Annyeong,
yeoreobun...! Terutama buat ELF-deul dan SONE-deul...!
Kalau Nate pernah
bilang sebelumnya bahwa blog ini cuma bisa ngeposting FF dan gak bisa
ngeposting info terbaru, sekarang aku mau ngeposting sebuah postingan yang
bagiku harus dibaca, terutama sama ELF-deul dan SONE-deul~~...
Satu catatan di
sini. Nate nulis ini dengan perasaan campur aduk. Aku gak bermaksud sok ngatur
kalian (especialy dua fandom ini) dan cuma bertujuan untuk memberitau. Yang setuju,
yang gak setuju, yang ngerasa, yang menyesal, dan lain-lainnya, mari
berkomenria di postingan ini dan jangan berbuat yang enggak-nggak (lagi).
Ingat, jangan
memalukan nama fandom dan diri sendiri...!
Nate mau to the point aja biar langsung jelas. Aku
mau tanya, kalau kalian punya favorite K-Idol ada gak K-Idol yang gak kalian
suka? Mungkin salah satunya SoShi, ya? ^^bagi
yang gak tau, SoShi itu kependekan dari So Nyeo Shi Dae (SNSD)^
Joesonghamnida, kalau agak menyinggung...
Nate seneng banget
berseluncur di Facebook (FB) dan banyak yang aku lakukan di situ, salah satunya
berbaur dengan para penggemar di fan page,
dan kebanyakan yang ku like adalah
buatan para ELF-deul~~...!^
Banyak banget dari
mereka yang nge-bash SoShi ketika ada
admin yang nge-share gambar Super
Generation, Super Junior – Girls’ Generation. Nate sampe bingung. Waeyo? Kenapa
begitu? Wae geurae?
Menurut Nate,
kebanyakan dari kalian ^^kebanyakan, lho,
ya.. gak semua..^ agresif dan kurang terbuka... Jadi ketika SJ dekat dengan
SoShi ^^dalam hal apapun^ kalian
enggak rela dan mulai berbuat yang ‘enggak-enggak’... Joesonghamnida...
Tapi Nate juga agak
heran ketika kalian lebih senang kalau SJ dekat dengan yeoja(deul) ini-ini...
Sementara SoShi, kalian menentang... Joesonghamnida...
Sekarang, buat ELF
dan SONE...
Kalian nyaman gak,
sih, dengan adanya fanwar di antara kalian? Rasa kesal, bingung bikin
rencana untuk kasih pembalasan, marah, gak suka, gak terima, ngelempar
kata-kata yang bikin geleng-geleng kepala..., dan lain-lain.. Apa itu nyaman?
Buat Nate, itu sama sekali enggak...!
Sashil (jujur aja),
buat ELF, salah satu member SJ pernah bilang gini dari salah satu quotes-nya : “Ketika ku dengar ELF dan
fandom lain saling memaki, aku ingin berkata ‘Jangan mengaku ELF kalau masih menghina idola orang lain...’.” ^^aku sengaja gak kasih tau siapa... jadi, ada
yang tau? yang enggak tau mari bertanya di komenan ini atau kontak langsung di
FB saya~~...^ Jadi, apa pendapat kalian? Geurigo, apa yang akan kalian
lakukan setelah mendengar kata-katanya?
Nate sedih banget
pas dengar dari teman-teman K-popers Nate yang menceritakan fanwar diantara ELF dan SONE yang sampai
black ocean buat salah satu member
SoShi di Dream Concert, pengguntingan banner
ELF, penghalangan jalan buat SONE untuk ketemu SoShi..., dan lain-lainnya yang
bikin orang lain berdecak pusing...
Apa jangan-jangan
kalian kena pengaruh ELF dan SONE di Korea, kah? Nate pernah berpikir begitu...
Joesonghamnida.. Sorry to say.. Tapi,
cerita itu dari sana...
Coba, deh, pikir
lagi... Apa, sih, tujuan kalian nge-bash?
Ada untungnya gitu buat kalian? Berbuat hal tercela seperti itu cuma bakal
menambah masalah dan apa masalah kalian terselesaikan? Ada yang bisa jawab?
Gak usah
jauh-jauh... Di Indonesianya aja, kalian juga masih suka saling melempar bash dengan para fans dari ‘boy group’ atau
‘girl group’ ini. Nate sengaja gak
kasih tau siapa grupnya supaya gak semakin ruyem...
Jujur, loh... Ada
yang bilang dari mereka kalau SJ plagiat ‘boy
group’ ini karena SJ baru debut di tahun 2012?! ELF, kesel gak? Mau nge-bash balik gak? Ngaku, deh! Mungkin
sebagian besar bilang iya, dan sisanya bilang enggak..., ya, tho? Kalau Nate
emang kesal, tapi aku gak mau nge-bash balik
karena itu cuma akan ngebuang tenaga dan waktu Nate tanpa hasil apapun, dan aku
cuma memberi mereka kebebasan untuk bicara meskipun itu memang 1000% salah..
Buat SONE, pasti
ada fanwar dengan ‘girl group’ ini (masih dari Indonesia),
kan? Nate sedih banget menemukan fakta bahwa kebanyakan dari fan page SONE-deul yang ku like kena hack! Dan ada hakcer yang
bilang : “Hai! Saya - - - -...!!! (fans
‘girl group’ ini)” dan mencantumkan
nama salah satu admin. Ya, kan?
Dan ada satu SONE
yang mengajak SONE lainnya untuk ngebajak sebuah grup di FB yang dibuat oleh fans ‘girl group’ ini. Pas ku tanya lagi, ia memang mengajak untuk hacking. Serius, SONE-deul, Nate
benar-benar gak suka cara itu!
Sadar gak, sih?
Menurut Nate, mereka nge-hacking fan page
kalian dan mengaku sebagai fans dari
‘girl group’ ini belum tentu mereka
benar-benar fans-nya, lho! Coba, deh,
kalian berpikir sekali lagi kalau kalian ada di posisi mereka! Apa kalian akan
mengaku sebagai SONE? Enggak, tho?
Menurut Nate,
orang-orang seperti mereka (yang hacking)
itu cuma mau mengadu domba kalian dengan fans
‘girl group’ ini. Semakin kalian
heboh ber-fanwar-ria, semakin hacker ini senang...! Mulai sekarang,
pikir-pikir lagi kalau kalian mau hacking
grup atau halaman fans ‘girl group’ ini...! Ini pendapat Nate... Mungkin pengakuan
si hackers ini bisa ada benarnya... Joesonghamnida...
Balik ke topik
utama, ELF, SONE... Kalau kalian gak suka idola kalian saling berdekatan dan
berharap mereka jauh, Nate rasa itu mustahil... Karena mereka memang satu management, tho? Otomatis mereka akan
saling bertemu...
Sadar gak? Kyuhyun
Oppa adalah teman baik Yoona Onnie, Sunny Onnie belajar gitar dari Sungmin
Oppa, Heechul Oppa bilang kalau Jessica Onnie adalah ‘kembarannya’, dan
lain-lainnya... Artinya mereka dekat, kan?
Kalau idolanya bisa
akur, kenapa fans-nya enggak? Coba,
dong, ELF-deul, SONE-deul, kita renungi lagi... Kita bilang, kita cinta damai,
tapi kalau masih suka bashing
dan/atau fanwar namanya kita gak
cinta damai...
Come on!
Jadilah K-Popers yang gak macem-macem... Jangan terlalu fanatik juga, dan juga
jangan suka berbuat demikian... Nate gak melarang kalian untuk beli merchandise, album, nonton konser
sana-sini, tapi tetap harus punya pegangan... Jangan sampai kelewatan menyukai,
ya~~...?!^ Dan Nate gak mengekang kalian untuk menyukai couplemanapun, itu hak kalian, kok…
Monggo, yang
setuju, yang gak setuju, yang ngerasa, yang menyesal, yang mau berpendapat, dan
lain-lain tentang postingan ini ^^kecuali
nge-bash dan fanwar^ silahkan
tuliskan partisipasi kamu di komenan yang ada di bawah~~~...^^
Sekali lagi,
joesonghamnida kalau ada kata-kata yang salah dan menyakitkan... Nate cuma
berpendapat dan gak bermaksud sok mengatur, hanya memberitau...
Kyaaa~~, FF ini Nate buat
¼ nya di sekolah gegara buku
tulis FF-ku ketinggalan~...! ~_~ ^^padahal
mau nulis ending-nya~~...?!^
Bosen, jadi buka buku
coret-coretan buat nulis FF ini, yang emangone shot... ^^tapi panjang banget, ya, thor~~..? 16
HVS...!^ Namun baru nulis pembukaannya, Bu guru sudah masuk kelas dan siap
memberi materi~~.. Geuraeseo, penulisan FF ini juga agak terhalang dengan
kewajiban tersebut...
Meski begitu, Nate bisa
lanjutin lagi pas jam kosong~~.. ^^namanya
juga hobi, ya~~^ Dan ¾ nya aku lanjutkan di rumah dan langsung ditik~~
Daripada Reader-deul pada
bosen dengan ocehan Nate, mending langsung baca FF ini aja, ya~~.. Oya, satu
catatan yang harus dibaca sama
Reader-deul...
Di FF ini, Geun Onni
adalah yeoja yang agak ceroboh dan kurang hati-hati~~...!
Oya, satu lagi buat
para YeMoon shippers, kita gak bisa berharap banyak dari couple favorit kita
ini... Kita juga harus mengerti keadaan mereka yang sebenarnya di dunia
nyata... Kita gak bisa menuntut mereka ini itu dengan keadaan seperti ini...
Ini memang bukan FF pertama Nate yang
pernah ku tulis, tapi ini FF pertama yang Nate share di blog sebagai ‘hidangan pembuka’ sebelum FF-deul yang
lainnya... Kalau responnya bagus, akan ku usahakan mengetik FF lagi~~...!
OK, Reader-deul...,
Happy Reading~~...!
Author
RetnoNateRiver
*****
[Geunyoung POV]
—“Aku
memang bukan manusia sempurna... Maka dari itu, aku pasti punya banyak
kesalahan... Tapi..., kenapa...? Kenapa seakan-akan..., Oppa tak memaafkan
kelemahan itu...?”— (Moon Geun Young)
Beberapa minggu yang lalu...
Oppa baru saja
mencium bibirku. Ya, Yesung Oppa menyempatkan waktunya yang sempit hanya untuk
menjengukku.
“Kenapa Oppa
menciumku? Aku, kan, sedang sakit...” ujarku sambil mendongak untuk menatap
mata kecil namja yang punya tinggi 12cm lebih tinggi dariku ini.
Oppa kemudian
mengecup keningku. Lalu ia memakai topi dan jaket hitamnya yang ia gunakan
untuk menutupi identitasnya.
“Hati-hati...”
pesanku.
Oppa hanya
tersenyum. Ia kemudian beranjak pergi dari apartement-ku. Sebagai salah satu member SJ, ia memang sangat sibuk...
Tapi...,
apa karena hal itu..., Oppa tak bisa memaafkan kelemahanku
ini...?
*mian*
Oneul...
“Geunyoung-ah...,
kau tak apa...?” tanya Manager Oppa.
“Hm. Nan
gwaenchanha...” jawabku.
“Aigoo~~... Lain
kali kau harus lebih hati-hati lagi...” pesannya.
Aku hanya menunduk,
duduk-duduk di atas kursi dengan seorang crew
wanita yang mengobati luka di kakiku. Ya, scene
bersepedaku ditunda sementara karena kecerobohanku : aku jatuh dari sepeda.
Kemudian, ponselku
berdering. Aku sudah tau pasti siapa yang menelponku dari nada deringnya. Dan
ketika ku lihat layar ponselku..., benar, Yesung Oppa.
“Yeoboseyo...?” ku
angkat panggilannya.
“Kau kenapa? Kau
terluka? Bagaimana keadaanmu?” tanya Yesung Oppa segera, dengan nada yang agak
berat dan tergesa-gesa.
Aku hanya menghela
nafas. “Hanya luka di kaki...” jawabku, sejujurnya berat untuk mengucapkannya.
“Aish...”
gerutunya, “Kau harus hati-hati..! Jangan ceroboh..!” omelnya. Ah, tidak. Ia
hanya menegurku, itulah yang Oppa lakukan disela-sela kesibukannya padaku
akhir-akhir ini.
Lagi-lagi aku hanya
menunduk, serasa menciut dengan kata-kata yang Oppa lontarkan. “Mian...”
ujarku, hanya itu yang bisa ku ucapkan.
“Bagaimana lukamu?
Sudah diobati?” tanyanya, masih dengan nada yang sama.
“Ne... Sudah...”
jawabku.
Terdengar desahan
nafasnya, ia menggerutu. “Jangan ulangi hal ceroboh seperti ini lagi..! Kau
harus selalu berhati-hati..! Kau harus mengingatnya..!” kali ini aku
benar-benar merasa kalau Oppa mengomeliku... Kali ini..., dan selama ini...
“Mian...” ujarku
lagi. Ingin menangis rasanya mendengar Oppa mengomeliku dan membuatnya khawatir
di kesibukannya karena kecerobohanku ini.
“Harusnya kau...,”.
“Ya, Yesung-ah...!”
ku dengar sayup-sayup suara Leeteuk Oppa dari telepon, memanggil Yesung Oppa.
Sudah waktunya baginya untuk menutup panggilan dan melanjutkan jadwalnya yang
tertunda.
Lagi-lagi ku dengar
Oppa mendesah. “Sudah.. Aku pergi dulu...” pamitnya.
“Ne, Oppa...”
kataku.
“- - -” nada
panggilan terputus. Oppa benar-benar sibuk, ia tak memberiku pesan terakhir seperti
biasanya, tapi aku memaklumi hal kecil itu.
“Oh...” Manager
Oppa hanya mengangguk kecil, sudah mengerti bahwa Yesung Oppa-lah yang aku
maksud.
“Geunyoung-ssi...” crew yeoja itu bangkit, “lukamu sudah ku
obati...”.
Aku tersenyum,
“Gomawoyo...” kataku.
“Han PD bilang, scene ditunda sampai besok karna kau
harus is...,”.
“Tolong katakan...,
pada Han PD...,” selaku segera, “aku siap untuk scene ini...”.
***
Aku kesulitan
tidur.
Aku merasakan perih
yang luar biasa di kakiku, luka tadi. Memang harusnya aku istirahat tadi, tapi
aku tidak suka menunda pekerjaanku.
Ku rebahkan tubuhku
di atas kasur. Ketika ku lirik, jam menunjukan pukul 10.04 pm. Aku yakin, Oppa
pasti belum tidur.
Aku raih ponselku
yang ada di atas meja dekat kasur. Aku segera menekan fast dial nomor satu, nomor ponsel Yesung Oppa.
Aku ingin Oppa
mengangkat panggilanku, begitu harapku. Namun bahkan sampai panggilan yang ke
25, Oppa tak juga mengangkat panggilanku.
Oppa belum tidur
pasti. Ya, karena ia masih punya jadwal sampai tengah malam ini, dan bodohnya
itu tak terpikirkan olehku.
Sebenarnya, Oppa
bukanlah orang yang suka mengomel, ia hanya cerewet. Aku tau, Oppa sangat
menghormati perempuan. Tapi entah apa yang mengganggu pikirannya akhir-akhir
ini.
“Oppa pasti sedang
tertekan...” gumamku.
Kemudian, masih
dengan perihnya luka di kakiku, aku beranjak tidur dengan perasaan yang tak
karuan.
*mian*
Pagi-pagi begini...
Ku biarkan Manager
Oppa duduk di jok mobilku yang ada di samping kiriku, ia sedang mengurus
beberapa jadwalku yang sangat penting.
Ketika menyetir,
ponselku yang ada di dasbor berdering. Aku meraihnya. Dan kemudian,
“Geunyoung-ah,
awas...!!!” seru Manager Oppa, ketika tiba-tiba mobil yang ku kendarai hampir
menabrak mobil lain.
Aku segera
terkesiap dan membenarkan posisi mobilku dengan tiba-tiba, sehingga kami berdua
hampir terjungkal. Lagi-lagi, kesalahanku...!
“Aigoo...” Manager
Oppa hanya mengusap dada, hampir jantungan dengan ulahku. “Kau sedang menyetir...!
Jangan mengangkat panggilan di ponsel sembarangan...!” katanya, “Harusnya, kau
pakai handset atau apalah itu...!”.
Aku hanya
mengangguk-angguk, “Ne... Mianhae...” kataku.
Manager Oppa
kemudian meraih ponselku yang jatuh itu, “Biar aku yang angkat...” katanya,
kemudian ia mengangkat panggilan itu. “Yeoboseyo...? Ah, Han PD...! Ne..,
...,”.
Tak lama, kami
sampai ditujuan, dan panggilan yang rupanya dari Han PD itu juga sudah selesai.
“Handel &
Gretel...?” ujar Manager Oppa ketika ia mengetahui tujuanku ini. Ia kemudian
menatapku, “Mau apa ke sini...?” tanyanya kemudian.
“Nanti juga tau...”
kataku.
Kami berdua segera
turun dari mobil dan memasuki restoran kecil itu. Mataku menangkap Jongjin
—adiknya Oppa— yang tengah membersihkan teras.
“Eh, Geunyoung-ah...?”
ujarnya begitu melihatku datang, ia tersenyum padaku dan ku balas pula ia
dengan senyuman.
***
“Ah, Yesung juga belum
mengunjungi kami sejak empat atau tiga bulan yang lalu...” ungkap Ahjuma,
Umma-nya Yesung Oppa. Ia sempatkan waktunya untuk duduk-duduk bersamaku.
Beruntunglah, restoran ini masih sepi.
“Ne wol...? (Empat
bulan...?)” ujarku, kaget. Rupanya, Oppa juga tidak ke sini selama itu, lebih
lama daripada aku yang tak pernah ditemuinya yang jika dihitung baru dua bulan.
“Ah... Tapi tak apalah...
Namanya juga bekerja...” kata Ahjuma, “Ia pasti sangat sibuk...”.
“Apa..., ia pernah
menelpon Ahjuma atau anggota keluarga yang lainnya empat bulan ini...?”
tanyaku.
“Hmm... Itu dia
yang membuatku sedih...” kata Ahjuma, “Yesung tidak pernah sesibuk ini.. Bahkan
kami tak menerima kontak apapun darinya... Ia lebih sibuk daripada biasanya...”
jelasnya, “Meski sibuk, ia selalu menyempatkan waktunya untuk sekadar mengirim
sms atau menelpon kami seminggu sekali..., itupun paling jarang... Tapi kali
ini tidak.. Aku selalu khawatir akan kesehatannya...”.
Rupanya, Ahjuma
mengalami hal yang juga aku alami.
“Telpon kami tak
pernah dijawab, juga pesan tak pernah dibalas...” cerita Ahjuma, “Kalau ku
lihat-lihat, ia memang sering muncul di televisi... Ia juga sering muncul di
siaran radio selain Sukira yang letaknya ada di seberang sana...”.
Aku menunduk
(lagi). Oppa benar-benar sesibuk itu rupanya.
***
Sesuai yang ia
katakan dalam panggilan tadi, Han PD menyuruhku datang ke lokasi syuting.
Tapi...,
“Geunyoung-ah...?
Gwaenchanha...?” tanya Manager Oppa melihatku dengan pakaian yang akan ku
gunakan untuk scene ini.
“Gwaenchanha...”
kataku, heran, “Waeyo...?”.
“Kau...,
kelihatannya agak pucat...?” kiranya, “Atau ini karena make up yang berlebihan...?”.
“Aku belum memakai make up...” ujarku, masih dengan nada
heran.
Manager Oppa
mengernyitkan dahi. Heran, tapi juga khawatir. “Kau..., yakin..., tidak
apa-apa..?” tanyanya memastikan.
Aku mengangguk,
“Hm. Tidak apa-apa...” kataku.
Manager Oppa hanya
terdiam, ia sudah cukup bingung mungkin. Kemudian tak lama, seorang penata rias
menghapiriku dan lalu me-make up-ku.
Namun kemudian...
Aneh, aku merasa
pusing, tapi kenapa...?
“Geunyoung-ssi,
gwaenchanhseumnikka...?” ujar penata rias itu cemas.
“Oya, dokter
menyuruhmu istirahat sementara...” sambungnya, ”Seperti biasa, kau demam
lagi...! Tapi tidak terlalu parah, jadi kau cukup istirahat saja...”.
“Bagaimana dengan
syuting?” tanyaku segera.
“Aigoo...” ujarnya
^^BT, ya~~...?^, “Kau masih saja menanyakan
itu ketika kau begini? Tentu saja ditunda!”.
“Mwo?!”.
“Tapi jangan
khawatir soal itu...” Manager Oppa kemudian berpaling dariku, namun karena aku
belum memberi respon ia kembali menatapku dan mendapatiku yang masih khawatir
soal topik sebelumnya —syuting—. “Kenapa menatap begitu?!” ujarnya, “Telpon Umma-mu
sekarang juga...! Ia sangat khawatir akan dirimu...!”.
***
[Author POV] ^^gantian, ya, Onnie~~..^
Malam yang dingin,
tapi meski masih dengan jaket dan tas yang melekat padanya, Yesung tak peduli
akan hal itu.
Yesung melangkahkan
kedua kaki jenjangnya menuju sebuah kamar rawat. Kemudian, ia menemukan kamar
yang dicarinya.
Ketika ia membuka
pintu kamar itu, ia mendapati yeoja-nya tengah menyantap makanan yang rumah
sakit berikan padanya.
Mata mereka saling
bertemu.
Sendok yang hendak
dilayangkan Geunyoung —yeoja-nya Yesung— ke mulutnya itu terhenti ketika
matanya menangkap sosok Yesung yang sudah lama ditunggunya selama ini.
“Yesung..., Oppa...?” ujarnya, setengah kaget tapi juga girang.
Tatapan Yesung
berubah tajam. “Aish...” ia menggerutu, “Kau tak apa, kan...?” tanyanya,
terdengar cuek.
Geunyoung
mengangguk ragu, kegirangannya hilang ketika ia mendengar nada yang cuek itu.
“Gwaenchanha...” jawabnya.
Yesung menatap
Geunyoung kembali dengan tatapan tajam tadi, “Eo...? Ku bilang kau harus hati-hati...!
Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri...?!” omelnya, “Daya tahan tubuhmu
itu lemah...! Jadi, jaga dengan baik...! Sekali lengah, kau bisa langsung
sakit...!”.
“Lain hari, aku tak
mau mendengar kau kenapa-kenapa lagi...!” lanjut Yesung, “Kau ingat?”.
“Ne, Oppa... Aku
akan mengingatnya...” jawab Geunyoung, suaranya bergetar.
“Eo...” ujar
Yesung, sebagai tanda pamit.
Kemudian, Yesung
melangkah keluar dari kamar tempat Geunyoung dirawat. Ia benar-benar pergi
dengan langkah berat itu.
Ketika Yesung
benar-benar tak ada di kamarnya, Geunyoung masih menunduk. Kemudian, ia melihat
tetesan air mata di selimutnya, tanpa sadar ia menangis.
“Neon jinjja
paboya, Geunyoung-ah...! (Kau memang bodoh, Geunyoung-ah...!)” gumamnya
sendiri.
Ia tak lagi
berselera makan, meski memang ia lapar dan Yesung pasti akan menyuruhnya untuk
menghabiskan makanannya. Tapi itu takkan terjadi.
Sementara di luar,
Yesung tak benar-benar pergi.
Ia masih di depan
pintu. Tatapan tajam yang tadi ia arahkan pada Geunyoung, yeoja-nya, kini
hilang dan berubah menjadi tatapan bersalah.
“Yesung-ah, jugeulkke...!! (Yesung-ah, kau
akan mati...!!)” kutuknya dalam hati pada dirinya sendiri, mendengar
sayup-sayup suara Geunyoung dan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
*mian*
[Geunyoung POV]
Aku merasa baikan
hari ini. Ku katakan pada Manager Oppa kalau kau ingin pulang hari ini juga.
“Aku tidak
yakin...” ujar Manager Oppa, ketika ia menemaniku membereskan barang-barangku
yang ada di ruang rawatku.
Bersamaan dengan
suara itu, pandanganku berubah gelap.
*mian*
Aku merasakan bahwa
aku tengah terbaring di atas sebuah ranjang, namun ini bukan ranjangku. Hatiku
sudah bisa menebak ranjang siapa ini.
Aku membuka mata,
dan lagi-lagi ku dapati sinar lampu yang menyilaukan mataku itu. Ku telusuri
sekeliling dan dugaanku benar-benar tidak salah ketika aku menyadari bahwa aku
memang masih di rumah sakit, tidak pulang. Dan aku masih terbaring di atas
ranjang rumah sakit.
Ku dapati selang
infus di samping kiriku, ujungnya menancap pada punggung telapak tangan kiriku.
Ah, jinjja... Kini aku merasa bosan.
Kali ini, tak ada
Manager Oppa di sini. Hari sudah malam, mungkin ia pulang ke rumah. Kasihan
juga anak dan istrinya di rumah, apalagi anaknya yang masih kecil itu.
Aku belum sanggup
bangkit, bahkan hanya untuk duduk di atas ranjang. Kemudian, aku melirik ke
tasku yang ada di atas kursi sana dengan risleting yang terbuka, memamerkan
lembaran-lembaran skenario dari Han PD yang ku simpan di dalamnya.
Tiba-tiba, sebuah
ide muncul di pikiranku.
***
[Author POV] ^^saya lagi...^
Ia kabur dari
siaran Sukira yang menunggunya, tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan pada
Leeteuk yang paling dekat dengannya tadi. Dan untungnya (?) juga tak ada yang
menyadari tindakannya sampai saat ini.
Ya, namja dengan
jaket hitam dan tas abu-abu itu memang Yesung —orang yang kabur dari siaran—.
“Ada yang bisa kami
bantu...?” tanya seorang resepsionist wanita ketika Yesung mendekat ke mejanya.
“Um... Aku mencari
seorang pasien bernama Moon Geun Young... Yang waktu itu menempati ruang rawat
di bagian Pparan... Apa ia masih di situ...?” tanya Yesung segera.
“Jamkkanman
juseyo... (Mohon tunggu sebentar...)” ujar resepsionist itu. Kemudian ia
mengecek nama yang Yesung maksud itu di layar komputernya. “Ah, Nn. Moon Geun
Young, ya...?” ujarnya begitu menemukan nama yang dimaksud, “Ya. Ia masih di
sana...”.
“Gamsa hamnida...!”
ujar Yesung segera.
Tanpa basa-basi, ia
segera melesat menuju ruang yang pernah ia datangi tempo hari itu. Letaknya ada
di lantai dua.
Sampai di bagian Pparan,
Yesung menelusuri koridor dan menemukan pintu ruang tempat Geunyoung dirawat.
Ia membuka pintu
itu sesegera mungkin. Namun ia terkejut ketika ia tidak mendapati siapapun di
dalamnya, tidak ada Geunyoung.
“Mwo?!” pekiknya, “Ke mana dia...?!” batinnya.
Kembali Yesung
melesat keluar. Dan ketika ia melewati balkon, langkahnya terhenti. Ia
mendengar suara seseorang yang dicarinya. Lantas Yesung mendekat ke balkon dan
mencari sumber suara itu. Rupanya, dari bawah.
***
“... ‘Aku tidak
akan menerimanya...!’...” Geunyoung membaca dialog di tangannya. Ia lalu
menghirup nafas dalam-dalam, dan mulai berdialog tanpa lawan bicara itu (tengah
menghafalkan dialog) —karna memang itulah yang ia lakukan sejak 30 menit yang
lalu—, “Aku tidak akan...,”.
“Geunyoung-ah...”
panggil sebuah suara dari belakangnya, suara seorang namja.
Penutup kepala dari
jaket tebal yang Geunyoung pakai membuatnya tak mampu melirik namja itu. Jadi,
ia berbalik dan mendapati Yesung-lah yang ada di belakangnya.
“Yesung...,
Oppa...?” ujar Geunyoung ragu.
Kembali Yesung
mendesah, dan menatap Geunyoung dengan tatapan tajamnya. “Malam dingin begini
bisa-bisanya kau ada di luar...?” ujarnya, menatap Geunyoung dari ujung kaki
hingga ujung kepala.
Ia ingat betul
jaket merah muda pudar itu yang tengah Geunyoung pakai, beserta penutup
kepalanya. Itu jaket yang pernah ia berikan pada Geunyoung setahun lalu ketika
yeoja ini berulangtahun.Yesung sangat senang melihat Geunyoung memakai benda
pemberiannya itu, apalagi yeoja ini terlihat sangat manis ketika
menggunakannya.
“Mi, mi, mian...”
ujar Geunyoung ragu.
“Aku mendapat
kabar...” kata Yesung, “Harusnya hari ini kau pulang..., tapi kau kembali sakit
dan masih di sini...” katanya.
Geunyoung menunduk,
ia benar-benar merasa sedih.
Yesung mengatur
nafasnya yang tidak beraturan, mencoba menabahkan diri. Tapi sepertinya, itu
tak ada gunanya.
“Bukankah aku sudah
bilang padamu agar kau menjaga diri dengan baik...?” ujar Yesung dingin,
“Kenapa kau mengulangi kesalahanmu lagi?!! Wae?!!” kali ini —dan untuk pertama
kalinya— ia membentak Geunyoung.
Kali ini, Geunyoung
merasa benar-benar takut. “Mi, mian, Oppa... Mianhae...” ujarnya, lagi-lagi
suaranya bergetar.
“Eo? Kau lupa?!”
lanjut Yesung, “Kau bahkan sudah berjanji padaku untuk mengingatnya!!”.
Geunyoung tak mampu
membalas kata-kata Yesung, bahkan hanya untuk membalas dengan kata ‘mian’.
“Ku rasa sudah
cukup... Sampai di sini saja...” kata Yesung dingin, “Aku bahkan melewatkan
banyak hal yang penting...,
hanya untuk
menemuimu...“.
“Mwo...?!” batin Geunyoung, “A, a, apa yang..., Oppa katakan...? Apa...,
seberat itukah ia..., hanya untuk menemuiku...? Apa itu alasannya selama
ini...?”.
Yesung kemudian
berbalik, kata ‘Aish’ tak lagi dilontarkannya, menurutnya kini kata itu hanya
kata biasa.
Air matanya jatuh
(lagi). “Ini memang sakit... Tapi
kata-kata itu lebih sakit lagi...” batin Geunyoung, hanya mampu menatap
punggung Yesungyang semakin
menjauhinya, “Jika benar Oppa tak peduli
lagi padaku..., jika benar seberat itu pengorbanan Oppa hanya untuk
menemuiku..., kenapa Oppa masih meneruskannya...? Kenapa tidak Oppa putuskan saja...,
agar ia bisa lebih fokus pada pekerjaannya...?”.
“Bruk!!”.
Yesung mendengar
sebuah suara dari belakangnya. Langkahnya berhenti, dan ia menoleh ke belakang.
Ia terkejut ketika
mendapati Geunyoung sudah tergeletak di atas rerumputan landai itu, tak sadarkan
diri.
“Geunyoung-ah!!”
pekik Yesung. Ia menjatuhkan tasnya begitu saja, dan menghampiri Geunyoung.
Tatapan dan
kata-kata tajamnya seakan sirna secara tiba-tiba, ketika ia menyadari keadaan
Geunyoung saat itu.
Ia merangkul
Geunyoung dalam pangkuannya. “Geunyoung-ah! Kau mendengarku, kan?!” ia
guncangkan tubuh Geunyoung, tapi tak ada respon dari yeoja-nya itu,
“Geunyoung-ah!!” panggilnya.
***
Geunyoung sudah
berada di ruang rawatnya kembali, meski ia dalam keadaan tidak sadar.
“Managaer hyung,
terima kasih, ya, kau selalu memberitahuku soal keadaan Geunyoung...” kata
Yesung ketika ia bersiap untuk pergi.
“Ah, awalnya aku
juga ragu, apakah aku mengganggumu atau tidak...” kata Manager Geunyoung
itu,”Kelihatannya..., kalian jarang bertemu, ya...? Kau pasti sibuk...”.
Yesung hanya
tersenyum tipis mendengarnya.”Suatu hari nanti..., kami akan seperti dulu
lagi...” katanya.
Manager memandang
Yesung, “Aigoo... Daripada kalian berdua tertekan, kenapa tidak publikasikan
saja... Bukankah di luar sana banyak penggemar yang mengharapkan kalian
bersama-sama...?” sarannya.
“Jangan dulu...”
kata Yesung, “Aku mengkhawatirkan Geunyoung kedepannya...” katanya. “Aku pergi
dulu, Manager hyung...!” pamit Yesung setelahnya, tersenyum pada Manager.
Yesung kemudian
bangkit. Langkah yang awalnya menuju pintu kemudian berbelok ke arah Geunyoung
yang ada di ranjang.
Ia berjalan menuju
yeoja yang masih terpejam itu. Kemudian, Yesung mengecup keningnya, ia rindu
akan hal ini.
“Bersabarlah, Geunyoung-ah...” batin
Yesung, “Oppa-ga doraolkeoya... (Oppa
akan kembali...)”.
*mian*
Seminggu kemudian...
[Geunyoung POV]
Aku sudah kembali
beraktifitas seperti biasanya, melanjutkan syutingkuyang tertunda. Terpaksa mengecewakan para
penonton yang sedang menanti kabar drama ini ditayangkan.
“Sukses buat
syutingmu, ya...!”pesan Jongjin pagi ini ketika aku selesai mengunjungi Handel
& Gretel, sekalian untuk bertemu dengan Ahjuma yang rupanya dalam keadaan
kurang sehat.
“Gomawoyo...”
kataku pada Jongjin, “Salam buat Ahjuma, ya...! Semoga cepat baikan...”.
“Akan ku
sampaikan...!”.
Bahkan di saat
seperti ini, Oppa tak mengunjungi Handel & Gretel, hanya sekadar untuk
melihat-lihat keadaan Ahjuma. Tapi ini juga karena Ahjuma tak mau merepotkan
Oppa, jadi beliau tak memberitahu berita ini pada anak sulungnya itu.
Aku kemudian
memasuki mobil, bersiap untuk ke lokasi syuting. Kebiasaanku datang pagi-pagi
ke Handel & Gretel rupanya juga sudah dimengerti oleh Ahjuma, Jongjin, dan
juga karyawan H&G lainnya.
Minuman yang ku
beli tadi ku letakan di jok di sampingku. Kali ini, syuting harus berjalan
lancar!
“Geunyoung-ah...!
Wasseo...!” sambut Manager Oppa begitu ia melihatku turun dari mobil dan
menghampiri para crew.
“Annyeong haseyo,
yeoreobun...!” sapaku pada setiap orang, dan mereka membalas.
Aku lantas duduk di
kursi. Aku merasa senang bisa sembuh dan kembali ke sini, melanjutkan
pekerjaanku yang tertunda...,
meski memang lagi-lagi...,
‘tanpa’ Oppa...
***
[Author POV]
Yesung memandangi
ponselnya yang ia letakan di atas meja rias.
Sementara Ryeowook
yang duduk di sampingnya hanya memerhatikannya, “Hyung-ah, waeyo...?” tanyanya.
“Ani...” kata
Yesung.
“Masalah
Geunyoung...?” serobot Leeteuk segera dari belakang Yesung dan Ryeowook,
membuat keduanya terkejut.
“Ah, Teukie
hyung...! Jangan sefrontal itu, dong...!” protes Ryeowook, mengingat kalau
hubungan Yesung dan Geunyoung itu memang rahasia.
Leeteuk tak
memperdulikannya. Ia kemudian menghampiri dua dongsaeng-nya itu. “Ruang tata
rias ini cuma ada kita bertiga, kok... Yang lain sudah ada di luar...” katanya,
“Malhaebwa, Yesung-ah... Ada masalah dengan Geunyoung...?” tebaknya, berujar
pada Yesung.
Yesung termangu. Ia
menatap nanar bayangan dirinya di cermin, “Aku rasa..., aku bukanlah aku yang
biasanya...” katanya.
“Maksudmu,
hyung...?” tanya Ryeowook.
Yesung ragu. “Aku
memperlakukan Geunyoung seperti ini..., karena..., aku sangat
mengkhawatirkannya dan tak sempat menjaganya seperti biasanya...” jelasnya.
Leeteuk menghela
nafas, sebagai seorang leader ia
memang sudah biasa menangani masalah seperti ini, tapi Ryeowook masih bingung.
“Jangan begitu, Yesung-ah... Bukan begitu yang harus kau lakukan pada yeoja
seperti Geunyoung...” katanya. “Geunyoung itu terlalu polos untuk kau tegur
sekeras itu... Kecerobohannya itu memang harus kau tangani dengan perlahan dan
lembut, harus dengan kesabaran, Yesung-ah...” lanjutnya.
Ryeowook memandangi
Leeteuk dan Yesung bergantian. Ia masih tidak mengerti dengan omongan kedua
hyung-nya ini. Ia orang yang terlalu polos ternyata.
“Aku selalu ingin
menelponnya untuk mengetahui keadaannya... Tapi bahkan mengirim pesan pun aku
tidak sempat...” kata Yesung.
“Hey, bukankah kita
tengah senggang?” ujar Ryeowook, mulai mengerti percakapan yang menurutnya
sulit ini, “Kenapa tidak kau telpon Geunyoung sekarang saja, Yesungie
hyung...?” usulnya.
“Ah, geurae!”
Leeteuk menyetujui, “Ayolah, Yesung-ah... Mungkin ini kesempatan yang baik
untuk kalian... Coba telpon Geunyoung...!”.
Yesung terlihat
berpikir. Baginya, ini mungkin memang waktu yang tepat. Lantas namja dengan hairstyle red wine ini meraih ponselnya.
Ketika hendak
menekan fast dial nomor satu...,
“SJ! Dua menit
lagi...!!” seru seorang crew KBS itu
yang tiba-tiba masuk ke ruang tata rias, membuat niat Yesung hancur seketika.
Kemudian crew itu kembali menghilang
dari balik pintu.
Yesung kecewa,
begitu juga Ryeowook dan Leeteuk. Waktunya mereka untuk tampil di stage.
“Ah, gwaenchanha,
Yesung-ah...” hibur Leeteuk, “Mungkin sehabis acara ini, kau bisa
menelponnya...”.
Kemudian, Yesung
hanya tersenyum, “Gomawoyo...” ujarnya.
***
“Gamsa hamnida...
Gamsa hamnida...” Geunyoung membungkuk sopan pada setiap crew. Syutingnya berhasil berjalan dengan lancar.
Geunyoung kemudian
menghampiri manager-nya, yang kelihatannya tengah mendapat telepon penting.
“Ye...!”ujar
Manager sebelum menutup telepon.
“Manager Oppa, ada
apa?” tanya Geunyoung.
“Ah..., jeoge...”
Manager mencoba mengutarakan, “Aku harus menemui anakku segera... Jadi aku
tidak bisa ke kantor sekarang... Kau saja, ya...”.
“Ah, geuraeyo...?
Ada apa dengan anakmu?”.
“Panjang
ceritanya... Besok akan aku ceritakan...” Manager mengambil tasnya, “Ja...
Galkke... Hati-hati di jalan...!” pamitnya, kemudian meninggalkan Geunyoung.
“Kau juga hati-hati
di jalan...!” pesan Geunyoung.
Kemudian, yeoja ini
berjalan ke arah berlawanan dengan arah manager-nya pergi. Ia segera
menghampiri mobilnya.
Sambil memasuki
mobilnya, Geunyoung meletakan tasnya di jok di sampingnya dan ponsel touchscreen-nya di dasbor. Kemudian,
mobil melaju.
***
Ketika semua member sibuk berbenah diri, Yesung malah
melesat ke kursi dengan tas hitamnya yang ia letakan di atasnya.
Ia duduk di
kursinya sambil mengubek tasnya, mencari ponselnya dan ingin berbicara dengan
Geunyoung sesegera mungkin.
Ketika ponsel sudah
dalam genggamannya, Yesung segera menekan fast
dial nomor satu, nomor ponsel Geunyoung.
***
Di tengah sibuknya
ia berkendara, sebuah panggilan masuk di ponsel Geunyoung. Ponsel itu bergetar
di dasbornya.
“Omo..., ada
telepon...” ujarnya.
Geunyoung melirik
siapa yang menelponya,
Receive Call
“Oppa”
“Ah, dari Yesung
Oppa...!!” pekiknya girang.
Geunyoung berusaha
meraih ponselnya yang semakin menjauh setiap kali bergetar, ditambah lagi
guncangan dari mobilnya yang sedang melaju ini.
Tangan kananya menyetir
sementara tangan kirinya mencoba meraih ponselnya. Karena ini, laju mobilnya
kurang terkendali.
Jarinya berhasil
menyentuh tombol hijau itu.
“Yeoboseyo...?
Geunyoung-ah...?” ujar suara bariton Yesung itu, terdengar dari ponsel
Geunyoung.
“Oppa!! Naya!!”
pekik Geunyoung senang.
Sementara di
posisinya, Yesung tersenyum. “Geunyoung-ah, kau sedang berada di mana?”
tanyanya.
“Di jalan...! Aku
akan ke KBS sekarang juga...!” ujar Geunyoung.
“Mwo...?
Geunyoung-ah, kau...,”
“WAAA...!!!”
terdengar pekikan nyaring suara Geunyoung.
“BRAKK...!!!” di
susul sebuah suara benturan yang sangat keras.
Mata kecilnya
membulat mendengar suara bising itu, dan tak terdengar lagi suara manis
yeoja-nya itu. “Geu, Geu, Geunyoung-ah?!” Yesung mulai panik.
Seruannya membuat
kedua belas member lainnya
menyorotnya.
Dengan tergesa,
Yesung memutuskan panggilan dan mengambil kunci mobilnya. Tanpa basa-basi, ia
lantas meninggalkan keduabelas member
SJ yang lainnya di ruang break ini.
“Ya, Yesung-ah!!!”
panggil Heechul, tapi Yesung tak peduli.
***
Dengan kecepatan
tinggi, Yesung mengendarai mobilnya agar ia bisa sesegera mungkin menol0ng
Geunyoung.
Sesekali ia melirik
GPS di ponselnya itu, mencari letak Geunyoung berada. “Sedikit lagi, Geunyoung-ah... Tungggu aku...” batin Yesung.
GPS-nya kemudian
menunjukan bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan, ini jalan raya.
Yesung menangkap
pemandangan ramai di depannya. Ambulance dan polisi ada di sana. Perasaannya
mulai tidak enak.
Ia melihat sebuah
ambulance berlalu ke arah berlawanan di sebelah kanannya. Dengan cepat, Yesung
memutarbalik mobilnya dan kemudian mengikuti ke mana mobil itu pergi, berharap
kalau ia masih bisa menemui Geunyoung.
Benar saja, ketika
ambulance itu sampai di rumah sakit, rupanya Geunyoung-lah yang tengah mereka
larikan ke rumah sakit.
“Andwae...!!!” batin Yesung dalam hati.
Ia memarkirkan
mobil hitamnya itu di sembarang tempat. Ia tak memperdulikan nasib mobilnya itu
kedepannya, ia hanya memusatkan semuanya pada Geunyoung.
Yesung berlari ke
arah mereka.
“Ani... Bukan ini yang aku inginkan...
Jika aku harus melihatmu seperti ini sekarang..., aku takkan
pernah melakukan ini sebelumnya...
Tapi..., semua itu tidak bisa kembali...
Yang aku dapat dari perbuatanku hanyalah satu...,
Penyesalan...” (Kim Ye Sung).
*mian*
[Geunyoung POV]
Aku seperti merasakan kehangatan di tangan kananku, rasa
kehangatan yang tak pernah lagi aku rasakan selama ini... Bahkan aku rasa,
kehangatan itu sudah tidak ada lagi... Berubah dingin dan membekukan...
Tapi..., di luar dugaan..., kehangatan itu kini tengah
menggenggam tangan kananku... Apa ini saatnya..., aku terbangun...?
Aku membuka mataku
perlahan. Berbarengan dengan ingatanku yang mulai mengingat apa yang terjadi padaku
sebelumnya.
Sinar lampu ini,
aroma ini, ranjang ini, perban ini, ... Tak salah lagi, ini rumah sakit...
Sesering inikah aku
mampir ke tempat yang super bersih ini sehingga tanpa menelusuri sekitar pun
aku sudah mengenal tempatku berbaring ini?
Aku baru ingat
kalau aku baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas, kali ini kecerobohanku
lagi! Menyebabkan luka di kepala dan kakiku... Bayangkan saja, mengendarai
mobil sambil mengangkat telepon da..., tunggu!!
Yesung Oppa!!
“Ngh~~...
Huuaamm...” ku dengar suara yang paling tak asing buatku itu dari samping
kananku, si sumber kehangatan itu...,
Yesung Oppa...
Ia yang tengah
menggenggam tanganku. Ia yang bersuara itu. Dan ialah yang menguap itu. Ia
tengah menungguiku, satu kenyataan yang membuatku bahagia. Ya, ia masih peduli
padaku...
Yesung Oppa
kemudian mulai terbangun. Ia merenggangkan tubuhnya, dan kemudian menatapku.
“Geunyoung?!”
pekiknya kaget. Matanya yang tadi sayu lantas membulat dengan tiba-tiba.
Ia lantas bangkit.
Ia mendekat padaku, terlalu dekat malah. Jarak wajah kami mungkin hanya lima
sampai sepuluh senti, atau malah kurang.
Aku yang tadinya
kaget, kemudian hanya menunduk. Lagi-lagi aku membuatnya khawatir di tengah
kesibukannya. “Gwaenchanha, Oppa...” kataku ragu.
“Aigoo... Harusnya
kau lebih hati-hati...” tegurnya.
Ya, kali ini hanya
menegur. Meski senang ia tak lagi mengomeliku, tapi aku tetap saja takut
padanya. Aku masih mengingat bagaimana ia memarahiku malam itu.
“Ingat, ya...
Jangan lagi mengangkat panggilan sewaktu kau mengendarai mobil...” ingatnya,
“Aku benar-benar mengkhawatirkanmu... Apalagi kau mengangkat panggilan
dariku... Aku...,”.
Tiba-tiba saja air
mataku jatuh tanpa ku sadari, aku benar-benar takut kalau Oppa akan memarahi
aku lagi.
Ku dengar Oppa
mendesah. Apa ia akan memarahiku lagi? Aku memejamkan mata karena takut. Aku
terlalu penakut untuk menghadapinya ternyata.
Tapi ku rasakan
Oppa menepuk-nepuk kepalaku pelan —ia tau pasti kalau di balik perbanku ini ada
luka—. “Jangan bilang ‘mian’ lagi...” katanya.
“Mian, Oppa...”.
“Geunyoung-ah,
geuman...”.
“Mian...”.
“Geunyoung-ah...”.
“Mi...,”.
Kata-kataku terputus.
Oppa mencium bibirku dengan hangat, sengaja memotong kata-kataku ku rasa. Tapi
ia tak ingin melepasnya segera.
[► Super Junior -
Andante]
Lima menit
kemudian, ia baru melepaskannya.
Ia menatapku dalam.
“Jangan bilang ‘mian’ lagi...” kata Oppa, “Setiap aku mendengarnya..., aku
selalu merasa bersalah... Aku selalu mengutuk diriku sendiri karena telah
membuatmu berkata seperti itu...
Ini semua mungkin
hanya kesalahpahaman...
Aku tidak pernah
mengacuhkanmu..., aku selalu mengkhawatirkanmu..., di setiap saat... Tapi
pekerjaan yang padat mungkin mulai merubahku menjadi Oppa yang bukan
sebenarnya...
Aku mulai mengomeli
dan memarahimu... Aku mulai tertekan dan semakin khawatir... Ditambah rasa
bersalah yang benar-benar seakan ingin menghabisiku...
Geunyoung-ah...,
harusnya akulah
yang berkata ‘mian’...
Mian..., karena aku
mulai tak memperdulikanmu...
Mian..., karena
akusudah mulai memarahimu...
Mian..., karena...,”.
“Geumanhae,
Oppa...” kataku, “Oppa tidak salah... Tidak ada satupun yang harus disalahkan...”
lanjutku, “Ini hanya karena kelemahan manusia... Penuh kesalahan dan
kelemahan...”.
Kali ini, tak ada
yang ingin aku lakukan selain bersama Oppa. Aku benar-benar merindukan Oppa
yang seperti ini, Oppa yang sebenarnya.
Aku memeluknya, dan
rasanya tak ingin melepaskannya agar ia tetap menjadi Oppa yang aku kenal.
Oppa yang aneh...
Oppa yang
menyayangiku...
Oppa yang
cerewet...
Oppa yang tidak
romantis...
Oppa yang tidak
inisiatif...
Oppa yang bernama
Kim Ye Sung...
Ya, ia Yesung Oppa...
Ia sudah kembali...
[■ Super Junior -
Andante]
*****
End
***
Kyaaa...
Ottae, ottae, ottaeyo,
Reader-deul....???
Jotseumnikka,
jotseumnikka, jotseumnikka....???
^^eih~~, si author...? nuntut banget,
deh, kedengarannya~~~?^
Kalau menurut Nate, sih, FF ini gak gitu bagus...
Tapi at all aku senang bisa
menyelesaikan FF dengan durasi pembuatan selama dua hari ini...
Walau emang kata Nate gak
gitu bagus, tapi Reader-deul lah yang berhak
menilai~~... Geuraeseo, Nate minta kritik dan saran yang membangun untuk
perkembangan karyaku selanjutnya~~...