Tampilkan postingan dengan label jin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jin. Tampilkan semua postingan

BTS 방탄소년단 - 화양연화 pt. 2 (Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)

Terdiam, hanya bisa termangu dan mematung. Duduk di situ sendirian, merenungi apa yang baru saja diperbuatnya. Ketika cahaya itu menyinarinya sekali lagi, barulah ia memandang ke dirinya sendiri.
Tangannya yang berlumuran darah, namun hanya ditatapinya. Noda yang sama ia temukan di baju dan wajahnya. Setelah cukup memandanginya, pemuda itu lantas mengelap semua noda merah itu di wajahnya, di tangannya, maupun di bajunya ―ia menghapus semuanya.
Tak cukup dengan mengelap saja, ia raih sebotol air dan menuangkannya ke punggung tangannya hingga noda merah itu tak begitu kentara lagi. Lantas ia usapkan ke wajahnya yang masih menyisakan noda merah yang terlihat jelas. Tak lupa, ia tuangkan air itu ke atas tangannya yang menengadah dan menggunakannya untuk menghapus noda yang sama di bajunya yang putih.
Penderitaannya belum cukup. Ia masih menyeka wajahnya dengan lengan jaket yang dikenakannya, kemudian termenung sejenak.
Dengan gemetaran, pemuda itu meraih ponsel dari sakunya dan menekan salah satu nomor yang sudah lama tak dijumpainya. Sejenak, ia meletakan ponsel itu di telinganya, menunggu nada panjang berakhir dan mendengar suara yang diinginkannya.
Air mata itu tak sengaja jatuh dari pelupuknya. Hingga ketika panggilan terjawab, sambil terisak ia mengatakan, “Hyung...,” lirihnya pada lawan bicaranya di sana, “saat ini aku sangat merindukan kalian...”.
Perlahan namun pasti, ia kembali terisak dan bulir-bulir bening itu kembali jatuh dari pelupuk matanya.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***

Taehyung berjalan, kemudian menjatuhkan diri di atas sebuah kasur lusuh di tengah kolam tua yang sudah mengering dan tak terpakai itu. Matanya terpejam, kemudian tangannya menahan sinar matahari yang menyusup ke kelopak matanya.
Ia seorang diri di sini, karena itulah Taehyung berbalik dan memandangi foto itu : seorang pria yang memangku bayi kecilnya. Tidak, ia sudah gerah, jadi Taehyung meremas foto itu.
Sementara itu,
“Ayo, ayo!” seru Hoseok.
“Ke sana!” tambah Jimin.
Kelima pemuda ini berlari di tengah hutan, “Cepat sedikit.” ujar Namjoon. Daratan dengan pohon-pohon yang tinggi ini seakan menjadi tempat bermain mereka.
“Itu di sana.” ujar Jungkook.
“Hampir sampai.” gumam Yoon-gi.
Mereka menaiki tangga, melewati beberapa bangunan tua, dan sampailah di tempat yang sama dengan Taehyung. Mereka mendekati kolam tua itu dan meloncat turun ke dalamnya begitu melihat Taehyung tengah berbaring di atas kasur lusuh di tengahnya.
Serentak mereka mendekati Taehyung yang sepertinya tak menyadari kehadiran mereka. Lalu mengerumuninya.
Namjoon menepuk pipi Taehyung, lalu berkata, “Mwohae?” senyumnya tengil pada Taehyung yang tengah mengerjapkan matanya. Namjoon lantas membantunya bangun.
“Ngapain kau di sini sendirian?” sambar Hoseok yang datang dari belakangnya.
“Hei, apa kau gak kepanasan berbaring di situ?” Jimin mengalihkan pandangan Taehyung.
Lalu mereka semua saling bersahut-sahutan, membuat kata-kata yang lucu yang membuat Taehyung akhirnya terhibur dan tertawa.
Sementara mereka bergurau, Jungkook tak sengaja menemukan seseorang yang sedang iseng merekam kebersamaan mereka ini dan berseru, “Oh? Itu Jin Hyung!” ditunjuknya pemuda dengan sweeter biru maroon yang tengah memegang handycam sambil berdiri di pinggir kolam.
Semua pun menatapnya ketika Seokjin, pemuda itu, menampakkan wajahnya begitu mengakhiri rekamannya barusan. Ia pun bergegas meloncat turun dan bergabung bersama mereka.
“Jinie Hyung!” Taehyung lah yang menyambutnya pertama kali dengan pelukan.
Tapi Seokjin hanya tertawa, “Hahaha, kau ini ―dasar bocah.” katanya, bergumam pada kalimat terakhir. “Ayo, tunjukan wajah kalian!” serunya ketika ia sekali lagi membuka handycam dan menyorot wajah Taehyung, Namjoon, dan Hoseok bersamaan.
Ya, mereka bisa tertawa jika bersama-sama.
“Euuaakk!!” seru Yoon-gi ketika Jungkook membawanya menggunakan troli dengan kecepatan tinggi.
Entah apapun yang mereka lakukan, semuanya menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Bermain-main dengan troli, menari-nari tidak jelas,
Gawi bawi po!!!”.
adu panco, bermain-main dengan ranting pohon, semuanya, apapun yang menurut mereka menyenangkan membuat mereka melupakan segala hal yang menekan mereka setiap harinya.
“Aahh!!” meski sakit, Namjoon masih bisa merintih sambil tertawa. Setelah Jimin, kini giliran Jungkook disusul Taehyung yang harus melompat naik ke atas teman-temanya yang lain.
Yo! Swag yo!” seakan itu adalah panggilan untuk Yoon-gi yang akhirnya bangkit untuk ikut menari. Dan Seokjin selalu ada untuk merekam kegembiraan mereka bersama-sama.
Seperti kupu-kupu yang tadinya hinggap di salah satu dahan rendah ini. Mungkin karena keindahannya yang membuat Seokjin tergerak untuk mengabadikannya ―seindah persahabatan mereka ini.
“Ssssrrtt...” Taehyung menyemprotkan cat semprot itu ke dinding yang Namjoon sandari, dengan warna merahnya ia membuat garis yang mengitari sandaran Namjoon yang sedang duduk ini.
Dan Namjoon hanya memandanginya, “Kau bikin apa, sih?” tanyanya pada Taehyung yang masih sibuk dengan karyanya.
Tak dapat jawaban, Namjoon pun bangkit dari tempat duduknya dan memandang apa yang sedang Taehyung buat. Di bagian atas garis itu Taehyung menambahkan dua garis tajam di kanan dan kirinya seperti sebuah tanduk atau telinga, kemudian di dalam garis itu Taehyung menambahkan dua titik yang terlihat seperti mata.
Dan inilah gambaran Namjoon karya Kim Tae Hyung, “Ottae?” tanya Taehyung dengan ringannya pada Namjoon.
“Hei, dasar sialan kau!” kesal Namjoon seraya berusaha menendang Taehyung yang kebetulan berhasil menghindarinya.
Kemudian Taehyung menambah beberapa bagian lagi pada karya semprotnya itu. Hingga akhirnya gambar itu malah terlihat aneh, Taehyung dan Namjoon pun hanya bisa tertawa bersama sambil duduk dan bersandar pada dinding itu ―tepat di samping kiri dan kanan gambar tersebut.
“Siap ya...” ujar Jimin sambil meletakan mobil mainan kuning itu di atas botol air mineral yang kosong. Setelahnya Jimin bangkit dan mundur beberapa langkah, lalu memandangi mobil kecil itu.
Sementara di seberangnya, sudah berdiri Namjoon dengan tongkat golf-nya yang sudah siap diayunkannya. Hoseok, Taehyung dan Yoon-gi berada di dekat keduanya, seakan mereka adalah penonton VIP, sementara Seokjin duduk di pinggir kolam sana berseberangan dengan kelima temannya, ia duduk bersama Jungkook di sampingnya dan handycam di tangannya.
Namjoon pun mengayunkan tongkat golf-nya, dan mobil mainan itu seakan bola putih kecil yang biasa digunakan dalam permainan golf. Dan, “Ttok!!” Namjoon memukul mobil beserta botol yang dihinggapinya itu hingga keduanya terpental jauh.
Botol itu terlempar entah ke mana, sementara mobil mainan tadi jatuh di atas kubangan air dan mengambang-ambang di sana. Tak lama, Jimin dan Yoon-gi memberinya sorakan, Namjoon tersenyum puas.
Lelah bermain-main sampai sore, Yoon-gi tak sengaja mendapati Hoseok tertidur dengan lelapnya. Ia bersandar pada dinding sementara kepalanya mendongak ditopang dinding bagian atasnya.
Iseng, Yoon-gi pun memanggil Seokjin dan memintanya mengambil gambarnya bersama Hoseok yang sedang tertidur itu dengan polaroidnya.
Sementara itu, “Eh, apa, tuh?” gumam Jungkook. Ketika ia sedang bermain-main di pinggiran kolam, ia tak sengaja memandang ke arah Yoon-gi, Hoseok, dan Seokjin itu. “Kelihatannya menyenangkan.” batinnya.
Kemudian, Jungkook melesatkan diri ke sana. Melihat Jungkook datang untuk bergabung, Yoon-gi panik, “Hei, hei, apa yang kau lakukan?!”  omelnya sambil berbisik.
Namun, memang dasarnya Jungkook, bocah itu malah bergabung bersama mereka dengan gaduhnya. Bikin Yoon-gi panik kalau-kalau Hoseok terbangun dan keisengannya ini batal.
“Jungkook-ah, jangan beris―”.
“Ikut, dong, Hyung!” dan Jungkook duduk di samping Yoon-gi setelah menggesernya sedikit dan membangunkan Hoseok yang sempat tersenggol Yoon-gi itu.
“Arrggh! Kau ini?!” geger Yoon-gi yang keusilannya batal.
Namun sesi pemotretan tetap berlanjut, “Ayo, merapat, ya!” seru Seokjin, lalu wajahnya bersembunyi lagi di balik kamera polaroid merah muda itu, “Hana..., dul..., set...”.
Jungkook dengan gayanya yang tengil, Yoon-gi yang tadinya marah sekarang jadi cerah, dan Hoseok yang baru bangun tidur namun masih bisa berpose itu akhirnya terabadikan dalam satu lembar polaroid.
“Kalau aku, enggaklah...” ujar Yoon-gi.
“Oh...” dan hanya Namjoon yang merespon.
Sementara itu, Taehyung memisahkan diri dari keenam temannya yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam tersebut. “Dinding ini...” gumam Taehyung, ia menemukan sesuatu. Segera ia naik ke atap bangunan tua di pinggir kolam itu. Dengan caranya, Taehyung akhirnya bisa naik ke atapnya dan memandang ke sepanjang kolam ini.
“Yup.” setelah merekam teman-teman di sisi kanannya, Seokjin kini beralih ke sisi kirinya yang hanya ada Jimin di situ. “Jimin-ah?”.
“Haaii!” Jimin pun nampak di kameranya.
Tak lama keenam pemuda ini menyadari kehadiran Taehyung di atas atap bangunan tua itu. Tanpa pikiran yang pasti, Taehyung berjalan ke pinggirannya.
“Taehyungie Hyung?” sahut Jungkook sambil menunjuk ke arahnya.
Dan Taehyung tak memperdulikan suara-suara di pinggiran kolam sana.
***
Sambil masih setengah sadar, Namjoon menyemburkan uap nafasnya ke cermin itu. Begitu berembun, lelaki ini kemudian menuliskan sesuatu di sana.
“Kau harus bertahan hidup”
Kemudian Namjoon meninggalkan tulisannya itu dan kembali bergabung bersama teman-temannya di sana.
Api unggun yang hangat menyelamatkan ketujuh pemuda ini dari dinginnya malam. Sementara handycam itu memutar ulang semua rekaman mereka sepanjang hari ini, Seokjin memandangi semua lembaran polaroid itu.
“Mau?” Seokjin menyodorkan sepotong biskuit itu.
Hoseok pun meraihnya dan menunjukan kalau ia punya dua biskuit sekarang. Mereka tertawa kecil, lalu Hoseok melahap salah satu biskuitnya.
Sementara Jimin, “Ting!” hanya bisa manggut-manggut dan menuruti Namjoon yang hendak bersulang dengan botol mereka masing-masing. Ya, lelaki itu mulai hilang akal sehatnya sekarang, dan Jimin hanya bisa meladeninya yang hampir mabuk itu.
“Numpang bobo, ya, Hyung.” gumam Jungkook pada Yoon-gi yang termangu itu. Ia lalu merebahkan diri di atas sofa dengan menopang kepalanya di atas pangkuan Yoon-gi.
Tak pasti apa yang sedang Yoon-gi pikirkan hingga ia terlihat begitu tertekan, sementara tanpa sadar tangannya terus memainkan pemantik apinya. Nyala, redup, lalu menyala lagi, tanpa sadar Yoon-gi mengulanginya berulangkali.
Sementara itu, Seokjin memandangi salah satu polaroidnya yang ia ambil dari sakunya. Laut lepas, itu yang terabadikan di lembaran kecil polaroid itu.
“Bagaimana kalau...,” ujar Seokjin, “kita ke sini nanti...?” lalu memandang ke Hoseok yang duduk di sampingnya.
Hoseok melirik foto itu sejenak, dan lantas menganggukkan kepala ke arah Seokjin sambil tersenyum. Seokjin pun menunjuk foto itu pada Taehyung, dan pemuda itu melakukan hal yang sama seperti Hoseok. Tak perlu ditanya lagi, semuanya setuju dengan rencana Seokjin itu.
Namun, Yoon-gi masih termangu. Jungkook pun bangun dari pangkuannya, berbalik dan memandang ke arah pemantik yang apinya menyala itu. Kemudian, dia meniupnya, “Fuuh..” dan api itu redup.
***
“Yeah!! Woohoo!!” sambut mereka senang pada pantai dan laut lepas itu.
Dengan mobil bak terbuka, Namjoon duduk di samping si supir ―Seokjin― dan Yoon-gi bersama Hoseok duduk di belakang mereka. Sementara para magnae ―Jimin, Taehyung, dan Jungkook― duduk di bak terbukanya, merasakan terpaan angin yang menyambut mereka dengan gembira.
Setelah mobil berhenti dan terparkir di pinggir laut, ketujuh pemuda ini lantas turun dan berlarian ke arah laut. Dengan bebas, mereka menghela aroma pantai dan udara yang segar, atmosfir yang indah untuk dinikmati.
Mereka tertawa lepas, berburu binatang laut, berlari-larian, segalanya. Dan Seokjin selalu bersama handycam-nya.
“Ayo terus!! Jangan mau kalah!!” kelima pemuda itu menonton aksi Namjoon dan Seokjin yang balap lari. Jimin malah menyusul Namjoon kemudian.
Bahkan Jimin melakukan aksi berbahaya ketika Seokjin mengendarai mobilnya berputar-putar di atas pasir, meski sebenarnya yang Jimin lakukan hanyalah bertengger di belakang bak terbuka dengan satu kaki sambil berpegangan. Jimin tak sendirian, tapi juga ada Yoon-gi di dekatnya.
Sementara Taehyung, Hoseok dan Namjoon menonton aksi gila-gilaannya, dan Jungkook sendiri ikut Seokjin di dalam mobil.
“Wow!” sambut Jimin yang akhirnya duduk di kap mobil, “Ayo, kemari!” serunya melihat Seokjin sudah siap mengabadikan gambar mereka berenam.
Kelima pemuda lainnya pun langsung berebut mengambil posisi di hadapan polaroid Seokjin. Jimin duduk di atas kap mobil, di bawahnya ada Hoseok, Taehyung dan Namjoon yang berdiri, sementara Jungkook dan Yoon-gi dengan kompaknya berpose di depan Taehyung yang merangkul keduanya bersamaan.
Sepanjang hari ini di pantai, menyenangkan sekali. Menghabiskan waktu bersama-sama dan tertawa bersama-sama.
***
“Bruum.” suara halus mesin mobil itu menyambut sebuah pom bensin yang lengang. Seokjin kemudian memberhentikan mobilnya di salah satustation-nya.
Tak lama, Namjoon dan Hoseok turun bersamaan dari mobil. Si partimer SPBU ini rupanya sudah paham akantugasnya, dengan inisiatif Namjoon pun mengisikan bahan bakar ke mobil bak terbuka ini.
Masih sambil mengemut permen batangannya, Namjoon bersandar pada mobil hingga pengisian bahan bakarnya selesai. Tak lama, Namjoon beralih pada Seokjin yang melongok dari jendela, lelaki ini pun menghampirinya.
“Hm, hm.” Namjoon mengisyaratkan pada Seokjin, dan lelaki itu pun memberinya polaroid merah muda itu.
Menyadari Namjoon hendak mengambil gambar Seokjin, dari kursi belakang Yoon-gi muncul dengan senyuman manisnya sambil ber-v-sign.
Hana.., dul...,”.
Sambil menunggu lembaran polaroidnya keluar, Namjoon bergegas kembali ke tempat duduknya di samping Seokjin. Lalu menunjukan hasil fotonya yang masih rabun itu pada Seokjin dan Yoon-gi. Kemudian, Namjoon segera menyimpannya pada laci di dasbor itu.
Sambil membawa belanjaannya, Hoseok kembali ke mobil dan meletakan persediaan makanan itu di atas bak terbuka.
“Oh?” Hoseok terkesiap ketika melihat selimut Jimin itu. Dengan segera, Hoseok menyelimuti Jimin yang masih tertidur lelap bersama Taehyung dan Jungkook.
“Hmm...” Jimin merubah posisi tidurnya sedikit, entah kenapa Hoseok hanya tersenyum.
Tak lama, setelah Hoseok kembali ke mobil, Seokjin segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan pom bensin ini.
***
Ia membuat teropong dengan tangannya, ujung laut itu terlihat seperti garis. Jungkook memandangi ujung lautan ini lewat celah yang dibuat tangannya. Ia duduk di pinggiran pelabuhan itu sendirian. Jungkook masih memandangi lautan lepas meski ia sudah menurunkan tanganya.
Yoon-gi pun menghampirinya, “Sendirian?” ujarnya yang kemudian duduk di samping Jungkook lalu merangkulnya. “Bukankah lautnya indah?” kata Yoon-gi.
Namun Jungkook tak menjawab, ia hanya memandang ke arah Yoon-gi dan tersenyum padanya. Yoon-gi lalu memandang ke arah mobil.
“Ayo kita bangunkan mereka.” ajaknya pada Jungkook.
“Tok! Tok! Tok!” suara itu mengejutkan Hoseok yang kemudian menyadari bahwa pelakunya adalah Yoon-gi yang mengetuk kaca mobil.
Lelaki itu mengisyarakan sesuatu padanya. Hoseok hanya bangkit dan membuka jendela. Rupanya, Yoon-gi bersama Jungkook membangunkan Hoseok, Namjoon, dan Seokjin yang tidur di dalam mobil, serta Jimin dan Taehyung yang tidur di bagian bak terbukanya.
“Ayo, bangun. Kita ke sana.” ajak Yoon-gi pada semua teman-temannya yang baru bangun itu. Kelimanya pun bergegas turun dari mobil meski baru tersadar.
Mereka bergegas ke pinggiran sana, Jungkook dan Yoon-gi kompakan sudah sampai di tempat sementara lima lainnya menyusul. Setelah ketujuhnya lengkap, mereka berdiri memandangi laut. Suara angin, ombak, dan burung-burung yang berterbangan menjadi bgm mereka senja ini.
Seokjin pun beraksi lagi dengan kameranya. Ketika semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing, ia menyorot kelima temannya di samping kirinya, dan memunggungi Taehyung yang tanpa seorang pun ketahui menatap ke arah sana.
Entah itu apa, namun itu dibangun sebagai tempat melompat ke laut dari ketinggian yang cukup ekstrem. Taehyung memandang ke arah teman-temannya sekali lagi, sebelum akhirnya diam-diam ia berjalan mendekati benda itu dan menaikinya.
Tak pasti apa yang ada di benak Taehyung saat itu hingga membuat nyalinya begitu kuat untuk mengalahkan ketinggian. Hal ini disadari Seokjin pertama kali. Ia pun mengarahkan handycam yang tadinya menyorot laut itu kini jadi menyorot Taehyung yang sudah berada di puncaknya.
Tak lama, keenam lainnya menyadari aksi berbahaya Taehyung ini. Namun, bukannya berniat menyelamatkannya, mereka malah bersorak, “Ayo loncat kalau berani! Loncat saja!”.
Taehyung hanya berdiri di situ sejenak, mungkin ia sedang mengambil ancang-ancang karena setelah itu Taehyung akhirnya menatap ke arah teman-temannya di bawah sana seraya tersenyum. Lalu ia kembali memandang tepat ke depan.
Huh... Benar...” batinnya, lalu menghela nafas sejenak dan akhirnya berlari hingga ke ujung kemudian menghempaskan diri terjun ke lautan lepas.
Seokjin merekamnya betul-betul, sementara kelima yang lainnya bersorak, “Woooaaahhh!!!”.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***
Nada-nada yang indah, ombak seakan membuat melodi sempurna yang membuat Seokjin betah duduk di kursi pengemudi itu sambil menyandarkan dagunya di atas stir.
Seokjin kemudian teringat akan sesuatu, ia kemudian beralih ke laci mobilnya dan mengambil selembar foto polaroid hasil jepretan Namjoon semalam.
Bermaksud ingin memandangi gambarnya bersama Yoon-gi, Seokjin malah dikejutkan oleh sesuatu hal yang sangat mustahil dan membuatnya tercekat.
Yoon..., gi...?” batinnya, menyadari sosok Yoon-gi menghilang dari lembar polaroid itu.
***
to be continued
***
화양연화 pt. 2
(Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)
BTS 방탄소년단
COMING OCTOBER
***

Annyeong, maaf lagi-lagi telat posting. Ini bukan murni FF, Near hanya menambah dialog dan menjelaskan situasi di dalam prologue ini.
Oya, soal video prologue-nya BTS yang satu ini sayangnya ga ketemu di search engine di blog. Jadi bagi Reader-deul yang penasaran, bisa langsung meluncur ke Youtube, tepatnya ke BANGTANTV ya.
Tapi seperti yang telah diketahui, bagian ending-nya Jin itu sudah di-cut alias sudah tidak ada lagi. Entah kenapa, ya. Mungkin editor-nya lupa, bagian itu harusnya gak jadi dipake atau malah belum saatnya ditunjukan ke pemirsa sekalian. Hehehe.

Author

Near

#ImSorryBTSfromArmyINA

Entah kenapa, Near gak bisa berhenti mikirin ini.. Perasaan, kenapa ya, kok, ngenes banget di ati *ampela sekalian hehe*..
Please, jangan lakukan hal semacam ini lagi, dong, kalau ada K-idols yang datang ke sini. Paham, kan?


Seumur hidup Near, sebagai Kpopers, Near baru sekali nge-stalk di bandara. Itu juga udah lama. Tepatnya, kalau gak salah, pas Super Junior baru kali pertama datang ke sini. Near yang baru kelar UN SMP pun langsung ke Soetta bareng Onnie, meski hasilnya nihil, yeoreobun -____-..
Yep, Near ngerti, kalian sudah menunggu lama, di luar rumah malam-malam, dan pulang larut malah. Tapi alangkah lebih baik lagi, kalau kalian bisa menyambut mereka dengan lebih baik sedikit lagi??
Sejatinya, sejak beberapa tahun belakangan ini, Near memang hanya Kpopers tanpa fandom. Namun melihat hal seperti ini yang menimpa salah satu K-idol kesukaan Near, bikin Near jadi khawatir.
멤버들이 괜찮았어?
여기서 신나했이죠?
Dan yang terpenting, did they mad to us?
Coba, deh, kalian pikir-pikir lagi.
Masih untung mereka tetap mengikutsertakan Indonesia dalam TRB eps III nanti. Tapi bagaimana dengan eps selanjutnya? Masihkah kita terdapat dalam list??
Near khawatir banget, jinjja. Hanya karena takut kalau mereka ternyata diam-diam gak menyukai kita, apalagi fanbase dari negara lain *mereka juga gak akan tinggal diam, lho*..
Namun, ada beberapa teman FB Near yang nge-post gambar ketujuhnya tersenyum bahkan masih bisa melambaikan tangan ketika mereka di sini.
Entah kenapa Near berulangkali menyampaikan permintaan maaf ini lewat SNS. Hanya karena Near khawatir.
Near juga mem-posting foto yang Near buat sendiri d IG.. Here
방탄소년단 맴버들, 우리 미안합니다.
용서해주세요.
Please appologize us.
#ImsorryBTSfromArmyINA

[FF] Fall

Fall

“Our friendship forever”


FALL teaser

Author : Near
Genre : Songfic, MVfic (?), tragedy, angst
Rating : 19+
Cast : 7BTS

***

Jeongmal mianhamnida, yeoreobun, Near telat banget postingin FF yang terinpirasi dari MV-nya BTS - I NEED U ini *nangis dipojokan* *dipukpuk sama kuki* malah 화양연화 on stage udah rilis di Youtube...
Near lagi nyari kerja, jadi belum punya pemasukan buat beli kuota... Meskipun udah naro beberapa lamaran, Near belum juga dapet job nih, hehehe... Doain Near, ya, supaya bisa cepet kerja^^

***
Warning!
Dilarang keras bagi pembaca dibawah usia 19 tahun! FF ini mengandung unsur kekerasan dan adegan yang tidak patut ditiru! FF ini tidak bertujuan berbagi hal negatif, namun mengajarkan pada para pembaca untuk menarik hikmah dari kisah di dalamnya.

Author

Near
***
[Seokjin POV]
“Wah, keren...” sahut JImin.

Ketika kau tak lagi memiliki hartamu yang paling berharga, ketika kau tak lagi bisa menghirup oksigen yang kau butuhkan, bagaimana kau bisa bertahan hidup?

“Hei, menurutmu yang itu berapa usianya?” tantang Taehyung.

Aku di sini, duduk di pinggiran ranjang sembari mempertanyakan itu semua. Pikiranku, hatiku, gelap ―berduka dan bersenandung pedih. Air mata ini jatuh mengiringinya.

“Lokomotif yang itu?” tunjuk Jungkook, “Tiga setengah abad!” sahutnya.
“Ah, kau ini ―jangan ngawur.” ledek Seokjin.
“Tapi kelihatannya memang sudah tua.” tambah Namjun.
Yoon-gi menatapnya, “Kau menyindirnya ―lokomotif itu?” candanya.
“Lalu kau pikir, lokomotif itu akan tersinggung dan menghajarku?” tambah Namjun lagi hingga membuat yang lainnya tertawa.

Keenam kelopak lili ini mengiringi rasa dukaku yang mendalam. Mendengar satu persatu dari mereka pergi dengan cara yang tragis, aku tak kuasa menahannya.

“Hooii! Ayo naik!” seru Jimin.
Taehyung dan Jungkook lah yang sampai duluan, Jimin pun membantu keduanya menaiki salah satu gerbong itu. Sementara yang lainnya sudah sampai di atas.
“Kemarilah!” ajak Namjun ketika mereka baru saja bergabung.
“Kau bisa lihat pemandangan yang bagus dari sini!” kata Hoseok.
“Wah, keren!” sahut Jimin ketika ia sudah duduk di antara Yoon-gi dan Hoseok.
“Sudah berapa kali kau mengucapkannya ―uh?” ujar Seokjin.
***


감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^