[FF] Catch Me part 2

8:59 PM 2 Comments A+ a-


Catch Me
싫어요! (Shirhôyo!) I hate it!”

Author         :           RetnoNateRiver
Genre           :           Fantasy, Romance
Main Casts  :           - SJ Yesung as Jeremy
                                  - Moon Geun Young as Moon Geun Young
                                  - SJ Donghae as Lee Dong Hae
Other Cats  :           - SJ Leeteuk as Moon Jung Su


***
Ôdi ga? (Mau ke mana?)” tanya Jungsu ketika melihat Geunyoung yang baru saja pulang dari kuliahnya lantas bersiap pergi lagi.
“Mau menemui Jeremy...” ujar Geunyoung singkat sambil menyiapkan tasnya.
Jungsu menghampiri adiknya itu, “Kau tau..., aku curiga padanya...” ujarnya, berterusterang.
“Mwo?”.

“Geuræ...” kata Jungsu, “Tingkah lakunya itu..., kelihatan aneh...” jelasnya. “Berarti, kau akan pergi ke hutan? Lagi?” tanyanya mengubah topik.
“Hu-uh...” Geunyoung mengangguk.
“Berhati-hatilah di sana... Kau tau pasti, kan, kalau werewolf itu bisa muncul kapan saja...” ingat Jungsu, “Dan karena ulah mereka..., buruan kami diembat duluan...”.
Mendengarnya, Geunyoung hanya tersenyum. “Hampir seluruh laki-laki di desa ini senang berburu dengan senapan mereka, ya?” ujarnya, “Ara, aku akan selalu mengingat nasehatmu, Oppa...” katanya, “Galke... (Aku pergi...)”pamitnya.
Geunyoung kemudian beranjak meninggalkan rumahnya dengan tas selempang dan keranjang kecil di tangannya.
“Ingat, pesanku, ya!” kata Jungsu  begitu Geunyoung sudah melewati pekarangan rumah mereka.
***
Berjalan-jalan di sekitar hutan, mungkin bisa mempertemukannya dengan pemukiman tempat Jeremy tinggal. Namun lama berjalan, ia tak menemukan apa-apa, bahkan hanya sekadar tanda-tanda keberadaan pemukiman saja pun tidak.
Tapi Geunyoung tetap berjalan, ia mungkin salah satu gadis yang gigih. Tapi malah lagi-lagi, suara semak belukar yang bergesekan lah yang kembali ia temui.
“Srrk, srrk, srrk...” suara itu berasal dari belakangnya.
Geunyoung terkesiap, dan ia menoleh ke belakang. Namun tetap, ia tak mendapati apa-apa. Mendapati hal itu, ia tak ambil pusing. Geunyoung kembali berjalan.
Tapi tak lama, terdengar suara yang sama dari arah yang sama, “Srrk, srrk, srrk...”.
Geunyoung refleks, “Nuguseyo?!” ujarnya sembari menoleh ke belakang. Ia tetap tak memiliki rasa takut sama sekali.
Setelah menyimak ke belakang beberapa lama, Geunyoung juga tak menemukan apa-apa. Kemudian ia kembali berjalan dan fokus ke depan.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati seorang Jeremy tiba-tiba sudah berada sejengkal di depannya.
Jeremy segera mendekap mulut Geunyoung sebelum sempat yeoja itu berteriak kaget. Namja itu segera mengacungkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Sssh, ssh, ssh...” bisiknya, “Jangan kaget dan berteriak, ya...”.
Geunyoung kemudian melepaskan dekapan tangan Jeremy dari mulutnya. “Muncul di depanku tiba-tiba apa itu tidak membuatku kaget dan ingin berteriak?!!” omelnya.
“Hehehe...” Jeremy tersenyum ngeri, “Mian...” lanjutnya.
***
Geunyoung menggelar tikar kecil di bawah rindangan pohon besar itu. Sementara Geunyoung mempersiapkan tempat untuk makan, Jeremy —yang tidak punya kerjaan— hanya berjalan-jalan kecil di sekitarnya.
Ketika Geunyoung mengeluarkan beberapa kotak makanan dari keranjang yang dibawanya, Jeremy lantas mendekat. Namja itu duduk di samping Geunyoung segera.
Meski makanan itu masih terbungkus rapat, namja yang mengenakan t-shirt abu-abu itu kelihatannya dapat mencium aroma makanan tersebut dengan sangat  pasti. “Kau bawa daging?” tebaknya.
Geunyoung tersenyum, melirik Jeremy sedikit. “Bagaimana kau tau?” tanyanya, berarti ‘ya’ untuk Jeremy.
Kotak-kotak makanan itu segera Geunyoung buka. Begitu melihat makanan yang ia suka, Jeremy lantas tersenyum senang. Kemudian, Geunyoung mengambil kedua pasang jôtgarak (sumpit khas Korea) yang sudah disiapkannya sebelum ia ke sini. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Jeremy. Keduanya lalu menyantap makanan yang ada bersama-sama.
Setelah beberapa lama makan, Geunyoung terheran melihat apa yang Jeremy lakukan. Semangkuk nasi yang ia berikan pada namja itu sejak tadi tak disentuhnya sama sekali, ia hanya mengambil bulgogi yang ia bawa.
“Makan nasimu...” ujar Geunyoung.
Jeremy menggeleng, masih sambil melahap beberapa bulgogi lagi.
Geunyoung kembali melihat makanan yang tersisa. “Omo...?” ucapnya, “Makan sayurnya juga!” suruhnya pada Jeremy.
Jeremy kembali menggeleng.
“Kau ini bagaimana? Bahkan roti isi pun hanya kau makan dagingnya?!” omel Geunyoung.
“Aku tidak suka sayur! Aku tidak suka roti! Aku tidak suka nasi!” kata Jeremy, “Shirhôyo!”.
Geunyoung mulai geram. “Eish...?! Kau ini kekanakan!” ujarnya, “Ya! Apa jadinya makan tanpa nasi?! Nasi saja kau tidak suka, bagaimana kau bisa kenyang hanya dengan makan daging?!”.
Tapi Jeremy malah mengacuhkannya.
Geunyoung makin geram. “Ya! Dengarkan aku!” katanya, “Kau ini butuh karbohidrat, mineral, vitamin, dan lain-lainnya! Kalau kau cuma makan bulgogi dan semacamnya...., kau hanya dapat protein dan lemak! Kau butuh makanan yang seimbang!” jelasnya.
“Aku tidak peduli!” ujar Jeremy ketus.
Mendengarnya, Geunyoung hanya dapat memandangnya heran, dan kesal.
***
Beberapa menit seusainya makan...
Geunyoung duduk di atas tikar sembari bersandar pada batang pohon itu, ia tengah membaca buku catatan kuliahnya. Sementara Jeremy sedari tadi hanya bermain-main di sekitarnya, entah hanya menjangkau dahan-dahan pohon yang tinggi, mengejar serangga kecil, atau memanjat pohon.
Tapi sepertinya Jeremy sudah terlihat bosan sekarang. Ia kemudian segera menuruni pohon yang dipanjatnya dan segera duduk di samping Geunyoung yang tengah membaca buku itu.
Benar-benar pohon yang rindang, bahkan keduanya tak tersentuh sinar mentari sama sekali. Keduanya dapat duduk dengan nyaman di bawah pohon itu.
Jeremy, yang duduk di samping kanan Geunyoung, perlahan-lahan menyandarkan kepalanya pada bahu yeoja tersebut. Dan ia kemudian memejamkan matanya sejenak.
Awalnya, Geunyoung memang tidak merasa terganggu. Tapi kemudian, ia menoleh ke arah Jeremy yang bersandar pada bahunya.
Merasa diperhatikan, Jeremy membuka matanya dan menemukan Geunyoung tengah memperhatikannya.
“Kenapa memandangku? Aku tampan, ya?” candanya.
Geunyoung terkekeh, “Dasar ke-PD-an...!” ucapnya, yang kembali pada bacaannya.
“Eh, jangan bohong~~...” Jeremy menyentil kecil dahi Geunyoung, “Aku tampan, kan?” candanya lagi.
Geunyoung hanya bisa mengaduh sambil mengusap dahinya yang kena sentil, “Jangan narsis, deh...” katanya.
Keduanya kemudian hanya tertawa kecil.
Jeremy melirik isi catatan dalam buku yang Geunyoung genggam. “’Werewolf tidak punya nama’?” ia mengutip, “Huh! Omong kosong!” ujarnya sinis.
Geunyoung melirik Jeremy. “Jadi, werewolf punya nama?” tanyanya.
Jeremy mengangkat kepalanya. “Kau ingin tau?” ujarnya, bukan jawaban yang Geunyoung harapkan. Jeremy kemudian melirik catatan itu lagi, “’Werewolf hidup abadi’?” ia mengutip lagi.
“Benar, kan?”.
“Setelah ‘menyicipi’ darah dan daging manusia...” jawab Jeremy.
“Mwo?!” Geunyoung terkejut.
“Tapi harus dari tujuh manusia yang berbeda...” jelas Jeremy, “Barulah mereka akan menjadi werewolf yang terkuat dan disegani...”.
“Disegani? Oleh siapa?”.
“Tentu oleh werewolf lain...” kata Jeremy, “Tapi karena makhluk lain tidak tau soal hal itu, jadi mereka tak menyeganinya...”.
“Termasuk manusia?”.
“Geurae!”.
“Oh...” Geunyoung mengangguk-angguk. “Bagaimana..., kau bisa tau?” tanyanya.
“Panggil aku Sunbae! Aku sudah lulus kuliah kurang lebih dua tahun yang lalu!”canda Jeremy sembari menepuk-nepuk kepala Geunyoung.
***
“Umma!”.
“Kau mau ikut Appa-mu?! Ikut saja!!”.
“Umma! Kajima!”.

“Setiap hari Umma pulang dengan keadaan yang memprihatikan... Berantakan, marah-marah, mabuk, dan...,”.
“Oppa!! Geuman!!”.

“Geunyoung-ah, gwaenchanha...? Apa yang Umma lakukan padamu...?”.
“Badanku sakit, Oppa... Kapan Appa pulang...?”.

“Aku tidak mau Umma dan Appa berpisah... Bisa, kan...?”.
“Geunyoungie... Kamu tidak mengerti permasalahan Appa dengan Umma...”.
“Tapi Appa...,”.

“Oppa, Umma ke mana? Kenapa Appa tak mau menjawabku?”.
“Jangan tanyakan yeoja itu lagi! Ia sudah pergi dari sini!”.
“Mwo?!”.

“Appa sedang sakit... Aku tidak mau Appa banyak beraktifitas...”.
“Geunyoungie..., kau tidak mengerti...”.
“Tapi Appa..., aku bukan anak kecil lagi... Biarkan aku merawatmu...”.
“Geunyoungie...”.

“Geunyoungie...” suara itu terasa dekat di telinganya.

“Geunyoung-...” makin dekat, tapi suara itu berubah.

“Geunyoung-ssi...” sekarang suara itu benar-benar berubah.

“Geunyoung-ssi...”.

Geunyoung akhirnya membuka matanya dan mendapati Jeremy di depan matanya, orang yang telah memanggil-manggil namanya.
Ternyata, hari sudah gelap dan Geunyoung tak sengaja terlelap.
“Jeremy-gun...?” ujar Geunyoung setengah sadar.
Jeremy terlihat cemas, “Geunyoung-ssi, ayo bangun...! Kau harus cepat-cepat pergi dari sini...!” ujarnya, setengah berbisik.
“Memang, ada apa?” tanyanya.
Jeremy tak punya waktu lagi untuk menjelaskan seutuhnya pada Geunyoung. Lantas namja itu menarik paksa Geunyoung untuk bangun dengan lembut.
“Cepat, ikuti aku!” ujar Jeremy.
Namja itu segera menarik lengan Geunyoung untuk segera berlari meninggalkan hutan tersebut. Barulah Geunyoung tersadar seutuhnya.
“Jamkkan! Bagaimana dengan tas, keranjang, dan tikarnya?” ujar Geunyoung di tengah pelariannya.
“Jangan khawatir. Aku yang akan mengembalikannya padamu besok.” ujar Jeremy, kedengaran tergesa-gesa.
“Tapi, tasku...,”.
“Aku janji akan mengembalikannya padamu besok...” Jeremy meyakinkan, “Yang penting, kau harus segera keluar dari sini...!”.
Geunyoung pasrah, ia hanya bisa menoleh ke arah belakang, arah di mana ia terpaksa meninggalkan semua barang-barangnya, termasuk tas pemberian Ayahnya.
Merasa terlalu lamban, Jeremy segera memberhentikan langkahnya dan mengangkat Geunyoung ke atas pungggungnya.
Geunyoung tersentak. “Ya! Apa yang kau lakukan?!”.
“Aku harus menyelamatkanmu sesegera mungkin...” ujar Jeremy, yang lantas kembali berlari dengan Geunyoung di atas punggungnya.
Geunyoung agak terheran melihat Jeremy dapat melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Ia beberapa kali sempat mendengar gesekan rerumputan yang seakan-akan mengejar mereka.
“Kau dengar itu?” tanya Jeremy.
“Dengar apa?” tanya Geunyoung balik.
Tak butuh waktu lama, keduanya berhasil keluar dari hutan itu hanya dalam waktu satu menit. Padahal untuk mencapai ke lokasi tadi, dibutuhkan waktu lebih dari tiga puluh menit untuk berjalan kaki, itupun waktu tempuh yang paling cepat.
Jeremy segera menurukan Geunyoung. Kemudian namja itu memeriksa keadaan Geunyoung, memastikan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.
“Jeremy-gun..., boleh aku bertanya?” ujar Geunyoung, “Kenapa tadi sangat terburu-buru? Kau kelihatan cemas? Memang tadi ada apa?”.
“Kau tak perlu tau...” kata Jeremy, “Yang penting sekarang juga, kau pulang ke rumah..., segera... Ara? (Mengerti?)”.
Geunyoung tak menjawab dan hanya memandang Jeremy yang sudah memeriksa sekilas keadaannya itu. Kali ini Jeremy juga memandang Geunyoung.
Jeremy menatap dalam yeoja di depannya itu. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Geunyoung, membuat Geunyoung ngeri. Semakin dekat wajah namja itu, semakin Geunyoung memejamkan matanya ngeri.
Kemudian rasa hangat dirasakannya di dahinya, Geunyoung lantas membuka matanya dan menemukan bahwa rupanya Jeremy tengah mengusap dahinya.
“Apa..., takbam (sentilan di dahi)-ku tadi..., melukai dahimu...?” tanya Jeremy.
Geunyoung terbengong, tapi kemudian ia tersadar, “Uh..., ah, ani...” katanya, agak salah tingkah mungkin mengira namja yang baru dikenalnya ini akan menciumnya, tapi ternyata hanya memeriksa keadaan dahinya.
“Joha... (Syukurlah...)” Jeremy tersenyum.
Jeremy melepaskan dekapan tangannya dari dahi Geunyoung. Ia segera berbalik dan melangkah pulang, namun tiba-tiba seorang namja yang sudah ada di belakangnya sejak tadi menodongkan pistol dan ditempelkannya ujung pistol itu di dada kirinya.
Jeremy hanya terdiam, memandang ujung pistol yang menempel di dadanya itu dan perlahan memandang si pemilik tangan yang menggenggam pistol itu. Namja si pemilik pistol itu memandang tajam Jeremy.
Geunyoung terkesiap, “Donghae Sônbænim...?” ujarnya, mengenali siapa namja pemilik pistol itu.
***

To be countinued

***
Yup, Nate ga cuma share satu part, tapi dua part sekaligus untuk menebus kelalaian Nate yang jarang ngurus blog dan share FF.
Semoga, Reader-deul suka sama karya Nate. Nate ingatkan juga, sebagai Kpopers kita ga boleh saling bash juga fanwar, ya! Mau itu sama fandom Kpop atau bukan, kek, yang penting jangan, malu-maluin itu mah namanya^..
Nate senang dengan ending-nya yang mungkin membuat Reader-deul penasaran tujuh putaran!! ^^bener gak? enggak ya?^

OK, gamsahamnida, sudah membaca karya Nate ini!!^ Mari tinggalkan komentar~..^

Author

RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^