[FF] Not You 니가 아닌데 Part 1

4:34 PM 0 Comments A+ a-


Not You
니가 아닌데
Author        : RetnoNateRiver
Genre        : Romance
Main Casts  : - SJ Yesung as Kim Jong Woon
               - Moon Geun Young as Moon Geun Young
 - SNSD Sooyoung as Choi Soo Young
               - TVXQ Max as Shim Chang Min
Other Cats  : - SJ Kyuhyn as Cho Kyu Hyun
               - SNSD Seohyun as Seo Joo Hyun
               - SJ Ryeowook as Kim Ryeo Wook
               - SNSD Tiffany as Tiffany Hwang
               - Yesung’s Family
Cameo        : - SNSD Jessica as Jessica Jung/Jung Soo Yeon
*Not You*
Huah, Nate sedang bosan di sekolah dan mencari hiburan sedikit. Lalu tercetuslah ide! Ku ambil buku coret-coretan dan mulai nulis!^
Sekadar motivasi saja... Buat para author baru atau lama, FF, novel, atau cerpen, semuanya... Insipirasi membuat cerita itu ada di mana-mana,.lho! Di setiap langkahmu dan di sekitarmu itu ada inspirasi, lho~.. Yuk, coba gali kemampuanmu~...!^
OK, ada FF appetizer lagi, nih! Alias FF sebagai ‘hidangan pembuka’...! ^^masih YeMoon, ya, thor~~...?^
Monggo dibaca~... Untuk kritik, dan saran yang membangun, aku tunggu di kolom komentar~~... Dan yang mau share boleh banget, kok~...!^ Mohon bantuannya, ya~~...! (bow)
Happy Reading!

Author

RetnoNateRiver
*Not You*
Writed by RetnoNateRiver : 120828-unknow
*Not You*
“Kyujin-ah!!” Joohyun terengah mengejar langkah putranya itu yang berlari ke sana ke mari.
“Jagi, biarkan saja ia bermain-main...!” kata Kyuhyun yang duduk di sampingku, di atas tikar ini.
“Tapi bagaimana kalau dia jatuh lagi, Oppa...?” ujar Joohyun dari tempatnya berdiri.
“Joohyun-ah, tidak akan apa-apa, kok, membiarkan Kyujin bermain dengan Jiyoung...!” tambah Tiffany yang duduk di samping Ryeowook itu. Yeoja yang fasih berbahasa Inggris ini tengah menyiapkan makanan dari keranjang yang kami bawa untuk kami yang tengah berlibur bersama ini.
“Jongwoon Samchon, ayo dimakan~~...” gadis kecil bernama Nayoung itu, saudarinya Jiyoung, menyodorkan aku sepotong roti.
Aku hanya tersenyum memandangnya. “Gomawo, Nayoungie...” kataku, menerima roti darinya.
Beruntungnya Ryeowook dan Tiffany. Mereka dianugerahi sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan yang sangat ramah dan rendah hati seperti kedua orangtuanya! Tentu itu Kim Ji Young dan Kim Na Young.
Joohyun menghampiri kami berempat ini bersama Kyujin dan Jiyoung dalam gandengannya.
“Tuh, Oppa... Kyujin jatuh lagi...!” lapornya pada Kyuhyun.
Kyuhyun memeriksa keadaan putranya itu, “Gwaenchanha, Kyujinie?” tanyanya, dan Kyujin mengangguk.
“Nah, semua, kan, sudah berkumpul! Mari kita makan bersama-sama!” ajak Ryeowook girang.
Kami semua duduk di atas tikar ini, berlibur dari aktifitas kami. Manggung, bernyanyi, rumah tangga..., semuanya... Namun, ketika ku lihat lagi..., aku hanya sendiri...
Ya, Ryeowook dan Tiffany bersama kedua anak kembarannya, juga Kyuhyun dan Joohyun bersama Cho Kyu Jin anak pertama dan satu-satunya. Sedang aku sendiri...
Di usiaku yang sudah lewat kepala tiga ini, aku kalah dengan dua sahabatku —Ryeowook dan Kyuhyun— yang sudah memiliki keluarga, yang bahkan sangat bahagia... Sedang aku yang lebih tua dari mereka masih sendiri...
Bukan... Ini bukan karenanya...
Mungkin karena aku tidak dapat menggantinya di hatiku... Aku hanya terpaku padanya... Tapi gila juga, aku masih menyukai orang yang kini mungkin telah berkeluarga itu...
Tapi...,
“Jongwoon Samchon...” panggil Jiyoung yang duduk di sampingku, minta perhatian. Ia menghancurkan lamunanku. Jiyoung memang dekat denganku. Rupanya ia sadar bahwa aku lupa dengan makananku.
“Mari dimakan, Jongwoon Oppa~~...!” ajak Tiffany sekali lagi. Ramahnya ia...
“Wae geurae, Hyung? Karena Nuna?” tebak Kyuhyun, mengetahui apa yang aku rasakan. Ia mungkin menyindirku... Memang...
“Sssh! Kyuhyun-ah!” tegur Ryeowook, orang yang paling menentang sindiran itu sejak dulu.
“Tak apa, Ryeowook-ah...” kataku, dan itulah yang selalu ku ucapkan pada Ryeowook ketika ia menegur kata-kata Kyuhyun yang seperti tadi.
Tapi, hey.. Aku tau betul, kata-kata Kyuhyun itu memang sepenuhnya benar... Mungkin..., hatiku terlalu membeku..., karenanya...?
*Not You*
Flashback...
[ ► CN Blue – High Fly]
Aku? Aku Kim Jong Woon...
Mungkin cuma bocah berantakan yang cuma berkutat dengan bass satu-satunya yang dibelinya dengan susah payah sewaktu SMA sampai dimarahi Ibunya. Mungkin cuma bocah aneh yang berasal dari keluarga tidak mampu yang berani-beraninya bermimpi bisa tampil di stage seperti bintang lainnya...
Tapi meski aku sudah lulus SMA —tepatnya beberapa tahun yang lalu— semua itu masih saja melekat padaku : berantakan, dingin, aneh, terobsesi pada musik, agak pendiam kadang juga cerewet, dan segala-galanya.
Namun, ada satu yang berharga dalam hidupku...
“Jongwoon Oppa!” panggil yeoja itu, dengan jaket merah dan rambut hitam yang terurai, begitu cantik.
Aku menoleh, dan ia menghampiriku.
“Aku terlambat, ya?” katanya, “Mian, Oppa...”.
“Aniyo...” kataku, “Kau belum terlambat, Geunyoung-ah...”.
Mendengarnya, Geunyoung tersenyum. Kemudian, aku menggenggam tangannya. Aku akan membawanya pergi.
“Kaja, Ryeowook dan Kyuhyun pasti sudah menunggu!” kataku.
Aku lantas memungut tas hitam besar tempat ku simpan bass-ku. Lalu, aku dan yeoja itu, Moon Geun Young, melangkahkan kaki menuju halte bis.
Moon Geun Young. Geurae, itu namanya. Yeoja cantik nan manis yang lebih muda tiga tahun dariku ini memang sudah akrab denganku sejak kami SD. Aku selalu merasa senang bisa berada di dekatnya. Itu..., karena aku suka padanya, tapi terlalu takut untuk mengungkapkannya... Payah, kan?
“Kau akan berdiri di kerumunan orang-orang... Apa itu tak apa buatmu?” tanyaku ketika aku sudah berada di back stage pada Geunyoung yang masih di dekatku.
“Tenang saja... Ini, kan, debut pertama Oppa... Aku harus melihatnya dengan kedua mataku sendiri...” katanya dengan ceria.
Oh ya, kalau boleh aku beritahu, Geunyoung itu agak takut kalau berada di kerumunan orang, phobia. Aku khawatir saja padanya. Jika sudah begitu, ia cuma bisa berjongkok sambil menutup mata atau telinganya dan tidak fokus dengan apapun yang ada di sekelilingnya.
“Jongwoon Hyung!” panggil Kyuhyun, mendekat pada kami.
“Joha... Aku mau ambil posisi dulu...” kata Geunyoung berpamitan padaku.
“Hati-hati, ya!” pesanku ketika Geunyoung berjalan menjauh dariku.
Kyuhyun yang ada di dekatku sekarang ini cuma memandangi yeoja itu, lalu ketika yeoja itu hilang dari pandangannya ia menatapku. “Kalian masih berteman?” tanyanya.
“Itulah kami dari dulu, ya, kan?” kataku.
“Aish... Sampai kapan kau begini terus, Hyung?” komplainnya, “Kalau kau namja, katakan yang sebenarnya padanya!”. [ ■ CN Blue – High Fly]
“Sssh! Kyuhyun-ah!” tegur Ryeowook yang duduk di dekat kami bersama gitarnya.
“Sudah, tidak apa, Ryeowook-ah...” kataku pada Ryeowook.
Dan setiap aku berkata seperti itu pada Ryeowook, Kyuhyun pasti akan melanjutkan komplainannya, “Aku berkata seperti itu karena aku peduli padamu, Hyung...! Aku cuma gak ingin kau kehilangan apa yang kau inginkan...!”.
“Kyuhyun-ah!” tegur Ryeowook lagi, orang nomor satu  yang tidak senang kalau aku dikata seperti itu oleh orang lain, apalagi oleh Kyuhyun.
“Ku bilang tak apa, Ryeowook-ah...” kataku lagi pada Ryeowook, namja manis itu mungkin hari ini harus kembali merasa kesal pada Kyuhyun. “Sudahlah..., tiga menit lagi giliran kita... Ppali, bersiap-siaplah...” kataku memberi jalan keluar yang lebih baik.
***
Di stage..., aku melihat Geunyoung berdiri di barisan depan, tersenyum padaku yang berdiri di paling depan stage bersama bass-ku.
Fly, itu nama grup kami. Dipersonili oleh aku —sebagai bassist, vocalist¸ dan ketuanya—, Ryeowook —gitarist dan vocalist— dan Kyuhyun —keyboardist dan vocalist—. Dan hari ini adalah debut pertama kami. Inilah impianku itu..., ya, kan? Apalagi ada Geunyoung di barisan depan sana menonton debut pertama kami ini.
Iya, seperti yang dijanjikannya, Geunyoung tidak apa-apa berada di kerumunan para penonton itu. Akhirnya hatiku lega. Aku siap untuk bernyanyi.
***
Malam sudah turun rupanya.
“Eh, ada Joohyun?” kataku melihat Joohyun sudah berdiri di dekat Kyuhyun ketika kami bersiap pulang dari gedung SBS ini.
“Oh... Jongwoon Oppa, Ryeowook Oppa, Geunyoung Onni...” kata Joohyun ramah, “Annyeong haseyo...! (bow)”.
Aku, Ryeowook, dan Geunyoung memberinya bungkukkan yang sama.
“Hyung, aku pulang bareng Joohyun, ya...!” kata Kyuhyun.
“Loh, Oppa? Kenapa tidak bersama-sama saja?” tanya Joohyun pada namjachingu-nya itu.
Kami bertiga tersenyum.
“Sudah, kalian pulang saja berdua...” kata Ryeowook, “Kami tau pasangan baru seperti kalian pasti butuh waktu berdua~~... Ya, kan~~...?” ia mulai usil, mungkin pembalasan dendamnya pada Kyuhyun tadi.
Mendengarnya, Kyuhyun dan Joohyun jadi tersipu. “Ah, Ryeowook-ah, kau ini...?” ujar Kyuhyun.
Membuat kami tertawa kecil mendengarnya.
“Ya, sudah... Kami pulang duluan, ya!” pamit Kyuhyun pada kami.
Keduanya lalu pergi. Seperti kebiasaannya, Joohyun selalu memberi bungkukkan tanda pamit pada kami, dan Kyuhyun pun juga ikut membungkuk dengan paksaan dari yeojachingu-nya itu. Membuat kami terpaksa menahan tawa.
***
Aku, Ryeowook, dan Geunyoung berjalan bersama menuju stasiun subway terdekat. Ryeowook dan Geunyoung baru saja membeli sebungkus kecil ddeokbokki dan memakannya sedikit-sedikit sambil berjalan. Dan aku tidak beli, aku tidak lapar.
“Ryeowook-ah..., bagi, dong...” pintaku, keisenganku padanya mulai kambuh (gak ada kerjaan).
“Shireo... Kenapa gak beli saja sendiri...?” ujar Ryeowook, lalu berjalan menjauhiku.
“Ya, Kim Ryeo Wook! Sejak kapan kau ketularan Kyuhyun dan menjadi jahat padaku seperti itu, huh?!” omelku.
“Oppa...” ku dengan suara Geunyoung memanggilku di susul sepotong ddeokbokki yang disodorkannya di depan mulutku.
Mendadak aku beku. Apa yang Geunyoung lakukan? Aku cuma bisa memandanginya.
“Makan saja punyaku...” kata Geunyoung.
Aku masih memandanginya. “Ah, tidak usah...” aku tersenyum malu, lalu menjauhkan tangannya dariku dengan lembut.
“Tadi Oppa bilang kalau Oppa mau minta ddeokbokki, kan? Ige..., ambil saja punyaku...” kata Geunyoung sekali lagi, dan menyodorkan ddeokbokki-nya ke depan mulutku sekali lagi. “Ayo..., ah...” suruhnya.
Ketika mengucapkannya, Geunyoung terlihat manis di mataku. Aku jadi tak mampu menolaknya. Lantas aku melahapnya, lalu mengunyahnya perlahan. Masih hangat.
“Massitji?” tanyanya.
“Jeongmal masshitda...” kataku.
“Uhukk! Uhukk!” ku dengar Ryeowook tersedak.
“Ryeowook-ah?” tanyaku, “Gwaenchanha?”.
Aku menghampirinya, dan aku menyadari kalau ia tersedak karena tak mampu menahan gelak tawanya. Iya, dia sengaja pelit ddeokbokki padaku agar Geunyoung mau menyuapiku ddeokbokki punyanya. Anak ini...?!
“Ya! Kenapa kau tertawa?!” protesku, “Jadi kau sengaja pelit padaku?!”.
Ryeowook tak mampu menjawabnya, hanya mengusap bagian dari wajahnya yang kotor dan kemudian tertawa lepas, “Hahahaha!”.
“Aish... Kau sama saja dengan Kyuhyun!” omelku lagi.
Aku melirik Geunyoung yang rupanya tengah memandangiku. Namun ketika ia menangkap tatapan mataku, ia lantas berpaling. Ia agak malu ternyata.
Tapi ia sangat manis ketika merasa malu atau tersipu, seperti sekarang ini. Jadi aku masih memandanginya, lalu tanpa sadar aku tersenyum tipis. Geunyoung melirikku, memastikan apa aku masih memandanginya atau tidak. Mengetahui aku masih memandanginya, Geunyoung terpaku menatapku. Wajahnya polos sekali.
Sampai akhirnya, sebuah mobil hitam berhenti di dekat kami. Dan beberapa pengendaranya keluar dari mobil itu dan menarik Geunyoung ke dalam mobil.
Aku terkesiap.
“Oppa!!” panggil Geunyoung.
“YA!! Berhenti!!” aku hampiri orang-orang itu. Namun, ketika aku mendekat salah satu dari orang itu memukulku.
Aku terjatuh.
“Hyung!!” Ryeowook menghampiriku.
Aku kehilangan Geunyoung, lagi. Ia berhasil dibawa mereka. “Orang-orang itu...” geramku.
Aku bangkit dan mengejar mobil itu yang tengah beranjak pergi. Aku mengetuk kaca mobil itu. Ku lihat samar-samar Geunyoung di dalamnya, berusaha keluar.
Tapi mobil itu tetap melaju juga. Meninggalkan tempat ini.
“YA!!” aku kesal.
“Cukup, Hyung...” Ryeowook menenangkanku.
Ini sudah sering terjadi ketika Geunyoung berada dekat denganku. Iya, denganku. Keluarganya memang tidak suka kalau putri mereka berteman denganku. Mungkin kalian sudah tau masalahnya, karena derajat pada diri kami.
Geurae, hidupnya lebih dari cukup, apalagi Ayahnya merupakan pengusaha yang terpandang, dan seterusnya, seterusnya, seterusnya... Aku sudah malas menceritakannya...
Tapi Geunyoung tak seperti orangtuanya... Iya, orangtuanya... Ia gadis yang baik, ramah, dan mandiri. Ia tidak senang bergantung pada orangtuanya dan ia lebih senang tampil natural. Ia senang berbaur dengan siapa saja, selama orang itu bukan orang yang mengganggunya.
Aku menyeka aliran darah yang mengalir dari ujung bibirku. Terus ku telusuri jalan gelap nan sepi itu bersama bass di dalam tas yang ada di punggungku. Aku sudah terpisah dengan Ryeowook di pertigaan sana. Awalnya, ia ingin mengantarkanku sampai rumah, ia khawatir. Tapi aku membujuknya agar ia langsung pulang dan juga mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Ketika aku hendak berbelok menuju gang rumahku, aku tertabrak seseorang, “Bruk!!”.
Ini memang tidak sakit, tapi ini membuat mood-ku semakin jelek. Dan ketika ku lihat siapa yang menabrakku, aku terdiam.
“Joesonghaeyo...” katanya, seorang yeoja.
“Sooyoung-ah...?” kataku.
Yeoja itu, Choi Soo Young, memandangku, “Oppa...?” ia kedengaran agak kaget, ia memandang ke wajahku, “Oppa, ada apa denganmu? Apa karena Geunyoung Onni lagi?” ia mendekatkan tangannya menuju wajahku.
Aku menangkisnya. “Nan gwaenchanha...” ucapku dingin. Kemudian, aku melangkah berbelok menuju gang rumahku dan Sooyoung mengikuti.
“Oppa, apa mereka memukulimu lagi? Apa kau masih bersama dengan Onni?”.
Aku berbalik, “Sudah aku bilang, nan gwaenchanha!!” ujarku dengan emosi yang tertahan.
“Tapi kalau kau masih berada dekat dengan Geunyoung Onni, kau akan terus begini, Oppa! Aku tak mau melihatmu seperti ini!”.
“Geureom, apa urusannya denganmu, hah?!!” omelku, “Apa kau punya hak untuk mengaturku?!! Aku sudah bilang, aku tidak menyukaimu!! Jadi, berhenti mengaturku dan jangan ikuti aku lagi!!”.
Sooyoung terdiam.
Aku berjalan kembali menuju rumahku, dan ia masih mengikutiku. Aku berbalik dan menatapnya tajam.
Sooyoung tertegun menerimanya, lalu ia terdiam sebelum berkata, “Ne, Oppa... Aku akan pulang...” katanya, tertunduk, seakan mengerti apa yang akan aku katakan hanya dari tatapan mataku.
Dengan keadaan seperti itu, ia berjalan mendahuluiku, ia pulang. Tangannya bergerak di depan wajahnya. Ia mungkin menangis, untuk yang kesekian kalinya, dan tentu saja itu karenaku.
Aku memang dingin padanya. Ia memang menyukaiku, tapi aku sudah mengatakan padanya bahwa aku tak menyukainya. Tapi ia tidak menyerah dan tetap mengikutiku, seperti ia tidak tau kalau aku tidak menyukainya.
Aku sering mengomelinya seperti tadi, dan ia pasti akan menangis. Kalau tak ku lakukan, mungkin ia takkan mau terlepas dariku.
***
“Hmm~~~, jeongmal masshitda~~...!” kataku dan Jongjin yang duduk di sampingku.
Umma dan Appa yang mendengarnya tersenyum. “Aigoo, anak-anak Umma yang keren ini lahap sekali, ya, makannya~~...” kata Umma.
Makan malam kali ini terasa sangat menyenangkan bersama keluarga lengkapku. Ada Umma, Appa, dan adikku Jongjin.
“Ya, Jongwoon-ah... Bersihkan wajahmu nanti sebelum tidur... Ara?” ingat Appa, memaksudkan lukaku.
“Ahh, mereka itu manusia macam apa, sih?” gerutu Umma, “Putri mereka berteman dengan putra kita yang satu ini masa tidak boleh? Apa-apaan, sih, mereka itu? Tidak sopan!”.
“Umma~~...” ujarku, meminta Umma untuk menghentikan gerutuannya mengenai keluarga Geunyoung, tanpa memaksudkan nama Geunyoung di dalamnya.
“Sudah, ayo kita makan lagi!” ajak Appa, dan kami kembali makan dengan cerianya.
“Umma! Aku tambah lagi, ya!” pinta Jongjin.
“Tenang saja...!” kata Umma.
*Not You*
Pagi-pagi, aku sudah mendapat pesan dari Ryeowook.

“Yeoreobun!!
Tolong ke Taman Namsan sekarang! Aku butuh bantuan!
Gomapseumnida!”
sender : Ryeowookie

“Ngh~~, anak ini~~...?” ujarku, masih mengantuk
***
“Siapa yeoja itu?” tanya Kyuhyun. Rupanya, Ryeowook juga mengirimi pesan ke Kyuhyun, Joohyun, dan Geunyoung.
Ryeowook kemudian berbisik pada kami. “Ia tersesat, yeoja dari Amerika... Aku ingin membantunya tapi aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya padanya...” katanya.
Yeoja itu mendekati kami, “Excuse me..., could you help me...?” tanyanya.
Kami berlima saling berpandangan. Kemudian Joohyun mulai beraksi, “Sorry, what’s your name?” tanyanya.
“My name is Tiffany... Tiffany Hwang...” kata yeoja itu.
“My name is Joo Hyun Seo...” kata Joohyun, “This is Ryeo Wook Kim, Kyu Hyun Cho,  Jong Woon Kim, and Geun Young Moon...”.
“So, guys... Could you help me, please?” pinta Tiffany dengan perlahan agar kami mengerti.
“Hanguk malhaseyo...” pinta Ryeowook padanya, dengan bahasa Korea?
“Sorry, I can’t speaking in Korean well...” kata Tiffany.
“So, what can we do for you, Tiffany?” tanya Geunyoung.
“I just arrived here and looking for my friend’s house...” kata Tiffany, “Can you help me to find her house, please...?”.
“Where’s the house...?” tanya Kyuhyun setelah berpikir beberapa lama.
“She said, not far from Namsan Tower... Near the plaza...” jawab Tiffany.
“Rumahnya tidak jauh dari Seoul Plaza...” kataku, cuma bisa menerjemahkan.
“What’s your friend’s name?” tanya Joohyun.
“Jessica Jung...” jawab Tiffany, “Or maybe..., Soo Yeon Jung..., her Korean name...”.
“Tiffany!!” panggil seorang yeoja.
“Jessica!!” Tiffany mengenalnya, rupanya orang yang dimaksud datang ke mari dan mencarinya.
Yeoja yang bernama Jessica itu mendekat pada kami dan berbicara beberapa kalimat pada Tiffany. Keduanya kelihatan senang dan lega bisa bertemu.
Jessica memandangi kami. “Kalian pasti sudah membantu Tiffany...” katanya, “Gamsa hamnida atas bantuan kalian... (bow)”.
Kami memberi bungkukan juga padanya. “Cheonmane malseumnida...” kata Joohyun mewakili kami.
Kemudian keduanya pergi.
“Huah, senangnya bisa membantu...” ujar Geunyoung.
“Akhirnya, ia bertemu dengan orang yang dimaksud...” kata Joohyun.
Ryeowook duduk di tempat Tiffany duduk tadi, dan tak sengaja menemukan sebuah benda di atasnya. “Hei! Ponselnya Tiffany ketinggalan!” serunya, kami memandangnya.
Ryeowook segera mengambilnya dan berlari menuju Tiffany dan Jessica yang jaraknya belum jauh dari kami.
“Tiffany! Wait!!” serunya.
Kedua yeoja itu berhenti melangkah dan berbalik.
“Your handphone... Ketinggalan...” kata Ryeowook sambil memberikan ponsel itu pada Tiffany, dengan bahasa Korea di akhir kalimatnya.
Tiffany meraih ponselnya, “Oh God! My phone!” ia terkejut, “Thank you very much, Ryeo...,” sepertinya ia lupa atau sulit menyebut nama Ryeowook.
“Ryeowook...” kata Ryeowook.
“Oh yeah... Thank you, Ryeowook...” kata Tiffany, “Your name is hard to pronounce...”.
“Oh, ne...” kata Ryeowook.
Setelah ku lihat lagi, ketiganya kemudian berpisah. Ryeowook kembali pada kami.
“Apa yang ia katakan?” tanya Kyuhyun penasaran ketika Ryeowook sudah ada di hadapan kami.
“Aku..., kurang mengerti...” Ryeowook tersenyum polos. ^^gubrak!!^ Ah, anak ini? Kyuhyun pasti kecewa dengan jawabanya.
*Not You*
Ku serahkan sebagian penghasilanku itu pada Appa, dan dengan agak bingung Appa menerimanya.
“Mungkin sedikit membantu keadaan kita, Appa...” kataku pada beliau.
Appa hanya memandanginya dan menghela nafas. “Sebenarnya..., aku tidak menginginkan kau melakukan ini dan...,”.
“Appa, aku sudah banyak menyusahkanmu dan Umma di tengah ekonomi yang sempit ini...” kataku, “Tujuanku bisa berada di atas stage selain karena impianku juga karena aku ingin membantu Appa dan Umma... Juga membantu Jongjin yang sebentar lagi akan mengakhiri kuliahnya... Tolong terima, Appa...” aku membungkuk kecil.
Melihat tindakanku, Appa hanya menghela nafas, dan aku berharap ia mau menerima tindakanku ini. “Joha... Terserah kamu saja...” katanya.
Aku tersenyum tipis. “Gomapseumnida...” kataku.
Appa kemudian tersenyum. “Aigoo, bahkan aku lupa kalau kau sudah dewasa...”. Beliau menepuk-nepuk bahuku.
Beginilah rasa bangganya.
*Not You*
[Author POV]
“Annyeong, Sooyoung-ah...!” sapa Changmin ketika ia bertemu Sooyoung siang itu di bangku taman tersebut.
Bukannya membalas sapaan Changmin, Sooyoung malah memalingkan wajahnya dari Changmin.
Changmin hanya memberi respon kecil atas tindakan Sooyoung, kemudian ia duduk di sampingnya. Senyuman manisnya tetap melekat meski memang Sooyoung tak menatapnya.
“Kau sudah makan?” tanya Changmin, tapi Sooyoung tidak menjawab. “Aku lihat beberapa hari yang lalu, matamu kelihatan sembab? Wae geurae?”.
Tapi Sooyoung tetap tak menjawab.
“Hei..., Sooyoung-ah...,” Changmin menggenggam lengan Sooyoung.
Tapi tiba-tiba, Sooyoung melepaskan genggaman Changmin itu, jelas ia tidak suka. Ia lantas bangkit dan menatap tajam Changmin.
“Dengar, ya!” kata Sooyoung, “Aku tidak menyukai Oppa! Jadi jangan ganggu aku!! Aku hanya menyukai Jongwoon Oppa!! Oppa dengar? Hanya Jongwoon Oppa!!”.
Tanpa basa-basi lagi, Sooyoung berjalan menjauhi Changmin. Dari langkahnya saja bisa ditebak kalau ia sudah kesal pada namja itu.
“Sooyoung-ah, ada yang ketinggalan!!” seru Changmin, dengan nada yang membuat orang cemas.
Sooyoung terhenti dan mencoba menoleh, mungkin memang ada barangnya yang tertinggal di tempat duduknya tadi. Namun  begitu menoleh, ternyata bukan harapannya yang ia dapatkan.
“Saranghaeyo, Choi Soo Young!” Changmin membuat hati dengan kedua tangannya di depan dadanya sambil tersenyum manis. Itulah yang ‘ketinggalan’ yang Changmin katakan.
Kesal? Kecewa? Mood makin hancur? Ya, itu semua Sooyoung rasakan dalam satu periode. Tanpa ada kata apapun, Sooyoung kembali melangkah menjauhi Changmin.
Melihatnya, Changmin hanya tersenyum tipis, “Aku tau, kok, kau itu menyukai Jongwoon Hyung... Tapi aku tau, kalau suatu hari nanti semua usahaku agar kau menerimaku itu takkan sia-sia...”.
***
“Mau ku bantu?” tanya Jongwoon begitu ada di dekat Changmin yang tengah mengangkat alat-alat kebersihan restoran tempatnya bekerja.
“Eh, Jongwoon Hyung?” kata Changmin, menepuk-nepuk tangannya untuk menghilangkan debu dari situ dan mengelap tangannya pada celemek yang dipakainya. Ia memang bekerja sebagai cleaning service di restoran ini, makanya inilah yang dilakukannya. “Kenapa kau di sini? Kenapa tidak lewat depan saja?”.
“Aku bukan mau memesan makanan, kok...” kata Jongwoon, tersenyum tipis.
“Geurigo?” Changmin bingung.
“Aku mau bicara..., soal Sooyoung...”.
Mendengar nama Sooyoung, Changmin tertunduk sambil tersenyum tipis, “Oh..., soal itu...”.
“Aku tau kau menyukainya...” kata Jongwoon, “Cobalah kau mengejarnya dengan segala kemampuanmu yang ada... Aku tak ingin terus-menerus membuatnya menangis... Kau bisa, kan...?”.
Untuk sesaat Changmin terdiam. Lalu ia menatap Jongwoon sambil tersenyum, “Aku akan berusaha, kok!” katanya, “Meski berulangkali ia menolakku~~...” tambah batinnya.
Jongwoon tersenyum. “Gomapta...” katanya, “Butuh bantuan?” tawarnya.
“Ah, tidak usah, Hyung...” kata Changmin, “Kau, kan, bintang... Tidak usah membantuku...”.
“Bintang? Baru beberapa hari yang lalu, kok...” kata Jongwoon, “Saat ini jadwalku gak padat amat... Dengan pekerjaan seperti ini..., sepertinya aku akan banyak rindu pada orang-orang terdekatku yang aku sayangi...”.
Changmin tersenyum tipis.
“Joha... Semoga harimu menyenangkan..., Shim Chang Min...” kata Jongwoon, “Galkke...” pamitnya, berjalan menjauhi Changmin.
“Sukses buat karirmu, ya!” pesan Changmin.
“Gomapta!” sahut Jongwoon.
“Oya.” ingat Changmin, “Salam buat Kyuhyun dan Ryeowook, ya! Bilang pada Kyuhyun untuk membalas sms-ku!!” tambahnya pada Jongwoon.
“Kyuhyun? Kau rindu padanya, huh?” canda Jongwoon.
Changmin hanya tertawa kecil. “Aku ‘membencinya’!!” candanya, yang artinya bahwa ia menyayangi sahabatnya baiknya itu.
***
Geunyoung mendongakan kepalanya untuk menatap wajah Jongwoon yang ada di sampingnya.
“Oppa, kita sebenarnya mau ke mana, sih?” tanyanya.
“Kita ke toko buku, seperti biasa...” jawab Jongwoon.
“Kenapa hari ini?” tanya Geunyoung lagi, begitu polos di telinga Jongwoon.
Jongwoon memandangnya, “Cuma hari ini saja aku punya waktu luang sampai seminggu ke depan...” jawabnya, “Dan ku rasa, kita tidak bisa ke toko buku dua minggu sekali seperti biasanya..”.
“Kenapa begitu?” tanya Geunyoung untuk yang ketiga kalinya.
“Karena...,”.
“Ding Dong...” kata-kata Jongwoon terputus oleh suara itu, tanda kalau kereta yang mereka naiki telah sampai di tujuan.
Dengan munculnya suara itu, Jongwoon refleks menggenggam tangan Geunyoung. Membuat Geunyoung agak tersentak, kaget.
Jongwoon mulai mengingatkan Geunyoung. “Kita akan keluar gerbong. Ingat, jangan lepas tanganku sampai kita berada di ruang tunggu. Berpegangan kuat padaku dan...,”.
“Klik...” pintu gerbong sudah terbuka, dan orang-orang mulai berjalan keluar. Bergelomboran, Reader-deul. Inilah hal yang ditakuti Geunyoung dan yang dikhawatirkan Jongwoon.
Karena keduanya berdiri di depan pintu gerbong, mereka agak terdorong orang-orang yang ingin keluar yang tentu saja ada di belakang mereka.
Begitu banyak orang yang keluar, menyebabkan Geunyoung maupun Jongwoon berusaha agar tidak terpisah. Jongwoon berjalan di depan Geunyoung, berusaha menuntunnya keluar dari kerumunan orang itu. Sementara Geunyoung mulai tidak fokus.
Langkah Geunyoung melamban, ia berada semakin tertinggal dari langkah Jongwoon. Seakan ia tersangkut pada dahan dalam aliran deras sungai.
“Geunyoung-ah?!” Jongwoon mencari letak yeoja itu yang mana tangannya masih di dalam genggamannya
Tak ada respon dari Geunyoung.
“Geunyoung-ah!!” panggil Jongwoon, “Fokus! Pegang tanganku!!”.
Lagi-lagi, Geunyoung tak merespon. Pikirannya makin kacau. Sementara sebentar lagi keduanya hampir sampai di ruang tunggu. Namun, perlahan-lahan, Geunyoung tak menggenggam tangan Jongwoon dengan erat dan kemudian melepaskannya.
Kali ini Jongwoon benar-benar khawatir. “Geunyoung-ah!!” panggilnya. Namun tentu saja ia tak mendengar balasan dari Geunyoung.
Dengan terpaksa, Jongwoon melangkah berbalik melawan arus manusia itu dan mulai mencari di mana Geunyoung berada.
“Geunyoung-ah!”.

“Geunyoung-ah!”.


“Geounyoung-ah!!”.



“Geunyoung-ah!!!”.





“Oppa...”.


Ah! Itu dia!”.
*Not You*
To be Countinued
***
Hmm..., sebuah TBC yang pas sekali~~...!
Hehehe... Nate senang bisa bikin penasara Reader-deul!^ #gubrak Makanya, yang penasaran, monggo dibaca kelanjutan FF ini, ya~~... FF ini ada part sampai tiga part~~... Gak banyak-banyak karena aku memang sedang ada urusan~..
OK, gomapseumnida for reading!

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^