[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part V : Let's Meet Again

12:28 PM 0 Comments A+ a-

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part V : Let's Meet Again


Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
Other Cast : Irene, Joshua, etc...

Baca juga di

Wordpress | Wattpad

[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^


Happy reading!



***

기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”



***



Gelap, gelap sekali, tak ada bedanya jika aku menutup maupun membuka mata ―sama saja gelapnya. Perlahan namun pasti, aku melihat butiran cahaya. Otakku berusaha mencerna benda-benda berkilau apa kiranya yang ada di sekelilingku ini.

Nafasku seperti terhenti ketika menyadari mereka semua adalah butiran bintang, berkerlap-kerlip dan berkilauan. Nyata sekali. Aku terkejut ketika mendapati tubuhku melayang-layang di antara mereka. Aku terkejut ketika aku mendapati diriku di ruang hampa tanpa udara, di ruang hampa tanpa gravitasi, di ruang hampa tanpa siapapun di sini. “Di mana aku sebenarnya?

Belum sempat aku mengucapkan kalimat itu dengan bibirku, aku terdiam melihat jejeran debu yang berwarna-warni, sangat indah dan bersinar. Mereka membuatku takjub dan terpana. Mereka ada beberapa kumpulan, seperti debu atau awan yang menyembul-nyembul, beberapa membentuk seperti sebuah gambar. Tapi, aku tidak tau apa namanya?

Lalu ada lagi, sebuah pusaran, berputar-putar secara teratur dan juga bersinar, seperti ada ribuan bahkan jutaan bintang mengikuti rotasinya. Tidak hanya satu, namun ada banyak lagi pusaran, bentuknya pun bermacam-macam. Tapi, aku juga tidak tau, apa namanya?

Wonwoo, dia yang tau apa-apa saja semua benda langit ini. Hanya dia yang tau benda-benda apa ini, yang begitu asing di mataku. Dialah yang selalu mengajariku tentang langit, dialah yang menjanjikanku untuk terbang bersamanya.

Andaikan saja ada Wonwoo di sini, dia pasti akan memberitauku : apa nama benda yang berbentuk debu itu, apa nama benda yang berbentuk pusaran itu? Dan terlebih lagi, di manakah aku berada saat ini?

Ketika aku bertanya dan berharap, aku merasakan kakiku berpijak. Aku merasakan gravitasi menggenggam tubuhku. Aku merasakan kehadiran ―kehadiran yang tak ku duga sebelumnya. Aku berputar ke sekeliling, dan aku melihat sesosok di hadapanku.

Otakku mulai menganalisa. Tubuhnya tinggi dan tegap, dia mengenakan stelan jas kehitaman. Dan oh, aku juga melihat beberapa benda-benda kecil menempel pada jasnya. Sepertinya dia mengenakan sebuah topi yang tak asing di mataku.

Sekarang, pandanganku mulai jelas, aku mulai mengenali beberapa benda yang dikenakannya. Stelan jas itu, topi itu, dan benda-benda kecil yang menempel pada jasnya.

Seketika aku membekap mulutku karena terkejut.

Seorang pria, dengan pakaian maskapai penerbangan, lengkap dengan emblem di jasnya, lengkap dengan topi berlambang garudanya. Air mataku berjatuhan ketika aku mengenali siapa pria yang berbalik dan menatapku dengan senyumannya yang khas itu.

Dia, Jeon Wonwoo.


[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part IV : One of these Nights

7:00 PM 0 Comments A+ a-

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part IV : One of these Nights


Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
Other Cast : Irene, Joshua, etc...

Baca juga di

Wordpress | Wattpad

[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^


Happy reading!



***

기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”



***



Seulgi mengangkat nomor internasional itu, “Hello?”

“Gom-ah.” suara yang dirindukannya.

“Wonwoo?” dan Seulgi mengenalinya.

“Hei, um, jam berapa ya di sana?” mula-mulanya dia, Wonwoo, berujar, “Sayang, apa kau sedang menungguku di sana? Di bandara? Aku sedang di New York, dan sekarang sudah tengah malam.”

“Wonwoo,”

“Sayang, maaf aku belum bisa pulang hari ini. Pulanglah terlebih dahulu, nanti ku kabari jika―”

“Wonwoo, kau lagi jet lag?”

“Uh?”

“Suaramu aneh ―apa kau kena jet lag?”

“Tidak, tidak.” Wonwoo segera menyangkal, “I’m fine, gwaenchaneunde ―jeongmal. Aku hanya―”

“Sayang, tapi suaramu parau sekali.”

Terdengar Wonwoo mendesah, nafasnya berhembus dengan beratnya. “Ok, sorry.” ralatnya, “Ya, aku kena jet lag. Beberapa rekanku juga. Untungnya kami masih punya waktu sedikit untuk istirahat ―seharusnya kami bisa kembali ke Korea dan sampai di sana hari ini juga. Jadi kami tidak buru-buru mengejar jam terbang dan kembali ke bandara Incheon.”

“Oh.” Seulgi tak bisa apa-apa, selain bergumam saja.

“Sayang, maaf, aku membuatmu harus menunggu lebih lama lagi.” Wonwoo kembali menyesal.

“Tidak, kesehatan kalian terpenting.” hibur Seulgi, yang tanpa sadar memelintir tali tasnya, “Istirahatlah ―aku akan selalu menunggumu.”

“Seulgi?”

“Mm?”

Mianhada.

Mianeul hajima.” kata Seulgi. Lalu dia berucap lagi dengan nada yang lebih ceria, “Wonwoo, aku menyayangimu!”

Kedengarannya Wonwoo terkekeh, “Gom-ah~..”

“Serius! Aku menyayangimu!”

“Mengaku sajalah ―kau mau aku bilang apa?”

“Wonwoo~~..” dan Wonwoo kembali tertawa mendengar aegyo sori-nya.

“Baiklah, aku akan mengatakannya.” ucap Wonwoo akhirnya, “Kang Seulgi, aku juga menyayangimu.”

“Ah~...” Seulgi bersuara seperti tersipu.

Wonwoo hanya terkekeh, membayangkan bagaimana wajah manis Seulgi yang bersemu merah ditambah aegyo-nya yang lucu ―pasti sangat menggemaskan!

“Sudahlah, katanya kau kena jet lag? Istirahat sana!” Seulgi berusaha mengakhiri obrolan.

“Serius? Kau tidak ingin berbicara denganku lebih lama?” goda Wonwoo.

“Ah, Yeowoo-ya!”

Wonwoo terkekeh lagi. “Mm. Kau juga ―istirahatlah, jangan menungguku terus di sana. Duduk terlalu lama juga capek, kan?” tanpa Wonwoo ketahui, Seulgi mengerucutkan bibirnya ―kecewa tertahan, “Jaga pola makanmu, ya. Jangan terlalu paksakan bekerja, nanti kau kelelahan. Ingat, kau juga butuh istirahat.

Dan terlebih lagi, jangan nakal, ya, Gom-ah.”

Bibir yang mengerucut itu perlahan tertarik ke samping kanan dan kiri, membentuk kurva manis dan mengundang warna merah muda bersemu di kedua pipinya.

“Iya, Yeowoo-ya.” jawab Seulgi.

“Anak pintar.” nada bass yang Seulgi rindukan itu. “Pulang, ya.”

“Iya.”

Jal ga.”

“Mm. Kau juga, jal ja.”

***

[Seulgi POV]

Aku, sambil terduduk sendirian di salah satu kursi kesayanganku di bandara Incheon, termangu sambil memainkan body ponselku ―seakan-akan menunggu seseorang menghubunginya.

Setiap bulan, kira-kira di tanggal ke tujuhnya, aku selalu duduk di sini sejak matahari terbenam selama beberapa jam. Seperti sebuah ritual yang ku lakukan selama bertahun-tahun, aku menunggu Wonwoo pulang mengudara di sini.

Ya, menunggu Wonwoo pulang.


[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part III : Paper Plane Day

7:00 PM 0 Comments A+ a-

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part III : Paper Plane Day


Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
Other Cast : Irene, Joshua, etc...

Baca juga di

Wordpress | Wattpad

[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^


Happy reading!



***

기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***


“... Terlepas dari dugaan sebelumnya yang mengatakan bahwa beliau penyebab human error yang menjatuhkan pesawat, kali ini kami akan membahas singkat mengenai profil pilot MG707, Kapten Jeon Wonwoo.”

“Kapten Jeon merupakan sosok yang sangat teliti dan berwawasan luas. Semasa akademiknya, dirinya banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi dan lomba. Karena prestasinya tersebut, Wonwoo muda mendapatkan tempat di Geum Hwa Airline sebagai pilot bahkan sebelum dirinya dinyatakan lulus dari sekolah khusus penerbangannya.”

“Wonwoo memang anak yang teliti, meski dia tidak banyak bicara tapi dia sangat pandai dan teladan. Dia suka olahraga dan sangat berambisi untuk menjadi seorang pilot. Selain itu, Wonwoo selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca. Itu saja yang aku tau darinya.” ―Min Sun Hee, wali kelas Wonwoo di kelas 11.

“Prestasi dan pribadi Kapten Jeon yang pendiam dan teliti ini tak pernah luput darinya hingga ia menapaki karirnya sebagai pilot di Geum Hwa Airline.”

“Dia junior yang sangat rajin, dan dia selalu menyapa rekan-rekan kerjanya. Dia disiplin, teliti dan sangat mengutamakan keselamatan kerja. Aku sebagai seniornya sering merasa malu, karena bahkan dia yang waktu itu belum ada apa-apanya sudah menunjukkan kebaikan dan kebolehannya di Geum Hwa Airline. Meskipun junior, kami para senior justru belajar banyak darinya.” ―Kapten Park, senior sekaligus rekan kerja Wonwoo di Geum Hwa Airline.

“Aku baru sekali bertemu dengannya, ku rasa itu penerbangan pertama dan terakhir yang aku lakukan bersamanya. Seperti yang rekan-rekan katakan, Wonwoo sunbaenim memang sosok yang sangat rapi dan mengutamakan kepentingan bersama. Dia tidak pernah lupa untuk mengecek ini itunya sebelum lepas landas. Benar-benar teliti. Bahkan di penerbangan terakhirnya. Itulah kenapa, aku ―bahkan kami― sangat menentang pendapat mereka yang menyalahkan Kapten kami dalam kecelakaan ini.” ―Shim Ju Eun, pramugari Geum Hwa Airline.

“Dalam ruang lingkup keluarga, Kapten Jeon memang sosok yang pendiam namun penuh kasih sayang. Mengakui sering bertengkar semasa kecil, adik Kapten Jeon, Bohyuk, seringkali merindukannya setelah sang kakak mulai berkarir dan meninggalkan kampung halaman mereka di Changwon.”

Hyung selalu ingin membuat Ibu tersenyum. Kalau di luar mungkin dia sok keren, tapi kalau di rumah dia sebenarnya usil. Terlepas dari itu semua, Hyung adalah sosok panutanku, persis seperti Ayah kami. Mereka berdua benar-benar panutanku. Sebelum berangkat meninggalkan rumah di Changwon, Hyung berpesan padaku untuk selalu membahagiakan Ibu. Setiap kali ada kesempatan mengirim SMS atau chat, yang pertama ditanyakannya pasti selalu Ibu. Hyung selalu ingin membuat Ibu tersenyum dan lebih bahagia lagi.” ―Jeon Bohyuk, adik kandung Wonwoo.

“Dalam interview eksklusif kami bersama perancang busana muda yang merupakan kekasih dari Kapten Jeon, Kang Seulgi, profil tentang Kapten Jeon pun tidak jauh berbeda.”

“Wonwoo..., orang yang sedikit kaku, tapi hatinya penyayang ―terutama pada keluarganya. Dia selalu mengesampingkan kepentingannya sendiri untuk kepentingan bersama... Jujur, setiap kali berdebat dengannya, aku selalu kalah. Itu karena Wonwoo punya wawasan yang sangat luas. Mungkin orang-orang mengira dia pendiam, tapi sekalinya dia berbicara kau takkan bisa membalas ucapannya... Apapun yang dikatakannya selalu bermakna... Dia..., benar-benar sosok seorang kapten..., buatku...” ―Kang Seulgi, fashion designer.

“Masih dalam berita duka MG707, kita beralih ke kabar selanjutnya. Pemirsa, menganggap hukuman yang dijatuhkan pengadilan pada lima orang ahli mekanik tidak setimpal, beberapa anggota keluarga korban MG707 melakukan protes di depan gedung pengadilan. Tak hanya keluarga korban saja, namun beberapa partisipan dari berbagai kalangan juga menyampaikan pendapat mereka, yang menganggap hukuman berupa kurungan dua belas tahun penjara tersebut terlalu ringan, mengingat apa yang telah kelimanya lakukan telah menewaskan 190 nyawa sekaligus dalam sebuah kecelakaan tragis.

Berawal dari ketidakadilan ini, munculah sebuah gerakan #WithMG707 yang meramaikan dunia maya. Para netizen memposting gambar pesawat kertas berwarna merah muda dengan tagar #WithMG707 di setiap akun SNS mereka, dan menyerukan keadilan untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.”


[FF] Paper Plane (Let's Meet Again) - Part II : Missunderstanding

7:00 PM 0 Comments A+ a-

Paper Plane
(Lets Meet Again)
Part II : Missunderstanding


Author : Near
Genre : Sad-Romance, Angst/Hurt
Length : Mini chaptered (5 chapters)
Main Cast : Kang Seul Gi, Jeon Won Woo
Other Cast : Irene, Joshua, etc...

Baca juga di

Wordpress Wattpad

[WARNING]
Near itu suka banget sama genre Angst, dan
Near cukup percaya diri kalau bikin fanfiction ber-genre Angst.
Jadi, jangan baper, ya.

***

Siapa itu Seulgi? Siapa itu Wonwoo?
Yeoreobun,
bagi yang ketinggalan, silahkan baca part dan/atau teaser sebelumnya!^^


Happy reading!



***

기다림은 내겐 사소한 일일 뿐인 
(gidarimeun naegen sasohan iril ppunin geol)

“Menunggu hanyalah hal sederhana buatku”

***




“... Di belakang saya saat ini telah berdiri beberapa posko darurat khusus bagi Tim SAR yang telah mengevakuasi jenazah penumpang maupun awak pesawat MG707 dan, pemirsa sekalian, kami―”

“..., kecelakaan ini menewaskan sebanyak 180 penumpang serta 10 kru pesawat yang tadinya berencana terbang―”

“..., Angkatan Udara menyatakan bahwa tragedi MG707 ini menjadi kecelakaan pesawat terburuk dalam sejarah penerbangan Korea Selatan―”

“..., telah teridentifikasi tiga jenazah di mana dua di antaranya adalah penumpang dan satunya adalah seorang pramugari dari Geum Hwa Airline yang―”

“..., Pemerintah Korea Selatan memerintahkan agar Tim SAR mengevakuasi seluruh korban, dan juga mengevakuasi setidaknya sebagian besar bangkai pesawat―”

“..., juga dibentuk tim khusus yang akan mencari keberadaan black box yang saat ini belum juga ditemukan―”

“..., menjanjikan pada seluruh keluarga korban―”

Irene bisa melihat, bahkan dari punggungnya saja, Joshua terlihat begitu berduka. Sejak ia bangun tidur, yang menyambut Irene adalah suara-suara buruk itu. Memang, sebenarnya Joshua tidak bisa tidur semalaman dan mungkin saja di paginya dia menyalakan televisi lalu menonton berita.

Diam-diam dari ambang pintu kamar mereka, Irene ikut merasakan kepedihan. Semua berita itu hanya menjadi duka buatnya, juga buat Joshua.

Sweetie?” kaget Joshua, tak sengaja merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, dan menemukan Irene berdiri tak bergeming di ambang pintu.

Segera Joshua matikan televisi itu. Namun mengejutkan, “Nyalakan saja.” perintah Irene tanpa bergerak seinci pun. Meski tadinya merasa janggal, Joshua pun menuruti kemauan Irene. Dia menyalakan kembali televisi yang menyiarkan kabar duka itu.

Kabar duka bagi Korea Selatan.

Joshua mendatanginya, menghampiri tubuhnya, lalu memeluknya sayang. “Irene,” bisiknya setelah mengecup pucuk kepalanya.

“Apa kau tidak merasa kehilangan teman masa kecilmu?” pandangan Irene kosong.

Lelaki itu menghela nafas. “Jangan bersedih, sayang.” diusapnya lembut rambut pirang tu.

“Ada yang lebih bersedih sekarang, Josh.” lalu Irene menatap pria yang memeluknya, “Seulgi ―dia sangat berduka.”

Joshua mengangguk sendu.

“Ayo kita temui dia.”

“Tapi, Irene,”

“Aku janji aku takkan menangis.”

Joshua menatapnya dalam-dalam. Otaknya terus mengajukan banding. Namun pancaran lembut sepasang mata itu tak mampu membuatnya menolak.

“Bersiap-siaplah,” suruh Joshua ―yang berarti iya.


감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^