[FF] SICK part II

4:48 AM 0 Comments A+ a-

A note from Author...
Masih sama seperti kemarin, Near menyarankan bagi Reader-deul untuk membaca SICK ditemenin lagu instrumentalnya Tiger JK (ft. Jinsil) yang ‘Reset’. Atau kalau gak punya yang instrumental gak papa yang biasa aja ―lagunya dijamin enak, lho.
Happy reading!
Near

*****

 “Sunyoung-ah.” seketika ia terkejut begitu panggilannya dijawab Hyojung disertai isakan.
Sunyoung panik, “Hyojung-ah?” tanyanya, ”Gwaenchanha? Odini?”.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Hyojung.
Kali ini, gadis itu membuatnya bingung. “Hyojung-ah,”.
“Myungho,” ucap Hyojung susah payah, “Myungho adikku, kan? Kau tau itu, kan?”.
Sunyoung tak bisa tinggal diam, “Hyojung-ah, kau di mana? Aku ke sana sekarang.” ketika ia akan bangkit, Hyojung menahannya.
“Tidak. Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak ingin diganggu di kamarku! Aku hanya butuh jawaban darimu!” seru Hyojung, isakannya makin menjadi-jadi, “Myungho ―ini tentang dia. Myungho itu adikku, kan? Ya, kan, Kwon Sun Young?”.
Matanya bergetar, tangannya mengepal. Rasanya tak mungkin bagi Sunyoung mengatakan yang sebenarnya di saat-saat Hyojung serapuh ini. Tapi berbohong juga tidak ada gunanya bagi Hyojung kedepannya.
Jadi apa yang harus dijawabnya?
“Iya.” jawab Sunyoung pada akhirnya, “Benar, Myungho itu adikmu, Hyojung-ah.” meskipun terpaksa.
“Myungho?”.
“Iya, dia adikmu. Tapi dengarkan aku,” ucap Sunyoung segera, “besok kita ketemuan ―oke? Di tempat biasa.”.
Gomawo... Sunyoung-ah...” itu kata-kata terakhir Hyojung sebelum panggilan itu berakhir.
Setelahnya, Sunyoung menghela nafas panjang. Jun yang melihatnya tak tenang seperti itupun segera menghampirinya.
“Ada apa dengan Hyojung?” tanya Jun hati-hati.
“Sudah ku duga, kehadiran Myungho hanya akan membuat Hyojung seperti penderita amnesia.” ucap Sunyoung dengan tatapan kosong.
Jun terheran, “Apa maksudmu?” tanyanya.
Sunyoung lalu memandangnya, “Mianhae. Besok aku absen dulu. Ada hal penting yang harus ku katakan pada Hyojung ―ini juga menyangkut kebaikannya.” katanya serius.
Jun mengangguk, “Oke, tak masalah.” katanya, “Tapi sebenarnya, ada apa dengan Myungho dan Hyojung? Apa yang salah sebenarnya?”.
Sebelum menjawab, Sunyoung memandang sekitar, “Nanti ketika kita di jalan pulang, akan ku ceritakan segalanya.” janjinya.
***

SICK
part II

Author : Near
Genre : Family
Main Cast : OC, The8
Other Cast : Hoshi, Jun

Part I


***
“Aku buru-buru, aku buru-buru.” terus saja kalimat itu yang Sunyoung gumamkan pagi ini. “Aku harus buru-buru.” bahkan ia masih menggumamkannya ketika ia memasuki sebuah toko roti.
Sialnya, hari ini ia bangun kesiangan dan tidak sempat sarapan. Mungkin karena kemarin ia latihan sampai larut malam bersama Jun dan teman-temannya yang lain.
Untuk mengganti sarapannya yang terlewat, sesampainya di daerah sekitar kampusnya, Sunyoung segera mampir ke sebuah toko roti untuk membeli sarapan. Pikirnya, sambil jalan ke kampus sekalian sarapan singkat.
“Kwon Sun Young.” tanpa terduga, ketika ia sedang memilah-milah roti, Sunyoung bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.
“Oh! Annyeong haseyo!” sapanya ramah pada pria itu, Tn. Park ―ayahnya Hyojung. “Kebetulan bertemu Anda di sini.”.
“Iya. Jam segini mampir ke toko roti? Apa tidak mepet waktunya?” koreksi beliau.
Sunyoung pun menggaruk-garuk kepalanya canggung, “Nah, itu dia, Abeonim. Aku kesiangan.” cengirnya kemudian.
“Hm, kebiasaan buruk. Bagaimana kalau Ayahmu tau.”.
“Sayangnya, Appa sudah tau.”.
“Hm, pantas saja. Kau pasti tidak berangkat bersamanya, ya?” tebak beliau, “Oya, kebetulan. Kalau kau bertemu puteriku, Hyojung, tolong berikan ini padanya dan jelaskan apa yang ada di dalamnya.”.
Sunyoung menerima map pemberian Ayahnya Hyojung itu.
“Ini apa, Abeonim?” tanyanya pada beliau.
“Nanti juga tau.” senyum beliau, “Sudah, sana berangkat. Nanti kau terlambat.”.
Oh, ne, Abeonim. Maaf, ya, gak bisa ngobrol lama-lama.” pamit Sunyoung setelah mengambil sepotong roti dan sekotak susu. Lalu lelaki ini meninggalkan beliau setelah membayar semua yang dibelinya.
Sambil melahap roti di tangannya, Sunyoung teringat akan map yang diberikan padanya tadi.
“Ini...?” dipandangnya map itu, “Isinya apa, ya...?”.
Sambil menggigit rotinya yang tertinggal setengah, Sunyoung menggunakan kedua tangannya untuk mengungkap isi map itu.
“Loh, ini, kan...?”.
***
Shi Mama.” jawab Myungho pada seseorang yang meneleponnya siang itu, “Hao... Bye...” ucapnya sebelum panggilan diakhiri.
“Myungho-ya!” suara Hyojung mendekat, Myungho menoleh. “Kau sudah makan? Yuk kita jajan di toko dekat kampus! Jajanannya mirip seperti di tokonya Kim Ahjeossi!”.
Senyuman itu mereda. Sebenarnya, Myungho tak ingin berurusan dengan hal-hal semacam itu lagi. Namun ia mencoba tersenyum meski sulit.
Jinjja?” sandiwaranya.
Kaja!!” Hyojung pun segera menariknya pergi dari sana tanpa memperdulikan ucapan Myungho.
Sesampainya di sana, Hyojung terus saja menuntunya.
“Wah, bungeo-ppang.” seru Hyojung lalu segera mengambil satu es krim bentuk ikan itu dari tempatnya.
Dan Myungho mengikuti. Yang diambilnya masih sama seperti kemarin : rasa cokelat. Namun entah kenapa, Hyojung merebut es krim pilihannya tersebut dan menggantinya dengan rasa kacang merah.
Myungho terkejut, tetapi ia memilih diam.
“Ayo ke sana.” diseretnya lagi bocah itu. “Lihat, ada permen karet kesukaanmu.” katanya sumringah.
Namun berbeda dengan Myungho. “Nuna.” panggilnya.
“Aku akan mengambilkannya untukmu.” Hyojung tak memperdulikannya.
Nuna, tidak perlu.” Myungho menahan tangan itu.
Keras kepala, Hyojung menghempas genggaman Myungho dan kembali pada misinya, “Sudahlah, ini Nuna belikan untukmu ―oke?” senyumnya lagi, lalu berusaha mengambilkan permen karet itu untuk Myungho.
“Bukan masalah aku atau Nuna yang membelinya tapi,”.
“Ini untukmu.” ucap Hyojung sambil meraih tangan Myungho lalu meletakan satu bar permen karet tersebut di atas tangannya. Lalu Hyojung beralih pada jajanan lainnya.
Kali ini Myungho merasa enggan, “Nuna-ya.” pintanya ―ia ingin dimengerti. Ia mengikuti ke mana Hyojung pergi setelah meletakan permen karet tadi ke tempatnya semula.
“Kira-kira apa lagi, ya?” gumam Hyojung, berusaha menghindari keluhan Myungho.
Nuna, ku mohon dengarkan aku.” Myungho terus saja meminta.
“Oh! Ada permen kapas!” seru Hyojung, masih tak peduli.
Nuna!!” seru Myungho, kali ini ia menahan tubuh kecil Hyojung untuk menatapnya, untuk memaksanya mendengarkan keinginannya.
Hyojung tercekat.
“Ku mohon, aku tidak suka permen kapas,” ucap Myungho, “aku tidak suka permen karet, aku tidak suka kimchi ataupun bungeo-ppang kacang merah.”.
Nafasnya tertahan.
“Berapa kali aku harus menurutimu? Sudah berapa kali aku harus mengerti akan dirimu, Nuna? Aku bersedia melakukan semua ini karena aku sayang Nuna. Tetapi, apa Nuna sebaliknya? Apa Nuna sayang padaku?“.
“Myung..., ho...,”.
“Iya, tentu saja Nuna sayang padaku ―tidak, justru pada orang lain yang kurang lebih sama sepertiku.” lanjut Myungho, “Ya, kan, Nuna?”.
“Park Myung Ho.”.
Mendengar nama itu, Myungho tertegun. Tanpa sadar, ia melepaskan cengkeramannya dari Hyojung dan melangkah mundur beberapa kali.
“Bukan.” ucap Myungho, lalu merogoh sesuatu dari dalam tasnya, “Aku bukan Park Myung Ho.”.
Hyojung tak mampu menahan air matanya yang jatuh begitu saja ketika ia mendengar perkataan itu dari mulut adiknya tersebut.
“Aku Seo Myung Ho.” Myungho mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau gelap dan membuka sebuah halaman yang begitu menusuk bagi Hyojung ketika melihatnya.
Buku itu adalah passport milik Myungho. Pada halaman yang ditunjukkannya tertera semua data pribadi lengkap tentang dirinya, beserta fotonya.
“Aku lahir pada tujuh September tahun 1997 dengan nama lahir Xu Ming Hao atau yang dalam hanja-nya Seo Myung Ho.” ucapnya, “Aku berasal dari sebuah daerah bernama Anshan di Cina.”.
Hyojung menjenggut rambutnya.
“Aku hidup bersama Ayah dan Ibu di Cina. Aku bersekolah di sini karena aku mendapatkan beasiswa sejak kurang lebih dua tahun yang lalu.” kata Myungho, “Dan satu lagi : aku bukan,”.
“Hentikan omong kosongmu!!” Hyojung merebut passport itu dari tangan Myungho dan melemparnya sejauh mungkin. “Berhenti berkata yang tidak-tidak, Myungho-ya!”.
“Tidak bisakah Nuna membedakan kami berdua?” ucap Myungho lagi, tidak mampu menahannya lagi, “Kami berdua berbeda, Nuna. Kami tidak sama. Dan aku bersedia menjadi dirinya demi Nuna, tapi apa yang Nuna lakukan padaku sudah tak mampu ku toleransi lagi.”.
“Myungho,”.
Mianhae, Nuna.” ucap Myungho.
Seakan kehilangan kekuatannya, Myungho menjatuhkan jajanan yang ada di genggamannya tadi dan segera melesat keluar dari toko itu. Sebelum menghilang, Myungho memungut kembali passport-nya dan pergi entah ke mana.
Semua ini tidak benar!” Hyojung memberontak dalam hati, “Ini hanya gurauan!! Tidak, ini bukan sungguhan!!”.
***
Dengan agak ragu, Sunyoung hanya bisa terduduk di atas kursi di kafe itu ―sebenarnya itu kantin kampus mereka. Sengaja ia menempati tempat yang agak jauh dari keramaian agar pertemuannya dengan orang ini tidak terganggu ―atau malah tidak mengganggu.
Map itu masih ada di mejanya dan setiap kali Sunyoung memandang ke arahnya ia mengetukkan jarinya di atas meja beberapa kali. Ia benar-benar gugup.
“Sunyoung-ah!” sapa dia, Hyojung ―seseorang yang berjanji akan menemuinya pagi ini.
Sunyoung mendongak dan mengikuti sosok gadis yang duduk di seberangnya kini. “Matamu agak..., sembab...” ada nada khawatir dalam kata-katanya.
“Ngomong apa, sih.” meski terlihat ceria, namun Sunyoung masih menangkap bayang kelam di mata Hyojung. Ia pasti menangis semalam. “Jadi, ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”.
“Minumlah dulu.” Sunyoung menyodorkan secangkir teh hijau yang sudah dipesannya tadi untuk Hyojung.
Green tea?” senang Hyojung setelah meminumnya, “Rupanya kau tau minuman kesukaanku akhir-akhir ini.” katanya, “Oke, aku sudah meminumnya, lantas?”.
Sunyoung tersenyum canggung, “Uh...,” ia memutar otak, mencari-cari bagian mana yang harus jadi awalan obrolan mereka pagi ini.
“Jangan bilang kau mau mengakui sesuatu?” tebak Hyojung yang mengira Sunyoung akan melakukan propose atau bahasa Koreanya ‘gobaek’ yang bisa diartikan sebagai mengungkapkan rasa cinta.
“Bukan, bukan.” Sunyoung segera melambaikan tangannya, “Hanya saja,” namun ia kembali terdiam.
“Kenapa? Kalau tak bisa mengatakannya,”.
“Aku ingin,” sela Sunyoung segera, “kau melihat isi map ini baik-baik.” akhirnya kata-kata itulah yang diucapnya, “Setelah itu..., ku mohon dengarkan penjelasanku...” katanya dengan sangat hati-hati.
Lelaki itu segera memberi Hyojung map yang sedari tadi menempati sebagian kecil meja tersebut. Meski agak bingung, Hyojung tetap saja menerimanya dan membukanya. Namun apa yang Sunyoung khawatirkan sedari tadi itu akhirnya terjadi juga ketika Hyojung menyelidik isi map tersebut.
Sunyoung terkejut ketika Hyojung bangkit.
“Dari mana kau dapatkan ini semua?!” gertak Hyojung sambil menghempas map tersebut hingga beberapa lembar isinya keluar.
Dari situ bisa dilihat bahwa isinya merupakan dokumen-dokumen penting menyinggung riwayat seseorang ―lebih tepatnya lagi map tersebut berisi biodata Myungho.
“Dengarkan aku dulu.” dengan sabar Sunyoung berhasil menggerakan tubuh gadis itu hingga terduduk lagi di atas kursinya. “Hyojung-ah, sudah saatnya kau akhiri ini semua. Kau tak perlu menyakiti dirimu sendiri.”.
“Dari mana kau dapatkan itu?”.
“Seo Myung Ho,” Sunyoung tak peduli, “dia bukan adikmu, Park Myung Ho.”.
Jantungnya berdegup kencang.
“Mereka bukan orang yang sama, Hyojung-ah. Keduanya berbeda!” ucap Sunyoung dengan hati-hati, “Mungkin mereka memang memiliki nama, tanggal lahir, bahkan wajah yang mirip. Namun tetap saja mereka berbeda! Ku mohon jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini, ku mohon jangan bohongi ingatanmu sendiri, Hyojung-ah...” lanjutnya, “Aku..., tidak bisa melihatmu..., terus-terusan begini...”.
Sekeras apapun lelaki itu berkata, Hyojung takkan pernah menerimanya. “Jangan bicara yang macam-macam, Kwon Sun Young!”.
“Hyojung-ah,”.
“Pergi dari hadapanku! Sekarang!” gadis itu bangkit lagi, namun Sunyoung hanya mampu memandanginya, “Baiklah kalau kau tidak mau.”.
Tanpa pikir panjang, Hyojung segera angkat kaki dari tempatnya berdiri.
“Kau mau ke mana? Menemui Myungho?” seruan Sunyoung tak ayal membuat langkah Hyojung terhenti, “Kau mau mengajaknya bermain lagi? Seperti dia almarhum Myungho kecilmu?”.
Sunyoung tak terkejut ketika Hyojung berbalik, namun yang membuatnya terkejut adalah, “Plak!” sahabat kecilnya itu menamparnya.
“Sekali lagi kau berkata demikian, akan ku buat kau menyesal.” ancam Hyojung, “Myungho adalah adikku.”.
“Ya, adikmu,” Sunyoung membalas tatapan tajam itu, “hanya untuk saat ini.”.
Hari ini Sunyoung berhasil membuat Hyojung begitu membenci dirinya, membenci sosok seorang sahabat kecilnya. Hyojung berbalik dan pergi meninggalkannya dengan langkah berat. Dan di saat itu pula, Sunyoung tak kapoknya untuk berseru.
“Akan ku buktikan kalau Seo Myung Ho bukan adikmu!”.
Dalam hati Hyojung menggerutu, hari ini hari terburuknya. Dalam otaknya, ia melawan memorinya sendiri, memorinya yang sebenarnya. Lembaran memori itu hilang dan tergantikan dengan kebohongan yang dibuatnya sendiri ―untuknya sendiri.
***
Ponsel Jun berdering di siang bolong ini, “Tumben ada yang telepon.” gumamnya setelah memisahkan diri dari beberapa teman-temannya.
Begitu melihat nama Xu Ming Hao yang tertera di ponselnya dengan hanzi itu, Jun segera menerima panggilan tersebut.
“Minghao?”.
Ge, sudah beli tiket?” tanya Myungho.
“Sudah.”.
“Kapan mau pulang?”.
“Masih agak lama ―paling beberapa hari lagi.”.
“Begitu? Aku baru saja memesan tiket untuk dua orang ―kau dan aku.”.
“Tiket? Untuk kita?” heran Jun, “Kapan kau memesannya?”.
“Barusan.”.
“Barusan?!” Jun kaget “Buat kapan?”.
“Sekarang.”.
“Sekarang?! Kau gila, ya?!”.
“Loh? Ku pikir Gege juga mau ikut, makanya ku pesankan untuk dua orang.” kata Myungho, “Ya, sudah, aku berangkat sendirian saja. Mungkin tiketnya bisa ku batalkan.”.
“Tunggu, kau di mana sekarang?”.
“Di jalan ke bandara. Enggak, sih, ini sebenarnya mau ke halte dekat kampus. Aku pesan tiketnya via online. Siapa tau di bandara tiket yang satunya bisa dibatalkan.”.
“Oh, begitu.” gumam Jun masih menggunakan bahasa Mandarin, “Tapi apa kau sudah packing? Sudah pamit sama keluarga Park? Juga..., Hyojung...?”.
“Sudah ―jangan khawatir. Aku pulang juga biasanya gak lama-lama, kok.”.
Dari nada bicaranya Jun merasa ada yang aneh dengan bocah ini.
“Ya, sudah, Ge. Aku berangkat, ya. Maaf kali ini aku harus pulang duluan ―sudah kelewat kangen sama Mama soalnya.”.
“Gak papa, kok. Hati-hati, ya!”.
Begitu panggilan berakhir, Jun masih saja memikirkannya. Ada apa dengan Myungho? Tak ingin berlarut-larut, langsung saja Jun menyambar papan pesannya dan mengirim sesuatu pada seseorang yang dikenalnya.
***
“Akhirnya bisa pulang juga...” gumam Sunyoung sambil menggenggam sebuah handle dalam bis itu.
Dengan minuman dingin di tangannya, sesekali Sunyoung menempelkannya pada pipinya yang agak merah itu. Bekas tamparan Hyojung ―rupanya tamparan cewek luar biasa juga.
♫!” sebuah pesan sampai di ponselnya.

Junhui :
“Ada yang aneh pada Myungho.
Ia pulang hari ini.”

“Maksudnya pulang?” gumam Sunyoung, otomatis kalimat itulah yang ia ketik pada papan obrolannya bersama Jun, si pengirim pesannya barusan.
Kurang dari semenit bis yang ditumpanginya berjalan, dari jendela di hadapannya Sunyoung menangkap sosok yang dikenalnya berjalan menuju sebuah halte khusus di mana bis-bis yang berhenti di sana hanya melayani jalur-jalur tertentu, seperti luar kota atau bahkan langsung ke bandara.
“Myungho?” herannya.
Di lain tempat, Sunyoung dibuat terkejut ketika bis itu melewati rentetan beberapa toko. Dari salah satu toko, keluarlah seorang gadis yang dikenalnya dengan sangat baik. Gadis itu kemudian berlari tergesa-gesa.
“Hyo― Hyojung?!” kaget Sunyoung, “Jangan-jangan,”.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya, Sunyoung berlari ke arah supir bis. Dengan usahanya sendiri, ia memohon pada si supir untuk menurunkannya segera. Sayangnya, di daerah itu tidak ada halte.
“Sialan!” geram Sunyoung.
***
to be continued

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^