[FF] Aim part IX

6:00 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part IX : 사랑하겠어 (I Choose to Love You)

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Kim Min Gyu, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC),


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Sungguh tak apa?” tanya Solji.

Seungcheol mengangguk, “Aku dan Jihun akan di markas dulu, kau dan yang lainnya pulanglah.”.

“Tidak! Kita, kan, satu tim! Kenapa harus kau dan Jihun saja yang stay di sini?!” Solji duduk di sofa, “Aku gak akan ke mana-mana!” protesnya.

Tak lama, Pak Kim datang, semua menyambutnya dengan bungkukan singkat, “Kalian pulanglah, lagipula ini bukan urusan tim. Ini urusannya Seungcheol dan Jihun, ada sesuatu yang akan kami perbincangkan di sini bersama beberapa polisi.”.

Solji berusaha mengelak, “Ta, tapi,”.

“Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan X Team.” tambah beliau, “Kau tau, kan, kalau Seungcheol dan Jihun ini adalah yang paling senior di antara kalian semua? Nah, ini urusan mereka. Sekarang, pulanglah.”.

Kalau sudah pria itu yang berbicara, Solji tak mampu mengelak. “Saya pamit.” bungkuknya lalu pergi ―meski masih meragu.

Di ujung pintu, Seri dan Jeonghan sudah menunggunya.

“Yang lain sudah pulang?” tanya Solji pada keduanya.

“Iya, kamu, sih, kelamaan.” protes Jeonghan.

Seri berusaha menghibur, “Anio. Hanya beberapa saja yang pulang cepat, seperti Wonwoo Oppa dan Mingyu.” katanya.

“Loh, kenapa lagi dengan mereka?” Solji curiga.

“Yang pasti bukan karena masalah beberapa hari yang lalu.” jelas Seri, “Mingyu pulang cepat karena harus menjenguk adiknya, sementara Wonwoo Oppa..., mm...,”.

“Yang pasti kita tidak tau kenapa Wonwoo pulang cepat malam ini.” tambah Jeonghan.

Ah, begitu rupanya, batin Solji. Ia sudah bisa memaklumi tingkah Wonwoo yang tertutup itu, Solji bahkan tak kaget lagi begitu mendengar tak satupun dari mereka yang mengetahui alasannya Wonwoo pulang lebih awal.

Namun yang pasti, Wonwoo punya alasan kenapa.


***

Seungcheol melihat Jihun mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa, sudah hampir jam satu dini hari. Bagi Jihun sudah tidak mungkin lagi untuk pulang ke rumah.

“Kau tidak pulang?” namun Sengcheol masih menanyakannya.

Jihun mengangkat kepalanya, “Kau juga gak pulang, kan, Hyung?” lalu ia menatap lekat-lekat jam tanganya, “Menghabiskan waktu selama perjalanan pulang ke rumah sepertinya sia-sia, lebih baik tidur di sini dan lanjut kerja nanti pagi.”.

Lalu pria manis itu merubuhkan kepalanya diatas sofa. Tapi dilihatnya Seungcheol hanya berdiri saja.

“Kau gak tidur, Hyung?” tanya Jihun, “Atau kau mau tiduran di sini?” tawarnya.

“Tidak, terima kasih.” ralat Seungcheol, ia lalu berjalan menuju jendela besar itu.

Entah mengapa pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan warna-warni lampu kota Seoul membuatnya teringat akan gadis yang ditaksirnya.


“Nuna, kau sudah makan?”


Dikirimnya pesan itu ke Nayeon. Benar, siapa lagi kalau bukan Nayeon. Terkadang ada saat di mana Nayeon sengaja pulang pada dini hari karena menghabiskan waktu terlalu banyak di ruang latihan.

Seungcheol sudah mengenalnya dengan sangat baik.


Nayeonie Nuna
“Lagi di jalan pulang.”


Tuh, kan, benar, Seungcheol berdecak girang ―sementara di belakangnya Jihun mendengkur lembut karena terlalu lelah.

Meski ketus, Seungcheol sangat senang dengan jawaban Nayeon tersebut. Masih untung dijawab, daripada tidak sama sekali ―kurang lebih begitulah pemikiran Seungcheol.

Tak lama tercetus ide nakal dalam otaknya.


“Oh, kalau begitu, hati-hati, ya, Nuna.
Oya ngomong-ngomong, apa besok Nuna sibuk?”


Kalau sudah begini, Seungcheol biasanya tak berharap banyak. Sudah pasti jawabannya Nayeon selalu saja cuek dan dingin, Seungcheol tau itu.

Namun apa yang Nayeon jawab padanya dini hari ini membuatnya sangat kegirangan.


Nayeonie Nuna
“Ku kabari besok, mungkin aku tidak sibuk.”


“Yes! Yes! Yuhu! Apa ini artinya iya?!” Seungcheol kegirangan sendiri.

Meski tidak gaduh, namun tetap saja Jihun terbangun karenanya. “Hyung, tidurlah, Hyung.” secara tidak harfiah artinya ‘kau berisik, Hyung’.

“Loh, kok? Sudah lanjutkan mimpimu sana.” secara tidak harfiah artinya ‘kau menganggu saja, Jihun-ah’.

Jihun bangkit dan merubah posisinya. Tadinya kepalanya berada di sisi kanan sofa, kini sudah berada di sisi kiri sofa ―sementara kakinya bertengger di sisi sebaliknya.

“Tengah malam gini siapa yang ngajak ngobrol, sih, Hyung?” entah Jihun masih sadar tau sudah mengigau.

“Aku lagi ngobrol sama Nayeonie Nuna.” ujar Seungcheol dengan nada menggoda.

“Hah? Pelatih Han?” Jihun mengerjapkan matanya, “Gak salah tengah malam gini dia belum tidur?”.

“Dia baru saja pulang dari latihan mungkin, kelihatannya begitu.”.

“Hah?! Pulang tengah malam? Apa gak bahaya?” Jihun bangkit dari perbaringannya, “Hyung, ada baiknya kau tanyakan keadaannya. Bahaya, lho, wanita pulang tengah malam. Temani dia, Hyung.”.

Benar juga, Seungcheol pun mengiyakan perkataan Jihun yang kemudian langsung ambruk kembali ke atas sofa tersebut.


“Nuna, apa kau masih di jalan pulang?
Biarkan aku menemanimu, Nuna. Aku akan meneleponmu.”


“Kok, dia gak balas?” desis Seungcheol.

“Jangan tunggu dibalas ―kau tau, kan, Pelatih Han galaknya kayak apa.” ucap Jihun antara sadar dan mimpi, “Sudah, langsung telepon saja.”.

Tanpa basa-basi Seungcheol segera menghubungi Nayeon. Namun gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya. “Apa dia sudah tidur, ya?”.

“Masa dia tidur di tengah jalan.” kali ini Seungcheol percaya kalau Jihun sedang mengigau.

Panggilan kedua, ketiga, dan seterusnya, tak juga mendapat jawaban. Seungcheol pernah melakukan hal yang sama, berulangkali, dan biasanya Nayeon akan memarahinya lewat pesan singkat.

Tapi malam ini aneh, Nayeon tak mengiriminya pesan, apalagi jawaban.

“Tidak.” Seungcheol menepis firasat buruk yang merasuki dirinya. Namun panggilan selanjutnya, ia terkejut.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.

Deg! Firasat itu kini menyerang ke ulu hatinya. Seungcheol yakin ada yang salah di sini. Sejengkelnya Nayeon padanya, gadis itu takkan pernah menonaktifkan ponselnya hanya gara-gara dirinya.

“Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.

***

Aim
Part IX : 사랑하겠어 (I Choose to Love You)

by Near

***

[ Hyorin - 사랑하겠어 (I Choose to Love You)]



“Han Na Yeon!” panggil pria itu.

Namun gadis berambut pendek tersebut terus saja memukul bantalan di depannya, sejak tadi pagi hingga bersambung malam. Keringatnya mengucur begitu saja, amarahnya tak tertahankan.

“Han Na Yeon! Hentikan!” galak pria itu padanya.

Karena Nayeon ―gadis itu― tak juga mau berhenti, akhirnya pria tersebut menyeretnya menjauh. Gadis itu meronta sedikit. Lalu pria itu hadapkan Nayeon pada dirinya.

“Kau gila?! Seharian ini kau hanya memukul tanpa henti!! Kau mau mati?!” gertak pria itu.

“Aku tidak peduli, Pelatih Cho!” ujar Nayeon. “Mohon jangan halangi aku ―aku bisa saja memukulmu, Pelatih.”.

“Jadi begitukah caramu? Boxing bukan untuk melampiaskan kemarahanmu!” seru pria tadi, “Kau bukan Han Na Yeon! Kau bukan Han Na Yeon yang selalu bisa mengatur dinamika emosinya di dalam ring!”.

“Ya! Untuk saat ini aku bukan Han Na Yeon! Dan aku tidak berada di dalam ring!” gadis itu berhambur ke tempatnya memukul tadi.

Namun sang pelatih segera menahannya, dan dengan nada yang lembut berujar, “Ijegeuman.” katanya, “Coba kau pikirkan yang lebih baik daripada memukul terus menerus. Han Na Yeon, kau seorang atlet. Kemampuanmu tidak diragukan lagi, kalau hanya karena Jiseon saja kau begitu,”.

Si pelatih tidak melanjutkan, karena yang ia dengar hanya isakan Nayeon.

“Ku beri kau waktu sepuluh menit.” dengan terpaksa ia meninggalkan muridnya sendirian di ruang latihan.

Di situ Nayeon bisa menangis sesukanya. Menyebarluaskan rasa sakitnya pada ruang latihan yang menjadi pelampiasannya. Berbagi keluh kesah pada benda-benda mati yang dipukulinya. Keringat bercampur dengan air mata.

Ada rasa dendam terdalam yang akan dibalaskannya. Ia akan hidup jauh lebih baik dari sekarang, begitulah caranya membalas dendam. Ia akan tunjukkan bahwa ia tidak lemah, bahwa ia tipe gadis yang kuat dan takkan pernah jatuh.

Meski sebenarnya, rapuh.

***

“Han Na Yeon, apa-apaan kau ini?!!” si pelatih geger melihat potongan rambut Nayeon malah makin pendek.

Entah kenapa, setiap kali Nayeon merasa frustasi yang ingin ia lakukan hanyalah memotong rambutnya ―menjadi lebih pendek.

Hal ini ia lakukan terakhir kali sewaktu masih sekolah, sewaktu sang Ayah meninggalkan keluarganya karena wanita lain. Di situ Nayeon merasa frustasi, ia bahkan terancam tidak bisa melanjutkan mimpinya menjadi seorang atlet bela diri.

Sebagai pelampiasan terbesarnya, Nayeon akhirnya memotong rambutnya. Rambut itupun tumbuh mencapai bahunya, dan semalam Nayeon baru saja memotongnya lagi karena seseorang bernama Bae Ji Seon.

Seorang laki-laki yang teramat dicintainya, seseorang yang telah lama menjalin hubungan dengannya, seseorang yang telah menjanjikan tahta di kerajaannya dengan sebuah pertunangan. Namun semuanya kandas setelah Nayeon mengetahui sendiri bahwa tak hanya dirinya seorang yang mendapat bagian hatinya.

Tentu saja alasan itulah yang membuat rambutnya bertambah pendek sekarang.

“Kau memotong rambutmu? Lagi?!” si pelatih mengikuti ke mana perginya Nayeon, “Sudah ku bilang jangan potong rambutmu, kan?! Kenapa kau malah memotongnya?!” ia sentil dahinya Nayeon.

Omo!” rintih Nayeon, “Sakit!!” gertaknya ―cuma Nayeon yang berani memarahinya. Gadis itu makin cemberut.

“Hei, ada panggilan dari Kepolisian.” si pelatih akhirnya mengumumkan.

Nayeon memandangnya, “Jinjja?”.

***

Han Na Yeon imnida, jal butak-deurimnida.” bungkuk Nayeon.

“Baiklah, mulai sekarang kalian harus memanggilnya Pelatih Han, mengerti?” ucap pria paruh baya berbadan tegap nan tegas itu.

“Siap, mengerti!”.

Benar, Nayeon harus terbiasa dengan lingkungan yang hampir mirip militer ini. Semua yang menjadi anak muridnya adalah anggota kepolisian. Namun ada aura berbeda di ujung sana.

Seorang polisi, pancaran wajahnya berbeda dari yang lainnya. Namun Nayeon tak segera mencari tau kenapa. Latihan pun segera dimulai.

Untuk hari ini ―karena hari pertamanya bekerja sebagai pelatih di sini― Nayeon bertugas menguji kemampuan satu persatu muridnya setelah diberikan materi dan pengarahan pada satu sesi latihan. Nayeon tentunya tidak sendiri, ia bersama dua pelatih senior lainnya.

Sampailah Nayeon pada polisi yang mencuri perhatiannya tadi. Setelah dilihat lagi, auranya memang berbeda. Lebih tepatnya seperti mencari perhatian.

“Sekarang giliranmu,”.

“Choi Seung Cheol,” dengan cepat polisi itu mengutarakan, seakan ia ingin dikenal oleh Nayeon.

“Ya, giliranmu, Choi Gyeongchal.” Nayeon mempersilahkan.

Polisi itu, Seungcheol, memang mempraktekan teknik pertahan diri yang diajarkan Pelatih Kang tadi dengan benar, namun ada saja saat di mana Seungcheol mencuri pandang ke arah Nayeon.

Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?” batin Nayeon berujar, karena Seungcheol terus saja memandang ke arahnya.

“Cukup.” kata Nayeon, “Kau hanya perlu berlatih sedikit lagi, ada beberapa gerakan yang kurang.” Nayeon bahkan tidak mengerti ucapannya sendiri sebagai evaluasi untuk Seungcheol.

Ne, gamsa hamnida!” ucap Seungcheol bersemangat ketika Nayeon meninggalkannya.

***

Sehari, dua hari. Seminggu, dua minggu. Sebulan, dua bulan. Nayeon perlahan mengerti akan arti tatapan itu : Seungcheol mengaguminya ―ralat― atau bahkan menyukainya.

Yang ia tau dari pelatih senior di sini, Seungcheol jelas lebih muda darinya. Nayeon dan Seungcheol terpaut jarak tiga tahun. Lelaki itu bertingkah bak bocah di hadapan Nayeon dengan memanggilnya ‘kakak’ di luar lingkup pekerjaan.

Nayeon jengah dengan tingkahnya.

Namun hari ini, Nayeon memandangnya berbeda. Ia bahkan baru tau kalau Seungcheol adalah seorang kapten. Lelaki itu terlihat gagah ketika memimpin, dan yang lebih mengejutkan lagi Nayeon baru tau kalau Seungcheol adalah polisi senior di sini.

Baru kali ini Nayeon bisa tersenyum melihat Seungcheol dari jauh.

***

“Sal..., ju...?” Nayeon tercengang, salju pertama akhirnya turun.

Ia baru saja akan melanjutkan aktivitasnya di luar, tapi salju turun dengan derasnya. Udara sontak menjadi sangat dingin.

“Aku punya payung.” berbarengan dengan suara itu, sebuah payung melindunginya dari butiran lembut berwarna putih tersebut.

Setelah dilihat lagi, rupanya Seungcheol.

Mau tidak mau, Nayeon pun berjalan sepayung dengan lelaki itu. Lagipula rasanya tidak baik juga menyia-nyaikan kebaikan orang lain. Namun hal itu segera disesali Nayeon ketika suasana tiba-tiba berubah ―tak seperti yang diinginkannya.

Nuna mau ke mana?” tanya Seungcheol ―seperti biasa, bak anak kecil.

“Sebenarnya banyak yang harus aku kerjakan di luar, tapi sepertinya tidak bisa.” ujar Nayeon.

“Salju, ya? Kan, ada aku dan payungku.”.

Seungcheol mulai lagi.

“Oh, ani. Kau bisa antarkan aku sampai minimarket itu saja.” ralat Nayeon.

“Loh, kenapa?”.

“Tidak, tidak apa, hanya,”.

Nuna mau beli payung, ya? Bukankah Nuna sudah punya di rumah?” sela Seungcheol, “Untuk hari ini, biar kupayungi saja ya.”.

“Tidak, terima kasih,”.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?”.

Tap, langkah mereka berhenti bersamaan. Sorot mata Nayeon menatap Seungcheol yang juga memandangnya lekat-lekat.

“Bolehkah aku melindungimu?” ujar Seungcheol lembut ―namun tegas.

Nayeon tak berkedip.

Nuna, sebenarnya aku tak ingin mengucapkan ini, karena aku tau kau akan membencinya, tetapi...,” Seungcheol menghela nafas seperti biasanya, “..., aku mencintaimu, Nuna...”.

Jantungnya seakan berhenti berdegup, nafasnya seakan terhambat. Handbag di tangannya jatuh begitu saja, Nayeon seakan tertarik gravitasi bumi ―serasa ingin jatuh.

Tidak, kata-kata itu lagi, batinnya. Entah sejak kapan Nayeon menjadi phobia kata-kata manis itu. Rasa takutnya akan lubang kelam yang menelannya dulu seakan membuat otaknya berhenti bekerja dan,

“Bukk!!” entah kenapa ia malah memukul Seungcheol hingga lelaki itu jatuh tersungkur.

Payung yang dibawanya jatuh, kemudian terbawa angin yang dinginnya berhembus. Seungcheol tak mampu menatap Nayeon, seakan menyembunyikan bercak darah di philtrum-nya.

Nayeon pun tersentak, merutuki diri ‘kenapa aku memukulnya?!’ dalam hati. Ada satu kata yang ingin Nayeon lontarkan, namun kata itu hanya mengendap di paru-parunya dan hanya jadi hembusan nafas yang beraturan yang berarti ‘maaf’.

Dinginnya salju benar-benar menusuk keduanya. Nayeon berlari dari tempatnya berdiri karena tak sanggup melihat Seungcheol ―apalagi untuk mengucapkan ‘mianhae’ padanya― dan Seungcheol sendiri hanya terdiam di tempatnya.

Terdiam dan merenung, “Mungkin memang tak seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintainya.” Seungcheol tersenyum miris.

“Tapi aku akan selalu melindungimu.” batinnya.

***

Nayeon tak berniat untuk meladeninya mulai hari ini, namun ajaibnya Seungcheol hadir di hadapannya dengan senyuman tengil seperti biasanya. Cengirannya itu tak pernah lekang untuknya ―seakan ia belum pernah dipukul Nayeon sama sekali.

Gadis itu takjub, ia merasa malu akan dirinya sendiri. Kenapa ia harus mengacuhkan Seungcheol, bahkan setelah dipukulnya Seungcheol tak pernah berubah padanya.

Sebenarnya, Seungcheol punya resep tersendiri. Karena Nayeon ―hanya karena gadis itu seorang― Seungcheol takkan pernah berubah untuknya, sekalipun Nayeon memukulnya berkali-kali. Seungcheol akan selalu menyimpan tempat kosong di hatinya untuk Nayeon. Tempat itu akan selalu kosong, dan hanya akan terisi oleh Nayeon ―ketika gadis itu bisa meleleh dibuatnya suatu hari nanti.

[ Hyorin - 사랑하겠어 (I Choose to Love You)]

***
[ Bangtan Boys – House of Cards]


“Tidak.” Seungcheol menepis firasat buruk yang merasuki dirinya. Namun di panggilan selanjutnya, ia terkejut.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.

Deg! Firasat itu kini menyerang ke ulu hatinya. Seungcheol yakin ada yang salah di sini. Sejengkelnya Nayeon padanya, gadis itu takkan pernah menonaktifkan ponselnya hanya gara-gara dirinya.

“Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.

***

“Gak usah.” ketus Nayeon.

Namun belum sempat Nayeon menulis apa yang dikatakanya, seseorang menariknya dari belakang dan membekapnya tiba-tiba.

Seperti yang diduganya, Nayeon pasti akan memberontak dan melawannya. Nayeon bahkan rela ponsel dan tasnya jatuh ke tanah hanya untuk melawannya. Tapi di matanya, wanita ini masih terlalu mudah untuknya.

♪♫♪!” ponsel itu berdering.

Perlu waktu lama hingga pria itu berhasil menjatuhkan Nayeon, bahkan ia harus memukulnya untuk mengalihkan perhatian. Dan di saat Nayeon lengah, pria itu melancarkan aksinya di tengah malam yang sunyi ini.

Ia membekap gadis itu hingga hilang kesadarannya. Pria itu melepas kupluk dan masker yang dikenakannya lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya ―karena wanita ini telah menguras tenaganya.

“Pelatih Han, kau benar-benar,” desis pria itu.

♪♫♪!” ponsel itu berdering untuk hampir yang ketujuh kalinya.

Sejenak mata sabitnya menatap ke arah ponsel berwarna silver itu, dan menangkap nama ‘Seungcheorie’ terpampang di layarnya. Pria itu memungutnya dan menunggunya berhenti berdering.

“Maafkan aku, Hyung.” dan di saat itulah, ia mencabut sumber energi ponsel itu dan membiarkannya mati total.

***
to be continued
***

next...

“Tidak, ini aneh, Jihun-ah.” Jihun bisa melihat wajah Seungcheol itu, “Ada yang tidak beres dengannya.” berubah menjadi sangat serius.


“Eoh? Jeonghan-ah!” Seungcheol berhasil menghubungi Jeonghan, “Maaf kalau kau sudah tidur, tapi aku rasa ada yang mencurigakan.”


“Mwo?!!” Seungcheol bisa mendengar teriakan di markas ―Jihun― dan di ponselnya ―Jeonghan.

“Ya!! Jangan sembarangan kalau ngomong!” tegur Jeonghan.

“Bagaimana bisa kau menduganya seperti itu, sih, Hyung?! Kau ini ada-ada saja!” tegur Jihun.


“Coups-ya!” Jeonghan kedengaran kaget

Seungcheol terbelalak.

“Apa jangan-jangan..., yang kau katakan itu...,” Jihun menerka-nerka.


“Daerah ini memang jarang sekali kamera pengawasnya.” kata Jihun, “Kemungkinan kamera ini dipasang untuk mengawasi lalu lintas di pertigaan yang kalau pagi dan sorenya ramai. Kamera ini biasa merekam kecelakaan. Makanya di sudut pertigaan dipasang cermin cembung supaya tidak ada kendaraan yang bertabrakan karena tikungan yang tajam....,”.


Jihun berhasil mendapatkan rekaman yang dicarinya.

“Pelatih Han!” serunya, memutar balik kejadian sekitar tiga puluh menit yang lalu.

“Dia, dia, dia,” gagapnya Jihun semakin parah, “dia membawa Pelatih Han ke mana?”.


“Aku akan melaporkan ini ke Pak Kim,” Seungcheol segera berlalu, “kalau Jeonghan sudah sampai,


 “Kita akan berangkat sekarang ―meski tanpa Wonwoo.” sambung Seungcheol.


“Siapa kau? Jangan main-main denganku!” galak Nayeon.

“Kau ingin tau?” tanya pria itu.

Segera ia lepas kupluk dan maskernya, dan tak perlu waktu lama hingga Nayeon terkejut. Pria itu pun menyambut, “Apa kau puas sekarang..., Pelatih Han...?”.

***
next...

Aim
Part X : Who Knows?

***


Namanya Narin, Near biasanya manggil Mbak Narin, salah satu author yang Jisooed (?) yang punya karya keren dan sempat Near saranin untuk nulis buku.

Sebenernya, ini komentar Mbak Narin waktu Near nge-share Aim part IV, dan baru Near share sekarang. Berhubung Aim sudah rampung dari kapantau dan Near sedang berjibaku dengan naskah, jadi masalah 'titik' itu gak bisa Near selesaikan😭😭 Tapi Near janji untuk ke depannya Near gak akan ulangin lagi. Dan, terima kasih Mbak Narin, sukses selalu 💙💚💛💜

Buat kalian yang mau kasih kritik saran yang membangun, Near selalu terbuka kok^^ Dan juga, terima kasih banyak yang sudah mau membaca, menantikan, dan menilai Aim ini, juga karya-karya yang lainnya.

Mohon doakan Near ke depannya untuk menjadi (benar-benar) seorang penulis dan menerbitkan karya. Amin.

Sukses selalu buat kalian, ya^^

Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^