[FF] Aim part III

4:28 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part III : Shin Hae Ra


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Shin Hae Ra (OC), Choi Han Sol/Vernon Choi, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

Jihun terkejut melihat seorang gadis meletakkan sepiring roti lapis untuknya. Ketika mendongak, Jihun mengenalinya ―Seri.

“Sudah sarapan?” gadis itu sedang mengunyah roti lapisnya sendiri.

Jihun tak bergeming, “Kau,”.

“Sarapan di pagi hari akan meningkatkan konsentrasimu ketika bekerja, itu yang ku baca hari ini. Dari tatapan matamu saja, kau kelihatan tidak fokus. Dari gerak-gerikmu aku tau kau kekurangan energi.” oceh Seri lagi. “Semua yang datang hari ini sudah sarapan, kecuali dirimu, Woozi-ya.”.

Jihun berkedip.

“Tunggu apa lagi? Dimakan sandwich-nya!” suruh Seri.

Terasa menggelitik di dadanya ketika ia tau Seri memperhatikannya. Tapi Jihun masih sama saja, “Kapan kau akan memanggilku ‘Jihun Oppa’?” godanya.

Jelas Seri tersinggung. Ia memang tidak pernah memanggil nama aslinya ―Jihun― ia lebih suka memanggil code name-nya ―Woozi― sehingga ia tidak perlu menuakan cowok pendek itu.

Seketika Seri merebut roti lapis itu, Jihun segera menahannya dan berkata, “Aku lapar, aku lapar!” ralatnya, membujuk rayu Seri supaya tidak jadi marah, “Aku akan makan rotinya. Sungguh.” cengirnya.

Meski masih tersinggung, Seri pun membiarkan Jihun merebut sandwich itu dari tangannya.


***

“Namanya Jung Il Sung, diduga kuat sebagai mata-mata untuk Korea Utara. Buronan selama empat belas tahun dan keberadaanya sangat sulit dilacak.”  ucap Pak Kim pagi ini.

Di dalam ruang rapat ini hadir semua anggota X Team, kecuali Jeonghan ―yang masih absen.

“Selama persembunyiannya, Ilsung kerap kali menyamarkan identitasnya, beberapa nama yang pernah digunakannya di antaranya Kim Jeon Ho, Kevin Brown, Steve Lee, Ji Ryeo Sun, dan beberapa identitas lainnya. Diketahui Ilsung tidak bekerja sendirian, ia bekerja bersama beberapa anak buah dan kaki tangannya ―yang bisa dibilang jumlahnya tidak sedikit.”.

“Salah satu kaki tangannya yang berhasil ditangkap adalah Park Shi Yeon.”.

Wonwoo mendelik.

“Park Shi Yeon berhasil di tangkap dua tahun yang lalu, dan dihukum mati.” lanjut Pak Kim, “Kepolisian berhasil mendapat informasi bahwa dirinya bekerja untuk Jung Il Sung dan memberikan informasi tentangnya, namun dengan cepat Ilsung menghilang kembali.”.

Diremasnya pulpen dalam genggamannya itu, Wonwoo berusaha bersabar.

“Tapi bukankah Park Shi Yeon aslinya hanya seorang pembunuh bayaran?” tebak Sunyoung.

“Benar, awalnya demikian. Namun karena Shiyeon dan Ilsung saling mengenal, Ilsung pun memanfaatkannya.” jelas Pak Kim.

“Bagaimana bisa Shiyeon tertangkap waktu itu?” tanya Seri.

“Dia sempat menyusup ke dalam pertahanan Korea Selatan dan membunuh beberapa penjaga serta orang-orang yang telah memberinya keterangan dengan cara yang sadis.” tambah Jihun, “Ia yang membuka jalan bagi hacker yang bekerja di bawah naungan Ilsung untuk meretas dokumen-dokumen penting mengenai pertahanan Korea Selatan.”.

“Ia membunuh sebagai upaya menghilangkan jejak?” sahut Mingyu.

Wonwoo menarik ulur nafasnya.

“Jika memang hanya untuk menghilangkan jejak, caranya itu kurang tepat. Justru hal tersebut yang membuatnya ―secara tak langsung― dijebloskan ke penjara kemudian dihukum mati.” tambah Solji.

“Ini adalah misi utama kalian. Tugas kalian adalah mencari keberadaannya, melacaknya, menangkapnya, dan mengupas kasus ini bersama kepolisian.” lanjut Pak Kim, dan beliau masih melanjutkan rapat ini.

***

“Wonwoo Hyung, kau sudah makan?” Mingyu mengejutkan Wonwoo yang sedang termenung itu, “Wae geurae, Hyung? Kau ada masalah?” tanya Mingyu memastikan.

Wonwoo menggeleng. “Kau sendiri? Sudah makan?” dalihnya.

“Selama rapat, kau diam saja, Hyung.” Mingyu tak bisa dialihkan, “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”.

Senyum tipis itu terukir, “Hanya kurang konsentrasi, perutku kosong.” dalihnya, “Ayolah, kau tidak lapar?”.

***

[ SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]


“Hap! Bruk!”.

“Perhatikan lawanmu, Lee Ji Hun! Kau sungguh lemah!” tegur Han Na Yeon, seorang pelatih pertahanan diri khusus untuk polisi, militer, dan salah satunya, X Team.

“Ahh, menyebalkan.” gerutu Jihun, yang lalu bangkit lagi setelah dibanting Seri.

Nayeon memang seorang wanita, tapi ia sangat tegas dan kuat. Keteguhannya membuatnya menguasai beberapa jenis bela diri. Ketika memperhatikan semua anggota X Team, Nayeon menemukan Seungcheol berdiri sendirian di sana.

“Oh, iya, Jeonghan absen, ya?” ingat Nayeon.

Tatapan Seungcheol mengisyaratkan sesuatu. “Nuna,” bisiknya pelan.

Aish, dasar anak―” baru Nayeon hendak memukul anak itu, ia pun menyetujuinya, “―eoh, eoh, Leader-nim.”.

Sejak Nayeon memulai pekerjaannya sebagai pelatih di sini empat tahun yang lalu, Seungcheol sudah jatuh hati padanya. Meski terpaut tiga tahun lebih tua darinya, Seungcheol tak pernah merasa canggung ―apalagi dia lebih senior dua tahun daripada Nayeon.

Hari ini, karena ketidakhadiran Jeonghan, X Team berjumlah sembilan orang. Jumlah ganjil yang membuat Seungcheol tak memiliki pasangan untuk berlatih bela diri. Sementara itu sudah ada empat pasangan lainnya yang sedang berlatih, merekalah Seri dan Jihun, Junhui dan Sunyoung, Wonwoo dan Seokmin, serta Solji dan Mingyu.

Itulah mengapa, Seungcheol sangat berharap Nayeon mau jadi pasangannya berlatih hari ini.

“Perhatikan langkahmu... Nah...” Junhui mengingatkan.

“Ah, begini... Hap.” Sunyoung dan Junhui saling bekerja sama dan mengingatkan. “Ayo ulangi sekali lagi.”.

“Fuhh, kali ini aku pasti bisa! Harus! Ayo, Lee Ji Hun!”.

Seri memutar bola matanya enggan. Melawan Jihun? Apa ada yang lebih mudah dari lelaki di hadapannya satu ini?

Jihun menyerang Seri, namun gadis itu dengan sigap menangkis dan justru melawannya balik dengan sangat mudah. “Bruk!” lagi, Seri membantingnya ke atas matras.

Untuk ukuran gadis mungil sepertinya, Seri memang sangat kuat.

Sementara itu, “Oh! Hap!” Seokmin berusaha menghindari setiap serangan Wonwoo, “Hoit!” sekarang ia berhasil mengunci pergerakan lelaki di hadapannya ini.

Di saat itulah tak sengaja Wonwoo menatap ke arah Mingyu dan Solji.

Mereka terlihat seperti sedang berkelahi serius, karena rupanya kemampuan mereka sama bagusnya. Cara mereka menyerang, bertahan, menangkis, keduanya sudah satu level. Rasanya seperti melihat sebuah pertarungan.

Pukulan Solji meleset, Mingyu berhasil merebut tangannya. Ia lalu menarik dan hampir saja menjatuhkannya.

“Akk!” Solji terpekik kecil ketika Mingyu hendak menjatuhkannya ke atas matras.

Tapi hei, tidak terasa apa-apa. Ketika Solji membuka mata, rupanya Mingyu sedang menahan gravitasi yang menarik tubuh langsingnya. Mingyu tidak ingin menjatuhkannya ―hanya saja hampir. Ditatapnya gadis yang berada di bawahnya itu.

“Tenang saja, Nuna. Aku tidak akan membantingmu.” cengir Mingyu, sedikit mengerjai Solji dengan ulahnya.

Solji tertawa, “Ah, ku pikir beneran.” katanya, “Sekarang ayo bangunkan aku!”.

Mingyu pun membantu Solji bangkit dari cengkeramannya. Ada perasaan aneh ketika Wonwoo melihat itu. Namun rasa sakit yang mencubit tangannya itu membangunkannya.

Ia baru ingat kalau ia sedang berlatih bersama Seokmin. Terbawa perasaannya itu, Wonwoo segera berbalik menyerang dengan agresif dan membanting Seokmin saat itu juga. Hal ini cukup menarik perhatian yang lainnya.

“Wow, bukan main!” hanya itu yang Seokmin katakan, namun Wonwoo meninggalkannya tanpa peduli. “Ish, manusia macam apa, sih, dia?” gumam Seokmin kemudian.

Setelah saling memberi hormat, kini Nayeon dan Seungcheol bersiap untuk menyerang. Mereka memulainya dengan baik dengan saling serang. Namun hari ini Seungcheol cukup berbeda, Nayeon terkejut mendapatinya cukup lihai menghindar dari setiap serangannya.

Bahkan Seungcheol dapat menguncinya dengan mudah tanpa hambatan, Nayeon gengsi. Ia berusaha melawan karena tak ingin kalah dari anak muridnya yang tengil itu. Namun hari ini Nayeon harus menerima kekalahannya karena Seungcheol menyerangnya bertubi-tubi.

“Huk,” Nayeon tercekat ketika Seungcheol hampir menyerangnya ketika ia sudah tak berdaya lagi. Kepalan itu hanya sampai di depan matanya. Skak mat, Seungcheol telah mengalahkannya.

Nayeon memandangnya nanar.

“Bagaimana aku hari ini,” Seungcheol tersenyum menggoda, “Pelatih Han...?”.

Wanita itu hanya bisa menelan kekalahannya.

[ SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]

***

Karena tugas menumpuk hari ini, Wonwoo dan anggota X Team lainnya baru bisa pulang ketika malam hari. Segera Wonwoo menumpangi bis yang akan mengantarkannya ke rumah sewanya.

Bisnya sepi tentu saja, selarut ini tak banyak orang yang berkeliaran di luar. Wonwoo duduk di kursi paling belakang, berjarak satu kursi di sampingnya ada seorang pemuda tertidur. Topi yang ia pakai menutupi matanya, sementara high neck dari turtle yang dikenakannya menutup seperempat wajahnya.

“Belum ada kabar?” sahut pemuda itu.

Wonwoo merasa pemuda itu berbicara padanya. Pemuda itu kemudian mengangguk padanya sebagai pertanda.

“Kenapa kau datang begitu mendesak.” komplain Wonwoo, berat, dingin, dan tajam.

Pemuda itu terkekeh, “Cepatlah,” gerutunya.

Wonwoo segera mengeluarkan sebuah map dari tas selempangnya dan memberikannya pada pemuda tersebut. Dengan segera map itu disimpannya di balik jaketnya.

“Hanya itu saja?”.

Diliriknya jengkel pemuda di sampingnya, “Apa maumu?” sinis Wonwoo.

“Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” cengir pemuda itu.

Wonwoo mendengus, “Lebih baik kalian pulangkan saja gadis menyedihkan itu ke panti asuhan tempatnya dibesarkan.” ia berpaling dari pemuda di sampingnya.

Pemuda itu tertawa, “Lucu sekali, Tn. Muda Park.” katanya, “Haera adalah investasi kami. Karena ia satu-satunya gadis di antara kami, dia akan sangat mudah dijadikan umpan bagi ‘mereka-mereka’ di luar sana, mencuri informasi, lalu,”.

Wonwoo terbelalak, lalu dengan segera menarik kerah pemuda itu dan menatapnya sinis, “Kalian menyuruhnya bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya.

Namun pemuda itu tak takut sama sekali, justru ia terkekeh, “Wae geurae? Kalau memang ia harus melakukan itu kelak?”.

Setidaknya kalimat itu bermakna baginya ―gadis itu masih bersih. Wonwoo melepaskan cengkeramannya. “Persetan kalian.” geramnya.

“Lihat, ternyata anaknya Shiyeon masih mengharapkan gadis yang tidak jelas asal-usulnya itu.” terkekeh pemuda itu lagi. “Temui saja Ketua jika kau ingin mengetahui keberadaan Haera.”.

Pemuda itu lantas bangkit ketika bis hendak berhenti di sebuah halte. Wonwoo melihatnya turun dan berdiri di halte itu lewat jendela di sampingnya. Sebelum bisnya pergi, pemuda itu memberinya sedikit salam perpisahan.

***

“Kau kelihatan bad mood tiap kali pulang kerja, Nuna?” selidik Hansol menyambut kepulangan sang Kakak, “Ada masalah?”.

Solji menuang air dingin ke dalam gelasnya, “Aku bertemu Wonwoo lagi.” ujarnya sebelum meneguknya.

“Huh?! Si brandalan itu lagi?!” geger Hansol, berbaring di atas sofa sambil mengunyah kuki yang Solji bawakan sebagai camilan, “Bagaimana bisa laki-laki kurang ajar itu berani menampakkan wajahnya lagi di depanmu.”.

“Dia anggota X Team sekarang.”.

“Uhuk! Uhuk!!” Hansol tersedak, ia batuk hebat, Solji heran, “Dia?! X Team?! Oh damn.” gerutunya. “Kau pasti membencinya.”.

“Tak masalah selama tak ada satupun dari anggota X Team yang mengetahui kami sempat dekat dulu.”.

“Termasuk Seungcheol Hyung?”.

Oppa baru tau dua hari yang lalu.”.

Heol.” desis Hansol, “Atas dasar apa ia bisa bertemu Kakakku lagi? Awas saja kalau ia menyakitimu seperti waktu itu ―aku takkan melepaskannya.”.

Just stop it, Vernon. Lagian ini urusan kami berdua.”.

Sally, you are my Nuna. As your brother I have to protect you!” bela Hansol, “Katakan padaku kalau ia melakukan sesuatu padamu.”.

“Kau tau kami telah melakukan sesuatu sebelumnya, kan?”.

“Kau yakin saekki itu hanya melakukannya denganmu?” Hansol melipat tangannya, “Aku bahkan berani taruhan kalau tak hanya dirimu seorang di matanya.”.

Solji mendelik, Hansol mengisyaratkannya.

Am I right?” Hansol meminta persetujuan, Solji mendengus jengkel.

“Lupakan.”.

***

Gadis manis berambut kemerahan yang panjangnya sepinggang itu menatapnya ketika ia pertama kali datang. Ia lalu bangkit dari ayunannya dan tersenyum padanya.

“Tn. Muda Park,” sapanya.

“Kenapa semua memanggilku seperti itu? Namaku Wonwoo.” protesnya, Wonwoo.

Gadis itu tersenyum. “Shin Hae Ra imnida. Bangapseumnida.” ia membungkuk hormat.

Wonwoo menatapnya lekat-lekat, “Kau anaknya Ilsung?” tebaknya.

Haera ―gadis itu― menggeleng, “Aku hampir sama sepertimu, Wonwoo-ssi.” senyumnya, “Hanya saja sejak bayi aku dibesarkan di panti asuhan, jadi aku sama sekali tidak mengenal siapa Ayah Ibuku.”.

Tak bergeming.

“Berapa usiamu?” tanya Wonwoo.

”Sembilan belas.” jawab Haera.

“Miris.” Wonwoo tersenyum sinis, “Kau masih muda tapi sudah diperbudak Ilsung.”.

“Ketua Jung tidak memperbudak siapapun! Kami berjiwa patriotisme!”.

“Kau salah satu yang telah dicuci otaknya.”.

“Kami melakukan ini atas kesadaran kami sepenuhnya! Bukan karena diperintah!” bela Haera, “Ngomong-ngomong, apa aku harus memanggilmu Sunbae?”.

“Kau tau harus memanggilku apa,” Wonwoo berbalik dan meninggalkannya, “dasar gadis polos.”.

“Wonwoo Oppa,” panggil Haera tanpa ragu, “tto mana-bopshida.”.

“Gak peduli.” ketus Wonwoo tanpa sedikitpun menghentikan langkahnya.

Haera hanya tersenyum. Entah kenapa sosok Wonwoo itu sangat berkesan di kali pertama ia bertemu dengannya. “Aku menyukainya.” gumam Haera, kegirangan sendiri.


***

Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” ucapan pemuda itu terngiang terus di telinganya.

Berkali-kali merubah posisi tidurnya, tetap saja Wonwoo kesulitan tidur malam ini. Kali ini ia teringat akan salah satu gadis yang telah dilupakannya itu.

Haera.

***

“Shin Hae Ra!!!”.

Semua anak buah yang Ilsung kerahkan telah memutuskan untuk mundur, segerombolan polisi segera menyergap mereka. Meski sempat melawan, para polisi ini berhasil menangkap beberapa di antara mereka.

Wonwoo ditarik Ilsung dari tempatnya ketika melihat Haera tergeletak tak sadarkan diri di tengah ricuhnya penyergapan ini. Ia berkali-kali menolak Ilsung karena tak ingin meninggalkan gadis lugu itu di sana.

“Mundur kataku! Mundur!!!” gertak Ilsung.

Namun Wonwoo berhasil melepaskan diri, ia berlari ke arah gadis itu susah payah dan berhasil menggapai tubuhnya yang terkapar.

“Haera-ssi! Shin Hae Ra!!!”.

Gadis itu tak mendengarnya. Tanpa buang waktu, Wonwoo segera mengangkat tubuhnya dan membawanya menjauh dari tempat itu sebelum terlambat.

Dengan sebuah van, mereka yang berhasil diselamatkan segera melarikan diri dari lokasi penyergapan. Tubuh Haera masih dalam pangkuan Wonwoo, tak bergerak dan tak bergeming.

“Haera-ya,” panggil Wonwoo, “kau bodoh. Kenapa kau harus menuruti kemauan Ilsung? Kau sungguh bodoh telah memilih jalan cepat menuju ajalmu.”.

Disekanya noda merah di dahi Haera.

“Pulanglah, dan jangan kembali ke sini. Berada di dekat Ilsung akan membuatmu menderita.” bisik Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.

***

Wonwoo bangkit dari perbaringannya. Merenung di tengah gelapnya kamar tidurnya. Sekali lagi ia menghembuskan nafas untuk melepas semua kenangan yang menjepit pikirannya.

Satu gadis lagi muncul di benaknya.

***

“Kau baik-baik saja?”.

Haera mengangguk pada Wonwoo, “Melihatmu membuatku merasa lebih baik.” katanya, “Terima kasih telah menjengukku.” senyumnya.

“Ilsung atau yang lainnya memberikanmu buah?” Wonwoo memandang ke atas meja.

“Itu dari rumah sakit, kaulah yang pertama menjengukku.” senyum Haera.

Wonwoo terkejut. Bahkan hingga Haera hampir pulih tak satupun dari Ilsung maupun kaki tangannya yang datang menjenguk gadis malang ini?!

“Manusia-manusia tidak tau diri.” geram Wonwoo.

Odiga, Wonwoo-ssi?” tanya Haera ketika melihat lelaki itu bergegas memakai jaketnya dan berjalan menuju pintu.

“Ada janji ―dengan teman.” dalih Wonwoo.

Haera tersenyum, “Pasti teman baikmu,” lembutnya, “semoga janjianmu menyenangkan,”.

“Jangan harap aku akan membalas perasaanmu, Haera-ssi.” Wonwoo melirik ke belakang, “Kau cuma mendapat simpatiku saja ―tidak lebih.”.

Namun Haera tetap tersenyum. Rupanya diam-diam Wonwoo tau kalau gadis itu menyukainya. Kali ini Haera mengerti mengapa Wonwoo tetap berbaik hati padanya meski dengan caranya yang dingin. Itu hanya karena simpati semata.

“Blam.” Haera membiarkan lelaki itu pergi.

Dengan tenang, Wonwoo meninggalkan gadis itu sendirian di ruang rawatnya. Ia pun bertemu dengan seseorang yang telah ia janjikan sebelumnya.

Seorang gadis masih berdiri menunggunya di sana. Gadis berambut kecoklatan yang dikucir mengepal di atas kepalanya itu sesekali memandangi jam tangannya. Gelisah.

“Oh!” gadis itu menemukan kehadiran Wonwoo di sana, lalu melambaikan tangan.

“Maaf, kau menunggu sampai malam.” ucap Wonwoo begitu berada di hadapan gadis itu.

“Malam dari mana? Matahari baru terbenam, kok.” senyum gadis itu.

“Sama saja dengan malam hari, Solji-ya.” Wonwoo menyunggingkan senyuman tipis.

Solji tersipu malu. “Sibuk kuliah?”.

Wonwoo menggeleng, “Sedang cuti.” dalihnya.

“Kenapa cuti?”.

“Sepupuku di Changwon sakit keras, aku harus ikut merawatnya.” jelas Wonwoo, “Maaf jadi membuatmu mencari-cariku.”.

Solji menggeleng, “Gwaenchanha, aku harap sepupumu cepat sembuh.”. Padahal yang Wonwoo maksud sebenarnya adalah Haera.

“Besok aku akan kembali ke kampus ―tenang saja.”.

Bogopa ―ara.”.

Wonwoo terkesiap, “Arasseo.” ucapnya.

Lelaki itu lalu mendorong Solji lembut ke belakang, tepat ke sebuah belokan kecil yang tidak terkena sinar lampu penerang jalan. Di situlah Wonwoo melancarkan aksinya.

Dilumatnya bibir itu selama beberapa menit sesuka hatinya. Solji pun membiarkannya menelusuri rongga mulutnya yang terbuka selama yang ia inginkan. Wonwoo semakin ingin menelannya, meneguknya sesekali, atau menggodanya dengan menggigitnya.

Solji menggeram, namun rangkulan lembut itu membuatnya luluh dan melemas. Dicengkeramnya lengan itu, berusaha memberinya alarm bahwa ia sudah tak berdaya lagi. Wonwoo semakin menyukainya.

Justru sebagai lelaki, ia tak mau mengalah.

***

“Huk!” Solji terbangun hebat dari tidurnya malam ini. Sial, kenapa ia selalu memimpikan hal yang sama setiap malamnya.

Semua kenangannya bersama Wonwoo selalu saja menghantui tidurnya. Itulah mimpi-mimpinya semenjak lelaki itu meninggalkanya tanpa sebab sekitar dua tahun yang lalu.

Solji bangun dari ranjangnya dan bergegas keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Hansol dan berbaring di atas kasur adiknya itu.

Merasa tempat tidurnya yang damai itu tiba-tiba berguncang, Hansol terbangun. “Yo, Sally... What are you doing, huh...?” ia kedengaran ngantuk berat.

Just..., bad dream...” dalih Solji.

Go away, Nuna... Kan cuma mimpi buruk, kembalilah ke tempat tidurmu... Sempit tau...” Hansol membungkus dirinya dengan selimut.

Vernon, please...” Solji menggerutu.

You better go back, Sal. I’m naked.” Hansol berusaha mengusir kakaknya.

Solji segera bangkit dan menarik selimut itu untuk mengungkap keadaan adiknya tersebut. “Ta-dah, naked?” koreksi Solji ketika melihat sang Adik masih berpakaian lengkap.

Dengan engggan, Hansol pun beranjak pergi dari kasurnya, “Yeah, yeah, you got it, Sally..” ia berjalan entah ke mana, “Sweet dream,”.

Wait,” Solji menahan kepergian Hansol, “odiga? Please don’t leave me alone.”.

What do you thinking of, Sally?” Hansol mengucek-ngucek matanya, lalu membawa selimut itu bersamanya, “Aku cuma mau tidur di sofa. Sudah, tidur sana.” ia lalu berbaring di atas sofa yang tak jauh dari kasurnya itu.

Dengan cepat Hansol jatuh tertidur di sana, sementara Solji butuh waktu lama untuk kembali terpejam di atas kasur adiknya tersebut.

***
to be continued
***

[ SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]



!” tumben-tumbennya seseorang mengiriminya SMS.

Dahinya mengerut, Wonwoo mendapatkan pesan tak bertuan yang tidak jelas siapa pengirimnya. "02.20.11.12" yang makin membuatnya heran isi pesannya hanya berupa angka.


“Sebuah bom meledak di pusat perbelanjaan!!” tau-tau Jihun berseru dari depan layar komputernya.


“Oya, kau tau apa ini?” Ilsung menunjukkan map coklat di tangannya, “Kau tau dari mana map ini berasal, kan?”.

Haera menggeleng lagi.

“Wonwoo.”.

Seketika nampan yang Haera bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya. Ia syok bukan main, berharap ia salah dengar.


“Jam sebelas lewat dua belas menit, 11.12. Hari ini Februari tanggal dua puluh, 02.20.” Wonwoo paham sekarang, “Tak salah lagi,”.


“Apa ini yang namanya menyelam sambil minum air?” sahut Junhui ketika mereka bergegas meninggalkan tempat duduk. “Menjalankan misi sambil sekalian refreshing, jalan-jalan keluar kota? Ya, kan?”.



“I’ll be right back.” ucap Solji ketika meraih gagang pintu.

“Will you?” ucapan sang Adik membuat gerak Solji terhenti, “I mean, kau benar-benar akan kembali, kan?”.



“Kalau bahasa kasarnya,” Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka, aku hanya tak ingin kau mati, Nuna...”.

***
next...

Aim
Part IV : 내돈생이 My Little Bro

***

Penasaran kenapa Hansol begitu mengkhawatirkan Nuna-nya? Next, ya, di Aim part IV~...^^

Oya, FF ini juga di-share di fanpage Myfanfictiion di Facebook!! Jangan lupa di-like, ya!!

Near selalu ngucapin terima kasih bagi yang sudah membaca, terutama yang sudah komen, like, G+, maupun yang ngasih saran dan kritikan yang membangun!^^ No siders ―I will pay your appreciation with daebak fanfictions.

Gamsa hamnida!^^

Author


Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^