[FF] Aim (Spoiler ver.)

1:45 PM 0 Comments A+ a-

Aim

Spoiler ver.



Author : Near

Genre : Action, Romance, NC +19, OC

Main Casts : Choi Sol Ji/Sally (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : ▫ Kim Min Gyu

▫Choi Seung Cheol

▫Han Na Yeon (OC)
▫Yoon Jeong Han
▫Wen Jun Hui
▫Lee Ji Hun
▫Cheon Se Ri (OC)
▫Kwon Sun Young
▫Lee Seok Min
▫Choi Han Sol/Vernon Choi


***

Namaku Choi Sol Ji, nama Inggrisku Sally Choi.

Aku bekerja selama satu tahun sebagai seorang polisi. Namun karena kelebihanku di lapangan membuatku akhirnya dipindahkan ke sebuah tim kecil yang dibentuk Kepolisian dan Persatuan Agen Rahasia.

X-Team, nama yang kurang kreatif bagiku. Well, di balik nama itu terdapat banyak anggota yang luar biasa! Bisa dibilang, kami adalah secret agent. Disebut X karena kami adalah tim yang dibentuk sebagai rencana atau senjata tersembunyi ―bak tanda X dalam peta harta karun.

Yeah, kau tau aku tidak pandai berkata-kata.

***

“Oh, sudah datang rupanya,” seorang pria tua keluar dari ruangan itu, semua membungkuk hormat padanya, “Putera semata wayang Park Shi Yeon,” sambut pria tua itu.

“Sayang, kau salah menyebutkan identitasku,” dingin si pemuda.

“Kau tau aku bekerja untuk siapa, kan? Aku yakin anaknya Shiyeon pasti sudah paham akan tugas yang diemban Ayahnya. Bukankah begitu, Tuan Muda Park?”.

“Bukan,” sangkal pemuda itu, “namaku Jeon Won Woo.”.

***

“Namaku Kim Min Gyu! Mohon bantuannya!”.


Annyeong haseyo, Choi Sol Ji imnida.” senyumnya ramah.

Annyeong haseyo, jal butak-deurimnida.” balas Mingyu, “Cantik juga.” batinnya melihat tatapan itu.

***

“Klek!!” mereka saling menodongkan pistol, namun,

“Dor!!” pria itu justru menembak Jeonghan.

“Bruk!” seketika Jeonghan ambruk.

“Sekarang tinggal kita berdua, Tn. Song.” sinisnya pada Seungcheol, “Atau sebenarnya, kau bukan Tn. Song...?” ia tertawa sambil menodongkan senjatanya ke arah pemuda itu.

***

Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.

“Wonwoo?” Mingyu lebih kaget lagi.

“Kau mengenalnya, Nuna?” kaget Mingyu.

***

Bangapseumnida.” bungkuk Wonwoo.


“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo, ya? Berarti, Onnie tau, dong, sifatnya Wonwoo itu? Apa dia memang dari dulu begitu?” tanya Seri, “Begitu dingin, cuek, tidak punya wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi, tidak pernah senyum, seperti batu es?”.


“Dia laki-laki yang pernah menjalin hubungan itu denganku.”.

“Jadi Won―” Seungcheol hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo orangnya?!” gegernya berbisik.

***

“Hansol? Siapa?” tanya Mingyu.

“Adik laki-lakiku.” jawab Solji.


“Kenapa tanya-tanya soal Hansol?”  sahut Seokmin.

“Cemburu, ya?” tambah Sunyoung.

Mingyu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk.

***

“Bagaimana aku hari ini,” Seungcheol tersenyum menggoda, “Pelatih Han...?”.

***

“Belum ada kabar?” sahut pemuda itu. “Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” cengir pemuda itu.

Wonwoo terbelalak, “Kalian menyuruhnya bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya, “Persetan kalian.”.

***

“Haera-ya,” panggil Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali ke sini. Berada di dekat Ilsung akan membuatmu menderita.” bisik Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.

***

“Oya, kau tau apa ini? Kau tau siapa yang memberikannya padaku?” Ilsung menunjukkan map coklat di tangannya.

Haera menggeleng lagi.

“Wonwoo.”.

Seketika nampan yang Haera bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya. “Wonwoo...?” lirih Haera.


Diam-diam Wonwoo menatap dua temannya itu lekat-lekat. “Dokumen itu, dan ledakan bom hari ini. Semua ini hanyalah butiran gula yang manisnya mengundang semut,” batinnya, “Ilsung ingin mereka datang kepadanya, dan di saat itulah...,”.

***

“Maksudku..., kau akan pulang dalam keadaan utuh jiwa dan raga, kan, Sally...? Kalau bahasa kasarnya,” Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka, aku hanya tak ingin kau mati, Nuna... Just that simple...”.

***

“..., Kwon Sun Young dan Lee Seok Min, serta Choi Sol Ji dan Kim Min Gyu, menyamar berpasangan.”.

“Tunggu, berpasangan?” ralat Solji.

“Iya, berpasangan,” ulang Seungcheol, “apa di sini ada yang belum pernah pacaran??”.

Sunyoung secara spontan mengangkat tangan, padahal ucapan tadi hanya sebagai kiasan. “Oh? Bercanda, ya?” cengirnya.

***

“Jadi apa rencanamu, Nuna?” tanya Mingyu.

“Kau punya saran?” Solji berbalik bertanya.

Junhui pun menyahut dari tempat duduknya di samping Wonwoo, “Hei, berciumanlah!” usilnya.

Sontak semuanya tertawa, kecuali Wonwoo. Ketika semuanya sedang tertawa, Mingyu tak sengaja melihat Wonwoo yang tak ikut bersendagurau dan kembali membaca, hanya saja tatapannya tidak fokus. Hal yang sama didapatinya pada Solji yang kelihatannya memikirkan sesuatu.

“Ada apa, Nuna?” tanya Mingyu.

Gadis itu hanya menggeleng, “Anio.”.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi pada Wonwoo Hyung? Katakan saja, Nuna. Aku tidak ingin kau marah padaku.”.

“Mingyu-ya, bisakah kau biarkan aku supaya aku tidak marah padamu?”.

***

“Apakah ada yang salah dari caraku memimpin mereka, Sonsaengnim?” lanjut Seungcheol, “Jika memang ada yang salah dari,”.

“Tidak ada yang salah dari caramu memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku ingin menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.

“Kenapa? Apa Anda akan meninggalkan kami?”.


“Ku titip keponakanku padamu,”.

***

Pria tua itu tertawa lagi, “Lihat siapa yang merindukan pujaannya.” Ilsung mendatangi Haera, “Aku mengerti betul bagaimana perasaanmu padanya, Anakku, tapi,” ia menarik dagu gadis itu lembut, “apa kau yakin hanya ada dirimu di hatinya?”.

***

Geram, Wonwoo menarik dagu itu kasar, “Apa kau tuli?!! Katakan, di mana Ilsung?!!” bentaknya.


“Ngiiiing~~...!!”.

“Akhh!!” rintihnya keras, ia jatuh terduduk dan berusaha melepas benda di telinganya itu dengan tergesa.

“Astaga!!” jerit Seri, ia langsung terjatuh di atas lantai.

Aish!!” Sunyoung langsung melempar benda itu dari telinganya.

Hal yang sama pun dirasakan Junhui. “Sialan!!” ia banting benda itu.

Ouch!!” pekik Solji, tangannya segera mencabut benda itu dari telinganya, “What the f..., arrgghh!!”.

“Akh! Sebenarnya apa yang Ilsung rencanakan?!!” ia geram pada gadis itu.


“Aku yakin, Cha Yuk Seon hanyalah umpan untuk kita.” selidik Jeonghan, “Sebenarnya, Yukseon mengantar kita pada sesuatu!”.

***

Solji merasa Mingyu sudah berhenti menyiraminya. Namun ketika Solji sedang membasuh wajahnya yang basah, ia merasakan seseorang menarik tubuhnya lembut, merangkul pinggangnya, dan ia merasakan bibirnya berubah menjadi sangat hangat.


Tunggu, Wonwoo?

“Plak.” entah apa yang membuat Solji menampar Mingyu.

Mereka bertatapan, “Lancang.” desis Solji.

***

“Bruk!” Wonwoo lah yang membanting Mingyu pada dinding. Kedua lelaki itu saling beradu tatapan tajam. Wonwoo lah yang memukul Mingyu kemudian.

Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo pada pagar balkon lalu berbalas memukulnya. Impas keduanya.

“Kurang ajar kau, Kim Min Gyu.” suara bass itu menggema, kerah baju Mingyu dicengkeramnya kuat-kuat.

Kepala mereka berbenturan dan saling beradu, tatapan keduanya saling memburu.

“Hentikan!” seru Solji.

***

“Kami pernah berhubungan tanpa status,” jawab Wonwoo pada akhirnya, “kami..., saling mencintai tanpa..., terikat hubungan apapun...”.
  

Bahkan ketika ia mencuri pandang ke arah jam di bed side table-nya, Solji berdecak, “Baru lima belas menit,” gerutunya dalam hati, “ayolah, kenapa waktu berjalan begitu lambat?! Wonwoo sudah menyiksaku! Tetapi...,”.

“aku menyukainya...”.

***

“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.

“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di dalam mobil yang menjemput target.”.

***

“Aku ingin kau mengambil salah satu dari mereka, tahan dia di sini, dan bawa ‘inti’ itu untukku. Kau paham, kan, sekarang...?” jelas Ilsung, “Jangan takut, kekhawatiranmu takkan terjadi, Tn. Muda. Lagipula ini adalah tugas terakhirmu di bawah naunganku.”.


“Ingatlah, tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak Kim.

Dahinya berkerut, “Ne? Maaf?” Wonwoo berucap.

***

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.

Deg! Firasat itu kini menyerang ke ulu hatinya. Seungcheol yakin ada yang salah di sini. “Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.

***

“Kenapa? Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?” ujar Seungcheol lembut ―namun tegas.

“Bukk!!” entah kenapa Nayeon malah memukulnya hingga lelaki itu jatuh tersungkur.

***

“Kita akan berangkat sekarang ―meski tanpa Wonwoo.” sambung Seungcheol.


“Siapa kau? Jangan main-main denganku!” galak Nayeon.

“Kau ingin tau?” tanya pria itu.

Segera ia lepas kupluk dan maskernya, dan tak perlu waktu lama hingga Nayeon terkejut. Pria itu pun menyambut, “Apa kau puas sekarang..., Pelatih Han...?”.



“Hentikan van ini!! Hentikan!!” seru Jihun, dengan kemampuannya yang tersisa ia berusaha menggapai setir itu.

“Sialan!!” gerutu si polisi gadungan tersebut.

“Uwwaaaa...!!”.

“Tiiiinn...!!”.

“Braakkk!!!”.

***

“Klek.” terdengar suara senjata yang Solji genggam berseru.

“Tenang, Manis. Aku tidak bawa senjata.” aku Ryeojin, “Bahkan bukan aku yang menculiknya. Ditugaskan saja tidak.”.

Semua terbelalak.

“Apa maksudnya?” desis Junhui.

Ryeojin tersenyum penuh arti, “Yang menculik mantan atlet ini ada di belakang kalian ―yang ada di ambang pintu.” jelasnya.

“Ti, tidak mungkin,” desis Seokmin.

“K, kau,” Mingyu terpaku.

“Persetan kau,” maki Solji, “Jeon Won Woo.”.


“Aku tak tahan lagi ―dasar pengkhianat,”.

“Hoshi!” seru Seungcheol.


“Kau telah membunuh...,” lirih Seri, “Kau telah membunuhnya!!”.


“Aku,” Mingyu mengatur nafasnya, “aku akan membunuhmu sekarang juga, Hyung!! Bersiaplah untuk mati!!”.


“Dor!!” tembakan itu meleset ke arah dada kiri pria tua tersebut.

Solji terkejut bukan main, “Kim Sonsaengnim!!!” jeritnya melihat pria tua itu sudah tersungkur jatuh di sampingnya.


“Tidak, tidak, tidak!!” Junhui mulai panik begitu mengetahui keadaan Pak Kim.


“Jihun Hyung! Kau mendengarku, kan?!” Mingyu menepuk-nepuk pipinya, “Apa mungkin Hyung...,”.

***

Junhui tidak bisa mengatur nafasnya sendiri, “Maafkan aku, kawan-kawan,” lirihnya, “aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya.”.

***

“Kau kejam sekali pada Ibumu.”.

“Lebih kejam mana ―aku atau Ibu?”.

“Cukup, Jeon Won Woo!!!”.

“Aku lebih senang dipanggil dengan nama Park meski itu kedengaran kuno dan menyedihkan.” lanjut Wonwoo, “Daripada aku menggunakan nama asli dengan marga yang dipaksakan.”.


“Dan aku takkan pernah mengampuninya.”.


***


comming soon...

Aim

Part I : Get to Know Us



***

Ppabam~~...

Near berharap banyak yang menantikan Aim ini, ya, Reader-deul^^ Semoga banyak yang baca dan tanggap juga sama karya Near yang satu ini. Jangan jadi siders deh pokoknya!^^

Ditunggu, ya, Aim part pertama, Get to Know Us.

Gamsa hamnida^^

Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^