wajahmu...” gumam Geunyoung, memerhatikan setiap lekuk wajah Jongwoon yang tenang itu. “Mianhaeyo... Tapi bagiku berapakali pun aku mengucapkannya, aku tetap akan merasa bersalah... Dan ke depannya, setiap aku berada dekat denganmu, aku akan melihatmu seperti ini setelahnya...
Aku..., ingin memilihmu tapi..., aku juga tidak mau melihatmu terus seperti ini karenaku... Ini memang pilihan yang sulit...”.
Geunyoung melirik jam meja di dekat jendela itu, sudah waktunya untuk pergi. Ia memandang Jongwoon kembali.
“Sudah ku bilang, tak apa, Ryeowook-ah~~~...” igau Jongwoon.
Geunyoung tersenyum tipis, meski terselip rasa sedih di dalamnya. Ia tergerak, mendekatkan wajahnya menuju wajah Jongwoon. ^^mau ngapain, ya~~...?^ Dan kemudian ia mengecup pipi namja itu.
Lantas, Geunyoung bangkit untuk meninggalkan kamar itu, membuat Jongjin, Ayah dan Ibunya yang mengintip hal ini dari celah pintu kamar pontang-panting berpura-pura melakukan sesuatu, siap-siap jikalau Geunyoung keluar dari kamar.
Namun setelah ditunggu beberapa detik, Geunyoung tak kunjung keluar juga. Hal ini memaksa Jongjin. Ibu dan Ayahnya kembali mengintip aktifitas Geunyoung dari celah pintu.
Ketiganya terkejut ketika melihat Geunyoung kembali duduk di dekat Jongwoon dan wajahnya kelihatan begitu dekat dengan wajah namja itu.
“Apa yang ia lakukan?” tanya Ibunya berbisik, ketiganya memang tidak tau bahwa Geunyoung tengah mencium bibir Jongwoon karena yeoja ini tengah memunggungi mereka.
“Mencium pipi Jongwoon Hyung lagi?” tebak Jongjin ragu, sambil berbisik juga.
“Lagi?” ujar Ibunya.
“Ya, ya! Geunyoung ke mari!” ingat Ayahnya.
Lagi-lagi, ketiganya membubarkan diri, linglung berpura-pura melakukan sesuatu sampai akhirnya Geunyoung benar-benar keluar dari kamar Jongwoon.
“Geunyoung-ah? Sudah menjenguknya?” sahut Ibunya Jongwoon.
“Ahjuma, Ahjussi, Jongjin-ah..., tolong jaga Jongwoon Oppa baik-baik, ya...” kata Geunyoung dengan nada datar, membuat ketiga orang yang disebutnya heran. “Mohon bantuannya... (bow)”.
Ketiganya masih memandang Geunyoung heran.
“Aku harus kembali...” kata Geunyoung, “Annyeonghi gaseyo... (bow)”.
Kemudian, yeoja itu berjalan memunggungi ketiga orang yang hanya terbengong melihat ekspresinya tersebut.

[ TVXQ – Why did I Falling in Love with You?]
*Not You*
Keempat anggota keluarga ini berkumpul. Ada Jongjin, Ayahnya, dan Jongwoon —yang baru bangun itu— di ruang makan, sedang sang Ibu tengah memasak di dapur.
“Sudah bangun, Jongwoon-ah...?” sambut Ayah yang duduk bersama Jongjin di balik meja rendah itu.
Jongwoon duduk di depannya, “Aku tidur di sini?” tanyanya.
“Geurae, Hyung... Ada masalah sedikit...” kata Jongjin.
“Orang-orang yang memukulku itu, ya?” tebaknya.
“Semacam itu...” kata Jongjin lagi.
“Appa, Jongjin-ah, kalian tau..., aku bermimpi sesuatu yang aneh...” kata Jongwoon sembari memijit pelan lehernya, agak sakit.
“Mimpi apa?” tanya Ayah.
“Geunyoung.” kata Jongwoon, “Ia..., mencium pipiku...”.
“Ah.....!” ujar Jongjin dan Ayahnya, keduanya sudah mengerti kenapa Jongwoon bisa bermimpi hal seperti itu.
“Geurigo...,” lanjut Jongwoon, “ia juga mencium bibirku...”.
“HAA?!!” kali ini Jongjin dan Ayahnya tidak berujar santai lagi, keduanya terkejut.
***
“Umma! Umma!” seru Jongjin memasuki dapur dan menghampiri Ibunya yang tengah memasak.
“Eih, kau ini tergesa-gesa sekali, sih?” ujar Ibunya, “Museun iriya?” tanyanya.
“Umma masih ingat kejadian semalam? Soal yang Geunyoung lakukan setelah mencium pipinya Jongwoon Hyung...! Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Hyung!”.
“Iya, iya, Umma ingat...” kata Ibunya, “Memang kenapa?”.
“Aku tau apa yang Geunyoung lakukan saat itu!”.
“Memang apa yang dilakukannya?”.
“Ia mencium bibir Hyung!”.
“Mwo?!” Ibunya terkejut.
***
Hari ini, Kyuhyun, Ryeowook, dan Jongwoon tengah berada di dorm mereka. Kyuhyun tengah iseng-iseng bermain dengan pianonya, biasanya, sih, dia main PSP, tapi kali ini berbeda. Ryeowook tengah berkutat dengan komputernya, si komposer andalan ini tengah membuat karya baru lagi. Sedang Jongwoon hanya termenung memandangi langit lewat kaca pintu balkon.
Ia tengah memikirkan niatnya itu baik-baik. Ia ingin mengatakan yang sesungguhnya pada Geunyoung. Ia harus mempersiapkan diri apappun hasil yang akan diterimanya di akhir pernyataannya pada yeoja itu. Baginya, ini sudah saatnya.
“Yup!” Jongwoon berseru sambil menepuk tangannya.
Hal ini membuat Ryeowook dan Kyuhyun terloncat kaget. Ryeowook hanya mengusap dada sambil menghela nafas, tapi Kyuhyun tidak bisa sesantai itu.
“Ya! Hyung-ah! Bikin kaget saja!” protes Kyuhyun.
“Aku akan menemui Geunyoung dan mengungkapkan yang sebenarnya!” kata Jongwoon.
Namja itu segera bangkit dan mengambil tasnya. Ia segera keluar dari dorm meninggalkan kedua dongsaeng-deul-nya yang memandanginya heran.
***
Beberapa kali Jongwoon menghubungi Geunyoung, tapi yeoja itu tak mengangkatnya. Ia ingin menelponnya untuk menyuruhnya datang ke perempatan itu dan membiarkan Jongwoon berkata jujur padanya.
Namun sudah panggilan yang kesembilanpuluhlima, Geunyoung juga tak mengangkat panggilannya.
Jongwoon tak menyerah, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di sekitar tempat itu, mungkin saja ia bisa menemui Geunyoung yang tengah berjalan-jalan atau di suatu tempat.
Tepat dugaannya, ketika berjalan melewati taman, Jongwoon mendapati Geunyoung duduk sendirian di bangku jauh di sana. Yeoja itu tengah memandangi ponselnya.
“Moon Geun Young!!!” panggil Jongwoon dengan ceria.
Geunyoung tersentak, ia menoleh pada Jongwoon. Namun ia tidak terlihat seceria Jongwoon seperti biasanya, ia khawatir dan cemas.
Jongwoon berlari ke arahnya, tapi Geunyoung segera bangkit dan berlari menjauh. Melihatnya, Jongwoon makin mempercepat langkahnya.
“Geunyoung-ah, jamkkanman!!” seru Jongwoon.
Jongwoon sudah berlari jauh. Namun pada akhirnya Jongwoon kehilangan jejak. Ia berhenti berlari, dan menarik nafas dalam-dalam berulangkali.
“Ke mana dia pergi?” gumamnya.
Geunyoung berada di balik pohon, bersembunyi dari Jongwoon. Sebenarnya, ia tak mau melakukan ini, tapi apa yang harus diperbuatnya lagi?
Yeoja ini terduduk di balik tumbuhan tinggi itu, kemudian memendam wajahnya di dalam lipatan kedua tangannya yang ada di atas kedua lututnya, ia menangis.
***
“Ini memang bukan keinginanku... Tapi jika tidak ku paksakan, aku hanya akan merasa bersalah...
Biarkan aku saja yang tersakiti... Aku tak mau hanya karena keinginan kuatku ini bisa enyakitinya... Makanya, sekarang aku sering menghindarinya...
Aku tidak ingin Appa melihatku berada dekat dengannya lalu menyuruh Asisten Kim mememerintahkan pesuruhnya untuk memukulinya lagi...
Meski ini memang membuatku sedih dan sakit, tapi ini lebih baik daripada melihatnya tersakiti...”
*Not You*
To be Countinued
***
Catatan di atas merupakan catatan harian dari Geunyoung, ya~~...!
Oya, hanbon deo, jeongmal joesonghaeyo, kalau misalnya ada tokoh, couple, penempatan tokoh, atau watak tokoh yang Reader-deul kurang suka~~... Jangan nge-bashing atau fanwar, ya~~..! Juga jangan men-judge Nate yang enggak-enggak dan bikin geleng-geleng kepala, ya~~... Saya cuma seorang author yang punya imajinasi yang ketinggian~~....! —_____—
Ok, part selanjutnya adalah part ending...! Mungkin yang komen soal kritik dan saran buat kelanjutan FF ini, Nate gak bisa memenuhi semuanya... Aku biasa nulis FF dulu di laptop, bukan nulis langsung di Blog... Nah, kalau sudah jadi baru di-share di Blog.. Jadi yang minta perubahan tokoh, tambah part, dan lain-lain, Nate gak bisa mengabulkan karena tokoh, jumlah part, dan lain-lainnya itu sudah fix, jadi gak bisa diubah lagi~~..^ Joesonghamnida~~... (bow) Juga untuk kesalahan pengetikan, joesonghamnida~~...! (bow)
OK, gomapseumnida~~...!

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^