[FF] Frontin’ 표정관리 (pyojông-gwalli)

7:00 PM 0 Comments A+ a-

Frontin’
표정관리
(pyojông-gwalli)


Author : Near
Genre : Songfic, Romance
Cast : SEVENTEEN’s Hip Hop team
(ft. Hoshi and Woozi)

***
I woke up, even in my dream.
***


“Jadi, aku suka rap-mu.”.
Aku melirik ke arahnya. Malam ini, kami berdua berjalan lagi setelah ‘acara rutin’ para rapper jalanan itu usai.
“Cowok yang bermusik itu punya kesan yang keren.” lanjutnya.
Namun tanpa berpikir panjang, lantas aku berujar, “Itu bukan apa-apa.” aku tersenyum sambil memandang ke bawah.
“Apa kau akan terus bertingkah sok ―seperti ini?” dipandangnya diriku.
Sontak aku menatapnya. No, I don’t, itu yang ada di benakku setelahnya. Namun belum sempat bibirku berucap, buru-buru ia berkata lagi.
“Selarut ini, sebenarnya kita mau ke mana?” dan ia berpaling dari tatapanku.
Aku pun sama, “Bagaimana kalau ke sungai Han sampai tengah malam?” ujarku tanpa berpikir panjang, sontak ia menatapku, “Dengan aliran sungai diikuti hembusan angin?”.
Ketika aku menatapnya, ku dapati senyuman manis itu.
Dan itu artinya, iya.
***

“Jadi,” mulanya ia berujar, “aku suka style-mu ―rapper, yeah.”.
Ketika ku memandangnya, ia sedang menikmati pemandangan sungai Han di hadapan kami.
You always fronting ―sok, kepedean,” katanya, “dan itu membuatku,”.
Ia membungkam ketika merasakan tanganku merangkul lehernya. Seketika ia menatapku terkejut, kami berpandangan.
“Bersandarlah, Nuna.” ujarku ―sekeren mungkin, “Aku tau kau lelah.”.
Namun tanpa mau menunggunya, tanganku secara lembut mengantar kepalanya ke bahuku dan bersandar di sana.
“Lupakan semuanya saat kita berbicara.” kataku lagi, ku nikmati pemandangan di bahuku saat ini.
Namun tanpa terduga, ia menatapku dari posisi itu kemudian berkata, “Vernon yang sekarang manly, ya?” ceplosnya.
Padahal aku sudah stay cool, tapi perkataannya itu tetap saja membuatku tertawa kemudian. “Jadi dulu, aku kekanakan?” balasku.
“Kau dulu manis, sangat imut, tapi apa sekarang?” katanya, “Kau berubah.” senyumnya.
Aku tertawa lagi dan pikiranku terus berkata tidak mungkin. Yeah, itulah dirinya ―dan sisinya yang paling ku suka.
***


Oppa.”.
Aku terkejut ketika berbalik dan menatap siapa yang memanggilku. Aku mematung dan tak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam, menatapnya, menghadapnya, dan tatap matanya itu.
Aku bisa gila.
“Wah, kalian cukup dekat rupanya.” ujar teman di sampingnya, “Mingyu sunbae, kau kenal Junghan sunbae anak tim basket itu, kan? Dia bilang padaku untuk mengundangmu ke acaranya nanti malam.”.
Sayang, aku tak bisa mendengarnya, aku hanya terpaku pada satu gadis.
“Mingyu sunbae?” tanya temannya itu. Ia pasti meminta bantuan darinya untuk mendekatiku dan menyampaikan pesan dari Junghan hyung.
Ya, karena kami punya hubungan spesial.
Sialnya, keduanya menertawaiku yang hanya terpaku dan kentara jelas sedang sangat mengidamkannya. Oh, astaga.
Apa yang harus ku lakukan?” batinku.
***
Aku terus tersenyum, perasaan ini bahkan mengganggu sarapanku. Bayang-bayangnya selalu menyapaku ketika aku menutup mata ―bahkan berkedip.
Dan siang ini sepulang sekolah, ku temukan ia berjalan sendirian di lorong sekolah, bertepatan denganku.
Oppa.” sapanya ramah.
“Berhenti memanggilku begitu, namaku Mingyu.” ucapku cepat.
Ia tersentak.
“Bukan karena kau terlambat memulai SMA-mu, tapi karena aku tak suka mendengarmu memanggilku begitu.” lanjutku.
Aku berharap ia memanggilku, menyebut namaku. Kemudian ku temukan pandangan itu berubah, dan ku rasa ia takkan ragu lagi untuk melakukannya.
“Mingyu-ya.” dan aku tau, ia akan memanggilku.
Kali ini aku yang terkejut, senyuman girangku tak bisa ku sembunyikan. Setelah ini, selepas pulang sekolah, sesampainya aku di rumah, aku akan menatap cermin dan menemukan betapa bahagianya aku saat ini.
Aku tau kau sembilan delapan, tapi kau berada di awal tahun. Jadi aku tau, tak apa bagimu memanggil namaku, meskipun kita tidak berada di angkatan yang sama.
Niga johahae.” tanpa sadar ku lontarkan kata itu padanya.
***


“Apa aku terlambat?”.
Akhirnya suara itu menyudahi penantianku di halte. Ku temukan gadisku berpakaian rapi malam ini, namun entah kenapa aku merasa itu kurang pantas.
Segera aku mendekatinya, merapikan beberapa bagian yang ku benci.
“Kau harus menutupinya sampai lutut.” kataku, ia memandang ke rok mini yang ia pakai, sementara itu tanganku bergerak mengaitkan kancing bajunya, “Jangan sampai tulang selangkamu terlihat.” kataku menyebutkan tujuanku mengancingi bagian itu.
Barulah aku merasa puas.
“Ayo jalan.” ucapku.
***
Pagi ini, aku membuatnya terkejut lagi. Ia menemukanku berdiri di depan rumahnya, menunggunya yang hendak berangkat ke sekolah.
Good morning.” senyumku.
Tetapi ia terpaku memandangku.
“Tunggu apa lagi?” kataku, “Gak mau telat sampai sekolah, kan?”.
Sepanjang jalan, aku mengantarnya ke sekolah. Jaraknya tak jauh dari kampusku, dan lagipula aku alumni dari sekolah yang sama. Ini sudah jadi kebiasaanku.
Aku menjadi pacar yang menerornya tiap pagi, tiap malam. Aku yakin, jika teman-temannya meneliti ponselnya, mereka pasti menemukan ucapan-ucapan yang sama.
Dari ‘good night’ menyambung ke ‘good morning’ lalu kembali ke ‘good night’, dan begitu seterusnya. Menanyakan bagaimana harinya dan kabarnya, seakan aku menerornya lewat pesan singkat hingga membuatnya tak mampu melepaskan ponselnya.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanyanya lagi malam itu.
Sial, aku sudah merencanakan berbagai hal, namun entah kenapa malam ini ia begitu mengalihkan pikiranku hingga aku tak bisa berkata apa-apa. Rencana yang semula ku rancang matang-matang, akhirnya berantakan juga.
“Seungcheol Oppa~..”.
Dan itu sudah jadi kebiasaanku.
“Ke mana saja,” kataku pada akhirnya, “asal bersamamu, baby.”.
***


“Hei, ke mana saja kau sampai-sampai gadismu menghabiskan waktu dengan laki-laki lain.” goda Sunyoung pagi itu.
“Jangan bercanda.” aku bisa saja menendangnya dari hadapanku sekarang ini ―aku sedang sibuk dengan materi di laptopku dan beberapa tumpukan buku.
Di saat aku tak ingin berpaling dari deretan materi yang menjemukanku, ku dengar bocah itu ―Sunyoung― berseru lagi padaku.

Kwon Sun Young

“Oh, itu dia!” serunya, “Itu dia! Hei, dengar gak, sih?” pancingnya.
“Kwon Sun Young, kau mau ku,” ketika aku beralih, ku temukan sosoknya di tempat yang tak jauh berbeda dengan kami.
Ah, itu dia.
***
“Pagi ini cerah.”.
Ia terkejut menemukan seorang laki-laki meletakan segelas kopi hangat di samping bukunya. Dan ketika ia menoleh, akulah yang ia temukan.
“Hai.” ucapku.
“Jaga sikapmu ―kedengaran over.” katanya, “Bagaimana kalau terdengar orang lain?”.
“Kau kira kita menjalani hubungan rahasia? Back street?”.
“Jeon Won Woo.”.
Aku tersenyum, menggemaskan ketika melihatnya menggerutu. Aku memang tak mampu mengendalikan diriku sendiri ketika bersamanya. Bahagia, senang, hingga nada bicaraku jadi aneh tak seperti biasanya.
Aku suka ketika menggodanya, melihatnya mengerucutkan bibir dengan sangat menggemaskan. Atau membuatnya sesekali tersenyum dengan leluconku yang lucunya gagal. Atau ketika ia mencubit hidungku.
Terutama ketika ku temukan ia memulai harinya dengan buku di tangan, membacanya di pagi hari di dekat jendela sambil menyerap sinar mentari. Pemandangan yang indah.
Aku menyukainya.
Namun ketika aku tengah menikmati pemandangan itu, ia malah bangkit dari tempat duduknya. Sontak aku terkejut, “Odiga?” tanyaku.
“Ada kelas lebih awal.” dalihnya.
“Bawa kopimu ―lagi musim dingin.”.
Seperti yang ku duga, ia hanya cuek. Gadisku bergerak membereskan buku-bukunya tanpa menatapku terlebih dahulu.
Ah, ini mungkin karena aku terlalu sibuk.
Ia berbalik dan pergi. Sementara aku seakan tak punya tenaga untuk berteriak dan memintanya kembali atau meminta sedikit waktu lagi.
“Jangan lupa nanti malam.” ujarku ketika ia berada cukup jauh dariku.
Entah ia dengar atau tidak. Tapi aku tak punya pilihan lain selain tersenyum.
***
Malam ini, aku berharap ia akan datang. Aku tidak tau yang tadi siang itu didengarnya atau tidak, tapi aku tetap akan menunggu di sini, menatap ke seberang jalan, dan berharap ia akan muncul di sana.
Namun semakin larut malam semakin hilang harapanku. Berjam-jam, sosok cantiknya tak juga ku temukan di seberang sana. Hatiku memberontak, karena aku ingin sekali bertemu dengannya dan mengatakan segalanya.
Setelah aku mengalihkan pandanganku, kembali ku pandangi seberang jalan itu. Ajaibnya, ia sudah di sana, memandang ke arahku sesekali memeriksa jalanan yang sudah sepi. Sebenarnya tak apa bagi kami untuk menyeberanginya tapi gadisku memang sosok yang berhati-hati.
“Ting!” ia bahkan menunggu hingga lampu merah menyala.
Di saat itulah ia menghampiriku. Sayangnya, kakiku tak mampu menjemputnya.
Mwo?” jengkelnya, “Kau mau bilang apa?”.
“Aku menghilang selama beberapa hari tanpa meninggalkan kabar, pasti menyebalkan bagimu.” senyumku.
“Kau tau itu dan kau membiarkanku menghabiskan waktu dengan orang lain.”.
“Tapi bukan berarti selingkuh.”.
Aku dapat poinnya, dan ia terpojok.
“Jangan marah.” ku usap lembut pipinya, “Aku tidak tidur dengan wanita lain, kok. Jadi, jangan,”.
Bogo shipeosseo.” acuhnya, “Saekkiya.”.
Bitch’, aku tak lagi terkejut ketika ia berkata kasar padaku. Aku pasti telah membuatnya tersiksa selama berhari-hari. Pantaslah aku mendapat hukuman darinya.
“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?” tanyaku.
Ia masih acuh.
“Bagaimana dengan ciuman? Bagaimana menurutmu?” godaku.
Dan akhirnya mimik wajah itu berubah, terkejut. Tanpa basa-basi aku melakukannya, aku mencium bibirnya seperti yang ku katakan.
Aku tak peduli sudah berapa menit kami lalui, aku bahkan menahannya di bibirku dan tak menginginkannya terlepas sedikitpun. Aku ingin mengutarakan segalanya.
Maafkan aku.
“Wonwoo.” ia melepaskanku dengan susah payah.
Aku menatapnya dan memberinya kesempatan. “Mianhaeyo, aku benar-benar minta maaf. Semua terjadi diluar kendaliku.” sesalku kemudian, “Aku hanya tak ingin membuatmu salah paham jadi,”.
Shireoyo. Miwo.” ucapnya.
Kau bilang tadi kau merindukanku, dan sekarang kau membenciku. Jadi apa maumu, gadisku? Jangan buatku semakin merasa bersalah.
“Ku anggap itu ungkapan sayang.” ucapku sebelum aku mencium bibirnya kembali.
Namun aku mendapat penolakan kasar darinya. Ia memukulku berulangkali, meski tidak terasa sakit di tubuhku aku bisa merasakan bagaimana bencinya ia padaku saat ini.
Jadi aku membebaskannya.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya sinis, “Menurutmu, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang setiap hari selalu ada di benakmu tanpa jejak, tanpa kabar, tanpa pamit, dan itu berlangsung selama berhari-hari?”.
Kau menghukumku lagi.
“Tanpa pernah sedikitpun mendengar apalagi melihat wajahnya? Kau pikir kau akan baik-baik saja?” omelnya padaku, “Kau tau rasanya? Bak merasakan ngilunya potongan besi yang dicabut dari tubuhmu ―seperti di video game.”.
Itu mengerikan.
“Hingga sesuatu hal gila yang kau lakukan demi menemukan sosoknya yang hilang ―seperti di film.” aku benci melihat air matanya, “Penyakit psikologis, seperti gangguan jiwa. Kau benar-benar membuatku hampir mati karena penyakit yang menyerang kejiwaanku.”.
Hentikan.
“Dan kau tau apa akibatnya ketika ku temukan kau kembali?” katanya, “Aku membencimu ―teramat dalam. Hingga rasanya aku tak ingin melihatmu lagi.”.
Aku menatapnya, dan menyelam ke dalam tatapan lesunya yang berair. Sakit sekali rasanya ―aku membuatnya seperti sekarat selama beberapa hari.
Ku hapus air mata itu, mengungkapkan permintaan maaf terdalamku tanpa mengatakannya. Sorot mataku telah mengantar penyesalan itu ke dalam tatap matanya. Ketika tanganku berhenti di pipinya, ku ungkapkan rasa sayangku itu lewat sentuhan.
“Aku takkan mengulanginya lagi ―janji.” ucapku dalam ―tak pernah seserius ini.
“Dan jika itu terjadi lagi,” katanya, “bersiaplah untuk mati.”.
Lucunya, aku mengangguk mantap. Entah ia serius atau tidak dengan ucapannya, tapi sepertinya aku sudah siap untuk dibunuhnya nanti. Setidaknya, aku sudah berjanji ―ya, kan?
“Tap.” ku dengar langkah seseorang mendekat. Sial, aku sedang tak ingin diganggu.
“Jeon Won Woo.” panggilnya.
Buru-buru aku menuntunnya, “Ikuti langkahku.” ucapku. Hanya berdua denganmu, ikuti ke mana aku pergi. Kami berhenti tak jauh dari situ, hanya untuk mendapatkan kenyamanan dan privasi. Di situ, aku melanjutkan.
Dan ia masih menunggu kelanjutannya.
“Kau pasti membaca novel dan bermain game terlalu banyak.” ucapku, sebelum ku lakukan hal yang sama lagi padanya.
Oke, ku akhiri di sini, kau hanya akan mendapati view kami sedang kissing, right?
***
[Author POV]
“Mingyu janji mau datang?” tanya Sunyoung siang itu di hari Minggu.
Jihun tak berpaling dari layarnya, “Coba kau masuk ke sana dan check sound.” hanya itu suara yang terdengar darinya ―sayangnya bukan jawaban yang diharapkan.

Lee Ji Hun (Woozi)

Bola matanya berputar enggan, Sunyoung hanya bisa menuruti perkataan si produser muda itu dan bergerak ke dalam.
“Klek.” sekalipun pintu terbuka, Jihun tak juga berpaling.
“Ay, Woozi-ya,” sapa seseorang yang membuka pintu, Seungcheol.
Dan barulah Jihun menoleh, “Coups hyung.” sapanya, sedikit tersenyum, lalu kembali pada pekerjaannya.
“Kau bilang kau bersama Sunyoung?” Seungcheol menghampiri sofa, “Mana orangnya?”.
“Hoi, Coups hyung~...” sapa Sunyoung sekalian check sound.
Begitu duduk, barulah Seungcheol menemukan makhluk girang itu di dalam ruangan berkaca tersebut. “Huh? Itu dia?” ditunjuknya makhluk itu, “Bagaimana dia bisa di situ?”.
Setelah mengacungkan jempol ke arah Sunyoung, ia berkata “Check sound.” Jihun tak beralih.
“Klek.”.
“Wah, kirain terlambat.” suara itu tak asing bagi keduanya.
Rupanya Mingyu dan Vernon datang berbarengan.
“Huh? Ngapain dia di situ?” heran Vernon melihat Sunyoung di dalam sana.
Check sound, Man! Yo, 1, 2, 3! Check and re-check! Yeah~..” dan begitulah Sunyoung ketika ia bisa melihat Vernon menunjuk ke arahnya.
“Sudah cukup, Kwon Sun Young.” Jihun menyudahi aksi gila bocah itu.
Mingyu duduk di samping Jihun, “Kira-kira hyung datang gak, ya? Apa mungkin gadisnya akan menahannya datang ke sini?” gumamnya sendiri.
Hyung siapa?” tanya Jihun yang masih tak berpaling.
Dan, “Klek.” yang dimaksud pun datang.
“Nah, itu yang ku maksud.” ucap Mingyu menatap siapa yang baru saja datang.
Ketika semua sorot memandangnya, ia hanya terdiam, “Ada apa denganku?” tanyanya, Wonwoo.
“Enggak, hyung, enggak.” umpat Mingyu kemudian.
“Ya, sudah, semua sudah berkumpul, kan? Ayo mulai recording-nya.” Jihun menghadap mereka semua, “Hoshi-ya, karena kau sudah terlanjur di dalam sana, jadi mulai saja rekamanannya.”.
“Loh, kok, aku duluan?” protesnya.
“Bagianmu di awal lagu, bodoh.” seru keempat rapper itu.
“Kau sendiri kapan?” tanya Sunyoung pada Jihun.
“Gampang, dia, kan, terakhir.” bela Mingyu.
Jihun pun bersiap, “Oke, record-nya dimulai. Chorus bagianmu, Sunyoung-ah.” katanya, tangannya memulai, “Dengarkan instrumental-nya.”.

“I woke up 꿈마저도 baby”
I woke up kkummajôdo baby
Aku terbangun, bahkan di mimpiku baby

따라 다니는 꿈꿔 어떡해
nôl ttara danineun kkumkkwo ôttôkhæ
Aku masih bermimpi mengejarmu, apa yang harus kulakukan?

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼
sebeuntineun pyojônggwalli andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼 baby baby
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini, baby, baby

“Bagaimana dengan lirik rap kalian?” tanya Jihun.
“Sudah siap, kok.” senyum Vernon sebelum memasuki ruangan.

 “Uh, she says she loves my rap
Uh dia bilang dia suka rap-ku

음악 하는 남자가 멋진 같대
eumak haneun namjaga jom môtjin gôt gatdæ
“Laki-laki yang bermusik punya kesan yang keren”

무심한 말해 이거 별거 아닌데
musimhan chôk malhæ igô byôlgô aninde
Tanpa berpikir aku menjawab itu bukan apa-apa

다음 그녀는 말해  자꾸 front 할래
geu dæum geunyôneun malhæ nô jakku front hallæ
Lalu dia bilang “Apa kau akan terus bertingkah sok?”

No, I don’t”
Tidak, aku tidak

“And then she like 어디 놀러
And then she like ôdi nollô ga jyæ
Lalu ia bertanya “Mau kemana kita selarut ini?”

한밤중의 한강은 어때
hanbamjungui hangangeun ôttæ
Bagaimana jika ke sungai Han hingga tengah malam?

강가를 옆에 두고 바람은 선선하게
ganggareul yôpe dugo barameun sônsônhage
Dengan aliran sungai diikuti hembusan angin

잊고 너와 걸어갈래
da itgo nôwa gôrôgallæ
Lupakan semuanya saat kita bicara

어깨에 머리를 살포시 기댄 다음에
ôkkæe môrireul salposi gidæn dæume
Sandarkan kepalamu di bahuku

고개를 살짝 올려다 봐줄
gogæreul saljjak ollyôda bwajul ttæ
Lalu melihatlah kearahku dari sisi itu

"Yeah I try to play it cool
Yeah, aku mencoba untuk tetap cool

“But 결국엔 웃게 만들어Yeah that’s you”
But gyôlgugen nôn nal utge mandeurô 
Tapi akhirnya kau membuatku tertawa, yeah itulah kau

“Aku suka ini.” ucap Jihun, “Ya, Mingyu-ya, kalian sama-sama terinspirasi dari mana, sih?”.
“Kau mau tau, hyung?” ujar Mingyu dari dalam ruangan.

오빠라고 치고 너라고 불러도  
opparago chigo nôrago bullôdo dwæ
Bisakah kau memanggil namaku daripada 'oppa'?

근데 표정은  먹은 꼬맹이네
geunde næ pyojôngeun kkul môgeun kkomængine 
Tapi wajahku seakan seperti seseorang yang memakan madu

아까 힐끔 봤는데 아뿔싸 눈이 마주쳐 때려 ”
akka hilkkeum nôl bwanneunde appulssa nuni majuchyô mông ttæryô 
Aku melirik ke arahmu, menghadap ke arahmu, dan melakukan eye-contact

아침밥을 언쳤네 “
achimbabeul ônchyônne
Aku bisa gila, aku tak bisa mencerna sarapanku

꼬리에 홀렸네
ni kkorie hollyônne
Tertarik dengan ekormu

보고 비웃어 자꾸 내가 어떤데 “
nal bogo biusô jakku wæ næga mwo ôttônde
Melihatku tertawa sembari aku terus bertanya 'apa yang harus kulakukan'

집에 거울 표정 보니 그래 티가 나네 “
jibe ga gôul sok pyojông boni geuræ tiga nane
Aku pulang dan melihat bayangan wajahku di cermin

정말 행복해 보이네
jôngmal hængbokhæ boine
Ya, itu terlihat sangat bahagia


“I woke up 꿈마저도 baby”
I woke up kkummajôdo baby
Aku terbangun, bahkan di mimpiku baby

따라 다니는 꿈꿔 어떡해
nôl ttara danineun kkumkkwo ôttôkhæ
Aku masih bermimpi mengejarmu, apa yang harus kulakukan?

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼
sebeuntineun pyojônggwalli andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼 baby baby
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini, baby, baby

“Ku pastikan kau akan menyukainya.” Seungcheol mulai memakai headphone itu.
Setelah mengutak-atik alat di depannya, barulah ia berujar, “Aku percaya itu.” ucap Jihun, “Dengarkan baik-baik instrumennya.”.

단정해 눈에만 복장불량
cham danjônghæ nôn næ nuneman bokjangbullyang
Kau berpakaian rapi, hanya saja mataku menganggapnya tidak pantas

무릎 조차도 안보이게
bal mureup bal jochado anboige
Kau harus menutupinya hingga ke lututmu

치말 내려야 만족이
chimal næryôya manjogi dwæ
Dan setelah itu barulah aku puas

목까지 단추 꼭꼭 잠궈
mokkkaji danchu kkokkkok jamgwo
Kancinglah bajumu hingga ke leher,

쇄골이 쉬게
swægori sum mot swige
jangan biarkan tulang selangka mu terlihat

하교 길에서 퇴근길까지 함께
hagyo giresô toegeungilkkaji hamkke hæ
Sepulang sekolah, aku harus mengantarmu sepanjang jalan

굿모닝에서 굿나잇까지
gutmoningesô gutnaitkkaji
Mengucapkan "selamat pagi" hingga "selamat malam"

한시도 폰을 놓게
hansido poneul mot noke hæ
Hingga kau tak bisa melepaskan Handphonemu

계획들은 많은데
gyehoekdeureun manheunde
Aku punya banyak rencana tapi saat aku memulainya,

시작은 무슨 말도 거네
sijageun museun maldo mot gône
aku tak bisa mengatakan apa-apa

“Kalau ku baca liriknya, kalian semua seperti lagi curhat.” ucap Jihun, “Begitu juga denganmu, Wonwoo-ya.”.
Dan Wonwoo hanya mengangguk kecil dari dalam sana.
“Kau menciumnya semalam?” tanya Jihun, tawa yang lainnya pun menyusul.
Sayangnya, Wonwoo hanya tersenyum, lalu mengacungkan telunjuk di depan bibirnya.

설레는 듯해 현실적인 말투
sôlleneun deuthæ hyônsiljôgin maltu
Nada bicaraku menjadi terlalu intens dan  kegirangan

문자 하나로 밀당을 해밀렸어 방금
munja hanaro mildangeul hæ millyôssô banggeum
Aku hanya bisa tarik-ulur untuk bisa mendapatkamu

밀려 정신 차리기 만해
millyô nal ttæn jôngsin mot charigi manhæ
Saat kau meninggalkanku aku tak punya tenaga untuk berteriak

니가 당길 때도 정신 없이 헤벌레 (that’s right)
niga danggil ttædo jôngsin ôpsi hebôlle (that’s right)
Aku tak punya pilihan selain tersenyum (itu benar)

차이는 이상적이고
ki chaineun ttak isangjôgigo
Dan lebih dari sekedar perbedaan tinggi badan,

너랑 둘이 가는 방향만 맞음 같이 걷고
nôrang duri ganeun banghyangman majeum gachi gôtgo
hanya denganmu yang mengikutiku, ayo berjalan ke arah yang sama

맞게 걸음 반대편에서 마주쳐있던 신호등 아래서
bal matge gôreum bandæpyônesô majuchyôitdôn sinhodeung aræsô
Bertemu di jalan, dibawah lampu merah

맞추는 거에 대해 너는 어때
ip majchuneun gôe dæhæ nôneun ôttæ
Bagaimana dengan ciuman, bagaimana menurutmu?


“I woke up 꿈마저도 baby”
I woke up kkummajôdo baby
Aku terbangun, bahkan di mimpiku baby

따라 다니는 꿈꿔 어떡해
nôl ttara danineun kkumkkwo ôttôkhæ
Aku masih bermimpi mengejarmu, apa yang harus kulakukan?

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼
sebeuntineun pyojônggwalli andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼 baby baby
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini, baby, baby

“Oke, sudah siap?” tanya Seungcheol.
Jihun dengan santai menatap lirik di depannya, lalu mengacungkan jempolnya.
“Dia yang buat liriknya?” tanya Vernon.
“Kayak gak tau dia aja, sih.” justru itu yang Sunyoung jawab.

Baby It’s all right I’ll call you mine
Baby, tak apa-apa, aku akan memanggilmu 'milikku'

밤에 달은 우릴 밝혀줘
bame dareun uril balkhyôjwo
Di malam hari bulan menyinari kita

새벽을 지나 밤새서 보고 싶어
sæbyôgeul jina bamsæsô hæ bogo sipô
Hingga dini hari, aku ingin mencoba terjaga sepanjang malam

“Selesai.” senyum Jihun, “Leganya bisa menyelesaikan rekamannya dalam waktu kurang dari sehari!” lalu merenggangkan tubuhnya yang terasa penat.
“Hei, kalian lapar?” tanya Seungcheol, “Ayo makan di luar.”.
Sunyoung lantas sumringah, “Kau mau traktir, hyung?” tanyanya.
Seungcheol bangkit dari kursinya, “Mau makan gak?” justru itu jawabannya ―yang berarti iya.
Sunyoung, Mingyu dan Vernon saling bertatapan, kemudian dengan tergesa mengikuti langkah Seungcheol. Wonwoo dan Jihun pun menyusul di belakang.
“Jadi, apa kabar gadismu, Wonwoo-ya? Dia marah, kan?” tanya Jihun.
“Aku akan dibunuhnya jika aku mengulanginya.” jawab Wonwoo.
“Tuh, kan, apa ku bilang?”.
“Apanya?”.
“Lain kali jangan meninggalkannya tanpa pamit, hyung ―kayak gak tau cewek aja.” ucap Vernon.
“Kau sendiri ―dengan nuna-nuna blasteran itu― apa kabar?” goda Mingyu, seruan pun menyusul dan menyerang Vernon.
“Whoo~..!!”.
“Sudahlah...” Seungcheol hanya bergerak melerai mereka.

“I woke up 꿈마저도 baby”
I woke up kkummajôdo baby
Aku terbangun, bahkan di mimpiku baby

따라 다니는 꿈꿔 어떡해
nôl ttara danineun kkumkkwo ôttôkhæ
Aku masih bermimpi mengejarmu, apa yang harus kulakukan?

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼
sebeuntineun pyojônggwalli andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

내가 그래 yeah yeah
næga geuræ yeah yeah
Aku memang seperti itu, yeah yeah yeah

다른 소녀들 너만큼은 안돼
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Tak ada gadis lain sepertimu

세븐틴은 표정관리 안돼 baby baby
dareun sonyôdeul nômankeumeun andwæ
Seventeen tak bisa mengontrol perasaan ini, baby, baby

*END*

A letter from Author...

Annyeong, Near kembali lagi! Setelah barusan nge-posting FF nya Junghan alias 우리의 시간 One Fine Day, Near datang dengan janji sebelumnya.
Oya, seperti genre yang telah tertera, jadi story line tiap-tiap member Seventeen’s Hip Hop team terinspirasi dari lirik rap mereka masing-masing ―bisa dicek dari terjemahan b. Indonesianya.
Maaf juga, ya, bagiannya Wonwoo kepanjangan ―bukan karena bias, lho. Kebetulan inspirasinya lagi lancar pake banget, jadi ―yeah― mengalir begitu saja. Dan maaf juga kalau ―maybe― di antara Reader-deul sekalian ada yang gak suka ―sebut saja― ppoppo scene Wonwoo sama OC di sini yang mungkin too much or over.
Oke, Near mau balik ng-olshop dulu nih!^^ Jangan lupa berikan support kalian buat Byul Lite STYLE, ya! Kita jual berbagai macam clothes yang SEVENTEEN kenakan pas manggung juga, lho! *promo, harap maklum*.
Jangan lupa tinggalkan komentar di bawah ini, ya! Komentar kalian akan membantu perkembangan tulisan Near!
Gamsa hamnida!!

Author


Near

***
Frontin'
hangul by colorcoded
indonesian translated by babygirl13
rom by Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^