[FF] Aim part XVII

5:29 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part XVII : Fin(al)

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Krek, krek,” kamera itu diarahkan kepadanya.

“Hai,” sapa Solji pada kamera, “ini kamera baruku, aku baru saja membelinya untuk acara reunian besok. Hehehe.” katanya, “Apa yang harus ku katakan, ya?”

“Oh, ya, X team.” ingatnya, “Saat ini, kami memang tidak terlalu aktif lagi, dan kami memang lebih sering terpisah sejak kejadian luar biasa beberapa tahun yang lalu, sampai SWAT pun turun tangan.”

“Dimulai dari Seungcheol Oppa, S.Coups leader kami.” katanya, “Setahun setelah kejadian, semuanya sudah membaik, Korea Selatan menjadi aman dan damai. Dan di saat itulah, ia mempersunting Pelatih Han. Yup, siapa lagi kalau bukan Nayeon Onnie!”

“Tiga tahun yang lalu mereka menikah, dan sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua.” katanya, “Lalu Jeonghan Oppa, Seri, Seokmin dan Sunyoung kini lebih fokus dalam tugas penyelidikan mereka, menjadi detektif dan polisi pada umumnya. Mereka banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang rumit.”

“Jihun sendiri masih bekerja untuk Kepolisian sebagai hacker, sementara Junhui harus bolak-balik Cina-KorSel karena tugas. Mingyu baru saja kembali dari camp setelah hampir dua tahun bertugas di sana. Oya, dia sudah berkenalan dengan Haera, dan ku rasa ada sesuatu di antara mereka.” Solji terkekeh, “Sementara Wonwoo dan,”

“Kau lihat di mana handukku?” suara bass itu menggema.

Solji jengah, “Memangnya di situ tidak ada?” teriaknya, dengan segera ia menghampiri si pemilik suara dan meninggalkan kameranya di atas meja rias.

Selama keheningan itu, kamera berhasil menyorot seisi kamar berinterior elegan yang dipenuhi warna-warna lembut. Di dindingnya terdapat sebuah rak besar berdesain unik penuh dengan buku. Tak luput dari rekaman, tertangkap juga beberapa pigura di samping kasur king size itu.

Pigura-pigura yang terbilang masih baru dan sangat cantik. Berisi banyak gambar seorang pria dengan stelan jas rapi dan senjata di tangan serta seorang wanita yang memakai gaun putih juga dengan senjata di tangan. Sebuah pre-wedding photo yang mengusung tema yang sangat unik.

***

Aim
Part XVII : Fin(al)

***

Seorang wanita dengan tubuh semampai, rambut hitam kecoklatan yang dikuncir rapi, dengan langkah tegas memasuki lapangan indoor dan berhadapan dengan beberapa polisi di sana.

“Mulai sekarang, sebagai pengganti Pelatih Han Na Yeon yang harus absen karena baru saja melahirkan anak pertamanya,” ucap wanita itu, “aku akan melatih kalian sampai Pelatih Han kembali atau sampai penggantinya datang. Kalian bisa memanggilku Pelatih Choi,”

“Choi Sol Ji.”

“Siap!” seru seluruh pasukan itu.

“Lihat, dari kecil sampai dewasa pun dia takkan pernah tumbuh menjadi gadis manis,” ucap Seungcheol, dari lantai atas memerhatikan Solji yang memulai hari pertamanya melatih bela diri menggantikan isterinya, Nayeon.

Wonwoo hanya tersenyum.

“Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, aku ingin menunjukkan banyak hal tentang Solji padamu.” Seungcheol menatap pria di sampingnya.

Wonwoo mendelik. “Kenapa kau ingin sekali menunjukkannya, Hyung?” herannya.

“Kenapa?” Seungcheol terkekeh, “Wonwoo-ya, kau tak usah pura-pura padaku. Aku tau sebenarnya ada yang ingin kau katakan padaku akhir-akhir ini, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya.”

Hyung, aku,”

Seungcheol keburu mendekap bahunya, “Kau sudah dewasa, Jeon Won Woo. Kau tau apa yang harusnya kau pilih di usiamu yang sudah sangat matang ini.” nasihatnya, “Kau tak perlu takut soal bakcground-mu. Lagipula namamu sudah dibersihkan di persidangan yang lalu, kan?”

Wonwoo ingat itu, “Gomawo, Hyung.” dan Seungcheol lah yang membantunya.

Setelah kejadian menegangkan itu usai, oleh rakyat Korea Selatan nama Wonwoo sempat mencuat dan disebut-sebut sebagai pengkhianat negara dan tidak pantas berada di dalam kepolisian. Hal ini dikarenakan Wonwoo sempat bekerja sama dengan Ilsung untuk mengkhianati negara.

Namun Seungcheol menegaskan bahwa Wonwoo mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan negara ini. Buktinya ia mau kembali pada jalan yang benar, berbalik membasmi Ilsung, dan melindungi segenap bangsanya, bahkan hampir mati.

Tidak ada lagi pembunuh bayaran Park Shi Yeon, tidak ada lagi teroris Jung Il Sung. Semuanya sudah damai dan aman, Korea Selatan tetaplah satu kesatuan yang utuh.

Wonwoo sudah mengurus semua dokumennya yang masih beratasnamakan Park Nam Kyung yang kemudian dirubahnya menjadi Jeon Won Woo. Sebenarnya ada satu alasan kenapa ia membenahi itu semua, namun Wonwoo tak bisa mengungkapkannya pada siapapun.

“Bagaimana? Beberapa identitasmu sudah bernama Jeon Won Woo sekarang, kan?” selidik Seungcheol, Wonwoo terkesiap, “Aku sudah tau, kok.” ditepuknya bahu itu berulangkali.

Wonwoo meragu.

“Kau tak perlu cemas,” kata Seungcheol, “aku sudah merestuimu.”

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^