[FF] Almost Black Day

3:44 PM 0 Comments A+ a-

Almost Black Day


Author : Near
Genre : Sad Romance
Cast : OC, Wonwoo


Cover FF terinspirasi dari Tumblr
hehehe

***

[VIXX - 지금 우린 Now We]



Aku berjalan sendiri, membayangkan April nanti aku akan makan mie hitam lagi seperti dua tahun yang lalu, di atas suka cita orang yang merayakan hari esok. Gusar ku pendam sendiri, berdampak pada langkah kakiku yang berat. Aku pulang dari tempatku kerja hampir tengah malam dan berjalan menuju rumah sewaku yang agak jauh dari tempatku bekerja.

Langkahku terhenti melihat layar televisi di sebuah rumah makan. Aku melihat sosoknya di sana, senyumku terukir tanpa ku sadari. Namun angin yang berhembus mengingatkanku bahwa sosok itu hanya digital. Ku kantongi tanganku di saku jaket dan meneruskan perjalanan.

Sejak pertama kami bertemu, sejak ia memutuskan menjadi apa yang dia inginkan, kami sudah siap jika harus hidup terpisahkan. Namun ku rasa, sejak dua tahun yang lalu hubungan ini telah berakhir.

Tap, tap, tap.

Ketika aku sampai di jalan perumahan yang sangat sepi, ku dengar langkah di belakangku. Seorang pria hanya itu wajahnya tak terlihat karena hari terlalu gelap dan pria itu sangat jauh.

Aku melangkah saja, namun lambat laun ku rasakan kehadirannya semakin mendekat. Secara logis, semakin cepat langkahku maka langkahnya pun makin cepat. Pikiranku menyempit karena penguntit itu, aku mulai setengah berlari. Makin lama, langkahku semakin cepat hingga kau bisa menyebutnya lari terbirit-birit.

Adrenalinku memuncak. “Pscyo!”gerutuku dalam hati.

Pelarianku asal hingga membawaku ke sebuah gang yang pintu gerbangnya telah ditutup. Aku berbalik dan dia di sana tamatlah aku, Sial!”. Merinding, kakiku gemetar ―cuma bisa melangkah mundur. Aku terantuk gerbang itu dan menyilangkan tanganku melindungi wajah ―ngeri.

Bodoh.” aku terkejut mendengar pria itu berdesis.

Hei, suara yang tak asing ―tidak justru suara yang kurindukan! Ketika ku buka mata, pria itu membuka kupluknya dan berdesis lagi.

“Kau ini bodoh atau gimana, sih?”.

Wonwoo! Jeon Won Woo!

Aku membekap mulutku ―benar itu dia!

“Kenapa kau menghindariku seperti pembunuh, uh? Apa kau tidak lihat,.

“Bruk!” tanpa peduli ocehannya, aku segera berhambur memeluknya. Wonwoo terdiam, lalu mengusap kepalaku.

“Maaf, maafkan aku. Aku tau apa yang kau pikirkan selama dua tahun ini. Aku tau apa yang ada dalam benakmu selama aku mengacuhkanmu. Aku sadar telah mengacuhkanmu untuk waktu yang terlalu lama. dia membisikan banyak hal padaku, “Aku juga tidak tahan hidup tanpa mendengar suaramu, aku tak tahan hidup tanpamu. Maka dari itu aku datang hari ini ―karena aku masih mencintaimu. Percayalah itu.” namun bibirku kelu, aku tak bisa mengatakan apapun padanya.

Benar, sekarang kaulah yang bodoh, Jeon Won Woo.” batinku, aku hanya ingin memeluknya ―itu sudah cukup.

“Aku tidak punya waktu banyak,” ia melepaskan dekapannya, “jadi...,” Wonwoo segera memberiku sebuah kotak biru maroon berpita kecil.

Aku mendelik ke arahnya, Wonwoo hanya nyengir.

“Seperti biasa― aku tidak bisa menjamin apakah kau menyukainya atau tidak.” ia menggaruk tengkuk. Wonwoo itu tipe laki-laki yang tidak becus memilih hadiah untuk kekasihnya ―huft.

Lalu aku tersenyum, “Aku percaya aku akan menyukainya” hiburku. Segera ku buka pemberiannya.

Kau tau wafer cokelat merah putih itu? Benar, Wonwoo memberikanku yang rasa green tea. Yup, meski dia memang payah memilih hadiah, setidaknya Wonwoo tau aku maniak teh hijau.

Hadiah itu ku tanggapi dengan senyuman. Kudapan seperti itu memang tidak ada di sini, tidak ada di negara manapun. Hanya ada di Jepang. Ku dengar, ia dan grupnya memang sempat terbang ke Jepang untuk pembuatan album mereka. Tapi itu kan....,

Aku mendelik ke arahnya lagi.

Wonwoo terkesiap, “Uh, um... Ya, kau benar.” dialah satu-satunya lelaki yang bisa membaca pikiranku, “Aku membelinya ketika terbang ke Jepang untuk pertama kalinya, itu sekitar pertengahan tahun lalu, ketika kami dalam proses menyelesaikan mini album kedua kami...” cengirnya.

Sudah ku duga.

“Tapi tenang saja, cokelatnya ku simpan di kulkas, kok. Tidak ada yang menyentuhnya sama sekali. Steril.” aku Wonwoo, “Ketika melewati sebuah toko dan melihat camilan itu..., aku jadi ingat dirimu... Aku..., jadi merindukanmu...”.

Mendengarnya, aku terharu. Wonwoo menyeka setetes buliran bening yang jatuh di pipiku.

“Dan aku..., ingin memberikannya padamu, terutama karena rasanya enak!” hiburnya, “Lagipula, teh hijau itu kesukaanmu, kan?”.

“Dua bulan lagi, aku takkan makan mie hitam lagi nanti,itu yang kuucapkan padanya terisak, dia malah tertawa.

“Aku harus kembali sekarang,” aku mendongak padanya, namun ia langsung menggandeng tanganku, “tapi sebelum itu, aku akan mengantarmu sampai rumah.”.

Malam terbaikku, ketika tanggal empat belas baru saja dimulai.

Sampai rumah aku benar-benar tak ingin melepaskannya. “Bruk!” lagi, kebiasaanku. Aku memeluknya dan menabrak tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku.

Aku seperti anak kecil yang takut ditinggal sendirian, aku memeluk Wonwoo seakan tidak mengizinkannya pergi meninggalkanku. Wonwoo mengerti, ia memelukku, usapan tangannya menenangkanku. Hangat.

Lama setelahnya, aku menyadari tindakanku ini tidak baik untuknya. Jadi aku segera melepaskannya, dan berhambur masuk ke dalam rumah. Wonwoo hanya bingung, dan menunggu.

Aku keluar dengan sebuah syal di tangan, “Sebagai balasan,” kataku, “aku ingin memberikan syal yang kurajut..., dua tahun yang lalu...” aku menyebutkan kalimat terakhir dengan ragu-ragu.

“Hadiahmu mengendap lebih lama dibandingkan hadiahku.” candanya.

“Hei, tidak baik mengingat-ingat apa yang telah kau berikan pada seseorang ―gak ikhlas namanya.” ketusku ―ini juga candaan.

“Oh, iya lupa.”.

“Meski telah ku rajut dua tahun yang lalu,” ku pandangi syal itu, “aku lega karena akhirnya aku bisa memberikan ini padamu”.

Aku berjinjit karena memakaikan syal tersebut di lehernya. Hadiah yang tepat di bulan Februari yang masih menyisakan hawa dingin dan salju.

“Cup,” ia memberikanku kecupan singkat, “Gomawo.” katanya.

“Bahkan aku tidak bilang terima kasih ketika kau memberikan hadiah itu padaku.” sesalku.

“Syal inilah tanda terima kasihmu.” senyumnya.

“Kalau begitu, terima kasih kembali.” ku balas senyuman untuknya.

Wonwoo baru sadar kalau ia masih menggenggam tanganku. “Sudah waktunya,” lirihnya, “aku harus pergi.” ucapnya tak enak hati.

“Oh... Ya...” kataku.

Wonwoo mengacak-acak rambutku. “Jangan makan manis-manis, hati-hati di dapur, jangan keasyikan main salju di luar, jangan memaksakan diri, jangan keras kepala sekalipun pada chef-mu,”.

“Sepertinya aku mengingkari salah satunya,” selaku, “tiga hari yang lalu aku berdebat dengan chef.”.

Kami hanya nyengir.

Lalu ia melanjutkan, “obati luka bakar dan sayatan di lenganmu ―aku melihatnya tadi.” tatapannya menerawang, “Kau tau, kan, aku tidak bisa selalu di sampingmu sekarang.”.

Dia benar.

“Kau juga,” ia menatapku, “jangan terlalu memaksakan diri, jangan keseringan makan tengah malam sekalipun berat badanmu tidak akan bertambah signifikan, istirahat yang cukup, hati-hati makanan yang mengandung tomat, jangan makan seafood,”.

“Sepertinya aku juga mengingkari salah satunya,” sela Wonwoo, “akhir tahun lalu, kami berangkat ke sebuah pulau tanpa diperbolehkan membawa bekal apapun, dan kami bertahan hidup dengan memancing... Jadi..., aku makan..., ikan...”.

“Tok!” ku jitak kepalanya.

“Kenapa kau makan ikan?” sebalku.

“Habis, mau makan apa lagi?” ia mengusap bekas jitakanku, “Tapi cuma segigit, kok.”.

Aku masih mendelik ke arahnya. “Acara tv, ya ―nanti, deh, aku tonton.” kataku, lalu melanjutkan, “Aku tau bagaimana sibuknya dirimu, jadi kau harus minum vitamin. Hati-hati sama sasaeng, dan juga,” ku kenakan kupluk itu menutupi kepalanya, “identitas yang terpenting.”.

Kami saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama.

“Ku rasa aku pernah mendengar kalimat terakhir.”.

“Kutipan dari The Incredible.”.

“Kau masih suka nonton film anak kecil.” gemasnya, mengacak-acak rambutku lagi. “Tapi kau benar,” lalu ia merapatkan jaketnya.

Kurasa, ia akan pergi, karena tak lagi ku dengar kata-kata keluar dari bibir tipisnya, karena ku lihat tubuh tinggi tegap itu berbalik memunggungiku. Dan sosoknya berjalan menjauh dariku.

Namun itu tak berlangsung lama, karena kemudian Wonwoo berbalik dan bergegas kembali padaku. Aku terkejut, lebih terkejut lagi karena ia kembali untuk mencium bibirku.

Kehangatan kini menyelimuti sekujur tubuhku. Ia merangkul pinggangku seakan memintaku bertahan lebih lama, sebelum akhirnya ia benar-benar akan menghilang.

Dan ku akui, itu sangat lama.

“Kita harus siap hidup seperti ini,” itu ucapan pamitnya padaku, Wonwoo akhirnya melepaskanku setelah beberapa menit berlalu.

Ia tak bisa menunggu bahkan hingga aku berkata iya sekalipun. Wonwoo menaikan kupluknya kembali ―dan kali ini kami benar-benar akan berpisah. Bahkan untuk berkata salam perpisahan pun aku tidak bisa. Aku ingin menyampaikan betapa aku sangat merindukannya, aku ingin ia mengetahuinya.

Aku berusaha tidak menangis ketika ia melambaikan tangannya padaku. Aku mencoba terlihat baik-baik saja, hingga akhirnya ia benar-benar pergi.

Ia menghilang dari hadapanku, sosoknya tak lagi berada di pekarangan rumah sewaku yang kecil ini, dalam sunyi tak ada yang tau bahwa ia telah menemuiku dan melakukan suatu hal denganku.

Satu jam, untuk dua tahun yang terlewati sia-sia. Hah, Valentine yang singkat ―air mataku jatuh.

[ Yoon Jong Shin - Chocolate (with Seventeen Vocal Unit)]



***

Yup, bener banget! Dari keempat kalinya Near ikutan Drama Queen di ‘Bahana Lagu Korea’ KBS World Radio Sesi Bahasa Indonesia, pada Drama Queen kali inilah Near berhasil mendapatkan apresiasi!!

Akhir Maret lalu, BOYS BE Near dari KBS sampai di rumah!^^ Kyaaa senang sekali, apalagi Near dapat polaroid bias Near sendiri, THE8!^^



Waktu itu, tema yang DJ berikan untuk Drama Queen-nya adalah Valentine bersama idola, karena memang edisinya saat itu bulan Februari. Berhubung sesuai janji Near kemarin kalau hadiah album dari KBS-nya sudah sampai di rumah, Near baru akan posting Drama Queen-nya ―tapi ternyata hadiahnya datang di akhir Maret.

Makanya, Near kasih judul Drama Queen ini jadi ‘Almost Black Day’ berhubung Drama Queen ini diposting di bulan April, di mana pada tanggal yang sama dengan Valentine di bulan April adalah Black Day (14 April).

Oke, Near sudah lunasi janji Near yang lalu, juga telah berbagi kebahagiaan dengan Reader-deul semua!! Semoga pada suka, ya, hehehe..

Komentar, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan. Near selalu menanti dengan tangan terbuka semua komentar kalian buat tulisan Near ^^

Oya, ada juga, lho, yang komentar langsung di website resminya KBS World Radio tentang Drama Queen Near ini^^




Sekian dari Near kali ini, terima kasih sudah membaca, komentar, like dan/atau G+ nya, dan sampai jumpa lagi~...^^

Author


Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^