[FF] Not You 니가 아닌데 Part 3

9:46 PM 0 Comments A+ a-


Not You
Author       : RetnoNateRiver
Genre        : Romance
Main Casts  : - SJ Yesung as Kim Jong Woon
               - Moon Geun Young as Moon Geun Young
 - SNSD Sooyoung as Choi Soo Young
               - TVXQ Max as Shim Chang Min
Other Cats  : - SJ Kyuhyn as Cho Kyu Hyun
               - SNSD Seohyun as Seo Joo Hyun
               - SJ Ryeowook as Kim Ryeo Wook
               - SNSD Tiffany as Tiffany Hwang
               - Yesung’s Family
              - SJ Hankyung as Moon Han Kyung
              - SJ Heechul as Kim Hee Chul
*Not You*
Wah, ini dia! Not You 니가 아닌데 Part 3, sekaligus ending...!
Huhuhu, adakah yang mewek? Ya, joesong hamnida, ya, Nate gak bisa memposting FF yang part-nya lebih banyak karena aku sedang sibuk, jadi cuma bisa memposting FF One Shot atau FF yang length-nya pendek...!^
Bagaimana ending-nya? Yuk, monggo dibaca, Reader-deul!
Happy Reading!

Author

RetnoNateRiver
*Not You*
Sooyung membolak-balik buku di tangannya itu. Yeoja ini tengah iseng-iseng membaca sambil duduk-duduk di bangku taman itu, seperti biasanya. Namun ia kelihatan bosan. Beberapa kali ia menguap dan kurang serius dengan bacaannya.
Di tengah kebosanannya, ia mendengar suara langkah yang mendekatinya. Sooyoung pun menoleh ke pemilik langkah kaki itu. Rupanya seorang namja.
[ TVXQ - Balloons]
Sooyoung tersenyum kepada namja itu. Begitu pula sebaliknya, namja itu tersenyum pada Sooyoung, justru terlihat sangat ceria.
“Annyeong, Sooyoung-ah!” sapa namja itu, Changmin. Ia kemudian mengangkat tas di tangannya, yang sebagian besar isinya makanan. “Kau belum makan, kan? Mari kita makan sama-sama...!”.
Changmin di mata Sooyoung, kini bukan lagi namja yang mengganggunya. Kini ia benar-benar merasa nyaman dengan namja itu, mungkin perlahan ia akan menyukainya namun rasa cintanya pada Jongwoon tetap tersedia di dalam hatinya.
Sooyoung kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Changmin.
“Kita mau makan di mana?” tanya Sooyoung.
“Kita makan di tempat teduh dekat-dekat sini saja...” kata Changmin, “Makan sambil duduk di atas tikar sambil memandang hijaunya sekitar ku rasa akan terasa nyaman dan mengasyikan... Ottae?”.
Sooyoung mengangguk mantap. “Aku tau, kok, tempat yang enak untuk itu...!” katanya. Yeoja ini kemudian menarik Changmin sesegera mungkin ke tempat yang dimaksudnya, dan Changmin hanya menuruti langkah kaki Sooyoung meski awalnya memang agak kaget dengan apa yang Sooyoung lakukan ini.
***
Kedua orang ini menyiapkan makanan yang dibawa dengan tas itu bersama-sama. Suasana ceria terasa di antara Sooyoung dan Changmin.
Lima menit sudah cukup untuk menyiapkan semua makanannya. Kini waktunya mereka makan.
“Cuaca hari ini sangat bersahabat, ya...?” ujar Changmin.
“Aku sangat suka cuacanya...” kata Sooyoung. Keduanya duduk-duduk menatap langit.
“Kau tau, di saat-saat seperti ini biasanya orang-orang senang berjalan-jalan di luar... Tapi kita malah makan sama-sama di sini...”.
“Aku suka makan bersama Oppa...”.
“Eh?” Changmin memandang Sooyoung.
Sooyoung juga memandangnya. “Aku suka makan bersamamu, Oppa...” katanya.
Kata-kata itu membuat Changmin terpaku sesaat. Yeoja yang disukainya itu berkata kalau ia senang makan bersamanya, ya Sooyoung. Senang tapi juga kaget.
Kecupan Sooyoung di pipinya membuat Changmin tersadar dari lamunannya. Changmin kembali tertegun dan menyentuh pipi yang dikecup itu.
“Gomawoyo...” kata Sooyoung.
“Ne?” Changmin terkesiap.
“Gomawo buat tempo hari... Oppa sudah merelakan banyak uang karena aku terlalu banyak makan... Aku merasa tidak enak...”.
“Ayo kita makan...” kata Changmin.
“Ne?”.
“Meogeo...” ucap Changmin, “Kali ini aku takkan memberimu beberapa porsi dan membagi antara punyamu dengan punyaku... Kali ini kita makan yang mana saja..., asal kita makan bersama-sama...”.
Sooyoung agak kaget mendengarnya. Namun kemudian ia tersenyum. Ia mengambil semangkuk nasi dan memberinya pada Changmin, baru mengambil satu mangkuk lagi untuk dirinya sendiri.
Kini mereka berdua mulai makan bersama tanpa ada rasa batas sama sekali.
[ TVXQ - Balloons]
***
Tangannya memainkan bass-nya, ia terus bernyanyi, namun matanya mencari sosok seorang yeoja di kerumunan para penonton itu. Ya, Jongwoon tengah mencari di mana Geunyoung berada. Memang akhir-akhir ini, Geunyoung tak pernah dilihatnya lagi menyaksikan penampilan Fly di atas panggung.
Bahkan lebih dari itu, Jongwoon juga tak pernah berjumpa lagi dengan Geunyoung akhir-akhir ini. Tak ada balasan pesan maupun telepon yang dijawab, Jongwoon benar-benar bingung.
“Hyung!” seru Kyuhyun kecil sembari menepuk pundak Jongwoon yang tengah memandangi ponselnya itu saat berada di van.
Jongwoon menoleh ke arahnya.
“Kau kelihatan dalam mood jelek...” kata Ryeowook di samping Kyuhyun, “Museun iriya..?”.
Jongwoon menghela nafas, seakan sulit untuk mengatakan kepada dua dongsaeng-nya itu. Namun sepertinya kepribadian Ryeowook itu mampu membaca apa yang Jongwoon rasakan.
“Kau..., sudah bertemu Geunyoung...?” tanya Ryeowook.
“Belum sama sekali...” kata Jongwoon pada akhirnya.
“Oh, geuraeyo...” gumam Kyuhyun.
Ryeowook berpikir sesaat. Kemudian ia berucap, “Mungkin kami bisa membantumu, Hyung...” tawarnya, “Mungkin kami bisa menghubunginya atau memintanya untuk menemuimu dengan cara lainnya dan kau dapat berbicara padanya...”.
“Tidak, tidak perlu...” kata Jongwoon, “Ini, kan, masalahku... Aku tak mau menyangkut-pautkan kalian dalam hal ini...”.
“Tapi, Hyung..,”.
Kata-kata Ryeowook kemudian terputus ketika Kyuhyun mendekap bahunya. Dari tatapannya, Kyuhyun seakan menyuruh Ryeowook untuk menuruti kata Hyung mereka itu. Tumbennya anak ini agak dewasa (?). ^^Mian, Sparkyu..^.
*Not You*
Rindu, sebenarnya itu yang Geunyoung rasakan. Namun karena kekhawatirannya yang lebih tinggi ketimbang rasa rindunya itu, membuatnya enggan untuk menemui namja yang disukainya diam-diam itu : Jongwoon.
Sore ini, Geunyoung menyengajakan diri untuk membeli bunga yang rutin menghiasi sudut-sudut rumahnya. Ia pergi ke florist shop yang tidak jauh dari rumahnya ditemani maid-nya.
“Tolong bunga yang warnanya putih diletakkan di ruang kerja Aboji...” suruh Geunyoung ramah pada maid-nya tersebut.
“Baik, Agassi...” kata maid-nya. Keduanya membawa beberapa buket bunga yang sudah dibeli mereka tadi.
“Omo, ponselku!” seru Geunyoung ketika ia sampai di perempatan.
“Oh! Jangan-jangan tertinggal di florist!” kata maid itu.
Geunyoung berdecak kecewa. Hari akan segera gelap dan malam akan tiba. Ia harus secepatnya pulang.
“Mohon tunggu di sini dulu, Agassi... Saya akan membawakannya kembali untuk Anda...” kata maid itu.
“Gamsa hamnida...” kata Geunyoung.
“Tidak masalah, Agassi..” kata maid tersebut. “Saya permisi...” pamitnya.
Kini Geunyoung tinggal menunggu di situ bersama dengan sebuket bunga dalam genggamannya.
Tanpa terpikir olehnya, ia mendengar suara memanggilnya, “Geunyoung-ah!!”.
Geunyoung menoleh, menatap nanar orang yang memanggilnya itu, “Oppa...?” gumamnya, “Andwae...”.
***
[Jongwoon POV]
Iseng-iseng aku mengunjungi keluargaku barusan. Aku rindu pada mereka, tapi aku hanya dapat berkunjung sebentar saja...
Namun rasa kekecewaan itu hilang ketika aku berjalan menuju perempatan untuk ke jalan besar dan mencari halte bis terdekat. Ya, aku menemukan Geunyoung!
“Geunyoung-ah!!” panggilku.
Geunyoung, yang tengah membawa sebuket bunga itu, lantas menoleh padaku. “Oppa...?” gumamnya.
Dengan senangnya, aku berlari-lari kecil mendekatinya. Senyumku tak mampu terhapus juga ketika aku tepat berada di hadapannya. Ia memandangku dengan tatapan terkejut, tumben sekali?
“Geunyoung-ah, lama tak melihatmu...! Kau ke mana saja..? Kau tau, selama ini aku mencarimu, tapi aku tak pernah bertemu denganmu, bahkan pesan dan telepon pun tak mendapat jawabanmu... Kau ke mana saja...?” ujarku bertubi-tubi. Ini kebiasaanku.
Namun Geunyoung terlihat tak seceria biasanya. Ada apa dengannya?
“Wae geurae?” tanyaku.
“Ani...” kata Geunyoung kemudian. “Katakan saja apa yang ingin Oppa katakan... Aku akan mendengarkan, kok...” katanya, meyakinkan kalau ia tak apa.
Aku tersenyum tipis. “Geunyoung-ah... Aku..., ingin mengatakan sesuatu...” kataku ragu, “Sebenarnya..., ini sejak kita lama berteman..., tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya padamu... Mian untuk hal ini... Tapi aku harap..., kau mau...” lanjutku, “Sa...,



saranghaeyo..., Moon Geun Young...” .
***
[Author POV]
“Sa..., saranghaeyo..., Moon Geun Young...” kata Jongwoon pada akhirnya.
Geunyoung terkesiap. Tidak, ini bukan seperti dugaannya. Ia pikir awalnya, hanya ialah yang menyukai Jongwoon, namun rupanya Jongwoon juga demikian padanya.


Andwae...” batin Geunyoung. Kaget, benar-benar kaget. Mulutnya pun tak mengizinkannya untuk mengatakan pada Jongwoon bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan namja itu.


“Saranghaeyo...” kata Jongwoon sekali lagi, “Tolong terima aku..., karena aku benar-benar...,”.
“Mothae...” kata Geunyoung lirih.
“Ne?”.
“Mothae, Oppa... Aku tak bisa...” kata Geunyoung. “Aku tidak mencintai Oppa dan aku..., sudah memiliki orang lain...

Aku sudah bertunangan..., dengan..., Geun-seok Oppa...”.

Tidak mampu berkata apa-apa. Inilah hal yang Jongwoon takutkan sejak dulu : bertepuk sebelah tangan. Mungkin rasa ketakutannya yang besar itu yang membuat hal yang ditakutkannya ini benar-benar terjadi.
“Mianhaeyo, Oppa... Jeongmal mianhae...” kata Geunyoung.
“Bukan masalah, kok...” kata Jongwoon.
“Eh?” Geunyoung memandang Jongwoon yang tersenyum tipis padanya.
Mungkin bagi Geunyoung mengatakan hal ini ada benarnya, termasuk kebohongan besarnya kalau ia tidak mencintai Jongwoon. Mungkin membiarkan Jongwoon tidak mengetahui perasaannya ini akan lebih baik daripada ia mengatakannya juga dan membuat Jongwoon makin sedih.
“Joha.. Lega telah mengatakannya dan kau sudah mengetahuinya...” kata Jongwoon, “Aku pergi...” pamitnya.
Jongwoon berbalik lalu melangkah pergi. Ia tidak mau menangis apalagi melakukan hal yang tidak-tidak hanya karena masalah ini.
“Oppa...” Geunyoung menahan langkah Jongwoon, menggenggam lengannya, “Gwaenchanhayo...?”.
Jongwoon menoleh, “Nan gwaenchanha...” ia masih tersenyum tipis.
Geunyoung mendapati Jongwoon dengan raut wajah yang seakan mewujudkan bahwa ia sedih dan kecewa, namun berusaha menyembunyakanya. Hal ini makin membuat Geunyoung khawatir sekalipun Jongwoon bilang ia baik-baik saja.
Jongwoon kembali melangkah, membuat lengannya terlepas perlahan dari tangan Geunyoung. Ia berjalan memunggunginya, tanpa ada kata-kata lainnya dan tanpa menoleh sedikitpun.
Kali ini Geunyoung tau bahwa Jongwoon juga menyukainya, bukan perasaan sepihak. Mungkin memang menyesal lah yang Geunyoung rasakan. Namun sekali lagi, lebih baik menyesal daripada melihat Jongwoon terluka karenanya.
***
Sooyoung baru saja berpisah dengan Changmin sehabis mereka berdua menghabiskan waktu bersama tadi siang sambil makan-makan.
Hari sudah malam dan Sooyoung dalam perjalanan pulang sekarang. Tapi di ujung sana, ia bertemu Jongwoon yang kelihatannya dalam mood yang kurang baik.
“Jongwoon Oppa...?” Sooyoung menghampiri Jongwoon, sementara namja itu hanya memandanginya. “Oppa ada apa? Kelihatannya kau sedih sekali...?”.
Jongwoon terdiam, lalu berpaling dari Sooyoung.
Takut kalau ia memaksakan diri Jongwoon akan memarahinya, Sooyoung mulai mengerti, ia harus pergi dari situ. “Joha, kalau Oppa tak mau cerita... Aku mau pulang...” katanya, “Hati-hati, ya, Oppa...” pamitnya.
Sooyoung kemudian berbalik dan melangkah pulang. Namun sebelum langkah yang keempat, Jongwoon segera menariknya kemudian ia mencium bibir yeoja itu.
Sooyoung tersentak kaget.
***
[ Beast - Fiction]
... ...
“Aku tau..., kau masih menyukainya...” gumam Changmin kecil, ketika ia melihat kejadian itu tanpa sengaja.
... ...
Memang tadi saat ia pulang dengan Sooyoung, ia berpisah dengan yeoja itu, namun Changmin rupanya iseng mengikutinya dan tanpa sengaja melihat kejadian ini.
Tidak ada yang bisa Changmin lakukan selain melihatnya sambil menghela nafas pasrah. Tapi ia tak lama di situ, beberapa detik kemudian ia meninggalkan tempat itu dan beranjak pulang, benar-benar pulang.

아직 잊지 못하고
Ajik nan nôl itji mothago
모든 믿지 못하고
Modeun gôl da mitji mothago
이렇게 보내지 못하고 오늘도
Irôhke nôl boæji mothago oneuldo

***
Ya, ini lebih baik...” batin Geunyoung, “Ada Sooyoung di situ, Oppa...” gumamnya, “Ini memang lebih baik...”.
Geunyoung tak sengaja pula melihat kejadian ini. Rasa khawatirnya pada Jongwoon membuatnya mengikuti namja itu dan pada akhirnya ia melihat kejadian ini.

다시 만들어볼게 우리 이야기 끝나지 않게 아주 기나긴
Dashi manderuôbolke uri iyagi kkeutnaji anhke aju ginagi
살갗을 파고 스며드는 상실감은 잠시 묻어둘게
Salgacheul pago seumyôdeuneun sangshilgameun jamshi mudôdulke
새로 내려가 시작은 행복하게 웃고 있는 너와
Særo ssô næryôga shijakeun haengbokhage utgo ittneun nôwa na
네가 떠나지 못하게 배경은 출구가 없는 좁은
Niga nal ttônaji mothage bækyôngeun chulguga ômneun jobeun bang an

Tidak, ia tidak boleh larut dalam keadaan seperti ini begitu saja. Sudah waktunya ia pulang. Ia tak mau membuat Hankyung memarahinya lagi.
Geunyoung segera meninggalkan tempat itu, masih dengan perasaan yang tidak karuan : sedih, menyesal, pasrah, tidak rela, tapi ia merasa lebih baik.

아무렇지 않게 네게 키스하고
Amurôtji anhke nege khiseuhago
달콤한 너의 곁을 떠나가질 못해
Dalkhomhan nôui gyôreul ttônagjil mothæ
우린 끝이라는 없어
Uri kkeuchiraneun gôn ôbsô


[ Beast - Fiction]
***
Mood-ku sedang hancur...” kata Jongwoon tiga menit kemudian pada Sooyoung, “Ini adalah mood terjelekku seumur hidupku...”.
Sooyoung masih tertegun atas kejadian yang baru saja dialaminya.
“Mian membuatmu kaget... Tapi itulah yang ingin aku lakukan...” kata Jongwoon, “Sekali lagi..., mianhae...”.
Jongwoon kemudian membungkukkan badan, tanda antara minta maaf dan/atau pamit. Setelah itu, Jongwoon berlalu begitu saja meninggalkan Sooyoung yang masih terpaku di tempatnya.
Suasana begitu hening di situ, bahkan hanya langkah Jongwoon saja yang terdengar dan suara-suara serangga malam.Bahkan hingga suara langkah itu tak terdengar lagi, Sooyoung tetap tak bergeming.
*Not You*
Seminggu berlalu...
Ryeowook merasa tak diperdulikan.
“Oppa, kapan Oppa bisa menemuiku lagi?” tanya Joohyun pada Kyuhyun, ketika mereka bertiga pulang bersama-sama. Ketiganya tengah berjalan menuju halte bis itu.
“Hm..., seminggu ini jadwalku padat... Jeongmal mianhae, Hyunie...” jawab Kyuhyun, “Kalau aku punya waktu luang, aku akan menghubungimu...”.
“Kyuhyun-ah...!” Ryeowoook menyentuh lengan Kyuhyun, “Kau belum menjawab pertanyaanku...!” ingatnya. Pertanyaan sepuluh menit yang lalu.
Kali ini Kyuhyun menanggapi Ryeowook. “Pertanyaan apa, sih?” tanyanya.
“Pertanyaan soal Jongwoonie Hyung...!” kata Ryeowook, “Bagaimana kabarnya? Apa ia sudah bertemu Geunyoung? Apa kau ada kontak dengannya akhir-akhir ini? Karena akhir-akhir ini aku tidak pernah mendapat balasan darinya dan tidak pernah bertemu dengannya... Bagaimana?” Ryeowook menyebutkan satu persatu pertanyaan yang tadi diacuhkan Kyuhyun sepuluh menit yang lalu itu dengan detailnya.
Dan kemudian Kyuhyun pun menjawab, “Na molla...!” jawabnya.
Ryeowook geger. “Aku bertanya dengan kalimat yang panjang dan tak diperdulikan dalam tempo yang lama, kau hanya menjawab dengan dua kata?!” ujarnya, agak kesal tapi tetap terdengar polos.
“Kalau aku memang tidak tau, aku harus menjawab dengan apa?!” ujar Kyuhyun ketus, membuat Ryeowook cemberut
“Oppa! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!” tegur Joohyun pada Kyuhyun, “Uh, Ryeowook Oppa..., maafkan Kyuhyun Oppa, ya...!”.
“Joohyun-ah?” ujar Kyuhyun.
“Wae?”.
“Sudah, sudah...” kata Ryeowook, masih dengan cemberutnya, “Aku tau, kok, sifat bocah ini seperti apa... Kau tak usah khawatir...” katanya pada Joohyun.
Sebuah bis berhenti di depan halte itu.
Waktunya Joohyun pergi, “Oppadeul, aku pulang duluan, ya...!” pamit Joohyun sambil membungkukkan badan.
Joohyun menaiki bis itu.
“Hati-hati, ya!” pesan Ryeowoook pada Joohyun, sementara Kyuhyun tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Joohyun.
***
Jongwoon duduk di situ, terpaku memandang kertas tebal dengan dekorasi yang indah dan tulisan yang lagi-lagi harus membuat mood-nya hancur.
Menerima benda yang dibungkus amplop berwarna kebiruan itu dari yeoja yang paling dicintainya, memang merupakan hal yang juga membuat mood-nya makin hancur. Mungkin karena mood seperti inilah yang membuat Jongwoon melangkahkan kakinya tak tentu dan akhirnya berakhir di sini, tepat di depan kursi yang tengah didudukinya ini
Ia memang di situ sejak beberapa jam yang lalu, dan ia tak juga bergeming. Bahkan ia masih memandangi dua nama yang terpampang di kertas itu sejak tadi.
***
Kyuhyun dan Ryeowook sudah sampai di apartemen mereka, dorm. Keduanya tengah menyusuri koridor. Sebelumnya, mereka berbelanja bahan makanan terlebih dahulu, lebih tepatnya Ryeowook yang belanja dan Kyuhyun hanya mengikutinya.
Ryeowook memandang ke arah pintu dorm mereka di samping kiri mereka itu. “Loh, pintunya, kok, agak terbuka, ya?” ujarnya.
“Apa ada yang masuk tanpa izin?” tambah Kyuhyun.
Kemudian, Ryeowook berlari-lari kecil menghampiri pintu mereka bersama Kyuhyun di belakangnya. Ketika sampai di daun pintu, mereka menyadari orang yang telah membuka pintu dorm mereka.
“Jongwoonie Hyung?!” pekik Ryeowook girang, Hyung paling disayanginya itu akhirnya ada di hadapannya tengah duduk termangu memandangi secarik kertas di tangannya, ialah orang yang masuk ke situ tanpa ada yang tau. Ia ada di dorm.
Dengan langkah riang, Ryeowook memasuki dorm dan menghampiri Jongwoon, diikuti Kyuhyun di belakangnya. Meski namanya dipanggil, Jongwoon juga tak bergeming.
Ryeowook berdiri di samping kiri Jongwoon, sementara Kyuhyun duduk di samping kanan kursi Jongwoon.
“Hyung, Hyung!” seru Ryeowook senang, “Karena kau ada di dorm, aku akan membuatkanmu kimchi yang pedas dan enak! Kita makan sama-sama, ya?!” ajaknya penuh semangat.
Jongwoon tak juga bereaksi.
Ryeowook menyadari bahwa Jongwoon tak meresponnya. “Jongwoonie Hyung..., wae geurae...?” tanyanya.
“Hyung-ah, gwaenchanha?” Kyuhyun ikut memastikan.
Jongwoon memberi kertas di tangannya itu pada Ryeowook, tanpa memandang siapapun dan tanpa kata-kata apapun, seakan itulah jawaban untuk kedua pertanyaan itu.
Ryeowook mengambilnya dan mengamatinya, “Surat undangan... Wedding...?” ujarnya membaca tulisan paling depan, kemudian membaca isinya. “Mwo?!!” ia terkejut begitu mengetahui dua nama yang terpampang di dalamnya.
Penasaran, Kyuhyun menyerobot kertas undangan itu dan membaca isinya segera. “Geunyoung dan Geun-seok?!” ujarnya.
Ryeowook meletakan kantung belanjaannya begitu saja dan menggenggam lengan Jongwoon, “Hyung, ini tidak benar, kan? Iya, kan? Malhaebwa, Hyung~~... Malhaebwa~~...!” pintanya, rasa panik juga menghinggapinya, Sementara Kyuhyun hanya mengusap-usap punggung Hyung tertuanya itu.
Tapi kemudian, Jongwoon bangkit. “Jangan bicarakan soal Geunyoung lagi...” katanya tanpa ekspresi dan tanpa memandang siapapun, “Ia milik orang lain...” lanjutnya.
Setelah itu, Jongwoon beranjak meninggalkan dorm kembali.
“Hyung!” Ryeowook menarik lengannya lagi, namun dengan mudahnya Jongwoon terlepas dari genggaman Dongsaeng tersayangnya itu dan berlalu begitu saja.
Kyuhyun menahan Ryeowook untuk mengikuti ke mana Jongwoon pergi.
“Mwoya?!” protes Ryeowook pada Kyuhyun.
“Hyung kita sedang bermasalah!” kata Kyuhyun, “Tidakkah kau melihat kalau ia butuh waktu untuk sendirian sebentar?!”.
Ryeowook terdiam.
“Sekarang kita cuma bisa membiarkannya sendiri... Ketika ia merasa lebih baik..., kita boleh mendekatinya dan berbicara baik-baik dengannya...” kata Kyuhyun, tumben kali ini lebih dewasa.
***
Geunyoung tengah sibuk membaca buku di kamarnya. Tapi kemudian ponselnya berdering. Rupanya panggilan dari nomor tak di kenal.
“Yeoboseyo?” ujarnya ketika mengangkat panggilan.
“Geunyoung-ah..., tolong temui aku... Aku mohon...” ujar si penelpon.
Geunyoung terkesiap. “Jongwoon Oppa?” ia mengenalnya.
***
Permintaan yang amat sangat penting bagi namja itu membuat Geunyoung akhirnya bergerak untuk menemuinya, meskipun ia tau kalau hari sudah gelap.
Taman Namsan itu, Geunyoung melihat sosok yang menunggunya, Jongwoon. Begitu ia datang, Jongwoon lantas menoleh padanya.
Geunyoung merapatkan jaketnya karena cuaca yang semakin dingin. Kemudian ia berjalan menghampiri Jongwoon yang tengah duduk-duduk itu. Ia duduk di samping kirinya.
“Chukhahaeyo...” ujar Jongwoon sembari memandang ke langit, seakan menyambut kedatangan Geunyoung.
Tapi yeoja ini hanya mampu  menghela nafas panjang.
“Aku akan pergi dari hadapanmu...” kata Jongwoon, membuat Geunyoung memandangnya, “Itu yang aku inginkan, dan itu hakku...”.
Geunyoung berpaling dari Jongwoon. “Kalau begitu..., ada apa Oppa memintaku menemuimu...?” tanyanya, agak ragu, mencoba menghindari kata ‘kenapa?’.
Jongwoon memandanganya, “Karena aku ingin melihatmu sebelum aku pergi...” katanya, “Dan aku sangat berterimakasih kau sudah datang...”.
Geunyoung ikut memandangnya.
Jongwoon menoleh pada jam yang ada di belakang mereka. “Ini sudah tengah malam, kan?” ujarnya, “Sebaiknya sampai sini saja...”.
Geunyoung tertegun, “Bukankah kita baru bertemu? Kenapa cepat sekali?” katanya.
“Aku tak mau membuat orangtuamu khawatir...” kata Jongwoon.
Geunyoung berpikir sesaat. Mungkin kata-kata Jongwoon ada benarnya. “Baklah...” katanya pada akhirnya.
Jongwoon bangkit, kemudian Geunyoung mengikutinya. Ketika hendak berpisah, Geunyoung membungkuk memberi tanda pamit, namun Jongwoon hanya mampu memandangnya terpaku.
“Hati-hati, Oppa...” kata Geunyoung.
Kemudian keduanya berjalan dengan arah berlawanan.
Apa..., Oppa benar-benar akan pergi...?” batin Geunyoung ketika langkah kecilnya mengantarnya menjauh dari lokasi itu, “Oppa..., kenapa kau mengambil langkah ini...? Aku mohon..., jangan lakukan ini...” batinnya kembali.
“Oppa..., panggil aku...” gumam Geunyoung kecil, sangat tak terdengar, “Jebal... Nae ireumeun bureu juseyo...”.
“Geunyoung-ah...!” panggil Jongwoon, sesuai dengan apa yang Geunyoung harapkan.
Geunyoung tersentak ketika Tuhan mengabulkan permintaannya itu. Bahkan hal yang lebih membuatnya tersentak adalah suara namja itu begitu dekat dari punggungnya.
***
[Jongwoon POV]
Entah ada perintah apa, aku berhenti melangkah lalu berbalik dan berjalan menuju Geunyoung. Sekitar beberapa senti di dekatnya, aku menghentikan langkahku.
Lalu, “Geunyoung-ah!” ku putuskan untuk memanggilnya.
Usahaku berhasil membuatnya berhenti. Kini ia memandangku, ia menoleh padaku dan menatap mataku dengan tatapan lembutnya itu.
Aku melangkahkan kakiku untuk mendekat.
“Jebal...” kataku ketika aku benar-benar ada di depan matanya, “Ini untuk yang terakhir kalinya...” kataku sebelum akhirnya mencium bibirnya hangat.
Ia juga tak menolakku. Untunglah...

Memang ini yang aku inginkan.
***
[Author POV]
Memang ada dua orang yang akan merasakan sakit dan menyesal. Tapi ada pihak yang kini mengetahui bahwa perasaannya kini juga sama dengan perasaan orang itu.
Geunyoung melangkahkan kakinya berat. Ini memang sulit, apapun keputusan yang akan diambilnya sama saja akan menyakitinya maupun Jongwoon. Tapi ia tak mau melihat Jongwoon tersakiti secara terus menerus. Dengan pilihan ini yang diambilnya,  ia harap Jongwoon hanya akan tersakiti hanya untuk saat ini saja, tidak terus menerus. Kini ia tau, bahwa Jongwoon juga menyukainya.
Ia berbeda, langkahnya ringan. Jongwoon memang sudah pasrah akan keputusan Geunyoung yang memang sangat menusuk perasaannya. Namun hatinya enggan bergerak untuk pergi dari Geunyoung. Bagaimanapun, ia masih menyukai yeoja yang selama ini akrab dengannya semenjak sekolah dasar itu.
Dan kini, ia akan pergi dari hadapan yeoja itu..., entah apa itu selamanya atau mungkin..., ia akan kembali ke hadapan yeoja itu...
*Not You*
Flasback end...
[Jongwoon POV]
“Samchon...” kali ini Jiyoung kembali meminta perhatianku. Ah, aku terlalu banyak bengong. Ini tidak baik.
“Jongwoonie Hyung...,” panggil Ryeowook, kedengarannya ia khawatir, “sudah jangan pikirkan masalahmu... Kita di sini untuk melupakan kepenatan sejenak...”.
“Aku tau betul apa yang kau rasakan, Hyung...” kata Kyuhyun.
Aku memandang mereka berdua. Si anak manis yang sangat perhatian tapi agak usil, dan si maknae yang sifatnya mirip iblis. Aku tau kedua dongsaengku ini memiliki perasaan kekeluargaan dan persahabatan denganku yang sangat erat, sehingga ketika terjadi situasi seperti ini mereka dapat mengerti akan keadaanku, begitu pula aku kepada mereka.
“Sudah... Jangan bersedih lagi, ya~~...” pinta Tiffany, ia memang tidak suka keadaan di mana yang harusnya bahagia malah menjadi sendu.
Aku tersenyum. “Mian, ya...” kataku, “Joha... Ayo kita makan sama-sama...!”.
*Not You*
“Jongwoon Hyung?” sambut Changmin begitu aku datang ke restoran kecilnya itu. Ia memberiku bungkukan kecil dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“Yeobo, kenapa ada pelanggan kau biarkan di luar?” ku dengar suara sayup-sayup seorang pelayan yeoja mendekati kami. Rupanya itu Sooyoung.
Begitu melihatku, niat Sooyoung yang hendak memarahi nampyeon-nya, Changmin, sirna seketika saat melihat pelanggan yang dimaksudkannya adalah aku.
Sooyoung tertegun ketika melihatku. Aku memberi senyuman padanya.
***
“Senang bertemu kalian lagi...” kataku.
“Lama tak bertemu, Hyung...” kata Changmin menyempatkan waktunya untuk mengobrol denganku.
“Geurae...” kata Sooyoung, “Kami cuma melihatmu bersama Kyuhyun Oppa dan Ryeowook Oppa lewat layar televisi... Sudah berapa tahun, ya, kita tak bertemu...?”.
“Tapi akhirnya, kami senang bisa bertemu dirimu Hyung...” kata Changmin, “Ya, meski itu cuma kau...”.
“Kapan-kapan aku akan mengajak Ryeowook dan Kyuhyun ke sini...” kataku, “Aku tau kau (Changmin) pasti kangen bertatap muka dengan Kyuhyun dan makan bareng dengannya, kan?”.
Atas kalimat yang ku lontarkan, kami hanya terkekeh.
“Jadi...,” aku memandang sekeliling, “ini restoran yang di ceritakan Kyuhyun itu, ya?”.
“Benar sekali, Hyung...” kata Changmin, agak tersipu menjelaskannya.
“Kalian mengelola restoran ini berdua?”.
“Bisa dibilang begitu...” kata Sooyoung, “Di sini juga ada beberapa tenaga kerja selain kami...”.
Aku memandang mereka berdua. “Bukankah kalian pasangan yang sangat kompak?” kataku, “Kalian sangat serasi... Bahkan bisa membangun sebuah bisnis seperti ini bersama-sama...”.
Kata-kataku itu rupanya berhasil membuat mereka agak tersipu. Ah, ini adalah fakta... Tidak berlebihan, kok...
“Oya, Hyung... Bagaimana dengan Geunyoung Nuna?” tanya Changmin kemudian.
Sooyoung menyikutnya. Entah itu artinya ia tak suka atau ia tak mau membuatku sedih Tapi ku rasa, Sooyoung ingin Changmin tak membicarakannya  Tapi rupanya, Changmin tak begitu mengerti.
Kemudian keduanya memandangku yang hanya termenung. Tapi itu tak berlangsung lama.
“Aku sudah tak bertemu dengannya sejak beberapa tahun yang lalu...” aku tersenyum tipis pada keduanya.
Ya, berita yang mereka dengar dariku masih sama : sudah tak bertemu dengan Geunyoung sejak beberapa tahun yang lalu.
“Uh... Joesonghaeyo, Hyung... Aku..., jadi membuatmu sedih...” ujar Changmin. Rupanya senyumanku tak cukup membuatnya mengira aku baik-baik saja.
“Gwaenchanha...” kataku, “Tidak usah khawatir...”.
Meski aku sudah berkata demikian, Sooyoung maupun Changmin masih saja terlihat bersalah, terutama Changmin.
***
Sudah waktunya aku pulang.
Kyuhyun mengirimiku pesan-pesan yang sudah dapat dipastikan dari isinya bahwa ia habis kesabaran menungguiku, sudah 14 pesan masuk di ponselku. Sedangkan sebanyak 38 missed call dari Ryeowook sudah terpampang di layar ponselku.
Aku hanya memandangi semua kiriman itu sembari berjalan pulang.
Tapi sudah tiga kali bolak-balik memandangi kiriman itu satu-persatu, aku merasa jenuh. Ku selipkan ponselku itu ke kantung bajuku, dan memandang ke depan.
Namun pandanganku tertuju pada satu titik, seorang bocah laki-laki di dekat lampu jalan itu yang berdiri sendirian memandang tak tentu arah. Jika dipikir lagi, sedang apa bocah sekecil itu ada di sini, di hari yang beranjak gelap ini?
Aku kemudian menghampirinya.
“Hai, adik kecil...” panggilku pada bocah lugu itu yang memandangku begitu aku memanggilnya, “Malam akan segera turun... Kenapa kau tak segera pulang ke rumah...?” tanyaku.
“Apa Ahjusshi tau di mana Umma-ku...?” tanya bocah itu. Ah, geuraeyo...
“Kau terpisah dari Umma-mu?” tanyaku memastikan, dan bocah itu mengangguk. Aigoo, bocah yang berumur sekitar enam atau tujuh tahun seperti ini kenapa bisa...? Tapi bocah ini tak terlihat sedih atau panik.
Aku mengusap kepalanya.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Jang Min Hwa...” katanya.
“Jadi, Minhwa-ya..., apa kau ingat di mana alamat rumahmu...?” tanyaku perlahan.
Tapi rupanya bocah ini dapat mengerti pertanyaanku dengan baik. “Rumahku di Itaewon...” katanya.
Syukurlah... “Hm... Oya, kalau boleh tau, siapa nama Ibumu?” tanyaku lagi.
“Nama Ibuku Moon...,”.
“Minhwa!” panggil seorang yeoja yang mendekati kami.
Minhwa menoleh pada yeoja itu. “Umma!!” serunya.
Huah, syukurlah... Umma-nya datang. Mungkin sampai sini saja... Aku sudah terlambat dan aku tidak mau memaksa dua dongsaengku di dorm untuk kembali mengirimiku pesan atau menelponku. Jadi aku segera angkat kaki dari situ.
Aku masih mendengar percakapan Ibu-anak itu.
“Ahjusshi itu tadi hendak menolongku...” ujar Minhwa.
“Geuraeyo?” kata Ummanya.



“Jamkkanmanyo!!” panggil yeoja itu. Iya, dia memanggilku.
Aku lantas berbalik, dan..., yeoja itu...,



“Gamsa hamnida atas pertolongan Anda...” ia memberiku bungkukan, “Terima kasih karena te...,”.
Yeoja itu..., juga mengenaliku...
“Jongwoon..., Oppa...” ujarnya.
Aku menyadarkan diriku dari lamunanku, dari rasa keterkejutanku. “Lama tak bertemu..., Geunyoung-ah...” kataku.
***
“Berapa umurnya Minhwa?” tanyaku pada Geunyoung ketika kami berjalan menuju halte bis, dan Minhwa sudah tidur dalam gendongannya.
“Baru enam tahun...” kata Geunyoung.
Suasana hening sesaat.
“Mian karena aku muncul di hadapanmu...” kataku.
Geunyoung memandangku. “Apa maksudmu?” katanya, tak menyetujui pernyataanku.
“Aku..., hanya tak ingin mengganggu hidup barumu...” kataku.

“Aku menyukaimu Oppa...” kata Geunyoung.

Aku tertegun mendengarnya. Aku berbalas memandangnya.
“Aku tau kalau sekarang itu tak mungkin karena..., kau tau, kan, bagaimana aku sekarang...?” katanya, “Kau tau kenapa aku bilang bahwa aku tidak menyukaimu hari itu? Hari saat kau mengatakannya padaku?
Karena aku tak ingin melihatmu tersakiti... Setiap aku berada di dekatmu, Aboji akan meyuruh Asisten Kim untuk mencarimu dan.....,” ia tak mampu melanjutkan kata-katanya, “Kau tau, jika aku mengatakan aku juga menyukaimu dan aku memilihmu..., aku takkan sanggup melihatmu seperti itu terus menerus... Aku malah merasa tertekan...
Mianhaeyo, Oppa... Harusnya akulah yang mengucapkannya...”.

Untuk sesaat, hatiku yang memang telah membeku ini semakin membeku ketika mendengar pernyataanya. Sebuah penyesalan pasti, namun inilah jalan yang terbaik... Aku sangat menghargai pilihannya, meski memang rasanya itu sangat menusuk.
Aku tersenyum.
“Kini..., tak ada lagi Kim Jong Woon namja berantakan di sampingmu... Kini ada seorang namja yang akan setia padamu..., orang yang akan melindungimu..., orang yang juga akan melindungi anak kalian...” kataku, “Dan itu bukan aku...”.
Geunyoung memandangku kembali.
“Sekarang..., berbahagialah dengannya... Kini ialah yang kau miliki...” kataku, “Maka dari itu..., jaga ia sebaik mungkin... Karena ialah yang akan menemanimu...”.
“Ani.. Oppa...,”.
“Galkke...” pamitku, ketika kami sampai di halte bis. Ya, aku memang tidak memerlukan bis untuk pulang, tapi Geunyoung dan Minhwa lah yang membutuhkannya.
Aku berlalu memunggunginya, aku segera meninggalkannya, lebih tepatnya mereka. Aku tak mau membuat Geunyoung mengingatku lagi.
“Oppa!” panggilnya, “Oppa, jamkkan!”.
Tidak, aku tidak bisa berbalik seperti waktu itu. Aku harus mengacuhkan panggilan itu apapun yang terjadi. Aku takkan berbalik lagi, seperti waktu itu.

Aku..., benar-benar akan pergi..., dari hadapannya...

*Not You*
Hua~~..., hu, hu~... Nate jadi mewek, nih~....! T_____T
Reader-deul, adakah yang mewek juga?
Hehehe.., sekali lagi Nate ingatkan, saya itu author yang kejam, baik itu pada Reader-deul maupun FF-nya... Tapi sekejam-kejamnya Nate, aku gak bisa membuat FF yang benar-benar kejam.
Kekejaman Nate pada FF cuma terletak pada penyiksaan batin, sedikit penyiksaan fisik ^^misal : pemukulan^, genre, ending, dan lain-lain... ^^catatan : Nate adalah makhluk yang suka FF ber-ending gantung, apalagi sad ending^
Oya, sekadar info... Dengan terpaksa dan beribu-ribu kata maaf, Nate harus hiatus lagi...
Kali ini bukan karena gak ada piti untuk nge-blog, tapi Nate akan melanjutkan penulisan novelku yang belum ditik di laptop sampai saat ini. ^^setelah disurvei, pengetikan baru sampai bab dua...^
Kayanya, mengetik novel sekalian mengetik FF itu gak mungkin dilakukan. Apalagi Nate sekarang sudah lulus SMP dan baru menapaki kelas sepuluh kejuruan perhotelan... Aku juga gak mau nge-blog, mengetik FF, mengetik novel, atau sekolah dengan hati yang gak niat... Jadi, Nate ucapkan, jeongmal joesong hamnida...! (bow)
Mohon do’anya agar pengetikannya selesai dengan cepat dan novel Nate bisa terbit dan dibaca oleh Reader-deul..!^

Yeoreobun, jesong hamnida...! (bow)

Neomu neomu gamsadeuriguyo, terutama untuk si Isi Hati KimJongWoon atau bisa disebut juga Nuna Yeppo yang masih bisa ku temui di jam-jam pulang sekolah, Deska yang jauh di mato tapi dekat di chat^^, dan Azkiya yang sering ku rekomendasikan buat baca FF-ku.. Juga buat Reader-deul, yang meski tidak banyak tapi tetap mengunjungi this simple blog..., Retno Nate River...!^

Yeoreobun, Annyeong!
Nate akan segera kembali!^

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^