[FF] 먹자! Let’s Eat! Part II

4:00 PM 0 Comments A+ a-

먹자!
Let’s Eat!

 

Author : Near
Genre : School-Life, Romance, Fluff
Length : Two shot
Cast : Kang Seulgi, Jeon Wonwoo
Other cast : Wendy Son, Lee Jihoon

***


Dengan dress selutut berwarna oranye, gadis itu berjalan riang bersama tas tangannya. Seperti biasa, dia menelusuri lorong yang kemarin dia lalui dengan tergesa, namun untuk hari ini ia melewatinya dengan ringan.

Kembali Seulgi memasuki kamar rawat kemarin ―kamar rawat Wonwoo. Digesernya sedikit pintu itu, kemudian kepalanya melongok di antara celah pintu. Niatnya ingin memberi kejutan untuk Wonwoo, namun justru Seulgi lah yang terkejut.

Kamar itu kosong, tidak ada penghuninya. Tidak ada Wonwoo, bahkan sedikitpun barangnya tidak ada di sana. Seulgi panik, dia memasuki kamar itu untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.

Dan Wonwoo memang tidak ada di kamar itu.

“Apa aku salah masuk kamar? Apa aku salah? Seulgi panik, “Tidak! Ini benar kamar Wonwoo, tapi ke mana dia?!”

Tak mampu menahan kekhawatirannya, Seulgi berlari-lari kecil menuju meja resepsionis dan mencari tau yang terjadi.

Ganhosa-nim, apa di kamar sebelah benar ruang rawat inap Jeon Wonwoo?” tanya Seulgi sesegera mungkin pada seorang perawat di balik counter.

Dan wanita itu mendengarkan dengan baik, “Dia sudah tidak ada, Agassi.” jawabnya datar.

Entah karena kekhawatirannya yang berlebihan atau memang Seulgi hanya kurang sarapan hari ini, jadi pikiran Seulgi semakin kacau. Dia terkejut bukan main mendengar jawaban perawat tersebut.

“Won..., woo...?” lirihnya.

Dan tentu saja Seulgi sudah salah paham. ”Bu-bukan begitu maksud saya, Agassi.” buru-buru perawat itu meluruskan, “Maksud saya, pasien di ruang rawat inap nomor tujuh bernama Jeon Wonwoo sudah tidak ada di sana, sudah tidak ada di rumah sakit ini.” jelasnya, “Pagi tadi, Ibunya sudah membawanya pulang ke rumah, jadi pasien akan dirawat di rumahnya.”

Mendengar keterangan yang dijabarkan wanita itu membuat Seulgi berulangkali menghela nafas lega. Dia merutuk dalam hati, bisa-bisanya Seulgi ―kelewat― berprasangka buruk seperti tadi ―Wonwoo baik-baik saja!


“Kalau begitu, boleh aku tau alamat rumahnya?” tanya Seulgi.

“Maaf, Agassi, tapi apakah Anda kerabatnya? Kami tidak bisa memberikan informasi pribadi menyangkut pasien kami pada orang-orang selain kerabat dekatnya. Itu sudah jadi kebijakan kami.” ucap perawat itu.

“Sigh,” sejenak, Seulgi merenung.

***

“Kau serius gak punya nomornya Jihoon?”

“Harus berapa kali ku bilang, sih?” jengkel Wendy, “Aku tidak punya!”

Di obrolan chat sampai mereka bertemu dan berjalan bersama, Seulgi masih menanyakan hal yang sama pada Wendy : nomor ponselnya Jihoon.

“Lagian, kenapa enggak kau hubungi saja nomornya Wonwoo? Kau punya, kan?” ingat Wendy.

“Kalau Wonwoo menjawab pesanku, pasti aku tidak susah-susah menemuimu!” kata Seulgi, “Bahkan selama di rumah sakit kemarin, Wonwoo tidak terlihat menyentuh ponselnya! Aku bahkan tidak melihat ponsel di ruang rawatnya!”

“Eyyy,” Wendy tersenyum penuh arti, “jadi beneran, kemarin kau menjenguk Wonwoo?” godanya.

Tanpa sadar, wajahnya merona merah. “Sudah, ah, hentikan.” rengek Seulgi.

Mereka pun sampai di depan rumah Jihoon. Wendy yang satu ekstrakulikuler dengan Jihoon memang sempat berkunjung ke rumah adik kelasnya itu beberapa kali untuk keperluan eskul. Setelah menekan bel di samping pintu gerbang, seorang wanita paruh baya muncul.

Annyeong haseyo, Omonim!” sapa Wendy ramah, diikuti Seulgi kemudian, ternyata wanita itu adalah Ibunya Jihoon.

“Oh, kau pasti Seungwan, teman satu eskulnya Jihoon, ya?” ucap beliau.

“Benar, bagaimana kabar Anda, Omonim?” senyum Wendy ramah, “Apa Jihoon ada di rumah?”

“Oh, mencari Jihoon, ya? Dia dan Ayahnya baru saja berangkat ke rumah pamannya di Hongdae.” jelas beliau, “Oya, apa kau mengirimi Jihoon pesan? Soalnya ponsel Jihoon tertinggal di kamarnya dan beberapa kali berbunyi tadi.”

“Oh begitu, ya.” Wendy tersenyum kecut, Seulgi kecewa.

“Atau, mau ku hubungi Ayahnya supaya kalian bisa bicara dengan Jihoon?” tawar beliau.

“Tidak perlu, Omonim.” segera saja Seulgi menyerobot bagian Wendy, “Kami akan bertemu dengan Jihoon di sekolah saja ―besok, kan, hari Senin.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Kami pamit, ya, Ibunya Jihoon! Maaf sudah merepotkan.” ucap Wendy.

“Tidak mampir dulu? Ini, kan, hari Minggu.”

“Lain kali, kami pasti berkunjung ke sini. Hari ini ada tugas yang harus kami kerjakan.” Wendy tersenyum, dia tau bagaimana perasaan Seulgi saat ini.

***

Risih rasanya melihat Seulgi begitu gelisah sambil beberapa kali menempelkan ponsel pada telinganya.

“Sudahlah, mungkin karena Wonwoo masih sakit jadi dia tidak menyentuh ponselnya.” hibur Wendy, “Ponsel, kan, ada radiasinya. Mungkin Ibunya yang menyimpan ponselnya.”

“Ya, tapi setidaknya balas pesanku atau gimana, kek.” Seulgi cemas. “Dia bahkan tidak membaca chat-ku.”

Memang tidak gampang, “Hei, kau lapar? Sebelum kau menjemputku, aku baru saja membuat tiramisu. Kau mau?” Wendy mengalihkan pembicaraan sambil merangkul Seulgi hangat.

Meski raut wajahnya masih mendung, Seulgi pun tetap berkata, “Iya, mau.” jawabnya. Kalau soal makanan, tidak mungkin Seulgi menolak. Biasanya, makanan bisa membuat Seulgi merasa lebih baik.

“Mau ku tambahkan choco toping?

“Terserah kau saja.”

“Yang penting kau senang.”

“Ajari aku bikin tiramisu.”

“Iya, nanti.”

***

Hari Senin, Seulgi tak juga menjumpai batang hidungnya di kantin. Mau hari apapun itu, rasanya mustahil Wonwoo bisa muncul di kantin. Seulgi berharap, sekali saja dia bisa melihat Wonwoo makan di kantin. Sesulit itukah masalah nafsu makan yang Wonwoo derita?

“Kang Seulgi! Kang Seulgi!!” dengan suara soprannya, Wendy berlari-larian menuju Seulgi.

Gadis yang rambutnya dicepol itu hanya memandanginya, “Kau kenapa?” herannya.

“Ikut aku!” ditariknya lengan putih itu.

“Eh?? Mau ke mana??”

“Kau takkan menyesal ―ikuti saja aku!!” dan dengan segera Wendy menyeret Seulgi dari ambang pintu masuk kantin.

“Wendy~~~!!”

Tak peduli seramai apapun koridor, berapa kalipun mereka menabrak orang, Wendy tetap saja menyeret Seulgi entah ke mana. Wendy bahkan tidak peduli Seulgi merengek minta makan karena dia bahkan belum sempat memasuki kantin seharian ini.

“Kau pasti bakal lupa makan setelah melihat ini!” hanya itu saja yang Wendy katakan.

Di ujung koridor sana, beberapa pemuda dari kelas 1-1 berkumpul di balkon. Mereka terlihat membicarakan sesuatu dengan sangat serius bersama-sama, kecuali seorang pemuda yang berdiri sambil mendengarkan musik lewat headphone-nya. Hanya wajahnya saja yang tidak terlihat karena dia memunggungi dua gadis ini.

Salah seorang pemuda yang tubuhnya jauh lebih kecil menangkap kehadiran Wendy dan Seulgi yang berhenti di radius sepuluh meter dari tempatnya berdiri.

Dengan segera, dia menepuk pundak pemuda ber-headphone itu dan mengisyaratkannya untuk berbalik. Dan tanpa pikir panjang, langsung saja dia berbalik dan menatap siapa yang mencarinya.

Seketika melihat wajahnya, Seulgi terperanjat hebat.

“Nah, lihat, kan? Lihat?” goda Wendy pada Seulgi.

“Seulgi...?” gumam Wonwoo, dia segera mengalungi headphone-nya.

Tak berapa lama, pemuda tadi mengajak teman-temannya yang lain untuk beranjak meninggalkan Wonwoo di sana. Sedikit panik, Wonwoo berusaha menahan langkah temannya yang bertubuh mungil itu.

“Ji-Jihoon-ah,” namun panggilan Wonwoo tidak digubrisnya, Jihoon.

Wendy mendorong tubuh Seulgi untuk mendekat pada Wonwoo. Dengan agak canggung Seulgi manut saja ―meski agak sebal dengan tingkahnya Wendy yang berlebihan.

“Wo-Wonwoo,” panggilnya.

“Mm?” sahut Wonwoo datar.

Seulgi ragu bahkan hanya untuk menatap matanya yang tajam. “Kau..., sudah sembuh...” lanjutnya.

“Kalau tidak untuk apa aku masuk sekolah.” dan seperti biasa, jawaban Wonwoo menyakitkan. Namun itu tak apa buat Seulgi, hanya melihatnya saja Seulgi sudah senang.

“Apa lagi?” tagih Wonwoo, tidak betah berdiam-diam terlalu lama.

“Uh..., anu...,” Seulgi semakin canggung.

“Kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan, kembalilah ke kelasmu.” Wonwoo segera melengos sambil mengenakan headphone-nya kembali, namun sebelum itu terjadi, Wonwoo menambahkan, “Jangan pulang dulu. Kau harus menemuiku.”

“Eh? Menemuimu?” ulang Seulgi, “Untuk apa? Di mana?”

Tak mau begitu saja menjawab, Wonwoo merebut ponsel di saku blazzer biru marun yang Seulgi kenakan. Entah apa yang dia lakukan pada ponselnya Seulgi. Setelah melakukan ini-itunya, Wonwoo meraih tangan Seulgi dan meletakan ponsel itu di atasnya.

“Maaf membuatmu cemas, aku baru saja ganti nomor.” ucap Wonwoo ―masih datar. “Nanti ku kirimi chat.” katanya sambil menunjukan ponsel touch screen-nya sebagai isyarat.

Sambil mengenakan headphone-nya kembali, Wonwoo meninggalkan Seulgi begitu saja. Pandangan Seulgi mengekori punggung tegap yang menjauhinya. Sementara dalam langkahnya, Wonwoo tersenyum kecil.

Maaf ―sekali lagi. Tapi ku rasa, tidak mungkin aku melakukannya di sekolah,” batinnya, “Seulgi..

“Apa?! Apa yang dia katakan?! Apa dia sudah sembuh?!” serbu Wendy begitu saja setelah Seulgi dihampirinya, “Apa yang dia katakan padamu?! Uh? Uh?!”

Raganya mungkin masih berpijak di atas tanah, tapi hatinya melayang-layang entah kemana, nyawanya seperti terbang mengarungi langit. Crush!!

Seulgi menatap ponselnya dengan separuh nyawanya yang tersisa. Dia melihat apa yang telah Wonwoo lakukan pada ponselnya. Tertinggal sebuah kontak dengan nama ‘Yeowu’ di sana.

“Huh? Apa maksudnya dengan rubah?” justru Wendy yang heran, namun ketika ia melihat ke arah Seulgi, gadis itu masih terdiam.

Wendy memandangi sisa bayangan Wonwoo yang berjalan masuk ke kelasnya, seperti biasa dengan gayanya yang khas : headphone menutupi telinga sambil mengantongi kedua tangannya di saku.

“Bukankah dia keren?” sahutan Wendy membuat Seulgi terbangun seutuhnya.

“Apa?” Seulgi menatap Wendy.

Begitu pula sebaliknya, “Loh, kau tidak merasakannya?” tanya Wendy ―niatnya menggoda, “Bagaimana bisa sekeren itu disebut adik kelas? Terlalu imut untuk perawakannya yang cool.

“Wendy, hentikan.”

“Eyyy, cemburu, ya?” Wendy menyentuh batang hidung Seulgi dengan usil.

“Sudah, ah.” gerutu Seulgi, meninggalkan Wendy kemudian.

Ya!! Cemburu, ya?!!” teriak Wendy yang sesegera mungkin mengejar langkah Seulgi.

***


Arena bersepeda 100 m dari sekolah.” ―from Yeowoo.

“Iya, aku juga tau itu di mana.” gumam Seulgi, jengkel sendiri pada kata-kata Wonwoo. Lalu dengan segera dia membalas.

Aku juga tau itu di mana 💢.” ―to Yeowoo.

Pokoknya jangan sampai tersesat.” ―from Yeowoo.

Seulgi mendengus. Untung saja cuma berupa kata-kata, tidak bisa dibayangkan bagaimana menyebalkannya jika Wonwoo yang mengatakannya secara langsung. Pasti rasanya ingin sekali Seulgi memukul wajahnya yang menyebalkan itu.

Tapi tunggu, Seulgi menyukainya, kan? Lantas kenapa Seulgi menyukai laki-laki dengan wajah dingin dan sifat angkuh seperti Wonwoo?

“Arrrgh! Gak tau, ah!” Seulgi lelah dengan konflik batin yang membelenggunya.

Memasuki arena bersepeda yang dimaksud, Seulgi masih harus mencari-cari di mana tepatnya Wonwoo menunggunya. Sempat beberapa kali kebingungan, Seulgi pun mengirimi pemuda itu chat.

Kau di mana?” ―to Yeowoo.

Paling ujung arena bersepeda. Cari saja.” ―from Yeowoo.

“Ribet banget, sih?” jengkel Seulgi lagi.

Setelah berjalan agak lama, Seulgi sampai di penghujung arena bersepeda. Hanya berupa pagar-pagar yang membentang, yang membatasi arena bersepeda dengan lembah rendah di bawahnya. Di sana, udaranya sejuk dan pemandangan kotanya terlihat sangat asri.

Di beberapa tempatnya di sediakan bangku-bangku taman untuk menikmati pemandangan kota tersebut. Dan di salah satu bangku itu, duduklah seorang pemuda dengan kemeja putih dan cardigan biru marun, warna yang senada dengan blazzer yang Seulgi kenakan.

Melihat Seulgi sudah sampai di sisinya, barulah pemuda itu mendongak padanya. Cukup lama terdiam, membuat Wonwoo ―pemuda tadi― membuka pembicaraan.

“Sudah ku bilang jangan sampai tersesat, kan?” katanya datar.

“Bisa tidak kau sopan sedikit sama seniormu? Kurang ajar sekali.” jengkel Seulgi. Sudah datang jauh-jauh, hampir tersesat, tapi begitu dia sampai malah disambut kata-kata yang tidak menyenangkan. Seulgi mengerucutkan bibirnya.

Melihatnya begitu imut, Wonwoo tidak bisa menahan tawa kecilnya ―benar-benar kecil. Tapi itu sungguh membuat Seulgi terkejut : Wonwoo tertawa ―meskipun kecil tapi dia tertawa??

“Apa yang lucu?” nada Seulgi masih gengsi.

Dan seorang Jeon Wonwoo memang bukan tipe yang mudah menjawab. Dia bangkit sambil merogoh tasnya, lalu disodorkannya benda yang dicarinya itu pada Seulgi.

Teddy-mu,” hanya itu yang Wonwoo katakan.

Jadi, Wonwoo memintanya kemari hanya untuk mengembalikan bonekanya Seulgi? Ya, tak apalah, pikir Seulgi.

“Kau benar, dia selalu tersenyum ―dia selalu menghiburku. Aku berterimakasih.” senyum Wonwoo tulus ―kali ini dengan tulus!

Seulgi mulai menduga-duga, membuat spekulasi asal-asalan dalam otaknya. “Terus? Cuma itu saja?” pancingnya, “Kau memintaku datang ke sini hanya untuk mengembalikan Teddy Bear-ku?”

Kembali Wonwoo mengantongi kedua tangannya, “Tidak mungkin aku membawa boneka ke sekolah, lalu memberikannya padamu.”

“Kenapa tidak?”

“Ya, tidak saja.” jawab Wonwoo, merasa kalau membawa boneka ke sekolah itu bukan image-nya. “Aku tidak bisa melakukannya di sekolah.”

“Termasuk membalasmu waktu itu.”

Mendengar kalimat terakhir, Seulgi mengernyit. Tak ingin membuat Seulgi bingung berkepanjangan, "Menurutmu, apa yang kau lakukan di sini?" Wonwoo segera menunjuk dahinya ―sebagai sebuah isyarat.

Seulgi mengerjap hebat.

Keningnya...?!” batin Seulgi terperanjat, “Berarti..., waktu itu dia..., belum tidur...?!

***

Setelah memastikan sekitar, Seulgi membungkukkan badannya perlahan. Semakin dekat, hatinya malah semakin ragu. Namun keinginannya begitu besar, sehingga ia berhasil mengalahkan keraguannya dan, “Cup,”

Mata sipitnya yang terpejam sejenak tiba-tiba terbuka ―Seulgi berhasil mengecup dahinya. Setelah sempat bersitegang dengan keraguannya sendiri, Seulgi akhirnya mengecup dahi pemuda itu ―sesuai keinginannya.

Selama dia tertidur, tidak apa.” hibur batin Seulgi.

“Cepat sembuh, ya. Tidur yang nyenyak. Makan yang banyak. Jangan lupa minum obat.” desisnya, meski dia tau Wonwoo tidak mendengar. “Aku pulang dulu.”

Ketika langit menjingga, Seulgi beranjak dari kamar rawat itu. Dia melangkah tanpa ragu lagi menuju daun pintu. Setelah dirinya sepenuhnya menyingkirkan diri dari kamar Wonwoo, untuk sejenak Seulgi memandangi pemuda itu dari celah pintu selama beberapa saat ―barulah digesernya pintu itu hingga tertutup rapat.

“Grrreeekkk~~~....”

Sedetik, dua detik, tiga detik.

Mata elang itu terbuka perlahan, memastikan gadis yang menutup pintu itu sudah benar-benar lenyap dari sana. Dan ketika dia tau dia sudah sendirian, senyumnya merekah perlahan.

“Seulgi itu manis sekali.” gumam Wonwoo.

Benar, dia belum tertidur sepenuhnya. Ketika bukunya jatuh menimpa tubuhnya sampai Seulgi berberes, Wonwoo memang sudah tidur. Kecupan Seulgi itulah yang membuatnya terbangun, namun Wonwoo sengaja bertahan dan pura-pura tidur.

“Dia benar-benar gadis yang manis...” ucap Wonwoo lagi sambil menata bantalnya, namun tak sengaja tangannya menyentuh teddy bear milik Seulgi di samping bantalnya.

Kali ini Wonwoo beralih pada boneka beruang berwarna cokelat itu, dipangkunya si beruang itu di atas dadanya. Ketika memandanginya, entah kenapa Wonwoo tersenyum lagi.

“Kau benar, Kang Seulgi,” gumamnya, “dia selalu tersenyum ―dia selalu menghiburku.”

Boneka beruang cokelat berpita itu memang selalu tersenyum, seperti yang Seulgi katakan. Dan dia akan selalu menghibur Wonwoo.

Membayangkan boneka itu seperti Seulgi, tangan Wonwoo mencubitnya gemas. Lalu dia letakan kembali si beruang itu di tempatnya. Sambil menyusul kantuknya kembali, Wonwoo memejamkan mata.

***

Perutnya geli ketika melihat rona merah memenuhi wajah manis Seulgi, tak ayal Wonwoo terkikik kecil. Melihat Seulgi salah tingkah seperti ini ternyata menyenangkan juga.

Tersipu semakin menjadi-jadi, Seulgi tidak mampu menyembunyikan perasaannya saat ini. Dia bahkan tidak tau harus bertindak seperti apa. Dia hanya bisa mematung di tempat, meremas rok pendeknya, dan mengigit bibir tanpa berani menatap lawan bicaranya.

“Apa hanya karena ketahuan melakukan sesuatu diam-diam sudah bisa membuat wajahmu memanas?” lagi, suara bass itu memaksa Seulgi mendongak, menatap siapa yang bicara, “Aku bahkan belum selesai, kau sudah terbang terlalu jauh.”

Apa maksudnya...?” heran Seulgi.

“Jangan lari dariku ―atau kau akan menyesal.” ucapan Wonwoo yang dalam membuat Seulgi bergidik ngeri.

Apa yang dia inginkan dariku?!” Seulgi panik dalam diam.

Tanpa sadar dia sudah mundur selangkah, namun Wonwoo mengejarnya dua langkah. Bagaimana tidak menakutkan, ketika seseorang dengan wajah yang dingin dan raut wajah menakutkan seperti Wonwoo memintamu untuk tidak lari darinya?

Dia sudah seperti psyco di film-film yang Seulgi tonton.

“Kita lihat, apakah aku suka padamu atau tidak.” ucap Wonwoo.

Apa?!” Seulgi hanya bisa mengucapkannya dalam hati, karena ketika ia hendak mengucapkannya Wonwoo sudah membungkam bibirnya dengan miliknya duluan.

Seulgi tersentak hebat, kedua mata sipitnya terbuka lebar. Dia bisa melihat Wonwoo yang tadi hanya berjarak selangkah darinya, kini berada tepat di depan matanya, tengah menikmati bibir manisnya.

Wonwoo melumat bibir itu sesuka hatinya, menghisapnya di antara celah bibir Seulgi yang manis. Menjilatnya, menghisapnya, melumatnya, terkadang pun mengigitnya lembut. Permainannya cukup kasar, meminta perhatian Seulgi.

Merasakan ciumannya yang kelewat batas, Seulgi hampir lupa daratan, hilang kendali. Dengan sigap, Wonwoo menangkap kedua tangan Seulgi yang hampir menjatuhkan teddy dalam genggamannya ―entah bagaimana dia bisa melihatnya. Ciuman Wonwoo membuatnya hilang tenaga.

Seulgi bahkan hampir kehilangan kesempatan hanya untuk menarik nafas. Menyadari hal itu, Wonwoo mengurangi tempo permainannya, menjadi jauh lebih lembut dan di saat itulah, Seulgi memberanikan diri membalas ciumannya.

“Ternyata aku menyukaimu.” Wonwoo menyeringai ketika dia membiarkan Seulgi menghela nafas.

Tak ada jarak yang berarti antara wajah mereka, satu sama lain saling menangkap sorot mata yang intens dan kuat. Dengan sembrono, Wonwoo menarik tubuh Seulgi, memintanya mendekat dan dengan segera menyerbu bibirnya lagi. Namun kali ini, respon Seulgi berbeda, dia menjinjit dan membiarkan Wonwoo mencapai bibirnya lebih cepat.

Wonwoo senang, Seulgi bisa mengerti dirinya. Dia berharap waktu berhenti sejenak, sekejap pun tidak apa, asalkan dia punya waktu lebih ―untuk merasakan gadis itu.

“Apa kau akan mengocehiku dan bilang aku kurang ajar?” tatap Wonwoo setelahnya.

Seulgi terkekeh. Kurang ajar?

Baiklah, sedikit.

Selebihnya, Seulgi senang.

Mereka tersenyum, ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu mereka terkikik. Cekikikan mereka berubah menjadi tawa ketika menyadari tangan mereka masih saling bersentuhan. Mereka menertawai takdir mereka ―takdir yang membahagiakan.

“Ayo kita jadi lebih dekat, Seulgi.” kali ini Wonwoo bahkan mau angkat bicara, “Aku tidak suka suatu hubungan yang mengikat, jadi ayo kita jadi lebih dekat saja. Biar waktu yang menentukan akan jadi apa kita di masa depan nanti.”

Wonwoo benar. Daripada mengikrarkan sebuah cinta zaman SMA, ada baiknya mereka menyimpan hati untuk masing-masing. Tak masalah, karena mereka sudah mengetahui perasaan satu sama lain.

Berbeda, Seulgi tau Wonwoo memang berbeda dari lelaki kebanyakan, yang biasanya ingin memiliki. Wonwoo bukan seperti mereka, dia mungkin kurang ajar, tapi di balik itu dia jauh lebih baik. Dia lelaki dengan taste yang tidak biasa. Wonwoo punya warnanya sendiri, terutama pada perempuan, apalagi pada perempuan yang disukainya.

“Tidak penting bagiku memiliki, yang penting adalah menyayangi orang yang ku sayangi, melindungi orang yang ku cintai.” kata Wonwoo, “Aku tidak peduli, dia milikku atau bukan, dia sendiri atau bersama yang lain, yang penting adalah dia nyaman bersamaku, dia berada di dekatku, dan yang jauh lebih penting lagi : dia bahagia.”

“Dia, adalah kau.”

Dan Seulgi tau, dia tidak salah memilih.

“Aku tidak ingin menjalin hubungan itu denganmu, karena aku tidak ingin kita bertengkar dan menjadi sangat jauh setelah itu.” lanjut Wonwoo, “Karena aku ingin selalu berada di dekatmu.”

Laki-laki pecinta buku ini, bagi Seulgi dia penyair terbaik. Setiap bait yang dilantunkannya seperti kembang api yang meledak lembut di dalam kepalanya, seperti suara kepakan sayap ribuan kupu-kupu di dalam perutnya.

“Seulgi?” Wonwoo memastikan bahwa gadis itu masih di tempatnya berpijak.

Tak lama, Seulgi mengecup bibir pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu, dan berkata, “Aku setuju,” katanya, “aku juga ingin selalu di dekatmu, jadi ayo kita lebih dekat lagi. Kita jaga hati satu sama lain, dan saling mempercayai. Dengan begitu, kita tidak akan bertengkar seperti pasangan kekasih.”

“Karena aku juga benci jauh-jauh darimu.”

Senyuman Wonwoo, senyumannya yang paling lebar, merekah.

***

Menyusul hembusan angin, memintanya untuk membelai wajah pemuda-pemudi ini dengan lembut. Kayuhan sepeda yang seiringan dengan nada-nada yang dilantunkan bak kicauan surga. Siang itu tidak terasa panas, semua serasa ringan bak kapas.

Pemuda itu mengayuh lebih kuat lagi, mengantarkan mereka pada pemandangan kota yang jauh lebih indah. Di saat itu, gadis yang diboncenginya terkesiap melihat pemandangan indah yang baru disadarinya. Tanpa sadar membuat senandungnya berhenti secara tiba-tiba.

“Seulgi, kenapa berhenti?” tanya pemuda itu, tanpa bisa melihat gadis di belakangnya.

Dia tersadar, terbangun dari lamunannya. Sambil mengeratkan pegangannya pada pemuda itu, kembali ia bersenandung.

Nae unmyeongijyo, sesang kkeutirado jikyeojugo shipeun dan han saram."

Kicauannya seperti bahan bakar, kehadirannya sudah menjadi energi positif untuknya. Gadis ajaib ini, hanya dia yang bisa memecah gunung es abadinya, hanya dia yang bisa membelah keheningannya, dan karenanya pemuda itu bisa tersenyum.

"Seulgi?" panggil Wonwoo.

"Mm?" sahut Seulgi.

"Suaramu," ujarnya, "aku suka."

Seulgi tersenyum, biarlah Wonwoo tidak melihat wajahnya yang mendidih saat ini.

"Buatkan aku cupcake lagi, ya, Gom." ujar Wonwoo.

"Eoh? Kau menyukainya?"

"Mm." Wonwoo mengiyakan.

"Tentu saja." Seulgi manut, "Tapi tunggu... Gom?"

"Ya, gom (beruang)." sahut Wonwoo, "Kenapa? Tidak suka panggilan dariku?"

"A-aniyo." ucap Seulgi, "Johayo, Yeowu-ya."

Wonwoo hanya nyengir mendengar Seulgi memanggilnya rubah. Entah kenapa, sejak Seulgi meninggalkan boneka beruangnya, setiap kali melihat teddy bear Wonwoo langsung teringat Seulgi.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku lulus nanti." sendu Seulgi, "Pasti..., aku akan menangis..."

Tak lama setelah ucapannya, Seulgi merasakan tangan Wonwoo menyentuh tangan lembutnya, menyambutnya dan memintanya untuk merengkuh tubuh pemuda itu. Seulgi terkesiap.

"Jangan pikirkan buruknya. Mari kita habiskan saat-saat ini bersama." ucap Wonwoo, "Perpisahan bukan akhir dari segalanya. Perpisahan berarti kita akan bertemu kembali."

Bibir Seulgi bergetar, baginya Wonwoo memang penyair terbaik.

"Siapa tau, aku akan menyusulmu ke universitas yang sama." Wonwoo tersenyum tipis, "Aku tau kau akan melakukan apa saja agar senantiasa dekat denganku. Maka aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu."

"Pokoknya setelah aku lulus, kau tidak boleh mengacuhkan chat-ku." suara Seulgi bergetar, "Kalau aku minta ketemuan, kau harus menurutiku."

"Kau juga jangan sok sibuk dengan teman-teman baru di kampusmu." tukas Wonwoo segera.

Seulgi terkekeh, meski setetes air matanya jatuh. "Tidak akan, janji." ucapnya.

"Janji." sahut Wonwoo.

Kehabisan kata-kata, Seulgi langsung saja merengkuh tubuh Wonwoo lebih erat, kepalanya bersandar pada punggung pemuda itu. Tak lama setelah Seulgi bersandar, Wonwoo merasakan punggungnya lembab. Mungkin diam-diam Seulgi menangis.

Sentuhan tangan Wonwoo pada rengkuhan gadis itu, seakan berkata, "Seulgi, jangan menangis."

***

Minggu pagi, seperti yang Seulgi perintahkan, Wendy mendatangi sebuah restoran di pinggiran Itaewon. Sambil menjelajahi jendela besarnya, bagi Wendy restoran ini terlihat asing di matanya, kelihatannya restoran ini baru saja didirikan.

Ketika berhadapan dengan pintu masuk, Wendy bertemu seorang yang tak asing, “Lee Jihoon?” sapanya.

Dan pemuda bertubuh mungil itu menangkap sosoknya, “Oh? Wendy Nuna?” kagetnya, “Annyeonghaseyo, Nuna! Kebetulan sekali, ya?”

“Kau datang sendirian?” tanya Wendy.

“Sepertinya,”

“Kok, sepertinya?”

Jihoon menerawang, “Nado molla,” ucapnya, “Wonwoo yang memintaku ke sini. Aneh sekali.”

“Aku juga, Seulgi yang memintaku ke sini.”

Di saat yang sama, mereka saling bertatapan. Apa jangan-jangan, kedua pemuda-pemudi itu yang sengaja meminta keduanya datang ke mari? Tak menunggu lama lagi, Wendy dan Jihoon segera melangkah masuk ke dalam restoran untuk mencari tau lebih lanjut.

“Wendy!” seru seorang gadis dari sebuah family room di ujung restoran, Seulgi.

Jihoon dan Wendy juga melihat Wonwoo bersama Seulgi. Ketika Seulgi melambai, mereka pun segera mendekat ke sana.

“Terima kasih, ya, sudah datang!” sambut Seulgi pada Jihoon dan Wendy yang segera menempati tempat duduk yang sudah disediakan.

Merasa diperhatikan, Wonwoo yang sedang membantu Seulgi menata meja itu akhirnya menatap Jihoon, seakan bertanya, “Kenapa melihatku seperti itu terus?”

“Apa kau sehat, Jeon Wonwoo? Tumben sekali kau mengajakku ketemuan di tempat makan?” Jihoon menjelaskan alasannya. Sebagai sahabatnya, Jihoon juga tau kalau Wonwoo yang dia kenal memang sering tidak nafsu makan.

Seulgi dan Wendy yang berada di satu ruangan pun mendengarnya. “Aku mengajak Wonwoo ke restoran ini, lalu dia menyuruhku untuk mengajak yang lainnya lagi.” jelas Seulgi, “Aku hanya mengajak Wendy, sementara Wonwoo hanya mengajak kau.”

“Ah, iya, aku juga ingin menanyakan hal itu.” sambung Wendy, “Tumbennya kau mengajakku makan di sini? Tempatnya agak asing.”

Seulgi tersenyum, “Teman-teman, selamat datang di restoran orangtuaku! Kangs Food!” sambutnya.

“Apa?!” kaget Jihoon dan Wendy bersamaan.

“Jadi, ini restoran orangtuamu?” kaget Wendy.

“Kau tidak terkejut?” Jihoon menanyakan pada Wonwoo.

“Wonwoo yang pertama kali ku beritau, jadi dia sudah tidak terkejut lagi.” cengir Seulgi, “Aku mengundang kalian semua sebagai syukuran kecil, karena restoran orangtuaku baru saja dibuka hari ini.”

“Benarkah?” ucap Wendy, lagi-lagi dengan wajahnya yang ajaib.

Chukhahamnida, Sunbae!” sambut Jihoon.

Tak lama Seulgi meninggalkan pekerjaannya menata meja, di saat itu pulalah Wonwoo menahan lengan Seulgi ―dan membuat Wendy serta Jihoon terkejut.

“Mau ke mana?” tanya Wonwoo datar.

“Aku akan mengambilkan pesanan, kau di sini saja ―menata meja.” ucap Seulgi.

“Aku saja yang pergi.”

“Tidak, kau di sini saja, ada lagi yang harus ku bicarakan pada Ayahku.”

Tatapan Wonwoo seperti berkata, “Ya sudah, pergilah.” sambil melepaskan genggamannya dari lengan Seulgi yang lembut.

Wendy dan Jihoon menatap Wonwoo yang masih berurusan dengan meja itu dengan tatapan curiga. Tatapan yang sama pun mereka berikan juga pada Seulgi.

Wonwoo dan Seulgi mungkin terlihat ceria ―meski dengan ekspresinya yang datar sebenarnya Wonwoo merasa sangat senang hari ini. Tetapi di balik itu, mereka tidak tau kalau Wendy dan Jihoon tengah mengintai keduanya.

"Wonwoo," rengek Seulgi, melihat Wonwoo berbagi sayurannya dengan gadis itu.

"Pokoknya, sayuran." Wonwoo menekankan.

"Aku tidak suka sayur."

"Makan saja."

Bahkan ketika mereka berempat makan. Tak tahan dengan misteri ini, berbarengan Jihoon dan Wendy yang duduk bersebelahan berkata, “Kalian pacaran?”

“Uhuk!” dan secara berbarengan pula, Seulgi dan Wonwoo tersedak.

“Sudah, mengaku saja. Kami ini, kan, sahabat kalian.” ujar Jihoon.

Awalnya Seulgi dan Wonwoo saling bertatapan, dan yang angkat bicara ―tentu saja― Seulgi, “Tidak! Tidak ada hubungan apapun!” akunya.

“Eyyy,” Wendy memicingkan matanya.

“Sungguh!”

Jinjja-ya, Wonwoo?” tanya Jihoon.

Wonwoo mengangguk, “Jangan khawatir.” hanya itu yang dia katakan.

“Nah? Benar, kan, kataku?” Seulgi tersenyum puas.

“Argh, tapi, tapi, tapi..., kalian berdua..., kalian kelihatannya...,” Wendy frustasi, “tadi kalian berdua...,”

“Kami tidak menjalin hubungan apapun!” tegas Seulgi dan Wonwoo berbarengan pada kedua sahabat mereka di seberang.

Jihoon manut saja dengan apa yang mereka berdua katakan, namun nampaknya Wendy masih tidak bisa mempercayai mereka.

“Argh~.. Terserah kalian saja!” kata Wendy, “Kalau kalian tidak mau cerita, ya sudah! Pokoknya, kalau sampai kalian ketauan―”

“Tuk!” tak sengaja ketika Wendy mengocehi dua teman di seberangnya itu, tangannya menyenggol minuman Jihoon dan membuatnya jatuh mengenai pemuda itu.

Oh my God!!” Wendy terperanjat hebat, meski Jihoon tidak terlalu basah, namun tetap saja karena dirinya minuman itu membasahi sebagian kecil bajunya.

Gwaenchanha, Nuna. Cuma basah sedikit, kok.” ucap Jihoon ramah.

Wendy buru-buru mengambil beberapa helai tisu sekaligus dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya itu, “Sorry, sorry, sorry, sorry!

“Jangan khawatir.” hibur Jihoon.

Mencari kesempatan dalam kesempitan, ketika Wendy dan Jihoon terfokus pada masalah yang sama, “Wonwoo,” Seulgi memanggil pemuda di sampingnya, memintanya untuk menatapnya sejenak.

“Mm?”

“Cup,” sontak ketika menoleh, Seulgi segera menyerbu bibir Wonwoo singkat. Dan dia berhasil membuat mata elang itu terbelalak.

“Nanti biar aku yang kasih tau ke mereka apa yang terjadi di antara kita.” cengir Seulgi memamerkan deretan giginya yang rapi.

Wonwoo tidak menjawab, namun tatapan matanya berarti, ”Ya sudah, beritau saja mereka.

“Sudah, aku tidak apa-apa, kok, Nuna.” Jihoon berusaha tersenyum pada Wendy, sehingga gadis itu akhirnya mau duduk kembali.

Mianhae, Jihoon-ah.” sesal Wendy.

“Tidak apa-apa.”

“Mm... Teman-teman,” panggilan Seulgi berhasil membuat Wendy dan Jihoon menatapnya penuh, “mm..., sebenarnya ada yang ingin aku katakan, tapi..., kalian tidak boleh terkejut, ya...”

“Kalau..., aku dan Wonwoo......,”



“APA??!!” serbu Jihoon.

“TUH, KAN?! KU BILANG JUGA APA?!!” tak lupa serbuannya Wendy.

“Berisik,” desisan Wonwoo membuat Seulgi terkikik.

“Kau juga, Jeon Wonwoo!! Kalau saja kau tidak punya hubungan apapun dengan Seulgi, kau pasti juga sudah ku pukul karena berkata yang tidak sopan...!!!” geram Wendy.

“Haduh,” Jihoon menepuk jidatnya.

“Wendy, sudahlah,”

***

fin

***

Bagaimanakah ff SeulWoo pertama yang Near posting ini? Mengecewakan? Gak heran sih.. Hehe..

Oya, Near suka banget sama SeulWoo couple soalnya mereka unik.

Seulgi sama Wonwoo punya wajah yang mirip kalau kata Near. Di beberapa angle mereka keliatan mirip banget. Dan kalau wajah mereka disatukan, tidak menciptakan wajah baru!! Itu unik banget buat Near.

Seulgi tipe cewek yang periang, manis, ramah, murah senyum, dan bisa aegyo. Sementara Wonwoo tipe cowok pendiam, tidak banyak senyum, sulit didengar suara ketawanya, dan aegyo-nya adalah nightmare alias dia gak jago aegyo.

Tapi kesamaannya SeulWoo adalah mereka sama-sama karismatik. Karena hal ini pulalah, Seulgi dan Wonwoo pernah menggunakan kata 'karismatik' waktu perkenalan diri.


Kalau Seulgi itu beruang, maka Wonwoo itu rubah.

Cara mereka senyum, bitting lips, sampai sticking tongue alias melet (?) itu mirip.



Seulgi adalah cewek yang doyan makan dan dia makan dengan sangat lahap. Sementara Wonwoo adalah cowok yang lebih suka nyemil ketimbang makan nasi. Makanya dia sempat sakit karena lebih sering mengabaikan jam makannya ㅠㅠ


Ini semua berdasarkan fakta ya. Sayangnya saja SeulWoo belum ada momennya.. Tapi Near selalu menunggu datangnya momen-momen SeulWoo!! Hoit!

Oya.
Bonus ^^

Terima kasih banyak yang sudah mau mampir baca dan ninggalin komentar!! Semoga terhibur sama ff buatannya Near ya!!^^

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^