[FF] I Can't be, Without You (ONESHOT)

1:07 AM 0 Comments A+ a-


Assalamualaikum!
Pertama-tama, Nate mau minta maaf karena telat nge-post FF tanggal 6 Mei yang Nate janjikan tempo hari. Karena sepanjang hari itu mood Nate kurang bagus, jadi penulisannya belum terselesaikan sampai hari itu datang dan menjanjikan hari Jumat atau Sabtu baru bisa di-post.
Kemudian, Nate kembali ngaret karena terjadi kesalahan teknis, sehingga FF ini baru bisa di-post hari ini. 죄송합니다. Joesonghamnida. (Mohon maaf.)
Inilah FF 6 Mei yang Nate janjikan! ^^hehehe, ini FF malah berjudul ‘6 Mei’? hahahaha^ Enggaklah, judulnya bukan 6 Mei.^

Oya, Nate menyantumkan lagu-lagu yang harus di-play di dalam FF ini. Lagu-lagu itu adalah
(di atas ada link download lagunya. untuk men-download, klik link-nya, tunggu 5 detik, klik SKIP ADD alias tombol warna kuning di pojok atas, dan selamat men-download!!^)
Tapi ini gak wajib, kok. Semau Reader-deul aja mau diputer atau enggaknya. Ini cuma sebagai bumbu penyedap aja, kok! #ellah ^^

Eh, ada nyelip-nyelip lagunya Boyfriend? Gak papalah ya. Secara, Boyfriend adalah bias Nate juga ^^boygroup favorite, setelah SuJu!!^. Nate menyantumkan lagu ini, karena setiap kali Nate mendengarkan lagu ini Nate ingat akan Nate dan semua orang-orang yang sedang menunggu kepulangan Yesung.

OK, daripada kelamaan nungguin Nate selesai ngetik (ngomong), mending silahkan baca FF Nate yang satu ini, dan jangan lupa komen seikhlasnya dari kalian semua!!!^
YeMoon, LOVE YA!
***
[ Super Junior Yesung – Gray Paper]
— Video —
안녕!! Annyông!! (pada kamera) Hei, kameranya sudah menyala~..!” seru gadis itu.
안녕!! Annyông!!” lelaki itu akhirnya berpusat pada kamera yang tengah merekam mereka.
“Kalian tau apa yang membuatku bahagia sekarang?”.
“Kau bilang apa? ‘Kalian’? —memang akan ada orang yang mau menonton video ini kelak selain kita berdua?”.
“Anggap saja ‘kalian’ itu kameranya— Kalian tau apa yang membuatku bahagia saat ini?” gadis itu mengulang kalimatnya lagi.
“Apa? Apa? 말해봐요.. Malhæbwayo.. (Kasih tau aku..)”.
“Aku baru saja pulang ke Korea setelah mengenyam pendidikan di tempat yang begitu jauh dari rumahku...” gadis itu tersenyum.
“Hanya itu?” lelaki itu mengulum bibirnya, menggerutu.
Sekilas gadis itu memandang orang di sampingnya, “, ? Ah, wæ? (Loh, kenapa?)”.
Lelaki itu sengaja membuang muka, terlihat sangat lucu sehingga gadis itu hanya mampu menahan tawanya.
“Baiklah.” ujar gadis itu, “Aku tau betapa sedihnya Oppa hari itu —미안해... mianhæ... Sekarang, kan, aku sudah pulang dan bertemu dengan Oppa lagi, jadi aku harap Oppa tidak marah lagi padaku...”.
Ketika gadis itu memusatkan pandangan pada kamera, lelaki itu mencuri-curi waktu untuk melirik gadis tersayangnya itu.
“Tapi ada hal yang lebih membahagiakan lagi selain yang ku sebutkan tadi.” ucap gadis itu pada kamera di depanya, “Yaitu, aku bertemu dengan Oppa yang paling ku rindukan...”.
Lelaki itu masih memandangi gadis itu, bahkan ketika gadis itu menoleh padanya pun ia masih memandanginya. Sehingga lelaki itu hanya bisa berbuat aneh —salah tingkah— karenanya.
Gadis itu tau betul kalau lelaki itu tersipu. Kelihatan lucu seperti biasanya. Senang rasanya bisa membalas kelakuan lelaki itu yang lebih sering membuatnya tersipu.
오빠, 사랑해!! Oppa, saranghæ!!” seru gadis itu setelah berhasil mencium pipi lelaki itu, lalu berlari begitu saja. Nakal.
Lelaki itu awalnya hanya bisa terdiam, tapi ini hal yang ia sukai —gadis itu pasti mengajaknya bercanda.
“Dasar...!” geram lelaki itu dengan maksud bercanda, “Akan ku kejar kau sampai tertangkap!!”.
“Oppa tidak akan bisa menangkapku!!” terdengar seruan gadis itu yang jauh dari kamera.
“Ya!! Kembali!!”.
Itu seruan terakhir, sebelum akhirnya lelaki itu mematikan kameranya, dan video berakhir.



I Can’t be, Without You

Author              :         RetnoNateRiver
Genre               :         Romance
Main Casts       :         - Moon Geun Young
                                   - Super Junior Yesung
Other Cast        :         - Boyfriend Donghyun
                                   - Kim Jong Jin



[ Super Junior Yesung – Gray Paper]

May 5th, 2013...,
“♪♪” tiba-tiba saja ponsel gadis itu, Geunyoung, berdering pagi itu.
여보세요? Yôboseyo? (Halo?)” Geunyoung segera mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelponya.
“Kau sudah bangun?” terdengar suara lelaki itu dibaliknya, Jongwoon.
Geunyoung segera terperanjat dan terbangun sepenuhnya dari tidurnya. “Jongwoon Oppa?!”.
***
Geunyoung, atau nama lengkapnya Moon Geun Young, tinggal di sebuah rumah sederhana bersama Ibu dan adik sepupu laki-lakinya, Kim Dong Hyun.
Donghyun memang sudah lama tinggal bersama Geunyoung dan Ibunya semenjak pemuda itu kehilangan ayahnya yang meninggal karena kebakaran pabrik sewaktu ia kecil. Bencana itu jugalah yang harus membuat Geunyoung ikut kehilangan ayahnya.
Donghyun memang tidak punya keluarga lagi, Ibunya meninggal sewaktu melahirkanya sementara ia anak tunggal. Ibunya adalah adik dari ayahnya Geunyoung. Ayahnya Geunyoung adalah sahabat baik ayahnya Donghyun sejak kecil, sampai akhir hayat mereka.
? Mwo? (Apa?)” Donghyun menjeda makanya, “Jongwoon menelponmu? Secara tiba-tiba?”.

Moon Geun Young

“Ssshh...!” Geunyoung menyuruh Donghyun untuk menjaga omonganya.
“Apa? Kenapa? Nuna, ini mencurigakan!” Donghyun menegaskan, “Kalau dihitung-hitung, Jongwoon sudah menghilang selama kurang lebih dua bulan, lalu ia tiba-tiba muncul dan mengajakmu pergi?! Sebenarnya, apa yang ia mau?!”.
“Donghyun-ah.” tegur Ibu, “Jangan terlalu over protective! Lihat, kan? Kau malah berprasangka buruk pada orang lain!”.
“Tapi, Ômôni, bukankah ini sangat tidak wajar?” Donghyun membela diri. Memang karena sudah dirawat cukup lama oleh keluarga Geunyoung semenjak ia tidak memiliki orangtua lagi, Donghyun mulai terbiasa memanggil Ibu Geunyoung dengan panggilan tersebut.
Kim Dong Hyun
“Aku yakin Jongwoon Oppa bukan orang yang seperti itu...” Geunyoung melahap sarapannya. “Pasti ada alasan kenapa ia menghilang tiba-tiba dan muncul kembali tiba-tiba —juga.”.
알았어! Arassô! (Baiklah!)” Donghyun mulai jengah, “Kalau ia menyakitimu —Nuna— aku takkan memberinya ampun!!”.
“OK, terserah kau saja.” kata Geunyoung, “Tapi, Donghyun-ah, aku yakin ia bukan orang seperti yang kau kira.”.
“Lihat saja nanti...”.
Donghyun menyudahi sarapanya —yang memang dasarnya sudah habis itu. Ia segera meletakan alat makan yang dipakainya itu ke tempatnya.
Geunyoung hanya menghela nafas.
***
Jongwoon menjemput Geunyoung. Tak butuh waktu lama, setelah Geunyoung berpamitan pergi, keduanya segera berangkat.
 “Kita mau ke mana?” tanya Geunyoung begitu ia dan Jongwoon sedang dalam perjalanan.
몰라요... Nan mollayo... (Aku gak tau...)” jawab Jongwoon singkat.
Geunyoung memandanginya heran. “Jadi, kita berjalan tanpa arah tujuan? Kau belum menentukan ke mana kita akan pergi?”.
“Aku akan membawamu ke tempat yang aku mau.” Jongwoon tersenyum. “Ngomong-ngomong, kau sudah sarapan?”.
Geunyoung hanya memandangi Jongwoon tanpa menjawab, tapi Jongwoon lantas berkata.
“Aku akan membawamu makan.”.
***
Ini hanya sebuah kafe kecil, di sinilah Jongwoon mengajak Geunyoung makan. Jongwoon hanya memesan 2 pancake dan 2 cappucino untuknya dan Geunyoung.
“Kau pemilik kafe, tapi kau membawa kita makan di kafe orang.” canda Geunyoung ketika Jongwoon tengah mengaduk cappucino-nya.
“Aku sering makan di kafe orang untuk mengetahui seberapa bagus kafe mereka. Sekaligus mengetahui keunggulan dan kelemahan kafe mereka, agar kafeku memiliki kualitas yang lebih bagus.”.
Geunyoung tersenyum takjub —hatinya berkata, ia tidak salah memilih namja. Ia lalu berkata sebelum menyeruput cappucino-nya. “Wow, gagasan yang hebat! Belum pernah terpikirkan olehku!”.
Geunyoung meletakan cangkirnya kembali, namun kemudian ia menyadari bahwa Jongwoon tengah terkikik melihatnya.
, ? Ah, wæ?” tanya Geunyoung risih.
“Kau pikir itu lucu?” Jongwoon masih terkikik, “이제 드라마에서 아닌데. 몰라는 처럼? Ije deurama-esô aninde. Mollaneun gôt chôrôm? (Sekarang ini bukan drama. Dan kau pura-pura tidak tau?)”.
뭐예요? Mwoyeyo? (Apanya?)” Geunyoung masih heran.
이봐, 이봐... Ibwa, ibwa... (Dengarkan...)” Jongwoon mulai serius, tetapi senyumanya tetap menemani. “Kau pikir membiarkan krim di atas bibirmu itu lucu? Seperti yang terjadi di drama?”.
Geunyoung tersentak. Baru tersadar kalau ada krim tertinggal di salah satu bagian wajahnya. “몰랐어... Mollassô... (Aku tidak tau...)”.
Ketika Geunyoung akan membersihkan bagian yang kotor itu dengan lengan bajunya yang panjang, Jongwoon segera menahannya —wajahnya serius nan dingin.
Gadis itu merasa, kalau ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya,

“Nanti kotor...” ujar Jongwoon dalam.

jadi Geunyoung segera memejamkan matanya karena rasa ngeri yang langsung naik ke ubun-ubun. Ia cuma bisa mematung karena rasa takut itu.
Tanpa disadari, ternyata dugaanya salah. Ia kemudian merasakan serat-serat halus membersihkan bagian bibirnya itu.  Ternyata setelah ia membuka matanya, ia mendapati Jongwoon tengah menggunakan sapu tangan putihnya untuk membersihkan krim itu.
Setelah bersih, Jongwoon kembali ke posisi duduknya. Ia melipat rapi sapu tanganya lalu menyimpannya di salah satu saku jaketnya.
Tapi ketika ia beralih memandang Geunyoung dan melihat ekspresinya, ia tertawa.
“Kau bahkan sampai keringat dingin!!”.
Geunyoung sadar kalau ia ditertawakan. “Ku pikir Oppa akan...,”.
“Menciummu? Untuk membersihkan krim di bibirmu, seperti apa yang Hyun Bin lakukan pada Ha Ji Won di drama mereka?” sela Jongwoon segera secepat kilat ditambah dengan wajah yang mengejek. “Baru begini saja kau sudah ngeri, apalagi kalau aku sungguh-sungguh melakukanya?!”.
“Perasaan seperti itu, kan, wajar dirasakan yôjadeul! Maklumi saja! —aku juga pernah seperti itu, dan Oppa tau itu!” sergah Geunyoung.
“Oh, jadi aku harus melakukanya lagi sungguh-sungguh?”. Jongwoon mendekatkan wajahnya ke arah Geunyoung secara tiba-tiba dengan wajah serius, sengaja meledek dan membuat kaget Geunyoung.
하지마! 하지마! Hajima! Hajima! (Jangan! Jangan lakukan!)” sergah Geunyoung spontan.
Jongwoon kembali tertawa melihat respon itu. Bahkan ia masih bisa tertawa meski ia sudah terduduk dan beberapa detik telah berlalu. Kali ini ia berhasil membuat Geunyoung tersipu malu untuk kesekian kalinya, seperti biasanya.
“Aku hanya bercanda, kok! Hahahaha!” susul Jongwoon kemudian, yang segera membuat Geunyoung menekuk wajahnya —walaupun sebenarnya ia malu.
***
Saatnya mereka pergi. Keduanya segera beranjak dari kafe itu, entah mau ke mana lagi Jongwoon akan membawa mereka pergi.
Tapi, “Brukk..”. Geunyoung terjatuh ketika hendak berjalan menuju mobil Jongwoon. Kebiasaan buruknya terjadi lagi.
괜찮다? Gwæchanhta? (Kau baik-baik saja?)”  Jongwoon yang —hampir bisa disebut— panik itu segera membantu Geunyoung berdiri.
Geunyoung kesulitan menjawab. Kali ini lukanya agak lebih berat ketimbang hari-hari biasanya. Dan lagi-lagi luka itu ada di bagian kaki.
***
Terpaksa perjalanan mereka tertunda.
Siang itu, setelah pergi mencari obat luka ringan —dan plester pastinya— Jongwoon kembali ke mobilnya. Kali ini bukan kursi depan yang ditujunya, tapi kursi belakang.
Begitu pintunya dibuka, kita bisa menemukan sosok seorang gadis yang tengah meringis menahan sakitnya luka di kakinya.
Gadis itu, Geunyoung, bertemu pandang dengan Jongwoon. Lantas Jongwoon tersenyum mendapat pandangan itu. Lekas ia masuk ke dalam mobil.
“Sini kakimu...” suruh Jongwoon pada Geunyoung.
“Uh?” Geunyoung melewatkan perkataan Jongwoon.
Dengan perlahan, lelaki itu memangku kaki Geunyoung yang terluka itu. Ia kemudian hanya berdecak melihat luka itu.
“Kau kebiasaan...” ujar Jongwoon, sembari membuka kemasan obat luka yang dibelinya tadi.
Ia lalu mengambil kapas yang sudah tersedia di mobilnya bersama beberapa obat-obatan lain.
“Kalau tidak ada aku, bagaimana jadinya?” lanjutnya.
“Tanpamu, tentu aku tidak bisa...” ujar Geunyoung singkat.
Jongwoon hanya tersenyum sembari melirik gadis itu sedikit, kemudian ia mengobati luka itu. Geunyoung hanya meringis, mungkin ia bisa menangis kalau ia mau. Tapi ia menahan air matanya.
울고 싶다? Ulgo shipta? (Mau menangis?)” tebak Jongwoon sembari memandang Geunyoung tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Hanya terdiam dan memandang Jongwoon, itulah yang bisa Geunyoung lakukan saat ini. Jongwoon kembali mengobati luka itu. Dan kali ini, terdengar sesekali Geunyoung menahan tangisnya yang sesenggukan karena kali ini sakitnya lebih terasa. ^^sesenggukan ini kalo gak salah bahasa Jawa, hehehe :D ^
아프지? Apeuji? (Sakit, ya?)” tebak Jongwoon lagi, kali ini dengan nada meledek.
“Sudah tau sakit malah bertanya!! —바보. Pabo. (Bodoh.)” omel Geunyoung, meski ia sedang menahan air matanya.
Jongwoon kembali tertawa melihat tingkah Geunyoung. Melihatnya sangat membuatnya gemas. Bahkan sempat-sempatnya Jongwoon mencubit pipi gadis di samping kananya itu.
Sekarang, Jongwoon tinggal melapisi luka itu dengan plester yang tadi dibelinya. Setelah tertutup sempurna, Jongwon mengusap plester yang menutupi luka itu lalu meniupnya sekali.
Dan Geunyoung menyeletuk. “Aku, kan, bukan anak kecil.” .
Mendengar itu, awalnya Jongwoon memang hanya terdiam, tapi begitu mengerti alasan Geunyoung berujar demikian ia kembali tertawa.
“Jadi kau pikir kau sudah dewasa, ya? Makanya kalau kau terluka, lukamu tidak usah diusap atau ditiup supaya cepat sembuh?” Jongwoon masih bisa tertawa.
Lama kelamaan, kalau dipikir-pikir memang logika itu lucu juga, pikir Geunyoung. Ia kemudian terkekeh ketika Jongwoon masih mentertawakan perkataanya.
Jongwoon kemudian berujar, “Tapi kau tetap harus berte...,”.
“Terimakasih!!” sela Geunyoung segera.
***
[ Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
Sesekali sambil mengendarai mobil, Jongwoon memastikan keadaan Geunyoung yang duduk di kursi belakang lewat cermin persegi panjang yang menggantung itu.
Geunyoung tau kalau ia diperhatikan, ia risih. “Oppa, kenapa kau melihatku?”.
Jongwoon sedikit tersentak, “? Ng? (Uh?)”, matanya berkedip karena sentakanya.
“Fokuskan pandanganmu ke depan...”.
“Kau tidak apa-apa, kan, di belakang?”.
Geunyoung menghela nafas. Ingin rasanya tersenyum bahagia karena pertanyaan itu, tapi Jongwoon masih memperhatikanya, agak malu rasanya kalau ia tersenyum secara gamblang saat itu juga.
“Aku janji kalau kenapa-napa, aku akan memanggilmu... Seperti biasanya saja...” katanya kemudian.
Jongwoon merasa tidak yakin, namun ia percaya pada Geunyoung. “Baiklah.” katanya yang kemudian kembali terfokus ke depan.
Di saat itulah Geunyoung tersenyum bahagia —Jongwoon begitu perhatian padanya. Tapi tanpa disadari di saat itu juga Jongwoon melihat Geunyoung tersenyum karena sifatnya. Jongwoon ikut tersenyum.
[ Super Junior Yesung – Gray Paper inst]
***
Tempat itu dipenuhi banyak permainan, dan salah satu permainan yang paling umum dijumpai dan hampir disukai semua orang adalah bianglala itu.
“Karena kau sedang terluka, jadi kita tidak bisa naik wahana yang terlalu ekstrim...” kata Jongwoon ketika ia memakirkan mobil.
Ia lalu keluar dari mobilnya, sementara Geunyoung menghela nafas mendengarnya. Sayang sekali, ketika Jongwoon ada waktu untuknya buat bermain dan bersama-sama malah terhalang luka akibat kecerobohanya yang sudah menjadi kebiasaanya ini.
“Klek.” pintu di samping kanan Geunyoung terbuka, dan ia menemukan Jongwoon di depan pintunya.
“Ayo.” ajak Jongwoon, sembari menyodorkan sepatu wanita berhak rendah itu untuk Geunyoung di tanganya.
Betapa perhatianya ia sampai menyimpan sepatu seperti itu untuknya, batin Geunyoung. Ia takjub akan Jongwoon, hatinya berkata ia takkan bisa apa-apa tanpa Jongwoon.
“Kau..., menyimpan sepatu seperti ini Oppa?” Geunyoung memandang Jongwoon.
“Aku tau kebiasaanmu itu dan akibat yang akan ditimbulkannya... —kalau kau jatuh dan kakimu terluka, tidak mungkin kau akan memakai sepatu berhak tinggi seperti biasanya.”.
Geunyoung tertunduk, wajahnya memerah. Tapi ia lekas memakai sepatu itu, ia tidak mau Jongwoon menunggunya terlalu lama. Jongwoon juga ikut memakaikan sepatu itu untuk yôja di depannya ini.
Tak lupa seusainya, Jongwoon membantu Geunyoung bangkit.
“Lebih nyaman, kan?” Jongwoon tersenyum.
Geunyoung mengangguk. “고마워요... Gomawoyo... (Terimakasih...)” ujarnya kemudian.
Ia menatap namja itu yang sekarang tersenyum bahagia, dan sinar matahari menyilaukan pandanganya, membentuk pemandangan yang takkan ia lupa. Dalam hatinya, ia tak ingin melepas namja itu dari genggamanya.
***
[Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
Di senja itu, ayah dan anak itu berjalan-jalan di pinggiran sungai besar ini. Tetapi, anak itu,
“Brukk!”, terjatuh, seperti biasanya.
“Aduh, hati-hati kalau berjalan... Kamu ini kebiasaan...” sang ayah menghanpiri anaknya yang hanya bisa meringis itu.
“Appa... Sakit...”.
“Ayo, naik ke punggung Appa. Kita harus segera pulang dan mengobati lukamu..., ya?”.
“Hm!”
***
Ayah dan anak itu kedatangan sanak saudara mereka.
“Namamu Kim Dong Hyun, kan?” tanya Ayah pada bocah lelaki itu, keponakanya.
“Iya, Paman!” jawab bocah itu.
“Kau harus menjaga kakak sepupumu yang cantik ini dari namjadeul jahat di luar sana, OK? Aku tau kau pasti sehebat ayahmu —kau tau, dia sahabat terbaikku!”.
“Baik!”.
“Appa terlalu berlebihan.” keluh anaknya.
“Tidak apa, ini adalah amanat yang harus aku jalankan!” kata bocah itu semangat.
“Nah, benar, kan?” bela sang Ayah, “Kalau Appa tidak ada, Donghyun yang akan menggantikan Appa untuk menjagamu..”.
Anak itu hanya bisa menunduk. “Appa..”.
***
“Anakku yang paling cantik ini sudah besar.” ujar sang Ayah.
“Anak Appa memang cuma aku, kan?” celetuk anaknya.
“Iya, baiklah... Tapi, kalau kau dewasa nanti, kau harus berhati-hati memilih pendamping hidupmu, ya!”.
“Yôbo, dia, kan, masih kecil, kenapa kau beritau dia hal seperti itu?” tanya Ibunya.
“Bukan apa-apa, kok. Aku hanya takut tidak sempat memberitau ia akan hal ini...”.
Anak itu hanya bisa memandangi Ayahnya.
“Aigoo. Kenapa kau berkata seperti itu?” tegur Ibu.
“Hahaha! Kau ini penakut, ya?” ledek ayah.
***
“Aku ingin sekali melihat anakku satu-satunya ini bahagia. Aku ingin selalu ada untuknya sampai ia menikah, memiliki keluarga yang bahagia, memiliki anak, bahkan sampai usiaku berakhir.”.
Anak itu mendengar percakapan kedua orangtuanya yang sedang bersantai di balkoni kamar mereka, dan anak itu mendengar perkataan Ayahnya itu.
“Kenapa kau berkata seperti itu terus?” keluh Ibu.
“Ah, tidak, kok. Aku cuma sedikit merenunginya...”.
“Yôbo...”.
Sekilas, anak itu melihat kedua orangtuanya yang berada di balkoni itu lewat celah pintu. Dan ia memutuskan pergi ke kamarnya setelah terlalu banyak mendengar obrolan pribadi orangtuanya.
[ Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
***
Jongwoon memutuskan untuk mengajak Geunyoung menaiki satu wahana yang menyenangkan, tapi tetap aman untuk Geunyoung, bahkan untuk semua orang sekalipun : bianglala.
Di dalamnya, mereka sedang asyik menonton beberapa video yang mereka buat sendiri, termasuk video di atas.
Jongwoon memang sengaja men-copy hampir semua video yang dibuat olehnya dan Geunyoung ke gadgets-nya, seperti ponsel, I-pad, laptop, juga flashdisk, dan lain-lain. Ia cuma mau ketika ia ingin melihat Geunyoung, video itu selalu ada di mana pun ia berada, karena di situ ada rekaman dirinya bersama Geunyoung.
Semua video itu selalu mengobati hatinya ketika ia merasa bosan, marah, sedih, dan lain-lain —singkat kata, bad mood.
Tak hanya di gadgets-nya sendiri, Jongwoon juga sengaja men-copy video-video itu ke hampir semua gadgets yang Geunyoung miliki. Biasanya, Jongwoon men-copy-nya tanpa sepengetahuan Geunyoung, tapi Geunyoung tidak keberatan akan hal itu.
Ketika ada bagian yang lucu dari video yang diputar, mereka tertawa bersama-sama, menyadari betapa lucunya saat itu. Mereka menikmati dunia mereka sendiri yang terekam apik di situ.
..., 근영아... Jô..., Geunyoung-ah... (Mm..., Geunyoung...)” panggil Jongwoon, seusainya semua video habis ditonton mereka.
? Ne? (Iya?)” jawab Geunyoung yang duduk berseberangan dengan Jongwoon.
아름답지? Areumdapji? ((Pemandangannya) Indah, kan?)” Jongwoon melempar pandangan keluar.
Geunyoung menirunya. “, 아름답다. Hm, areumdapda. (Ya, (pemandangannya) indah.)”.
이건 진짜 아름답지만 아름답다. Igôn jinjja areumdapjiman nô dô areumdapta. (Pemandanganya sangat indah, tapi kau lebih indah.)”.
[ Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
Mendengarnya, Geunyoung hanya tersenyum. “Oppa ini pintar mengambil hati orang...”.
“Eh, siapa bilang? Aku serius, kok!” kata Jongwoon.
Ia kemudian meraih pipi Geunyoung dengan tangan kanannya.
“Di dunia ini, tidak akan ada lagi yôja sepertimu... Makanya, aku tidak mau menyia-nyiakanmu...” kata Jongwoon, tersenyum.
“Oppa juga— Tidak akan ada lagi namja sepertimu, makanya aku sangat menyayangimu.”. Yôja itu ikut tersenyum.
Jongwoon melepas sentuhanya. “완벽헤... Wanbyôkhæ... (Kau sempurna...)”.
완벽해... An wanbyôkhæ... (Aku tidak sempurna...)”.
“Itu bagimu, tapi tidak bagiku.”.
Dengan cepat, Jongwoon menggerakkan tanganya untuk meraih tengkuk Geunyoung. Tapi dengan perlahan, ia mencium bibir gadis di depannya ini, ia ingin gadis itu merasa nyaman. Sementara Geunyoung tidak menolaknya, ia membalasnya.
Hembusan angin itu, cahaya mentari itu, udara di siang itu, seakan mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kalau saja Appa masih hidup, ingin ku perkenalkan Jongwoon Oppa padanya...
Seperti apa yang diamanatkannya padaku : Jongwoon Oppa adalah namja yang baik..
Tapi, Appa sudah pergi sekarang, jadi aku hanya bisa berharap Appa melihatku bersama Jongwoon Oppa saat ini, dan mengenal Jongwoon Oppa sebagai namja yang baik...
Jongwoon Oppa benar-benar menjagaku, ia selalu ada untukku. Aku tau itu dengan pasti, dan aku begitu mensyukuri nikmat Tuhan yang satu ini...
Tanpa Jongwoon Oppa, aku tidak bisa apa-apa. Aku membutuhkanya, seperti aku membutuhkan udara dan air.
Aku tidak ingin ia pergi, karena aku tidak bisa tanpanya...”
- Moon Geun Young –
[ Super Junior Yesung – Gray Paper inst.]
***
Di pinggiran sungai besar itu, sembari bersandar pada pagar pembatas, yôja itu —Geunyoung—menikmati pemandangan kesibukan sungai itu di depannya.
“Mau?” namja itu, Jongwoon, menyodorkan satu ice cream cone pada Geunyoung.
Dan Geunyoung menoleh padanya. Ia meraih cone itu, kemudian berkata, “Gomawo...”.
Jongwoon punya satu cone lagi di tangan yang satunya. Ia kemudian bergabung dengan Geunyoung menikmati pemandangan senja di pinggir hamparan sungai besar itu.
“Bagaimana dengan kakimu?” tanya Jongwoon sembari melahap ice cream cone coklat itu.
“Sekarang  jadi lebih baik. Gomawo.” kata Geunyoung.
Jongwoon memandang Geunyoung sembari tersenyum. “Kau selalu berkata seperti itu —kau tau, (kata) ‘gomawo’..”.
나한테 해서 고마워 말해.. Nahante jal hæsô gomawo malhæ.. (Karena Oppa berlaku baik padaku jadi ku ucapkan terimakasih..)” jelas Geunyoung singkat.
Hembusan angin menyibakkan rambut Geunyoung yang terurai panjang itu. Dazzling, mungkin satu kata itu cukup mewakilkan ramainya kata-kata yang meluap di hati Jongwoon.
“Oya, soal aku yang menghilang tiba-tiba dan muncul tiba-tiba,” Jongwoon mengalihkan topik, “itu karena aku kembali ke Cheonan bersama Jongjin untuk bertemu kedua orangtua kami. Abôji sakit, jadi kami tambah lama di sana sampai Abôji sembuh..”.
“Lalu, bagaimana keadaanya saat ini?”.
“Syukurlah, beliau sudah sehat.” Jongwoon kembali tersenyum, “Oya, Ômôni menitip salam padamu dan Ômma-mu...”.
“Wah, senangnya!” Geunyoung tersenyum girang, “Salam balik untuk Ômônim, dan akan ku sampaikan salamnya untuk Ômôni(-ku).”.
“Sampaikan alasanku ini pada Donghyun —aku, kan, tidak mau dibunuh olehnya gara-gara menghilang dan muncul tiba-tiba.” pesan Jongwoon, sekaligus bergurau.
Hal ini membuat Geunyoung tertawa. “Kau rupanya mengerti kalau Donghyun akan mengiramu seperti itu!”.
“Ah, Donghyun...” Jongwoon terkekeh, “Siapa juga yang tidak mengenal ke-over-protective-annya untukmu?”.
“Jangan salahkan dia.” Geunyoung masih tersenyum, “Dia begitu karena pesan Abôji, yang merupakan paman sekaligus sahabat baik ayahnya. Ia mendapat amanat untuk menjagaku, dan ia benar-benar menjalankan amanat itu.”.
Jongwoon mengangguk tanda mengerti. “Ia anak yang luar biasa.”.
“Ya, meskipun yang orang-orang tau kalau ia adalah anak yang nakal, tapi sebenarnya Donghyun adalah anak yang perhatian dan baik hati...” lanjut Geunyoung.
그래. Geuræ. (Benar.)” Jongwoon memandang Geunyoung. “Salah satunya, kita bisa lihat bagaimana ia melindungimu dari semua orang jahat di luar sana —bahkan mungkin ia rela mengorbankan nyawanya sendiri untukmu.”.
Geunyoung tersenyum pada Jongwoon, tidak menyadari ada noda di dekat bibirnya. Melihatnya, Jongwoon segera mengusapnya dengan jemarinya. Dan Geunyoung tetap saja tersenyum.
칠칠맞가는... Chilchilmatganeun... (Berantakan...)” bisik Jongwoon.
“Aku takkan bisa tanpa Oppa..” bisik Geunyoung.
Mendengar kalimat itu, Jongwoon merasa risih. “그렇게 말하지마... Geurôhke malhajima... (Jangan berbicara seperti itu...)”.
, ? Ah, wæ?”. Geunyoung heran.
아니. 그냥 말하지마... Ani. Geunyang malhajima... (Enggak. Yang penting, jangan bicara seperti itu...)”.
Jongwoon tak mampu menjelaskan lebih rinci alasannya berkata demikian pada Geunyoung. Ada banyak hal yang dikhawatirkanya akan terjadi apabila ia berterusterang di hadapan Geunyoung sekarang juga.
***
Matahari sudah tenggelam, malam pun turun. Kini lampu-lampu kota yang menerangi tiap sudut menemani . Sekarang ini, keduanya tengah makan di restoran kecil terdekat.
Satu hal yang membuat Geunyoung merasa aneh : semakin larut Jongwoon semakin terbengong, tidak bersemangat dan tidak seperti biasanya.
“Oppa, ada apa?” tanyanya.
Jongwoon terkesiap, tiba-tiba terbangun dari lamunannya. Ia mencoba tersenyum, meski seadanya. “Tidak ada apa-apa...” katanya, “Oya, bagaimana kakimu? Sudah baikan?” tanyanya, berusaha mengalihkan suasana.
Geunyoung mengangguk-angguk kecil. “Ya, sudah baikan. Cukup untuk berjalan jauh...”.
Jongwoon melanjutkan makanya setelah tersenyum sekali lagi. Namun tetap saja hal-hal yang baru saja dilihat Geunyoung membuatnya makin merasa heran. Apapun itu, ia harus menyelidikinya.
***
Jongwoon sengaja memarkirkan mobil hitamnya itu di pinggiran sungai besar nun sibuk itu. Keduanya berada di dalam mobil sembari menikmati pemandangan malam itu.
Kembali Geunyoung dapati Jongwoon yang merenung dan terbengong. Ini semakin membuatnya heran.
Merasakan sorotan itu terus-menerus, Jongwoon segera tersadar, lekas ia berujar, “Kau lihat bintang-bintang itu? Cantik, bukan?” ia menunjuk ke langit di atas sana.
Geunyoung memandang ke arah yang ditunjuk, namun tak lama ia kembali memandang Jongwoon dengan tatapan yang masih sama. “Tolong jangan berbohong.” pintanya.
Senyuman palsu itu meredup. Jongwoon menghela nafas panjang. “Ah... Geunyoung-ah...”.
“Oppa..., menyembunyikan sesuatu..., ya, kan?” tebak Geunyoung ragu.
Jongwoon memandangnya pasrah. “Kau berhasil membongkarnya.” katanya.
말헤봐. Malhæbwa. (Katakan.)” pinta Geunyoung. “이제 말해봐. Ije malhæbwa. (Katakan sekarang juga.)”.
Helaan nafas itu, putusnya eye contact itu, pejaman mata itu, semakin membuat Geunyoung merasa benar-benar khawatir. Ia takut mendengar satu hal buruk yang akan dilontarkan namja di samping kirinya itu.
“Aku tidak pernah mau menyakiti hatimu. Makanya, aku tidak bisa mengucapkanya.” ujar Jongwoon, seakan pembukaan.
Jongwoon menggenggam erat stir di depannya.
미안하다... Mianhada... (Aku minta maaf...)”.
그냥 말헤봐! Geunyang malhæbwa! (Katakan saja!)” Geunyoung mulai tidak sabaran.
“OK! Akan aku katakan karena kau memintanya sekarang juga!” balas Jongwoon, “Sekarang juga, berhenti berkata bahwa kau tidak bisa tanpaku!! Berhenti berkata seperti itu!! Apapun itu, kau harus bisa melakukannya sendiri tanpaku!!”.
Geunyoung terbelalak.
“Ini bukan karena aku tidak menyayangimu, justru ini karena aku mencintaimu, makanya aku berkata seperti ini!” lanjut Jongwoon, “Geunyoung-ah, aku akan pergi...”.
“Pergi? Ke mana?”.


“Aku punya kewajiban untuk negara ini...”.


[ Super Junior Yesung – Gray Paper]
...? Mwo...?” batin Geunyoung.
“Aku akan pergi besok. Dan aku lebih meminta maaf lagi karena besok adalah hari ulangtahunmu...”.
“Aku tidak peduli kapanpun kau akan pergi, tapi...,” terlihat benda itu mulai berlinang, “tidak bisakah kau bicarakan hal ini denganku juga? Atau setidaknya —kalau Oppa tidak bisa membicarakanya denganku— beritau aku sebelum hari itu semakin mendekat! Tidakkah Oppa tau bagaimana rasanya dikejutkan dengan hal seperti ini?!”.
“Ketahulah, bahwa untuk mengatakan hal seperti itu padamu adalah salah satu hal tersulit bagiku! Aku takut kau merasa sedih karena hal ini!”.
“Tapi lebih sakit lagi rasanya jika kau memberitauku di saat-saat seperti ini! Sekarang bandingkan yang mana yang lebih menyedihkan!!”.
Jongwoon menghela nafas. Baginya, ia yang salah. Memang seharusnya, ia memberitau hal seperti ini jauh-jauh hari. Ia segera mendengar isakan itu dari gadis di sampingnya.
Segera ia memeluknya, mencoba meredakan tangisnya. Tapi gadis itu menolak. Ia mencoba mengalah, lalu kembali mencoba memeluknya lagi. Dan gadis itu berhasil didekapnya, menangis dalam dekapanya.

“Jadi, harus kita akhiri sekarang juga?” tanya gadis itu setelah tangisannya reda.
“Kau yakin?” tanya lelaki itu, Jongwoon.
“Memang begitu, kan?”.
Jongwoon menghela nafas lagi. “Kemarin, kau yang pergi jauh untuk mengenyam pendidikan di benua itu. Kini, aku yang pergi untuk mengabdi pada negara.”.
“Kau akan kembali?”. Geunyoung, gadis itu, menatap Jongwoon.
Dan Jongwoon membalas tatapanya, “Tentu.”.
Geunyoung tersenyum tipis, melepas tatapanya dari Jongwoon. “Aku takut hal buruk terjadi.”.
“Tidak akan.”Jongwoon mengusap kepala Geunyoung. ”Semua akan baik-baik saja, dan kau tau itu.”.
“Kau berjanji kalau kau akan kembali, dan aku mempercayainya.”.
Jongwoon tersenyum tipis. “Kali ini, aku yang berterimakasih. Dan sebagai balasan atas kepercayaanmu, aku akan segera menemuimu seusainya aku menjalani kewajibanku...”.
Suasana hening selama beberapa menit. Tak sengaja keduanya bertemu pandang.
“Boleh?” tanya Jongwoon, hanya dibalas tundukan kepala dari Geunyoung.
Merasa jawabannya ‘iya’, tangan Jongwoon mulai bergerak untuk menyentuh wajah manis gadis itu. Perlahan, Jongwoon mencium bibir yôja yang disayanginya ini. Ia tidak peduli telah berapa menit berlalu, tetapi ia ingin membuat yôja itu merasa nyaman.
***
Jongwoon berhasil mengantarkan Geunyoung dengan selamat sampai ke rumahnya. Tapi Geunyoung enggan melangkah keluar.
Tatapan Jongwoon itu seakan bertanya, “Kau tak apa, kan?”.
“Oppa,” panggil Geunyoung, “kau pasti akan kembali, kan?”.
Mendengar itu, Jongwoon hanya tersenyum. “Pasti, dan jangan khawatir.” katanya, “Sekarang kau bisa turun dan istirahat dengan baik. Tidurlah.”.
Geunyoung menatapnya, berartikan perasaan enggan.
Dengan cepat, Jongwoon mengecup bibir Geunyoung —berusaha menghapus kekhawatirannya, tidak peduli berhasil atau gagal.
“Itu yang terakhir, karena kau merasa khawatir.” ujar Jongwoon kemudian. “Sekarang pulanglah. Kau harus istirahat. Dan kau ingat, kan? Aku akan kembali.”.
Geunyoung menunduk. Masih bersama rasa enggannya, Geunyoung melangkah turun. Tapi tatapan Jongwoon itu meyakinkanya sekali lagi untuk melangkah pulang,

dan menanti.

“Ada apa?” gumam Donghyun yang melihat pemandangan itu dari jendela kamarnya di lantai atas.
Ia makin mengernyitkan dahi melihat gerak-gerik Geunyoung yang terlihat tidak bersemangat itu.
“Apa yang ia lakukan pada Nuna?”.
Hatinya menyergap Jongwoon segera. Dengan segera, Donghyun melangkah menjauh dari jendela kamarnya. Segera ia melapisi tubuh bagian atasnya dengan t-shirt putih itu.

“Nuna!” seru Donghyun begitu melihat pintu kamar Geunyoung yang menutup.
Segera ia berlari kecil mengejar langkah Geunyoung yang tertutup pintu. Ia kemudian membuka pintu kamar itu dan menemukan Geunyoung duduk termangu di atas ranjangnya.
“Nuna, ada apa?” Donghyun dengan segera duduk di samping Geunyoung dan memusatkan perhatiannya pada gadis itu. “Apa yang Jongwoon..., —maksudku— Jongwoon Hyông lakukan padamu?”.
“Tidak apa, Donghyun-ah.” bela Geunyoung.
“Katakan, Nuna, apa ia menyakitimu?”.
“Donghyun-ah..”.
“Aku tidak bisa berdiam diri saja melihat Nuna se...,”.
“♪♪” ponsel Donghyun berdering. Begitu melihat siapa penelponya,

종운()
Jongwoon (Hyông)”

ia tersenyum sinis, “Bagus. Baru saja dibicarakan.”.
Donghyun segera melangkah keluar untuk mengangkat panggilan itu, tak peduli Geunyoung memanggil-manggilnya untuk tidak bertingkah macam-macam pada Jongwoon.
“Apa? —Hyông?” sergah Donghyun segera begitu panggilan berhasil diangkatnya.
“Donghyun-ah, ini aku Jongwoon.” jawab si penelpon, Jongwoon.
“Aku tau itu kau! Sekarang...,”.
“Bisa kau ke kafeku sekarang? Ada yang ingin ku bicarakan. Ini mengenai kakak sepupumu.”.
“Bagus. Itu yang ingin ku tanyakan.” Donghyun tersenyum sinis. “Beri aku sepuluh menit.”.
***
Sepuluh menit, waktu yang cukup untuk Donghyun menempuh perjalanan dengan mobil sport itu untuk sampai di kafe milik Jongwoon.
Begitu sampai di depan kafe itu, Donghyun bertemu lelaki yang sedang membereskan teras kafe, itu Jongjin, adiknya Jongwoon.
[ Super Junior Yesung – Gray Paper]
“Donghyun-ah.” sapa Jongjin.
Donghyun membalasnya. “Lama tak jumpa, Hyông.”.
“Hm.” balas Jongjin. “Kau mencari Jongwoon Hyông, kan?” tebakan yang sesuai, “Ia di atap.”.
“Baiklah. Terimakasih.”. Donghyun berpamitan.
Segera ia masuk dan berjalan menuju atap kafe itu. Dan seperti info yang didapatkanya, Jongwoon ada di situ —menunggunya. Bagi Donghyun, melihatnya yang tengah berdiri membelakanginya itu saja sudah membuatnya kesal.
Dengan langkah geram, Donghyun berjalan mendekati Jongwoon. Ketika langkah yang keempat, Jongwoon tepat berbalik menghadapnya.
? 왔어. Ôh? Wassô. (Oh? Kau sudah datang.)” sambut Jongwoon, tidak membaca perasaan Donghyun saat ini.
“Bukk!!”. Donghyun memukul lelaki di depannya itu —Jongwoon— segera, tak peduli lelaki itu tersungkur ataupun mengaduh.
“Apa yang kau lakukan pada Nuna?” tagih Donghyun sesegera mungkin.
“Hyông!!” seru Jongjin yang melihat kejadian ini setibanya ia di atap. Ketika ia hendak menolong Jongwoon, kakaknya itu menahanya, seakan berkata bahwa ini tidak apa.
“Santai dulu.” Jongwoon menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya. Dengan ringan ia berdiri. “Aku tau pasti kalau aku akan dipukul olehmu karena kau melihat bagaimana keadaan Geunyoung tadi, kan?”.
Donghyun yang tidak sabaran, menarik kerah baju Jongwoon. “Jangan berbasa-basi, dan katakanlah!!”.
“Donghyun-ah!” seru Jongjin sekali lagi.
Tapi Jongwoon mengisyaratkan padanya bahwa ini tidak apa-apa. “Mari kita berbicara sebagai namja yang sesungguhnya. Akan ku jelaskan kenapa Geunyoung bisa seperti itu...” katanya pada Donghyun.
***
“Jadi,” Donghyun berujar.
Angin malam yang berhembus pelan itu seakan mengetahui seberapa kuat mereka harus berhembus di suasana seperti ini.
“Ya.” Jongwoon mengiyakan, sembari seseskali meringis kecil karena lukanya diobati Jongjin.
Donghyun menghela nafas berat. “미안. Mian. (Maaf.)” ujarnya ketus, sebenarnya hatinya merasa sangat bersalah karena telah memukul Jongwoon.
“Kesedihan Geunyoung karena kepergianku pasti hanya sementara...” ujar Jongwoon kemudian. “Yang penting, hal yang benar-benar penting dan benar-benar harus kau indahkan, jaga Geunyoung. Lindungi dia. Aku tau kaulah satu-satunya orang yang bisa ku andalkan untuk menjaga Geunyoung.”.
Donghyun memandang Jongwoon santai. “Ya, aku tau itu.”.
“Dan terlebih lagi,” kali ini Jongjin angkat bicara, “tolong jangan berprasangka buruk kepada orang, apalagi sampai memukulnya. Selidiki dulu, baru kalau ia benar-benar salah kau boleh memukulnya.” katanya sembari melirik Jongwoon yang sedang meringis.
Kembali Donghyun menghela nafas berat. “알아, 알아. Ara, Ara. (Ya, aku tau.)” katanya, “죄송합니다... Joesonghamnida... (Mohon maaf...)” ujarnya dalam pada Jongwoon.
“Ya, ya...” Jongwoon menahan perihnya, “Asal tak kau ulangi saja.”.
*I Can’t Be, Without You*
[ Boyfriend – Standing With U]
Harapan penuh, tenaga penuh, itulah modal yang Geunyoung pakai pagi ini. Ia meminta dengan amat sangat pada Donghyun agar lelaki itu mau mengantarnya ke kafe milik Jongwoon dan Jongjin untuk bertemu Jongwoon sebelum ia berangkat ke camp.
Tapi yang Geunyoung dapati begitu sampai adalah pintu tertutup dengan papan yang bertuliskan ‘closed’ itu.
“Nuna?” panggil Donghyun pada Geunyoung yang berdiri tepat di depan pintu kafe itu.
Dengan perasaan sedih, Geunyoung berbalik dan menggeleng pada Donghyun. Adik sepupunya itu pun hanya bisa menghela nafas.
Begitu Donghyun menyalakan mesin mobil sport-nya, Geunyoung menggerakan kakinya yang melangkah berat itu menuju mobil itu dan bergegas pulang, tanpa membawa harapan penuhnya.
“Geunyoung.”
Ini bukan mimpi, but it’s a miracle.
Geunyoung mendengar suara namja yang paling dicarinya itu saat ini. Ya, Jongwoon ada di belakangnya sekarang, tengah berdiri di depan pintu berpapan closed itu.
Begitu berbalik dan menemukan Jongwoon di belakangnya, Geunyoung hanya terpaku sejenak. Tapi ia segera memeluk namja ber-sweater hitam tipis, bersyal merah, dan memakai penutup kepala itu erat-erat.
Jongwoon tersentak begitu Geunyoung memeluknya. Tapi ia kemudian merasa nyaman. Ia membalas pelukan itu.
“Pintunya bertuliskan closed, ku pikir memang tutup.” ujar Geunyoung.
“Sengaja tak ku ubah, karena aku datang cuma untuk memastikan keadaan kafe sebelum aku benar-benar pergi, sementara Jongjin dalam perjalanan ke sini untuk mengantarku ke camp.” jelas Jongwoon.
Geunyoung melepas pelukanya dan segera menatap Jongwoon. “Boleh aku mengantarmu?”.
“Pulanglah. —aku tak mau melihat air matamu.” suruh Jongwoon.
“Jongwoon Hyông!!” suara Jongjin yang baru saja tiba bersama mobil hitam itu terdengar.
Semua memandangnya.
“Aku harus pergi.” kata Jongwoon.
“Oppa.” gumam Geunyoung, dan Jongwoon tersenyum.
Jongwoon mengusap kepala Geunyoung sekali lagi. Ia kemudian melepas syal merahnya, lalu melingkarinya di leher Geunyoung.
“Jaga dirimu baik-baik, OK?” kata Jongwoon, “Aku sudah berpesan pada Donghyun. Jadi, kalau Donghyun melanggar pesanku, akan ku hukum dia.” lanjutnya, lagi-lagi sambil bergurau.
Donghyun yang mendengarnya pun hanya tersenyum.
Jongwoon melangkah pergi, memunggungi Geunyoung dan tak berbalik lagi untuk melihatnya buat yang terakhir kali.

Lelaki itu tak mengucapkan salam perpisahan, karena ia tau kalau ia akan kembali dari pengabdianya untuk negara ini.

Dan gadis itu, gadis bersyal merah itu, akan selalu menantinya pulang.

*I Can’t be, Without You*
Two years...
“Kim Dong Hyun...!!” sekali lagi, gadis itu menggedor pintu kamar adik sepupunya yang belum terbangun juga di pagi hari yang tenang itu. “Bangunlah!! Atau aku akan...,”.
“Klek.” pintu itu segera terbuka.
“Nuna~..” terlihat Donghyun, adik sepupu gadis itu, masih mengantuk. Ia menyembunyikan ¾ bagian tubuhnya di balik pintu itu.
“Cepat pakai bajumu!” suruh gadis itu, Geunyoung.
“Tapi aku belum mandi, kan?”.
“Nanti terlambat! —salah sendiri bangun telat?” ujar Geunyoung, “Baiklah, ku beri kau kesempatan untuk mandi..., lima menit.”.
“Ah, Nuna-ya...” gerutu Donghyun.
“Tiga menit!”.
“Oo, OK, OK, OK!! Lima menit!!”.
“Blam!!” pintu segera tertutup.
***
Keduanya sampai di depan kafe yang tutup itu. Geunyoung berdiri di depan pintunya, sementara Donghyun berada di dalam mobil sport-nya.
Ini sudah satu jam gadis ber-sweater coklat dan bersyal merah itu, Geunyoung, menunggu.
“Nuna,” panggil Donghyun, “mungkin nanti siang dia baru pulang.”.
“Aku akan menunggu di sini.” ujar Geunyoung ketus.
“Tapi ia tidak datang dari tadi. Kau masih mau menunggunya?”.
Setelah dipikirkan secara matang berulangkali, Geunyoung akhirnya mengiyakan perkataan Donghyun. Dengan perasaan kecewa, Geunyoung berjalan, melangkahkan kakinya yang berat itu, menuju mobil.

Tapi satu suara yang menghentikan langkahnya.

“Geunyoung.”.

Mendengar itu, Geunyoung berbalik. Senyuman manisnya kini tak bisa lagi ia sembunyikannya. Kegirangannya begitu gamblang terlihat.

“Oppa!!”.
[ Boyfriend – Standing With U]
***
Nate adalah author yang senang sekali sharing berbagai FF yang Nate buat. Nate gak berharap lebih, viewers-nya banyak aja Nate sudah senang! Apalagi ada yang mau rela capek-capek ngetik komentar, nge-like, atau nge-vote. Atau bahkan Reader-deul yang rumahnya ada di luar negeri lalu menerjemahkan FF Nate, itu sangat membuat Nate terharu.
Nate menulis FF cuma untuk kesenangan aja, Nate tidak berpikir realistis. Dalam hal ini, Nate teringat akan kisah author yang pikiranya realistis, tapi Nate gak mau memperpanjang mengenai kisah itu. Nate juga bukan bermaksud menyinggung siapa-siapa, namun ada baiknya kita sesekali tidak berpikir realistis di ‘dunia kita’ yang seperti ini.
Jadi author FF di blog, admin, dan semacamnya, jangan terlalu mengharapkan materi. Semua harus berlandaskan keikhlasan.

Mood Nate sempat hancur buat nulis FF ini karena pin SNSD Nate jatuh di angkutan umum. Nate sampai nangis karena Nate gak punya pin SNSD lagi, dan perjuangan nungguin pin itu jadi juga cukup lama. Meski pinnya tidak begitu bagus, tapi Nate suka. ^^satu-satunya girlgroup bias Nate : SNSD!!^
Tapi mood Nate segera terobati hari itu juga, ketika Nate hendak membeli ice cream cone yô dongsæng Nate yang masih kelas 1 SD ikutan beli menggunakan uang simpananya sendiri. Dan kami makan bersama-sama!!^

OK, sekian sampai sini! Oya, Nate mau mengingatkan sesuatu. Nate mungkin bakalan lama lagi nge-post FF lainnya karena Nate mau mencoba fokus ke naskah novel Nate, jadi mohon kesabaranya untuk menunggu kehadiran FF Nate yang lainnya. Untuk saat ini, mungkin Nate juga bakalan ngurus online shop Nate juga ^^yang ini gak bisa ditinggalkan..^.
Mohon do’anya juga, ya!
Wassalamualaikum! Dan PPYONG!!^

cr link : KMusicDL

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^