[FF] Aim part I

2:24 AM 0 Comments A+ a-

Aim
Part I : Get to know Us


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Han Sol/Vernon, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min

***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near
***

Aku hanyut dalam dekapannya, tubuh terasa panas seketika ia merenggut apa yang ku punya. Ku biarkan ia berkelana dari mulutku yang terbuka untuknya. Jika benar, jika saja ia bersungguh-sungguh.

“Hentikan,” rintihku, “you just bite it.”.

Namun ia berdesis, menolak apa yang ku perintahkan padanya. Ia bermain-main sesuka hati, aku sudah terkunci olehnya.

Stop it,”.

One more time.”.

Kami sadar, semua yang kami lakukan ini tidak berdasarkan pada sesuatu hal yang mendasar, tanpa sesuatu yang jelas. Kau taulah sesuatu itu.

Namun ia terlalu mudah untuk tergoda ―meskipun aku bukan jenis wanita penggoda.

“Manis,” desisnya, “my Sally..., Solji-ya.”.

Aku ingin mendengarnya lagi.

“Solji-ya,”.

***

“Wooii!! Solji-ya!!”.

Astaga! Aku terbangun dari tidurku. Ku temukan Jihun sedang memukul-mukulkan koran ke atas meja tempat kepalaku berbaring.

“Kau seharian ini tidur saja! Bagaimana kalau tiba-tiba misi datang?!” gerutunya, lalu kembali duduk di hadapan komputernya.


[ iKON – Airplane ]


Sial, rupanya itu hanya mimpi.

Aku mengacak-acak rambutku. “Kau baik-baik saja?” tanya Jihun.

Melirik aku padanya, “Kenapa?” tanyaku.

“Kau kelihatan,” Jihun berkata, “kacau.”.

Aku mendengus lalu kembali merubuhkan kepalaku ke atas meja.

“Oh, Kim Sonsaengnim.” mendengar Jihun menyebut nama itu, aku segera bangun.

Pria paruh baya itu memasuki ruangan. Segera kami semua berkumpul di hadapannya. “Kepolisian baru saja mengirimi kita misi kembali.” ucap beliau, lalu mengisyaratkan Jihun untuk melakukan sesuatu pada komputernya, “Kalian sudah siap?”.

“Siap!” jawab kami semua sigap.

***

Aku bekerja selama satu tahun sebagai seorang polisi. Namun karena kelebihanku di lapangan membuatku akhirnya dipindahkan ke sebuah tim kecil yang dibentuk Kepolisian dan Persatuan Agen Rahasia Korea Selatan.

X-Team, nama yang kurang kreatif bagiku. Well, di balik nama itu terdapat banyak anggota yang luar biasa! Bisa dibilang, kami adalah secret agent. Disebut X karena kami adalah tim yang dibentuk sebagai rencana atau senjata tersembunyi ―bak tanda X dalam peta harta karun.

Yeah, kau tau aku tidak pandai berkata-kata.

Namaku Choi Sol Ji, nama Inggrisku Sally Choi. Benar, aku memang setengah Korea dan setengah Amerika. Ayahku berkewarganegaraan Korea, sementara Ibuku Amerika. Aku memiliki seorang adik laki-laki, namanya Choi Han Sol atau Vernon Choi.

Nuna, I miss you so much!” Vernon mulai lagi, “How ‘bout your job? Did you,”.

Just stop it, stupid.” kesalku.

Benar, misi rahasia, agen rahasia, pekerjaan rahasia. Tak ada yang boleh tau. Meskipun sebenarnya keluargaku pun tak boleh tau ―hanya saja aku mengatakannya pada Hansol seorang.

Sorry,” sesal Vernon.

“Kau cukup belajar dengan baik dan jadilah polisi.”.

Did you said..., police...?”.

Yup, police ―why?”.

Vernon tertawa, “Wait, wait,” katanya, “itu semacam doktrin, right? Kau ingin aku jadi sepertimu, Nuna?”.

“Kenapa? Ku kira kau juga ingin.”.

Sorry ―no.” ketusnya, “I just want to be what I wanna be ―not what you wanna be, Sally..”.

Call me ‘Nuna’, you stupid!”.

“Tidak, dari anak-anak Ayah dan Ibu, cukup Nuna saja yang berkecimbung di pekerjaan rahasia itu.” Vernon bangkit, “Oh ya, jangan lupa selesaikan hubunganmu dengan brandalan itu.”.

Aku mendengus ketika adikku melengos pergi begitu saja. Yah, begitulah Vernon ―adikku yang paling menyebalkan.

Awalnya kehadiranku di X Team agak diragukan karena adanya Choi Seung Cheol, leader team kami, sekaligus kakak sepupuku. Dia anak dari kakaknya Ayah ―memang seharusnya tidak ada hubungan keluarga di antara para anggota X Team. Namun karena bakatku, akhirnya aku disetujui untuk bergabung.

Tak seperti anggota lainnya, aku adalah anggota yang ―bisa dibilang― masih baru dalam dunia kepolisian. Bayangkan saja, baru setahun saja aku sudah bisa masuk ke dalam tim sehebat ini. Kakak sepupuku saja ―Seungcheol― telah berpengalaman selama enam tahun bekerja, begitu juga dengan Jihun.

[iKON – Airplane ]

***

“Makanan semuanya!!” Solji datang membawa beberapa kantung makanan bersama Jihun.

Ketika mereka berdua membagikan beberapa kotak makanan itu ke beberapa anggota lainnya, tak sengaja Solji menatap punggung seorang pemuda bersama Pak Kim di sana.

“Siapa dia?” tanya Solji pada Seungcheol.

“Anak baru ―mungkin.” jawab Seungcheol.

“Mungkin?” Seungcheol menaikan bahunya sebagai jawaban.

***

Pemuda itu mendatangi sebuah gedung serbaguna di pojokkan kota. Gedung yang sangat megah dan besar, di dalamnya terdapat banyak hall dan ballroom yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan acara. Interiornya sangat mewah dengan sentuhan Barat yang menawan.

Di ujung koridor, terdapat sebuah lukisan ladang tulip yang besar dan sebuah patung menemani indahnya lukisan itu.

Di sentuhnya patung yang cantik itu. Pemuda tersebut menangkap sesuatu yang aneh pada tangan patung tersebut, lalu memutarnya.

Sempurna, sebuah pintu rahasia di bawah lukisan itu terbuka. Sedikit memandang ke sekitar, pemuda itu segera masuk setelah merasa situasi cukup aman.

Berbeda dengan suasana megah gedung serbaguna ini, rupanya setelah isi pintu itu ditelusuri dunia kelamlah yang bersemayam di baliknya selama ini. Remang, di dalamnya ada beberapa pria tak dikenal yang duduk-duduk sambil ‘bermain-main’ di atas meja.

Tak salah lagi, pemuda itu melangkah. Namun dua orang yang sedari tadi duduk di dekat pintu rahasia itu menodongnya dengan senjata.

Pemuda itu tak terkejut, hanya saja langkahnya berhenti.

“Aku harap kalian punya tata krama.” dinginnya, suaranya menggema dan memantul pada dinding-dinding yang terdiam.

“Oh, sudah datang rupanya,” seorang pria tua keluar dari ruangan itu, semua membungkuk hormat padanya, “turunkan senjata itu dari tamu kita, anak-anak.” suruhnya pada dua pria yang masih menodong senjata api mereka.

“Putera semata wayang Park Shi Yeon,” sambut pria tua itu.

“Sayang, kau salah menyebutkan identitasku,” dingin si pemuda.

Pria tua tersebut tertawa. Rupanya benar, anak yang diceritakan Shiyeon itu benar-benar dingin. “Kau diutus Shiyeon untuk menggantikan posisinya, tentu saja.” dan masih terkekeh.

Pemuda tersebut hanya berkedip, “Jadi apa misiku?” tanyanya.

“Kau tau aku bekerja untuk siapa, kan?” tanya pria tua itu, “Aku yakin anaknya Shiyeon pasti sudah paham akan tugas yang diemban Ayahnya. Bukankah begitu, Tuan Muda Park?”.

“Bukan,” sangkal pemuda itu, “namaku Jeon Won Woo.”.

***

“Namaku Kim Min Gyu! Mohon bantuannya!” ternyata namanya Mingyu, itu yang ada dalam pikiran Solji. “Aku sudah satu setengah tahun menjadi polisi, menjadi bagian dari X Team adalah sebuah kehormatan besar untukku!”.

“Mingyu baru di tim ini, jadi tolong perlakukan dia dengan baik.” ujar Pak Kim.

“Siap!” jawab kami serentak.

Ketika Mingyu bergabung bersama mereka, Solji-lah orang pertama yang berkenalan dengannya.

Annyeong haseyo, Choi Sol Ji imnida.” senyumnya ramah.

Annyeong haseyo, jal butak-deurimnida.” balas Mingyu, lalu beberapa anggota lainya menyusul.

“Aku Lee Ji Hun, code name Woozi.” ucap Jihun.

“Choi Seung Cheol, code name S.Coups.” ucap Seungcheol.

“Aku rasa, aku juga harus punya code name.” cengir Mingyu, mereka tertawa.

“Kim Min Gyu,” Mingyu menoleh ketika Solji memanggilnya, “kebetulan aku dan Jihun beli lebih, ini ada makanan untukmu.”.

“Wah, gamsa hamnida.” senyum Mingyu, “Cantik juga.” batinnya melihat tatapan itu.

“Jadi, berapa usiamu?” tanya Jihun.

“Kata Pa..., maksudku Kim Sonsaengnim, aku harus memanggil leader kita dengan panggilan Hyung.” jawab Mingyu.

“Ah, jinjja?!”.

“Berapa tahun usiamu?” tanya Seungcheol.

“Aku dua tahun lebih muda darimu, Hyung.” jawab Mingyu.

“Ah, kenapa tidak bilang dari tadi ―aku cukup takut dengan badan tinggi tegapmu tau!” kata Jihun, “Kau harus panggil aku Hyung juga kalau begitu!” lalu terkekeh dengan khasnya.

“Apa?” dengan tubuh mungil itu dan ‘hyung’?! Mingyu cukup terkejut. Semuanya tertawa, termasuk Solji. Mingyu hanya bisa mematung melihat gadis itu menertawakannya.

***

“Solji...,”.

Nuna.” ucap Solji.

“Oh? Ya, maksudku Solji Nuna,” Mingyu cukup terkejut kalau ia harus memanggil Solji dengan panggilan itu, “ini pertama kalinya aku bekerja sama dalam tim ini dan aku sama sekali tidak mengenal teman-temanku, jadi,”.

“Jadi?”.

“Jadi kau bersedia,”.

“Perkenalkan?”.

“Yah, maksudku itu.”.

Solji tersenyum, “Tentu saja kau sudah mengenal leader team kita, Choi Seung Cheol, kan?”.

“Yup,”.

“Dia yang paling senior di sini ―enam tahun bekerja dalam dunia kepolisian. Dia sudah sangat berpengalaman, dan itulah kenapa ia jadi pemimpin X Team.” katanya, “Ada Lee Ji Hun, operator kita. Dia memang lemah di lapangan, tapi dia orang yang sangat teliti dan detail. Dia yang selalu mengawasi kita dari sini ketika kita bertugas di lapangan. Dan jangan lupa, dia ini si peretas. IT-man, julukannya.”.

”Cheon Se Ri, dia gadis selain aku di sini. Satu-satunya yang ku andalkan ketika berkeluh-kesah ―karena hanya kami berdualah perempuan di X Team. Dia gadis yang gesit karena badannya yang mungil. Terkadang Seri menemani Jihun sebagai operator. Ada lagi Yoon Jung Han, dia mungkin terlihat ―yeah― cantik tapi dia manly, kau akan lihat sendiri ketika di lapangan nanti.”.

“Wen Jun Hui, kami biasa memanggilnya Jun ―selain karena itu code name-nya. Dia berasal dari Cina, tadinya hanya pindahan tapi akhirnya ia menetap di Korea dan menjadi bagian dari X Team. Selain jago di lapangan, dia adalah ‘Rachet’ kami.”.

“Rachet?” Mingyu heran.

“Kau tau film Transformers, right?” namun Mingyu menggeleng, “Baiklah, Junhui memang seorang tenaga medis di tim kami, seperti Rachet di pasukannya Optimus Prime. Lebih tepatnya, tenaga medis mendesak. Jadi ketika di tengah lapangan ada yang terluka, Junhui akan segera memberinya pertolongan pertama sebelum tenaga medis dikerahkan untuk menolong kami.”.

“Lalu, Kwon Sun Young dan Lee Seok Min, otak kanan dan otak kiri X Team. Tanpa mereka, tim kami takkan seimbang, takkan sekompak ini. Sunyoung dan Seokmin memang tidak bisa dipisahkan lagi, kerja sama mereka sangat kami butuhkan ―ibarat tangan kanan dan tangan kiri.”.

Mingyu mengangguk-angguk. “Baru kali ini aku berada di dalam tim sehebat ini.” katanya.

“Tau dari mana kau kalau tim ini hebat?”.

“Dari Pamanku, oops.”.

Sepertinya Mingyu baru saja kelepasan, “Kau bilang..., Paman...?”.

Mingyu menepuk dahinya, seakan menggerutu pada kebodohannya sendiri. “Jangan bilang-bilang, ya, Nuna,”.

“Bilang-bilang? Why?” heran Solji.

“Kalau aku,” Mingyu ragu, “keponakannya Kim Sonsaengnim.”.

WHAT?!”.

Tiba-tiba sirine berbunyi. Semua anggota segera berkumpul menghadap ke beberapa layar yang berjejer di ruang utama.

“Keberadaan bandar itu berhasil ditemukan!” seru Jihun, ia mengarahkan beberapa layar ke tempat-tempat yang dimaksud.

“Itu mereka!” seru Jeonghan.

Seungcheol mulai menyusun rencana, “Yoon Jeong Han, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, kalian bertiga ikut aku.” katanya, “Moon Jun Hwi, Choi Sol Ji, Kim Min Gyu, kalian satu tim. Dan Cheon Se Ri,”.

“Siap.” jawab Seri.

“Kau bersama Jihun.” jawab Seungcheol pada akhirnya.

Seri agak kecewa, tapi itulah tugas yang diembannya untuk misi kali ini. “Senang kau di sampingku lagi.” goda Jihun ketika mereka sudah meninggalkan ruangan.

“Jangan main-main, Woozi-ya,” jengkel Seri yang langsung mengenakan handsfree itu.

Jihun hanya tertawa.

***

“Kim Min Gyu ya?” ujar Junhui yang sibuk menyetir.

“Ya, namaku Mingyu.” jawab lelaki yang duduk di bangku belakang itu.

“Hebat, ya, kami belum pernah melihat kinerjamu sebelumnya, tapi kau sudah dihadapkan pada misi seperti ini.” kata Junhui.

“Cuma menangkap bandar narkoba, kok ―gak lebih.” dalih Solji.

“Eeyy, kau jadi kakak Senior jangan sombong begitu!”.

“Loh, memang ini mudah, kan? Hanya saja mereka ganas.”.

“Iya, iya.”.

Mingyu pun hanya senyum-senyum di belakang.

“Woozi, apa ada yang menyamar lagi kali ini?” tanya Junhui.

“Sudah ada seorang polisi yang menyamar, dia sudah di dalam sana.” jawab Jihun.

Junhui dan Solji berpandangan, “Polisi?” tumben sekali seorang polisi dikerahkan hanya untuk menyamar.

“Tapi aku rasa satu spy tidak cukup,” Seungcheol bersuara, “aku dan Jeonghan akan menyamar dan menyusup masuk. Sunyoung dan Seokmin akan berjaga-jaga diluar, sekaligus sniper.”.

“Sepertinya kami ―sniper― tidak dibutuhkan,” sahut Sunyoung.

“Benar, kan, Hyung?” sambung Seokmin.

Ya, ya! Jangan bermain-main di HT!!” ingat Seri.

Hyung, tak seharusnya kau biarkan Seri bersamaku malam ini ―dia galak sekali.” ujar Jihun.

“Kalian sudah sampai.” ucap Jihun, di saat yang sama GPS di mobil Junhui menunjukan mereka hampir sampai di lokasi. Mereka berhenti di sebuah jalanan yang tinggi, sementara lokasi penyergapan rupanya merupakan sebuah peternakan kecil yang terlihat berada di bawah jalanan itu.

“Itu tempatnya,” susul Junhui.

“Seokmin dan Sunyoung sudah berjaga,” lapor Seri.

“Itu Seungcheol Oppa.” gumam Solji melihat mobil Seungcheol terparkir di depan sebuah gudang di peternakan tersebut.

“Jangan mulai penyergapan sebelum aku memberi aba-aba.” ucap Seungcheol, “Woozi akan memberitau kalian.”.

Seungcheol bersama Jeonghan menghampiri gudang tempat penyimpanan pakan ternak, jerami, dan berbagai alat berat lainnya tersebut ―yang pada malam harinya beralih fungsi.

“Apa yang Oppa lakukan?” tanya Solji melihat Seungcheol dan Jeonghan bertemu dengan beberapa pemuda di balik pintu gudang yang besar itu saling berinteraksi.

“Itu ‘tiket’ masuk mereka.” Junhui sudah paham lebih dahulu.


[ B.A.P - COMA]



Para pemuda itu mempersilahkan Seungcheol dan Jeonghan masuk. Sementara Junhui, Solji dan Mingyu masih menunggu aba-aba dari Jihun.

“Sekarang!” seru Jihun, ketiganya pun segera mendekat.

Clear.” lapor Seri. Tanpa ragu Solji, Junhui dan Mingyu mulai penyergapan mereka.

Sementara itu, Seungcheol berhasil menemui seorang pria ―yang merupakan otak dari transaksi terlarang ini.

“Aku rasa kita baru bertemu.” ucap pria itu.

“Aku datang karena mencari ‘sesuatu’.” Seungcheol segera berkata.

Pria itu menyanggupi, “Kami akan mengedarkan ‘barang’ ke negara-negara seperti Eropa, beberapa akan disalurkan lewat Asia Tenggara.” lalu ia beralih pada sesuatu di laci mejanya.

“Apakah semuanya berpusat di sini?” Jeonghan terlalu gegabah.

Pria itu menatapnya, Seungcheol memberinya isyarat. “Siapa yang datang bersama Anda dari tadi ini, Tn. Song?” tanya pria itu pada Seungcheol.

“Hanya asisten.” dalih Seungcheol, “Asisten yang kurang sopan.” tambahnya.

Tertawa pria itu kemudian, “Aku bisa mengerti itu.” katanya.

Satu lirikan Seungcheol yang membuat Jeonghan sadar bahwa ia hampir saja membuat mereka dalam ancaman besar karena ucapannya itu.

“Jun, Sally, Mingyu, masuk.” lapor Seri.

“Beberapa polisi sudah berdatangan ke lokasi.” tambah Jihun.

Seungcheol pun memulai aksinya.

Sementara itu, Junhui sudah berhasil menjatuhkan dua pemuda yang berjaga di pintu depan gudang itu. Bersama beberapa polisi ia menyusup ke dalam gudang, sementara Mingyu bersama Solji dan polisi yang lainnya menyusup lewat celah lain.

Perlahan tapi pasti, mereka berhasil memasuki lokasi yang menjadi tempat transaksi tersebut. Rupanya orang-orang ―yang juga pengguna serta pengedar ini― memiliki senjata berbahaya dan cukup ganas.

Meski terkepung polisi, mereka tetap berani melawan.

“Seokmin dan Sunyoung memasuki gudang.” lapor Jihun.

Seungcheol berkedip. “Sayangnya, aku tidak bisa memberitau kalian tentang hal mendetil soal bisnis kami.” kata pria itu, “Tapi jika Anda berkenan,”.

Tak sengaja pandangan mereka bertemu, ada isyarat di baliknya. Di saat itu pula Seungcheol bersiaga, bersiap untuk sesuatu yang telah ia kira sebelumnya.

“Klek!!” mereka saling menodongkan pistol, namun,

“Dor!!” pria itu justru menembak Jeonghan.

“Bruk!” seketika Jeonghan ambruk.

Seungcheol tercekat. Pria itu beralih padanya. “Sekarang tinggal kita berdua, Tn. Song.” sinisnya pada Seungcheol, “Atau sebenarnya, kau bukan Tn. Song...?” ia tertawa sambil menodongkan senjatanya ke arah pemuda itu.

Nafasnya serasa ditarik-ulur. Bahkan hanya untuk menarik pelatuk itu saja jari-jari Seungcheol meragu. Melihatnya seperti itu, pria tersebut tertawa ―lebih tepatnya menertawainya.

“Kenapa? Kau juga ingin mati seperti temanmu?” tanya pria itu sebelum,

“Dor!” seseorang di belakangnya menembak kakinya hingga ambruk.

Junhui berdiri di ambang pintu di belakang pria tersebut. Ia memasuki ruangan diam-diam, dan begitu melihat pria tersebut tengah beradu senjata dengan Seungcheol, ia segera menembakan timah panasnya.

Meski ambruk pria tersebut masih berusaha melawan. Ketika ia berhasil merebut pistolnya, Seungcheol segera menendang tangan itu hingga pistol itu terlepas lagi. Junhui pun segera bergerak.

”Maaf tapi,” ia mulai memborgolnya, “ku biarkan kau hidup untuk memberikan keterangan pada kepolisian dan menanggung akibatnya.”.

Segerombolan polisi memasuki ruangan dan segera meringkus pria tersebut. Jeonghan! Seungcheol baru teringat akan keadaan sahabatnya itu.

Jeonghan tersungkur di pojokan ruangan, dan Seungcheol segera menghampirinya.

“Yoon Jeong Han! Ya! Jeonghan-ah!” ia membalikkan tubuh itu.

Wajah Jeonghan terlihat sangat pucat dengan luka di perut sebelah kirinya. Dia menatap Seungcheol dan tersenyum. Syukurlah, ia masih hidup.

“Hei, panggilkan Junhui, sakit tau.” Jeonghan masih saja bergurau.

Seungcheol tersenyum miris, “Ku pikir kau sudah mati.” ucapnya.

“Cuma pura-pura ―maaf, ya.” Jeonghan tertawa kecil sambil menahan lukanya, “Tapi, heh, kau ingin aku mati, ya?” dan ia masih saja bergurau.

“Sudahlah, jangan banyak bicara.” di saat yang sama Junhui menghampiri mereka.

Sementara itu, “Tunggu!!” beberapa orang melarikan diri dari lokasi. Tak ayal Solji, Mingyu dan beberapa polisi segera mengejar mereka.

Meski semua kawanannya sudah berhasil tertangkap, pemuda yang memakai jaket hitam, topi dan masker itu masih saja berusaha melarikan diri dari mereka.

“Persetan.” geram Solji yang segera mengejarnya bersama Mingyu.

Bahkan pemuda itu masih bisa melawan Mingyu meski ia sudah menyergapnya. Mingyu berhasil membenturkannya pada dinding dan menguncinya di situ. Ketika ia hendak melawan lagi, Solji langsung menodongkan senjata ke arahnya.

Hening, dingin.

Mingyu segera membuka topi dan masker itu untuk mengungkap wajahnya dan mengenalinya. Namun Mingyu terkejut melihat siapa yang berhasil di tangkapnya itu.

Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.

“Wonwoo?” Mingyu lebih kaget lagi ―ternyata Solji juga mengenal orang ini.

Hening sekali lagi.

***
to be continued
***

“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo Oppa, ya? Apa dia memang dari dulu begitu dingin, cuek, tidak punya wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi, tidak pernah senyum, seperti batu es?”.


“Simpan bill-nya.” ingat Solji.

“Iya, tau.” ketus Wonwoo, tak berubah seperti dulu.


Solji dibuat lebih berdebar lagi, ketika Wonwoo menatapnya lekat-lekat.

“Gadis macam apa kau? Tidak pernah bercermin, tidak pernah merawat diri, sampai tak sadar di wajahnya ada bekas luka yang membuatnya kelihatan jelek.”.


“Tak apa pulang sendirian?” tanya Seungcheol.“Di rumah ada Hansol?”.

“Ada,.”.


“Hansol? Siapa?” tanya Mingyu.

“Adik laki-lakiku.” jawab Solji.

“Kenapa tanya-tanya soal Hansol?”  sahut Seokmin.

“Cemburu, ya?” tambah Sunyoung.

Mingyu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk.


“Jadi Won―” Seungcheol hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo orangnya?!” gegernya berbisik.


“Jadi belum ada kabar, ya? Hm, hm.” ia menggoyahkan sedikit kursinya, “Aku akan menunggumu, Tn. Muda Park.”.

***
next...

Aim
Part II : Flashback

by Near
retnonateriver.blogspot.com
***

AADW, Ada Apa Dengan Wonwoo next di Aim Part II~~..^^

Bagaimanakah bagian pertama dari Aim ini, Reader-deul?? Semoga memuaskan, ya!^^ Oya, jangan lupa kasih komentar yang membangun buat Near, ya!^^ No siders^^

Mohon nantikan Aim part II : Flashback!^^

Gamsahamnida bagi yang sudah baca, like, dan komen!^^

Author


감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^