[FF] Catch Me part 1

8:50 PM 3 Comments A+ a-


Catch Me
처음 만나 (Chô-eum manna) First Meet”

Author         :           RetnoNateRiver
Genre           :           Fantasy, Romance
Main Casts  :           - SJ Yesung as Jeremy
                                  - Moon Geun Young as Moon Geun Young
                                  - SJ Donghae as Lee Dong Hae
Other Cats  :           - will be appear!

*Catch Me*
Annyông! Adakah yang rindu Nate? #ngarep
Sekarang, Nate ga mau ngomong banyak-banyak dulu, mending yang kangen sama Nate ^^atau justru sama karya Nate^ silahkan baca karya tulis Nate yang satu ini!!
Yesung-Moon Geun Young, LOVE YA!!

Author

RetnoNateRiver

*Catch Me*
Yôja itu melangkahkan kakinya dengan senang ke atas rerumputan landai di hutan itu, lama ia tak ke sini.
Kemudian ketika kakinya sudah merasa lelah berjalan-jalan seharian di hutan ini, ia lantas duduk-duduk di atas rumput di dekat semak-semak itu sembari memandangi hijaunya alam.
“Sibuk dengan semrautnya kuliah, aku jadi tak punya waktu untuk ke sini... Maaf, ya...” ujarnya, seakan ia berbicara pada seluruh makhluk hidup di situ, “Tapi sekarang aku kembali dan datang untuk menyegarkan pikiran...”.
“Srrk, srrk...” suara gesekan semak-semak di depannya.
Yeoja itu menoleh ke arah semak itu, tak ada rasa takut dalam benaknya. “Nuguseyo...? (Siapa itu...?)” tanyanya, tak terdengar takut, tapi ringan.
“Srrk, srrk...!!” kali ini gesekannya lebih keras.
Ya, ia memang yeoja yang pemberani, bahkan saking tak ada rasa takutnya, yeoja ini menghampiri semak tersebut karena rasa penasarannya yang tinggi.
Mungkin, itu seekor kelinci, tupai, atau semacamnya. Begitulah yang dipikirkan yeoja tersebut ketika langkahnya semakin dekat.
Namun sayang, bukan hewan-hewan tersebut yang ditemukannya.

Seekor makhluk sejenis serigala dengan tubuh yang besar melompat keluar dari semak-semak dan mendorong yeoja itu.
“Aaaa...!” pekiknya ketika ia terjatuh di atas rerumputan dengan keempat kaki jenjang makhluk dengan bulu hitam itu memagarainya, ia tak bisa kemana-mana.
Rahang makhluk itu terbuka, siap untuk menelannya mungkin. Gigi-gigi taring yang kokoh sudah dapat terlihat dengan mudah. Ya, makhluk ini memang akan melahapnya hidup atau mati.
Memang rasa ngeri ada padanya, namun yeoja ini hanya mampu terdiam ngeri melihat makhluk itu akan mulai menyantapnya. Tapi sebelum hal itu terjadi, seekor makhluk yang sama datang, mendorong makhluk berbulu hitam yang tadi menyerang yôja itu.
Kini yôja itu bebas, ia terduduk memandangi dua makhluk yang sama dengan warna bulu yang berbeda —hitam dan abu-abu— itu seakan saling beradu.
“Werewolf...” gumam yeoja ini, mengenali jenis kedua makhluk itu.
Setelah terjadi saling terkam-menerkam, kedua werewolf itu terdorong menuju semak-semak dan kemudian mereka menghilang di baliknya. Hutan kembali hening.
Werewolf abu-abu itu, dirasanya telah menolong yeoja itu dari serangan werewolf hitam tadi. Tapi bukan saatnya ia memikirkan hal tersebut.
Yôja berambut panjang itu segera bangkit, ia harus pergi dari situ sebelum hal-hal yang berbahaya lagi menyerangnya. Yôja itu segera berjalan menjauh dari tempatnya, hari ini ia tak bisa berlama-lama di sini, di tempatnya biasa menenangkan diri.
Ketika berjalan untuk pulang, yeoja itu mendengar gesekan rerumputan yang seakan-akan mengikutinya. Kini, ia mulai merasa takut.
Yôja itu mempercepat langkahnya, berharap suara itu tak mampu menjangkaunya. Namun suara itu semakin lama malah semakin dekat.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak yôja itu. Karena tersentak kaget, yôja ini berbalik dan hendak memukul orang yang menepuk pundaknya itu dengan kepalan tangan kanannya.
Tapi orang yang menepuknya itu, segera menahan laju tangannya. “Woah, woah...” ujar orang itu, seorang namja dengan t-shirt abu-abu dan celana pendek di bawah lutut, “Hey, agassi, (Hey, nona,) kau bisa melukai seseorang dengan reaksimu itu... Aku ini bukan orang jahat...” katanya.
Yôja itu terkesiap, kemudian menarik tangannya kembali. Ia agak salah tingkah. “Joesong hamnida... (Maafkan saya...)” katanya.
“Gwænchanha... (Gak apa-apa...)” namja itu tersenyum. “Oya, sedang apa kau di sini?”.
“Hanya..., berjalan-jalan...” jawab yeoja itu.
“Namaku Jeremy...” kata namja itu, memperkenalkan dirinya tanpa diperintah.
Yôja itu memandang namja bernama Jeremy tersebut sejenak, kelihatannya ia memang bukan orang yang jahat. “Aku Geunyoung... Moon Geun Young imnida...” kata yeoja itu.
Jeremy tersenyum. “Ban-gawoyo... (Senang berkenalan denganmu...)” katanya.
Tapi kemudian, perhatian Jeremy tertuju pada suara-suara kecil di belakangnya, ia menoleh ke arah asal suara itu.
“Ada apa?” selidik Geunyoung.
Jeremy kemudian berpaling dari arahnya, “Ani... Tidak ada apa-apa, kok...” umpatnya, “Di sini berbahaya bagi seorang yeoja sepertimu... Aku akan mengantarkanmu pulang...”.
Tanpa perintah apapun dan tanpa persetujuan sebelumnya, Jeremy segera menarik Geunyoung pergi dari situ. Geunyoung agak heran dengan perlakuan tersebut.
“Ani, aku bisa pulang sendiri...” Geunyoung menahan langkahnya.
“Hutan ini berbahaya, Geunyoung-ssi... Aku harus menemanimu...” kata Jeremy. Geunyoung menatapnya, dan Jeremy kembali berujar, “Percayalah... Aku ini bukan orang jahat...”.
Untuk beberapa saat, Geunyoung berpikir.
***
“Baiklah... Kau sudah sampai...” kata Jeremy, begitu ia dan Geunyoung sudah berada jauh dari hutan. “Sampai di sini, ya... Aku pamit pulang...” lanjutnya.
Jeremy kemudian berjalan meninggalkan Geunyoung di tempatnya, ia benar-benar bermaksud untuk pulang. Tapi ketika langkahnya yang ketiga, Geunyoung menahan lengannya.
“Jamkkanman... (Tunggu sebentar...)” ujar Geunyoung.
Jeremy, yang langkahnya terpaksa berhenti itu,  menoleh, “Ne?” tanyanya.
“Sebagai tanda terima kasih..., apa kau mau..., mampir ke rumahku...?” tawar Geunyoung.
Jeremy berpikir sejenak. “Ng?” gumamnya.
“Rumahku tidak jauh dari sini, kok...” kata Geunyoung. Jeremy kemudian menatapnya, dan Geunyoung lantas berujar, “Percayalah... Aku ini bukan orang jahat...” ia tersenyum.
Mendengarnya, Jeremy ikut tersenyum. Geunyoung telah menyalin kalimatnya.
***
Namja dengan sekantung bahan makanan berupa daging itu tengah merasakan bosan yang luar biasa. Duduk di teras rumah tradisional Korea sambil menunggu adiknya pulang.
“Jungsu Oppa!” seorang yeoja memanggilnya, Jungsu.
Jungsu menoleh, rupanya adiknya sudah pulang. “Oi, Geunyoung-ah?! Sudah pulang?!” sambutnya, senyumnya yang manis tak mampu disembunyikan.
Geunyoung, yeoja itu, menghampiri Jungsu dengan Jeremy di belakangnya. Ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Jeremy, Jungsu terdiam, senyumnya agar pudar.
Menemukan situasi seperti ini, Geunyoung segera berujar, “Uh..., Oppa... Ini teman baruku... Kami baru saja bertemu di hutan... Ia yang mengantarkanku pulang dari sana... Namanya Jeremy...” ujarnya pada Jungsu, “Jeremy, ini kakakku... Namanya Moon Jung Su...” ujarnya pada Jeremy.
“Annyeong haseyo... (bow) Jeremy imnida...” ujar Jeremy pada Jungsu.
Kemudian Jungsu kembali tersenyum, “Ne... Moon Jung Su imnida...” ujarnya pada Jeremy.
Geunyoung tersenyum senang, “Nah, Oppa... Boleh, kan, Jeremy ikut makan siang dengan kita...?” tanyanya.
“Tentu saja boleh...” ujar Jungsu, “Kebetulan aku baru saja iseng-iseng pergi ke pasar dan membawa bahan makanan...”.
“Jeremy-gun, mari masuk ke rumah kami...” ajak Geunyoung.
***
Jeremy duduk di depan meja makan rendah itu. Sementara Geunyoung beranjak ke dapur, menengok abangnya yang memasak.
“Loh, kenapa kau ke sini?” ujar Jungsu ketika melihat Geunyoung memasuki dapur.
“Harusnya aku yang masak, bukan Oppa...” kata Geunyoung, kekeuh memasuki dapur dan mulai ikut menyentuh perabotan di dalamnya.
“Justru karena ada Jeremy di ruang makan, temani ia... Kau, kan, temannya...” ujar Jungsu sembari mengambil pisau dan mulai memotong sayuran.
“Hanya sebentar, kok...” Geunyoung beralasan.
Jeremy kemudian muncul dari balik ambang pintu dapur. “Geunyoung-ssi, kau di sini?” ujarnya, menemukan Geunyoung.
“Eh, Jeremy?” sahut Geunyoung.
“Nah, apa ku bilang? Temani Jeremy...” kata Jungsu.
“Tapi, kan...,” Geunyoung menoca beralasan.
“Kau ini...? Jangan keras kepala kalau ku beri..., ah!” rintih Jungsu tiba-tiba.
“Oppa?!” seru Geunyoung, meninggalkan masakannya dan memeriksa keadaan Jungsu. Rupanya namja itu tak sengaja melukai jarinya dengan pisau yang digunakannya.
Melihat pemadangan itu, Jeremy tercekat.
“Omo, lukanya dalam...” ujar Geunyoung yang segera menggunakan sapu tangannya untuk membersihan darah yang mengalir keluar dari luka pada jari Jungsu. “Jeremy-gun, bisa tolong ambilkan kotak obat di atas meja?” pintanya pada Jeremy.
Namun tak terdengar sahutan dari Jeremy.
Geunyoung kemudian mengalihkan pandangannya menuju ambang pintu dapur. “Jeremy-gun?” panggilnya. Namun kemudian ia terdiam, heran. Ia tak mendapati Jeremy di situ.
***
“Aish... Pabonikka...! (Bodoh...!) Jeremy, kau bodoh!” cela Jeremy pada dirinya sendiri. Ia terduduk di teras belakang rumah Jungsu dan Geunyoung.
“Jeremy-gun?” tiba-tiba saja Geunyoung sudah berada di depan pintu.
Jeremy menoleh ke arahnya, “Geu, Geu, Geunyoung..., -ssi?” ujarnya, ada rasa takut dalam dirinya.
“Oh, kau di sini?” kemudian Jungsu menyusul, lukanya sudah diobati namun ia masih membersihkan darah yang tersisa dengan sapu tangan milik Geunyoung.
Jeremy kembali tercekat. Ia memalingkan wajahnya, kemudian menutup mulut dan hidungnya.
“Jeremy-gun, ayo masuk... Kali ini aku takkan meninggalkanmu...” ujar Geunyoung, tapi Jeremy tak menjawabnya. Ada yang aneh, “Jeremy-gun?” ujarnya memastikan.
Jeremy kemudian bangkit dan memandang mereka, tangannya tak lagi menutup sebagian wajahnya. “Joesonghamnida, tapi ini sudah terlalu siang... Aku harus pulang...” katanya terburu-buru, “Aku pamit” ujarnya yang kemudian segera meninggalkan Jungsu dan Geunyoung dengan langkah yang tak ringan.
“Jeremy-gun, tunggu dulu!” tahan Geunyoung, namun Jeremy tetap melangakah menjauhinya, sampai akhirnya namja itu hilang dari pandangannya.
Jungsu menyelidik, “Orang yang aneh...” ujarnya.
Geunyoung mendesah. “Sudahlah, Oppa...” katanya, “Ayo, kita masuk...”.
*Catch Me*
“Oppa, aku berangkat!” pamit Geunyoung, ia segera meninggalkan pekarangan rumahnya.
“Hati-hati, ya! Belajar yang rajin!” pesan Jungsu.
Geunyoung segera berjalan menuju halte terdekat dari rumahnya. Yeoja dengan sweater coklat itu pagi ini memang harus berangkat kuliah. Ia selalu berangkat dengan bis.
Ia sudah sampai di halte tempat biasa ia menunggu bis. Duduk sebentar sambil sesekali memeriksa jam tangannya atau membaca catatannya.
“Werewolf...” ujarnya, membaca baris pertama dari bacaannya. ”Tidak bernama, hidup abadi, dan sensitif terhadap sinar bulan...” ia membaca baris selanjutnya.
“Geunyoung-ah...!” terdengar suara seorang namja di dekatnya.
Geunyoung terpaksa memalingkan perhatiannya ke namja itu, orang yang memanggilnya. “Sunbae...?” ujarnya mengenali namja yang memanggilnya.
Namja itu terkekeh kecil. “Sunbae? Panggil aku Donghae....., dan ditambah Oppa...” ujar namja itu, Lee Dong Hae.
Geunyoung tersenyum. “Karena kau seniorku jadi aku memanggilmu Sunbae...” katanya.
“Itu kalau kita sudah berada di kampus...” kata Donghae, “Sekarang panggil aku Oppa...”.
Keduanya tertawa kecil.
“Oppa, tumben kau berangkat naik bis?” ujar Geunyoung.
“Uh..., jôge..., (itu...,)” ujar Donghae, “mobilku rusak dan lagipula..., aku ingin mencoba berangkat kuliah dengan bis... Sudah lama tidak naik bis...” katanya.
“Oh...” ujar Geunyoung.
Suasana hening sejenak.
Donghae kemudian memusatkan pandangannya pada buku catatan Geunyoung, tentang werewolf. “Ku dengar, kau diserang werewolf? Kemarin, kan?” tebaknya.
“Sônbae tak perlu khawatir...” kata Geunyoung, “Aku diserang satu werewolf, dan aku selamat berkat werewolf yang datang melepaskanku dari jangkauan werewolf yang menyerangku itu...”.
Donghae memandang Geunyoung sesaat, “Kau benar tak apa?” tanyanya.
Geunyoung memandangnya, “Jeongmal jeongmal gwaenchanha...” katanya. Kemudian berpaling ke catatannya.
Donghae masih memandangi Geunyoung, dalam. Tanpa disadarinya, tangan kirinya mulai bergerak dan mengusap pelan kepala Geunyoung.
Merasakan sentuhan itu beberapa kali secara perlahan, Geunyoung agak terkesiap. Ia memandang Donghae yang masih memandangnya, agak aneh rasanya.
“Sunbae, jangan lakukan itu...” Geunyoung segera menyingkirkan tangan kiri Donghae itu perlahan dari atas kepalanya.
Donghae agak tersadar atas perbuatan yang baru saja dilakukannya. “Oh... Joesonghæyo...” katanya, kemudian memalingkan pandangnnya.
Sebuah bis yang mereka nantikan kini berhenti di depan halte tempat mereka menunggu itu. Keduanya kemudian beranjak dari tempat duduk masing-masing.
“Mari...” ajak Donghae.
Keduanya kemudian beranjak menaiki bis itu.
*Catch Me*

To be countinued

*Catch Me*
Maaf sebelumnya kalau Nate jarang hadir di blog~...
Nate sedang menulis naskah novel. Novelis emang cita-cita Nate banget ^^gak heran, kan, kalo Nate itu seorang author FF? kikikiki^..
FF He juga belum selesai di-share, tapi kalau ditulis, sih, udah selesai dari kapan tau~... Tinggal di-share dan dibaca..^^
Nate juga baru aja buka online kpop shop, namanya Little Blue kpop shop!! Bagi yang baca FF ini, mari sumbangkan like seikhlasnya! Share apalagi order, Nate akan berterimakasih banget!^
Doakan Nate dalam karir Nate ini, ya!^

Yang penting, gamsahamnida sudah membaca!^ Jangan lupa tinggalkan komentar, ya!

Author

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^