[FF] HE part 9

8:46 PM 0 Comments A+ a-


He
The Snowman, Snowheart...
(A special part for Kibum)
Author : RetnoNateRiver
Genre : Romance
Main Cast :     - SNSD Seo Hyun as Seo Joo Hyun
                   - SJ Kyu Hyun as Park Kyu Hyun
Other Cast :    - SJ Ki Bum as Kim Ki Bum
                   - SHINee Min Ho as Choi Min Ho
                   - etc...

***
Dengan senyuman yang belum hilang, Kyuhyun kembali menghadap ke para pelajar itu. Tanpa canggung, ia menggenggam tangan Joohyun, membuat Joohyun terkejut.
“Satu lagi yang ingin aku sampaikan...” kata Kyuhyun pada semua, “Aku menyatakan..., bahwa mulai sekarang..., Seo Joo Hyun...,


adalah yeojachingu-ku...”.


***
Annyeong, yeoreobun...!
Kali ini, FF He khusus untuk Kibum...! Sesuai dengan judulnya ‘He – The Snowman, Snowheart... (A special part for Kibum)’
Daripada nanti kelamaan nunggu, mending langsung dibaca, deh, FF ini...!
Happy Reading...!
Author

RetnoNateRiver


***

 “Mwo?!!” Jonghyun dan Taemin terdengar terkejut atas kata-kata yang Kyuhyun katakan.
Bagi Kibum, yang kini senyumnya hilang seketika setelah mendengar kalimat itu, kata-kata itu tak pernah diduganya akan diucapkan oleh Kyuhyun yang jelas-jelas tak menyukai orang seperti Joohyun, bahkan menjadikan yeoja itu sebagai budak kelompoknya.
Tak hanya dirinya, tapi seluruh pelajar yang mendengar kalimat tadi juga terkejut. Sekaligus mereka bisa dibilang tak terima dengan itu. Apalagi para yeoja-deul yang tadi ku bilang naksir dengan Kyuhyun itu, mereka ada di urutan no.1 yang menentang pernyataan tersebut.
Tapi Kyuhyun hanya tersenyum santai. “Aku tak mau mendengar kata keberatan lagi dari siapapun atas perkataanku itu...” katanya, “Yang penting, aku sudah memberitau kalian...”.
Kembali ruangan terdengar sedikit ribut.
Joohyun —yang juga terkejut— hanya bisa menundukan wajahnya lebih dalam. Ia tak pernah menduga sama sekali ini akan terjadi.
“Baiklah...” kata Kyuhyun, “Bubar...!”.
***
Key berlari tergesa-gesa, seakan baru saja melihat pencuri. Tapi bukan itu alasannya pasti. Ia rupanya membawa kabar.
Duduklah di ujung koridor lantai dasar sana seorang namja yang merupakan tujuan info yang Key bawa. Di samping namja itu, duduk Amber tengah mengobrol dengan namja itu. Ya, namja itu, siapa lagi kalau bukan Choi Min Ho.
Key sampai di dekat mereka, sementara mereka hanya memandang Key —yang terengah-engah— heran.
“Kau lari-larian?” ujar Minho.
“Ya! Apa kau habis lihat hantu di lab. IPA?” ledek Amber.
Key masih terengah, “Biarpun aku memang agak takut dengan hal-hal yang begituan..., tapi mereka itu gak muncul di siang bolong..., tau...!! Geurigo..., bukan itu alasanku ke sini...!!” ujar Key.
Amber hanya terkekeh, sementara Minho memandang Key serius, “Katakan, apa yang membawamu ke sini...?” tanya Minho pada Key.
“Berita buruk...!” kata Key.
“Uh? Berita buruk apa?” ujar Amber.
“Joohyun dan..., Kyuhyun Sunbaenim..., mereka...,” kata-kata Key terputus sejenak, “Umm..., Kyuhyun Sunbaenim...,”.
“Wae?” tanya Amber, tak sabaran.
“Katakan yang jelas...!” suruh Minho.
“..., Kyuhyun Sunbaenim bilang pada semuanya di Aula II tadi pagi kalau..., kalau...,” Key ragu, “kalau..., Joohyun itu..., adalah yeojachingu-nya..., sekarang...”.
“Mwo?!!” Amber yang tak terima itu bangkit berdiri.
Sementara Minho sendiri terlihat kaget dan sangat tak terima, namun ia hanya terdiam. Ialah yang paling tidak terima.
“Eh, eh, eh... Santai sedikit, dong!” tegur Key pada Amber yang bangkit itu, sudah seperti mau memukul orang lain.
“Ini benar-benar...” kata Amber, “Bagaimana tidak, masa ia menyukai pesuruhnya sendiri, sih?! Ini sama sekali tidak lucu!”.
“Aku juga tidak tau!” kata Key, “Sudah, kembali duduk sana!”.
Dengan tiba-tiba, Minho berdiri dan beranjak pergi dari dua temannya itu, membuat mereka membungkam dan memandang Minho heran. Ia pergi dengan rasa kesal dan tak terimanya itu.
“Ia kenapa?” bisik Amber.
“Jangan tanya aku...” kata Key.
***
Kibum hanya memandangi langit biru siang ini sambil bersandar pada pagar pembatas di koridor lantai dua.
“Kau sudah gila, ya...?!” terdengar suara Joohyun dari taman sekolah di bawah sana. Kibum pun mennoleh ke arah Joohyun yang sedang berbicara dengan seseorang yang menghampirinya.
Kemudian orang itu muncul, Kyuhyun. “Aku bisa melakukan apapun yang aku suka di sini...” katanya santai.
Melihatnya, membuat Kibum menghela nafas.
“Dan membuatku dibunuh oleh para siswi yang naksir padamu itu?!” lanjut Joohyun.
Kyuhyun hanya tertawa, “Mereka, kan, tunduk padaku... Kalau ku suruh mereka untuk tidak mengganggumu, pasti mereka akan menurut pada namja yang mereka taksir ini...!” katanya narsis.

“Rupanya..., ia bukan buatku...,

“Eo? Lantas aku harus mempercayaimu?!” kata Joohyun.

Aku memang bukan orang yang beruntung..., tak seperti orang itu...

“Oh, apa aku harus menunjukannya padamu?” lanjut Kyuhyun sambil melipat tangan di depan dadanya.

Walau aku kelihatan tidak sedih, tapi sebenarnya aku menangis dalam hati... Semua kejadian ini..., semuanya seakan menjauhiku...

“Kau ini...?” ujar Joohyun.
“Kau masih memanggilku ‘kau’?” kata Kyuhyun, kini mendekat pada Joohyun, “Bukankah aku sudah bilang, panggil aku Kyuhyun Oppa!”.
“Apa aku masih budakmu? Apa aku masih harus menuruti kata-katamu?” ujar Joohyun usil.
“Ani, kau bukan budakku. Tapi kau harus menuruti kata-kataku...,



sebagai namjachingu-mu...”.



Tanpa kata apa-apa lagi, Kyuhyun kembali mengecup bibir Joohyun. Kini, Joohyun kelihatannya menerimanya begitu saja, tak seperti sebelumnya.

Ya, aku hanya bisa memandangi mereka... Seperti itu...


Mungkin hatiku sudah terlalu mendingin dan membeku diterpa seribu tahun musim Salju... Sehingga tak ada satupun cinta yang mendekatiku sekarang...


Aku terlalu sakit...”— (Kim Ki Bum)

***
Flashback...
[Kibum POV]
Waktu itu, aku pernah tersakiti, lebih dari tiga kali... Itu tidak penting... Tapi yang terakhir kali adalah yang paling menyakitkan..., buatku...
Yeoja itu. Ya, yeoja-ku. Yeoja yang sangat manis dan dewasa. Yeoja yang sangat ku percayai dan aku kagumi kedewasaannya dalam bertindak. Yeoja idamanku.
Ketika suatu pagi kami berjanji untuk bertemu di taman Namsan sambil ku bawakan sekotak coklat, yang sangat disukainya, disertai senyum dariku yang tak pernah hilang hanya untuknya...,
rupanya ia tak sendiri di situ...
“Chagi, geu sarameun nuguya...?” tanya orang yang menggandeng tangannya itu sambil menatapku, seorang namja yang tak pernah ku kenal sebelumnya.
Yeoja itu, yeoja-ku, hanya memandangiku. Kemudian ia menjawab pada namja itu,


“Mollayo...” katanya.



Senyumku hilang, heartquake. Hatiku membeku mendengar ucapannya, yang harusnya bilang bahwa aku adalah namjachingu-nya. Tapi...?
Bahkan namja itu memanggilnya dengan sebutan itu, aku tak yakin...
“Oppa, kaja...” ajaknya.
“OK, Chagi...!” namja itu kemudian menarik lembut yeoja itu pergi dari hadapanku.
Dan yeoja itu..., hanya menuruti ke mana namja itu membawanya pergi, tak ada kontak apapun lagi denganku.
Rupanya, ia bukan buatku, ia malah memilih yang lain.


Tidak tau perasaan orang...


Lalu, ada lagi?
Ya, masih... Apa aku harus menceritakannya padamu..?


Baiklah...

Yeoja yang satu ini, biarpun umurnya di bawahku, tapi ia sangat dewasa dan cantik. Kini, ia penggantinya. Aku mempercayainya sepenuhnya, sama seperti ia mempercayaiku.
Tapi semalam, tingkahnya aneh. Ketika ku ajak ia berjalan-jalan dan makan, ia terlihat menjadi pendiam, tak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Wajahnya begitu sendu, seakan menyimpan sebuah masalah besar.


Dan pagi ini, misteri itu terjawab.


“Hati-hati, ya...!” pesan Ibuku pada Ibunya.
Ku lihat dari ambang pintu rumahku, rumahnya itu ada di seberang rumahku. Terlihat mobil pribadi keluarganya sudah siap melaju jauh dengan berbagai barang di rumahnya yang diangkutnya.
Mataku berpindah memandang ketika yeoja-ku itu menghampiriku, “Oppa...” ku dengar suaranya bergetar.
Aku tersenyum padanya, “Kau..., akan...,”.
Air matanya jatuh, “Pumo-ku menyuruhku..., untuk melanjutkan pendidikanku di...,”.
Aku segera memeluknya erat, “Arasseo...” kataku, “Hati-hati, ya... Kau harus belajar dengan giat di sana...”.
Ku rasakan pundakku basah, ia menangis, “Aku cuma mau di Korea, Oppa... Karena Oppa...” ujarnya, “Aku tak mau pindah ke Jepang..., karena Oppa...”.
“Pendidikanmu adalah yang utama...” kataku, “Sekarang, kau harus melupakanku dan fokus pada pendidikanmu..., karena aku... Ara...?”.
“Chagi...!” Ibunya memanggil.
Aku melepas pelukannya. Ku lihat memang ia menangis. “Umma-mu memanggil...” ku usap air matanya, “Sudah waktunya...”.
“Tapi Oppa...,”.
Aku kembali tersenyum padanya, “Pergilah...” kataku, mengikhlaskannya, “Di luar sana ada banyak yang jauh lebih baik..., dariku...”.
Ia masih memandangku.
“Pergilah, Chagi...” kataku.
Dengan sejuta rasa keraguan, ia menjauh dariku, berjalan mundur beberapa langkah hanya untuk memandangku buat yang terakhir kali.
Kemudian, ia menghampiri Ibunya yang sudah menunggunya di dekat mobil. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil, satu keluarga itu memberi ucapan pamit kepadaku dan Ibuku, dan yeoja itu...,
ia menangis lagi..., terlihat dari jendela mobilnya...


Lagi, hatiku membeku, tanpa api unggun penghangat yang kini pergi dan mungkin ia takkan pulang lagi. Meski memang sakit, tapi aku harus menerimanya.
Rupanya, ia juga bukan buatku...


Apa ini belum cukup?


Baiklah, ini ceritaku yang paling baru.


Kemarin..., jika saja aku lebih berhati-hati..., pasti ini takkan terjadi..., dan Ia pasti takkan merebutnya dariku.
Mobil hitam ini telah terguling beberapa kali dengan posisi akhir terbalik. Tapi aku dan ia, yeoja-ku yang terpaut dua tahun lebih tua dariku itu, berhasil keluar dari mobil ini.
Kecelakaan. Mobil yang menabarak mobilku ini melarikan diri. Ini benar-benar...
“Bangunlah...! Apa kau dengar aku...?!” ku guncangkan tubuhnya yang ada dalam pangkuanku itu.
Wajah, tangan dan kaki kami memang teraliri darah karena luka-luka ini.
“Chagi-ya...!!” panggilku sekali lagi, tapi ia masih terpejam dan tak menjawab.
Aku hampir putus asa, aku menitikan air mata. Ini benar-benar genting, sedangkan aku tak mampu melakukan apapun.
“Apa di sini ada orang?!!!” teriakku, “Aku mohon, tolong kami!!!” teriakku kembali, tapi rupanya memang tak ada orang di sekitarku.
Namun ku rasakan, tangannya, yeoja-ku itu, menyentuh pipiku. Matanya terbuka, namun nafasnya tersengal.
“Chagi...” ku genggam tangannya itu, “Aku mohon, tunggu sebentar lagi... Aku akan menyelamatkanmu...”.
“Oppa...” panggilnya lirih, begitulah ia memanggilku.
Dan kemudian, tangannya tak mampu menyentuh pipiku lagi, aku kembali kehilangan sorot matanya yang teduh itu. Ini tidak mungkin...
“Chagi...” panggilku, mungkin kali ini aku benar-benar menangis.
Aku mendekapnya, benar-benar mendekapnya. Tak ku rasakan lagi hangat tubuhnya dan tak ku dengar lagi nada nafasnya. Ini benar-benar tidak mungkin...


“WAE?!!!”


Aku menghadiri upacara pemakamannya hari ini, memandang wajah manisnya dalam pigura yang dibawa Ibunya itu. Walau aku benar-benar merasa kehilangan, tapi ku rasa Ibunya lebih merasa kehilangan dariku.
Aku kembali sakit, aku tak menerima ini sepenuhnya.
Tapi apapun kata hatiku, ia takkan kembali dalam pelukanku seperti sediakala. Senyumannya, kehangatannya, keceriannya yang sangat nampak saat kami bermain ski, keramahannya..., semua itu takkan kembali...
Ketika pemakaman usai, salju turun.
Ya, aku harus menikmati musim salju ini sendirian, apalagi hatiku juga sedang dilanda musim salju, kembali beku tanpa api unggunku yang kini pergi dan takkan pernah lagi ku lihat.
Tak ada lagi keceriaan saat kami bermain ski bersama, kali ini aku harus bermain sendirian. Tapi aku tak mau main, karena aku sendirian.
Dan rupanya, ia lagi-lagi juga bukan buatku.


Sekarang...

Yeppeuda...” batinku, melihat yeoja yang berada di ruang guru itu, Seo Joo Hyun namanya.
Inilah awal aku menyukainya. Walau memang usianya di bawahku, aku terpesona akan dirinya. Aku menyukainya, aku ingin memilikinya.
Aku mengajaknya mengobrol dan makan bersama. Kami sering bertukar cerita sekarang. Tapi rupanya, ada sedikit pengganggu.

Lantas, Kibum menggenggam tangan Joohyun, membuat yeoja ini terkesiap. “Ini tak bisa dibiarkan, Joohyun-ah...” katanya, “Cepat ikuti aku...!”. Ia kemudian menarik Joohyun pergi dari situ dengan sorak-sorakan murid-murid itu. Tapi ia tak peduli, ia pun juga tak peduli dengan Joohyun yang memanggil-manggilnya.
Namun, baru tiga langkah, Kibum terhalang oleh Kyuhyun yang baru saja datang. Keduanya saling berpandangan. Apalagi Kyuhyun menatap Kibum dengan tatapan yang mematikan. Sementara Joohyun hanya terdiam memandangi dua orang ini. Dan sorak-sorakkan itu lenyap.
Kyuhyun melirik ke arah Joohyun, kemudian kembali menatap tajam Kibum, “Apa yang kau lakukan pada Joohyun, huh?!” tanyanya dingin pada Kibum.
Joohyun mencoba meluruskan keadaan, “Ya! Dia ini...,”.
“Aku minta, kau jawab aku!!” protes Kyuhyun pada Kibum, membuat Joohyun terpaksa membungkam mulutnya dalam-dalam.
Kibum masih memandangi Kyuhyun, “Kau..., kelompokmu..., kelompok Minho..., dan mereka...,” katanya, “kalian semua sama saja...”.
Kemudian, Kibum melanjutkan langkahnya yang tertunda masih dengan Joohyun dalam genggamannya. Ia berlalu melewati Kyuhyun yang masih terpaku di tempatnya.
“Subaenim! Lepaskan tangannya!” perintah Kyuhyun pada Kibum.
Kibum tak memperdulikanya.
“Lepaskan dia, Kibum-ah!!!” bentak Kyuhyun.
Kali ini, langkah Kibum terhenti. Joohyun kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Kibum.
“Lepaskan saja aku, Oppa...” kata Joohyun pada Kibum, membuat Kibum memandangnya.

Joohyun berjalan ke arah Kyuhyun dengan berat hati.
Kyuhyun kemudian berbalik ke arah Joohyun. Ia menatapnya dalam, “Neon paboya...” ujarnya dingin pada Joohyun.

Ya, Park Kyu Hyun...
Ini benar-benar...

[Author POV]
Flasback end...
***
Dan kini..., ia berhasil mendapatkan Joohyun...” batin Kibum.
Kyuhyun baru melepaskan Joohyun, kemudian Joohyun kelihatan terdiam. Ia bingung apa yang harus ia lakukan setelahnya.
“Wae...?” tanya Kyuhyun usil pada Joohyun, “Kok, kau tidak marah?”.
“Marah?” ujar Joohyun, “Memang selama ini aku begitu...?”.
“Oh, berarti, kau juga menyukaiku, kan?” tebak Kyuhyun asal.
Joohyun terbelalak, “Mwo?!” ujarnya, hanya membuat Kyuhyun tertawa.
Mungkin, aku memang sudah tak layak lagi menerima cinta dari semua yeoja yang ada di dunia ini...” Kibum menghela nafas.
Ia kemudian beranjak dari sandarannya, seulas senyum tipis menghiasi wajahnya. Kibum kemudian berlalu, pergi menjauhi tempat itu, tempat ia melihat Kyuhyun dan Joohyun yang ada di bawah sana.
*HE*
To be Countinued
*HE*
Kyyaaaa....!
Ottaeyo, Reader-deul? Kurang asyik kah? Ottae, ottae, ottae? ^^thor, sabar, thor...!^
Hm.., Nate lupa memberitau kalau ada bagian dari FF ini yang terinspirasi dari VCR Super Show 4... VCR sebelum lagu Storm... ^^pada tau gak ya?^
At all..,
Yeoreobun, gomapseumnida!!

Author : RetnoNateRiver

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^