Aim part IV

6:15 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part IV : 내돈생이 My Little Bro 


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Han Sol/Vernon, Shin Hae Ra (OC), Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Dor! Dor!”. Hari ini mereka berlatih menembak.

Omo, omo,” beberapa kali Jihun kehilangan kendali senjatanya, “omo, Jihun-ah.”.

Mendengar kebisingan itu, Seri melirik ke arahnya, “Shikeureo~...” Jihun menatap ke arahnya, “Pegang erat, dan pandangan ke depan! Aiming! Fokus, Woozi-ya!”.

Hari ini Jeonghan sudah bisa kembali bekerja dalam X Team. Dokter yang menanganinya telah memperbolehkannya pulang. Begitu kembali dari rumah sakit, Jeonghan langsung ikut serta dalam pelatihan ini.

“Wow, aku merasa lebih baik.” gumam Jeonghan, lalu kembali menembak.

Selesai menembak, mereka mengumpulkan kertas yang menjadi sasaran tembak mereka kepada Pak Kim dan salah seorang pelatih menembak yang membimbing mereka.

“Hihihi.” Jihun hanya nyengir ketika menunjukkan kertas sasaran tembaknya.

Si pelatih itu menggeleng-gelengkan kepala melihat rata-rata hasil tembakan Jihun hanya mengenai lingkaran nomor tiga, empat, dan lima. Sangat buruk, yang paling buruk.

Namun beliau mendapat hasil yang memuaskan ketika melihat kertas sasaran tembak milik Mingyu dan Wonwoo. Pria itu tersenyum puas melihat hasil keduanya 90% mengenai llingkaran nomor sepuluh, sementara 10% sisanya meleset ke nomor sembilan.

Kedua lelaki itu saling berpandangan, “Wow.” ucap Mingyu mengagumi, sementara Wonwoo hanya cukup dengan senyuman tipis saja.

Terbaik, yang paling baik.

***

“Woah! Woah.” seru Sunnyoung.

Daebak.” susul Seokmin.

Solji melirik dari tempatnya duduk sekarang, rupanya di sana ada Sunyoung, Seokmin, dan Seri yang sedang menonton Jeonghan dan Junhui beradu kecepatan dalam merakit senjata api. Tertarik, Solji pun mendekat.

“Wah, jaemi itda.” gumamnya.

“Tiga puluh koma tujuh puluh dua detik! Junhui Ge pemenangnya!” seru Seri setelah melihat stopwatch di ponselnya.

“Yes! Aku menang untuk yang kesekian kalinya!” girang Junhui yang berhasil mengalahkan Jeonghan.

“Ah menyebalkan! Selalu saja kalah melawan Junhui ―aku udahan, ah.” Jeonghan menyingkir dari tempatnya.

Sementara itu, Wonwoo masih di sana, di mejanya sendirian. Sibuk dengan layar komputernya. “!” tumben-tumbennya seseorang mengiriminya SMS.

Dahinya mengerut, Wonwoo mendapatkan pesan tak bertuan yang tidak jelas siapa pengirimnya. "02.20.11.12" yang makin membuatnya heran isi pesannya hanya berupa angka.

“Seokmin-ah!” panggil Sunyoung, kini giliran dua bocah girang itu beradu kecepatan merakit senjata mereka masing-masing.

Kali ini tak hanya mereka saja yang menyaksikan, tapi Mingyu dan Seungcheol pun turut serta. Sambil merakit senjata, keduanya masih saja bisa bercanda.

“Empat puluh tiga koma dua puluh lima, Seokmin pemenangnya!” Seri masih memegang teguh stopwatch itu.

“Ah, kalian pakai bercanda, sih.” komplain Jeonghan.

“Hei, bagaimana dengan kemampuan Mingyu dan Wonwoo yang tadi mendapat nilai sempurna dari Pelatih Park untuk latihan menembak?“ usul Seungcheol.

Wonwoo dan Mingyu merasa terpanggil.

Maja, maja!” Junhui menyetujui.

“Ayolah, Wonwoo Oppa! Jangan menyendiri gitu, dong!” ajak Seri, sementara Solji berusaha acuh ketika lelaki itu mendekat.

Wonwoo dan Mingyu duduk saling berhadapan, tangan mereka menjauh dari senjata yang siap untuk dirakit masing-masing agar fairplay.

Shi~ jak!” seru Seri memulai pertandingan ini.

Mereka dibuat terkejut ketika melihat Wonwoo dan Mingyu memiliki kecepatan yang luar biasa ketika merakit senjata itu. Bahkan mereka berhasil menyelesaikannya dengan waktu yang sangat singkat dan bersamaan.

“Li, li, lima,” Seri gelagapan karena kekagumannya.

Sunyoung pun segera merebut ponsel gadis itu dan membacakan stopwatch-nya yang berhenti tepat ketika Wonwoo dan Mingyu menyelesaikan rakitannya secara bersamaan.

“Lima belas koma tiga puluh tujuh?!!” geger Sunyoung, “Lihat ini!” ia tunjukan layar ponsel itu pada semua orang di sana.

Mereka sungguh terkagum atas kemampuan luar biasa dua lelaki ini. “Uwah, neomu ppalla...” itu yang Seokmin ucapkan.

“Sebuah bom meledak di pusat perbelanjaan!!” tau-tau Jihun berseru dari depan layar komputernya.

Semua pun beranjak ke ruang utama dan menatap layar di sana. Semua layar menunjukkan beberapa tayangan berita baru-baru ini serta beberapa rekaman CCTV yang dikirimkan kepada mereka.

“Bukan bom serius untungnya,” kata Sunyoung.

“Tapi polisi mengirim kita ke TKP.” tambah Jihun.
“Kalau begitu tunggu apa lagi?” Seungcheol memulainya.

***

Ilsung tersenyum mendengar laporan salah seorang bawahannya, ia menatap layar laptop itu dengan senang. “Mereka sungguh mudah,” senyumnya, “sungguh mudah untuk ditarik perhatiannya.”.

Map yang Wonwoo berikan pada pemuda di malam itu kini berada di tangan Ilsung. Di dalam map coklat itu, terdapat beberapa lembar print out dan sebuah CD yang di-print dan di-burn sendiri oleh Wonwoo, semuanya berisikan tentang X Team, identitas mereka, tugas mereka, segala hal tentang mereka, agar Ilsung bisa mencari celah untuk melemahkan pertahanan Korea Selatan.

Selanjutnya, bukanlah lagi tugasnya. Ia hanya sampai membuka jalan tikus agar mereka bisa menyusup. Ilsung memang hanya suruhan, diiming-imingi rasa patriotisme yang tinggi.

“Sekarang, apa lagi yang harus kita lakukan, Ketua Jung?” tanya pemuda yang berada di depan laptop itu.

“Tunggu sampai mereka masuk jebakan,” kata Ilsung, “justru merekalah yang kita incar. Kita hanya perlu melenyapkan mereka, setelah itu tugas kita selesai.”.

“Baik,”.

Sebenarnya tak banyak yang tau tentang keberadaan X Team. Tim ini hanya diketahui beberapa orang berkepentingan saja, bahkan tak setiap polisi maupun militer mengetahui adanya X Team. Mereka memang dibentuk khusus dan rahasia.

Tim ini merupakan salah satu poin kuat pertahanan Korea Selatan. Itulah mengapa meski kecil, tim ini sangat berarti keberadaannya. Sangking rahasianya, setiap anggota X Team pun dilarang menyebutkan bahwa mereka anggota dari X Team di publik, bahkan pada keluarga kandung sendiri.

Contohnya Solji, awalnya memang tak ada anggota keluarganya yang tau bahwa ia anggota X Team ―kecuali Seungcheol― namun sekarang hanya Hansol sajalah yang mengetahuinya, sementara kedua orangtuanya hanya mengira Solji seorang perwira polisi biasa.

“Ada apa ini? Apa Abeonim menyelundupkan senjata lagi?” Haera datang membawa secangkir teh hangat yang Ilsung pesankan.

“Oh, tidak, tidak.” senyum Ilsung sambil menyambar cangkir itu, “Hanya sedikit memata-matai.” lalu diseruputnya teh itu.

“Oya, kau tau apa ini?” Ilsung menunjukkan map coklat di tangannya, Haera menggeleng, “Ini dokumen penting, dan ―oh ya― kau tau siapa yang memberikannya padaku?”.

“Ryeojin,” jawab Haera.

Ilsung terkekeh, “Ya, memang Ryeojin yang memberikannya padaku, tapi kau tidak tau dari mana map ini berasal, kan?”.

Haera menggeleng lagi.

“Wonwoo.”.

Seketika nampan yang Haera bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya. Ia syok bukan main, berharap ia salah dengar.

Tawa Ilsung menggema seisi ruangan, “Kenapa terkejut, Nak?” tanyanya pada Haera yang masih terbengong, “Kau merindukannya, sayang?” lalu tertawa lagi.

“Wonwoo...?” lirih Haera.

Eoh, geurae.” jawab Ilsung, “Kenapa? Merindukannya? Ingin bertemu dengannya?”.

Haera berkedip. Ya, ia merindukanya, ia ingin bertemu dengannya.

“Tunggulah sesaat lagi, Nak, Abeonim akan membawamu padanya, tapi kau harus berjanji satu hal pada Abeonim.” Ilsung menyesapi tehnya lagi.

Apa? Katakan. Seakan itu arti dari tatapan Haera.

“Berpura-puralah kau tidak mengenalnya nanti.” jawab Ilsung.

***

“Kenapa dengan ponselnya?”.

Jeonghan mendengar gerutuan Jihun di kursi belakang, “Kenapa?” tanyanya.

“Aku menelpon Seri, tapi katanya berada di luar jangkauan. Pesanku pun belum juga terkirim.” jelas Jihun.

“Apa mungkin Seri menonaktifkan ponselnya?” sahut Wonwoo yang duduk di samping Jeonghan.

“Tidak mungkin, Seri tidak pernah seperti itu padaku,” Jihun bergegas menghubungi gadis itu lagi, “Oh! Pesannya terkirim! Baru saja!”.

Eoh? Seri-ya? Kalian sudah sampai di sana?” Jihun kali ini berhasil menghubunginya.

“Eh, uh, iya,” Seri kedengarannya sedang agak sibuk, “kenapa telpon-telpon? Lagi pada sibuk tau! Apalagi tadi di toilet tidak ada sinyal, bahkan hanya di lorongnya saja pun sinyalnya sangat buruk!”.

“Oh, begitu.”.

“Kalian di mana?”.

“Masih di jalan bareng Jeonghan Hyung dan Wonwoo.”.

Leader-nim barusan bilang padaku, kalian nanti langsung saja ke ruang pemantauan gedung, di sana kalian bisa menyelidiki kasus ini lewat rekaman CCTV.”.

Copy.”.

X Team pun berbaur dengan semua polisi di TKP, bertindak seolah-olah mereka juga polisi. Beruntung bom tersebut tidak sampai menelan jiwa, hanya ada dua orang yang terluka.

Bom berdaya ledak kecil itu berada di bawah washtafel di toilet pria ketika kejadian. Di saat yang sama ada tiga orang pengunjung mall yang sedang berada di toilet, namun yang satu orang lagi berada cukup jauh dari ledakan sehingga tidak mengalami luka serius ―hanya syok ringan dan luka kecil.

“Ambilkan tasku,” suruh Solji asal, pada siapapun yang mau mendengarkannya, karena ia sedang sangat sibuk pada satu objek di tangannya saat ini.

“Nih,” ujar seorang pemuda yang mengambilkan tas untuknya, namun Solji hanya menyerobot tas itu tanpa berkata apapun. “Ehem,” sindirnya.

Merasa terpanggil, Solji pun menoleh dan menemukan Mingyu lah yang membawakan tas itu untuknya. "Oh, Mingyu-ya," senyumnya, “mian― gomawoyo.”.

“Bukan apa-apa,” senyum Mingyu, “sini ku bantu.”.

Begitu sampai di lokasi, Jeonghan, Wonwoo dan Jihun segera meluncur ke ruang pemantauan. Jihun berhasil mendapatkan rekaman CCTV yang berada di atas jalan masuk menuju toilet. Di saat seperti ini Jihun biasanya tak bisa diganggu gugat, Jeonghan dan Wonwoo pun berusaha membantunya.

[U-Kiss - Cinderella]


Setelah meneliti selama satu jam, “Ketemu!” seru Jihun, ketelitiannya patut diacungi jempol.

Jeonghan dan Wonwoo segera menghampirinya.

“Kau lihat pria ini?” Jihun menunjuk ke sosok seorang pria lanjut usia memakai jaket berwarna hijau army yang hendak memasuki toliet. CCTV itu pun dijedanya.

“Dia masuk ke toilet membawa tas yang isinya penuh, tapi begitu keluar isi tasnya berkurang.” tambah Jihun. “Aku memperhatikan pria ini sejak pertama kali ia datang, ia selalu melihat ke ponselnya dalam jarak waktu tertentu, juga sebelum memasuki toilet.”.

Jihun melanjutkan rekaman CCTV itu hingga pria tersebut keluar dari toilet.

“Oh! Ia melihat ke ponselnya lagi!” seru Jeonghan.

“Tentu saja, karena di toilet ini ponsel tidak bisa mendapatkan sinyal.” kata Jihun.

“Bagaimana kau tau?”.

“Seri bilang padaku kalau di toilet sinyalnya memang sangat buruk, itulah kenapa panggilan dan pesanku pun sangat sulit diterimanya.” jelas Jihun.

“Selanjutnya, ketika bom itu akan meledak, pria ini memandang ke jam tangannya, seperti menunggu sesuatu.” lanjut Jihun sambil beralih ke layar pemantauan lainnya, “Ia memang terkejut mendengar ledakan bom yang sempat terdengar sampai ke pintu keluar gedung mall, tapi ia tidak terlihat panik seperti pengunjung mall lainnya.”.

“Coba kalian lihat jamnya, saat pria itu memandang ke arah jam tangannya tak jauh berbeda dengan saat bom itu meledak.” Jihun menunjuk ke tanggal dan jam yang tercantum di layar.

Wonwoo terkesiap. Melihat urutan tanggal dan jam yang Jihun tunjukkan itu mengingatkannya pada pesan tak bertuannya yang diterimanya tadi pagi.

Bom itu meledak tepat pada jam sebelas lewat dua belas menit pada hari ini, tanggal 20 Februari. “Jam sebelas lewat dua belas menit, 11.12. Hari ini Februari tanggal dua puluh, 02.20.” Wonwoo paham sekarang.

Tak salah lagi,” ia menatap ke semua layar itu, “Ilsung yang merencanakan ini semua.”.

Diam-diam Wonwoo menatap dua temannya itu lekat-lekat. “Dokumen itu, dan ledakan bom hari ini. Semua ini hanyalah butiran gula yang manisnya mengundang semut,” batinnya, “Ilsung ingin mereka datang kepadanya, dan di saat itulah...,”.

“Tidak salah lagi,” kata Jeonghan, “kita harus menyelidiki ini bersama yang lainnya!”.

***

“Ini,” Seokmin menyerahkan beberapa lembar copy yang didapatkannya, “seperti yang Jihun lihat di CCTV, pria itu memang telah mereservasi sebuah penginapan dan perjalanan di biro perjalanan tersebut. Nama lengkapnya Cha Yuk Seon. Asalnya dari Yeouido.”.

X Team berkumpul di sebuah kafe kecil yang sepi di pojokkan pusat perbelanjaan itu. Mereka pun duduk di tempat yang tidak mudah dijangkau publik sehingga perbincangan mereka sore ini tidak dapat didengar orang lain.

Lembaran yang Seokmin berikan merupakan salinan dari data diri pria yang dimaksud itu yang ia dapatkan dari biro perjalanan yang pria tersebut datangi.

“Mulai dari sekarang, ia jadi target kita,” ucap Seungcheol, “kita akan membuktikannya bahwa ia benar-benar memiliki peran dalam ledakan bom hari ini.”.

“Siap!” jawab yang lainnya.

[U-Kiss - Cinderella]

“Apa ini yang namanya menyelam sambil minum air?” sahut Junhui ketika mereka bergegas meninggalkan tempat duduk. “Menjalankan misi sambil sekalian refreshing, jalan-jalan keluar kota? Ya, kan?”.

Maja!” sahut Sunyoung dan Seokmin.

“Justru kalian harus konsentrasi untuk misi seperti ini,” ingat Jeonghan, “semuanya harus fokus pada misi dan tujuan kita mendatangi tempat ini.”.

Copy!” sahut Sunyoung dan Seokmin berbarengan seperti sedang memegang HT.

“Perjalanan keluar kota? Wow.” gumam Mingyu.

“Baru kali ini, ya?” sahut Solji.

“Tidak juga,” Mingyu tersenyum manis, “beberapa kali aku juga pernah mendapatkan tugas keluar kota, tapi tidak sampai seperti ini. Paling hanya patroli, penggerebekan, dan semacamnya, tidak sempat menikmati apa-apa.”.

Well, apalagi aku.” kata Solji, “Baru setahun jadi polisi, belum pernah merasakan bertugas jauh keluar kota.”.

***

“Makanan semuanya sudah ada di lemari pendingin,” Hansol hanya memandang ke kiri dan ke kanan, mengikuti ke mana kakaknya mondar-mandir menyiapkan ini dan itu di pagi buta seperti ini.

“Jangan coba-coba pesan pizza delivery, karena aku sudah menyiapkan semua bahan makanan jadi kau bisa masak sendiri.”.

“Jadi aku boleh makan pizza jika aku mendatangi restorannya?” Hansol berusaha menghangatkan suasana dengan candaan, namun Solji malah menatapnya tajam, “Whut? Just kidding, Sal,” katanya.

Solji lanjut mondar-mandir.

“Pulang ke rumah tepat waktu, begitu selesai kuliah kalau tidak ada kegiatan penting lainnya langsung pulang. Jangan coba-coba bawa temanmu ke rumah ketika aku tidak ada, apalagi perempuan. Dan yang terpenting, kau harus belajar masak sendiri ―ingat itu. Fast food tidak baik untukmu ―Mom said the same. Aku sudah menandai yang mana botol selai kacang dan yang mana selai cokelat ―jadi kau takkan keliru lagi.” kata Solji, “Aku akan pulang dalam waktu dua atau tiga hari.”.

Segera ia jinjing tas besar itu, lalu menghampiri Hansol dan mengecup pucuk kepalanya.

I’ll be right back.” ucap Solji ketika meraih gagang pintu.

Will you?” ucapan sang Adik membuat gerak Solji terhenti, “I mean, kau benar-benar akan kembali, kan?”.

“Hansol,” ia pandangi bocah itu.

“Kau tidak akan ke mana-mana, kan? Maksudku, yeah, um, kau benar-benar akan pulang? No, no, I mean,”.

“Bicaralah dengan jelas dan lantang sebagai laki-laki, Hansol Vernon Choi!!” gertak si kakak tak sabaran dengan ucapan adiknya.

Hansol mengatupkan bibirnya terkejut. Ia menunduk.

“Maksudku..., kau akan pulang dalam keadaan utuh jiwa dan raga, kan, Sally...?” lirihnya, “Kau tau aku selalu merasakan hal ini tiap kali kau meninggalkanku di rumah sendirian karena tugasmu sebagai polisi... Dan kau tau, aku syok ketika mendengarmu bergabung dengan sebuah tim secret agent-mu itu... Bukan karena apa-apa, tapi sesungguhnya aku takut...”.

“Aku takut kau kenapa-napa, itu perasaan utamaku sebagai seorang adik yang cuma punya satu kakak... Dan aku lebih takut lagi ketika kau ―sebut saja― kenapa-napa, apa yang harus aku jelaskan pada Ayah dan Ibu sementara kau melarangku keras untuk memberitau mereka kalau kau bagian dari secret agent itu...? Hanya aku yang tau fakta itu, Sally. Lalu bagaimana aku harus menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu yang mengiramu hanya seorang polisi wanita biasa...?”.

“Kalau bahasa kasarnya,” Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka, aku hanya tak ingin kau mati, Nuna... Just that simple...”.

“Bruk,” Solji membiarkan tas besar itu jatuh dari tangannya, lalu ia hampiri Hansol yang masih terduduk di sofa dan memeluknya sayang.

“Aku janji padamu aku akan pulang dalam keadaan utuh ―as always. Seperti yang dikatakan Ayah, berdoalah selalu untuk keselamatan kita di dunia ini.” diusapnya kepala Hansol, “Terlebih, percayalah pada kakakmu ini ―I’m bulletproof.”.

Candaan itu membuat ekspresi wajah Hansol jadi lebih cerah.

Melihat adiknya tersenyum, Solji sudah merasa lega. “I’ll be right back ―I promise.” Solji memungut tasnya lagi lalu bergegas pergi.

“Jangan sampai seujung jaripun tertinggal, ya, Nuna.” senyum Hansol.

“Dan jangan makan pizza tanpa seizinku.”.

Alright.”.

See ya.”.

“Hati-hati, ya, Nuna!” salam Hansol, “Bawakan aku pizza begitu pulang!”.

“Blam!”.

“Ku anggap itu ‘yes’.”.

Hansol menghela nafas, lelaki itu berusaha menghilangkan rasa cemasnya yang berlebihan dan berharap agar kakaknya diberikan keselamatan sampai ia kembali ke rumah lagi.

***
to be continued
***

next...

“..., Kwon Sun Young dan Lee Seok Min, serta Choi Sol Ji dan Kim Min Gyu, menyamar berpasangan.”.

“Oh? Kita tidak sendirian?” sahut Seokmin, berpandangan dengan Sunyoung.

“Tunggu, berpasangan?” ralat Solji.

“Iya, berpasangan,” ulang Seungcheol, “apa di sini ada yang belum pernah pacaran??”.

Sunyoung secara spontan mengangkat tangan, padahal ucapan tadi hanya sekadar kiasan. “Oh? Bercanda, ya?” cengirnya, dengan canggung menurunkan tangannya. Sementara diam-diam, Mingyu tersenyum, di samping itu Wonwoo mendengus.


“Jadi apa rencanamu, Nuna?” tanya Mingyu.

“Kau punya saran?” Solji berbalik bertanya.

Junhui pun menyahut dari tempat duduknya di samping Wonwoo, “Hei, berciumanlah!” usilnya.

“Hoi, kasih saran itu yang masuk akal, dong!” protes Solji.

“Benar kata Nuna, eh, Sunbae!” Mingyu menambahkan, “Seri-ya, punya saran? Atau mungkin, Jeonghan Sunbae? Oh, Wonwoo Hyung?”.

Perhatian Wonwoo loncat lagi dari buku di tangannya, semua mata kini tengah memandanginya, menunggu pemuda itu juga ikut menghangatkan suasana. Di saat itulah Solji merasa canggung. Tak seharusnya Mingyu bertanya pada Wonwoo, entah kenapa Solji merasa tak enak hati pada lelaki yang pernah menempati bagian kosong di hatinya itu.


“Ada apa, Nuna?” tanya Mingyu.

Gadis itu hanya menggeleng, “Anio.”.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi pada Wonwoo Hyung? Katakan saja, Nuna. Aku tidak ingin kau marah padaku.”.

“Mingyu-ya, bisakah kau biarkan aku supaya aku tidak marah padamu?”.


“aku pemimpin mereka,” lanjut Seungcheol, “jika memang ada yang salah dari,”.

“Tidak ada yang salah dari caramu memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku ingin menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.

“Kenapa? Apa Anda akan meninggalkan kami?”.


Pria tua itu tertawa lagi, “Lihat siapa yang merindukan pujaannya.” Ilsung mendatangi Haera, “Aku mengerti betul bagaimana perasaanmu padanya, Anakku, tapi,” ia menarik dagu gadis itu lembut, “apa kau yakin hanya ada dirimu di hatinya?”.


“Target menuju kafe.” lapor Junhui

“Copy.” jawab Jeonghan


“Waeyo, Nuna? Kau ragu menceritakannya padaku?” Mingyu menatapnya parau, “Kau mengkhawatirkan sesuatu?”.


“Haera.” Wonwoo terbengong.

***
next...

Aim
Part V : S.P.Y

***

Versi Author asli

Versi imajinatif pembaca 😂😂😂

Waduh, siapa, nih, yang bikin plesetan kaya gitu? Eits, jangan keburu emosi dulu, Reader-deul!^^

Ini percakapan antara Near dan salah satu pembaca (teman dumay Near).

Berawal dari bahasa Akika

Hehehe, obrolan nyeleneh. Senang bisa bikin Reader-deul jadi ingat tulisan Near^^ Semoga ke depannya makin banyak yang suka Aim dan karya-karya Near yang lainnya.^^

Terima kasih yang sudah baca, terutama yang juga ikut melampirkan kritik dan saran yang membangun serta like dan/atau G+ nya!^^ Komentar kalian akan ikut mengembangkan tulisan-tulisan Near menjadi lebih baik^^

Gamsa hamnida^^

Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^