BTS 방탄소년단 - 화양연화 pt. 2 (Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)
Terdiam, hanya bisa termangu dan mematung.
Duduk di situ sendirian, merenungi apa yang baru saja diperbuatnya. Ketika
cahaya itu menyinarinya sekali lagi, barulah ia memandang ke dirinya sendiri.
Tangannya yang berlumuran darah, namun hanya
ditatapinya. Noda yang sama ia temukan di baju dan wajahnya. Setelah cukup
memandanginya, pemuda itu lantas mengelap semua noda merah itu di wajahnya, di
tangannya, maupun di bajunya ―ia menghapus semuanya.
Tak cukup dengan mengelap saja, ia raih sebotol
air dan menuangkannya ke punggung tangannya hingga noda merah itu tak begitu
kentara lagi. Lantas ia usapkan ke wajahnya yang masih menyisakan noda merah
yang terlihat jelas. Tak lupa, ia tuangkan air itu ke atas tangannya yang
menengadah dan menggunakannya untuk menghapus noda yang sama di bajunya yang
putih.
Penderitaannya belum cukup. Ia masih menyeka
wajahnya dengan lengan jaket yang dikenakannya, kemudian termenung sejenak.
Dengan gemetaran, pemuda itu meraih ponsel dari
sakunya dan menekan salah satu nomor yang sudah lama tak dijumpainya. Sejenak,
ia meletakan ponsel itu di telinganya, menunggu nada panjang berakhir dan
mendengar suara yang diinginkannya.
Air mata itu tak sengaja jatuh dari pelupuknya.
Hingga ketika panggilan terjawab, sambil terisak ia mengatakan, “Hyung...,” lirihnya pada lawan bicaranya
di sana, “saat ini aku sangat merindukan kalian...”.
Perlahan namun pasti, ia kembali terisak dan
bulir-bulir bening itu kembali jatuh dari pelupuk matanya.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***
Taehyung
berjalan, kemudian menjatuhkan diri di atas sebuah kasur lusuh di tengah kolam
tua yang sudah mengering dan tak terpakai itu. Matanya terpejam, kemudian
tangannya menahan sinar matahari yang menyusup ke kelopak matanya.
Ia seorang diri
di sini, karena itulah Taehyung berbalik dan memandangi foto itu : seorang pria
yang memangku bayi kecilnya. Tidak, ia sudah gerah, jadi Taehyung meremas foto
itu.
Sementara itu,
“Ayo, ayo!” seru
Hoseok.
“Ke sana!”
tambah Jimin.
Kelima pemuda
ini berlari di tengah hutan, “Cepat sedikit.” ujar Namjoon. Daratan dengan
pohon-pohon yang tinggi ini seakan menjadi tempat bermain mereka.
“Itu di sana.”
ujar Jungkook.
“Hampir sampai.”
gumam Yoon-gi.
Mereka menaiki
tangga, melewati beberapa bangunan tua, dan sampailah di tempat yang sama
dengan Taehyung. Mereka mendekati kolam tua itu dan meloncat turun ke dalamnya
begitu melihat Taehyung tengah berbaring di atas kasur lusuh di tengahnya.
Serentak mereka
mendekati Taehyung yang sepertinya tak menyadari kehadiran mereka. Lalu
mengerumuninya.
Namjoon menepuk
pipi Taehyung, lalu berkata, “Mwohae?”
senyumnya tengil pada Taehyung yang tengah mengerjapkan matanya. Namjoon lantas
membantunya bangun.
“Ngapain kau di
sini sendirian?” sambar Hoseok yang datang dari belakangnya.
“Hei, apa kau
gak kepanasan berbaring di situ?” Jimin mengalihkan pandangan Taehyung.
Lalu mereka
semua saling bersahut-sahutan, membuat kata-kata yang lucu yang membuat
Taehyung akhirnya terhibur dan tertawa.
Sementara mereka
bergurau, Jungkook tak sengaja menemukan seseorang yang sedang iseng merekam
kebersamaan mereka ini dan berseru, “Oh? Itu Jin Hyung!” ditunjuknya pemuda
dengan sweeter biru maroon yang tengah memegang handycam sambil berdiri di pinggir kolam.
Semua pun
menatapnya ketika Seokjin, pemuda itu, menampakkan wajahnya begitu mengakhiri
rekamannya barusan. Ia pun bergegas meloncat turun dan bergabung bersama
mereka.
“Jinie Hyung!” Taehyung lah yang menyambutnya
pertama kali dengan pelukan.
Tapi Seokjin
hanya tertawa, “Hahaha, kau ini ―dasar bocah.” katanya, bergumam pada kalimat
terakhir. “Ayo, tunjukan wajah kalian!” serunya ketika ia sekali lagi membuka handycam dan menyorot wajah Taehyung,
Namjoon, dan Hoseok bersamaan.
Ya, mereka bisa tertawa jika bersama-sama.
“Euuaakk!!” seru
Yoon-gi ketika Jungkook membawanya menggunakan troli dengan kecepatan tinggi.
Entah apapun
yang mereka lakukan, semuanya menyenangkan jika dilakukan bersama-sama.
Bermain-main dengan troli, menari-nari tidak jelas,
“Gawi bawi po!!!”.
adu panco, bermain-main
dengan ranting pohon, semuanya, apapun yang menurut mereka menyenangkan membuat
mereka melupakan segala hal yang menekan mereka setiap harinya.
“Aahh!!” meski
sakit, Namjoon masih bisa merintih sambil tertawa. Setelah Jimin, kini giliran
Jungkook disusul Taehyung yang harus melompat naik ke atas teman-temanya yang
lain.
“Yo! Swag
yo!” seakan itu adalah panggilan untuk Yoon-gi yang akhirnya bangkit untuk
ikut menari. Dan Seokjin selalu ada untuk merekam kegembiraan mereka
bersama-sama.
Seperti
kupu-kupu yang tadinya hinggap di salah satu dahan rendah ini. Mungkin karena
keindahannya yang membuat Seokjin tergerak untuk mengabadikannya ―seindah
persahabatan mereka ini.
“Ssssrrtt...”
Taehyung menyemprotkan cat semprot itu ke dinding yang Namjoon sandari, dengan
warna merahnya ia membuat garis yang mengitari sandaran Namjoon yang sedang
duduk ini.
Dan Namjoon
hanya memandanginya, “Kau bikin apa, sih?” tanyanya pada Taehyung yang masih
sibuk dengan karyanya.
Tak dapat
jawaban, Namjoon pun bangkit dari tempat duduknya dan memandang apa yang sedang
Taehyung buat. Di bagian atas garis itu Taehyung menambahkan dua garis tajam di
kanan dan kirinya seperti sebuah tanduk atau telinga, kemudian di dalam garis
itu Taehyung menambahkan dua titik yang terlihat seperti mata.
Dan inilah
gambaran Namjoon karya Kim Tae Hyung, “Ottae?”
tanya Taehyung dengan ringannya pada Namjoon.
“Hei, dasar
sialan kau!” kesal Namjoon seraya berusaha menendang Taehyung yang kebetulan
berhasil menghindarinya.
Kemudian
Taehyung menambah beberapa bagian lagi pada karya semprotnya itu. Hingga
akhirnya gambar itu malah terlihat aneh, Taehyung dan Namjoon pun hanya bisa
tertawa bersama sambil duduk dan bersandar pada dinding itu ―tepat di samping
kiri dan kanan gambar tersebut.
“Siap ya...”
ujar Jimin sambil meletakan mobil mainan kuning itu di atas botol air mineral
yang kosong. Setelahnya Jimin bangkit dan mundur beberapa langkah, lalu
memandangi mobil kecil itu.
Sementara di
seberangnya, sudah berdiri Namjoon dengan tongkat golf-nya yang sudah siap diayunkannya. Hoseok, Taehyung dan Yoon-gi
berada di dekat keduanya, seakan mereka adalah penonton VIP, sementara Seokjin
duduk di pinggir kolam sana berseberangan dengan kelima temannya, ia duduk
bersama Jungkook di sampingnya dan handycam
di tangannya.
Namjoon pun
mengayunkan tongkat golf-nya, dan
mobil mainan itu seakan bola putih kecil yang biasa digunakan dalam permainan golf. Dan, “Ttok!!” Namjoon memukul
mobil beserta botol yang dihinggapinya itu hingga keduanya terpental jauh.
Botol itu
terlempar entah ke mana, sementara mobil mainan tadi jatuh di atas kubangan air
dan mengambang-ambang di sana. Tak lama, Jimin dan Yoon-gi memberinya sorakan,
Namjoon tersenyum puas.
Lelah
bermain-main sampai sore, Yoon-gi tak sengaja mendapati Hoseok tertidur dengan
lelapnya. Ia bersandar pada dinding sementara kepalanya mendongak ditopang
dinding bagian atasnya.
Iseng, Yoon-gi
pun memanggil Seokjin dan memintanya mengambil gambarnya bersama Hoseok yang
sedang tertidur itu dengan polaroidnya.
Sementara itu,
“Eh, apa, tuh?” gumam Jungkook. Ketika ia sedang bermain-main di pinggiran kolam,
ia tak sengaja memandang ke arah Yoon-gi, Hoseok, dan Seokjin itu. “Kelihatannya menyenangkan.” batinnya.
Kemudian,
Jungkook melesatkan diri ke sana. Melihat Jungkook datang untuk bergabung,
Yoon-gi panik, “Hei, hei, apa yang kau lakukan?!” omelnya sambil berbisik.
Namun, memang
dasarnya Jungkook, bocah itu malah bergabung bersama mereka dengan gaduhnya.
Bikin Yoon-gi panik kalau-kalau Hoseok terbangun dan keisengannya ini batal.
“Jungkook-ah,
jangan beris―”.
“Ikut, dong, Hyung!” dan Jungkook duduk di samping
Yoon-gi setelah menggesernya sedikit dan membangunkan Hoseok yang sempat
tersenggol Yoon-gi itu.
“Arrggh! Kau
ini?!” geger Yoon-gi yang keusilannya batal.
Namun sesi
pemotretan tetap berlanjut, “Ayo, merapat, ya!” seru Seokjin, lalu wajahnya
bersembunyi lagi di balik kamera polaroid merah muda itu, “Hana..., dul..., set...”.
Jungkook dengan
gayanya yang tengil, Yoon-gi yang tadinya marah sekarang jadi cerah, dan Hoseok
yang baru bangun tidur namun masih bisa berpose itu akhirnya terabadikan dalam
satu lembar polaroid.
“Kalau aku,
enggaklah...” ujar Yoon-gi.
“Oh...” dan
hanya Namjoon yang merespon.
Sementara itu,
Taehyung memisahkan diri dari keenam temannya yang sedang duduk-duduk di
pinggir kolam tersebut. “Dinding ini...” gumam Taehyung, ia menemukan sesuatu.
Segera ia naik ke atap bangunan tua di pinggir kolam itu. Dengan caranya,
Taehyung akhirnya bisa naik ke atapnya dan memandang ke sepanjang kolam ini.
“Yup.” setelah
merekam teman-teman di sisi kanannya, Seokjin kini beralih ke sisi kirinya yang
hanya ada Jimin di situ. “Jimin-ah?”.
“Haaii!” Jimin
pun nampak di kameranya.
Tak lama keenam
pemuda ini menyadari kehadiran Taehyung di atas atap bangunan tua itu. Tanpa
pikiran yang pasti, Taehyung berjalan ke pinggirannya.
“Taehyungie Hyung?” sahut Jungkook sambil menunjuk
ke arahnya.
Dan Taehyung tak
memperdulikan suara-suara di pinggiran kolam sana.
***
Sambil masih
setengah sadar, Namjoon menyemburkan uap nafasnya ke cermin itu. Begitu
berembun, lelaki ini kemudian menuliskan sesuatu di sana.
“Kau harus
bertahan hidup”
Kemudian Namjoon
meninggalkan tulisannya itu dan kembali bergabung bersama teman-temannya di
sana.
Api unggun yang
hangat menyelamatkan ketujuh pemuda ini dari dinginnya malam. Sementara handycam itu memutar ulang semua rekaman
mereka sepanjang hari ini, Seokjin memandangi semua lembaran polaroid itu.
“Mau?” Seokjin
menyodorkan sepotong biskuit itu.
Hoseok pun
meraihnya dan menunjukan kalau ia punya dua biskuit sekarang. Mereka tertawa
kecil, lalu Hoseok melahap salah satu biskuitnya.
Sementara Jimin,
“Ting!” hanya bisa manggut-manggut dan menuruti Namjoon yang hendak bersulang
dengan botol mereka masing-masing. Ya, lelaki itu mulai hilang akal sehatnya
sekarang, dan Jimin hanya bisa meladeninya yang hampir mabuk itu.
“Numpang bobo,
ya, Hyung.” gumam Jungkook pada
Yoon-gi yang termangu itu. Ia lalu merebahkan diri di atas sofa dengan menopang
kepalanya di atas pangkuan Yoon-gi.
Tak pasti apa
yang sedang Yoon-gi pikirkan hingga ia terlihat begitu tertekan, sementara
tanpa sadar tangannya terus memainkan pemantik apinya. Nyala, redup, lalu
menyala lagi, tanpa sadar Yoon-gi mengulanginya berulangkali.
Sementara itu,
Seokjin memandangi salah satu polaroidnya yang ia ambil dari sakunya. Laut
lepas, itu yang terabadikan di lembaran kecil polaroid itu.
“Bagaimana
kalau...,” ujar Seokjin, “kita ke sini nanti...?” lalu memandang ke Hoseok yang
duduk di sampingnya.
Hoseok melirik
foto itu sejenak, dan lantas menganggukkan kepala ke arah Seokjin sambil
tersenyum. Seokjin pun menunjuk foto itu pada Taehyung, dan pemuda itu
melakukan hal yang sama seperti Hoseok. Tak perlu ditanya lagi, semuanya setuju
dengan rencana Seokjin itu.
Namun, Yoon-gi
masih termangu. Jungkook pun bangun dari pangkuannya, berbalik dan memandang ke
arah pemantik yang apinya menyala itu. Kemudian, dia meniupnya, “Fuuh..” dan
api itu redup.
***
“Yeah!!
Woohoo!!” sambut mereka senang pada pantai dan laut lepas itu.
Dengan mobil bak
terbuka, Namjoon duduk di samping si supir ―Seokjin― dan Yoon-gi bersama Hoseok
duduk di belakang mereka. Sementara para magnae
―Jimin, Taehyung, dan Jungkook― duduk di bak terbukanya, merasakan terpaan
angin yang menyambut mereka dengan gembira.
Setelah mobil
berhenti dan terparkir di pinggir laut, ketujuh pemuda ini lantas turun dan
berlarian ke arah laut. Dengan bebas, mereka menghela aroma pantai dan udara
yang segar, atmosfir yang indah untuk dinikmati.
Mereka tertawa
lepas, berburu binatang laut, berlari-larian, segalanya. Dan Seokjin selalu
bersama handycam-nya.
“Ayo terus!!
Jangan mau kalah!!” kelima pemuda itu menonton aksi Namjoon dan Seokjin yang
balap lari. Jimin malah menyusul Namjoon kemudian.
Bahkan Jimin
melakukan aksi berbahaya ketika Seokjin mengendarai mobilnya berputar-putar di
atas pasir, meski sebenarnya yang Jimin lakukan hanyalah bertengger di belakang
bak terbuka dengan satu kaki sambil berpegangan. Jimin tak sendirian, tapi juga
ada Yoon-gi di dekatnya.
Sementara
Taehyung, Hoseok dan Namjoon menonton aksi gila-gilaannya, dan Jungkook sendiri
ikut Seokjin di dalam mobil.
“Wow!” sambut
Jimin yang akhirnya duduk di kap mobil, “Ayo, kemari!” serunya melihat Seokjin
sudah siap mengabadikan gambar mereka berenam.
Kelima pemuda
lainnya pun langsung berebut mengambil posisi di hadapan polaroid Seokjin.
Jimin duduk di atas kap mobil, di bawahnya ada Hoseok, Taehyung dan Namjoon
yang berdiri, sementara Jungkook dan Yoon-gi dengan kompaknya berpose di depan
Taehyung yang merangkul keduanya bersamaan.
Sepanjang hari
ini di pantai, menyenangkan sekali. Menghabiskan waktu bersama-sama dan tertawa
bersama-sama.
***
“Bruum.” suara
halus mesin mobil itu menyambut sebuah pom bensin yang lengang. Seokjin
kemudian memberhentikan mobilnya di salah satustation-nya.
Tak lama,
Namjoon dan Hoseok turun bersamaan dari mobil. Si partimer SPBU ini rupanya sudah paham akantugasnya, dengan
inisiatif Namjoon pun mengisikan bahan bakar ke mobil bak terbuka ini.
Masih sambil
mengemut permen batangannya, Namjoon bersandar pada mobil hingga pengisian
bahan bakarnya selesai. Tak lama, Namjoon beralih pada Seokjin yang melongok
dari jendela, lelaki ini pun menghampirinya.
“Hm, hm.” Namjoon
mengisyaratkan pada Seokjin, dan lelaki itu pun memberinya polaroid merah muda
itu.
Menyadari
Namjoon hendak mengambil gambar Seokjin, dari kursi belakang Yoon-gi muncul
dengan senyuman manisnya sambil ber-v-sign.
“Hana.., dul...,”.
Sambil menunggu
lembaran polaroidnya keluar, Namjoon bergegas kembali ke tempat duduknya di
samping Seokjin. Lalu menunjukan hasil fotonya yang masih rabun itu pada
Seokjin dan Yoon-gi. Kemudian, Namjoon segera menyimpannya pada laci di dasbor
itu.
Sambil membawa
belanjaannya, Hoseok kembali ke mobil dan meletakan persediaan makanan itu di
atas bak terbuka.
“Oh?” Hoseok
terkesiap ketika melihat selimut Jimin itu. Dengan segera, Hoseok menyelimuti
Jimin yang masih tertidur lelap bersama Taehyung dan Jungkook.
“Hmm...” Jimin
merubah posisi tidurnya sedikit, entah kenapa Hoseok hanya tersenyum.
Tak lama, setelah
Hoseok kembali ke mobil, Seokjin segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan
pom bensin ini.
***
Ia membuat
teropong dengan tangannya, ujung laut itu terlihat seperti garis. Jungkook
memandangi ujung lautan ini lewat celah yang dibuat tangannya. Ia duduk di
pinggiran pelabuhan itu sendirian. Jungkook masih memandangi lautan lepas meski
ia sudah menurunkan tanganya.
Yoon-gi pun
menghampirinya, “Sendirian?” ujarnya yang kemudian duduk di samping Jungkook
lalu merangkulnya. “Bukankah lautnya indah?” kata Yoon-gi.
Namun Jungkook
tak menjawab, ia hanya memandang ke arah Yoon-gi dan tersenyum padanya. Yoon-gi
lalu memandang ke arah mobil.
“Ayo kita
bangunkan mereka.” ajaknya pada Jungkook.
“Tok! Tok! Tok!”
suara itu mengejutkan Hoseok yang kemudian menyadari bahwa pelakunya adalah
Yoon-gi yang mengetuk kaca mobil.
Lelaki itu
mengisyarakan sesuatu padanya. Hoseok hanya bangkit dan membuka jendela.
Rupanya, Yoon-gi bersama Jungkook membangunkan Hoseok, Namjoon, dan Seokjin
yang tidur di dalam mobil, serta Jimin dan Taehyung yang tidur di bagian bak
terbukanya.
“Ayo, bangun.
Kita ke sana.” ajak Yoon-gi pada semua teman-temannya yang baru bangun itu.
Kelimanya pun bergegas turun dari mobil meski baru tersadar.
Mereka bergegas
ke pinggiran sana, Jungkook dan Yoon-gi kompakan sudah sampai di tempat
sementara lima lainnya menyusul. Setelah ketujuhnya lengkap, mereka berdiri
memandangi laut. Suara angin, ombak, dan burung-burung yang berterbangan
menjadi bgm mereka senja ini.
Seokjin pun
beraksi lagi dengan kameranya. Ketika semuanya sudah duduk di tempatnya
masing-masing, ia menyorot kelima temannya di samping kirinya, dan memunggungi
Taehyung yang tanpa seorang pun ketahui menatap ke arah sana.
Entah itu apa,
namun itu dibangun sebagai tempat melompat ke laut dari ketinggian yang cukup
ekstrem. Taehyung memandang ke arah teman-temannya sekali lagi, sebelum
akhirnya diam-diam ia berjalan mendekati benda itu dan menaikinya.
Tak pasti apa
yang ada di benak Taehyung saat itu hingga membuat nyalinya begitu kuat untuk
mengalahkan ketinggian. Hal ini disadari Seokjin pertama kali. Ia pun
mengarahkan handycam yang tadinya
menyorot laut itu kini jadi menyorot Taehyung yang sudah berada di puncaknya.
Tak lama, keenam
lainnya menyadari aksi berbahaya Taehyung ini. Namun, bukannya berniat
menyelamatkannya, mereka malah bersorak, “Ayo loncat kalau berani! Loncat
saja!”.
Taehyung hanya
berdiri di situ sejenak, mungkin ia sedang mengambil ancang-ancang karena
setelah itu Taehyung akhirnya menatap ke arah teman-temannya di bawah sana seraya
tersenyum. Lalu ia kembali memandang tepat ke depan.
“Huh... Benar...” batinnya, lalu menghela
nafas sejenak dan akhirnya berlari hingga ke ujung kemudian menghempaskan diri
terjun ke lautan lepas.
Seokjin
merekamnya betul-betul, sementara kelima yang lainnya bersorak,
“Woooaaahhh!!!”.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***
Nada-nada yang
indah, ombak seakan membuat melodi sempurna yang membuat Seokjin betah duduk di
kursi pengemudi itu sambil menyandarkan dagunya di atas stir.
Seokjin kemudian
teringat akan sesuatu, ia kemudian beralih ke laci mobilnya dan mengambil
selembar foto polaroid hasil jepretan Namjoon semalam.
Bermaksud ingin
memandangi gambarnya bersama Yoon-gi, Seokjin malah dikejutkan oleh sesuatu hal
yang sangat mustahil dan membuatnya tercekat.
“Yoon..., gi...?” batinnya, menyadari sosok
Yoon-gi menghilang dari lembar polaroid itu.
***
to be continued
***
화양연화 pt. 2
(Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)
BTS 방탄소년단
COMING OCTOBER
***
Annyeong, maaf lagi-lagi telat posting. Ini bukan murni FF, Near hanya menambah dialog dan menjelaskan situasi di dalam prologue ini.
Oya, soal video prologue-nya BTS yang satu ini sayangnya ga ketemu di search engine di blog. Jadi bagi Reader-deul yang penasaran, bisa langsung meluncur ke Youtube, tepatnya ke BANGTANTV ya.
Tapi seperti yang telah diketahui, bagian ending-nya Jin itu sudah di-cut alias sudah tidak ada lagi. Entah kenapa, ya. Mungkin editor-nya lupa, bagian itu harusnya gak jadi dipake atau malah belum saatnya ditunjukan ke pemirsa sekalian. Hehehe.
Author
Near






