[FF] Closer 가까이

6:48 PM 2 Comments A+ a-



Annyeong haseyo, Reader-deul!!
Wah, Nate nongol (?), nih! Do u all miss me? Pada kangen gak?!^^
^^no~~~!! gak!! :P^

Ya, sudah.. Yg kangen yang enggak, itu gak Nate ambil pusing~~...

Yang penting, hari ini aku membawa sebuah cerpen, atau bisa kita sebut juga sebagai FF...! FF ini adalah tugas KKPI/TIK Nate, loh~~...^^ Hehehe, jadi Bu Guru Nate menyuruh Nate dan teman-teman untuk membuat sebuah cerpen, baik bikinan sendiri maupun dari internet. Dan, aku memilih untuk membuat sendiri, dong!^Ini, kan, hobi Nate?!^
Nate bikin cerpen ini sambil dengerin lagu SNSD Taeyeon - Closer, Super Junior - It's You, dan Howl - Love You...
Suatu hari nanti, entah kapan, Nate pingin bikin large version untuk FF ini dan ada adegan yang akan Nate ganti!^ Penasaran? Come on, Reader-deul, kita berdo'a dan menunggu sama-sama agar Nate bisa mem-post-nya suatu hari nanti~~...!

Ok, tak berpanjang-panjang teks, nih, karena Nate memang masih sibuk mengetik novel Nate ^^minta doanya, Reader-deul~~...^...,

Happy Reading, Reader-deul!!^
Closer
가까이
[gakkai]1*
NB *)   untuk setiap kosakata asing dengan angka di atas kanannya, arti dari kosakata tersebut ada   di dalam kotak kamus yang tersedia di dalam cerita ini.

*****
[Moon Geun Young]
Siswa itu memang dingin di mataku, tapi aku, Moon Geun Young [Mun Geun Yông], tetap akan menempuh jalan apapun untuk meraihnya.
Aku mungkin memang hanya seorang gadis-siswi kelas sebelas Hayan High School yang polos, periang, dan ramah. Tapi aku juga punya perasaan terhadap orang lain.
Siswa itu namanya Kim Jong Woon [Kim Jong Wun], senior kelas dua belas yang mahir dalam bernyanyi, akting dan basket. Ia keren, tapi dingin. Sifatnya angkuh dan sangat cuek. Hm, hampir setengah dari siswi di Hayan High School menyukainya.
“Jong Woon-ah!” panggil Han Kyung, Than Han Kyung [Than Han Kyông], sahabat dekat Jong Woon ketika siswa itu tengah meletakan buku-buku pelajaran di lokernya, dan aku hanya melihatnya dari balik tiang yang letaknya beberapa meter dari samping kanan loker.
“Sudah?” tanya Jong Woon.
“Ayolah... Yang lain sudah menunggu!” ujar Han Kyung, “Hari ini kau mau ikut kami tanding, kan?”.
Ani2... (Enggak...)”.
Jong Woon kemudian menutup pintu lokernya dan berjalan menjauh dari loker itu. Pasti ia sudah menolak tawaran sahabatnya itu untuk tanding basket seperti hari-hari biasanya, tanding antar kelas.
Ketika aku berpikir, aku terkejut mendapati Jong Woon Sunbae3 [Jong Wun Sônbæ] sudah berdiri di depanku, menatapku heran dan juga dingin. Rupanya, aku tak sadar kalau dari tadi aku memandanginya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Jong Woon Sunbae (Senior Jong Woon) dingin padaku.
Aku kikuk. “A.., a.., aniyo... (Tidak...)” ujarku.
“Berhenti mengikutiku...”.
Aku terkesiap. “Apa?”.
“Aku sudah bosan dengan tingkah laku siswi di sekolah ini...” ujar Jong Woon Sunbae. “Berhenti mengikutiku..., atau kau akan menyesal...!”.
Kalimat yang tajam itu menyudahi percakapan kami. Jong Woon Sunbae kemudian berlalu melewatiku, disusul Han Kyung di belakangnya —yang juga sama dinginnya—.
C l o s e r
[Writer]
“Aku ingin dekat dengannya...” ujar Geun Young.
Sontak teman-temannya menertawakannya.
“Astaga, Moon Geun Young! Sebesar apa harapanmu padanya?!” ujar siswi bernama Kwon Yu Ri itu.
“Geun Young-ah, sampai kapan kau akan mengejar ke mana Jong Woon Sunbae pergi...?!” ujar siswi ber-name tag Hwang Mi Young [Hwang Mi Yông] tersebut.
“Maaf, Geun Young-ah, jadi menertawakanmu...” kata siswa laki-laki satu-satunya di antara mereka itu, Kim Ryeo Wook [Kim Ryô Wuk]. “Sudah, teman-teman... Kasihan Geun Young! Ditertawakan terus!” ujarnya, ia memang yang paling baik pada Geun Young.
“Tak apa..” Geun Young hanya bisa menekuk wajahnya. “Tapi lihat saja! Aku pasti bisa mendapatkannya!”.
Tapi yang ada malah mereka makin menertawakan kata-kata Geun Young.
“Eh, sudah, sudah... Jangan tertawa lagi...!” ujar Ryeo Wook.
“Iya... Maaf, ya...!” ujar Mi Young, mewakilkan ia dan Yu Ri.
♫♪♫” terdengar ponsel Yu Ri berdering. Yu Ri kemudian mengecek ponselnya, ada pesan ternyata.
“Yu Ri-ya, dari siapa? Min Ho si juniormu itu, ya?” ledek Mi Young.
“Siswi senior berhubungan dengan siswa junior...” Geun Young ikut meledek, seakan membalas dendam.
“Eih, kalian?!” gerutu Yu Ri. Ia kemudian melirik ke ambang pintu kelas, di situlah ia melihat Choi Min Ho —adik kelas + kekasihnya— menunggu kehadirannya.
Min Ho kemudian melambaikan tangannya pada Yu Ri sembari tersenyum.
“Eh, teman-teman, aku pergi dulu, ya...!” pamit Yu Ri yang segera melesat menuju ambang pintu.
Tiga sahabat ini hanya memandang ke mana Yu Ri dan Min Ho pergi.
“Wah, lihatlah...” ujar Geun Young, “Beruntung sekali Min Ho dan Yu Ri yang saling menyayangi itu... Aku juga ingin seperti itu...”.
Mendengarnya, Ryeo Wook memandang Geun Young dalam. “Kau pasti akan mendapatkannya, kok...” ujarnya perlahan.
“Terima kasih, Ryeo Wook-ah...” Geun Young memandang ke arah Ryeo Wook dan tersenyum.
Mendapatinya, Ryeo Wook agak terkesiap. Ia tak percaya mendapat respon seperti itu dari Geun Young. Sementara Mi Young memandangi keduanya dengan tatapan yang kelihatan pasrah.
***
Jinjja4?! (Benarkah?!)” ujar Geun Young ketika jam istirahat ia dan Mi Young berbicara empat mata di perpus.
Mi Young mengangguk perlahan.
“Kalau kau menyukai Ryeo Wook, katakan saja padanya! Dia, kan, sahabat kita!” lanjut Geun Young.
“Tapi...,” Mi Young kelihatan ragu, “aku tidak mau...”.
“Kenapa?”.
“Pokoknya, tidak mau...”.
“Mi Young...,”.
“Tidak! Tidak mau!”.
Geun Young hanya terdiam dan mulai berpikir. “Mi Young...? Kenapa dia...?” batinnya.
C l o s e r
Geun Young dan Ryeo Wook sedang duduk-duduk di salah bangku panjang yang ada di lantai tiga itu, dekat dengan jendela.
Ruangan ini luas, hanya ada beberapa bangku panjang yang digunakan para siswa/i untuk duduk-duduk sambil mengobrol, membaca buku, menunggu, dan lain-lain. Dan di sini juga ada mesin penjual minuman kaleng otomatis.
“..., Kau tau, kan, bagaimana Jong Woon Sunbae melakukan jump shoot hari itu?” ujar Geun Young dengan topik yang selalu sama : Jong Woon.
Ryeo Wook, yang Geun Young ajak bicara itu, sedari tadi hanya terdiam mendengar cerita Geun Young pagi ini. Ia kelihatan sudah bosan dengan topik pembicaraannya.
Geun Young melanjutkan. “Waktu itu, ia berhasil memenangkan pertandingan dan timnya...,”.
“Kenapa harus Kim Jong Woon lagi, sih?!” omel Ryeo Wook, namun lelaki manis itu mengomel dengan polosnya.
“Loh..., kau kenapa, Ryeo Wook-ah...?” ujar Geun Young.
“Aku kesal! Mengapa kau selalu membicarakan tentangnya! Kenapa tidak ‘orang lain’ saja!!” omel Ryeo Wook sekali lagi. Kemudian lelaki itu segera meninggalkan Geun Young di tempat.
“Ya! (Hei!) Ryeo Wook-ah!!” panggil Geun Young, tapi Ryeo Wook tidak peduli. “Aneh... Ia dan Mi Young sama-sama punya kepribadian yang mirip? Dan apa maksudnya dengan ‘orang lain’?” gumamnya.
“Duk! Duk! Duk!” terdengar seseorang tengah memukul-mukul mesin yang menjual minuman kaleng otomatis itu, pasti mesin itu macet lagi.
Tepat ketika Geun Young menoleh ke arah mesin itu, rupanya orang yang memukul mesin tadi adalah Jong Woon. Geun Young terkesiap.
“Aish...” gerutu Jong Woon kecil, “Cappucino-ku...”.
Sudah memasukan koin, tapi minumannya tidak muncul juga. Kesal memang, mungkin itu yang membuat Jong Woon berlalu meninggalkan mesin itu.
Geun Young hanya terdiam ketika Jong Woon pergi dan hilang dari pandangannya. Namun, sepertinya ia merasa haus juga.
“Mungkin sekaleng cappucino saja...” gumamnya. Lalu ia menghampiri mesin tadi.
Ia memasukan koin dan menekan tombol sesuai dengan minuman yang diingingkannya, cappucino yang seperti Jong Woon tadi —kebetulan keduanya menyukai cappucino—.
Hal yang sama terjadi, mesinnya macet. Jadi Geun Young terpaksa memukul-mukul mesin itu. Dengan pukulan seorang laki-laki saja mesin itu tak mau mengeluarkan minumannya, apalagi dengan pukulan seorang perempuan?
Kesabaran Geun Young masih ada untuk meladeni mesin itu. Ia kemudian mencoba hal yang lain : menendang bagian samping mesin itu.
Dan benar saja! Sekaleng minuman cappucino keluar dari kotak di bagian bawah mesin itu! “Wah!” pekik Geun Young girang.
Ia segera mengambil kaleng itu, namun rupanya ia didahului oleh Jong Woon yang tiba-tiba datang dan merebut kaleng itu.
“Hei!!” seru Geun Young tidak terima.
Tapi Jong Woon tidak peduli, bahkan ia sudah membuka kaleng itu dan meminum seperempat isinya. Kemudian ia menyeka tetesan cappucino di ujung bibirnya dan menatap Geun Young dingin.
“Ya!! Itu punyaku!!” omel Geun Young.
“Hei, aku Seniormu.. Jangan berteriak seperti itu di depanku...” ujar Jong Woon, seakan tak terjadi apa-apa.
“Iya, tapi itu punyaku!”.
“Aku orang yang terlebih dahulu membeli di sini tepat sebelum dirimu dan mesin ini macet! Artinya cappucino ini punyaku dan kaleng selanjutnya adalah punyamu!”.
“Tapi, kan, aku sudah susah payah memaksanya keluar dari mesin ini!”.
“Tapi ini dari uangku!”.
Geun Young terdiam mendengarnya, sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Jong Woon. Kemudian Jong Woon tersenyum sinis pada Geun Young, smirk yang menyebalkan. Lalu Jong Woon segera berlalu meninggalkan Geun Young tanpa peduli.
“Dasar menyebalkan!!” teriak Geun Young, “Aku bahkan heran mengapa aku menyukai siswa sepertinya?!” gumamnya.
C l o s e r
Jong Woon berjalan menuju lapangan bersama Han Kyung. Tapi kemudian Jong Woon berhenti dan berbalik, menatap tajam Geun Young yang rupanya membuntutinya diam-diam.
Geun Young hanya terkejut mengetahui ia sudah tertangkap basah oleh Jong Woon.
“Apa yang kau inginkan, ha?!” gertak Jong Woon pada Geun Young.
“Jong Woon-ah...” Han Kyung mencoba menenangkan Jong Woon.
Geun Young kemudian hanya tertunduk.
“Aish...” gerutu Jong Woon. Kemudian lelaki itu mendekati Geun Young. “Apa kamu tidak dengar atau kamu benar-benar bodoh? Aku sudah pernah bilang untuk jangan mengikutiku lagi atau kau akan menyesal!!” gertaknya lagi, membuat Geun Young semakin tertunduk, “Aku tidak menyukaimu! Dan kau tau bagaimana tipe yeoja5 [yôja] yang aku sukai? Huh?”.
Mendengarnya, Geun Young menggeleng ragu, takut.
Yeoja (perempuan) cantik, tinggi semampai, tubuh yang slim, dan pandai...” lanjut Jong Woon. “Aku harap setelah mendengar ini, kau tidak lagi mengikutiku!”.
Jong Woon menaikan dagu Geun Young.
“Karena aku..., mulai membencimu...” lanjut Jong Woon, membuat Geun Young terkejut. “Mengerti?”.
Han Kyung, yang baru melihat seorang Jong Woon seperti itu, hanya terpaku dan terheran. Kemudian, Jong Woon segera meninggalkan tempat itu dan Han Kyung pun mengikutinya.
***
Yeoja cantik, tinggi semampai, tubuh yang slim, dan pandai... Tidak, aku bukan tipenya... Meski aku memang pandai, tapi aku tidak cantik, tinggi, apalagi slim...” (Moon Geun Young)

“Byur!!” Song Ji Eun, siswi tinggi berambut pirang kemerahan kelas dua belas itu, menyiramkan seember air pada Geun Young di balkon sekolah pagi itu.
“Dengar, kan?” ujar Ji Eun, “Jong Woon sama sekali tidak menyukaimu dan aku adalah yeoja yang sesuai dengan tipenya...”.
Geun Young hanya terdiam, menahan dinginnya air dan udara musim gugur yang menusuk sampai ke tulangnya.
“Jadi, beri aku jalan untuk mendekatinya... Mengerti, Moon Geun Young...?” ujar Ji Eun dingin sembari tersenyum sinis, tak memperdulikan keadaan Geun Young yang memburuk.
“Geun Young?!” seru Yu Ri yang tiba-tiba datang.
Ji Eun kemudian menoleh ke asal suara itu.
“Ji Eun-ah! Apa yang kau lakukan pada Geun Young?!”.
“Dasar! Kau dan teman-temanmu tidak pernah sopan pada Seniormu ini, ya?!” ujar Ji Eun dingin, “Tanyakan saja pada temanmu itu!” lanjutnya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan dengan sengaja menyenggol lengan atas Yu Ri.
Tapi Geun Young lah yang Yu Ri pentingkan saat ini. Ia segera mendekati Geun Young dan mulai menolongnya.
“Geun Young-ah, kau kedinginan... Aku akan membawamu ke UKS...” Yu Ri segera melepaskan blazzer-nya untuk menutupi tubuh Geun Young.
***
Geun Young berbaring di atas ranjang UKS, sementara Han Kyung —salah satu anggota PMR Hayan High School yang kebetulan sedang berada di UKS— segera memberinya minuman hangat.
Geun Young duduk dan meraih minuman itu. “Gamsa hamnida6... (Terima kasih...)” ujarnya.
Yu Ri menungguinya bersama Min Ho —yang mengikutinya hampir ke mana pun—. “Bisa-bisanya Ji Eun melakukan itu padamu...!!” kata Yu Ri, “Aku tau ia juga menyukai Jong Woon Sunbae! Tapi bukan berarti ia harus menginjak-injak siswi lain yang juga menyukainya, kan?!”. Ia berkata sembari melirik ke arah Han Kyung.
Han Kyung tentu saja tau kalau ia dilirik. “Bicarakan saja segala hal tentang Jong Woon! Jangan khawatir!” katanya.
Suasana kemudian hening.
“Oya, aku ingin berbicara dengan Geun Young sebentar...” ujar Han Kyung.
“Eh? Mau bicara apa?” tanya Yu Ri.
Nuna7... (Kakak...)” panggil Min Ho pada Yu Ri.
“Jangan takut... Aku bisa menjamin Geun Young akan baik-baik saja...” ujar Han Kyung, tapi Yu Ri masih ragu.
Min Ho kemudian menarik Yu Ri pergi. “Ayolah... Ia sudah berjanji pada kita, kan...?” ujarnya pada Yu Ri.
Setelah kedua orang itu meninggalkan UKS, Han Kyung mulai mengutarakan sesuatu pada Geun Young.
“Ada apa, Sunbae?” tanya Geun Young.
“Soal Jong Woon...” kata Han Kyung, “Jong Woon berbohong padamu soal tipenya...”.
“Berbohong?”.
“Sebenarnya ia menyukaimu...”.
“Apa?” ujar Geun Young, “Maaf, Sunbae... Aku tidak bisa mempercayai kata-katamu...”. Geun Young kemudian turun dari ranjang.
“Hei!! Dengar aku dulu!!” Han Kyung menahan langkah Geun Young. “Aku dan Jong Woon memang sudah berteman sejak kami duduk di bangku sekolah dasar! Jadi aku tau betul bagaimana Jong Woon bersikap! Mengerti?!” lanjutnya. “Jadi, aku bisa yakin kalau ia tidak membencimu...! Ia menyukaimu!”.
Geun Young mendengarnya dengan baik. Tapi ia tak mau diinjak-injak lagi. “Tidak... Itu semua bohong...” ujarnya, lalu meninggalkan UKS.
“Ya!! Moon Geun Young!!” panggil Han Kyung. Sementara Min Ho dan Yu Ri yang melihat Geun Young keluar dari UKS pun hanya terdiam.
C l o s e r
“Aku mendengar dengan jelas : Jong Woon Sunbae membenciku... Aku tidak akan mengejarnya lagi, sudah hampir dua tahun ini aku mengejarnya dan kini aku berhenti... Aku juga tidak mempercayai kata-kata Han Kyung Sunbae tempo hari... Toh, Jong Woon Sunbae sendiri yang bilang bahwa ia membenciku...” (Moon Geun Young)

Geun Young tengah berdiri di balik tiang di koridor menunggu teman-temannya sampai di sekolah. Hari masih sangat pagi untuk para siswa sampai di sekolah.
“Jong Woon-ah!” panggil Ji Eun. Tak sengaja mendengar suara itu Geun Young menoleh.
Ia melihat Ji Eun mendekati Jong Woon yang tengah bersandar pada lokernya sembari mendengarkan musik lewat headset merahnya itu, mengunggu kehadiran Han Kyung.
“Jong Woon-ah..., kau sendirian saja~..?” Ji Eun mulai dengan capernya.
Jong Woon merespon dengan malas, melepas sebelah headset-nya.
“Jong Woon-ah~~..”.
“Apa maumu...?” ujar Jong Woon dingin.
Geun Young berjalan mendekat, bersembunyi di balik tiang yang lain agar bisa mendengar percakapan keduanya yang menarik hatinya tanpa disadarinya.
“Eih, kau tidak boleh sedingin itu pada wanita...! Nanti takkan ada satupun wanita yang menjadikanmu kekasih, lho~..”  ujar Ji Eun.
“Faktanya, justru banyak wanita di luar sana, termasuk kau, menginginkanku... Ya, kan?” balas Jong Woon dingin.
Geun Young menyimak sambil menyembulkan kepalanya dari balik tiang. Sementara itu, Han Kyung sudah datang dari arah belakang Geun Young, Han Kyung melihat ketiga orang ini diam-diam.
“Hahaha... Untunglah kau tau soal itu...” canda Ji Eun, tapi Jong Woon tetap cuek.
Tak sengaja, mata Jong Woon menangkap sosok Geun Young di balik tiang sana tengah memerhatikannya. Lelaki itu secara tiba-tiba memeluk Ji Eun erat-erat. Hal ini membuat Geun Young, Ji Eun, dan Han Kyung terkejut dalam waktu yang sama.
Geun Young, yang terguncang hatinya, perlahan menitikan air mata, mendekap mulutnya agar isakannya tak terdengar. Ia berbalik dan segera berlari menjauh dari pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Geun Young tau ia berlari melewati Han Kyung, tapi ia terus berlari. Sementara Han Kyung hanya terheran atas hal yang baru saja terjadi. Dan ia bahkan lebih heran lagi melihat tindakan sahabatnya itu —Jong Woon—.
Jong Woon kemudian melepaskan pelukannya dari Ji Eun mentah-mentah. Berbeda 180° dengarn caranya memeluk Ji Eun —penuh perasaan— dengan cara ia melepaskan pelukan dari Ji Eun —tidak berperasaan—.
Jong Woon kemudian meninggalkan tempat itu segera.
***
“Geun Young Sunbae..., ada apa? Apa karena tindakan Jong Woon Sunbae pagi tadi membuatmu murung terus?” ujar Min Ho ketika ia, Yu Ri, Mi Young, Ryeo Wook, dan Geun Young duduk-duduk di taman sekolah.
“Hei, Kwon Yu Ri, jangan suruh pacarmu itu berbicara soal yang tadi! Geun Young sudah cukup badmoood!”tegur Mi Young.
“Teman-teman, sudah jangan bicara soal Jong Woon Sunbae lagi...” Geun Young masih menekuk dalam wajahnya.
“Jadi karena kau mendengar Jong Woon Sunbae membencimu, kau tak lagi mengejarnya?” kata Yu Ri pada Geun Young, “Hei... Bukankah kau sangat antusias untuk bisa mendapatkannya...?”.
“Harapan itu sudah mati sekarang! Lagi pula, aku bukan tipenya!” Geun Young bangkit dan meninggalkan tempat itu.
“Geun Young-ah!” panggil Ryeo Wook, tapi Geun Young tak peduli.
C l o s e r
Geun Young sudah mengatur pertemuan Mi Young dan Ryeo Wook agar sahabatnya itu bisa mengungkapkan perasaannya, tapi entah kenapa Mi Young menolak untuk bertemu Ryeo Wook.
“Kenapa kau tidak mau mengatakannya?” tanya Geun Young.
Mi Young ragu, melirik ke arah Ryeo Wook di balik rak itu. “Karena..., Ryeo Wook menyukaimu...”.
“Apa?!”.
***
[Mi Young]
Waktu itu...
Aku pernah memberi Ryeo Wook surat berisi rasa sukaku padanya, dan hari ini ia berjanji akan menemuiku lalu membalas suratku dengan kata-katanya.
Ah! Itu dia! Ku harap ia menerimaku!
“Pagi!” sapa Ryeo Wook dengan senyumannya, aku ikut tersenyum. Ia kemudian duduk di samping kananku. “Soal suratmu itu... Aku..., mm...,” ia ragu.
Wae8? [Wæ?] (Kenapa?)” tanyaku.
“Maaf, aku tak bisa menerimamu...” ujarnya, “Aku..., hanya memandang ‘orang lain’...”.
Aku mendengarnya, kecewa dan hatiku hancur. Tapi aku masih sabar dan aku tersenyum tipis sembari tertuntuk. “Tidak apa, kok...” kataku, “Siapa ‘orang lain’ itu...?”.
“Geun Young...”.
Aku mengangkat kepalaku kaget. “Apa?!”.
“Sejak pertama kita berteman, aku sudah sangat menyukainya...” kata Ryeo Wook takut-takut. “Mian, Mi Young-ah, mianhae9...”.
Aku tersenyum padanya. “Aku menghargai perasaanmu, Ryeo Wook-ah...” kataku.
Ryeo Wook kaget. “Mi Young-ah...?” gumamnya, “Mi Young..., adalah yeoja yang baik...” lanjutnya.
Ya, inilah seorang Kim Ryeo Wook : polos. “Gamsa hamnida...” ujarku.
***
[Writer]
“Ryeo Wook...” gumam Geun Young. “Jadi, itu maksudnya ‘orang lain’...?”.
“Makanya aku tidak mau mengatakan rasa sukaku padanya!” kata Mi Young, kemudian berlari meninggalkan perpus.
“Mi Young-ah!” Geun Young mengejar kemana Mi Young pergi.
Ryeo Wook rupanya mendengar percakapan rahasia diantara Mi Young dan Geun Young tadi. Ia hanya menghelas nafas, kini Geun Young tau perasaannya.
***
“Jong Woon-ah...” panggil Han Kyung ketika malam itu keduanya berada di lapangan basket sekolah, dan Jong Woon tengah melatih kemampuan slam dunk-nya. “Kau masih ingat hari di mana kau memeluk Ji Eun di depan mata Geun Young, kan?” tanyanya.
Wae?” tanya Jong Woon sambil men-drible bolanya menuju ring, bertanda ‘ya’.
“Kenapa kau melakukan hal itu di depan yeoja yang jelas-jelas kau sukai? Di depan Geun Young...?” ujar Han Kyung.
Dengan slam dunk darinya, bola itu masuk. Jong Woon terdiam, memandang ke langit penuh bintang. “Karena aku..., laki-laki yang tidak dapat dan tidak tau cara menunjukan perasaanku dengan benar...” katanya.
“Jadi.., kau sengaja menyakiti Geun Young...?” tebak Han Kyung.
Keringatnya perlahan kembali menetes dan ia masih terengah, sudah hampir enam jam lewat ia berlatih di lapangan ini tanpa istirahat. Jong Woon menatap Han Kyung. “Ya...” jawabnya, “Itulah caraku menunjukan rasa sukaku pada Geun Young...”. Perlahan ia tersenyum.
Han Kyung tertawa, mengetahui sisi bodoh dari sahabatnya itu. “Dasar Kim Jong Woon!!”.
C l o s e r
Jong Woon berjalan di koridor. Ia merasa sepi. Ia menoleh ke belakang dan menemukan tak ada siapapun di belakangnya.
“Ke mana yeoja itu...? Bukankah biasanya ia mengikutiku...?” gumamnya. “Ayo, kejar aku... Kejar aku lagi, Moon Geun Young...”.
***
“Pergi menjauh dariku!!” gertak Jong Woon pada Ji Eun dan segera meninggalkan ruangan itu.
“Jong Woon-ah!!” panggil Ji Eun, segera mengejar Jong Woon. “Ada apa denganmu?!”.
Jong Woon berbalik, menghentikan langkahnya dan Ji Eun. Kemudian menatap Ji Eun tajam “Kau pikir aku sungguh-sungguh melakukannya untukmu? Kau pikir aku memelukmu itu sungguhan?!!”.
“Jong Woon-ah..., ada apa denganmu?”.
Jong Woon tersenyum sinis, smirk yang menyebalkan. “Ada apa denganku?” ujarnya, “Aku menanti kehadiran yeoja yang ku cintai... Jadi pergi menjauh dariku!!”.
Jong Woon segera meninggalkan siswi itu sendiri. “Ya, Kim Jong Woon!!” seru Ji Eun kesal.
***
Geun Young berada di balik pagar lapangan basket itu. Hari hujan, ia berdiri sambil berlindung di bawah payung birunya.
“Harusnya hari ini..., timnya Jong Woon Sunbae dengan tim kelas lain bertanding..., tapi apa mereka membatalkannya karena hujan...?” gumam Geun Young. “Mereka, kan, sangat gemar bertanding basket ketika hujan turun...?”.
“Geun Young-ah!!” terdengar suara Han Kyung memanggil dari jendela lantai dua sekolah.
Geun Young menoleh. “Sunbae?! Ada apa?!” teriaknya agar Han Kyung mendengar.
“Pertandingan tertunda karena kami kehilangan Jong Woon!” kata Han Kyung, “Bisa tolong bantu kami mencarinya?”.
Mencari Jong Woon Sunbae...?” batin Geun Young. “Tapi kenapa harus aku?” tanyanya.
“Sudah cari saja dia! Tolong kami!” kata Han Kyung. “Aku juga meminta bantuan ketiga temanmu yang lain.. Jadi, aku mohon bantu kami mencarinya...” lanjutnya, “Jong Woon dalam mood yang hancur...!”.
Geun Young berpikir sejenak.
***
“Aku capek...” keluh Yu Ri pada Mi Young, Ryeo Wook, dan Min Ho ketika mereka melewati koridor.
“Kami semua juga capek...” kata Mi Young.
“Eh, sudah, sudah...” ujar Min Ho.
“Hei, ada Geun Young!” seru Ryeo Wook melihat Geun Young yang berjalan mendekati mereka berempat bersama payungnya yang dilipat.
“Kalian sedang mencari Jong Woon Sunbae?” tebak Geun Young kemudian.
“Hu-uh... Dan belum ketemu...” ujar Min Ho.
“Hm...” Geun Young berpikir. “Kalian sudah cek bagian belakang sekolah...?”.
“Belum...” Mi Young menggeleng.
“Baiklah... Aku akan ke sana...” ujar Geun Young yang kemudian berbalik dan melesat segera.
“Hei, kami ikut!” ujar Yu Ri. Ia, Min Ho, dan dua sahabatnya segera mengikuti Geun Young dengan berjalan kaki.
***
Jong Woon duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu itu. Seluruh tubuhnya sudah basah dan ia tidak memperdulikan itu.
“Jong Woon Sunbae!!” panggil Geun Young dari arah belakang.
Jong Woon terkesiap. Ia segera menoleh ke belakang dan menemukan Geun Young berdiri di bawah payung birunya, memandang lelaki itu kesal dan geram.
“Apa yang kau lakukan?! Duduk dijatuhi tetesan air hujan menuruti mood-mu yang sedang hancur, sementara orang-orang di dalam gedung sekolah panik mencarimu untuk tanding basket!!” ujar Geun Young, “Dan pada akhirnya, aku juga harus ikut mencarimu! Padahal aku tidak mau!”.
“Kau di sini...” ujar Jong Woon pelan, seakan mengacuhkan kata-kata Geun Young.
Geun Young terkesiap mendengarnya. “Ngh?”.
Jong Woon berdiri, berbalik dan mendekati Geun Young. Semakin ia berjalan mendekat, Geun Young melangkah mundur.
“Aku menunggumu... Aku ingin kau mengejarku lagi...” kata Jong Woon.
“Apa...?” ujar Geun Young.
Jong Woon kini berdiri di bawah payung yang Geun Young pegang. “Kamu pernah dengar apa yang Han Kyung katakan soal sikapku saat aku mengatakan bahwa aku membencimu...?”.
Geun Young terdiam, tak mampu berkata apapun bahkan hanya kata ‘ya’ sekalipun —Jong Woon berdiri tepat di depannya—.
“Aku memang menyukaimu dan kau tidak mempercayai ucapan tersebut dari Han Kyung hari itu...” Jong Woon tersenyum usil, baru kali ini Geun Young melihatnya.
“Sun..., bae...?” gumam GeunYoung.
Jong Woon kemudian memeluk yeoja itu secara tiba-tiba, membuat Geun Young tersentak saat itu juga dan membuatnya melepaskan gemggamannya dari payungnya. Payung biru itu jatuh. Dan kali ini tetesan air hujan membasahi keduanya.
“Mulai sekarang..., panggil aku Oppa10 (Kakak)..” kata Jong Woon. “Karena kau adalah..., yeojachingu11-ku...[yôjaching-gu-ku...]”.
Geun Young membeku.
Mianhae..., karena aku sempat membohongimu, bahkan soal tipeku itu...” kata Jong Woon, sambil tersenyum.
Dan Geun Young masih terpaku.
Saranghaeyo12 [Saranghæyo]..., Moon Geun Young...” ujar Jong Woon
C l o s e r
Mi Young termenung di dalam kelas hari itu. Teman-teman sekelasnya sibuk sendiri, sementara Geun Young entah ke mana —mungkin bersama Jong Woon— dan Yu Ri pasti sedang janjian dengan Min Ho.
Tiba-tiba, seseorang menyerahkan sebuket bunga di depan wajahnya. Dan ketika melihat siapa yang memberi bunga itu, Mi Young agak terkesiap.
“Ryeo Wook?” ujarnya, mengenali lelaki yang memberinya bunga.
Ryeo Wook hanya tersenyum. Kemudian ia menyerahkan kembali bunga itu pada Mi Young, dan Mi Young meraihnya perlahan.
“Kamu sendirian, kan?” tanya Ryeo Wook.
“Iya...” jawab Mi Young.
“Maksudku bukan itu...” kata Ryeo Wook.
“Ngh?” Mi Young memandang Ryeo Wook.
Ryeo Wook ikut memandang Mi Young. “Maksudku..., statusmu...” jelasnya. “Jadi yeojachingu-ku, ya...?”.
“Apa...?”.
“Aku sudah tidak menaruh harapan pada Geun Young lagi, apalagi kini ia milik Jong Woon Sunbae sekarang dan semua orang tau akan hal itu... Kini aku hanya memandangmu...” ujar Ryeo Wook. “Kau sangat cantik, ramah, baik, dan sabar... Bodohnya aku, aku baru sadar akan hal itu dan..., aku mulai menyukaimu...”.
Mi Young hanya sanggup memadangi Ryeo Wook saja. “Ryeo..., Wook...?” gumamnya.
***
Jong Woon berhasil memasukan bola itu dengan slam dunk-nya.
Oppa!! Hebat!!” seru GeunYoung dari sisi lapangan basket sekolah itu, mereka hanya berdua di situ.
Jong Woon tersenyum pada Geun Young. Kemudian ia mendekati gadis itu. Begitu mendekat Geun Young segera memberi Jong Woon sebotol air.
“Terima kasih...” ujar Jong Woon pada Geun Young. Kemudian membuka tutup botol itu dan meneguk setengahnya.
Oppa kelihatannya capek sekali...?” kata Geun Young seusainya Jong Woon meneguk minumannya.
Wae? Khawatir?” ledek Jong Woon.
“Aish...?” gerutu Geun Young, “Oppa! Aku sungguh-sungguh!” omelnya.
Jong Woon tertawa lepas melihat ekspresi Geun Young. “Hahahaha!! Yeojachingu-ku sangat lucu!!” ujarnya.
Oppa~..! Aku serius!”.
“Iya, iya... Aku tau, kok! Jangan marah begitu~~...! Hahaha...!”.
C l o s e r
END
Kotak Kamus
No.
Kosakata
Hangul (Huruf Korea)
Cara membaca
Arti
1.
Gakkai
가까이
Gakkai
Dekat
2.
Ani ; Aniyo
아니 ; 아니요
Ani ; aniyo
Tidak
3
Sunbae
선배
Sônbæ
Senior
4.
Jinjja
진짜
Jinjja
Benar-benar ; Sangat ; benarkah (?) ; sungguh (?) ; masa (?)
5.
Yeoja
여자
Yôja
Perempuan ; wanita
6.
Gamsa hamnida
감사 합니다
Gamsa hamnida
Terima kasih (formal)
7.
Nuna
누나
Nuna
Kakak ; panggilan dari laki-laki untuk wanita yang lebih tua
8.
Wae
Wæ
Kenapa
9.
Mian ; Mianhae
미안 ; 미안해
Mian ; Mianhæ
Maaf ; maafkan aku ; mohon maaf
10.
Oppa
오빠
Oppa
Kakak ; panggilan dari perempuan untuk laki-laki yang lebih tua
11.
Yeojachingu
여자친구
Yôjaching-gu
Pacar (girlfriend)
12.
Saranghaeyo
사랑해요
Saranghæyo
Aku mencintaimu


감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^