[FF] 가면속에 (Gamyôn sog-e) Under My Mask

3:06 PM 0 Comments A+ a-

가면속에
(Gamyôn sog-e)
Under My Mask

 

Author : Near
Genre : Sad-romance, Fantasy, Songfic, MVfic
Cast : VIXX LR, OC
-          Leo sebagai Aku
-          Ravi sebagai Dia (sisi di dalam diri Aku)
-          OC sebagai Kamu (wanita yang meninggalkan Aku)

Near ngaku ini pertama kalinya Near bikin sebuah prosa seperti ini, dengan sudut pandang aku, kamu, dan dia. Near rasa, ini unik, sesuatu yang gak biasa Near tulis.
Beatiful Liar yang dinyanyikan VIXX LR, baik secara lagu maupun MV, semua konsepnya itu lebih dari daebak. Near kagum banget sama yang berpartisipasi dalam lagu ini, terutama. Juga si produser wanita ―kalau gak salah wanita― yang menggarap MV ini!
Konsepnya lebih dari daebak!
Inilah yang bikin Near kepikiran untuk bikin sesuatu yang unik juga dalam segi prosa. Yakni, Fanfiction ini. Ini bukan fanfiction yang dipandang sebelah mata, tapi Near memperhatikan keunikan dari fanfiction ini.
Near harap, fanfiction ini bisa menarik banyak perhatian orang karena keunikannya. Happy reading!

Author

Near

Bagi kalian yang bukan STRLIGHT(aka fans-nya VIXX)
atau kalian yang gak tau sama sekali tentang lagu mereka yang 'Beautiful Liar',
ada baiknya kalian tonton MV-nya VIXX LR - Beautiful Liar dulu
supaya gak pusing.
Oke? ;)


***
Desiran ombak menyeret pasir, seakan mengisi keheningan di dalam sini. Tidak, aku hanya ingin sendiri. Tidak ada yang ku inginkan selain itu. Seakan merelakan layang-layang yang terlepas dari genggaman, aku membiarkannya dengan tangan terbuka meskipun itu terasa sakit. Tidak, dengan siapapun itu, berbahagialah.
Sisi di dalam diriku memberontak, seakan hendak meledak keluar dan menahanmu pergi. Namun demi kebahagiaanmu aku berkata 'ya' dan tersenyum.
This is a liar. This is my mask.

Aku, Kamu, Dia

***
“Kau bodoh!” itulah kata pertama yang ku dengar darinya, “Kau pengecut! Pengecut tidak berguna!”.
Dan aku hanya termangu di sini, sementara ia menarik wajahku.
“Lihat aku, bodoh!!” makinya dengan emosi meluap-luap, “Kau dianggapnya sudah seperti sampah ―tidak taukah kau akan hal itu?! Dan kau masih bisa bermain peran seperti ini?! Dasar pengecut!!”.
Aku takkan melawan.
“Apa kau manusia? Kau tak punya otak, hati, atau keduanya, uh?!” geramnya, meremas rahangku masih sambil memakiku.
Aku takkan...,
“Justru karena aku memliki keduanya,” ucapku, “aku melakukan ini.”.
“Cih,” sinisnya, melempar wajahku menjauh dari tatapannya, “tak semestinya kau memperlakukannya seperti ini. Tak semestinya kau biarkan dia.”.
Ku tatap punggungnya. Mataku membulat seketika.
“Ingat apa yang ia lakukan padamu terakhir kali?” liriknya dari punggungnya, “Kau ingat hari itu kau membiarkannya?”.
Tatapan kami saling beradu.
“Kejar dia.”.
***
Lipatan indah kertas biru maroon yang diikat pita dan dihiasi bunga-bunga kecil berwarna sepadan itu tak seindah yang dipikiranku. Namun tanganku tetap meraihnya.


Tanpa bergeming, ku biarkan dirimu melewatiku yang termangu di ujung ranjang. Ketika ku angkat kakiku, kau sudah mengemasi semuanya ―kenangan kita seakan tak berguna. Ketika kedua tanganku memeluk kakiku, kau telah mengakhiri semuanya.
“Ini aku.” ucapnya.
“Ini aku.” ucapku.
Seakan aku membiarkanmu pergi, aku hanya terdiam dan tetap di sini ―meski kenyataannya memang ku biarkan dirimu meninggalkanku. Tak penting seberapapun sakitnya, jika itu baik untukmu maka aku tak apa.
“Tidak, jangan pergi.” ucapnya.
“Tidak, jangan pergi.” ucapku.
Aku membiarkanmu mondar-mandir tanpa menanyakan bagaimana maupun mengapa. Aku menatap diriku pada cermin tepat di hadapanku seolah bertanya-tanya.
“Akankah kau bahagia?” ucapnya.
“Akankah kau bahagia?” ucapku.
***
Putih, ringan, senyum, bahagia ―benar, aku dibalik itu semua. Semua itu sandiwara, semua itu bohong. Bahkan meski memakai topeng itu sakit, aku tetap akan menyembunyikan rupa burukku darimu.
“Ini aku.” ucapku.
“Benar ―ini aku.” ucapnya.
Namun, rupaku tergambar jelas ketika cahaya itu menyinariku. Pembohong yang lihai, cahaya itu mengenali asliku. Tidak, bahkan aku seorang pengecut. Tapi kau tidak tau bagaimana rupaku.
“Sakit, bukan?” ucapnya.
“Sakit.” ucapku.
Aku di sini, di hadapanmu. Kau dan aku : duduk berseberangan di bawah sinar membelenggu, terpisahkan oleh meja yang tak bergeming nan dingin. Aku tau kau melihatku, aku tau kau merasakanku. Tetapi jika ada tempat di mana kau bisa merasa lebih baik, aku tak apa di sini.
Kau menatapku, sekali lagi menatapku ketika sorot cahaya itu menyilaukanku. Kau boleh saja pergi, tetapi kau harus tau satu hal bahwa saat-saat kita saling menyayangi itu indah ―lebih indah dari apapun.
Ketika ku tegakkan dudukku, kau bersimpuh di atas meja. Ketika ku genggam tanganmu, kau melepaskanku. Ketika mulutku hendak melontarkan kata terakhirku, kau sudah menghilang.


Dan yang terakhir kau lihat itu, adalah topengku.
Ketika aku meringkuk, kau berada di bawah dirinya. Seakan ia mengajariku bagaimana seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi. Tapi tidak, aku tidak melihatnya.
Dia memperlakukanmu dengan buruk, dan sekali lagi aku tetap tak ingin melihatnya. Aku tidak ingin melakukan itu padamu, itu hanya akan menyakitimu. Tapi dia ―dia tetap menunjukkanku cara yang menurutnya benar padaku.
Ketika aku merasa nyaman bernafas di balik topeng putih ini, dia memberontak merobek topeng yang menutupi rupa aslinya ketika kau berbalik. Dan aku masih begini.


Di sini, kau dan aku, sementara dia di antara kita. Aku berusaha tidak mendengarkanya, dan sekali lagi menatapmu.
“Aku pergi.” ucapmu.
“Baik.” ucapku.
“Apa?” dia terkejut, “Kau,”.
“Jaga dirimu baik-baik.” itu yang kau dengar dari balik topengku.
Dan dia menatapku tajam.
Kau menyeret ikatan pita dan manik-manik yang mengikat kunci itu ke atas meja, lalu tanganmu menyingkir dari sana. Di saat itulah dengan ragu tanganku meraih kenangan yang kau berikan itu. Namun belum sempat aku menyentuhnya seinci pun, dia menyingkirkannya dari atas meja.



“Dasar bodoh.” desisnya, “Bagaimana pun kau bersembunyi, bau busukmu akan tercium juga, Pengecut.”.
Aku dan dirimu, melihat ke mana kenangan itu terjun dari dinginnya meja. Kemudian, dia menatapmu ―tajam, dingin, penuh dendam. Selanjutnya, dia menatapku dan berbicara padaku.
Akan ku tunjukkan bagaimana caranya padamu.” ucapnya, “Lihat aku.”.


Dan kau bangkit dari kursimu, di saat itulah dirinya menatap ke arahmu. Aku tak bisa tinggal diam saja ketika dia mencoba meraihmu untuk menahan langkahmu.
“Hei!! Kembali kau!!” teriaknya.
“Tidak.” dengan segera aku bangkit dari kursiku, ku tarik dan ku tangkap dia yang berusaha memberontak dari cengkeramanku.
“Menyingkir!!” dia berhasil terlepas dariku sementara aku terjatuh.
Meski begitu, aku masih bisa menahan langkah kakinya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan langkahnya. Setidaknya, ketika ia terjatuh dan merangkak ke arahmu, aku berhasil menarik tubuhnya.
Kau memandang lagi ke arahku. Kau lihat aku, kan? Aku tak apa, jadi pergilah. Tunggu apa lagi ―tinggalkan aku.
“Apa yang kau lakukan?!” geramnya, “Kau membiarkannya pergi!! Tahan dia!! Kau harus mempertahankannya!!” ia terus memberontak.
Dan aku masih bertahan di balik topengku, “Tidak, aku tidak apa.” ucapku, masih menahan dirinya.
Kau masih memandang ke arahku. Sungguh, aku tak apa.
“Dia masih di sana!! Kenapa kau diam saja?!” kesalnya, “Jangan bohong!! Kau sebenarnya tak ingin ia pergi, kan?!!”.
“Pergilah,” ucapku padamu.
Kau masih termangu di sana, mungkin kau masih ragu akan keadaanku. Jika memang demikian, aku bahkan harus membunuh sisi di dalam diriku, sehingga aku bisa bersembunyi di balik topeng yang tersenyum ini dan kau bisa pergi tanpa perlu mengkhawatirkanku.
Perlahan-lahan, aku mencekiknya. “Apa yang kau―” ia tercekat. Perlahan namun pasti, aku membunuhnya ―sisi di dalam diriku sendiri.
“Pergilah.” ucapku, sementara sisi di dalam diriku ini sudah lenyap.
Dan akhirnya kau pergi, kau benar-benar menghilang dari hadapanku. Aku bahkan tidak berpesan padamu, yang terpenting adalah kau bisa meninggalkanku dengan tenang.
Aku berpikir bahwa kenangan kita hanyalah sia-sia, sesuatu yang akhirnya terbuang layaknya sampah. Namun, aku tidak ingin bergantung padamu, aku hanya ingin kau bahagia.
Inilah aku, yang kau lihat ini adalah seorang Pembohong.

*END*

“♪ Ige (geuræ ige) naya (naya)... Dô mangsôri ji ma, ttôna... ♫”. Hehe, bagian yang Near suka ―dari lagu Beautiful Liar...

― Yang pengin tau arti dari lagu VIXX LR – Beautiful Liar, bisa klik di sini! ―

Ottae? Ottae? Ottae? (kayaknya Near udah kebiasaan kalo di akhir FF nanyanya kaya begini, maklumilah) Near cukup confident dengan fanfiction ini, cuma tetep aja Near merasa Near belum apa-apa.
Maaf juga, Near telat banget posting-nya, soalnya baru sekarang Near bisa on di PC. Padahal Near nulisnya udah lama banget.
Selain lagu Beautiful Liar, lagu yang nemenin Near nulis fanfiction ini adalah 할말 Halmal, 차가운밤에 Cold at Night, dan Memory. Nah, itu lagu, kan, sebelas duabelas, ya, sama Beautiful Liar, baik dari segi konsep, tema, melodi, lirik, instrumen, artis, tempo, beat, desebre desebrenya, ya. Jadi pas banget buat nemenin Beautiful Liar di playlist.
Karena 가면속에 Under My Mask ini tergolong fanfiction Near yang paling unik, jadi Near berharap banyak yang suka. Dan Near harap, yang baca gak hanya para STRLIGHT dan Kpopers aja, nih. Tapi orang-orang yang suka baca juga ―biar banyak yang tau, gitu, hehehe.
Near mau berterimakasih banget sama VIXX LR dan semua orang yang berkontribusi bareng mereka! Near bener-bener suka karya mereka yang satu ini yang bahkan sampai menginspirasi Near untuk bikin fanfiction ini! 나라세~
Jangan lupa, bagi Reader-deul yang sudah membaca tolong tinggalkan komentar di bawah ini, ya. Komentar kalian sangat bermanfaat bagi Near dan fanfiction di blog ini, lho. Oya, di-share sekalian, ya, hehehe ―maruk.
Oke, sekian dari Near! Terima kasih banyak buat Reader-deul yang sudah baca, terutama bagi yang meninggalkan komentar manhi manhi gamsa-deurôyo!!

Author


Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^