[FF] 쳐다보지마 Don't Look at Me Like That (ONESHOT)

2:55 PM 0 Comments A+ a-

"쳐다보지마 Don't Look at Me Like That"

A BangSong fanfiction by Near

Cast : Song Ji Eun, Bang Yong Guk
Genre : Fantasy, Romance
Author : Near (Retno Nate River)

***

A letter from Author :

Near ngetik ini awalnya di Notepad terlebih dahulu, tahu kenapa? Karena laptop Near baru aja diformat dan semuanya jadi baru, termasuk Microsoft-nya  --yang dulunya Microsoft 2007 setelah diformat dikasihnya Microsoft 2013.
Laptop Near ga bisa kesambung wi-fi untuk aktifasi Microsoft karena belum diinstal pake driver-nya, jadi karena ga keaktifasi Microsoft di laptop Near ga bisa dipakai.
Huft, makin capek...

Author

Retno Nate River

***

"쳐다보지마 Don't Look at Me Like That"

A BangSong fanfiction by Near



***

[Song Jieun POV]
"Srak, srak, srak...".
Lelaki berupa makhluk berwajah aneh itu memaksaku berjalan melewati sebuah gedung tua, di kota Depan. Tanpa ia katakan pun aku tau apa yang akan ia lakukan padaku.
Ia menarik untaian rantai yang mengikat kedua tanganku, ia menyeretku, memaksaku menurutinya.
Aku terdiam, pasrah tepatnya. Ku ikuti ke mana lelaki itu membawaku pergi.
***

"Ting, ting, ting...".
Dari balik tirai, aku bisa mendengar gelas-gelas kaca berbenturan halus. Kedua tanganku terbentang berkat tiap-tiap untaian rantai yang diikat di sisi kanan dan kiri oleh lelaki tadi. Di tempat gelap dan aneh ini, aku berdiri di balik tirai, siap ditunjukan kepada segerombolan orang-orang berwajah aneh juga di depan tirai sana  aku bisa mendengar suara mereka.
Baru aku tau, di kota Depan ada tempat sekumuh ini. Huh.
Kota Depan, terkenal dengan kemasyurannya, baik segi ekonomi, teknologi, maupun informasi. Di sana segala fasilitas ada, semua kebutuhan rakyatnya terpenuhi, kotanya teratur dan nyaman, serta seluruh rakyatnya yang 'berpunya'  ―tak ada satupun dari mereka yang kesulitan.
Namun ketahuilah, kota Depan itu sebenarnya jahat. Terdapat tirai hitam yang menyelubungi kemajuan kota mereka.
Sementara kota Belakang, kota serba susah. Fasilitas tidak memadai, hanya seadanya. Jika ada satu orang Belakang yang mengidap penyakit parah dan disarankan untuk ke rumah sakit dengan fasilitas memadai, maka orang itu akan memilih untuk berpasrah diri hingga usianya termakan penyakitnya tersebut. Ini karena sulitnya kami mendapatkan kebutuhan kami di kota Belakang yang suram dan tak ada akses bagi kami untuk pergi ke kota Depan untuk mendapatkan fasilitas lebih. Tak ada satupun rakyatnya yang semasyur rakyat kota Depan. Namun siapa sangka, dari kota Belakang lah sebenarnya rakyat kota Depan mencari keuntungan.
Tak ada persawahan, perkebunan, pertenakan dan semacamnya di kota Depan, hanya kota Belakang yang memilikinya. Maka rakyat kota Depan akan mengimpor kebutuhan yang tidak ada di kotanya dari kota Belakang. Tapi dasarnya tidak tau terima kasih, rakyat kota Depan biasa menukarnya dengan nilai yang jauh lebih rendah dari harga produk yang mereka impor dari kota Belakang  dengan membodohi kami  ―inilah alasan besar mengapa kota Belakang begitu terbelakang.
Tidak hanya perdagangan lazim yang biasa rakyat Depan cari di kota Belakang, namun juga perdagangan yang tidak lazim. Contohnya yang sedang ku alami sekarang ini. Rakyat Depan biasa mencari orang-orang yang sangat tidak mampu di kota Belakang dan mengiming-imingi mereka dengan sejumlah uang  yang membuat mereka tergiur  asalkan mereka bersedia ikut ke kota Depan. Ujungnya, mereka akan terperosok ke dalam perdagangan manusia, yang di mana akhirnya mereka akan diperlakukan dengan sewenang-wenang. Tapi aku bukan rakyat Belakang yang bodoh.
Aku hanya ditarik paksa dari pelukan ayah ibuku, menuruti kemauan seorang rakyat Depan yang ingin mendapatkan uang banyak dengan menjualku kepada rakyat Depan lainnya yang sudah menunggunya. Ironis.
Aku bisa mendengar mereka berpesta, meski bahasa Depan dan Belakang berbeda. Walaupun aku berasal dari kota Belakang, tapi aku tau bahasa Depan. Dan ketahuilah, hanya sebagian kecil rakyat Depan yang mengerti bahasa Belakang, begitu demikian dalam rakyat Belakang. Dengan mengertinya aku akan bahasa Depan, pertanda bahwa aku bukanlah rakyat Belakang yang bodoh.
"Prok, prok." aku mendengar suara tepukan, dua kali. Lalu riuhnya pesta berhenti.
Aku bisa mendengar suara lelaki itu berbicara di depan tirai kepada teman-temannya yang menikmati pesta tadi.
Biar ku terjemahkan, "Hadirin sekalian, aku persembahkan untuk kalian. Harta yang takkan pernah berakhir. Beri aku sejumlah uang, dan kalian bisa membawanya pulang.".
"Srakk!!" tirai dibukanya, dan saat itulah aku bisa melihat mereka.
Segera begitu aku nampak di depan makhluk-makhluk berwajah aneh itu, riuh kembali terdengar.
Mereka berteriak, beberapa dari mereka meneriakkan kata "Ikh! Ikh!" yang berarti "Aku! Aku!". Mereka berebut untuk mendapatkanku dengan sejumlah uang ditangan, bahkan melemparkannya ke arah lelaki tadi. Menjijikan.
Sorot mataku tak berubah, dan aku tidak melawan, tak berekspresi pula.
Lalu lelaki tadi mendinginkan suasana. Ku terjemahkan lagi, "Baiklah!" lelaki itu menarik rantai yang mengikat tanganku hingga putus, "Kalian bisa membawanya pulang! Aku akan mengantarnya ke kereta kalian." katanya dengan puas.
Aku tergopoh ketika lelaki itu menarikku lagi dari tempatku berdiri tadi melewati orang-orang Depan berwajah sama anehnya dengan lelaki itu. Ketika aku melewati mereka, orang-orang itu memandangiku bahkan menyentuhku.
"Hubsch..." kata seorang pria yang menyentuh leherku, artinya "Cantik...".
Kemudian, yang lain mengusap rambutku, menyentuh pipiku, dan menggapai bahuku yang kecil. Aku berusaha menghindari sentuhan mereka.
"Kau akan berguna bagiku." kata seorang wanita, dengan bahasa Belakang.
Aku tak tahan lagi. Tatapan mataku benar-benar tak kemana-mana, hingga akhirnya api yang entah menyala dari mana mulai membakar barang-barang di sekitar mereka.
Makhluk-makhluk yang haus hiburan itu berubah panik.
"Feuer!! Feuer!" teriak mereka, artinya "Api!! Api!".
Aku hanya diam, karena nyalanya api itu adalah perbuatanku.
Sebagian dari mereka kabur menyelamatkan diri, sisanya ada yang terjebak api, juga ada yang tak sadarkan diri karena menghirup asap.
Aku diam, ketika api menyulut pakaian hitamku hingga berubah menjadi gaun merah aku pun tetap diam. Dengan rantai yang masih mengikat, aku berjalan keluar ruangan yang berapi-api dengan mudahnya.
***
Aku sampai di suatu tempat di kota Belakang, masih dengan gaun merahku.
"Krieek.." jeritan pintu lapuk itu menyambut kedatanganku.
Beberapa pria berjaket kulit hitam bangkit dari kursi mereka begitu melihatku datang dan berdiri di ambang pintu itu.
"Hei, siapa kau?!" teriak salah satu dari mereka, tentunya dengan bahasa Belakang.
Menganggap aku berbahaya, mereka mulai mengacungkan senjata api mereka ke arahku.
"Dar! Dar!" beberapa peluru mulai ditembakkan ke arahku, namun mereka semua meleset.
Aku menjerat salah satunya dengan pecutan rantai yang mengikat tanganku, hingga ia terjerat dan aku berhasil merampas senjata apinya. Ketika aku punya senjata di tangan, aku menembaki semua pria yang menembak ke arahku tadi dan menjatuhkan mereka satu per satu.
Puas melihat mereka tergeletak tak berdaya, aku menjatuhkan senjata itu dan meninggalkannya menuju satu pintu di sana, lalu membukanya.
"Kriekk..." jeritan pintunya tak jauh beda dengan pintu tadi.
Ku dapati seorang lelaki berambut pendek dengan kaos dan jaket hitam duduk di atas mejanya, dan memandangku.
"Jieunnie." ia bangkit dengan santai dari mejanya.
Ia memandang kedua tanganku yang terjerat rantai.
"Apa yang kau lakukan dengan rantai-rantai itu?" katanya.
Namun ketika mendekat, aku menamparnya, "Plak!" bahkan rantai-rantaiku ikut menyabet tubuhnya.
Lelaki itu diam.
"Persetan kau, Bang Yong Guk." kataku pelan, namun tajam. "Seberapa bodohnya dirimu? Dasar tidak tau diri.".
Lelaki itu, Yongguk, menatapku santai.
"Kau tidak tau aku di mana? Apa yang aku lakukan? Mengapa kau tak tanyakan hal itu?!!" marahku, aku meneriakkinya.
"Kamu membunuh anak-anak buahku." kata Yongguk santai.
"Kau pilih anak buahmu yang mati atau aku yang mati?!!" marahku lagi, "Kenapa kau tidak mencariku?! Aku menjadi barang dagangan mereka pun kau tak juga mencariku?! Bagi orang-orang Depan, orang Belakang seperti diriku tidak ada harganya!! Kau anggap aku apa?!!".
Yongguk meraih kedua tanganku, lalu melepaskan kedua rantai itu dengan sebuah kunci  dia memang hebat. "Aku tau apa yang akan terjadi." katanya santai, "Jadi aku tau apa yang harus aku lakukan.".
Aku menatapnya dendam, "Membiarkanku dijual oleh orang-orang Depan juga bagian dari masa depan yang kau baca?" sindirku, tanpa sadar aku menyalakan api lagi di sekeliling ruangan.
Yongguk hampir lepas kendali. "Matikan apinya." katanya.
"Tidak mau." tolakku.
"Kau akan membunuh kita." kata Yongguk lagi.
"Aku bilang, aku tidak mau!" tegasku.
Ketika Yongguk menggunakan pikirannya untuk menghentikkan gerak pikiranku yang mengendalikan api, aku segera memukul wajahnya dan merenggut senjata apinya.
Jadi, ketika Yongguk bangun dari rasa sakitnya yang tak seberapa itu, aku menodongkan senjata itu ke arah kepalanya.
Tapi lucu, Yongguk diam.
"Apa? Kamu ingin membunuhku?" katanya, sok manis, "Kamu ingin aku mati? Bunuhlah, kalau kamu ingin takdir itu tidak terjadi, bunuh saja aku dan saksikan sendiri masa depanmu  ―kalau kau ingin menyesal.".
Aku tak peduli kata-kata itu dan bersiap menembaknya.
"Dar!" benar saja, aku menembaknya. Peluru itu hampir mengenai dada kanan Yongguk, tepatnya dada bawahnya. Yongguk hanya merintih sebentar setelah batuk beberapa kali. Lalu ia kembali menegakkan tubuhnya sambil memegangi lukanya. Ia masih bisa bertahan. Kali ini, tak ada belas kasihan dariku untuknya.
Yongguk siap untuk mati sepertinya, ia menatapku semampunya  ―aku bisa melihat bercak merah di ujung bibirnya, "Bunuh aku, Song Ji Eun... Aku ingin melihat seberapa beraninya dirimu..., tanpaku..." katanya terengah, "Dan aku ingin melihatmu..., dari sana..., melihatmu tak mampu berkeluarga..., tanpaku...".
Sialan, kata-kata itu, batinku. Air mataku jatuh.
"Dar!" aku menarik pelatuknya lagi, namun tembakanku kali ini meleset tepat melewati telinga kiri Yongguk dan menancap ke dinding di belakang Yongguk.
Aku menarik nafas, tersengal habis-habisan karena emosi yang sudah mendidih. Dan yang paling membuatku kesal adalah, Yongguk tersenyum sinis.
"Aku pernah menceritakan..., masa depan kita padamu..." Yongguk mendekat, meski tertatih, "Jadi aku tau..., kau takkan pernah berani membunuhku..., sekalipun kita selalu bertengkar setiap hari...".
Yongguk mendekapku dengan cara khasnya, seakan ia baik-baik saja.
"Juga soal orang-orang Depan yang menjualmu..." bisik Yongguk di telingaku, sengalan nafasnya bisa ku rasakan lewat kulitku, aku meleleh. "Mianhaeyo.... Chatji anhasseo..., Maafkan aku... Aku tidak mencarimu..., karena aku tau kau akan datang sendiri ke hadapanku...".
Air mata itu jatuh lagi, sulutan api itu merubah gaun merahku menjadi gaun hitam tadi. Api itu redup dan mati.
Nafas Yongguk makin terasa ketika wajahnya melewati wajahku. Lalu, Yongguk mencium bibirku. Aku bergetar, merasakan ciuman itu seperti berbicara banyak padaku.
Berbagai permintaan maaf, ungkapan cinta dan sayang, serta untaian kata yang memantapkan hatiku untuk tetap bersamanya sampai akhir  persis seperti masa depan kami yang pernah ia ceritakan padaku.
Semakin dalam ciuman itu, aku makin tak berdaya untuk tunduk padanya. Akhirnya, aku menyentuh bahunya. Yongguk mengerti betul, aku hanya mampu ditaklukan dengan ciumannya.
Yongguk sengaja menenggelamkanku dalam lumatannya. Ia mendekapku, seakan memaksaku melayani nafsunya  meski kenyataannya memang begitu. Kalau sudah begini, aku tidak bisa apa-apa lagi. Yongguk sudah mempengaruhiku sepenuhnya hanya dalam waktu semenit itu.
Ketika Yongguk menyudahinya, aku dan dirinya saling bertatapan.
"Jangan tatap aku seperti itu." kataku.
Yongguk langsung tersenyum, "Jieunnie..." katanya sayang.
Lalu ia memelukku. Semua amarah dan emosi itu lenyap ketika Yongguk mendekap tubuhku hingga terasa hangat.
"Aku...," kataku, "aku rindu..., dekapanmu..." lanjutku dengan terpaksa.
Yongguk hanya terkikik nakal, "Aku tau kau pasti langsung memaafkanku." katanya, "Aku tau pasti kita akan segera baikan dan kembali jua..." lanjutnya, lalu menatapku sayang. Jemarinya mengusap pipiku, dan ia tersenyum tipis sambil bergumam, "Jieun..., ku...".
"Bruk." tiba-tiba Yongguk terjatuh, ia hampir saja tumbang.
"Yongguk-ah!!" seruku.
Tapi Yongguk masih saja bertahan, "Hei, apa yang membuatmu khawatir?" candanya, tengil sekali, "Kau jelek kalau lagi khawatir...".
"Bodoh!" omelku, "Kau terluka.".
"Salahku kalau aku terluka?" sindir Yongguk. Menyebalkan! Aku tau kalau aku yang menembakmu, tapi jangan sindir aku.
"Mianhae, aku akan mengobatimu." kataku sambil menopang Yongguk.
"Sudah," kata Yongguk, "aku bisa jalan sendiri  aku berat, kau tau?".
Ketika Yongguk mencoba bangun, ia terjatuh lagi. Kali ini aku tidak bisa membiarkannya, "Bang Yong Guk!!" teriakku, aku berlari kecil mendekatinya.
Aku bisa melihat wajah Yongguk mulai berubah pucat, kaos hitamnya itu sudah mulai basah dengan lumuran darahnya. Ia mulai lemas, kalau dibiarkan ia bisa mati. Ini salahku.
Segera aku berlari mencari kotak Pertolongan Pertama  sebut saja begitu. Aku tau, Yongguk tak akan pernah menyimpannya kalau saja aku tidak membuatkannya kotak itu di markasnya ini. Dan untungnya lagi, kotak itu masih ada di sini. Aku membawanya dan beranjak mendekati Yongguk.
"Bersandarlah." kataku, Yongguk lantas menuruti, aku membantunya agar ia bisa bersandar.
Aku mulai mengobatinya, tanpa sadar Yongguk memandangiku.
"Kau cantik sekali." katanya, suaranya kecil sekali.
"Jangan bercanda." kataku, serius dengan luka Yongguk.
"Jeongmallo. Sungguh." kata Yongguk, dia pikir kata-katanya lucu, "Yeppeunne... Cantik sekali...".
Aku hampir selesai mengobati Yongguk. "Lain kali, jangan buat aku kesal  mungkin aku bisa saja mencoba membunuhmu lagi.." kataku.
"Aku tau itu." kata Yongguk, "Aku bisa membacanya sekarang kalau kau akan mencoba membunuhku lagi  ―bahkan berulangkali― di masa depan, bahkan aku bisa membaca dengan jelas ketika aku hampir mati ketika kau mencoba menembak dada kiriku di ma...,".
"Bisakah kau tutup mulutmu dan jangan pernah ceritakan masa depan kita lagi?!" kesalku, sambil menatap Yongguk tajam.
Tapi senyuman redup Yongguk itu membuat hatiku luluh, "Lalu? Kau tak ingin mendengar cerita dua bayi kembar itu?" tanya Yongguk, "Kau tak ingin mendengar cerita ketika mereka memiliki adik perempuan? Kau tak ingin mendengar cerita si kembar berebut mainan dan menangis satu sama lain hingga kau mencium keduanya? Kau tak ingin mendengar cerita si bungsu yang tidak ingin turun dari gendonganku ketika kita berdua mengantarnya ke sekolah pertamanya?".
Aku tak bisa apa-apa ketika mendengar kata-kata itu.
"Kau ingin aku berhenti menceritakan itu semua...?" tanya Yongguk.
Lagi-lagi, Yongguk berhasil membuatku menitikan air mata. "Yongguk-ah..." gumamku, menatapnya beberapa saat.
"Jangan menatapku terus  tolong obati lukaku." kata Yongguk.
Aku terbangun dari lamunanku, "Eh, iya.." lalu meneruskan pengobatannya.
Dan Yongguk masih memandangiku. "Kau tau, di masa depan nanti..., kau mungkin akan berkali-kali hampir kehilanganku karena ulahmu sendiri..., yakni mencoba membunuhku... Tapi itu hanya pada saat-saat sebelum kita menikah..." kata Yongguk, "Namun, kau tau...? Aku juga akan merasakan hampir kehilanganmu..., hanya sekali..., yakni ketika kau melahirkan si bungsu...".
Aku terdiam, di saat yang sama aku selesai mengobati lukanya. Setelah itu, aku menatap Yongguk  kami pun saling bertatapan.
"Namun, aku tidak bisa membaca masa depan ketika si bungsu melahirkan anak pertamanya... Aku hanya bisa membaca masa depan hingga kau menemani si bungsu dan suaminya ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya..." lanjut Yongguk, "Kau tau... Pandanganku gelap ketika aku mencoba membacanya... Entah kenapa...".
Firasat buruk menghampiriku... Apa mungkin, Yongguk akan meninggalkanku di hari itu? Apa mungkin, di saat itu Yongguk akan...
Aku menepis perasaan itu. Aku mencium bibir Yongguk selama beberapa saat untuk mengusir pikiran buruk itu, namun pikiran itu rupanya menghantuiku. Semakin  pikiran itu mencoba merasuk hatiku, aku memperdalam ciuman itu hingga pikiranku tersebut pergi jauh.
"Hei, ada apa?" tanya Yongguk setelahnya, mungkin yang barusan rasanya aneh.
Aku menyeka rambutku dengan kaku. "Ani, Tidak, bukan apa-apa." umpatku.
Yongguk menegakan sandarannya. "Aku tau kau takut..." katanya, "Meski mungkin aku akan berkali-kali hampir mati, tapi toh akhirnya aku akan...,".
"Aku mohon!" aku memeluknya dengan cepat, tanpa sadar aku menyenggol lukanya barusan, dan Yongguk hanya merintih kecil, "Aku mohon jangan ceritakan itu...!!" perintahku.
Yongguk terdiam, "Ji.., Jieun..,".
"Aku mohon!!" kata Jieun, "Karena aku..., tidak ingin kehilanganmu... Aku tidak bisa apa-apa tanpamu...".
Aku tau Yongguk pasti tersenyum mendengarnya.
Tak lama aku menangis dan tersengguk. "Aku..., tidak ingin kehilanganmu... Aku tidak bisa apa-apa tanpamu..." tangisku, "Aku membutuh...,".
"Ssst..." bisik Yongguk lembut, ia membalas pelukanku, "Berhentilah menangis dan tenanglah... Ketahuilah, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini...".
Aku hanya diam. Dengan sepenuh hati, aku mempercayai perkataan Yongguk itu. Aku bisa merasakan pelukannya semakin erat dan semakin menenangkanku.
Dan seharian itu, kami habiskan untuk bersama-sama, seperti hari-hari kami sebelumnya...
***

Kkeut!!
Gaje, kah? Feel-nya dapet, kah?
FF ini terinspirasi beberapa jam setelah Near nonton MV Song Ji Eun  - Don't Look at Me Like That untuk pertama kalinya. Dan dari situlah, Near terilham untuk nulis FF ini.
Mohon komennya, ya! Komen Reader-deul sangat berguna bagi Near~...^^


Terima kasih sudah baca!!

Author


Retno Nate River

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^