[FF] Aim part II

2:11 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part II : Flashback



Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
***

warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

[ B.A.P - COMA]



Sementara itu, “Tunggu!!” beberapa orang melarikan diri dari lokasi. Tak ayal Solji, Mingyu dan beberapa polisi segera mengejar mereka.

Meski semua kawanannya sudah berhasil tertangkap, pemuda yang memakai jaket hitam, topi dan masker itu masih saja berusaha melarikan diri dari mereka.

“Persetan.” geram Solji yang segera mengejarnya bersama Mingyu.

Bahkan pemuda itu masih bisa melawan Mingyu meski ia sudah menyergapnya. Mingyu berhasil membenturkannya pada dinding dan menguncinya di situ. Ketika ia hendak melawan lagi, Solji langsung menodongkan senjata ke arahnya.

Hening, dingin.

Mingyu segera membuka topi dan masker itu untuk mengungkap wajahnya dan mengenalinya. Namun Mingyu terkejut melihat siapa yang berhasil di tangkapnya itu.

Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.

“Wonwoo?” Mingyu lebih kaget lagi ―ternyata Solji juga mengenal orang ini.

Hening sekali lagi.

“Kau mengenalnya, Nuna?” kaget Mingyu.

Di saat yang sama, Seungcheol datang, “Dia kawan kita!” serunya pada Mingyu dan Solji, “Dia seorang polisi! Namanya Jeon Won Woo!”.

Mingyu segera melepaskan Wonwoo, dan Solji pun menurunkan senjatanya.

“Wonwoo Hyung, rupanya benar ini kau!” cengir Mingyu, “Sungguh tak disangka kita bertemu di tempat seperti ini selama bertahun-tahun tak jumpa!”.

Wonwoo tak bereaksi ―seperti biasanya.

Merasakan tatapan Solji itu, Mingyu pun beralih. “Nuna juga mengenal Wonwoo Hyung?” tanyanya pada Solji.


Sekarang gadis itu bertatapan dengan Wonwoo. Ada rasa sakit ketika ia menatap ke kedua bola mata itu.

“Kita harus melapor pada Coups.” dalihnya, lalu Solji meninggalkan keduanya begitu saja.

Entah kenapa ada rasa benci ketika Solji melihat lelaki itu hadir dalam kehidupannya lagi. Apalagi kedatangan tanpa terduga seperti ini. Solji ingin menolaknya, menolak kehadirannya di sini ―di hidupnya.

Semua suka duka yang telah mereka lalui berputar sekelebat dalam benaknya seperti sebuah roll film. Solji menggeleng, seakan ingin merontokan semua kenangan dari kepalanya.

[ B.A.P - COMA]

***

Aim
Part II : Flashback

by Near

***

Bangapseumnida.” bungkuk Wonwoo.

“Ini perasaanku saja atau anak baru itu memang dingin?” bisik Seri, entah ditujukan pada Junhui, Solji, atau siapa.

Hari ini X Team kedatangan seorang anggota baru yang bukan baru lagi dalam dunia kepolisian. Benar, orang itu adalah Jeon Won Woo.

Solji lebih dibuat terkejut lagi mengetahui Wonwoo akan bekerja satu tim dengannya. Rasa bencinya makin menjadi-jadi. Sementara itu, Mingyu merasa senang sekali karena kedatangan sahabatnya yang telah hilang kontak dengannya sejak lama.

“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo, ya?” ucap Seri hari itu pada Solji.

Solji tak peduli, “Memang apa pentingnya?” ketusnya.

“Berarti, Onnie tau, dong, sifatnya Wonwoo itu? Apa dia memang dari dulu begitu?”.

“Begitu apanya?”.

“Begitu dingin, cuek, tidak punya wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi, tidak pernah senyum, seperti batu es?”.

Solji melirik ke arah pemuda yang sedang berbincang dengan Mingyu, Junhui dan Jihun itu. Di saat yang sama, Wonwoo juga mencuri pandang ke arah Solji.

“Kau tanyakan saja padanya,” Solji kembali ke komputernya.

“Hei, aku serius!”.

“Aku juga serius! Tinggalkan aku!” Solji kelihatannya marah.

Seri memandanginya lekat-lekat, lalu bergegas meninggalkannya. Solji menggeram sendirian, mengurut dahinya dan membaringkan kepalanya begitu saja ke atas meja ―frustasi― tanpa sadar Wonwoo memperhatikannya.

***

Hyung, kenapa kau tidak membalas pesanku? Kenapa kau tidak membacanya pula?” hanya itu yang Mingyu kirimkan hari ini, berharap Wonwoo akan segera membalasnya.

Wonwoo seakan menghilang sejak seminggu yang lalu, tepat pada hari di mana Mingyu mengumumkan padanya bahwa ia akan meneruskan jejak sang Ayah untuk menjadi polisi dan akan mengabarkan pada Wonwoo apakah sahabatnya itu juga bisa ikut atau tidak.

Mingyu memutuskan untuk menjadi polisi begitu ia lulus SMA, ia ingin seperti Ayahnya dan memang pada dasarnya Mingyu telah lama tertarik dengan dunia kepolisian, sama seperti Wonwoo. Itulah mengapa mereka sangat akrab meski berbeda satu angkatan.

Setelah berhari-hari tak mendapat respon, Mingyu akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumahnya Wonwoo yang agak jauh dari tempatnya tinggal. Dan seperti biasanya, rumah itu selalu tertutup dan hening.

Mingyu tak sedikitpun ragu, dari depan pagar rendahnya ia terus memanggil nama itu dan memandang ke arah pintu ―meninggalkan sedikit harapan agar setidaknya daun pintu itu juga mau memberinya tanggapan.

Namun hingga panasnya matahari mulai menyerang pucuk kepalanya, tak ada sedikitpun harapannya yang terkabul, hanya tertinggal kecewa dan Mingyu terpaksa pulang dengan tangan kosong.

Meski sebenarnya, Wonwoo bersembunyi di balik jendela dan menunggu Mingyu untuk pergi.

***

Mingyu-ya, aku akan kembali ke Changwon, aku baru saja berangkat. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan pernah menyerah.”.

Mingyu dibuat lebih kecewa lagi di hari pelantikannya. Di hari bahagianya itu justru Mingyu harus menelan kekecewaan karena Wonwoo baru saja mengirimi pesannya selama ini. Lebih mengecewakan lagi isi pesan Wonwoo yang seakan merupakan salam perpisahannya untuk Mingyu.

Baru saja Mingyu hendak berangkat ke rumah Wonwoo, setidaknya berbagi kabar dan kebahagiaannya yang baru saja diterima menjadi seorang polisi. Namun pesan itu telah menghentikan langkahnya.

Rumah itu tak lagi berpenghuni, apalagi lingkungan sekitarnya sangat tertutup dan sepi. Mingyu tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya : di mana Wonwoo sekarang?

Lagi, pemuda jangkung itu hanya mematung di depan rumah tersebut.

***

Gawi, bawi, po!” seperti jam makan siang sebelum dan sebelumnya, para anggota X team mengutus dua orang anggota yang harus keluar markas dan membeli makan siang.

Dengan suit, “Gawi, bawi, po!”.

Wonwoo dan Solji sama-sama terpaku ketika mendapati tertinggal mereka berdualah dalam permainan gunting, batu, kertas kali ini. Itu tandanya, mereka berdua yang harus keluar membeli makan siang.

Solji menggerutu dalam hati. Hari ini benar-benar hari sialnya, dia selalu saja dipertemukan dengan lelaki yang sempat menghilang begitu saja dalam hidupnya itu ―Wonwoo. Solji yang dulu sangat mencintainya, kini berubah sangat membencinya.

“Kau bawa dompet?” terpaksa Solji memulai pembicaraan.

Wonwoo hanya merogoh kantongnya dan berusaha menutupi kekurangan yang harus mereka bayar dari pesanan mereka.

“Simpan bill-nya.” ingat Solji.

“Iya, tau.” ketus Wonwoo, tak berubah seperti dulu.

Mulai dari awal perjalanan ke restoran cepat saji sampai sekarang memesan makanan, tak satupun dari mereka yang mau memulai percakapan. Mereka persis dua orang yang baru mengenal hari ini, sangat kaku dan canggung ―faktanya mereka saling mengenal lebih dari itu.

Solji berusaha mengunci mulutnya dengan menyeruput minumannya sambil bersandiwara mengecek akun SNS di ponselnya. Yang ia tau, Wonwoo tidak menyentuh minumannya sama sekali, ia lebih sibuk membaca buku di tangannya.

Sangking heningnya, Solji dibuat penasaran dan tergoda untuk melirik ke arah Wonwoo. Namun sayangnya, ketika Solji melirik, Wonwoo ternyata sedang memperhatikannya. Segera Solji berpura-pura tak melihatnya ―ia kembali lagi pada ponselnya sambil merutuk dalam hati.

Bodoh! Bodoh!” gerutu batin Solji, “Ku bilang juga apa! Jangan melihat ke arahnya!”.

Solji dibuat lebih berdebar lagi, ketika Wonwoo menegakkan posisi duduknya dan berada lebih dekat lagi dengan gadis itu. Yang membuat Solji makin jengkel adalah, Wonwoo menatapnya lekat-lekat.

“Gadis macam apa kau?” ketus Wonwoo.

Solji mengerjap.

“Tidak pernah bercermin, tidak pernah merawat diri, sampai tak sadar di wajahnya ada bekas luka yang membuatnya kelihatan jelek.”.

Solji mendongak dan marah, “Sembarangan!!” gertaknya, “Kau tidak tau bagaimana sibuknya aku di dalam X Team, huh?! Aku juga berusaha merawat diriku sendiri sebagai seorang perempuan!! Salahmu pergi begitu saja dari,”.

“Pesanan meja nomor tujuh!” seorang kasir berseru menahan perkataan Solji.

Adegan yang tertinggal : mereka saling bertatapan, Wonwoo terpaku sementara Solji masih menatap lelaki itu dengan tatapan berapi-api.

“Bodoh,” maki Wonwoo pelan.

Gadis itu terkejut.

“Kau baru saja membocorkan pekerjaanmu di publik.” lanjut Wonwoo lalu bangkit dan menjemput semua pesanan mereka.

Solji membiarkan saja pemuda itu belalu melewatinya. Lagi-lagi ia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. “Kenapa hari ini begitu menyebalkan?!!” batinya.

[ iKON - Airplane]


***

“Kau kelihatannya tidak menyukai Wonwoo?” tebak Seungcheol.

“Kau tau itu.” jawab Solji enggan.

Seungcheol mulai paham, “Kau membencinya? Maksudku, kau sudah mengenalnya?” tebaknya lagi.

Solji mendengus. Benar rupanya, itu yang ada dalam pikiran Seungcheol.

“Dia laki-laki yang pernah menjalin hubungan itu denganku.” baru saja Seungcheol hendak berucap, Solji sudah berkata lagi.

“Jadi Won―” Seungcheol hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo orangnya?!” gegernya berbisik.

Solji mengurut dahinya sementara Seungcheol mengangguk-angguk.

“Pantas saja kau sangat membencinya.”.

“Gak penting, Oppa. Lagian hubungan itu sama sekali gak jelas,”.

“Tapi kau sempat menaruh perasaan padanya, kan?” tebakan Seungcheol kali ini tepat seperti sebelumnya ―karena Solji tak mampu mengelak dari perkataanya lagi.

“Solji-ya, kalian bahkan telah melakukan ‘itu’. Sekalipun memang bukan hubungan yang jelas, setidaknya kalian telah memiliki perasaan yang sama, ya kan? Jadi wajar bagiku jika kau membencinya sekarang.” Seungcheol berujar, “Dia menghilang dari hadapanmu ketika kau membutuhkannya.”.

Kakak sepupunya tersebut membuat Solji teringat lagi akan kenangan itu. “Hentikan, Oppa. Kau menyiksaku.” Solji tak ingin lepas kendali.

Seungcheol pun enggan melanjutkan.

[ iKON - Airplane]

***

“Klek.” pintu itu terbuka.

Jeonghan tersenyum cerah ketika melihat teman-teman satu X Team-nya datang menjenguknya malam itu, Wonwoo juga datang menemuinya.

“Ku dengar dari dokter, pemulihanmu cukup pesat.” kata Seokmin.

“Itu kata dokter atau kata Junhui, ya?” sindiran Sunyoung membuat yang lainnya tertawa.

“Oya, Jeonghan-ah, perkenalkan, kita kedatangan anggota baru ―seorang polisi yang menyamar dalam misi sebelumnya.” ingat Seungcheol.

Yang dimaksud, Wonwoo, pun segera membungkuk pada Jeonghan. “Annyeong haseyo, Jeon Won Woo imnida. Jal butak-deurimnida.” meskipun wajahnya tetap saja dingin.

Annyeong, Yoon Jeong Han imnida.” balas Jeonghan seramah mungkin.

“Kau tidak bertemu dengannya karena kau sudah tertembak duluan, Hyung.” ucap Junhui usil, membuat yang lainnya terkekeh.

“Dan Seungcheol mengiraku sudah mati.” tambah Jeonghan, membawa suasana hangat di ruang rawatnya yang membosankan.

“Eeeyy, itu, kan, karena aku panik.” dalih Seungcheol.

“Bukankah itu berarti aktingnya Jeonghan Oppa sukses?” tambah Seri.

“Sukses bikin ngerih.” celetuk Jihun di tengah-tengah gelak tawa mereka semua.

“Oya, apa Kim Sonsaengnim sudah sempat menjengukmu, Oppa?” tanya Solji.

Jeonghan mengangguk, “Beliau yang paling pertama datang menjengukku dan menemaniku selama beberapa waktu. Lalu aku ditinggal di sini sendirian sampai kalian datang hari ini.” jelas Jeonghan, “Di sini sungguh membosankan, aku ingin kembali ke markas lagi.”.

“Kalau begitu, hwaiting, Hyung! Cepatlah sembuh!” Mingyu tersenyum.

“Ya ampun sampai lupa, kita punya Mingyu.” ucap Jeonghan sambil hi-5 bersama pemuda itu. “Ada Mingyu, ada Wonwoo. Aigoo aku bahkan belum mengenal kalian ―aku harus cepat-cepat sembuh.”.

“Santai sajalah, jangan terlalu memaksakan diri.” ingat Seungcheol bijak.

“Benar, kau saja belum bisa berjalan.” tambah Junhui.

“Iya, iya...” hanya itu yang Jeonghan katakan.

***

“Tak apa pulang sendirian?” tanya Seungcheol.

Solji mengangguk, “Oppa di sini saja, jagalah Jeonghan Oppa.” gadis itu mulai memakai coat-nya, “Aku bisa pulang sendiri, kok.”.

“Di rumah ada Hansol?”.

“Ada, aku gak sendirian, kok.”.

Seungcheol mengangguk meski ragu. “Hati-hati di jalan.” ingatnya.

“Tenang saja,” Solji menunjukkan kepalan tangannya, pertanda ia punya kemampuan bela diri yang bisa melindunginya dari segala mara bahaya.

“Hansol? Siapa?” tanya Mingyu pada Solji ketika mereka semua dalam perjalan di koridor rumah sakit.

“Adik laki-lakiku.” jawab Solji.

Hyung dekat dengan adikmu, Nuna?”.

“Seungcheol Oppa itu kakak sepupuku.”.

Jinjja?!” Wonwoo melirik ke arah Mingyu dan Solji yang berjalan berbarengan di depan matanya.

“Kenapa tanya-tanya soal Hansol?”  sahut Seokmin.

“Cemburu, ya?” tambah Sunyoung.

Mingyu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk.

“Iya, Solji Onnie memang cantik. Gak papa, kok, Mingyu-ya, kalau kau naksir padanya!” usil Seri, ikut-ikutan memojokkan Mingyu.

“Eh, jangan gitu, dong. Nanti mukanya Mingyu memerah.” tambah lagi Junhui, sontak membuat tawa meledak.

Tak sengaja ketika menikmati kelucuannya bersama teman-teman, Solji menangkap sosok Wonwoo di belakangnya. Tak bergeming, tak tertawa, dan diam saja. Begitulah Wonwoo.

Jaim, Solji pun berpaling darinya.

***

Seorang pemuda memasuki ruangannya. Bahkan hanya dari wajahnya saja, ia sudah tau berita apa yang akan didengarnya.

“Jadi belum ada kabar, ya? Hm, hm.” ia menggoyahkan sedikit kursinya.

Pemuda itu mengatupkan bibirnya yang sempat terbuka. Rupanya pria tua itu sudah tau apa yang akan dikatakannya. Selanjutnya, ia hanya diam dan mendengarkan.

“Aku akan menunggu kalau begitu.” pria tua itu membalikkan sebuah jam pasir di atas mejanya. Lewat lubang yang sangat kecil, sedikit demi sedikit pasir meluncur melewatinya.

“Aku akan menunggumu, Tn. Muda Park.”.

[ U-Kiss - Cinderella]



***
to be continued
***

“Namanya Jung Il Sung, diduga kuat sebagai mata-mata untuk Korea Utara. Buronan selama empat belas tahun dan keberadaanya sangat sulit dilacak.”  ucap Pak Kim pagi ini.


“Wonwoo Hyung, kau sudah makan?” Mingyu mengejutkan Wonwoo yang sedang termenung itu, “Wae geurae, Hyung? Kau ada masalah?” tanya Mingyu memastikan.


Tatapan Seungcheol mengisyaratkan sesuatu. “Nuna,” bisiknya pelan.

“Aish, dasar anak―” baru Nayeon hendak memukul anak itu, ia pun menyetujuinya, “―eoh, eoh, Leader-nim.”.


“Belum ada kabar?” sahut pemuda itu.

“Kenapa kau datang begitu mendesak.” komplain Wonwoo, berat, dingin, dan tajam.

“Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” cengir pemuda itu.

“Kalian menyuruhnya bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya.


Solji menuang air dingin ke dalam gelasnya, “Aku bertemu Wonwoo lagi.” ujarnya sebelum meneguknya.

“Heol.” desis Hansol, “Atas dasar apa ia bisa bertemu Kakakku lagi? Awas saja kalau ia menyakitimu seperti waktu itu ―aku takkan melepaskannya.”.


“Haera-ssi! Shin Hae Ra!!!”.

Tubuh Haera masih dalam pangkuan Wonwoo, tak bergerak dan tak bergeming.

“Pulanglah, dan jangan kembali ke sini. Berada di dekat Ilsung akan membuatmu menderita.” bisik Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.

***
next...

Aim
Part III : Shin Hae Ra

***

Aigoo, siapa lagi kah ini Shin Hae Ra?? Jangan lupa nantikan Aim part III, ya!^^

Akhirnya, Near menemukan cara supaya Reader-deul bisa baca FF Aim ini dtemani beberapa lagu yang serasa seperti soundtrack untuk FF Aim ini^^ Tapi bagi yang gak biasa baca FF sambil dengerin lagu juga Near gak maksa, kok..

Oya, terima kasih bagi yang sudah baca, terutama yang kasih like, komen, G+, saran dan kritik yang membangun!^^ Ketika Near ngetik ini (1/6) Aim part I sudah dibaca sebanyak 60 kali dan diberi 4 G+!! Wah, terima kasih banyak ya^^

Semoga ke depannya peminat Aim makin banyak^^

Gamsa hamnida!^^


Author


Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^