[FF] Closer 가까이
Annyeong haseyo, Reader-deul!!
Wah, Nate nongol (?), nih! Do u all miss me? Pada kangen gak?!^^
^^no~~~!! gak!! :P^
Ya, sudah.. Yg kangen yang enggak, itu gak Nate ambil pusing~~...
Yang penting, hari ini aku membawa sebuah cerpen, atau bisa kita sebut juga sebagai FF...! FF ini adalah tugas KKPI/TIK Nate, loh~~...^^ Hehehe, jadi Bu Guru Nate menyuruh Nate dan teman-teman untuk membuat sebuah cerpen, baik bikinan sendiri maupun dari internet. Dan, aku memilih untuk membuat sendiri, dong!^Ini, kan, hobi Nate?!^
Nate bikin cerpen ini sambil dengerin lagu SNSD Taeyeon - Closer, Super Junior - It's You, dan Howl - Love You...
Suatu hari nanti, entah kapan, Nate pingin bikin large version untuk FF ini dan ada adegan yang akan Nate ganti!^ Penasaran? Come on, Reader-deul, kita berdo'a dan menunggu sama-sama agar Nate bisa mem-post-nya suatu hari nanti~~...!
Ok, tak berpanjang-panjang teks, nih, karena Nate memang masih sibuk mengetik novel Nate ^^minta doanya, Reader-deul~~...^...,
Happy Reading, Reader-deul!!^
Closer
가까이
[gakkai]1*
NB *) untuk
setiap kosakata asing dengan angka di atas kanannya, arti dari kosakata
tersebut ada di dalam kotak kamus yang
tersedia di dalam cerita ini.
*****
[Moon Geun Young]
Siswa itu memang dingin di
mataku, tapi aku, Moon Geun Young [Mun Geun Yông], tetap akan menempuh jalan
apapun untuk meraihnya.
Aku mungkin memang hanya seorang
gadis-siswi kelas sebelas Hayan High School yang polos, periang, dan ramah.
Tapi aku juga punya perasaan terhadap orang lain.
Siswa itu namanya Kim Jong
Woon [Kim Jong Wun], senior kelas dua belas yang mahir dalam bernyanyi, akting
dan basket. Ia keren, tapi dingin. Sifatnya angkuh dan sangat cuek. Hm, hampir
setengah dari siswi di Hayan High School menyukainya.
“Jong Woon-ah!” panggil Han
Kyung, Than Han Kyung [Than Han Kyông], sahabat dekat Jong Woon ketika siswa
itu tengah meletakan buku-buku pelajaran di lokernya, dan aku hanya melihatnya
dari balik tiang yang letaknya beberapa meter dari samping kanan loker.
“Sudah?” tanya Jong Woon.
“Ayolah... Yang lain sudah
menunggu!” ujar Han Kyung, “Hari ini kau mau ikut kami tanding, kan?”.
“Ani2... (Enggak...)”.
Jong Woon kemudian menutup
pintu lokernya dan berjalan menjauh dari loker itu. Pasti ia sudah menolak
tawaran sahabatnya itu untuk tanding basket seperti hari-hari biasanya, tanding
antar kelas.
Ketika aku berpikir, aku
terkejut mendapati Jong Woon Sunbae3
[Jong Wun Sônbæ] sudah berdiri di depanku, menatapku heran dan
juga dingin. Rupanya, aku tak sadar kalau dari tadi aku memandanginya.
“Apa yang kau lihat?” tanya
Jong Woon Sunbae (Senior Jong Woon)
dingin padaku.
Aku kikuk. “A.., a.., aniyo... (Tidak...)” ujarku.
“Berhenti mengikutiku...”.
Aku terkesiap. “Apa?”.
“Aku sudah bosan dengan
tingkah laku siswi di sekolah ini...” ujar Jong Woon Sunbae. “Berhenti mengikutiku..., atau kau akan menyesal...!”.
Kalimat yang tajam itu
menyudahi percakapan kami. Jong Woon Sunbae
kemudian berlalu melewatiku, disusul Han Kyung di belakangnya —yang juga sama
dinginnya—.
C l o s e r
[Writer]
“Aku ingin dekat
dengannya...” ujar Geun Young.
Sontak teman-temannya
menertawakannya.
“Astaga, Moon Geun Young! Sebesar apa harapanmu padanya?!”
ujar siswi bernama Kwon Yu Ri itu.
“Geun Young-ah, sampai kapan
kau akan mengejar ke mana Jong Woon Sunbae
pergi...?!” ujar siswi ber-name tag Hwang
Mi Young [Hwang Mi Yông] tersebut.
“Maaf, Geun Young-ah, jadi
menertawakanmu...” kata siswa laki-laki satu-satunya di antara mereka itu, Kim
Ryeo Wook [Kim Ryô Wuk]. “Sudah, teman-teman... Kasihan Geun Young!
Ditertawakan terus!” ujarnya, ia memang yang paling baik pada Geun Young.
“Tak apa..” Geun Young hanya
bisa menekuk wajahnya. “Tapi lihat saja! Aku pasti bisa mendapatkannya!”.
Tapi yang ada malah mereka
makin menertawakan kata-kata Geun Young.
“Eh, sudah, sudah... Jangan
tertawa lagi...!” ujar Ryeo Wook.
“Iya... Maaf, ya...!” ujar Mi
Young, mewakilkan ia dan Yu Ri.
“♫♪♫” terdengar ponsel Yu Ri berdering. Yu Ri kemudian mengecek
ponselnya, ada pesan ternyata.
“Yu Ri-ya, dari siapa? Min Ho
si juniormu itu, ya?” ledek Mi Young.
“Siswi senior berhubungan
dengan siswa junior...” Geun Young ikut meledek, seakan membalas dendam.
“Eih, kalian?!” gerutu Yu Ri.
Ia kemudian melirik ke ambang pintu kelas, di situlah ia melihat Choi Min Ho
—adik kelas + kekasihnya— menunggu kehadirannya.
Min Ho kemudian melambaikan
tangannya pada Yu Ri sembari tersenyum.
“Eh, teman-teman, aku pergi
dulu, ya...!” pamit Yu Ri yang segera melesat menuju ambang pintu.
Tiga sahabat ini hanya
memandang ke mana Yu Ri dan Min Ho pergi.
“Wah, lihatlah...” ujar Geun
Young, “Beruntung sekali Min Ho dan Yu Ri yang saling menyayangi itu... Aku
juga ingin seperti itu...”.
Mendengarnya, Ryeo Wook
memandang Geun Young dalam. “Kau pasti akan mendapatkannya, kok...” ujarnya
perlahan.
“Terima kasih, Ryeo
Wook-ah...” Geun Young memandang ke arah Ryeo Wook dan tersenyum.
Mendapatinya, Ryeo Wook agak
terkesiap. Ia tak percaya mendapat respon seperti itu dari Geun Young.
Sementara Mi Young memandangi keduanya dengan tatapan yang kelihatan pasrah.
***
“Jinjja4?! (Benarkah?!)” ujar Geun Young ketika jam
istirahat ia dan Mi Young berbicara empat mata di perpus.
Mi Young mengangguk perlahan.
“Kalau kau menyukai Ryeo
Wook, katakan saja padanya! Dia, kan, sahabat kita!” lanjut Geun Young.
“Tapi...,” Mi Young kelihatan
ragu, “aku tidak mau...”.
“Kenapa?”.
“Pokoknya, tidak mau...”.
“Mi Young...,”.
“Tidak! Tidak mau!”.
Geun Young hanya terdiam dan
mulai berpikir. “Mi Young...? Kenapa
dia...?” batinnya.
C l o s e r
Geun Young dan Ryeo Wook sedang
duduk-duduk di salah bangku panjang yang ada di lantai tiga itu, dekat dengan
jendela.
Ruangan ini luas, hanya ada
beberapa bangku panjang yang digunakan para siswa/i untuk duduk-duduk sambil
mengobrol, membaca buku, menunggu, dan lain-lain. Dan di sini juga ada mesin
penjual minuman kaleng otomatis.
“..., Kau tau, kan, bagaimana
Jong Woon Sunbae melakukan jump shoot hari itu?” ujar Geun Young
dengan topik yang selalu sama : Jong Woon.
Ryeo Wook, yang Geun Young
ajak bicara itu, sedari tadi hanya terdiam mendengar cerita Geun Young pagi ini.
Ia kelihatan sudah bosan dengan topik pembicaraannya.
Geun Young melanjutkan.
“Waktu itu, ia berhasil memenangkan pertandingan dan timnya...,”.
“Kenapa harus Kim Jong Woon
lagi, sih?!” omel Ryeo Wook, namun lelaki manis itu mengomel dengan polosnya.
“Loh..., kau kenapa, Ryeo
Wook-ah...?” ujar Geun Young.
“Aku kesal! Mengapa kau
selalu membicarakan tentangnya! Kenapa tidak ‘orang lain’ saja!!” omel Ryeo
Wook sekali lagi. Kemudian lelaki itu segera meninggalkan Geun Young di tempat.
“Ya! (Hei!) Ryeo Wook-ah!!”
panggil Geun Young, tapi Ryeo Wook tidak peduli. “Aneh... Ia dan Mi Young
sama-sama punya kepribadian yang mirip? Dan apa maksudnya dengan ‘orang lain’?”
gumamnya.
“Duk! Duk! Duk!” terdengar
seseorang tengah memukul-mukul mesin yang menjual minuman kaleng otomatis itu,
pasti mesin itu macet lagi.
Tepat ketika Geun Young
menoleh ke arah mesin itu, rupanya orang yang memukul mesin tadi adalah Jong
Woon. Geun Young terkesiap.
“Aish...” gerutu Jong Woon
kecil, “Cappucino-ku...”.
Sudah memasukan koin, tapi
minumannya tidak muncul juga. Kesal memang, mungkin itu yang membuat Jong Woon
berlalu meninggalkan mesin itu.
Geun Young hanya terdiam
ketika Jong Woon pergi dan hilang dari pandangannya. Namun, sepertinya ia
merasa haus juga.
“Mungkin sekaleng cappucino saja...” gumamnya. Lalu ia menghampiri
mesin tadi.
Ia memasukan koin dan menekan
tombol sesuai dengan minuman yang diingingkannya, cappucino yang seperti Jong Woon tadi —kebetulan keduanya menyukai cappucino—.
Hal yang sama terjadi,
mesinnya macet. Jadi Geun Young terpaksa memukul-mukul mesin itu. Dengan
pukulan seorang laki-laki saja mesin itu tak mau mengeluarkan minumannya,
apalagi dengan pukulan seorang perempuan?
Kesabaran Geun Young masih
ada untuk meladeni mesin itu. Ia kemudian mencoba hal yang lain : menendang
bagian samping mesin itu.
Dan benar saja! Sekaleng
minuman cappucino keluar dari kotak
di bagian bawah mesin itu! “Wah!” pekik Geun Young girang.
Ia segera mengambil kaleng
itu, namun rupanya ia didahului oleh Jong Woon yang tiba-tiba datang dan
merebut kaleng itu.
“Hei!!” seru Geun Young tidak
terima.
Tapi Jong Woon tidak peduli,
bahkan ia sudah membuka kaleng itu dan meminum seperempat isinya. Kemudian ia
menyeka tetesan cappucino di ujung
bibirnya dan menatap Geun Young dingin.
“Ya!! Itu punyaku!!” omel
Geun Young.
“Hei, aku Seniormu.. Jangan
berteriak seperti itu di depanku...” ujar Jong Woon, seakan tak terjadi
apa-apa.
“Iya, tapi itu punyaku!”.
“Aku orang yang terlebih
dahulu membeli di sini tepat sebelum dirimu dan mesin ini macet! Artinya cappucino ini punyaku dan kaleng
selanjutnya adalah punyamu!”.
“Tapi, kan, aku sudah susah
payah memaksanya keluar dari mesin ini!”.
“Tapi ini dari uangku!”.
Geun Young terdiam
mendengarnya, sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Jong Woon. Kemudian Jong
Woon tersenyum sinis pada Geun Young, smirk
yang menyebalkan. Lalu Jong Woon segera berlalu meninggalkan Geun Young
tanpa peduli.
“Dasar menyebalkan!!” teriak
Geun Young, “Aku bahkan heran mengapa aku menyukai siswa sepertinya?!”
gumamnya.
C l o s e r
Jong Woon berjalan menuju
lapangan bersama Han Kyung. Tapi kemudian Jong Woon berhenti dan berbalik,
menatap tajam Geun Young yang rupanya membuntutinya diam-diam.
Geun Young hanya terkejut
mengetahui ia sudah tertangkap basah oleh Jong Woon.
“Apa yang kau inginkan, ha?!”
gertak Jong Woon pada Geun Young.
“Jong Woon-ah...” Han Kyung
mencoba menenangkan Jong Woon.
Geun Young kemudian hanya
tertunduk.
“Aish...” gerutu Jong Woon.
Kemudian lelaki itu mendekati Geun Young. “Apa kamu tidak dengar atau kamu
benar-benar bodoh? Aku sudah pernah bilang untuk jangan mengikutiku lagi atau
kau akan menyesal!!” gertaknya lagi, membuat Geun Young semakin tertunduk, “Aku
tidak menyukaimu! Dan kau tau bagaimana tipe yeoja5 [yôja] yang aku sukai? Huh?”.
Mendengarnya, Geun Young
menggeleng ragu, takut.
“Yeoja (perempuan) cantik, tinggi semampai, tubuh yang slim, dan pandai...” lanjut Jong Woon.
“Aku harap setelah mendengar ini, kau tidak lagi mengikutiku!”.
Jong Woon menaikan dagu Geun
Young.
“Karena aku..., mulai
membencimu...” lanjut Jong Woon, membuat Geun Young terkejut. “Mengerti?”.
Han Kyung, yang baru melihat
seorang Jong Woon seperti itu, hanya terpaku dan terheran. Kemudian, Jong Woon
segera meninggalkan tempat itu dan Han Kyung pun mengikutinya.
***
“Yeoja
cantik, tinggi semampai, tubuh yang slim,
dan pandai... Tidak, aku bukan tipenya... Meski aku memang pandai, tapi aku
tidak cantik, tinggi, apalagi slim...”
(Moon Geun Young)
“Byur!!” Song Ji Eun, siswi
tinggi berambut pirang kemerahan kelas dua belas itu, menyiramkan seember air
pada Geun Young di balkon sekolah pagi itu.
“Dengar, kan?” ujar Ji Eun,
“Jong Woon sama sekali tidak menyukaimu dan aku adalah yeoja yang sesuai dengan tipenya...”.
Geun Young hanya terdiam,
menahan dinginnya air dan udara musim gugur yang menusuk sampai ke tulangnya.
“Jadi, beri aku jalan untuk
mendekatinya... Mengerti, Moon Geun Young...?” ujar Ji Eun dingin sembari
tersenyum sinis, tak memperdulikan keadaan Geun Young yang memburuk.
“Geun Young?!” seru Yu Ri
yang tiba-tiba datang.
Ji Eun kemudian menoleh ke
asal suara itu.
“Ji Eun-ah! Apa yang kau
lakukan pada Geun Young?!”.
“Dasar! Kau dan teman-temanmu
tidak pernah sopan pada Seniormu ini, ya?!” ujar Ji Eun dingin, “Tanyakan saja
pada temanmu itu!” lanjutnya, kemudian pergi meninggalkan tempat itu dan dengan
sengaja menyenggol lengan atas Yu Ri.
Tapi Geun Young lah yang Yu
Ri pentingkan saat ini. Ia segera mendekati Geun Young dan mulai menolongnya.
“Geun Young-ah, kau kedinginan...
Aku akan membawamu ke UKS...” Yu Ri segera melepaskan blazzer-nya untuk menutupi tubuh Geun Young.
***
Geun Young berbaring di atas
ranjang UKS, sementara Han Kyung —salah satu anggota PMR Hayan High School yang
kebetulan sedang berada di UKS— segera memberinya minuman hangat.
Geun Young duduk dan meraih
minuman itu. “Gamsa hamnida6...
(Terima kasih...)” ujarnya.
Yu Ri menungguinya bersama
Min Ho —yang mengikutinya hampir ke mana pun—. “Bisa-bisanya Ji Eun melakukan
itu padamu...!!” kata Yu Ri, “Aku tau ia juga menyukai Jong Woon Sunbae! Tapi bukan berarti ia harus
menginjak-injak siswi lain yang juga menyukainya, kan?!”. Ia berkata sembari
melirik ke arah Han Kyung.
Han Kyung tentu saja tau
kalau ia dilirik. “Bicarakan saja segala hal tentang Jong Woon! Jangan
khawatir!” katanya.
Suasana kemudian hening.
“Oya, aku ingin berbicara
dengan Geun Young sebentar...” ujar Han Kyung.
“Eh? Mau bicara apa?” tanya
Yu Ri.
“Nuna7... (Kakak...)” panggil Min Ho pada Yu Ri.
“Jangan takut... Aku bisa
menjamin Geun Young akan baik-baik saja...” ujar Han Kyung, tapi Yu Ri masih
ragu.
Min Ho kemudian menarik Yu Ri
pergi. “Ayolah... Ia sudah berjanji pada kita, kan...?” ujarnya pada Yu Ri.
Setelah kedua orang itu
meninggalkan UKS, Han Kyung mulai mengutarakan sesuatu pada Geun Young.
“Ada apa, Sunbae?” tanya Geun Young.
“Soal Jong Woon...” kata Han
Kyung, “Jong Woon berbohong padamu soal tipenya...”.
“Berbohong?”.
“Sebenarnya ia
menyukaimu...”.
“Apa?” ujar Geun Young,
“Maaf, Sunbae... Aku tidak bisa
mempercayai kata-katamu...”. Geun Young kemudian turun dari ranjang.
“Hei!! Dengar aku dulu!!” Han
Kyung menahan langkah Geun Young. “Aku dan Jong Woon memang sudah berteman
sejak kami duduk di bangku sekolah dasar! Jadi aku tau betul bagaimana Jong
Woon bersikap! Mengerti?!” lanjutnya. “Jadi, aku bisa yakin kalau ia tidak
membencimu...! Ia menyukaimu!”.
Geun Young mendengarnya
dengan baik. Tapi ia tak mau diinjak-injak lagi. “Tidak... Itu semua bohong...”
ujarnya, lalu meninggalkan UKS.
“Ya!! Moon Geun Young!!”
panggil Han Kyung. Sementara Min Ho dan Yu Ri yang melihat Geun Young keluar
dari UKS pun hanya terdiam.
C l o s e r
“Aku
mendengar dengan jelas : Jong Woon Sunbae membenciku... Aku tidak akan mengejarnya
lagi, sudah hampir dua tahun ini aku mengejarnya dan kini aku berhenti... Aku
juga tidak mempercayai kata-kata Han Kyung Sunbae tempo hari... Toh, Jong Woon Sunbae sendiri yang bilang bahwa ia membenciku...” (Moon Geun Young)
Geun Young tengah berdiri di
balik tiang di koridor menunggu teman-temannya sampai di sekolah. Hari masih
sangat pagi untuk para siswa sampai di sekolah.
“Jong Woon-ah!” panggil Ji
Eun. Tak sengaja mendengar suara itu Geun Young menoleh.
Ia melihat Ji Eun mendekati
Jong Woon yang tengah bersandar pada lokernya sembari mendengarkan musik lewat headset merahnya itu, mengunggu
kehadiran Han Kyung.
“Jong Woon-ah..., kau
sendirian saja~..?” Ji Eun mulai dengan capernya.
Jong Woon merespon dengan
malas, melepas sebelah headset-nya.
“Jong Woon-ah~~..”.
“Apa maumu...?” ujar Jong
Woon dingin.
Geun Young berjalan mendekat,
bersembunyi di balik tiang yang lain agar bisa mendengar percakapan keduanya yang
menarik hatinya tanpa disadarinya.
“Eih, kau tidak boleh
sedingin itu pada wanita...! Nanti takkan ada satupun wanita yang menjadikanmu
kekasih, lho~..” ujar Ji Eun.
“Faktanya, justru banyak
wanita di luar sana, termasuk kau, menginginkanku... Ya, kan?” balas Jong Woon
dingin.
Geun Young menyimak sambil
menyembulkan kepalanya dari balik tiang. Sementara itu, Han Kyung sudah datang
dari arah belakang Geun Young, Han Kyung melihat ketiga orang ini diam-diam.
“Hahaha... Untunglah kau tau
soal itu...” canda Ji Eun, tapi Jong Woon tetap cuek.
Tak sengaja, mata Jong Woon
menangkap sosok Geun Young di balik tiang sana tengah memerhatikannya. Lelaki
itu secara tiba-tiba memeluk Ji Eun erat-erat. Hal ini membuat Geun Young, Ji
Eun, dan Han Kyung terkejut dalam waktu yang sama.
Geun Young, yang terguncang
hatinya, perlahan menitikan air mata, mendekap mulutnya agar isakannya tak
terdengar. Ia berbalik dan segera berlari menjauh dari pemandangan yang baru
saja dilihatnya.
Geun Young tau ia berlari
melewati Han Kyung, tapi ia terus berlari. Sementara Han Kyung hanya terheran
atas hal yang baru saja terjadi. Dan ia bahkan lebih heran lagi melihat
tindakan sahabatnya itu —Jong Woon—.
Jong Woon kemudian melepaskan
pelukannya dari Ji Eun mentah-mentah. Berbeda 180° dengarn
caranya memeluk Ji Eun —penuh perasaan— dengan cara ia melepaskan pelukan dari
Ji Eun —tidak berperasaan—.
Jong Woon kemudian
meninggalkan tempat itu segera.
***
“Geun Young Sunbae..., ada apa? Apa karena tindakan
Jong Woon Sunbae pagi tadi membuatmu
murung terus?” ujar Min Ho ketika ia, Yu Ri, Mi Young, Ryeo Wook, dan Geun
Young duduk-duduk di taman sekolah.
“Hei, Kwon Yu Ri, jangan
suruh pacarmu itu berbicara soal yang tadi! Geun Young sudah cukup badmoood!”tegur Mi Young.
“Teman-teman, sudah jangan bicara
soal Jong Woon Sunbae lagi...” Geun
Young masih menekuk dalam wajahnya.
“Jadi karena kau mendengar
Jong Woon Sunbae membencimu, kau tak
lagi mengejarnya?” kata Yu Ri pada Geun Young, “Hei... Bukankah kau sangat
antusias untuk bisa mendapatkannya...?”.
“Harapan itu sudah mati
sekarang! Lagi pula, aku bukan tipenya!” Geun Young bangkit dan meninggalkan
tempat itu.
“Geun Young-ah!” panggil Ryeo
Wook, tapi Geun Young tak peduli.
C l o s e r
Geun Young sudah mengatur
pertemuan Mi Young dan Ryeo Wook agar sahabatnya itu bisa mengungkapkan
perasaannya, tapi entah kenapa Mi Young menolak untuk bertemu Ryeo Wook.
“Kenapa kau tidak mau
mengatakannya?” tanya Geun Young.
Mi Young ragu, melirik ke
arah Ryeo Wook di balik rak itu. “Karena..., Ryeo Wook menyukaimu...”.
“Apa?!”.
***
[Mi Young]
Waktu
itu...
Aku pernah memberi Ryeo Wook
surat berisi rasa sukaku padanya, dan hari ini ia berjanji akan menemuiku lalu
membalas suratku dengan kata-katanya.
Ah! Itu dia! Ku harap ia
menerimaku!
“Pagi!” sapa Ryeo Wook dengan
senyumannya, aku ikut tersenyum. Ia kemudian duduk di samping kananku. “Soal
suratmu itu... Aku..., mm...,” ia ragu.
“Wae8? [Wæ?] (Kenapa?)” tanyaku.
“Maaf, aku tak bisa
menerimamu...” ujarnya, “Aku..., hanya memandang ‘orang lain’...”.
Aku mendengarnya, kecewa dan
hatiku hancur. Tapi aku masih sabar dan aku tersenyum tipis sembari tertuntuk.
“Tidak apa, kok...” kataku, “Siapa ‘orang lain’ itu...?”.
“Geun Young...”.
Aku mengangkat kepalaku
kaget. “Apa?!”.
“Sejak pertama kita berteman,
aku sudah sangat menyukainya...” kata Ryeo Wook takut-takut. “Mian, Mi Young-ah, mianhae9...”.
Aku tersenyum padanya. “Aku
menghargai perasaanmu, Ryeo Wook-ah...” kataku.
Ryeo Wook kaget. “Mi
Young-ah...?” gumamnya, “Mi Young..., adalah yeoja yang baik...” lanjutnya.
Ya, inilah seorang Kim Ryeo
Wook : polos. “Gamsa hamnida...”
ujarku.
***
[Writer]
“Ryeo Wook...” gumam Geun
Young. “Jadi, itu maksudnya ‘orang lain’...?”.
“Makanya aku tidak mau
mengatakan rasa sukaku padanya!” kata Mi Young, kemudian berlari meninggalkan
perpus.
“Mi Young-ah!” Geun Young
mengejar kemana Mi Young pergi.
Ryeo Wook rupanya mendengar
percakapan rahasia diantara Mi Young dan Geun Young tadi. Ia hanya menghelas
nafas, kini Geun Young tau perasaannya.
***
“Jong Woon-ah...” panggil Han
Kyung ketika malam itu keduanya berada di lapangan basket sekolah, dan Jong
Woon tengah melatih kemampuan slam dunk-nya.
“Kau masih ingat hari di mana kau memeluk Ji Eun di depan mata Geun Young,
kan?” tanyanya.
“Wae?” tanya Jong Woon sambil men-drible bolanya menuju ring,
bertanda ‘ya’.
“Kenapa kau melakukan hal itu
di depan yeoja yang jelas-jelas kau
sukai? Di depan Geun Young...?” ujar Han Kyung.
Dengan slam dunk darinya, bola itu masuk. Jong Woon terdiam, memandang ke
langit penuh bintang. “Karena aku..., laki-laki yang tidak dapat dan tidak tau
cara menunjukan perasaanku dengan benar...” katanya.
“Jadi.., kau sengaja menyakiti
Geun Young...?” tebak Han Kyung.
Keringatnya perlahan kembali
menetes dan ia masih terengah, sudah hampir enam jam lewat ia berlatih di
lapangan ini tanpa istirahat. Jong Woon menatap Han Kyung. “Ya...” jawabnya,
“Itulah caraku menunjukan rasa sukaku pada Geun Young...”. Perlahan ia
tersenyum.
Han Kyung tertawa, mengetahui
sisi bodoh dari sahabatnya itu. “Dasar Kim Jong Woon!!”.
C l o s e r
Jong Woon berjalan di
koridor. Ia merasa sepi. Ia menoleh ke belakang dan menemukan tak ada siapapun
di belakangnya.
“Ke mana yeoja itu...? Bukankah biasanya ia mengikutiku...?” gumamnya. “Ayo,
kejar aku... Kejar aku lagi, Moon Geun Young...”.
***
“Pergi menjauh dariku!!”
gertak Jong Woon pada Ji Eun dan segera meninggalkan ruangan itu.
“Jong Woon-ah!!” panggil Ji
Eun, segera mengejar Jong Woon. “Ada apa denganmu?!”.
Jong Woon berbalik,
menghentikan langkahnya dan Ji Eun. Kemudian menatap Ji Eun tajam “Kau pikir
aku sungguh-sungguh melakukannya untukmu? Kau pikir aku memelukmu itu
sungguhan?!!”.
“Jong Woon-ah..., ada apa
denganmu?”.
Jong Woon tersenyum sinis, smirk yang menyebalkan. “Ada apa
denganku?” ujarnya, “Aku menanti kehadiran yeoja
yang ku cintai... Jadi pergi menjauh dariku!!”.
Jong Woon segera meninggalkan
siswi itu sendiri. “Ya, Kim Jong Woon!!” seru Ji Eun kesal.
***
Geun Young berada di balik
pagar lapangan basket itu. Hari hujan, ia berdiri sambil berlindung di bawah
payung birunya.
“Harusnya hari ini..., timnya
Jong Woon Sunbae dengan tim kelas
lain bertanding..., tapi apa mereka membatalkannya karena hujan...?” gumam Geun
Young. “Mereka, kan, sangat gemar bertanding basket ketika hujan turun...?”.
“Geun Young-ah!!” terdengar
suara Han Kyung memanggil dari jendela lantai dua sekolah.
Geun Young menoleh. “Sunbae?! Ada apa?!” teriaknya agar Han
Kyung mendengar.
“Pertandingan tertunda karena
kami kehilangan Jong Woon!” kata Han Kyung, “Bisa tolong bantu kami
mencarinya?”.
“Mencari Jong Woon Sunbae...?”
batin Geun Young. “Tapi kenapa harus aku?” tanyanya.
“Sudah cari saja dia! Tolong
kami!” kata Han Kyung. “Aku juga meminta bantuan ketiga temanmu yang lain..
Jadi, aku mohon bantu kami mencarinya...” lanjutnya, “Jong Woon dalam mood yang hancur...!”.
Geun Young berpikir sejenak.
***
“Aku capek...” keluh Yu Ri
pada Mi Young, Ryeo Wook, dan Min Ho ketika mereka melewati koridor.
“Kami semua juga capek...”
kata Mi Young.
“Eh, sudah, sudah...” ujar
Min Ho.
“Hei, ada Geun Young!” seru
Ryeo Wook melihat Geun Young yang berjalan mendekati mereka berempat bersama
payungnya yang dilipat.
“Kalian sedang mencari Jong
Woon Sunbae?” tebak Geun Young
kemudian.
“Hu-uh... Dan belum
ketemu...” ujar Min Ho.
“Hm...” Geun Young berpikir.
“Kalian sudah cek bagian belakang sekolah...?”.
“Belum...” Mi Young
menggeleng.
“Baiklah... Aku akan ke
sana...” ujar Geun Young yang kemudian berbalik dan melesat segera.
“Hei, kami ikut!” ujar Yu Ri.
Ia, Min Ho, dan dua sahabatnya segera mengikuti Geun Young dengan berjalan kaki.
***
Jong Woon duduk di bangku
panjang yang terbuat dari kayu itu. Seluruh tubuhnya sudah basah dan ia tidak
memperdulikan itu.
“Jong Woon Sunbae!!” panggil Geun Young dari arah
belakang.
Jong Woon terkesiap. Ia
segera menoleh ke belakang dan menemukan Geun Young berdiri di bawah payung
birunya, memandang lelaki itu kesal dan geram.
“Apa yang kau lakukan?! Duduk
dijatuhi tetesan air hujan menuruti mood-mu
yang sedang hancur, sementara orang-orang di dalam gedung sekolah panik
mencarimu untuk tanding basket!!” ujar Geun Young, “Dan pada akhirnya, aku juga
harus ikut mencarimu! Padahal aku tidak mau!”.
“Kau di sini...” ujar Jong
Woon pelan, seakan mengacuhkan kata-kata Geun Young.
Geun Young terkesiap
mendengarnya. “Ngh?”.
Jong Woon berdiri, berbalik
dan mendekati Geun Young. Semakin ia berjalan mendekat, Geun Young melangkah
mundur.
“Aku menunggumu... Aku ingin
kau mengejarku lagi...” kata Jong Woon.
“Apa...?” ujar Geun Young.
Jong Woon kini berdiri di
bawah payung yang Geun Young pegang. “Kamu pernah dengar apa yang Han Kyung
katakan soal sikapku saat aku mengatakan bahwa aku membencimu...?”.
Geun Young terdiam, tak mampu
berkata apapun bahkan hanya kata ‘ya’ sekalipun —Jong Woon berdiri tepat di
depannya—.
“Aku memang menyukaimu dan
kau tidak mempercayai ucapan tersebut dari Han Kyung hari itu...” Jong Woon
tersenyum usil, baru kali ini Geun Young melihatnya.
“Sun..., bae...?” gumam
GeunYoung.
Jong Woon kemudian memeluk yeoja itu secara tiba-tiba, membuat Geun
Young tersentak saat itu juga dan membuatnya melepaskan gemggamannya dari
payungnya. Payung biru itu jatuh. Dan kali ini tetesan air hujan membasahi
keduanya.
“Mulai sekarang..., panggil
aku Oppa10 (Kakak)..” kata
Jong Woon. “Karena kau adalah..., yeojachingu11-ku...[yôjaching-gu-ku...]”.
Geun Young membeku.
“Mianhae..., karena aku sempat membohongimu, bahkan soal tipeku
itu...” kata Jong Woon, sambil tersenyum.
Dan Geun Young masih terpaku.
“Saranghaeyo12
[Saranghæyo]..., Moon Geun Young...” ujar Jong Woon
C l o s e r
Mi Young termenung di dalam
kelas hari itu. Teman-teman sekelasnya sibuk sendiri, sementara Geun Young
entah ke mana —mungkin bersama Jong Woon— dan Yu Ri pasti sedang janjian dengan
Min Ho.
Tiba-tiba, seseorang
menyerahkan sebuket bunga di depan wajahnya. Dan ketika melihat siapa yang memberi
bunga itu, Mi Young agak terkesiap.
“Ryeo Wook?” ujarnya,
mengenali lelaki yang memberinya bunga.
Ryeo Wook hanya tersenyum.
Kemudian ia menyerahkan kembali bunga itu pada Mi Young, dan Mi Young meraihnya
perlahan.
“Kamu sendirian, kan?” tanya
Ryeo Wook.
“Iya...” jawab Mi Young.
“Maksudku bukan itu...” kata
Ryeo Wook.
“Ngh?” Mi Young memandang
Ryeo Wook.
Ryeo Wook ikut memandang Mi
Young. “Maksudku..., statusmu...” jelasnya. “Jadi yeojachingu-ku, ya...?”.
“Apa...?”.
“Aku sudah tidak menaruh
harapan pada Geun Young lagi, apalagi kini ia milik Jong Woon Sunbae sekarang dan semua orang tau akan
hal itu... Kini aku hanya memandangmu...” ujar Ryeo Wook. “Kau sangat cantik,
ramah, baik, dan sabar... Bodohnya aku, aku baru sadar akan hal itu dan..., aku
mulai menyukaimu...”.
Mi Young hanya sanggup
memadangi Ryeo Wook saja. “Ryeo..., Wook...?” gumamnya.
***
Jong Woon berhasil memasukan
bola itu dengan slam dunk-nya.
“Oppa!! Hebat!!” seru GeunYoung dari sisi lapangan basket sekolah
itu, mereka hanya berdua di situ.
Jong Woon tersenyum pada Geun
Young. Kemudian ia mendekati gadis itu. Begitu mendekat Geun Young segera
memberi Jong Woon sebotol air.
“Terima kasih...” ujar Jong
Woon pada Geun Young. Kemudian membuka tutup botol itu dan meneguk setengahnya.
“Oppa kelihatannya capek sekali...?” kata Geun Young seusainya Jong
Woon meneguk minumannya.
“Wae? Khawatir?” ledek Jong Woon.
“Aish...?” gerutu Geun Young,
“Oppa! Aku sungguh-sungguh!” omelnya.
Jong Woon tertawa lepas
melihat ekspresi Geun Young. “Hahahaha!! Yeojachingu-ku
sangat lucu!!” ujarnya.
“Oppa~..! Aku serius!”.
“Iya, iya... Aku tau, kok!
Jangan marah begitu~~...! Hahaha...!”.
C l o s e r
END
Kotak Kamus
No.
|
Kosakata
|
Hangul
(Huruf Korea)
|
Cara membaca
|
Arti
|
1.
|
Gakkai
|
가까이
|
Gakkai
|
Dekat
|
2.
|
Ani ; Aniyo
|
아니 ; 아니요
|
Ani ; aniyo
|
Tidak
|
3
|
Sunbae
|
선배
|
Sônbæ
|
Senior
|
4.
|
Jinjja
|
진짜
|
Jinjja
|
Benar-benar ; Sangat ; benarkah (?) ; sungguh (?) ;
masa (?)
|
5.
|
Yeoja
|
여자
|
Yôja
|
Perempuan ; wanita
|
6.
|
Gamsa hamnida
|
감사 합니다
|
Gamsa hamnida
|
Terima kasih (formal)
|
7.
|
Nuna
|
누나
|
Nuna
|
Kakak ; panggilan dari
laki-laki untuk wanita yang lebih tua
|
8.
|
Wae
|
왜
|
Wæ
|
Kenapa
|
9.
|
Mian ; Mianhae
|
미안 ; 미안해
|
Mian ; Mianhæ
|
Maaf ; maafkan aku ;
mohon maaf
|
10.
|
Oppa
|
오빠
|
Oppa
|
Kakak ; panggilan dari perempuan untuk laki-laki
yang lebih tua
|
11.
|
Yeojachingu
|
여자친구
|
Yôjaching-gu
|
Pacar (girlfriend)
|
12.
|
Saranghaeyo
|
사랑해요
|
Saranghæyo
|
Aku mencintaimu
|