[FF] Let's Go Back part I

9:07 PM 0 Comments A+ a-

Let’s Go Back
Part I

Author : Near
Genre : Romance
Casts : OC, Wonwoo
Other casts : Mingyu, Joshua, Vernon



***

“Lalu apa?! Apa masalahmu?!”.
“Apa yang kalian berdua lakukan saat itu?! Aku melihatnya!!”.
“Tidak, biar ku jelaskan, ini semua salah paham!!”.
Mingyu menghela nafas panjang mendengar kakaknya dan sahabatnya bertengkar di halaman belakang rumah. Ia hanya memandangi mereka dari kejauhan.
Terakhir yang Mingyu lihat, sang kakak mendorong kekasihnya tersebut, dan berkata, “Ga.” usirnya mentah-mentah, lelaki itu ―Wonwoo― terdiam dan terkejut, “Ga!!” bentak gadis itu.
Dengan amarahnya yang masih meluap-luap, Wonwoo berbalik dan pergi dari sana. Mingyu terkejut, semudah itukah sahabatnya meninggalkan kakaknya?
“Woah, woah, tunggu, Hyung.” di ambang pintu dapur Mingyu menahan Wonwoo, “Kau mau meninggalkan Nuna-ku begitu saja? Cobalah bujuk dia.”.
“Jika membujuknya semudah yang kau katakan,” Wonwoo menusuknya dengan tatapan itu, “harusnya sudah ku lakukan.”.
Lalu lelaki itu melengos pergi. “Hyung! Hyung!” Wonwoo tak mengindahkan seruan Mingyu tersebut.
Dalam hatinya jengkel, entah kenapa dua sejoli ini bertengkar begitu hebatnya lebih dari biasanya. Jika memang ia tak bisa menangani Wonwoo, maka mau tidak mau Mingyu harus menangani kakaknya sendiri.
Namun ketika Mingyu berbalik menghadap halaman belakang rumahnya, ia melihat sang kakak menangis tersedu di sana. Hal itu menyurutkan amarah Mingyu yang tadinya ingin menyerang sang kakak.
Minna meringkuk di atas rerumputan itu dan memendam wajahnya dalam lipatan kedua tangannya. Ia menangis di situ ―sendirian.
Tak lama, ia dikejutkan dengan sebuah pelukan hangat dari sang adik, Mingyu. Lalu ia berbisik, “Mianhae Nuna...” ucapnya.
Minna terkejut, lalu mengangkat kepalanya. Ia temukan Mingyu tengah memeluknya dengan penuh rasa sesal dan bersalah.
“Mungkin Wonwoo Hyung memang bukan yang terbaik buat Nuna.” ujar Mingyu lagi.
“Lalu itu salahmu?” ucapan Minna membuat Mingyu mendongak, “Bukan salahmu jika kami bertengkar. Kau, kan, tidak bermaksud jahat mempertemukan kami hingga kami menjalin hubungan ini ―benar?”.
Mingyu masih menatap sang kakak.
“Kau hanya ingin Nuna bertemu dengan laki-laki yang bisa melindungi Nuna, dan kau mempercayakan itu padanya. Itu tidak salah, hanya saja,”.
“Hanya saja?”.
Minna mengacak-acak rambut sang adik, “Hanya saja dalam suatu hubungan pasti selalu ada cobaan, Kim Min Gyu.” senyumnya.
“Jadi apa itu artinya, Nuna akan berbaikan dengan Wonwoo Hyung?”.
Sejenak Minna dibuatnya terdiam. Gadis itu merasa harusnya ada jawaban selain ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk pertanyaan Mingyu tersebut. Namun dari sorot matanya, Minna tau jawaban apa yang adiknya harapkan.
Hanya saja, ia tidak bisa menjawabnya sekarang.
***
Suara halus mesin jahit selalu menemani paginya, termasuk di hari ini. Minna memang tidak melanjutkan jenjang universitasnya lebih tinggi lagi karena sang Ayah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Musibah tersebut otomatis membuatnya dan Mingyu menjadi yatim piatu, mengingat sang Bunda telah lama meninggal.
Sehingga begitu selesai kuliah, Minna bekerja sebagai seorang fashion designer, bersama seorang temannya yang sudah lebih dulu sukses di bidang yang sama. Ia pun menjadi tulang punggung bagi adiknya.
“Minna-ssi,” panggil temannya tersebut ―kalau panggilannya sudah formal seperti ini berarti mereka kedatangan tamu penting.
Begitu mendongak, Minna menemukan teman laki-lakinya tersebut bersama beberapa orang penting, termasuk seorang laki-laki yang juga ikut menghadapnya.
Annyeong haseyo.” Minna bangkit dan memberi salam.
“Minna-ssi, ini Joshua Hong, perwakilan dari perusahaan d’Style di Amerika Serikat.” jelasnya.
Lelaki yang bernama Joshua itu segera mengulurkan tangannya, “Joshua Hong,” dan bahasa Inggrisnya fasih sekali.
“Minna Kim.” Minna segera menjabat tangan itu dan tersenyum bersamanya, “Nice to meet you, Sir.”.
Anehnya, semua orang yang datang berwajah oriental, namun hanya Joshua saja yang berbicara dalam bahasa Inggris. Namun Minna tak ingin mempermasalahkan hal itu.
She’s our designer, too. Also my assistant.” ucap temannya dengan bahasa Inggris seadanya. Ia pun mengajak Joshua melihat-lihat tempat yang lain sekaligus berkenalan dengan beberapa rekan kerjanya.
Ketika hendak meninggalkan Minna, lelaki itu tersenyum padanya sebagai tanda pamit. Refleks, Minna pun membungkuk sedikit dan tersenyum.
Chakhane. Dia baik sekali.” gumamnya.
***
Jam makan siang, Minna bergegas ke sebuah kafe. Rasa kantuk begitu mengganggu pekerjaannya dan rasanya segelas kopi mampu menangkal kantuk yang membandel.
Tak sengaja, Minna bertemu lelaki oriental fasih bahasa Inggris itu, Joshua. Ia melihatnya dari kejauhan, yang berdiri kikuk di hadapan kasir dan papan menu.
“Bisa saya bantu? Mau pesan apa?” tanya si kasir.
Joshua bingung, “Uh, um, jeo.., um,” ia menggaruk tengkuk, “What should I say it in Korean...?” gumamnya.
May I help you, Mr. Hong?” sahutan Minna itu mengejutkan Joshua.
Ia pun hanya tersenyum, “Oh, yes, thank you.” ucapnya.
What would you like to order?”.
Can we talk not in formal? Just two of us, right?”.
Mau tidak mau, Minna harus menuruti permintaannya ―mengingat Joshua adalah orang penting di tempatnya bekerja. “So what do you want to order?”.
Kedengarannya aneh, dan itu membuat keduanya terkekeh.
Caramel Macchiato, large, extra hot, and double shot espresso.” jawab Joshua. Tentu saja ucapan sefasih ini akan sulit dimengerti si kasir.
“Satu Caramel Macchiato, ukuran large....,” tanpa Minna sadari, Joshua memperhatikannya. “Anything else, Mr. Hong?” tanyanya kemudian.
Joshua terbangun dari lamunannya, “Oh? Um. And you?” ia mempersilahkan Minna untuk memesan kopinya.
Minna menepuk dahi, tentu saja ia datang untuk membeli kopi. “Satu lagi, americano ukuran grande.” katanya singkat pada si kasir.
Belum sempat si kasir menjumlahkan total yang harus mereka bayar, Joshua segera menyerobot dan membayar semuanya. Minna terkejut.
“I’ll pay it all ―thanks for your help.” kata Joshua.
Baiknya lelaki ini, “Thank you, Sir.” kata Minna.
No,” kata Joshua, “thank you, Minna.”.
***
..., that’s why I forgot my Korean.” ucapan Joshua membuatnya dan Minna terkekeh.
Bagi Minna tak ada salahnya menghabiskan makan siang hari ini di luar, apalagi bersama seseorang penting seperti Joshua Hong ini. Rupanya, ia laki-laki yang baik.
So your parents are,”.
Models. Yup.”.
Keduanya sudah terbiasa berbicara dalam bahasa non-formal.
I’m a model for my company, too.” tambah Joshua, “So how about you, Minna?”.
Minna sedikit termenung, “I just live with my little brother. My father was passed away a year ago. And my mom was passed away long time ago. So I have to work for my brother.”.
Oh, I’m so sorry to hear that.”.
No problem. That’s make me stronger.” senyum Minna.
Joshua ikut tersenyum. “You said that you live with your brother ―how old he is?”.
He just a year younger than me.”.
You are so close of course.” tebak Joshua, “Oh, break time is almost over. How about meeting next time, Miss Kim? No, no, no, I mean, Minna?”.
Bertemu lagi? Apa ini maksudnya...,
Do you have a problem with it, Minna?” Joshua kelihatan ragu, “Or do you have a boyfriend so we cannot meeting like this next time?” candanya.
Ia dan Minna tertawa. Meski sebenarnya memang itu yang Minna pikirkan. Wonwoo, siapa lagi yang ia pikirkan selain kekasihnya.
Namun ingatannya tentang pemandangan malam itu membuat Minna sedikit marah. Rasanya ia ingin mencari kesenangannya sendiri, dan melupakan pemandangan tak menyenangkan itu.
Of course we can meet again, Josh.” kata Minna.
Really?” Joshua kelihatannya sangat senang.
Minna pun mengangguk, dan Joshua sudah yakin akan jawaban Minna. Bagi gadis itu, Joshua kelihatannya lelaki yang ramah dan sopan. Tak ada salahnya jika mereka bertemu lagi ―hanya sebagai rekan kerja atau teman.
***
“Sudah makan?” tanya Minna yang baru saja pulang kerja.
Ia lalu masuk ke kamar Mingyu dan menanyakan keadaannya. Seperti biasa, Mingyu sedang berhadapan dengan komputernya. Mengurus beberapa design yang menjadi pekerjaan sampingannya.
“Makan dulu sana,” Minna merangkulnya dari belakang.
“Sedikit lagi,” Mingyu masih terpaku pada pekerjaannya.
Gemas, Minna mencium pucuk kepala adiknya, “Nuna tunggu sampai tiga menit.” ujarnya setelah mengacak-acak rambut Mingyu, lalu turun ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Di dapur, Minna tak sengaja bertemu kotak makan itu, yang terselip di antara alat makan lainnya di lemari. Minna ingat betul kesan yang ditinggalkan kotak makan berwarna merah maroon itu.
***
Igeo.” Minna menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kain itu.
Wonwoo menerimanya saja, “Ige mwo?” tanyanya, lalu segera menemukan sebuah kotak makan di dalam balutan kain tersebut.
“Cuma iseng,” hanya itu penjelasan dari Minna.
Wonwoo memandanginya, “Bilang saja kau tidak ingin aku sakit, kan?” usilnya.
“Ish, Wonwoo,”.
“Cup.” lelaki itu segera mencium pipinya, “Gomawo.” katanya, “Rupanya kau tau kalau aku gak bawa bekal untuk perjalanan kali ini.”.
“Bagaimana bisa kau gak bawa bekal untuk tour hari ini? Meskipun hanya perjalanan sehari, kau tetap harus makan.”.
“Nah, itu ngaku.”.
“Bukan begitu! Aduh...,”.
***
Chukhahae.” Wonwoo menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus kain itu, namun Minna malah terdiam, “Ku dengar dari Mingyu hari ini adalah hari pertamamu bekerja dan kau telah melaluinya dengan baik. Sugo-haesseoyo.”.
Minna pun menerima pemberian itu. Begitu kain itu dibuka, ia menemukan sebuah kotak makan yang sangat tak asing baginya.
“Ini, kan,”.
“Benar, kotak makan setahun yang lalu.”.
Minna mendongak.
“Sekarang aku yang memberikannya ―meski isinya tidak seberapa.” lanjut Wonwoo.
Dengan segera Minna membuka kotak makan itu. Isinya ada beberapa macam lauk pauk ―yang persis seperti almarhum Ibunya masak dulu. Malam-malam begini, Wonwoo mampir ke depan gerbang rumahnya hanya untuk memberikan sekotak makanan? Minna terkejut.
“Aku ingin berbagi ‘Masakan Ibu’ denganmu. Hanya itu yang bisa ku berikan ―mengingat aku tidak bisa masak.” kata Wonwoo.
Namun Minna tak bergeming. Ia hanya menutup kotak makan itu dan membalutnya dengan kainnya seperti semula.
“Kenapa? Kau tidak menyukainya, ya?” Wonwoo menerka-nerka.
Tanpa terduga, Minna segera berjalan ke arahnya dan mencium bibirnya singkat. “Gomawo.” Wonwoo melihat matanya berkaca-kaca, “Aku tidak tau harus bilang apalagi selain itu.”.
Wonwoo tersenyum, ia mengusap pipi itu dan segera mencium bibirnya lebih lama.
***
“Mana makanannya, Nuna? Aku sudah lapar, nih.”.
Sontak Minna terloncat kaget begitu mendengar suara Mingyu di belakangnya. Mingyu pun terheran melihat sang kakak yang kelihatannya terbengong di depan lemari.
Nuna ngapain di situ? Katanya tiga menit?” ucap Mingyu dengan manjanya.
“Iya, sebentar.” dalih Minna yang segera meletakan kotak makan itu di lemarinya.
Mingyu memperhatikan tingkah sang kakak yang sepertinya belum bisa melupakan kenangannya bersama Wonwoo. Terlihat jelas bagaimana Minna memperlakukan benda yang digenggamnya itu.
***
Rapper underground, mungkin tak banyak orang yang tau tentang dirinya. Namun hari ini Wonwoo hanya duduk di sana, dan menjadi penonton.
“Ada apa, Hyung?” tanya Vernon, salah seorang temannya yang juga rapper, yang baru turun dari panggung. “Kelihatannya kau punya sedikit masalah?”.
“Tolong awasi aku ―jangan sampai aku minum.” Wonwoo begitu dingin malam ini.
Vernon tersenyum, lelaki itu duduk tak jauh dari Wonwoo, “Rupanya kejadian yang kemarin itu masih to be continued, ya?” candanya, membuat Wonwoo menatapnya tajam, “Jangan khawatir, Hyung. Jangankan minum, even if that bitch come get over you again,”.
Wonwoo menunggu.
Sejenak Vernon memperhatikan sekitar, lalu melanjutkan, “yeah, you know what I will.”.
What you will― apanya?” jengkel Wonwoo.
“Sudahlah, Hyung.” Vernon bangkit, “Bermain aman saja. Kalau kau sudah menjadikan tempat ini bagianmu, ku harap kau bisa menjaga diri ―dan hati.”.
Wonwoo masih menatapnya tajam.
“Gini-gini, aku juga orang baik, Hyung. Aku juga sebenarnya tidak ingin orang-orang menilaiku jelek begitu keluar dari tempat ini.” kata Vernon, “Hanya saja, seperti ‘Show Me’, tempat ini kotor. Kau akan sulit membersihkan dirimu sendiri.
Aku mengenal Mingyu Hyung dan Nuna-nya juga, mereka orang yang sangat baik. Aku harap kau bisa mempertahankannya ―jarang orang sebaik mereka, Hyung.” lanjutnya, “Jadi saran dari anak ingusan ini adalah, jangan sia-siakan dia.”.
Wonwoo beralih pandang.
Oh! That bitch comming again!” bisik Vernon begitu melihat seseorang datang ―wanita yang kemarin.
“Kau lihat di mana Wonwoo?” tanya wanita itu pada Vernon, “Oh, di situ kau rupanya.” meski tak lama ia menemukan seseorang yang dicarinya.
“Mencariku lagi?” dingin Wonwoo.
“Tentu saja aku mencarimu ―kau pikir untuk apa aku berbaur dengan para swager ini kalau bukan untuk bertemu denganmu.”.
“Kau pikir hari itu aku sadar?”.
Ucapan itu menohoknya, “Lebih baik tidak ―supaya kita bisa melakukannya lagi hari ini.”.
Wonwoo bangkit dan menatap wanita itu tajam, “Lebih baik kau cari laki-laki yang bisa diajak bermain-main denganmu.” ucapnya dingin.
“Kau kelihatan berbeda?” diusapnya pipi itu.
Namun Wonwoo segera menangkisnya mentah-mentah. Tak ingin emosinya keburu meluap, Wonwoo segera menjinjing tas punggungnya lalu bergegas pergi.
“Kau mau pergi begitu saja?! Ya! Aku sudah jauh-jauh datang!!” wanita itu mengejarnya dan tak sengaja menarik tas punggung itu.
“Bruk.” hingga tas berwarna hitam itu terjatuh ke lantai, isinya berserakan.
Wanita itu terkejut, jelas ia tak sengaja. Meski begitu Wonwoo tetap menatapnya tajam. “Kau puas?” sinisnya.
Dengan amarah tertahan, Wonwoo segera membereskan semua buku-bukunya yang berserakan itu. Ketika ia meraih buku yang terakhir, Wonwoo tertegun.
‘1707+1808+1909’ begitu judul di buku hard cover tersebut dengan gaya tulisan tangan yang khas ―tulisan tangan Minna.
Wonwoo buru-buru memungut buku tersebut dan menjinjing tasnya kembali. Ia ingin segera pergi dari hadapan wanita itu.
Begitu Wonwoo pergi meninggalkannya, wanita tersebut berusaha mengejarnya.
Hey! Hey!” panggilan Vernon menahan langkahnya, “Kau pikir kau hanya berurusan dengan Jeon Won Woo? Kalau kau berurusan dengannya,” bocah itu memutar balik cap yang dikenakannya, “kau juga berurusan dengan Hansol Vernon Choi.” ucapnya tengil sambil menunjuk dirinya sendiri.
Wanita itu memandangnya sinis, “Mau apa kau?!”.
“Terserah, yang penting,” Vernon mendekati wanita itu, “kau akan ku buat menyesal telah ‘mendekati’ lelaki sebaik Wonwoo Hyung...” senyumnya sinis.
Ucapan itu tak ayal membuat wanita tersebut ngerih. Tak ingin lelaki ini melakukan hal yang buruk terhadapnya, wanita itu segera pergi dan meninggalkan tempat tersebut.
“Huu~.., baru dibilang gitu saja sudah kabur ―kocar kacir lagi.” gerutu Vernon, “Tapi setidaknya, ucapanku tadi ampuh, kan?” gumamnya, lalu tertawa usil.
***
“150919 2:58 am
Hari ini perayaan hubungan kami yang kesatu tahun! Tidak terasa sudah satu tahun kami bersama! Pagi ini aku bahkan kesulitan tidur karena aku ingin menuliskannya.
Sabtu ini Wonwoo mengajakku pergi, tapi ia tidak memberitauku tujuannya. Aku bersiap untuk kejutan hari ini dan menduga-duga seperti apa hari yang akan kami berdua lalui.
Aku juga berterimakasih pada adikku, Mingyu. Cupid manja yang mempertemukanku dengan sahabat baiknya sekaligus seniornya di kampus, Jeon Won Woo.
...”
Wonwoo tersenyum membaca salah satu isi buku itu. Ya, buku yang tadi jatuh, buku yang berjudul ‘1707+1808+1909’ itu.
Sebuah buku harian yang ditulis sendiri oleh Minna tentang perjalanan hubungannya bersama Wonwoo. Sebuah tradisi khas untuk menukarkannya di setiap tanggal 14 Januari. Dan pada tanggal 14 Januari yang lalu, buku harian itu ditukarkan Minna dengan buku harian Wonwoo.
Makna dibalik angka itu memang cukup sederhana, hanya berupa tanggal lahir Wonwoo ditambah tanggal lahir Minna ditambah tanggal hubungan mereka dimulai, yang kebetulan membuat deretan angka yang unik.
Sengaja Wonwoo habiskan perjalanan pulangnya ini dengan membaca buku harian tersebut, ia ingin tenggelam dalam ingatannya bersama Minna lagi. Entah kenapa, ia merindukan gadis itu sekarang.
Wonwoo memandang keluar jendela bis, mengira-ngira akankah ia kembali bersama Minna atau justru sebaliknya.
***
Nuna masih pakai komputernya?” sahut Mingyu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Kenapa? Mau kau pakai, ya?” tanya Minna. Malam ini, ia terpaksa meminjam komputer Mingyu untuk mengerjakan beberapa disain berhubung laptopnya sedang bermasalah sejak kemarin.
Melihat sang Kakak masih sibuk dengan pekerjaannya, Mingyu pun berkata, “Pakai saja, Nuna. Mungkin nanti agak larut aku akan memakainya.” lalu duduk di atas kasurnya yang rendah.
Tak sengaja Minna menoleh ke arah adiknya, “Mana handukmu? Keringkan rambutmu ―sampai kering.” Minna bergegas mengambil handuk.
“Ini, kan, sudah cukup kering, Nuna.” rengek Mingyu, namun sang Kakak kembali dengan handuk di tangan.
“Lihat, tuh, bajumu sampai basah!” protes sang Kakak sambil mengeringkan rambut adiknya, “Kau ini sudah besar, harusnya kau bisa mengeringkan rambutmu sendiri.” dan ia mulai lagi dengan ocehannya.
!” terdengar bunyi lembut tanda sebuah pesan masuk.
Mingyu menemukan ponsel sang Kakak tergeletak di atas kasurnya. Tanpa permisi, ia pun memungutnya dan membaca pesan yang langsung tertera di sana.

Joshua :
Hi, Minna.
Can you help me with this...?

Masih tanpa permisi, Mingyu membuka papan obrolan pribadi sang Kakak bersama seorang lelaki bernama Joshua itu. Dengan seenaknya, bocah itu menelusuri profil si pemilik kontak Joshua di ponsel kakaknya tersebut.
“Siapa Joshua?”.
Mendengar adiknya menyebut nama yang tak asing, Minna menoleh. “Hei, itu ponsel Nuna.” geram Minna melihat sang adik mengutak-atik barang pribadinya tanpa izin, ia segera merebut telepon genggam itu dari tangan Mingyu.
Nuna, siapa Joshua itu? Kelihatannya seumuran dengan Nuna. Nuna dekat denganya, ya? Di mana Nuna berkenalan dengannya?” Mingyu segera menghujani kakaknya dengan segudang pertanyaan ―atau interogasi.
Minna jengkel, “Cerewet.” gerutunya lalu menyentil bibir sang adik, “Dia perwakilan dari perusahaan Amerika yang bekerja sama dengan tempat Nuna bekerja. Joshua itu temannya Nuna ―orang yang sangat penting.”.
“Seberapa pentingnya dia buat Nuna?” kedengarannya Mingyu mulai tidak menyukai laki-laki itu.
“Ish, mwoya, Mingyu-ya.” Minna menjitak adiknya, “Jangan berpikir yang macam-macam! Bukan cuma buat Nuna, tapi Joshua itu memang orang penting buat tempat Nuna bekerja.”.
“Apa Nuna akhir-akhir ini sering bertemu dengannya?” Mingyu menyudutkannya lagi.
“Jangan mulai berkata yang tidak-tidak, Kim Min Gyu.” jengkel kakaknya, “Kau mulai menginterogasi Nuna!”.
“Maksudku bertanya begini, Nuna tau, kan, alasannya?”.
Bagus, sang Adik sudah membuatnya tak mampu lagi berkutik. Namun tak lama hingga ponselnya berdering, Minna berhenti terdiam.
“Keringkan rambutmu!” ia lempar handuk di tangannya ke wajah Mingyu, dan meninggalkan kamar tersebut untuk mengangkat panggilan di ponselnya ―dari Joshua.
Mingyu menghela nafas. Namun tak lama ia bergegas mengejar kakaknya. Akhirnya, ia menemukan Minna di teras belakang rumah sambil bercakap-cakap lewat telepon.
Tomorrow? Sure, sure. I’m not bussy.” ucap Minna, “Yeah, of course. I’ll teach you then.” lalu sedikit tertawa.
Mingyu mengintipnya dari jendela dapur.
How about..., library...? It’s a good idea, isn’t?” lanjut Minna, “Yeah, okay. See you then.”.
Selesai dengan obrolannya bersama Joshua lewat telepon, Minna berbalik dan masuk ke dalam rumah. Ia pun kembali ke kamar Mingyu untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sementara itu, Mingyu bersembunyi di belakang pintu. Sengaja berkamuflase agar sang Kakak tidak menyadari kehadirannya serta apa saja yang ia lakukan di sana.
***
“Apa kalian sibuk hari ini?” tanya Wonwoo.
Vernon dan Mingyu berpandangan. Lalu berkata, “Aku sibuk.”, “Aku tidak sibuk.” ucap keduanya berbarengan, nyaris tak diketahui siapa pengucapnya. Kedua lelaki itu saling berpandangan heran.
“Siapa yang sibuk dan siapa yang tidak?”.
“Aku.” jawab keduanya lagi berbarengan, Wonwoo mulai jengkel.
“Maksudnya aku yang sibuk, dan Mingyu tidak.” buru-buru Vernon menjelaskan.
Wonwoo bangkit, “Kaja, Mingyu-ya.” lantas beranjak.
Kaja? Odigayo?” tanya Vernon.
“Mau ikut? Kami mau ke perpustakaan.” Mingyu pun mengikuti Wonwoo.
“Tidak ah, lebih baik aku cari tempat lain saja. Sampai jumpa!” Vernon pun pergi ke arah yang berbeda.
Tapi tunggu, ini hari Minggu, dan perpustakaan?! Mingyu baru menyadari sesuatu.
Hyung, Hyung,” panggil Mingyu.
Wonwoo hanya melirik.
“Bisa ke tempat lain gak?”.
“Enggak.” ketus Wonwoo.
“Ayolah, Hyung. Perpustakaan Kota pasti ramai kalau hari Minggu. Bagaimana kalau besok saja? Besok, kan, hari,”.
“Sibuk.” ucap Wonwoo ketus.
Hyung,”.
“Kalau kau gak mau ikut, aku bisa ke sana sendiri.”.
“Jangan gitu, Hyung,”.
***
Why don’t we try to speak in Korean, Josh?”.
Beralih dari buku-buku berbahasa Korea di atas mejanya, lelaki itu menatap gadis di hadapannya. “Annyeong..., Minna..., -ssi...?” ucap Joshua ragu-ragu.
Minna tersenyum, “Just call my name.”.
“Minna-ya?” Joshua menimbang-nimbang.
That’s good. Jotseumnida.” kata Minna, “Then, it’s my turn. Annyeong, Sajang―”.
No, no, no,” ralat Joshua, “Jisoo, Hong Ji Soo.” katanya.
“―Jisoo Oppa...” lanjut Minna, tak ayal ucapan kaku itu membuat keduanya tertawa.
Wait ―Oppa?” ucap Joshua di tengah tawanya.
Of course, I have to call you Oppa ―you older than me, right?”.
Yeah, yeah, you right.” tawanya mereda, “I’ll try to speak in Korean when I arrived at home. I’ll speaking with my mom, she will be happy.” ucap Joshua.
You are not speaking Korean at home?”.
Not that often.” kata Joshua, “Did you said we have to speak in Korean now??”.
Minna menepuk dahinya, “Sorry, just forgot.”.
***
Mingyu terlihat sangat sibuk di dekat Wonwoo. Sedari tadi, ia menjaga jaraknya agar selalu berada di sekitar sahabatnya itu. Ada sesuatu yang ia jaga, atau justru Wonwoo lah yang ia jaga dari sesuatu.
“Kau kenapa?” Wonwoo melirik ke arah Mingyu.
Dan bocah itu berusaha terlihat baik-baik saja, “Masih nyari buku, Hyung.” cengirnya. Tak ambil pusing, Wonwoo pun beralih lagi pada buku di tangannya.
“Bagaimana kabar Kakakmu, Mingyu-ya?” Wonwoo tak beralih dari bukunya.
Mingyu terkejut, “Baik,” ucapnya, “Nuna baik-baik saja.”.
Lelaki itu melihat Wonwoo tersenyum tipis, “Itu yang ku harapkan...” suaranya kecil sekali hingga Mingyu mengiranya hanya sebagai gumaman.
Tak lama, Wonwoo bergerak ke rak lainnya. Mingyu pun bergegas mengikutinya, dan sesekali memandangi sekitar.
“Kau akan,” Mingyu agak ragu, “maksudku, kau pasti akan,”.
“Apa dia sibuk?” Wonwoo masih sibuk dengan buku lainnya.
Mingyu mengerjap-ngerjapkan matanya, “I, iya... Apalagi ada beberapa barang di rumah yang harus beli baru karena sudah tidak bisa diperbaiki lagi...” jawab Mingyu seadanya ―ia sendiri juga bingung kenapa harus bilang seperti itu.
“Kalian sedang kesulitan ya.”.
“Ini sudah biasa, nanti juga kembali normal. Hanya perlu berhemat ―sedikit.”.
“Dia pulang tepat waktu?”.
“Akhir-akhir ini Nuna sengaja lembur.” ketika Wonwoo meliriknya, Mingyu menambahkan, “Padahal aku sudah membantunya dengan membuat beberapa design di kampus. Aku sering mendapatkan tawaran untuk itu.”.
Dari nadanya, Mingyu takut Wonwoo mengiranya tak membantu Minna sama sekali.
“Ia pasti tidak pernah keluar, bahkan hanya untuk sekadar healing.” gumam Wonwoo.
Aniyo, Nuna beberapa kali keluar rumah.” Mingyu kelepasan, ia menepuk-nepuk bibirnya yang nakal.
Lelaki itu berbalik, sedikit menggurutu pada dirinya sendiri yang sudah terlalu bodoh membocorkan hal itu pada Wonwoo. Namun Mingyu terkejut setengah mati ketika ia tak sengaja melihat ke atas.
Nu, nuna...?” gumam Mingyu.
Ia mendapati sang kakak berada di lantai atas bersama seorang lelaki. Mereka duduk semeja bersama beberapa buku. Minna terlihat sedang menerangkan sesuatu pada lelaki itu, dan sesekali mereka tertawa.
Gawat, kalau Wonwoo sampai melihatnya...,
“Aku takkan heran jika ia mencari kesenangannya sendiri.” gumaman Wonwoo membuat Mingyu terbangun dan bersiaga, “Aku takkan terkejut jika menemukannya bersama seorang teman,”.
Mingyu menelan ludah, bagaimana bisa kebetulan seperti ini terjadi?!
“ya, mungkin dia akan bilang ‘cuma teman’.” Wonwoo beralih ke rak lain, dan berjalan ke arah Mingyu.
Astaga!
“Oiya! Ke sini, Hyung!” belum sempat Wonwoo berbalik ke arahnya, buru-buru Mingyu menyeret sahabatnya itu ke tempat yang lebih jauh lagi.
Ya! Dasar gak sopan!” protes Wonwoo yang tasnya ditarik Mingyu dengan paksa.
“Mianhae, Hyung. Mianhae.” batin Mingyu.
***
Jeongmal oryeopji anayo. Jeongmal. Aku benar-benar tidak kesulitan. Sungguh.” Joshua berkata, “Minna-ya, gomawo. Manhi gomawoyo.”.
Senang bisa mendengar Joshua berbicara lancar dalam bahasa Korea secepat ini. Minna pun ikut tersenyum senang.
“Bukan apa-apa.” katanya, “Senang bisa membantumu.”.
I was thought, it must be so hard since I was born in LA. But, yeah, sekarang aku bisa mengingat bahasa Koreaku!”.
“Kau hanya perlu memperbaiki logatmu saja.”.
Dari kejauhan, Mingyu masih memperhatikan sang Kakak bersama seorang teman lelakinya. Sementara itu Wonwoo tetap berdiri tak jauh darinya. Ia memandang ke arah Minna kembali.
“Nanti kita coba ke kafe dan pesan secangkir kopi. You have to do it by your self ―in Korean.” ucap Minna.
That’s great! Maksudku,” ralat Joshua, “jotda!”.
Masih aman, Mingyu pun berujar, “Habis ini kita ke mana, Hyung?” pandangannya masih terpaku pada sang Kakak.
Namun hening, tak terdengar satu jawaban dari sahabatnnya itu.
Hyung? Wonwoo Hyung?.
Alangkah terkejutnya Mingyu ketika berbalik. Wonwoo sudah tak ada di sana. Gawat! Ke mana dia pergi?
“Wonwoo Hyung?” Mingyu mulai mencari-carinya, “Hyung.”.
Lelaki ini dibuat lebih terkejut lagi ketika menemukan Wonwoo sudah sampai di tangga. Ia beranjak naik ke lantai dua, lantai di mana Minna dan Joshua berada.
“Sial!” gerutu Mingyu yang keburu melesat dan menyusul Wonwoo.
Hanya saja, “Bruk!” di langkah pertamanya Mingyu malah menabrak seseorang. Tak hanya itu, buku-buku yang orang itu bawa pun jatuh dan berserakan di lantai.
Joesonghamnida! Joesonghamnida!” bungkuk Mingyu beberapa kali.
Segera Mingyu menyerbu buku-buku itu dan merapikannya, tak lama si pemiliknya menyusul. Masih sambil merapikan semua buku itu dengan tergesa, Mingyu melirik lagi ke arah Wonwoo.
Sialan!” gerutunya dalam hati melihat Wonwoo sudah sampai di lantai dua.
***
to be continued

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^