Drama Queen edisi 20 September 2015

4:10 PM 0 Comments A+ a-



Ini adalah karanganku ori yang ku buat dalam hitungan menit ―kalau gak salah― untuk berpartisipasi di KBS World Radio khusus bahasa Indonesia Bahana Lagu Korea buat Drama Queen-nya edisi 20 September 2015, yang bertemakan Kado untuk Idola. Posting-annya sempet hilang karena kelalaianku sendiri yang pengin ngedit lagu BTS yang salah cantum, eh malah hilang posting-annya. Hehehe, I’m sorry, DJ, please apologize me from my deepest heart ―ya.e.lah.
Karena DJ mintanya tanpa percakapan jadi yang berikut ini karanganku yang sudah diedit dan jadi lebih panjang + berdialog.
Oke, tanpa basa-basi lagi, langsung ku salin karanganku ini dari memo di hape si Mpok.
***
[VIXX Ken & EXID Hani - Gap]

이상한새각을해
이많은사람중에
우리둘만남겨지면어떨까

Lagu itu yang menyambutku dan Jungkook pertama kali ketika kami menginjakkan kaki di kafe ini. Lantas kami mengedarkan pandang, mencari seseorang yang kami kenal.
“Itu di sana!” dengan mudahnya, Jungkook mengenali pemuda yang duduk di ujung sana dan lantas menarikku tanpa basa-basi, “Ayo, Nuna!”.
“Jeon Jung Kook!” pekikku yang diseret olehnya.
Sempat kesal dengan ulahnya, aku dibuat terkejut ketika menatap Namjoon, pemuda itu, setelah Jungkook menyeretku. “Oh? Kalian sudah datang?” sambut pemuda ber-t-shirt abu-abu dan snapback hitam itu.
Ups, aku harus wajar di hadapannya.
Aku dan Jungkook pun bergabung dengannya. Setelah kami memesan minuman, kami kembali mengobrol.
“Masa, sih, Hyung, kau baru di sini lima menit?” ujar Jungkook, ku lepaskan tas itu dari bahunya.
“Kalian sendiri? Sudah dari tadi muter-muternya?” balas Namjoon, mengingat aku dan Jungkook sebelumnya jalan-jalan dulu sebelum akhirnya ketemuan dengannya.
“Sudah cukup muternya.” gurauku. Syukurlah keduanya punya waktu luang cukup banyak hingga lusa, setidaknya mereka bisa santai sekarang.
Habis obrolan, acara utama kini dimulai : tukar kado. Para penyandang Virgo ini segera mengeluarkan kado masing-masing. Pertama, aku memberikan kado pada Jungkook lalu pada Namjoon.
“Wow! Wow! Wa.aa.uu.uw.” bocah itu mulai lagi. Jungkook yang langsung membuka kotak kado itupun  begitu senang mendapat pemberian jaket warna merah dariku.
Sementara Namjoon sengaja ku buat kesal dengan kado yang berlapis-lapis. “Hey, hey, what the hell is this?” protes Namjoon masih sambil membuka kado lapis demi lapis. Aku dan Jungkook menertawainya sambil hi-5.
Dan yang Namjoon dapatkan hanyalahconverse high lamaku. Aku tertawa geli ketika Namjoon menatapku dengan penuh dendam.
Okay, you got it, Lil.” ucapnya, “Aku benci converse-mu yang hanya akan membuatmu kelihatan tambah kecil jika memakainya, dan lebih spesialnya lagi kau memberikan ini padaku. Good job.”. Namjoon pun meletakan hadiah itu dengan jengkel.
Tepat ketika pesanan kami datang, Jungkook sedang memberikan hadiahnya untukku dan Namjoon. Dan sialnya, adikku ini berani mengerjai kami. Ya, apalagi kalau bukan kadonya berlapis, kami dibuat jengkel sementara.
Lil-feet sudah mengerjaiku, sekarang kau yang mengerjaiku, Jungkook-ah.” jengkel Namjoon.
Untunglah, isi kadonya membuat kami senang, sebuah CD untukku dan headphone untuk Namjoon. “Wow, setidaknya kau tau kalau aku suka VIXX. Terima kasih untuk albumnya.” senyumku, hari ini aku mendapat versi lain dari album LR.
Nah, kali ini giliran Namjoon memberikan hadiahnya untukku dan Jungkook.
“Wow! Wow!” dan bocah itu mengulanginya lagi. Jungkook selalu saja takjub, dan itu caranya berterimakasih untuk setiap kado yang kami berikan untuknya. “Ini keren, Hyung!” lantas iahi-5 dengan Namjoon.
Oke, kali ini giliranku membuka kado.”.
Sebuah sepatu untuk Jungkook, dan..., action figure Bumblebee untukku?! Aku terkejut bukan main ketika membuka kado pemberian Namjoon itu. Bagaimana Namjoon tau? Ah, ku rasa dia bersekongkolan dengan Jungkook.
“Wow! Dabong! Daebak! The greatest of the greatest!” aku senang bukan kepalang. “Ini hadiah yang lebih dari keren!” ku pandang Namjoon di hadapanku saat ini.
Hyung, ini yang kau beli di Jepang, kan?” ups, bocah ini membocorkan rahasia Namjoon.
“Sssh! Dasar anak nakal!” Namjoon menjitaknya, lebih tepatnya bocah itu membeberkan dari mana hadiah luar biasa ini berasal.
Jepang? Astaga, ini sekeren robot Gundam! Ini hadiah yang luar biasa, bagaimana bisa Namjoon menemukan yang seperti ini? Bukankah ini mahal?
Kau tau, kan, seberapa mahalnya Yen? Nah, itu yang ku maksud, hehehe. Dan serunya lagi, Namjoon sudah merobek label harganya di kardus Bee-ku. Great job, Mon.
Aku menatap lagi ke arah Namjoon setelah meletakan si Bumblebee di pangkuanku. Eh, converse yang tadi ku berikan untuk Namjoon itu sebenarnya bukan hadiahku untuknya, lho.
Lantas ku keluarkan sebuah kado kecil untuknya yang langsung ku berikan padanya. “Mungkin tidak semahal Bee.” ucapku ketika memberikannya, “Tapi perjuangannya tak mudah.”.
Namjoon terkejut.
It’s real your present from me.” dan ketika ku bilang kalau itu kado untuknya yang sebenarnya Namjoon segera membukanya.
Ia mendapat sebuah sweeter hitam berlambang R merah di situ. “Wah.” Namjoon bahkan lantas memakainya. “Hei, ini nyaman.” katanya, “Aku suka lambang R-nya. Di mana kau mem―”.
“Itu buatanku.” ujarku, Namjoon terkejut, lalu perlahan-lahan tersenyum.
Jeon Lil-feet, you did a great job!” Namjoon lalu mencubit pipiku terlalu keras, lupa akan Tn. Perusak yang disandangnya.
“Aaaw!!” rintihku. Kau tidak tau aku sekecil apa, huh?! Sakit tau! Aku merintih karena memang cubitannya terasa sakit.
Ya, Hyung, kenapa kau lakukan itu pada Nuna-ku?” bela Jungkook, “Kau mencubitnya terlalu keras. Jangan samakan dia denganku, Hyung ―badannya itu kecil tidak sekuat diriku.”.
Barulah ketika Jungkook mengingatkannya, Namjoon segera meminta maaf padaku. “So, sorry ―kelepasan.” digaruknya tengkuk itu dengan canggung.
Mendengar permintaan maaf itu, entah kenapa rasa sakit itu lantas lenyap. Ah, ya sudahlah, lupakan saja yang barusan. Toh, aku senang melihatmu senang, apalagi memakai sweeter itu. Hmm, aku jadi tersenyum sendiri.
“Jaga baik-baik, ya, Destroy-Man.” usilku.
“Ternyata Nuna samaDongsaeng-nyasama-sama usil, ya?” sindir Namjoon, membuat Jeon bersaudara ini tertawa mendengarnya.

[BTS – Coffee]

Baby Baby 그대는
Caramel Macchiato 여전히내입술가엔
그대향기달콤해
Baby baby tonight

“Kau keberatan kalau ku pakai ini untuk syutingMV atau photoshoot nanti?” tanya Namjoon padaku.
“Tentu saja tidaklah, Hyung.” namun malah Jungkook yang menyahut duluan.
“Hei, kau ini?” ku sikut adikku itu.
“Diamlah kau, Kook. Aku bertanya pada Nuna-mu.” kata Namjoon.
“Tidak sama sekali, kok.” jawabku pada Namjoon.
“Tuh, jawabannya sama persis, kan?” dan bocah ini masih saja usil.
“Jungkook-ah, kau mau kena jitak, ya?” tapi Namjoon malah menjitaknya duluan sebelum mengataknnya.
Hyung, kau menyebalkan.” Jungkook berusaha mendapat pembelaan dariku.
“Kau yang menyebalkan.” balas Namjoon.
“Apa kalian selalu begini di dorm?” tanyaku.
“Uh,” Namjoon hendak menjawab, namun Jungkook selalu menyerobotnya duluan.
“Iya!” jawab Jungkook.
“Hei, jangan berkata yang tidak-tidak soal keadaan dorm di depan Nuna-mu!” kesal Namjoon lagi.
“Jadi, Hyung mau jaim, nih?” Jungkook tak berhenti memojokkan leader-nya sendiri.
“Kita bicarakan ini lusa di dorm, Jeon Jung Kook.” Namjoon sudah menyerah. Sayang, kedoknya sudah ketahuan.
“Ayolah, aku mengerti kalau dongsaeng-ku memang nakal. Di rumah juga suka begitu.” kataku, menetralkan suasana.
Nuna...” rengek Jungkook, “Kenapa kau bocorkan yang itu?”.
*end*

Yup, dan sayangnya, Near saat itu kurang beruntung, jadi karangan Near ini tidak terpilih sebagai pemenang. Tapi gwaenchanha.
Kalau ada kesempatan lagi, Near akan nge-posting Drama Queen Near yang edisi Oktober!^^

Author

Near

BTS 방탄소년단 - 화양연화 pt. 2 (Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)

3:49 PM 0 Comments A+ a-

Terdiam, hanya bisa termangu dan mematung. Duduk di situ sendirian, merenungi apa yang baru saja diperbuatnya. Ketika cahaya itu menyinarinya sekali lagi, barulah ia memandang ke dirinya sendiri.
Tangannya yang berlumuran darah, namun hanya ditatapinya. Noda yang sama ia temukan di baju dan wajahnya. Setelah cukup memandanginya, pemuda itu lantas mengelap semua noda merah itu di wajahnya, di tangannya, maupun di bajunya ―ia menghapus semuanya.
Tak cukup dengan mengelap saja, ia raih sebotol air dan menuangkannya ke punggung tangannya hingga noda merah itu tak begitu kentara lagi. Lantas ia usapkan ke wajahnya yang masih menyisakan noda merah yang terlihat jelas. Tak lupa, ia tuangkan air itu ke atas tangannya yang menengadah dan menggunakannya untuk menghapus noda yang sama di bajunya yang putih.
Penderitaannya belum cukup. Ia masih menyeka wajahnya dengan lengan jaket yang dikenakannya, kemudian termenung sejenak.
Dengan gemetaran, pemuda itu meraih ponsel dari sakunya dan menekan salah satu nomor yang sudah lama tak dijumpainya. Sejenak, ia meletakan ponsel itu di telinganya, menunggu nada panjang berakhir dan mendengar suara yang diinginkannya.
Air mata itu tak sengaja jatuh dari pelupuknya. Hingga ketika panggilan terjawab, sambil terisak ia mengatakan, “Hyung...,” lirihnya pada lawan bicaranya di sana, “saat ini aku sangat merindukan kalian...”.
Perlahan namun pasti, ia kembali terisak dan bulir-bulir bening itu kembali jatuh dari pelupuk matanya.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***

Taehyung berjalan, kemudian menjatuhkan diri di atas sebuah kasur lusuh di tengah kolam tua yang sudah mengering dan tak terpakai itu. Matanya terpejam, kemudian tangannya menahan sinar matahari yang menyusup ke kelopak matanya.
Ia seorang diri di sini, karena itulah Taehyung berbalik dan memandangi foto itu : seorang pria yang memangku bayi kecilnya. Tidak, ia sudah gerah, jadi Taehyung meremas foto itu.
Sementara itu,
“Ayo, ayo!” seru Hoseok.
“Ke sana!” tambah Jimin.
Kelima pemuda ini berlari di tengah hutan, “Cepat sedikit.” ujar Namjoon. Daratan dengan pohon-pohon yang tinggi ini seakan menjadi tempat bermain mereka.
“Itu di sana.” ujar Jungkook.
“Hampir sampai.” gumam Yoon-gi.
Mereka menaiki tangga, melewati beberapa bangunan tua, dan sampailah di tempat yang sama dengan Taehyung. Mereka mendekati kolam tua itu dan meloncat turun ke dalamnya begitu melihat Taehyung tengah berbaring di atas kasur lusuh di tengahnya.
Serentak mereka mendekati Taehyung yang sepertinya tak menyadari kehadiran mereka. Lalu mengerumuninya.
Namjoon menepuk pipi Taehyung, lalu berkata, “Mwohae?” senyumnya tengil pada Taehyung yang tengah mengerjapkan matanya. Namjoon lantas membantunya bangun.
“Ngapain kau di sini sendirian?” sambar Hoseok yang datang dari belakangnya.
“Hei, apa kau gak kepanasan berbaring di situ?” Jimin mengalihkan pandangan Taehyung.
Lalu mereka semua saling bersahut-sahutan, membuat kata-kata yang lucu yang membuat Taehyung akhirnya terhibur dan tertawa.
Sementara mereka bergurau, Jungkook tak sengaja menemukan seseorang yang sedang iseng merekam kebersamaan mereka ini dan berseru, “Oh? Itu Jin Hyung!” ditunjuknya pemuda dengan sweeter biru maroon yang tengah memegang handycam sambil berdiri di pinggir kolam.
Semua pun menatapnya ketika Seokjin, pemuda itu, menampakkan wajahnya begitu mengakhiri rekamannya barusan. Ia pun bergegas meloncat turun dan bergabung bersama mereka.
“Jinie Hyung!” Taehyung lah yang menyambutnya pertama kali dengan pelukan.
Tapi Seokjin hanya tertawa, “Hahaha, kau ini ―dasar bocah.” katanya, bergumam pada kalimat terakhir. “Ayo, tunjukan wajah kalian!” serunya ketika ia sekali lagi membuka handycam dan menyorot wajah Taehyung, Namjoon, dan Hoseok bersamaan.
Ya, mereka bisa tertawa jika bersama-sama.
“Euuaakk!!” seru Yoon-gi ketika Jungkook membawanya menggunakan troli dengan kecepatan tinggi.
Entah apapun yang mereka lakukan, semuanya menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Bermain-main dengan troli, menari-nari tidak jelas,
Gawi bawi po!!!”.
adu panco, bermain-main dengan ranting pohon, semuanya, apapun yang menurut mereka menyenangkan membuat mereka melupakan segala hal yang menekan mereka setiap harinya.
“Aahh!!” meski sakit, Namjoon masih bisa merintih sambil tertawa. Setelah Jimin, kini giliran Jungkook disusul Taehyung yang harus melompat naik ke atas teman-temanya yang lain.
Yo! Swag yo!” seakan itu adalah panggilan untuk Yoon-gi yang akhirnya bangkit untuk ikut menari. Dan Seokjin selalu ada untuk merekam kegembiraan mereka bersama-sama.
Seperti kupu-kupu yang tadinya hinggap di salah satu dahan rendah ini. Mungkin karena keindahannya yang membuat Seokjin tergerak untuk mengabadikannya ―seindah persahabatan mereka ini.
“Ssssrrtt...” Taehyung menyemprotkan cat semprot itu ke dinding yang Namjoon sandari, dengan warna merahnya ia membuat garis yang mengitari sandaran Namjoon yang sedang duduk ini.
Dan Namjoon hanya memandanginya, “Kau bikin apa, sih?” tanyanya pada Taehyung yang masih sibuk dengan karyanya.
Tak dapat jawaban, Namjoon pun bangkit dari tempat duduknya dan memandang apa yang sedang Taehyung buat. Di bagian atas garis itu Taehyung menambahkan dua garis tajam di kanan dan kirinya seperti sebuah tanduk atau telinga, kemudian di dalam garis itu Taehyung menambahkan dua titik yang terlihat seperti mata.
Dan inilah gambaran Namjoon karya Kim Tae Hyung, “Ottae?” tanya Taehyung dengan ringannya pada Namjoon.
“Hei, dasar sialan kau!” kesal Namjoon seraya berusaha menendang Taehyung yang kebetulan berhasil menghindarinya.
Kemudian Taehyung menambah beberapa bagian lagi pada karya semprotnya itu. Hingga akhirnya gambar itu malah terlihat aneh, Taehyung dan Namjoon pun hanya bisa tertawa bersama sambil duduk dan bersandar pada dinding itu ―tepat di samping kiri dan kanan gambar tersebut.
“Siap ya...” ujar Jimin sambil meletakan mobil mainan kuning itu di atas botol air mineral yang kosong. Setelahnya Jimin bangkit dan mundur beberapa langkah, lalu memandangi mobil kecil itu.
Sementara di seberangnya, sudah berdiri Namjoon dengan tongkat golf-nya yang sudah siap diayunkannya. Hoseok, Taehyung dan Yoon-gi berada di dekat keduanya, seakan mereka adalah penonton VIP, sementara Seokjin duduk di pinggir kolam sana berseberangan dengan kelima temannya, ia duduk bersama Jungkook di sampingnya dan handycam di tangannya.
Namjoon pun mengayunkan tongkat golf-nya, dan mobil mainan itu seakan bola putih kecil yang biasa digunakan dalam permainan golf. Dan, “Ttok!!” Namjoon memukul mobil beserta botol yang dihinggapinya itu hingga keduanya terpental jauh.
Botol itu terlempar entah ke mana, sementara mobil mainan tadi jatuh di atas kubangan air dan mengambang-ambang di sana. Tak lama, Jimin dan Yoon-gi memberinya sorakan, Namjoon tersenyum puas.
Lelah bermain-main sampai sore, Yoon-gi tak sengaja mendapati Hoseok tertidur dengan lelapnya. Ia bersandar pada dinding sementara kepalanya mendongak ditopang dinding bagian atasnya.
Iseng, Yoon-gi pun memanggil Seokjin dan memintanya mengambil gambarnya bersama Hoseok yang sedang tertidur itu dengan polaroidnya.
Sementara itu, “Eh, apa, tuh?” gumam Jungkook. Ketika ia sedang bermain-main di pinggiran kolam, ia tak sengaja memandang ke arah Yoon-gi, Hoseok, dan Seokjin itu. “Kelihatannya menyenangkan.” batinnya.
Kemudian, Jungkook melesatkan diri ke sana. Melihat Jungkook datang untuk bergabung, Yoon-gi panik, “Hei, hei, apa yang kau lakukan?!”  omelnya sambil berbisik.
Namun, memang dasarnya Jungkook, bocah itu malah bergabung bersama mereka dengan gaduhnya. Bikin Yoon-gi panik kalau-kalau Hoseok terbangun dan keisengannya ini batal.
“Jungkook-ah, jangan beris―”.
“Ikut, dong, Hyung!” dan Jungkook duduk di samping Yoon-gi setelah menggesernya sedikit dan membangunkan Hoseok yang sempat tersenggol Yoon-gi itu.
“Arrggh! Kau ini?!” geger Yoon-gi yang keusilannya batal.
Namun sesi pemotretan tetap berlanjut, “Ayo, merapat, ya!” seru Seokjin, lalu wajahnya bersembunyi lagi di balik kamera polaroid merah muda itu, “Hana..., dul..., set...”.
Jungkook dengan gayanya yang tengil, Yoon-gi yang tadinya marah sekarang jadi cerah, dan Hoseok yang baru bangun tidur namun masih bisa berpose itu akhirnya terabadikan dalam satu lembar polaroid.
“Kalau aku, enggaklah...” ujar Yoon-gi.
“Oh...” dan hanya Namjoon yang merespon.
Sementara itu, Taehyung memisahkan diri dari keenam temannya yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam tersebut. “Dinding ini...” gumam Taehyung, ia menemukan sesuatu. Segera ia naik ke atap bangunan tua di pinggir kolam itu. Dengan caranya, Taehyung akhirnya bisa naik ke atapnya dan memandang ke sepanjang kolam ini.
“Yup.” setelah merekam teman-teman di sisi kanannya, Seokjin kini beralih ke sisi kirinya yang hanya ada Jimin di situ. “Jimin-ah?”.
“Haaii!” Jimin pun nampak di kameranya.
Tak lama keenam pemuda ini menyadari kehadiran Taehyung di atas atap bangunan tua itu. Tanpa pikiran yang pasti, Taehyung berjalan ke pinggirannya.
“Taehyungie Hyung?” sahut Jungkook sambil menunjuk ke arahnya.
Dan Taehyung tak memperdulikan suara-suara di pinggiran kolam sana.
***
Sambil masih setengah sadar, Namjoon menyemburkan uap nafasnya ke cermin itu. Begitu berembun, lelaki ini kemudian menuliskan sesuatu di sana.
“Kau harus bertahan hidup”
Kemudian Namjoon meninggalkan tulisannya itu dan kembali bergabung bersama teman-temannya di sana.
Api unggun yang hangat menyelamatkan ketujuh pemuda ini dari dinginnya malam. Sementara handycam itu memutar ulang semua rekaman mereka sepanjang hari ini, Seokjin memandangi semua lembaran polaroid itu.
“Mau?” Seokjin menyodorkan sepotong biskuit itu.
Hoseok pun meraihnya dan menunjukan kalau ia punya dua biskuit sekarang. Mereka tertawa kecil, lalu Hoseok melahap salah satu biskuitnya.
Sementara Jimin, “Ting!” hanya bisa manggut-manggut dan menuruti Namjoon yang hendak bersulang dengan botol mereka masing-masing. Ya, lelaki itu mulai hilang akal sehatnya sekarang, dan Jimin hanya bisa meladeninya yang hampir mabuk itu.
“Numpang bobo, ya, Hyung.” gumam Jungkook pada Yoon-gi yang termangu itu. Ia lalu merebahkan diri di atas sofa dengan menopang kepalanya di atas pangkuan Yoon-gi.
Tak pasti apa yang sedang Yoon-gi pikirkan hingga ia terlihat begitu tertekan, sementara tanpa sadar tangannya terus memainkan pemantik apinya. Nyala, redup, lalu menyala lagi, tanpa sadar Yoon-gi mengulanginya berulangkali.
Sementara itu, Seokjin memandangi salah satu polaroidnya yang ia ambil dari sakunya. Laut lepas, itu yang terabadikan di lembaran kecil polaroid itu.
“Bagaimana kalau...,” ujar Seokjin, “kita ke sini nanti...?” lalu memandang ke Hoseok yang duduk di sampingnya.
Hoseok melirik foto itu sejenak, dan lantas menganggukkan kepala ke arah Seokjin sambil tersenyum. Seokjin pun menunjuk foto itu pada Taehyung, dan pemuda itu melakukan hal yang sama seperti Hoseok. Tak perlu ditanya lagi, semuanya setuju dengan rencana Seokjin itu.
Namun, Yoon-gi masih termangu. Jungkook pun bangun dari pangkuannya, berbalik dan memandang ke arah pemantik yang apinya menyala itu. Kemudian, dia meniupnya, “Fuuh..” dan api itu redup.
***
“Yeah!! Woohoo!!” sambut mereka senang pada pantai dan laut lepas itu.
Dengan mobil bak terbuka, Namjoon duduk di samping si supir ―Seokjin― dan Yoon-gi bersama Hoseok duduk di belakang mereka. Sementara para magnae ―Jimin, Taehyung, dan Jungkook― duduk di bak terbukanya, merasakan terpaan angin yang menyambut mereka dengan gembira.
Setelah mobil berhenti dan terparkir di pinggir laut, ketujuh pemuda ini lantas turun dan berlarian ke arah laut. Dengan bebas, mereka menghela aroma pantai dan udara yang segar, atmosfir yang indah untuk dinikmati.
Mereka tertawa lepas, berburu binatang laut, berlari-larian, segalanya. Dan Seokjin selalu bersama handycam-nya.
“Ayo terus!! Jangan mau kalah!!” kelima pemuda itu menonton aksi Namjoon dan Seokjin yang balap lari. Jimin malah menyusul Namjoon kemudian.
Bahkan Jimin melakukan aksi berbahaya ketika Seokjin mengendarai mobilnya berputar-putar di atas pasir, meski sebenarnya yang Jimin lakukan hanyalah bertengger di belakang bak terbuka dengan satu kaki sambil berpegangan. Jimin tak sendirian, tapi juga ada Yoon-gi di dekatnya.
Sementara Taehyung, Hoseok dan Namjoon menonton aksi gila-gilaannya, dan Jungkook sendiri ikut Seokjin di dalam mobil.
“Wow!” sambut Jimin yang akhirnya duduk di kap mobil, “Ayo, kemari!” serunya melihat Seokjin sudah siap mengabadikan gambar mereka berenam.
Kelima pemuda lainnya pun langsung berebut mengambil posisi di hadapan polaroid Seokjin. Jimin duduk di atas kap mobil, di bawahnya ada Hoseok, Taehyung dan Namjoon yang berdiri, sementara Jungkook dan Yoon-gi dengan kompaknya berpose di depan Taehyung yang merangkul keduanya bersamaan.
Sepanjang hari ini di pantai, menyenangkan sekali. Menghabiskan waktu bersama-sama dan tertawa bersama-sama.
***
“Bruum.” suara halus mesin mobil itu menyambut sebuah pom bensin yang lengang. Seokjin kemudian memberhentikan mobilnya di salah satustation-nya.
Tak lama, Namjoon dan Hoseok turun bersamaan dari mobil. Si partimer SPBU ini rupanya sudah paham akantugasnya, dengan inisiatif Namjoon pun mengisikan bahan bakar ke mobil bak terbuka ini.
Masih sambil mengemut permen batangannya, Namjoon bersandar pada mobil hingga pengisian bahan bakarnya selesai. Tak lama, Namjoon beralih pada Seokjin yang melongok dari jendela, lelaki ini pun menghampirinya.
“Hm, hm.” Namjoon mengisyaratkan pada Seokjin, dan lelaki itu pun memberinya polaroid merah muda itu.
Menyadari Namjoon hendak mengambil gambar Seokjin, dari kursi belakang Yoon-gi muncul dengan senyuman manisnya sambil ber-v-sign.
Hana.., dul...,”.
Sambil menunggu lembaran polaroidnya keluar, Namjoon bergegas kembali ke tempat duduknya di samping Seokjin. Lalu menunjukan hasil fotonya yang masih rabun itu pada Seokjin dan Yoon-gi. Kemudian, Namjoon segera menyimpannya pada laci di dasbor itu.
Sambil membawa belanjaannya, Hoseok kembali ke mobil dan meletakan persediaan makanan itu di atas bak terbuka.
“Oh?” Hoseok terkesiap ketika melihat selimut Jimin itu. Dengan segera, Hoseok menyelimuti Jimin yang masih tertidur lelap bersama Taehyung dan Jungkook.
“Hmm...” Jimin merubah posisi tidurnya sedikit, entah kenapa Hoseok hanya tersenyum.
Tak lama, setelah Hoseok kembali ke mobil, Seokjin segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan pom bensin ini.
***
Ia membuat teropong dengan tangannya, ujung laut itu terlihat seperti garis. Jungkook memandangi ujung lautan ini lewat celah yang dibuat tangannya. Ia duduk di pinggiran pelabuhan itu sendirian. Jungkook masih memandangi lautan lepas meski ia sudah menurunkan tanganya.
Yoon-gi pun menghampirinya, “Sendirian?” ujarnya yang kemudian duduk di samping Jungkook lalu merangkulnya. “Bukankah lautnya indah?” kata Yoon-gi.
Namun Jungkook tak menjawab, ia hanya memandang ke arah Yoon-gi dan tersenyum padanya. Yoon-gi lalu memandang ke arah mobil.
“Ayo kita bangunkan mereka.” ajaknya pada Jungkook.
“Tok! Tok! Tok!” suara itu mengejutkan Hoseok yang kemudian menyadari bahwa pelakunya adalah Yoon-gi yang mengetuk kaca mobil.
Lelaki itu mengisyarakan sesuatu padanya. Hoseok hanya bangkit dan membuka jendela. Rupanya, Yoon-gi bersama Jungkook membangunkan Hoseok, Namjoon, dan Seokjin yang tidur di dalam mobil, serta Jimin dan Taehyung yang tidur di bagian bak terbukanya.
“Ayo, bangun. Kita ke sana.” ajak Yoon-gi pada semua teman-temannya yang baru bangun itu. Kelimanya pun bergegas turun dari mobil meski baru tersadar.
Mereka bergegas ke pinggiran sana, Jungkook dan Yoon-gi kompakan sudah sampai di tempat sementara lima lainnya menyusul. Setelah ketujuhnya lengkap, mereka berdiri memandangi laut. Suara angin, ombak, dan burung-burung yang berterbangan menjadi bgm mereka senja ini.
Seokjin pun beraksi lagi dengan kameranya. Ketika semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing, ia menyorot kelima temannya di samping kirinya, dan memunggungi Taehyung yang tanpa seorang pun ketahui menatap ke arah sana.
Entah itu apa, namun itu dibangun sebagai tempat melompat ke laut dari ketinggian yang cukup ekstrem. Taehyung memandang ke arah teman-temannya sekali lagi, sebelum akhirnya diam-diam ia berjalan mendekati benda itu dan menaikinya.
Tak pasti apa yang ada di benak Taehyung saat itu hingga membuat nyalinya begitu kuat untuk mengalahkan ketinggian. Hal ini disadari Seokjin pertama kali. Ia pun mengarahkan handycam yang tadinya menyorot laut itu kini jadi menyorot Taehyung yang sudah berada di puncaknya.
Tak lama, keenam lainnya menyadari aksi berbahaya Taehyung ini. Namun, bukannya berniat menyelamatkannya, mereka malah bersorak, “Ayo loncat kalau berani! Loncat saja!”.
Taehyung hanya berdiri di situ sejenak, mungkin ia sedang mengambil ancang-ancang karena setelah itu Taehyung akhirnya menatap ke arah teman-temannya di bawah sana seraya tersenyum. Lalu ia kembali memandang tepat ke depan.
Huh... Benar...” batinnya, lalu menghela nafas sejenak dan akhirnya berlari hingga ke ujung kemudian menghempaskan diri terjun ke lautan lepas.
Seokjin merekamnya betul-betul, sementara kelima yang lainnya bersorak, “Woooaaahhh!!!”.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***
Nada-nada yang indah, ombak seakan membuat melodi sempurna yang membuat Seokjin betah duduk di kursi pengemudi itu sambil menyandarkan dagunya di atas stir.
Seokjin kemudian teringat akan sesuatu, ia kemudian beralih ke laci mobilnya dan mengambil selembar foto polaroid hasil jepretan Namjoon semalam.
Bermaksud ingin memandangi gambarnya bersama Yoon-gi, Seokjin malah dikejutkan oleh sesuatu hal yang sangat mustahil dan membuatnya tercekat.
Yoon..., gi...?” batinnya, menyadari sosok Yoon-gi menghilang dari lembar polaroid itu.
***
to be continued
***
화양연화 pt. 2
(Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)
BTS 방탄소년단
COMING OCTOBER
***

Annyeong, maaf lagi-lagi telat posting. Ini bukan murni FF, Near hanya menambah dialog dan menjelaskan situasi di dalam prologue ini.
Oya, soal video prologue-nya BTS yang satu ini sayangnya ga ketemu di search engine di blog. Jadi bagi Reader-deul yang penasaran, bisa langsung meluncur ke Youtube, tepatnya ke BANGTANTV ya.
Tapi seperti yang telah diketahui, bagian ending-nya Jin itu sudah di-cut alias sudah tidak ada lagi. Entah kenapa, ya. Mungkin editor-nya lupa, bagian itu harusnya gak jadi dipake atau malah belum saatnya ditunjukan ke pemirsa sekalian. Hehehe.

Author

Near

[FF] 가면속에 (Gamyôn sog-e) Under My Mask

3:06 PM 0 Comments A+ a-

가면속에
(Gamyôn sog-e)
Under My Mask

 

Author : Near
Genre : Sad-romance, Fantasy, Songfic, MVfic
Cast : VIXX LR, OC
-          Leo sebagai Aku
-          Ravi sebagai Dia (sisi di dalam diri Aku)
-          OC sebagai Kamu (wanita yang meninggalkan Aku)

Near ngaku ini pertama kalinya Near bikin sebuah prosa seperti ini, dengan sudut pandang aku, kamu, dan dia. Near rasa, ini unik, sesuatu yang gak biasa Near tulis.
Beatiful Liar yang dinyanyikan VIXX LR, baik secara lagu maupun MV, semua konsepnya itu lebih dari daebak. Near kagum banget sama yang berpartisipasi dalam lagu ini, terutama. Juga si produser wanita ―kalau gak salah wanita― yang menggarap MV ini!
Konsepnya lebih dari daebak!
Inilah yang bikin Near kepikiran untuk bikin sesuatu yang unik juga dalam segi prosa. Yakni, Fanfiction ini. Ini bukan fanfiction yang dipandang sebelah mata, tapi Near memperhatikan keunikan dari fanfiction ini.
Near harap, fanfiction ini bisa menarik banyak perhatian orang karena keunikannya. Happy reading!

Author

Near

Bagi kalian yang bukan STRLIGHT(aka fans-nya VIXX)
atau kalian yang gak tau sama sekali tentang lagu mereka yang 'Beautiful Liar',
ada baiknya kalian tonton MV-nya VIXX LR - Beautiful Liar dulu
supaya gak pusing.
Oke? ;)


***
Desiran ombak menyeret pasir, seakan mengisi keheningan di dalam sini. Tidak, aku hanya ingin sendiri. Tidak ada yang ku inginkan selain itu. Seakan merelakan layang-layang yang terlepas dari genggaman, aku membiarkannya dengan tangan terbuka meskipun itu terasa sakit. Tidak, dengan siapapun itu, berbahagialah.
Sisi di dalam diriku memberontak, seakan hendak meledak keluar dan menahanmu pergi. Namun demi kebahagiaanmu aku berkata 'ya' dan tersenyum.
This is a liar. This is my mask.

Aku, Kamu, Dia

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^