[FF] SICK part I

4:34 AM 0 Comments A+ a-

A note from Author...
Baca SICK, enaknya ditemenin lagu OST. School 2015 yang Tiger JK (ft. Jinsil) – Reset. Lebih baik, lagunya berupa instrumental, jadi gak terlalu ganggu konsentrasi pas bacanya.
Happy reading!
Near

*****

“Aku membencimu!”.
Seketika hari itu ia berlari keluar rumah seperti pertengkaran kami biasanya. “Pergi sana, dasar anak manja!!” gertakku tak peduli.
Namun ketika aku berbalik, ku temukan sosok Ayah bergeram melihat tingkahku. “Sekarang juga kau keluar!!”.
“Sayang,” pinta Ibu pada beliau.
“Keluar dan jangan kembali sampai adikmu pulang!!” lanjut Ayah.
Aku bergidik ngeri. Hampir tak pernah Ayah memarahiku seperti itu, beliau membuatku merinding di siang bolong ini.
Membantah, bahkan berkata sepatah katapun, aku tak sanggup. Aku tak bisa melawan Ayah yang sudah begini. Sosok Ayah adalah pribadi yang lembut dan selalu tersenyum. Melihat beliau seperti ini, aku tak bisa apa-apa.
“Sayang, jangan seperti itu, Hyojung kan perempuan.” ralat Ibu.
Namun Ayah bersikeras. “Bawa adikmu kembali! Dan jangan pulang sebelum kau kembali bersamanya!”.
“Sayang,”.
Dengan isakan tertahan di tenggorokan, aku bergegas dan berbalik. Ku tabrak pintu rumah dan segera berlari mencari kemana anak itu pergi.
“Park Hyo Jung!” Ibu yang tak tega melihat puterinya pergi pun mengikutiku dengan susah payah di belakang.
Hari ini terasa menyebalkan seumur hidupku, hingga tak terasa aku berlari sambil menitikan air mata. Sebenarnya anak itu yang salah! Kenapa aku yang ‘diusir’ dari rumah?!
Pertengkaranku dengan adikku memang biasa terjadi di rumah, namun mungkin kali ini berbeda. Tidak, memang berbeda.
Aku marah besar padanya yang telah membawa MP3 Player hasil tabunganku ke sekolahnya tanpa izin. Dan sialnya lagi, ia tak sengaja menjatuhkan gadget yang belum genap sebulan ku beli itu ke dalam kolam ikan di sekolahnya. Tentu saja aku marah besar.
Oh! Di sana, ku temukan sosoknya mematung di sana.
“Myungho-ya!!” seruku.
Mendengar suaraku, bocah itu lantas kabur dan berlari menjauh. Dasar bodoh, kembali kau!! Kalau tidak aku gak akan bisa pulang!!
“Park Myung Ho! Kembali ke sini!” seruku sambil mengejarnya, “Aku harus membawamu pulang!! Appa memarahiku!!”.
Shireo! Nuna pasti hanya memancingku supaya bisa memukulku!” teriaknya, “Aku gak bisa dibohongi lagi!!”.
“Park Myung Ho! Percaya padaku!”.
Tapi bocah itu berlari menyusup di antara kerumunan orang-orang yang berjalan di pinggiran jalan raya tersebut. Sial, bocah bertubuh kecil seperti dirinya memang sangat mudah menyelinap, sementara aku harus kesulitan.
“Hyojung-ah! Myungho-ya! Kembali, anak-anak!” ku dengar suara Ibu di belakang.
Sial, kenapa kau tak percaya padaku?! Tidakah kau dengar suara Ibu di belakang sana?!
Terlepas dari kerumunan orang itu, ku dapati adikku berdiri mematung di depan zebra cross. Begitu melihatku, ia segera berlari menyeberangi jalan.
“Myungho-ya, kembali!!” seruku mengejarnya.
Namun tak lama, “Tiiinnn!!!”.
“Braaakkk!!!”.
Tap. Satu langkahku terhenti.
Deg. Di saat itu aku membeku.
Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Bodohnya aku, kenapa aku tak lantas mengejarnya ke sana?! Kenapa aku hanya mampu membekap mulutku...,
dan menyesal...?
“Tidak mungkin,”.
***


SICK
part I

Author : Near
Genre : Family
Main Cast : OC, The8
Other Cast : Hoshi, Jun
Cameo : Dino


***
“Myungho-ya!!” seruku, terbangun hebat dari mimpi burukku pagi ini. Berpeluh dan nafasku begitu berat.
Nuna, ini aku.”.
Sontak mendengar suara itu aku langsung menoleh, lalu terkejut.
“Aku mendengar kau memanggilku berulangkali, jadi aku datang ke kamarmu, kemudian Nuna,”.
“Bruk!” aku segera memeluknya ―adikku. Leganya, aku masih memilikinya. Dia masih ada di sisiku.
Nu, Nuna, kau kena―”.
Seketika Myungho terdiam, “Hik, hik,” begitu mendengar isakan kecilku. Tak lama berselang, ia mengusap-usap punggungku sayang.
***
“Permen..., kapas...?”.
Aneh, Myungho aneh sekali sore ini.
“Iya, permen kapas.” kataku, “Kau dulu sangat menyukainya! Kita, kan, seringkali membelinya tiap sore ―sewaktu masih tinggal di sini. Apalagi waktu sekolah dasar.”.
Myungho hanya menggaruk-garuk kepalanya.
“Ah, gitu saja lupa.” decakku.
Tanpa basa-basi, aku segera menariknya ke toko itu. Aku mengajaknya berkeliling dan melihat-lihat makanan yang kami suka di sana.
“Belilah yang kau suka.” kataku.
Namun Myungho hanya terdiam. Yang ia ambil justru sebatang permen dan coklat wafer. Sangat tidak wajar. Atau mungkin karena sekarang ia sudah besar, jadi ia tidak memakan makanan masa kecilnya?
“Kau tidak beli permen karetnya? Itu, kan, favoritmu.” koreksiku.
Myungho hanya mengangguk kecil, “I, iya benar.” jawabnya sambil tersenyum tipis. Lalu mencari-cari letak permen karet yang ku maksud.
“Permen karetnya di sana.” aku menunjuk tempat yang tak jauh darinya.
Dengan kikuk Myungho mengambil permen karet itu asal. Hm, bocah ini sudah lupa rupanya. Harusnya ia sudah hafal letak-letak jajanan kesukaannya di toko ini.
“Ada bungeo-ppang.” aku mengambil es krim berbentuk ikan itu dari dalam freezer.
Myungho pun mengikuti. Namun yang diambilnya justru bungeo-ppang rasa cokelat.
“Gak mau yang kacang merah?” tanyaku, lagi-lagi mengoreksi kebiasannya sewaktu kecil.
“Mm..., mau coba yang cokelat.” jawab Myungho kaku.
Tumbennya bocah ini. Tapi, ya, sudahlah kalau memang ia sudah bosan dengan jajanan masa kecilnya itu. Karena seingatku, rasa bungeo-ppang favorit kami sama : kacang merah.
“Berapa semuanya?” tanyaku pada pria di kasir itu.
Sejenak aku memerhatikannya. Benar, rupanya toko ini tidak berubah, bahkan pria paruh baya yang selalu berdiri di kasir itu pun tak pernah berubah.
Kim Ahjeossi.” sapaku pada beliau.
Terkejut, pria paruh baya yang kini semakin menua itu menatapku, lalu meneliti wajahku lekat-lekat. “Nugu..., seyo...?” tanyanya hati-hati.
“Ini aku, Park Hyo Jung. Ahjeossi masih ingat gadis kecil yang tiap sore selalu beli permen kapas dengan uang receh itu, kan?” tanyaku.
Pria itu mengingat-ingat, “Oh! Hyojungie!” serunya sambil tersenyum ramah, “Iya, iya! Tentu saja aku masih ingat! Kau banyak berubah, ya, sekarang?”.
Aku tersenyum senang mendengarnya.
Annyeong haseyo, Ahjussi. Lama tak jumpa, ya.” senyumku.
“Kau datang bersama siapa?” tanya beliau, tepatnya memandang ke arah Myungho.
Ahjeossi lupa? Ini adikku, Myungho.” jawabku.
Seketika, senyumannya redup. Ada apa dengan beliau? Apa ada yang salah dengan ucapanku?
“Myungho...?” koreksinya lagi, khawatir pendengarannya yang semakin renta bermasalah.
“Iya ―Myungho.” kataku menekankan, “Apa mungkin..., Myungho juga banyak perubahan, ya? Jadi Ahjeossi tidak,”.
♪♫♪” ucapanku terpotong begitu sebuah pesan masuk ke ponselku.
Appa sudah menyuruh kita pulang.” ucapku sambil memandang pada ponsel, “Kita harus pulang, Myungho-ya.”.
“Mm.” angguknya.
Ahjeossi, maaf gak bisa lama-lama. Kapan-kapan, aku janji kami pasti bakal mampir lagi ke sini.” senyumku.
“Iya, tentu saja.” beliau tersenyum lagi.
Setelah memberinya salam, kami pun meninggalkan toko itu dan Kim Ahjeossi ―yang masih terheran dengan tingkahku.
***
“Aku pulang!” seru Myungho.
“Myungho-ya? Sudah makan belum?” khawatir Ibu sembari menyambut kedatangannya.
Namun, aku malah mengomelinya, “Ke mana saja kau?”.
“Aku ada latihan hari ini, Nuna ―ini, kan, Minggu.” Myungho tetap saja tersenyum, “Tapi..., aku minta maaf kalau pulangnya telat... Ada sedikit..., tambahan soalnya...” ia menggaruk tengkuknya canggung.
“Kemari.” panggilku.
Myungho pun menurut saja, dan ketika ia mendekat, “Tuk!!” ku sentil dahinya dengan sangat keras.
“Aduh!” rintihnya sekali lalu mengusap dahinya yang sakit.
“Hyojung-ah?! Kau ini bagaimana, sih?” seru Ibu yang langsung menghampiri Myungho dan memastikan anak itu baik-baik saja.
Aku terheran melihat tingkah beliau, “Kenapa, sih, Umma?” gerutuku, “Kayaknya dulu Umma biasa saja kalau aku menyentil dahinya Myungho? Kenapa sekarang Umma terlalu memanjakannya?” jengkelku.
Namun, Ayah menepuk pundakku kemudian. Aku menyelam dalam tatapannya yang memintaku untuk tenang. Aneh, saat itu aku menganggapnya aneh.
***
“Myungho-ya, coba lihat!” seruku ketika tak sengaja ku temukan foto kami bersama sepuluh tahun yang lalu terselip di salah satu buku tua itu.
Bocah yang sedang asyik mendengarkan musik itu pun beralih dan menghampiriku.
“Kau ingat, kan? Ini foto sewaktu kita kecil dulu, kita pergi ke taman bermain bersama Umma dan Appa. Karena keseringan berantem, Umma akhirnya membelikan kita beberapa cinderamata yang sama ―topi yang sama, gelang yang sama, kaos yang sama. Supaya kita tidak bertengkar.” aku menyelam ke dalam ingatanku sendiri, “Tapi kita akhirnya rebutan juga begitu jam makan siang datang hanya karena jajanan! Ingat gak?”.
Aku menunggu Myungho bereaksi. Namun ia tak juga menunjukan jawaban yang pasti.
“Kenapa diam saja?” ku pukul dadanya, “Masih ngambek, ya? Masa ngambek sampai lima belas tahun?” candaku.
Myungho ku buat canggung pada akhirnya.
“Kau kenapa, sih?” kesalku, “Ingat, gak?” tanyaku.
Namun belum sempat Myungho menjawabnya, Ibu memanggilnya, “Myungho-ya, bisa bantu Umma di gudang sebentar?!” seru beliau.
Ne, Umma!!” balas Myungho yang lantas berlari ke arah gudang, tanpa meninggalkan jawaban apapun.
Dan satu pertanyaan lagi yang belum sempat ku tanyakan padanya, “Ada apa denganya?” gumamku, sementara sosoknya menghilang begitu saja.
***
“Nuna~
Hari ini aku pulang telat, ada janji sama Lee Channie.
Tapi janji, pulangnya gak sampai larut malam.”
sender : Nae Dongsaengie Myung Ho

“Huft, dasar anak kecil.” gerutuku siang itu, “Bisa-bisanya ia merayu dengan ‘hati’.”.
Selesai jam kuliah, aku segera menyimpan semua berkasku di loker. Namun begitu menutup pintu besi itu, Myungho mengirimiku pesan tadi.
Tiba-tiba sebuah sinar yang memantul menyilaukan pandanganku. Aku tau ini ulah siapa. Dan benar saja, begitu aku melihat sumber pantulannya, ku temukan Sunyoung berdiri di depan lokernya yang terbuka sambil memantulkan cahaya matahari ke cermin kecil yang ia tempel di pintu lokernya itu.
Hi.” sapanya ―sok keren dan membuat perutku geli.
“Pft.” aku menahan tawa.
Setelah menutup pintu lokernya, Sunyoung mendekatiku. “Apa kau sibuk hari,”.
“Junhui mengajak kita makan siang. Kau mau ikut?” tawarku, sebelum sempat Sunyoung melayangkan jurusnya.
Dan yang ku tau, Sunyoung seperti menahan sesuatu. “Yeah. Okay.” senyumnya canggung.
Oh, maafkan aku, Kwon Sun Young. Aku tau, sejak kecil kau menyimpan sesuatu padaku. Tapi ―mianhae― aku tidak bisa menganggapmu lebih dari sahabat kecilku.
***
“Apa maksudmu berbeda?” tanya Jun.
“Myungho sangat berbeda.” kataku, “Dia tidak seperti waktu kecil dulu.”.
Aku, Myungho, dan Sunyoung berkuliah di sebuah universitas global di Seoul. Di mana ayahku bekerja di perusahaan yang mendirikannya.
Hari ini, selepas makan siang, kami duduk-duduk lagi di lapangan basket itu. Oya, ini Wen Jun Hui, atau hanja-nya Moon Jun Hwe, seorang mahasiswa asal Cina yang mendapat beasiswa kuliah di universitas ini.
Kebetulan, Sunyoung dan Junhui adalah dua sahabat Myungho dalam dance team di kampus kami. Selain itu ada juga adik kelas Myungho, Lee Chan, yang juga ikut serta di dalamnya.
“Sebaiknya tak usah kau anggap ia begitu ―kau terlalu berlebihan.” ujar Sunyoung, dari yang biasanya suka bergurau entah kenapa hari ini ia begitu bijak padaku.
Aku memandang ke arahnya, “Apa maksudmu?” tanyaku.
Sontak, Sunyoung berpaling dariku, “Ya..., jangan anggap dia seperti itu.” katanya, “Ingatlah, Hyojung, mereka hanya memiliki kesamaan tanggal lahir dan nama panggilan. Selebihnya mereka berbeda.”.
Aku berpaling, “Kau ngomongin apa, sih?” acuhku.
“Jangan menyiksa dirimu seperti itu, Hyojung-ah,” Sunyoung menatapku, “mungkin untuk saat ini kau menganggapnya Myungho-mu, tapi sebenarnya....,”.
Aku menanti jawabannya, “Apa?” ku tatap ia lagi.
Namun Sunyoung malah bangkit dari tempatnya duduk, “Terserahlah, aku tidak tau bagaimana harus mengingatkanmu.” lalu pergi bersama tas di punggungnya.
Junhui menatap kami berdua, “Sebenarnya, kalian ngomongin apa, sih, dari tadi?” herannya.
Sunyoung pun meninggalkan kami berdua tanpa peduli.
“Woi, Kwon Sun Young! Tungguin!” lalu Junhui ikut menyusulnya, “Hyojung-ah, gak pulang? Aku duluan, ya! Bentar lagi, kan, liburan, jadi aku mau beli tiket pulang ke kampung! Zai jian!”.
Dan dua lelaki itu meninggalkanku sendirian di sini.
“Oya, tanyakan ke Minghao dia mau ikut atau enggak, ya!” teriak Jun ketika ia sudah sampai di dekat Sunyoung.
Siapa? Minghao?
***
Senangnya, malam ini Ayah bisa pulang lebih awal, bahkan mengajakku, Myungho, dan Ibu makan malam di sebuah restoran kecil di dekat rumah kami dulu. Kami seringkali makan di sana karena masakannya yang khas dan sedap.
Pemilik restoran sederhana ini sudah mengenal kami sejak lama. Mampir ke sini memang tak hanya membuat perut kenyang, tapi juga membuat tali kekeluargaan kami dengan mereka semakin erat.
“Habiskan, ya. Jangan sampai tersisa.” senangnya bisa melihat Ayah begitu rileks malam ini.
Jal meog-gesseumnida.” seru kami berempat.
Makanan itupun sudah siap kami santap. Kapan lagi makan malam bersama anggota keluarga selengkap ini, ditambah suasana kekeluargaan yang begitu kental. Aku menyukainya.
“Bukankah kau menyukai kimchi-nya?” heranku melihat Myungho tak menyentuh makanan itu.
Tanpa ku sadari, Ayah dan Ibu memandangku terkejut.
“Itu, kan, favoritmu di sini.” kembali ku ingatkan ia akan masa kecilnya.
Ku lihat pandangan Myungho tak menentu, “Uh..., iya...” jawabnya.
“Kalau begitu, makanlah ―apa yang kau tunggu.” kataku. Lalu Ayah menatapku, aku berbalas menatap pada beliau tanpa rasa bersalah. Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?
Ne, Nuna.” dengan ragu ia menjepit kimchi itu dengan sumpitnya.
“Makanlah yang kau suka.” namun Ibu menahan gerakan Myungho tersebut.
Aku bingung, “Umma, kenapa begitu? Myungho, kan, suka―”.
“Park Hyo Jung,” panggil Ayah.
Aku terdiam. “Apa yang salah? Lagipula, kenapa Myungho tidak menyentuh kimchi-nya?” koreksiku.
“Kalian berdua hentikanlah.” ingat Ibu, tanpa sadar aku sudah membuat nafsu makan Myungho hilang.
Ada apa dengan anak ini? Gara-gara dia suasana makan malam hari ini jadi tidak karuan. Ini bukan salahku, tapi memang bocah itu saja yang aneh.
***
Suasana kurang menyenangkan itu berlanjut bahkan hingga kami tiba di rumah. Aku tidak mengerti perubahan drastis Myungho yang membuatku terheran-heran itu. Sebenarnya, apa yang membuatnya seperti ini?
Gwaenchana..” hanya itu yang bisa ku dengar dari balik punggung Myungho yang berjalan berdampingan dengan Ibu.
“Hyojung-ah, ikut Appa.” ujar Ayah.
“Tapi,” elakku.
Tanpa pikir panjang, Ayah segera menarikku ke ruang kerjanya dan menutup pintunya rapat-rapat. “Appa tak habis pikir. Bisa-bisanya kau melakukan ini pada Myungho.” diurutnya dahi itu.
“Melakukan apa?” tanyaku.
Ayah menatapku nanar, “Kau bahkan tak menyadarinya...?” ucapnya geger.
Sejenak kami terdiam, kemudian beliau beralih pada berkas-berkasnya. Sebuah map kini ada digenggamannya, lalu ia lesatkan berkas tersebut ke hadapanku.
Aku hanya memandanginya.
“Itu biodata Myungho.” ucap beliau, seakan memintaku menyelidiki berkas yang ia berikan.
Aku mendongak. “Biodata Myungho? Apa maksudnya?” heranku, “Appa, tolong jangan buatku bingung.”.
“Justru kau yang membuat Appa bingung!” ucap Ayah dengan emosi tertahan.
Aku tercekat. Ada apa ini sebenarnya?
Aigoo...” Ayah kembali mengurut dahinya, lalu menghempas tubuhnya duduk di atas kursi kerjanya. Ia menyadari bahwa ia baru saja marah-marah pada puterinya.
Aku tak sanggup berdiri di sana lagi, jadi aku berlari sambil menahan tangis ―dan tanda tanya besar dalam benakku. Tak sengaja aku melewati ruang keluarga.
“Iya, Umma.” mendengar suara Myungho di sana, aku berhenti dan berbalik. Diam-diam aku memerhatikan apa yang sedang ia dan Ibu lakukan.
“Kau yakin? Sudah kau pikirkan betul-betul, Adeul?” tanya Ibu, ku dapati beliau berdiri di hadapan Myungho sambil menatap bocah itu lekat-lekat.
Myungho tersenyum, “Jangan khawatir, Umma.” lalu memeluk Ibu, “Pasti ku kabarkan kalau aku sudah sampai di rumah, ya?”.
Ibu lalu melepaskan pelukannya, “Kau sudah ku anggap anakku sendiri.” senyumnya sambil mengusap pipi Myungho.
Anak sendiri? Tunggu, apa maksud Ibu mengucapkannya?!
“Tidak, aku selalu anak Umma...” Myungho mengusap air mata yang tak sengaja jatuh dari pelupuk mata Ibu.
Tidak mungkin.
Aku membekap mulutku di saat yang sama. Aku benar-benar terjebak dalam tanda tanyaku sendiri : sebenarnya apa yang terjadi pada Myungho?
Siapa Myungho sebenarnya?! Tidak, dia adikkku! Adik kecilku! Tidak ada selain itu! Dia adalah sosok yang berarti untuk keluarga ini ―terutama untukku sendiri!
Tak bisa menahan lebih lama lagi, aku melesatkan diri menjauh dari mereka ―menjauh dari segala fakta aneh yang menyerangku akhir-akhir ini. Sambil terisak, aku berharap semua ini akan berakhir.
***
[Author POV]
Oh! Everybody get up!”.
Hingga malam turun, para pemuda pemudi itu belum juga mengakhiri latihannya hari ini. Dua di antaranya adalah Sunyoung dan Junhui yang masih betah mengolah tiap gerakan menjadi sebuah koreo.
Setelah giliran latihannya selesai, barulah Sunyoung tergerak untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedari pagi terus saja menari.
“Masih banyak yang salah.” ucap Jun sambil melemparkan sebotol air mineral ke arah Sunyoung.
“Ini sudah mendingan, kok.” hibur Sunyoung setelah menangkap pemberian Jun tersebut.
Pemuda itu ikut duduk di samping Sunyoung yang sedang mengubek-ubek isi tasnya, “Acaranya masih lama, kan, ya? Jadi aku masih punya waktu buat pulang kampung.”.
“Iya, iya. Kita kasih kamu kesempatan liburan, kok ―kita gak sejahat itu.” canda Sunyoung.
“Hahaha. Kalau gitu jangan kangen sama aku, ya!” Jun membalas candaan itu.
Namun bukannya ikut tertawa, Sunyoung malah tertegun begitu melihat layar ponselnya. “49 panggilan tak terjawab?” kagetnya.
Jun ikutan terkejut, “Banyak sekali? Dari siapa?” ia ikut meneliti ke ponselnya Sunyoung.
“Hyojung.” jawab Sunyoung singkat sambil menelepon Hyojung balik. Namun alangkah terkejutnya Sunyoung begitu mendengar suara Hyojung kemudian.
“Sunyoung-ah.” dibarengi dengan isakan gadis itu.
Sunyoung terkejut, “Hyojung-ah?” paniknya.
***
to be continued

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^