[FF] Let's Go Back part II (ending)

5:29 PM 0 Comments A+ a-

Let’s Go Back
Part II

Author : Near
Genre : Romance
Casts : OC, Wonwoo
Other casts : Mingyu, Joshua, Vernon


***
Jeongmal oryeopji anayo. Jeongmal. Aku benar-benar tidak kesulitan. Sungguh.” Joshua berkata, “Minna-ya, gomawo. Manhi gomawoyo.”.
Senang bisa mendengar Joshua berbicara lancar dalam bahasa Korea secepat ini. Minna pun ikut tersenyum senang.
“Bukan apa-apa.” katanya, “Senang bisa membantumu.”.
I was thought, it must be so hard since I was born in LA. But, yeah, sekarang aku bisa mengingat bahasa Koreaku!”.
“Kau hanya perlu memperbaiki logatmu saja.”.
Dari kejauhan, Mingyu masih memperhatikan sang Kakak bersama seorang teman lelakinya. Sementara itu Wonwoo tetap berdiri tak jauh darinya. Ia memandang ke arah Minna kembali.
“Nanti kita coba ke kafe dan pesan secangkir kopi. You have to do it by your self ―in Korean.” ucap Minna.
That’s great! Maksudku,” ralat Joshua, “jotda!”.
Masih aman, Mingyu pun berujar, “Habis ini kita ke mana, Hyung?” pandangannya masih terpaku pada sang Kakak.
Namun hening, tak terdengar satu jawaban dari sahabatnnya itu.
Hyung? Wonwoo Hyung?.
Alangkah terkejutnya Mingyu ketika berbalik. Wonwoo sudah tak ada di sana. Gawat! Ke mana dia pergi?
“Wonwoo Hyung?” Mingyu mulai mencari-carinya, “Hyung.”.
Lelaki ini dibuat lebih terkejut lagi ketika menemukan Wonwoo sudah sampai di tangga. Ia beranjak naik ke lantai dua, lantai di mana Minna dan Joshua berada.
“Sial!” gerutu Mingyu yang keburu melesat dan menyusul Wonwoo.
Hanya saja, “Bruk!” di langkah pertamanya Mingyu malah menabrak seseorang. Tak hanya itu, buku-buku yang orang itu bawa pun jatuh dan berserakan di lantai.
Joesonghamnida! Joesonghamnida!” bungkuk Mingyu beberapa kali.
Segera Mingyu menyerbu buku-buku itu dan merapikannya, tak lama si pemiliknya menyusul. Masih sambil merapikan semua buku itu dengan tergesa, Mingyu melirik lagi ke arah Wonwoo.
Sialan!” gerutunya dalam hati melihat Wonwoo sudah sampai di lantai dua.
 “Terima kasih.” ucap orang itu begitu Mingyu memberikan semua buku yang sudah selesai dirapikannya.
Mingyu segera melesat mengejar Wonwoo. Sampai di tangga, ia harus sedikit bersabar karena ia harus menyelinap di antara orang-orang yang naik turun tangga.
 “Permisi ―maaf. Permisi.” tak ada waktu lagi.
Namun sesampainya ia di lantai dua, Mingyu kehilangan jejak Wonwoo. Tak lama dari pencariannya, Mingyu bertemu Wonwoo. Ucapan Mingyu tertahan ketika melihat sosok Wonwoo yang berjalan ke arahnya.
Tatapannya kosong, sedikit menunduk. Ia tak membawa satupun buku, karena ia mengantongi kedua tangannya di saku jaket jingganya. Wonwoo berjalan dengan tas dijinjing bahu kanannya.
Tanpa sadar, Wonwoo berjalan ke arah Mingyu. Ketika mendongak ia menemukan bocah itu di hadapannya, dan ia tersenyum kemudian.
“Kau sudah lapar?” tanyanya ―dan ia masih tersenyum aneh.
Hyung,”.
“Coba hubungi Vernon, ajak dia makan bersama kita.” Wonwoo merangkul Mingyu dan menggiringnya menjauh dari tempatnya berdiri.
Aneh, setau Mingyu, perasaan Wonwoo cukup mendung hari ini, tapi kenapa tiba-tiba ia tersenyum padanya? Kentara sekali, senyuman itu begitu aneh di mata Mingyu.
Ketika Mingyu menoleh ke belakang ―arah datanganya Wonwoo― ia terkejut. Di sana, ia bisa melihat Minna bersama seorang teman lelakinya. Tak salah lagi, Wonwoo pasti telah melihat pemandangan tersebut, sehingga ia menjadi aneh seperti ini.
Pikirannya mengkerut. Mingyu berteriak dalam hati, bertanya-tanya mengapa hal seperti ini harus terjadi. Perasaan ini lebih dari sekadar iba. Mingyu harus bergerak.
***
Kaja, Minna-ya. Aku mau ke kafe ―dan mempraktekan bahasa Koreaku.” ucap Joshua.
“Wow, gak sabar, nih.” balas Minna.
Sebelum meninggalkan tempat, mereka segera berbenah. “Tuk.” tak sengaja pulpennya jatuh ke lantai, Minna pun memungutnya kemudian.
Tak jauh dari pulpennya yang jatuh, Minna bisa melihat ke lantai dasar. Dan di saat itulah tak sengaja ia menemukan dua sosok yang tak asing baginya.
“Mingyu?” ucapnya, dan ia lebih terkejut lagi setelah mengenali seseorang yang datang bersama adiknya tersebut, “Wonwoo?!”.
Pen-i chajasseo? Pulpennya sudah ketemu?” tanya Joshua.
Tergesa Minna bangkit, “Chajasseo.” umpatnya sambil tersenyum, lalu memasukan pulpen itu ke tasnya, “Kaja.”.
Andaikan saja ia bisa, Minna pasti sudah menghentak-hentakkan kakinya jengkel. Jikalau bisa, ia ingin berteriak meminta maaf. Hanya saja...,
“Mau kopi juga?” tanya Joshua saat mereka menuruni tangga.
Minna pun mengangguk. “Gomawo.”.

akankah mereka kembali ―lagi...?
***
“Bruk.” Wonwoo melempar tasnya lembut ke atas ranjangnya.
Pikirannya mengambang, dan langkah itu mengantarnya pada jendela kamarnya. Ia duduk di samping jendelanya, memandang langit dan menikmati kesendirian.
Wonwoo terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya ia tak mampu bertahan dengan keheningan ini. Wonwoo segera mengambil headphone dari atas meja dan menyambungkan ujungnya dengan port di ponselnya.
Ia memendam dirinya sendiri dalam lagu yang menyedihkan. Merasa belum puas, Wonwoo menaikan volume hingga tak ada suara-suara yang akan mengganggu perasaannya saat ini.
Dan begitu sampai pada lirik itu, Wonwoo bergerak.
Sebuah gambar hitam dipilihnya, lalu ia menambahkan lirik itu di bawah gambar yang dipostingnya.
“Nô-ege ogo ganeun saramdeul jung han myông-igireul baram. Geurigo nunmul bôtkkot modu ttôlgwo sæssak pigireul baram. geurigo uri chueok no-eulchôrôm jjalpgo areumdap-gireul baræ. i modeun gôt bareul mot tten nôui ganyalpeun deung gibun jotge milgireul.”.
Yang artinya,
“Dan aku berharap aku hanya salah satu dari banyak orang dalam hidupmu yang datang dan pergi. Aku berharap seperti air mata dan bunga sakura yang jatuh akan ada kehidupan baru tumbuh dari itu semua. Dan aku harap kenangan kita yang pendek dan indah sama seperti matahari yang terbenam, dan aku berharap semua hal ini dapat mendorong punggungmu yang langsing dengan nyaman, meskipun kamu masih belum bisa mengangkat kakimu dari tanah.”.
Selesai, ia menghela nafas panjang ―meski demikian Wonwoo belum merasa cukup.
Sementara itu, “Blam!” Minna membanting pintu kamarnya, lantas melemparkan diri ke atas ranjangnya. Minna memendam wajahnya seperti ia memendam penyesalannya hari ini. Entah kenapa ia ingin menangis, tapi air mata itu tidak bisa jatuh dari pelupuk matanya.
Tak lama, Minna bangkit dan tak sengaja menatap jendelanya. Ada sesuatu yang menggerakan tubuhnya untuk duduk di sana. Minna menatap langit malam dengan tatap matanya yang sayu.
Berhenti dari keheningan yang menjeratnya, Minna merogoh saku bajunya. Setelah menemukan headset dan ponselnya, ia mulai mendengarkan sebuah lagu yang senada dengan hatinya ―lagu yang sama.
“Krek.” sebuah screenshot dari music player-nya itu segera dipostingnya. “Good night, I’m sorry.” setelah menulis dua kalimat singkat, Minna menyandarkan kepalanya pada jendela.
Tanpa keduanya sadari.
***
Di jam makan siang itu, “♫!” seseorang mengirimi Minna pesan,

Joshua :
“Hungry, aren’t you?”

Karena pekerjaannya yang menumpuk, Minna tak sedikitpun berniat membalas pesan itu. Gadis itu segera melanjutkan beberapa jahitannya.
Namun lelaki itu belum bisa mengerti keadaanya. Beberapa kali ponsel Minna berdering singkat. Setelah ditelusuri lagi, Joshua mengiriminya beberapa pesan singkat yang mengajaknya makan siang di luar.
Pekerjaanku menumpuk, Josh
Hanya itu balasan Minna untuk beberapa pesan yang telah menantinya.
“Dari siapa? Adikmu, ya?” dari kejauhan temannya melihat Minna sibuk dengan ponselnya.
Minna terkesiap, “Bukan,” jawabnya singkat.
“Sepertinya penting,” lelaki itu kembali pada disain di tangannya.
Minna pun segera berujar, “Boleh aku keluar sebentar?” izinnya.
“Bukankah jahitanmu belum selesai?” koreksinya, “Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa tidak akan berat jika kau meninggalkannya?”.
Minna mengerucutkan bibirnya, “Joshua Hong mengirimiku pesan,”.
Mendengar nama itu, temannya terbelalak menatapnya.
“dia,” ucap Minna ragu, “dia memintaku keluar sebentar.”.
“Kalau begitu temui dia,” ucap temannya singkat, “tunggu apa lagi.”.
***
Benar, lelaki itu di sana. Minna melihatnya menunggu di seberang. Tanpa membuang waktu, ia bergegas ke sana.
“Joshua,” panggil Minna.
“Minna-ya,” akhirnya penantiannya sedari tadi terbalaskan.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanyanya.
“Tentu,” Joshua mendekat, menyeka sehelai benang yang menempel di wajah manis Minna, “seems like you work hard for today.” ucapnya lembut.
Minna belum juga mengerti, “Yeah, a lot in Saturday,” gadis itu tersenyum, “menumpuk.” lanjutnya.
Then, I’ll just say what I want to say.” kata Joshua, “Sayangnya, aku tidak bisa menunggu hingga tanggal 14 datang.”.
Minna mendongak ―apa maksudnya?
You are just a kind girl, cute and sweet.” kata Joshua, “Just from your eyes in the first time we meet, I know who you are...”.
“Josh,”.
And I know what you will be,” Joshua meraih tangan itu, “you will be mine.”.
Tertegup hati Minna mendengarnya. Bagaimana bisa Joshua menyukainya?! Minna mematung, membeku dibuatnya.
“Kim Min Na?”.
Joshua Hong, sosok seorang lelaki yang sangat baik dan lembut padanya. Dia bukan orang biasa di matanya. Kebaikan dan kelembutan hatinya sangat membuat Minna nyaman bersamanya.
Namun sosoknya selalu digannggu oleh orang lain ―Wonwoo. Sosok lelaki itu selalu muncul di setiap saat Minna merasa nyaman bersama Joshua.
I, I,” entah mengapa bibirnya terasa kaku, “I’m..., sorry...”.
Matanya berkedip, “Minna?”.
I’m sorry, Josh.” hanya itu yang Minna katakan sebelum berpaling dari lelaki di hadapannya.
“Minna,”.
Kaki itu tak mampu mengejarnya, bahkan suaranya tak mampu menjangkau gadis itu. Joshua merasa ia tak punya hak untuk meminta Minna kembali padanya.
But why?”.
Because,” Minna berbalik, “I already have another one.”.
Joshua terperanjat.
I’m sorry, Josh. But, thank you,” senyum Minna, “you really nice to me, you are very impressed person for me.”.
Hanya itu, dan Minna berbalik pada arahnya kembali. Tak mungkin baginya untuk mengejarnya, jelas Joshua tak punya apa-apa untuk menariknya kembali.
***
“Tok, tok, tok!”.
Mingyu segera berlari dari kamarnya menuju pintu utama, “Klek.” dan benar saja Wonwoo datang seperti dugaannya!
“Akhirnya datang juga.” cengir Mingyu.
“Mana bukuku?” jengkel Wonwoo.
“Masuklah dulu, Hyung,”.
“Berikan saja bukuku!”.
Mingyu cuma nyengir, “Sepertinya,” ia menggaruk kepalanya, “aku harus ‘mencarinya’...”.
Bocah ini benar-benar menyebalkan. Tadi Mingyu bilang buku itu ada di rumahnya dan ia harus mengambilnya sendiri, sekarang ia bilang kalau bukunya ―dalam kata lain― hilang.
“Makanya, masuk dulu, Hyung ―kau mau minum apa?” Mingyu segera menarik Wonwoo masuk ke rumahnya.
“Gak perlu minum ―aku cuma perlu bukuku kembali.” ketus Wonwoo, ia mendelik ke beberapa sudut rumah ―khawatir akan kemunculan sesuatu.
Nuna tidak ada di rumah,” dalih Mingyu, “atau kalau kau mau, kau bisa duduk-duduk di kamarku.” rupanya ia memperhatikan tingkahnya Wonwoo.
“Dia belum pulang?” tanya Wonwoo begitu ia sampai di kamar Mingyu.
“Belum, katanya sibuk hari ini,” ucap Mingyu sambil membereskan beberapa barangnya yang berantakan, “Kau di sini dulu, ya, Hyung ―aku coba cari bukunya.”.
Wonwoo pun dimintanya menunggu. Ya, hanya di situlah lelaki itu, tak beranjak ke mana-mana. Bosan, Wonwoo pun bergerak menuju balkon untuk menghirup udara segar.
Hingga tak lama, “Mingyu-ya, sudah makan belum?” suara itu terdengar sangat dekat.
Wonwoo berbalik dengan tergesa dan benar saja, ia menemukan Minna memasuki kamarnya Mingyu. Dan keduanya saling bertatapan.
“Won..., woo..?” kaget Minna.
Sementara Wonwoo tak bergeming.
“Kenapa kau ke rumahku?!” jengkel Minna.
“Begitukah sikapmu menyambut tamu?” sindir Wonwoo.
“Dasar menyebalkan!!”.
Geuman!!” seruan lain terdengar, Wonwoo dan Minna memandang Mingyu yang baru saja memasuki kamarnya, “Senang, ya, melihat kalian bersama lagi.” cengirnya.
“Kim Min Gyu!!” seru Wonwoo dan Minna berbarengan.
“Jadi ini ulahmu?!” Minna mengguncang tubuh sang Adik, “Menyebalkan!!”.
Mingyu melepaskan diri dari cengkeraman sang Kakak, “Menyebalkan apanya? Justru ini bagus!” katanya.
Dengan segera Mingyu menyeret sang kakak dan Wonwoo berbarengan untuk diajaknya duduk bersama di atas kasur rendahnya.
“Nah, begini, kan, lebih baik.” Mingyu tersenyum puas.
“Lebih baik apanya.” ketus Minna, yang duduk di samping kanan Mingyu. Ia hanya tiduran di situ, melemparkan pandangan sinis ke sembarang arah.
Mingyu menoleh ke sisi kirinya, Wonwoo. Lelaki itu juga samanya, tak peduli dan acuh-acuh saja. Benar-benar perang dingin.
“Aku tau kalian sebenarnya saling menyesal,” ucapan Mingyu membuat keduanya melirik, “aku tau sebenarnya kalian ingin minta maaf satu sama lain. Tidak bisakah kalian kurangi ego itu sedikit?”.
“Apa enaknya bertahan seperti ini? Bukankah kalian merasa tersiksa juga?”.
Omongan ―yang terdengar cukup lugu― itu membuat kakak dan sahabatnya berpikir ulang.
“Kalian pikir mendengarkan lagu yang sama saja sudah cukup? Bicara, kalian hanya butuh bicara. Lagipula, kenapa aku sendiri ikut campur dalam masalah kalian?!” Mingyu heran sendiri.
Diam-diam, Wonwoo memperhatikan Minna. Namun di saat gadis itu meliriknya, Wonwoo segera membuang pandangannya jauh-jauh. Sayangnya, Mingyu mengetahuinya.
“Nah,” lelaki itu segera beranjak dari tempatnya.
Dengan sembrono, Mingyu menarik tangan Minna dan Wonwoo secara bersamaan, lalu menyatukan keduanya.
“Ayo, katakanlah,” bujuk Mingyu ―dia benar-benar cupid manja yang menyebalkan.
Wonwoo lah yang pertama kali menggenggam tangan itu, namun Minna lah yang pertama kali bergerak lalu mencium pipinya. Itulah permintaan maaf mereka.
“Hanya itu saja?” Mingyu terbelalak, “Gak seru. Wonwoo Hyung, cobalah balas Nuna-ku.”.
Telinganya memerah, “Pergi kau jauh-jauh!! Tinggalkan kami, dasar anak kecil!!” Wonwoo menendang-nendang Mingyu agar bocah itu menjauh.
Tak ayal tawa pun meledak.
“Kami sudah minta maaf ―masa kau tidak puas?” ujar Minna.
“Ya, tapi, kan,”.
“Pergi sana ―anak kecil di bawah umur gak boleh lihat!” ucap Wonwoo.
Ya, Hyung, aku bukan anak kecil!!” jengkel Mingyu.
***
“Ayo kembali.”
“Ke mana?”.
Minna berpaling dari pemandangan sungai Han dan menatap Wonwoo yang sedari tadi memandanginya. Pancaran sinar mentari senja sengaja menghangatkan tubuh mereka di tengah dinginnya Seoul.
“Ke masa lalu.” jawab Wonwoo.
Minna mengernyitkan dahi.
“Argh, sejak kapan kau hidup bersama cupid cerewet dan banyak makannya itu, sih?” Wonwoo melempar pandangannya.
“Maksudmu, Mingyu?” tebak Minna ―rupanya Wonwoo menganggap bocah itu sama seperti dirinya.
“Kalau pun bukan karenanya, mungkin kita takkan duduk-duduk di sini sambil saling menggenggamkan tangan sekarang.” Wonwoo melirik ke arah Minna.
“Dia berguna juga,” celetukan Minna membuat keduanya tertawa geli.
Sejenak Minna tertunduk, hingga ia bisa melihat buku harian itu di pangkuannya ―buku hariannya. Hari ini, mereka telah mengembalikan buku harian mereka masing-masing, sekaligus menghabiskan waktu di akhir pekan dengan berjalan-jalan santai.
“Jadi karena kita telah saling memaafkan,” awalnya ia berkata, “beritau aku alasan mengapa kau bisa bersama wanita sialan malam itu.” dan Minna menatapnya.
Wonwoo terkekeh. “Kau boleh tanyakan kesaksian Vernon,” kata Wonwoo, “aku sungguh-sungguh mabuk, gadis itu sudah mengincarku sejak awal untuk mendekatiku,”.
“Ouh..., jadi kau ini famous, ya...?”.
Eeey, bukan itu maksudku,” ralat Wonwoo sesegeranya, “tapi sungguh, dalam keadaan sadar pun dia selalu mendekatiku ―bahkan Vernon juga sangat membencinya. Dia memanggilnya dengan bahasa yang kasar.”.
Such a bitch.” gumam Minna.
“Benar, Vernon memanggilnya begitu.” Wonwoo menambahkan, Minna memandangnya, “Tetapi kelihatannya wanita itu sudah berhenti mencari-cariku, Vernon yang bilang kalau dia ―seperti― telah mengancam wanita itu jadi ia tidak berani datang menemuiku lagi.”.
Ada senyuman lega di wajah Minna.
“Sekarang beritau aku,” Wonwoo bergantian menatapnya, “apa yang kau lakukan hari itu di Perpustakaan Kota?”.
Minna terperanjat, “Hei, jangan salah paham, dia rekan kerjaku!” ia memukuli Wonwoo.
“Sudah ku duga ―kau hanya akan menyebutnya ‘teman’.” gumam Wonwoo.
“Sungguh ia cuma teman!” Minna memukul dada itu kuat-kuat, Wonwoo merintih sambil terkekeh, “Dia salah satu perwakilan d’Style, dari Amerika! Kami akan bekerja sama dengan perusahaan fashion itu!”.
“Wow, hebat,” ucapnya acuh, “jadi apa yang kalian lakukan berdua di sana?” Wonwoo tersenyum usil.
“Aku mengajarinya bahasa Korea, kami sempat beberapa kali bertemu,”.
“Kau pasti mencari hiburan ketika bertengkar denganku.” sindir Wonwoo ―usil.
Minna memukulinya, “Dengarkan aku dulu!!” sebalnya, Wonwoo tertawa lepas, “Ya, kami memang sering bertemu, tapi hanya sebagai teman. Joshua memintaku mengajari bahasa Korea karena sebenarnya ia keturunan Korea yang lahir,”.
“Oh, jadi namanya Joshua...” dari nadanya Wonwoo masih saja menggoda Minna, “Kalian dekat?” pertanyaan itu membuat Minna terdiam, “Jujur saja, kau kira aku ini siapamu?”.
“Yah..,” Minna ragu, “benar, kami memang dekat.” jawabnya, “Tapi tidak ‘sedekat’ itu.” bibirnya mengerucut.
“Pantas, dia pasti menyukai gadis sebaik dirimu. Siapa, sih, yang ingin menyia-nyiakan peri selembut dirimu? Aku saja tidak.”.
Kata-katanya, membuat Minna termangu.
“Dia pasti sempat menyatakan perasaannya padamu.” dan Wonwoo masih saja menggodai kekasihnya.
Wajahnya merona, “Diam kau! Jangan bicara macam-macam!” Wonwoo kembali dihujani pukulan jengkel dari Minna.
“Jujur saja : kau pasti menolaknya, kan? Karena pada saat yang sama, sosokku muncul di kepalamu dan sontak kau tak bisa menerimanya.” tebak Wonwoo.
Minna tak mampu menyangkal lagi.
“Nah? Apa ku bilang, kan?” Wonwoo tersenyum puas, ia usap pipi itu, “Kim Min Na, seorang gadis yang dipertemukan Kim Min Gyu, adiknya, padaku. Kalau saja aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu, apa kau bersedia?”.
Gadis itu mengerjap-ngerjap.
“Hei, tentu saja bukan sekarang, aku juga masih kuliah dan kau masih berkarir untuk meraih mimpi besarmu ―lagipula Mingyu masih membutuhkan Nuna-nya untuk bermanja-manja.” Wonwoo mencubit pipi itu gemas, “Kau tunggu saja, pada saat yang tepat aku akan menyematkan cincin itu untukmu.”.
Minna menghela nafas, “Wanita selalu saja menunggu.” Wonwoo tak sengaja mendengar gumaman itu.
Mwo?”.
Anio.”.
“Coba ulangi.”.
Khawatir pipinya yang memerah terlihat, Minna segera memalingkan wajah, “Sungguh, tak ada apa-apa.” tersipunya.
Wonwoo menarik dagu itu, dan mencium bibir Minna singkat.
Ya! Pabo.” gertak Minna, “Nanti ada yang lihat.”.
Wonwoo mengedarkan pandang, “Gak ada orang, tuh. Mana yang lihat?” nadanya nakal. “Sudahlah, aku merindukan itu. Memangnya gak boleh?”.
“Bukannya gak boleh, tapi,”.
Wonwoo tersenyum, tatapannya meyakinkan. Maka demikian, Minna pun membiarkan lelaki itu mencium bibirnya seperti yang ia inginkan.
Valentine-ku,” bisik Wonwoo.
Benar, mungkin itulah yang akan Minna tulis di buku hariannya nanti. Pada hari ini, pada tanggal ini, pada detik ini, ia akan mengutarakan segalanya dalam bentuk tulisan.
Minna menggenggam erat buku hariannya itu. Perlahan-lahan ia merajut senyum di wajahnya seiring Wonwoo mengusap pipinya yang merona. Angin musim dingin berhembus hingga membuat lelaki itu memeluknya erat.
“Ayo kita kembali,”.
“Mm, ayo.”.
***
end
***

 A letter from Author...

Kyaa, mian banget nih Near lupa nyamtumin 'two shot' di FF ini, jadi pasti ada yang kaget kok tau-tau Let's Go Back udah tamat aja..^^
Oke, sampai di sini dulu FF-nya Near.. Near rencanaya nanti mau menyatukan semua imagine-nya SEVENTEEN yang Near posting di salah satu grup tertutup di Facebook^^

Gamsa hamnida^^

Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^