[FF] SICK part III (the last)

5:00 AM 0 Comments A+ a-

A note from Author...
Karena mood-nya nyampe banget, jadi Near menyarankan buat para Reader sekalian untuk membaca SICK ditemenin lagunya Tiger JK (ft. Jinsil) – Reset. Kalau bisa yang instrumental ya, biar gak ganggu konsentrasi pas baca. Fanfiction ini dan lagu tersebut mood-nya cukup nyatu.
Tapi nanti ada lagu lain yang diputar ―hampir― di bagian ending.
Happy reading!
Near

*****

 “Jadi, Hyojung menganggap Minghao adiknya?!” kaget Jun.
“Sssh...” tangan Sunyoung mengisyaratkan Jun untuk tetap tenang.
Meski malam itu hanya ada mereka berdua di jalan yang sama sepulangnya mereka dari latihan dance hari ini, tetap saja Sunyoung ingin melindungi gadis yang sudah dianggapnya lebih dari sahabat itu.
“Awalnya aku sudah mengira akan begini jadinya.” ucap Sunyoung.
Jun mendengarkan dengan seksama.
“Tiga bulan yang lalu, Park Ahjussi membawa mahasiswa bernama Seo Myung Ho itu ke rumah. Niat beliau memang baik, beliau ingin agar anak itu bisa tinggal dalam lingkungan keluarga lagi ―seperti di rumahnya di Anshan. Terlebih, Myungho mirip sekali dengan putera bungsunya yang meninggal lima tahun yang lalu itu.” jelas Sunyoung, “Memang benar, sih. Meski beda marga, namanya memang mirip ―sama-sama Myungho. Tanggal lahirnya juga ―meski Minghao memang dua tahun lebih tua dari Myungho. Dan ―bagiku― kalau saja almarhum Myungho masih hidup, mungkin dewasa ini akan terlihat mirip seperti Minghao.”.
“Kau mengetahuinya?”.
Sunyoung menjitak Jun, “Aku, kan, sahabat kecilnya Hyojung! Terlebih lagi keluarga kami sangat dekat ―dasar bodoh!” jengkelnya.
“Iya, iya.”.
Sunyoung pun melanjutkan. “Kelurga Park memang memiliki seorang putera bernama Park Myung Ho. Namun dia meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan, dan itu disaksikan sendiri oleh Hyojung.
Hyojung dan Myungho memang seringkali bertengkar, termasuk di hari itu.” lanjut Sunyoung, “Hari itu Myungho ketauan membawa MP3 Player milik Hyojung tanpa izin. Bukan itu saja, Myungho juga tak sengaja menjatuhkannya ke kolam ikan di sekolahnya. Apalagi belum genap sebulan Hyojung membelinya, dan gadget itu adalah hasil tabungannya. Tentu saja Hyojung marah besar, bahkan sampai mengusir Myungho dari rumah.
Hal ini justru memancing amarah Park Ahjussi, Ayah mereka. Bahkan sosok ramah seperti beliau bisa mengusir Hyojung dari rumah juga. Dari yang Ibuku ceritakan, Ayah Hyojung mengusir Hyojung dan melarangnya pulang hingga ia kembali bersama adiknya.
Hyojung berlari meninggalkan rumah dan mengejar ke mana Myungho pergi. Namun terlalu sulit baginya mengejar Myungho yang selalu menghindar darinya. Hingga akhirnya, Myungho berlari menyeberangi jalan raya dan...,”.
“Dan apa?” meski bisa menebak akhirannya, Jun masih saja bertanya.
Sunyoung menatap temannya itu, “Myungho tertabrak sebuah truk ―hingga nyawanya tak bisa diselamatkan.” ucapnya dalam, “Ia meninggal di tempat, dan di saat itu Hyojung lah yang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.” lanjutnya, “Itu adalah pemandangan mengerikan yang merusaknya secara emosional.”.
Jun masih mendengarkan.
“Meski dikenal suka bertengkar, Myungho dan Hyojung adalah kakak beradik yang kompak dan saling menyayangi. Itulah mengapa kepergian Myungho tersebut sangat memukulnya, apalagi saat itu keduanya dalam keadaan bertengkar hebat sebelum kecelakaan itu terjadi.” Sunyoung kelihatan murung, “Sejak saat itu, Hyojung tidak lagi seceria seperti hari-hari kami sebelumnya. Ia seperti orang sakit, setiap hari menanyakan Myungho. Aku tak tega melihatnya demikian, hingga akhirnya keluarga Park pindah untuk mencari suasana baru buat Hyojung.
Setelah terpisah selama beberapa tahun, akhirnya aku dan Hyojung bertemu di kampus yang sama. Kami kembali dekat. Dan tiga bulan yang lalu aku mendengar bahwa Park ahjussi membawa seorang mahasiswa yang mirip seperti putera bungsunya ke rumah, yakni Minghao. Selain untuk membantu Minghao, beliau ingin agar puterinya bisa hidup normal kembali dengan kehadiran Minghao yang mirip sekali dengan Myungho.
Namun bagiku, itu sama saja menyiksa Hyojung”.
“Maksudnya?”.
“Kau bisa lihat ia sekarang.” kata Sunyoung, “Ia menganggap Minghao itu Myungho, adiknya. Minghao diajak berselancar dalam memori Hyojung dan Myungho semasa kecil. Mana mungkin Minghao mengingatnya kalau ia tidak pernah mengalaminya? Ya, kan? Namun karena ia begitu menyayangi Hyojung, ia rela meladeninya, bahkan kalau perlu ia rela berpura-pura.
Berpura-pura menjadi Myungho kecilnya”.
***


SICK
part III (the last)

Author : Near
Genre : Family
Main Cast : OC, The8
Other Cast : Hoshi, Jun

Part I
Part II

***
“Sekarang?! Kau gila, ya?!”.
Seperti yang diduga, Jun pasti terkejut dengan ucapannya. Myungho sadar, ia sudah mengambil sebuah keputusan tanpa berpikir panjang. Bukan karena ia membeli tiket dadakan ―bukan itu.
“Loh? Ku pikir Gege juga mau ikut, makanya ku pesankan untuk dua orang.” kata Myungho, “Ya, sudah, aku berangkat sendirian saja. Mungkin tiketnya bisa ku batalkan.”.
“Tunggu, kau di mana sekarang?”.
“Di jalan ke bandara.” jawab Myungho, namun ia segera meralat, ”Enggak, sih, ini sebenarnya mau ke halte dekat kampus. Aku pesan tiketnya via online. Siapa tau di bandara tiket yang satunya bisa dibatalkan.”.
“Oh, begitu.” itu yang Myungho dengan dari balik ponselnya, “Tapi apa kau sudah packing? Sudah pamit sama keluarga Park? Juga..., Hyojung...?”.
Ah, nama itu. Myungho justru pergi karenanya hari ini. Hanya saja, ia tak ingin mengkhawatirkan Jun ―dan ia tak ingin urusannya dengan Hyojung diganggu.
“Sudah ―jangan khawatir. Aku pulang juga biasanya gak lama-lama, kok.” umpat Myungho ―meski kedengaran aneh.
Entah Jun mempercayai kata-katanya atau tidak, Myungho segera melanjutkan.
“Ya, sudah, Ge. Aku berangkat, ya. Maaf kali ini aku harus pulang duluan ―sudah kelewat kangen sama Mama soalnya.” sandiwaranya lagi.
“Gak papa, kok. Hati-hati, ya!”.
Myungho tak mengucapkan apa-apa lagi sebagai salam penutup. Langsung saja ia menyudahi panggilannya pada Jun dan bergerak menuju halte yang dimaksud.
Kepulangannya ke Cina kali ini bukan atas niat tulus seperti tahun sebelumnya, tetapi karena ia sudah lelah. Myungho lelah terus menerus membohongi Hyojung yang menganggap dirinya almarhum adiknya.
Awalnya karena kasihan dan rasa sayangnya, Myungho rela melakukan itu. Namun lambat laun, tingkah Hyojung itu tak bisa ditolerir lagi. Selain ia tidak mau terus berpura-pura, Myungho juga tidak ingin melihat Hyojung hidup dengan kebohongan seperti ini.
“Maaf, Nuna. Aku harus pergi.” gumamnya ketika Myungho menatap layar ponselnya. Fotonya bersama Hyojung terpampang sebagai wallpaper di sana.
Dan ia tetap pergi.
***
“Myungho.” terus saja itu yang Hyojung gumamkan, “Myungho!”.
Langkah kakinya membawanya keluar dari toko itu dan sampai sekarang Hyojung masih bingung harus ke mana ―yang penting ia bisa menemukan Myungho.
“Myungho!” dengan sedikit terisak, Hyojung berlari-lari kecil dan terus mengedarkan pandangan mencari di mana bocah itu berada.
“Hyojung-ah! Park Hyo Jung!”.
Seakan tak mampu mendengar seruan Sunyoung, Hyojung tetap melanjutkan langkahnya. Hingga pada akhirnya, Sunyoung mengejar gadis itu.
“Park Hyo Jung!” seru Sunyoung begitu ia berhasil menghentikan langkahnya, “Apa yang kau lakukan?!”.
Hyojung menghempas cengkeraman Sunyoung, lalu kembali berlari-lari kecil. Namun belum sempat ia berlari menjauh, Sunyoung menangkapnya lagi.
“Ku mohon jangan seperti ini ―jawab aku!!” ada rasa khawatir bercampur jengkel dalam ucapannya.
Sunyoung tak lagi terkejut jika harus melihat bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi itu. “Bantu aku menemukan Myungho... Aku tak ingin kehilangan dia ―lagi...” isak Hyojung.
“Kau harus sadar kalau dia,”.
“Bukan adikku ―benar.” Sunyoung terkejut mendengar Hyojung mampu mengucapkannya, “Myungho bukan adikku. Kau tau, sakit rasanya harus mengatakan hal itu. Tapi akan lebih sakit lagi jika aku harus kehilangan dirinya.”.
Sunyoung hanya mampu menatapnya nanar. “Ikut aku.” ucapnya kemudian.
Sambil menggenggam tangan Hyojung, Sunyoung membawanya ke tempat di mana ia sempat melihat Myungho tadi. Di antara kerumunan orang itu, keduanya menangkap sosok Myungho yang berjalan menjauh dari mereka.
“Myungho-ya!!” seru Hyojung yang dengan sembrono melepaskan diri dari genggaman Sunyoung.
“Sial. Park Hyo Jung!” geger Sunyoung, ia harus mengejar Hyojung yang lepas dari jangkauannya.
Gadis itu memang gesit, Sunyoung hampir tak mampu meraihnya kembali, apalagi ketika mereka harus berdesakan dengan beberapa pejalan kaki yang ramai di sana.
“Park Hyo Jung!”.
Sunyoung terperanjat setelah ia melewati kerumunan orang-orang tersebut. Ia melihat Hyojung berlari mengejar Myungho yang menyeberangi jalan menuju halte di hadapannya.
“Tidak. Tidak! Tidak!!” geram Sunyoung. Ia melihat rambu itu berubah warna ketika Hyojung hendak menyeberanginya. Lelaki itu berlari tergesa.
“Myungho! Seo Myung Ho!”.
Terkejut, Myungho terdiam dan berbalik ―bodohnya ia terdiam. “Nu..., na...?” kagetnya mendapati Hyojung berlari ke arahnya dengan begitu tergesa.
“Seo Myung Ho.” dan benar, Hyojung menyebutkan nama aslinya.
Namun apa yang membuat Myungho lebih terkejut lagi adalah, “Tiiinn!!” sebuah mobil yang hilang kendali mengarah padanya.
Di saat itu yang Myungho lakukan hanyalah diam, kakinya tak mampu bergerak.
“Brukk!” tanpa berpikir panjang Hyojung segera menyingkirkan Myungho dari tempatnya berdiri. Dan sayangnya, tidak ada hal lain yang Hyojung pikirkan setelah itu.
“PARK HYO JUNG!”.
“Braakk!!!”.
Meski kepalanya terbentur keras, samar-samar Myungho masih bisa melihat apa yang terjadi di belakangnya. Dalam hati ia menduga-duga.
“Tidak. Jangan.” ucapnya, “Nuna!!!”.
***
“Dor!” Hyojung terbangun ketika sebuah balon meledak di dekatnya.
Setelah mengerjap-ngerjapkan matanya, Hyojung mengedarkan pandangan. Ini tokonya Kim Ahjussi, kenapa ia bisa tertidur di sini? Apalagi di toko ini sepi, tak ada satu orang pun selain dirinya.
“Tap, tap, tap.” Hyojung menoleh ketika ia mendengar langkah-langkah kaki yang berlari di dekatnya.
Ia semakin dibuat bingung ketika mendengar tawa kecil si pemilik langkah tersebut. Hyojung menoleh ke segala arah, berusaha menangkap sosoknya.
Hyojung menangkap sosok yang mengintipnya dari daun pintu. Betapa terkejutnya ia begitu mengenali si pemilik sebagian wajah tersebut.
“Myung..., ho...?”.
Lari, pemuda itu berlari menjauhi Hyojung.
“Tunggu! Myungho-ya!” gadis itu segera berlari mengejarnya. Sebenarnya ia sendiri tak yakin, apakah pemuda itu Myungho alias Minghao atau justru Myungho adiknya.
Hyojung berlari di bawah sinar mentari senja. Anehnya, tak ada seorang pun di sekitarnya. Hyojung mengenal tempat ini ―daerah rumahnya dulu. Tapi tak ada seorang pun di sini.
“Nuna.”.
Hyojung berhenti begitu mendengar panggilan usil itu. Bayang-bayang pemuda yang dikenalnya sebagai Myungho itu lewat beberapa kali di antara gang-gang kecil di kanan kirinya.
Anehnya bayangan itu menyusut, dari yang awalnya Myungho dewasa perlahan-lahan menjadi Myungho kecil yang terakhir kali dilihatnya lima tahun yang lalu. Bayangan Myungho kecil itu menyelinap di antara dua perosotan di taman sana.
Hyojung segera mengejarnya dan berlari ke arah perosotan itu, namun tak ada siapa pun di sana. Myungho, pasti Myungho adiknya ―tidak salah lagi. Hyojung terdiam.
Di saat itulah seorang pemuda mengendap-enap di belakangnya dan, “Jjan!!” mengejutkannya.
Hyojung terloncat kaget dan berbalik menghadap pemuda itu. Ia terkejut bukan main melihat seorang Myungho dewasa di belakangnya.
“Nuna kaget, ya?” usilnya.
“Bruk!” Myungho terkejut begitu kakaknya tersebut memeluknya dengan sangat erat, terlebih kakaknya itu menangis dalam dekapannya.
“Nuna, jangan menangis.” Myungho mengusap-usap kepala Nuna-nya tersebut. Lalu mereka saling bertatapan, “Uljima, Nuna-ya.” cengirnya sambil menghapus air mata itu.
Hyojung masih tersengguk hebat. “Kau,” ucapnya susah payah, “kau pasti,”.
“Myungho, Park Myung Ho.” senyum Myungho, “Beginilah sosokku kalau aku dewasa, Nuna.”.
Lagi, Hyojung tak mampu menahan isakannya. “Kalian..., benar-benar mirip...” disentuhnya pipi Myungho, “Nuna sangat rindu padamu...”.
“Aku juga sangat rindu pada Nuna...” Myungho menggenggam tangan yang membalut pipinya tersebut.
***
“Kau tinggi, dan cukup tampan.”.
“Apa maksudnya cukup tampan?”.
Di bawah sinar mentari, di senja yang tidak ada akhirnya ini, mereka duduk di bangku taman itu. Myungho menyandarkan kepalanya di bahu mungil Hyojung. Kedua tangan mereka saling menggenggam seperti tak ingin terpisah lagi.
Hyojung menoleh pada adiknya.
“Aku ini tampan ―sangat tampan!” protes Myungho yang bangkit dari bahunya.
Hyojung tersenyum, “Tampan ―sangat tampan” ucapnya sambil mengusap pipi Myungho.
“Kau lapar, Nuna?” tanya Myungho, tau-tau dua bungeo-ppang rasa kacang merah sudah ada di tangannya.
“Dari mana kau,”.
“Sudah, makan saja.” Myungho segera membuka kemasan es krim ikan tersebut yang langsung diberikannya pada Hyojung. Barulah ia membuka yang satunya untuk dirinya sendiri.
Lama sekali Hyojung tak pernah merasakan kebersamaan ini lagi. Apalagi kini Myungho, adiknya yang sebenarnya, menemaninya menikmati bungeo-ppang favorit mereka. Rasanya jauh lebih nikmat dari yang pernah mereka rasakan waktu kecil.
Senja tak juga berakhir, seakan sengaja mentari tak tenggelam ke peraduannya hanya untuk menemani mereka berdua. Bahkan Hyojung baru tersadar akan hal itu kemudian.
“Apa Nuna suka es krimnya?” tanya Myungho ketika sang kakak mendongak ke arah langit.
Hyojung segera menatapnya, “Apa aku,” ucapnya ragu, “sudah mati?”.
Myungho meliriknya.
“Apa aku bisa pergi bersamamu, Myungho-ya?” tanyanya kembali.
Dengan mulut masih terisi es krim, Myungho berujar, “Tentu saja tidak.” ucapnya ringan.
Hyojung terperanjat, “Mwo?”.
“Tidak, Nuna. Tidak bisa.”.
“Kenapa tidak?”.
“Karena belum waktunya.”.
Lagi, Hyojung terdiam. Hatinya mengkerut, harapannya untuk kembali bersama adiknya pupus sudah. “Belum..., waktunya...?”.
“Kau harus kembali, Nuna. Bersama Appa dan Umma, bersama Sunyoung Hyung, dan juga...,” kata Myungho, “Minghao Ge...”.
Nama itu, nama yang terakhir disebutkan adiknya. “Minghao...” gumam Hyojung.
Myungho mengangguk, “Kau tidak ingin membuat mereka khawatir, kan? Apalagi Umma. Umma pasti sangat mengkhawatirkan Nuna.” katanya, “Tolong, pulanglah, Nuna. Kembalilah bersama mereka.” diusapnya noda es krim di sekitar bibir kakaknya itu.
Hyojung tak bergeming, tak bisa mengutarakan apa-apa. Perasaannya hancur, tak bisa dibendung. Kali ini, air mata kesedihan jatuh dari pelupuk matanya.
Baru saja ia bertemu adik yang dirindukanya, dan kini ia harus berpisah dengannya?
“Myungho-ya,” lirihnya, sambil menghapus sisa es krim di bibir adiknya ―bocah itu memang tidak becus kalau makan es krim.
“Nuna,” Myungho memohon sekali lagi, “aku tidak ingin melihat Nuna menangis.”.
Rasanya seperti teriris, namun Hyojung berusaha menjadi gadis yang kuat untuk adiknya. Ia segera menghapus air matanya sendiri, “Baiklah.” bahkan berusaha tersenyum meski ia tak mampu.
Myungho tersenyum miris.
“Nuna tidak akan menangis lagi ―yaksok?”.
“Yaksok.”.
“Nuna akan jadi gadis yang kuat?”.
Untuk sejenak Hyojung terdiam, “Ne, yaksok.” jawabnya tegas.
Myungho menghadiahkan kecupan di dahinya. Awalnya Hyojung terkejut, namun ia membalas dengan mencium pipi adiknya tersebut.
“Nuna akan pulang?” tanya Myungho, Hyojung mengangguk.
Kakak beradik itu pun bangkit dari kursinya. Kedua tangan yang berpegangan erat sekarang perlahan-lahan terlepas, Hyojung berjalan mundur meninggalkan adiknya dengan langkah sangat berat.
Ketika kedua tangan itu terlepas, Myungho melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. “Jaga dirimu baik-baik.” ucapnya, “Aku sayang Nuna.”.
“Nuna pun demikian.” seperti itulah arti senyuman Hyojung.
Semakin jauh, pandangan Hyojung menjadi aneh. Myungho terlihat mengecil, yang tadinya dewasa perlahan-lahan menjadi Myungho kecil lima tahun yang lalu.
Hyojung pasti akan merindukannya.
Dua bungeo-ppang yang tertinggal setengah di atas bangku taman itu tak meleleh juga, seakan sengaja bersama mentari senja menemani mereka hanya untuk saat ini.
Hyojung berbalik ketika ia sudah berjalan jauh, namun tak ada lagi yang diingatnya setelah itu.
***
Tangan itu masih digenggamnya. Seakan sepenuh hati menjalankan amanat yang dititipkan kepadanya, Sunyoung terus saja berjaga di samping gadis itu berbaring.
Ini sudah hari kedua Hyojung koma, namun yang ia dengar dari Ayahnya Hyojung kalau puterinya itu sudah mulai menunjukkan perkembangan yang baik.
“Kau bisa merasakan sentuhanku?” tanya Sunyoung pada Hyojung, “Kau bisa mendengarku?” tanyanya meski ia tau Hyojung takkan menjawab.
Sunyoung menghela nafas.
“Aku tau kita mengenal lebih dari sahabat, kita berteman sejak kecil.” ujarnya, “Biasanya sahabat kecil, ya, tetap akan jadi sahabat sampai kapanpun juga. Tapi aku berbeda.” cengirnya, “Aku malah menyukai sosokmu yang keras, agak lucu, dan manis itu. Dan aku tau, perasaanku takkan pernah kau balas, karena kau hanya menganggapku sebagai sahabat.”.
Ia pandangi Hyojung yang masih tak bergeming.
“Ya, itu..., gak buruk juga...” canggung Sunyoung, “Daripada kita menjalin suatu hubungan, lalu kandas di tengah jalan dan kita saling membenci kemudian. Yap, masih lebih baik kita bersahabat.” angguknya, “Siapa tau suatu hari nanti, justru akulah yang kau pilih untuk,”.
“Greekk.” ucapan Sunyoung terputus ketika pintu itu bergeser. Munculah Myungho bersama Junhui yang segera memasuki ruang rawat Hyojung.
“Kau menjaga Nuna-ku dengan sangat baik, Hyung.” cengir Myungho yang segera menutup pintu.
“Ngaret ―maaf, ya.” ucap Jun yang duduk di tempatnya kemudian.
“Bisa dimengerti, kok.” Sunyoung memberi hormat singkat padanya.
Hyung, belum makan, kan?” Myungho melempar sebungkus roti yang tadi dibelinya.
Sunyoung menangkap pemberian itu, “Gomawo.” ucapnya.
“Nanti orangtua kalian datang ke sini?” tanya Jun.
“Orangtua Nuna?” tanya Myungho balik.
“Ah, sudahlah, mereka, kan, juga orangtuamu.”.
“Iya, iya.” jawab Myungho, “Nanti malam mereka ke sini.”.
“Hei, kalian tau aku belum fasih bahasa Mandarin, kan?” Sunyoung bergurau lagi.
“Jadikan saja ini ajang pembelajaran, Sunyoung-ah.” kata Junhui dalam bahasa Korea.
“Oke, 2 lawan 1 ―aku kalah.”.
Ketiga pemuda itu terkekeh saling menertawakan, namun diam-diam Myungho tersenyum ke arah Hyojung.
Nuna, bangunlah. Ayo bergurau bersama kami lagi.” batin Myungho.
***
“Bagaimana dengan dahimu?”.
“Sudah agak mendingan, kok.”.
Malam ini, sayangnya hanya Ibu yang datang menjaga Hyojung. Meski demikian, Myungho enggan beranjak dari sana, dari tempatnya berjaga.
“Coba Umma lihat.” si Ibu mendekat, “Ini harus diganti. Sini.”.
Sambil membawa kotak obat-obatan, Ibu segera mengganti perban yang membalut luka di dahi bocah itu. Myungho merasakan kasih sayang Ibu lagi.
“Jadi merepotkan Umma.” ucap Myungho.
“Tidak, tidak.” Ibu hampir selesai, “Jangan pernah merasa begitu ―Umma juga Ibumu, sayang.”.
Myungho tersenyum mendengarnya.
“Nah, sudah selesai. Kau sudah makan?” tanya Ibu yang segera mengambil coat yang tadi digantungnya, “Umma keluar sebentar, ya. Kau di sini, jaga Nuna-mu. Umma akan beli makanan untuk kita berdua.”.
“Oke.”.
“Blam.”.
Myungho menghela nafas ketika Ibu meninggalkannya bersama Hyojung di ruangan. Bocah itu kembali memandang ke arah gadis yang telah dianggapnya sebagai kakak itu.
Nuna,” panggilnya setelah beberapa menit tak bersuara, “mianhae.” ucapnya.
Myungho menggenggam tangan itu.
“Aku yang menyebabkan Nuna jadi seperti ini ―geureom mianhae...” bocah itu tertunduk, “Tak hanya Nuna, tapi aku juga menyulitkan Umma dan Appa, serta orang-orang terdekat lainnya... Aku benar-benar menyesal...
Tapi, Nuna, aku sayang Nuna. Aku merindukan Nuna. Aku ingin Nuna kembali, dan kehidupanku menjadi normal seperti sedia kala.” Myungho menahan air matanya, “Kalau saja hari itu aku tidak gegabah, mungkin Nuna tidak akan,”.
“Seo Myung Ho...”.
Myungho terperanjat ketika mendengar suara yang begitu lemah memanggilnya. Ia mendongak dan mendapati Hyojung memanggilnya.
“Myungho...”.
Nuna?”.
Gadis itu membuka matanya dan kini menatapnya dengan tatapan sayu. “Myungho...”.
“Ini aku, Nuna ―Myungho. Ini aku.” Myungho merapatkan posisi duduknya, sambil menekan sebuah tombol yang sudah disediakan, “Sebentar lagi dokter akan datang, Nuna.”.
Mianhae.”.
Apa katanya? “Tidak ada yang perlu kau sesali, Nuna. Justru akulah yang salah.” kata Myungho, tak lama berselang seorang dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan.
Mian.”.
“Tidak, Nuna.” hanya itu yang bisa Myungho sampaikan sebelum dokter dan dua perawat itu memintanya untuk menyingkir sejenak.
***
“Tap, tap, tap.” begitu melihat sosok Myungho, Sunyoung tak bisa menahan langkahnya lagi. Ia berlari mendekatinya.
“Hyojung sudah siuman?” itulah yang pertama Sunyoung ucapkan di dekatnya.
“Sudah.” senyum Myungho, lalu mengisyaratkan Sunyoung untuk memandang ke dalam ruangan.
Dari pintu yang terbuka, terlihat orangtua Hyojung ada di sana ―sang Ayah berdiri di dekat pintu sementara sang Ibu duduk tak jauh dari puterinya. Si dokter beserta perawatnya yang kini berjumlah tiga orang masih di ruangan. Dan Myungho berada di luar untuk mengurangi volume di ruang rawat tersebut.
Annyeong haseyo, Abeonim.” sapa Sunyoung ramah begitu Ayah Hyojung menangkap kehadirannya.
“Malam-malam begini kau ke sini?” kaget beliau, “Sudah izin sama orangtuamu?”.
“Sudah, Abeonim.” senyum Sunyoung.
“Benar, jangan sampai hanya untuk menjenguk sahabatmu saja membuat orangtuamu khawatir, ya.” beliau menasehati.
“Myungho,” panggilan lembut sang Ibu mengalihkan perhatian ketiganya.
Sang Ibu mengisyaratkan pada Myungho untuk datang mendekat. Myungho pun segera masuk ke ruangan dan duduk di samping Hyojung. Ketika keduanya sedang mengobrol hangat, para perawat dan dokter itu pun menyelesaikan tugasnya.
“Tn. Park,” dokter itu menghadap Ayahnya Hyojung, “puteri Anda mengalami kemajuan pesat. Dengan begini dalam waktu dekat, puteri Anda bisa segera pulang.”.
Tak hanya Ayahnya Hyojung, tapi Sunyoung pun juga ikut tersenyum.
Gamsa hamnida, Uisa-nim.” ucap beliau dengan sangat riang.
“Mohon diperhatikan lagi pola makannya,” dokter itu melanjutkan, “lukanya juga sudah membaik tapi masih perlu.....,”.
“Sunyoung Hyung.” ketika mendengar penjelasan dokter itu, Sunyoung mendengar Myungho memanggilnya.
Dilihatnya bocah itu memintanya mendekat dan mengobrol bersama Hyojung. Tanpa ragu, Sunyoung pun menghampirinya.
“Hyojung-ah,” cengir Sunyoung.
“Kwon Sun Young, mianhae.” justru itu yang Hyojung ucapkan.
Membuat kedua pemuda ini terkejut. “Aduh, Nuna ngomong apa, sih?” Myungho menetralkan suasana, “Ku bilang tak ada yang perlu disesalkan.”.
Hyojung dan Sunyoung saling bertatapan.
“Oya, Nuna. Ngomong-ngomong, aku, Sunyoung Hyung, dan Junhui Ge sepakat untuk mengajak Nuna liburan ke Cina ―sebagai tanda kembalinya Nuna!” ujar Myungho sumringah, “Begitu kondisi Nuna sudah cukup fit untuk berpergian jauh, barulah kita berempat berangkat ke Cina.”.
Tanpa sadar, kedua sahabat itu saling melemparkan senyuman.
Nuna maunya ke mana?” pertanyaan Myungho membangunkan Hyojung dari dunianya bersama Sunyoung.
“Pantai ―kalau bisa pantai.” jawab Hyojung.
“Asik ―pantai!” girang Myungho, “Tuh, sudah ku bilang, kan, Hyung? Nuna dan aku sukanya pantai!!”.
“Iya, iya. Kita liburan ke pantai.” kata Sunyoung.
“Aku tau pantai yang bagus!”.
“Di mana?” tanya Hyojung.
“Rahasia!” cengir Myungho.
“Huu.. Dasar..” celetuk Sunyoung.
“Nanti kalau Nuna tau, kan gak sureprise.”.
“Iya, deh.” balas Hyojung.
***
[SEVENTEEN - 20]
Seminggu kemudian...
Hembusan angin, kicauan camar, juga aroma laut. Senangnya, setelah akhirnya sembuh total, Hyojung bisa langsung me-refreshing diri seperti ini.
“Tap, tap, tap.”.
“Quan Shun Rong!!”.
Hyojung berbalik dan menemukan Sunyoung dan Junhui sedang kejar-kejaran. Sunyoung memaksa pemuda pendiam itu mengejar-ngejarnya yang mengambil salah satu pakaian pentingnya.
Ge, di sini! Di sini!” tak lama suara Myungho menyusul dengan bahasa Mandarin.
Hyojung pun melangkah keluar dari kamarnya, dan menemukan ketiganya di ruang tengah. Jun menghampiri Sunyoung yang sudah tak berkutik lagi dalam genggaman Myungho.
“Nah, kena kau!” ucap Jun dalam bahasa Korea.
Andwae! Andwaeji!!” Sunyoung masih berusaha memberontak, “Apa Mandarinnya? Bu yao. Bu yao!” di tengah situasi ‘berebutan’ itu Sunyoung masih saja bisa bergurau.
Cekikikan Hyojung kemudian membuat ketiganya terdiam sejenak. Ups, ada seorang gadis melihat pakaian pentingnya, Jun segera merebut pakaian tersebut dari tangan Sunyoung yang masih terbengong.
Nuna sudah bangun!” sambut Myungho, sementara dengan agak canggung Sunyoung melepaskan diri dari genggamannya.
***
Bada....!!!” seru ketiga pemuda itu begitu menyambut pantai di dekat penginapan mereka.
Bermain-main di pantai, melepaskan semua masalah dan penat yang dipikul selama ini. Mencari-cari binatang laut di dalam pasir, atau bermain-main dengan ranting di tangan. Tak lupa berfoto dan menyimpan video.
Ke pantai tak lengkap rasanya jika bermain air, jadi keempatnya bermain-main membasahi satu sama lain dengan percikan air laut, atau menceburkan salah satu dari mereka ke sana.
“Basah!!” seru Sunyoung yang sekujur tubuhnya basah, namun tak ada yang kasihan padanya ―malah Jun, Myungho, dan juga Hyojung menertawainya.
Puas main di pantai, keempatnya kembali ke penginapan untuk mandi dan ganti baju. Tak jauh dari pantai ada sebuah pasar malam yang cukup ramai ―tujuan mereka selanjutnya.
“Makanan apa ini?” tanya Hyojung.
“Nah, Nuna harus coba yang satu ini!” seru Myungho yang lantas memesankan makanan tersebut untuknya.
Berburu makanan, dan karena ada satu gadis di antara mereka jadi keempatnya tidak terlalu banyak membawa belanjaan. Tapi yang namanya belanja tak bisa dilewatkan.
“Aku senang kita bisa makan banyak.” cengir Junhui.
“Hei, jangan jajan banyak-banyak,” ingat Sunyoung, “kita masih punya BBQ party di dekat penginapan.”.
“Jadi makanan yang kita beli ini buat nanti BBQ-an?” kedengarannya Jun agak kecewa, “Padahal baru mau dimakan.” ucapnya, kemudian Sunyoung merebut sosis yang Jun pegang.
Sudah agak larut, keempatnya kembali ke penginapan. Tempat mereka ber-BBQ-ria memang tidak di tempat mereka menginap, tapi agak jauh lagi. Tempatnya lebih dekat lagi dengan pantai, cukup dijangkau dengan berjalan kaki saja.
Dalam hal ini, Hyojung jagonya. Dengan telaten ia menyiapkan bumbu-bumbu penyedap buat BBQ-nya. Sunyoung tak lagi heran, ia pun sudah siap jika harus diperintah gadis itu untuk menyiapkan ini dan itu ―alat-alat berat.
Aroma dari panggangan cukup membuat ketiga pemuda itu tergoda. Tak salah lagi, Hyojung memang masternya!
“Kembali duduk sana! Belum matang!” protes Hyojung yang dikerumuni Jun dan Myungho.
Sembari menunggu dagingnya matang, keempatnya bermain beberapa permainan ―sekaligus mengenang masa kecil. Justru yang seperti inilah yang namanya the real healing.
Makin lama, permainan makin ngawur, dan di saat itulah gelak tawa mereka meledak. Untunglah, panggangan Hyojung sudah matang ―game pun diakhiri.
Jal meog-gesseumnida!!” seru ketiga pemuda itu.
Jal meogeo, aedeurah.” ucap Hyojung.
Rupanya masakan Hyojung memang yang paling hebat. Para pemuda itu mengacungkan jempol buatnya.
Daebak!” ucap Jun.
“Sudah ku bilang,” kata Sunyoung, lalu mengepalkan tangan tanda hormat pada Hyojung, “Dia memang Master!”.
“Haha, bisa saja kau.” celetuk Hyojung.
“Aku nambah, ya.” Myungho menyambar salah satu daging.
“Yang itu punya Sunyoung,” Hyojung menahan gerak sumpitnya, “khusus buatnya, jadi rasanya gak pedas.”.
Aigoo, Hyojung-ah..” gerutu Sunyoung, aibnya terumbar sudah.
“Oh? Mian.” ceplos Hyojung yang tanpa sadar sudah mengungkap kejelekan Sunyoung ―Jun dan Myungho pun terkekeh jadinya.
***
“Haduh, yang bikin penginapan ini cerdas juga, ya?” celetuk Jun.
“Kenapa?” tanya Myungho.
“Iya, dia sengaja menempatkan balkon tempat BBQ party agak jauh dari tempat para pengunjungnya menginap. Supaya begitu selesai makan di BBQ party, pengunjungnya bisa membakar kalori karena harus berjalan kembali ke penginapan.”.
Penjelasan Jun itu tak ayal membuat Myungho tertawa lepas. Bagaimana bisa Junhui berpikir sampai sejauh itu?
Memang, tempat keempatnya BBQ party merupakan sebuah balkon khusus untuk acara-acara outdoor, seperti BBQ party mereka. Selepas BBQ party, keempatnya harus berjalan kembali ke penginapan mereka ―yang pastinya cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Sementara Jun dan Myungho terus saja bergurau berduaan, Sunyoung dan Hyojung berjalan membuntuti keduanya.
“Menurutmu, hari ini bagaimana?” tanya Sunyoung.
“Lebih dari menyenangkan.” Hyojung tersenyum lebar, “Semua musibah yang aku alami, semuanya... Sekarang aku bisa mengambil hikmahnya dan menelan pahitnya...”.
Sunyoung masih memandangi Hyojung.
“Apalagi pergi liburan seperti ini, makin membantuku menelan semua pil pahit dalam hidupku.” kini giliran Hyojung yang menatap Sunyoung, “Gomawo.”.
Perlahan-lahan, senyuman itu terukir di wajahnya.
“Uh, kau tau,” Sunyoung mengalihkan pembicaraan, “sebenarnya aku butuh waktu ―yah, hanya kau dan aku.”.
Tiba-tiba saja Hyojung merasakan tangannya digenggam, dan langkah keduanya berhenti. Sementara Jun dan Myungho meninggalkan mereka tanpa sadar.
“Aku tidak akan melakukan gobaek seperti waktu kecil dulu ―kedengarannya bodoh.” kata Sunyoung, “Dan aku tidak akan memintamu untuk menganggapku lebih. Jadi,”.
“Jadi?” Hyojung menagih.
Ah, sial! Semua yang Sunyoung rencanakan hancur sudah begitu gadis itu menyelam ke dalam tatapannya. Ya Tuhan, gerutu Sunyoung.
Neo na jal ara. Kita berdua mengenal dengan sangat baik.” Sunyoung menggenggam kedua lengan itu, “Jadi, aku rasa, mungkin kita tidak perlu hubungan khusus.”.
“Sahabat?”.
“Bukan, maksudku, aduh,” Sunyoung mulai kacau.
“Jadi?” tagih Hyojung lagi.
Tidak, kenapa semuanya berantakan begini?! Rasanya Sunyoung ingin menendang sesuatu karena sangking jengkelnya. Tapi otaknya benar-benar tak ada gunanya saat ini.
Tak mampu mengingatnya step by step, Sunyoung melangkah terlalu jauh dari what to do list yang dibuat otaknya.
“Cup.” dikecupnya singkat bibir itu.
Hyojung terkejut.
“Maaf, aku gak tau lagi mau ngomong apa.” dalih Sunyoung kemudian, “Kau pasti membencinya ―ya, kan?”.
Namun apa yang Sunyoung temukan kemudian? Justru Hyojung tersenyum padanya. “Nappeuji anayo. Gak buruk juga.” katanya.
Apa? Bisa katakan sekali lagi? Rasanya ia ingin meledak. Sunyoung berharap apa yang ditangkap telinganya itu tidak salah.
Namun dengan sembrono, Sunyoung malah menciumnya bibirnya lagi ―kali ini benar-benar menciumnya. Antara terlalu senang, atau mungkin Sunyoung memang benar-benar bodoh. Tapi yang membuatnya makin senang adalah Hyojung membalas ciumannya.
Oh, astaga.
Selepasnya, Sunyoung tak berkata apa-apa, yang ia lakukan hanyalah menatap gadis di hadapannya tersebut.
“Jadi, biarkan saja orang-orang tau kalau kita hanya sahabat.” ucap Hyojung kemudian.
Eh?
“Apa...?” ulang Sunyoung ―apa mungkin maksudnya mereka lebih dari sekadar itu?
Ucapan Hyojung yang meninggalkan tanda tanya itu semakin membingungkan ketika gadis tersebut berkata kembali, “Sebelum aku memanggang, apa kau yang menyiapkan panggangan?” tanyanya.
“Ya.” jawab Sunyoung.
“Kau yang menyiapkan meja dan berbagai alat berat lainnya?”.
“Ya.” Sunyoung belum juga paham, “Lantas?”.
“Apa di masa depan nanti, kau yang akan melakukannya untukku?” tanya Hyojung.
Kembali tanda tanya itu memukul kepalanya. Atas dasar apa Hyojung berkata seperti itu? Sunyoung seperti menangkap sebuah tanda dari ucapannya.
“Kau kah itu?” tanya Hyojung lagi.
Tak salah lagi ―itu dia maksudnya! Sekarang Sunyoung paham betul maksud ucapannya. “Tentu saja.” senyumnya penuh arti, “Bukankah itu kewajibanku?” sinyalnya.
Hyojung hanya terkekeh, disusul cengiran Sunyoung.
Kaja, Myungho dan Junhui pasti mencari kita!” Sunyoung terkejut ketika Hyojung menggenggam tangannya lalu menariknya pergi dari tempat sepi itu.
Hyojung membawanya menyusul Myungho dan Junhui yang sudah jauh di depan sana.
“Hoi, ngapain aja baru sampai situ?!” seru Junhui melihat Sunyoung dan Hyojung malah tertinggal jauh di belakangnya.
“Biasalah,” kata Hyojung.
“Namanya juga sahabat kecil.” sambung Sunyoung.
Merasakan mereka semakin ‘menyatu’, Sunyoung dan Hyojung saling bertatapan. Ada maksud di balik senyuman mereka.
Kaja, Nuna, sudah malam.” gerutu Myungho.
“Sabar, dong!” protes Sunyoung.
“Iya, Nuna ke sana.” ujar Hyojung lembut.
***
END
***


감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^