[FF] Not You 니가 아닌데 Part 3
Not You
Author :
RetnoNateRiver
Genre :
Romance
Main Casts : - SJ
Yesung as Kim Jong Woon
- Moon Geun Young as Moon Geun Young
- SNSD Sooyoung as Choi Soo Young
- TVXQ Max as Shim Chang Min
Other Cats : - SJ
Kyuhyn as Cho Kyu Hyun
- SNSD Seohyun as Seo Joo Hyun
- SJ Ryeowook as Kim Ryeo Wook
- SNSD Tiffany as Tiffany Hwang
- Yesung’s Family
- SJ Hankyung as Moon Han Kyung
- SJ Heechul as Kim Hee Chul
*Not You*
Wah, ini dia! Not You 니가 아닌데 Part 3, sekaligus ending...!
Huhuhu, adakah yang mewek? Ya, joesong hamnida, ya,
Nate gak bisa memposting FF yang part-nya lebih banyak karena aku sedang sibuk,
jadi cuma bisa memposting FF One Shot atau FF yang length-nya pendek...!^
Bagaimana ending-nya? Yuk, monggo dibaca, Reader-deul!
Happy Reading!
Author
RetnoNateRiver
*Not You*
Sooyung membolak-balik buku
di tangannya itu. Yeoja ini tengah iseng-iseng membaca sambil duduk-duduk di
bangku taman itu, seperti biasanya. Namun ia kelihatan bosan. Beberapa kali ia
menguap dan kurang serius dengan bacaannya.
Di tengah kebosanannya, ia
mendengar suara langkah yang mendekatinya. Sooyoung pun menoleh ke pemilik
langkah kaki itu. Rupanya seorang namja.
[ ►
TVXQ - Balloons]
Sooyoung tersenyum kepada
namja itu. Begitu pula sebaliknya, namja itu tersenyum pada Sooyoung, justru
terlihat sangat ceria.
“Annyeong, Sooyoung-ah!”
sapa namja itu, Changmin. Ia kemudian mengangkat tas di tangannya, yang
sebagian besar isinya makanan. “Kau belum makan, kan? Mari kita makan
sama-sama...!”.
Changmin di mata Sooyoung,
kini bukan lagi namja yang mengganggunya. Kini ia benar-benar merasa nyaman
dengan namja itu, mungkin perlahan ia akan menyukainya namun rasa cintanya pada
Jongwoon tetap tersedia di dalam hatinya.
Sooyoung kemudian bangkit
dari tempat duduknya dan menghampiri Changmin.
“Kita mau makan di mana?”
tanya Sooyoung.
“Kita makan di tempat teduh
dekat-dekat sini saja...” kata Changmin, “Makan sambil duduk di atas tikar
sambil memandang hijaunya sekitar ku rasa akan terasa nyaman dan mengasyikan...
Ottae?”.
Sooyoung mengangguk mantap.
“Aku tau, kok, tempat yang enak untuk itu...!” katanya. Yeoja ini kemudian
menarik Changmin sesegera mungkin ke tempat yang dimaksudnya, dan Changmin
hanya menuruti langkah kaki Sooyoung meski awalnya memang agak kaget dengan apa
yang Sooyoung lakukan ini.
***
Kedua orang ini menyiapkan
makanan yang dibawa dengan tas itu bersama-sama. Suasana ceria terasa di antara
Sooyoung dan Changmin.
Lima menit sudah cukup untuk
menyiapkan semua makanannya. Kini waktunya mereka makan.
“Cuaca hari ini sangat
bersahabat, ya...?” ujar Changmin.
“Aku sangat suka
cuacanya...” kata Sooyoung. Keduanya duduk-duduk menatap langit.
“Kau tau, di saat-saat
seperti ini biasanya orang-orang senang berjalan-jalan di luar... Tapi kita
malah makan sama-sama di sini...”.
“Aku suka makan bersama
Oppa...”.
“Eh?” Changmin memandang
Sooyoung.
Sooyoung juga memandangnya.
“Aku suka makan bersamamu, Oppa...” katanya.
Kata-kata itu membuat
Changmin terpaku sesaat. Yeoja yang disukainya itu berkata kalau ia senang makan
bersamanya, ya Sooyoung. Senang tapi juga kaget.
Kecupan Sooyoung di pipinya
membuat Changmin tersadar dari lamunannya. Changmin kembali tertegun dan
menyentuh pipi yang dikecup itu.
“Gomawoyo...” kata Sooyoung.
“Ne?” Changmin terkesiap.
“Gomawo buat tempo hari...
Oppa sudah merelakan banyak uang karena aku terlalu banyak makan... Aku merasa
tidak enak...”.
“Ayo kita makan...” kata
Changmin.
“Ne?”.
“Meogeo...” ucap Changmin,
“Kali ini aku takkan memberimu beberapa porsi dan membagi antara punyamu dengan
punyaku... Kali ini kita makan yang mana saja..., asal kita makan
bersama-sama...”.
Sooyoung agak kaget
mendengarnya. Namun kemudian ia tersenyum. Ia mengambil semangkuk nasi dan
memberinya pada Changmin, baru mengambil satu mangkuk lagi untuk dirinya sendiri.
Kini mereka berdua mulai
makan bersama tanpa ada rasa batas sama sekali.
[ ■ TVXQ - Balloons]
***
Tangannya memainkan bass-nya, ia terus bernyanyi, namun
matanya mencari sosok seorang yeoja di kerumunan para penonton itu. Ya,
Jongwoon tengah mencari di mana Geunyoung berada. Memang akhir-akhir ini,
Geunyoung tak pernah dilihatnya lagi menyaksikan penampilan Fly di atas
panggung.
Bahkan lebih dari itu,
Jongwoon juga tak pernah berjumpa lagi dengan Geunyoung akhir-akhir ini. Tak
ada balasan pesan maupun telepon yang dijawab, Jongwoon benar-benar bingung.
“Hyung!” seru Kyuhyun kecil
sembari menepuk pundak Jongwoon yang tengah memandangi ponselnya itu saat
berada di van.
Jongwoon menoleh ke arahnya.
“Kau kelihatan dalam mood jelek...” kata Ryeowook di samping
Kyuhyun, “Museun iriya..?”.
Jongwoon menghela nafas,
seakan sulit untuk mengatakan kepada dua dongsaeng-nya itu. Namun sepertinya
kepribadian Ryeowook itu mampu membaca apa yang Jongwoon rasakan.
“Kau..., sudah bertemu
Geunyoung...?” tanya Ryeowook.
“Belum sama sekali...” kata
Jongwoon pada akhirnya.
“Oh, geuraeyo...” gumam
Kyuhyun.
Ryeowook berpikir sesaat.
Kemudian ia berucap, “Mungkin kami bisa membantumu, Hyung...” tawarnya,
“Mungkin kami bisa menghubunginya atau memintanya untuk menemuimu dengan cara
lainnya dan kau dapat berbicara padanya...”.
“Tidak, tidak perlu...” kata
Jongwoon, “Ini, kan, masalahku... Aku tak mau menyangkut-pautkan kalian dalam
hal ini...”.
“Tapi, Hyung..,”.
Kata-kata Ryeowook kemudian
terputus ketika Kyuhyun mendekap bahunya. Dari tatapannya, Kyuhyun seakan
menyuruh Ryeowook untuk menuruti kata Hyung mereka itu. Tumbennya anak ini agak
dewasa (?). ^^Mian, Sparkyu..^.
*Not
You*
Rindu, sebenarnya itu yang
Geunyoung rasakan. Namun karena kekhawatirannya yang lebih tinggi ketimbang
rasa rindunya itu, membuatnya enggan untuk menemui namja yang disukainya
diam-diam itu : Jongwoon.
Sore ini, Geunyoung
menyengajakan diri untuk membeli bunga yang rutin menghiasi sudut-sudut
rumahnya. Ia pergi ke florist shop
yang tidak jauh dari rumahnya ditemani maid-nya.
“Tolong bunga yang warnanya
putih diletakkan di ruang kerja Aboji...” suruh Geunyoung ramah pada maid-nya tersebut.
“Baik, Agassi...” kata maid-nya. Keduanya membawa beberapa
buket bunga yang sudah dibeli mereka tadi.
“Omo, ponselku!” seru
Geunyoung ketika ia sampai di perempatan.
“Oh! Jangan-jangan
tertinggal di florist!” kata maid itu.
Geunyoung berdecak kecewa.
Hari akan segera gelap dan malam akan tiba. Ia harus secepatnya pulang.
“Mohon tunggu di sini dulu,
Agassi... Saya akan membawakannya kembali untuk Anda...” kata maid itu.
“Gamsa hamnida...” kata
Geunyoung.
“Tidak masalah, Agassi..”
kata maid tersebut. “Saya permisi...”
pamitnya.
Kini Geunyoung tinggal
menunggu di situ bersama dengan sebuket bunga dalam genggamannya.
Tanpa terpikir olehnya, ia
mendengar suara memanggilnya, “Geunyoung-ah!!”.
Geunyoung menoleh, menatap
nanar orang yang memanggilnya itu, “Oppa...?” gumamnya, “Andwae...”.
***
[Jongwoon POV]
Iseng-iseng aku mengunjungi
keluargaku barusan. Aku rindu pada mereka, tapi aku hanya dapat berkunjung
sebentar saja...
Namun rasa kekecewaan itu
hilang ketika aku berjalan menuju perempatan untuk ke jalan besar dan mencari
halte bis terdekat. Ya, aku menemukan Geunyoung!
“Geunyoung-ah!!” panggilku.
Geunyoung, yang tengah
membawa sebuket bunga itu, lantas menoleh padaku. “Oppa...?” gumamnya.
Dengan senangnya, aku
berlari-lari kecil mendekatinya. Senyumku tak mampu terhapus juga ketika aku
tepat berada di hadapannya. Ia memandangku dengan tatapan terkejut, tumben
sekali?
“Geunyoung-ah, lama tak
melihatmu...! Kau ke mana saja..? Kau tau, selama ini aku mencarimu, tapi aku
tak pernah bertemu denganmu, bahkan pesan dan telepon pun tak mendapat
jawabanmu... Kau ke mana saja...?” ujarku bertubi-tubi. Ini kebiasaanku.
Namun Geunyoung terlihat tak
seceria biasanya. Ada apa dengannya?
“Wae geurae?” tanyaku.
“Ani...” kata Geunyoung
kemudian. “Katakan saja apa yang ingin Oppa katakan... Aku akan mendengarkan,
kok...” katanya, meyakinkan kalau ia tak apa.
Aku tersenyum tipis.
“Geunyoung-ah... Aku..., ingin mengatakan sesuatu...” kataku ragu,
“Sebenarnya..., ini sejak kita lama berteman..., tapi aku terlalu takut untuk
mengatakannya padamu... Mian untuk hal ini... Tapi aku harap..., kau mau...”
lanjutku, “Sa...,
saranghaeyo..., Moon Geun
Young...” .
***
[Author POV]
“Sa..., saranghaeyo..., Moon
Geun Young...” kata Jongwoon pada akhirnya.
Geunyoung terkesiap. Tidak,
ini bukan seperti dugaannya. Ia pikir awalnya, hanya ialah yang menyukai
Jongwoon, namun rupanya Jongwoon juga demikian padanya.
“Andwae...” batin Geunyoung. Kaget, benar-benar kaget. Mulutnya pun
tak mengizinkannya untuk mengatakan pada Jongwoon bahwa ia memiliki perasaan
yang sama dengan namja itu.
“Saranghaeyo...” kata
Jongwoon sekali lagi, “Tolong terima aku..., karena aku benar-benar...,”.
“Mothae...” kata Geunyoung
lirih.
“Ne?”.
“Mothae, Oppa... Aku tak
bisa...” kata Geunyoung. “Aku tidak mencintai Oppa dan aku..., sudah memiliki
orang lain...
Aku sudah bertunangan...,
dengan..., Geun-seok Oppa...”.
Tidak mampu berkata apa-apa.
Inilah hal yang Jongwoon takutkan sejak dulu : bertepuk sebelah tangan. Mungkin
rasa ketakutannya yang besar itu yang membuat hal yang ditakutkannya ini
benar-benar terjadi.
“Mianhaeyo, Oppa... Jeongmal
mianhae...” kata Geunyoung.
“Bukan masalah, kok...” kata
Jongwoon.
“Eh?” Geunyoung memandang
Jongwoon yang tersenyum tipis padanya.
Mungkin bagi Geunyoung
mengatakan hal ini ada benarnya, termasuk kebohongan besarnya kalau ia tidak
mencintai Jongwoon. Mungkin membiarkan Jongwoon tidak mengetahui perasaannya
ini akan lebih baik daripada ia mengatakannya juga dan membuat Jongwoon makin
sedih.
“Joha.. Lega telah
mengatakannya dan kau sudah mengetahuinya...” kata Jongwoon, “Aku pergi...”
pamitnya.
Jongwoon berbalik lalu
melangkah pergi. Ia tidak mau menangis apalagi melakukan hal yang tidak-tidak
hanya karena masalah ini.
“Oppa...” Geunyoung menahan
langkah Jongwoon, menggenggam lengannya, “Gwaenchanhayo...?”.
Jongwoon menoleh, “Nan
gwaenchanha...” ia masih tersenyum tipis.
Geunyoung mendapati Jongwoon
dengan raut wajah yang seakan mewujudkan bahwa ia sedih dan kecewa, namun
berusaha menyembunyakanya. Hal ini makin membuat Geunyoung khawatir sekalipun
Jongwoon bilang ia baik-baik saja.
Jongwoon kembali melangkah,
membuat lengannya terlepas perlahan dari tangan Geunyoung. Ia berjalan
memunggunginya, tanpa ada kata-kata lainnya dan tanpa menoleh sedikitpun.
Kali ini Geunyoung tau bahwa
Jongwoon juga menyukainya, bukan perasaan sepihak. Mungkin memang menyesal lah
yang Geunyoung rasakan. Namun sekali lagi, lebih baik menyesal daripada melihat
Jongwoon terluka karenanya.
***
Sooyoung baru saja berpisah
dengan Changmin sehabis mereka berdua menghabiskan waktu bersama tadi siang
sambil makan-makan.
Hari sudah malam dan
Sooyoung dalam perjalanan pulang sekarang. Tapi di ujung sana, ia bertemu
Jongwoon yang kelihatannya dalam mood yang
kurang baik.
“Jongwoon Oppa...?” Sooyoung
menghampiri Jongwoon, sementara namja itu hanya memandanginya. “Oppa ada apa?
Kelihatannya kau sedih sekali...?”.
Jongwoon terdiam, lalu
berpaling dari Sooyoung.
Takut kalau ia memaksakan
diri Jongwoon akan memarahinya, Sooyoung mulai mengerti, ia harus pergi dari
situ. “Joha, kalau Oppa tak mau cerita... Aku mau pulang...” katanya, “Hati-hati,
ya, Oppa...” pamitnya.
Sooyoung kemudian berbalik
dan melangkah pulang. Namun sebelum langkah yang keempat, Jongwoon segera
menariknya kemudian ia mencium bibir yeoja itu.
Sooyoung tersentak kaget.
***
[ ►
Beast - Fiction]
... ...
“Aku tau..., kau masih
menyukainya...” gumam Changmin kecil, ketika ia melihat kejadian itu tanpa
sengaja.
... ...
Memang tadi saat ia pulang
dengan Sooyoung, ia berpisah dengan yeoja itu, namun Changmin rupanya iseng
mengikutinya dan tanpa sengaja melihat kejadian ini.
Tidak ada yang bisa Changmin
lakukan selain melihatnya sambil menghela nafas pasrah. Tapi ia tak lama di
situ, beberapa detik kemudian ia meninggalkan tempat itu dan beranjak pulang,
benar-benar pulang.
아직 난 널 잊지 못하고
Ajik
nan nôl itji mothago
모든 걸 다 믿지 못하고
모든 걸 다 믿지 못하고
Modeun
gôl da mitji mothago
이렇게 널 보내지 못하고 오늘도
이렇게 널 보내지 못하고 오늘도
Irôhke
nôl boæji mothago oneuldo
***
“Ya, ini lebih baik...” batin Geunyoung, “Ada Sooyoung di situ,
Oppa...” gumamnya, “Ini memang lebih baik...”.
Geunyoung tak sengaja pula
melihat kejadian ini. Rasa khawatirnya pada Jongwoon membuatnya mengikuti namja
itu dan pada akhirnya ia melihat kejadian ini.
다시 만들어볼게 우리 이야기 끝나지 않게 아주 기나긴
Dashi
manderuôbolke uri iyagi kkeutnaji anhke aju ginagi
살갗을 파고 스며드는 상실감은 잠시 묻어둘게
살갗을 파고 스며드는 상실감은 잠시 묻어둘게
Salgacheul
pago seumyôdeuneun sangshilgameun jamshi mudôdulke
새로 써 내려가 시작은 행복하게 웃고 있는 너와 나
새로 써 내려가 시작은 행복하게 웃고 있는 너와 나
Særo
ssô næryôga shijakeun haengbokhage utgo ittneun nôwa na
네가 날 떠나지 못하게 배경은 출구가 없는 좁은 방 안
네가 날 떠나지 못하게 배경은 출구가 없는 좁은 방 안
Niga
nal ttônaji mothage bækyôngeun chulguga ômneun jobeun bang an
Tidak, ia tidak boleh larut
dalam keadaan seperti ini begitu saja. Sudah waktunya ia pulang. Ia tak mau
membuat Hankyung memarahinya lagi.
Geunyoung segera
meninggalkan tempat itu, masih dengan perasaan yang tidak karuan : sedih,
menyesal, pasrah, tidak rela, tapi ia merasa lebih baik.
아무렇지 않게 네게 키스하고
Amurôtji
anhke nege khiseuhago
달콤한 너의 곁을 떠나가질 못해
달콤한 너의 곁을 떠나가질 못해
Dalkhomhan
nôui gyôreul ttônagjil mothæ
우린 끝이라는 건 없어
우린 끝이라는 건 없어
Uri
kkeuchiraneun gôn ôbsô
[ ■ Beast - Fiction]
***
“Mood-ku sedang hancur...” kata Jongwoon tiga menit kemudian pada
Sooyoung, “Ini adalah mood terjelekku
seumur hidupku...”.
Sooyoung masih tertegun atas
kejadian yang baru saja dialaminya.
“Mian membuatmu kaget...
Tapi itulah yang ingin aku lakukan...” kata Jongwoon, “Sekali lagi...,
mianhae...”.
Jongwoon kemudian
membungkukkan badan, tanda antara minta maaf dan/atau pamit. Setelah itu,
Jongwoon berlalu begitu saja meninggalkan Sooyoung yang masih terpaku di
tempatnya.
Suasana begitu hening di
situ, bahkan hanya langkah Jongwoon saja yang terdengar dan suara-suara
serangga malam.Bahkan hingga suara langkah itu tak terdengar lagi, Sooyoung
tetap tak bergeming.
*Not
You*
Seminggu
berlalu...
Ryeowook merasa tak
diperdulikan.
“Oppa, kapan Oppa bisa
menemuiku lagi?” tanya Joohyun pada Kyuhyun, ketika mereka bertiga pulang
bersama-sama. Ketiganya tengah berjalan menuju halte bis itu.
“Hm..., seminggu ini
jadwalku padat... Jeongmal mianhae, Hyunie...” jawab Kyuhyun, “Kalau aku punya
waktu luang, aku akan menghubungimu...”.
“Kyuhyun-ah...!” Ryeowoook
menyentuh lengan Kyuhyun, “Kau belum menjawab pertanyaanku...!” ingatnya.
Pertanyaan sepuluh menit yang lalu.
Kali ini Kyuhyun menanggapi
Ryeowook. “Pertanyaan apa, sih?” tanyanya.
“Pertanyaan soal Jongwoonie
Hyung...!” kata Ryeowook, “Bagaimana kabarnya? Apa ia sudah bertemu Geunyoung?
Apa kau ada kontak dengannya akhir-akhir ini? Karena akhir-akhir ini aku tidak
pernah mendapat balasan darinya dan tidak pernah bertemu dengannya...
Bagaimana?” Ryeowook menyebutkan satu persatu pertanyaan yang tadi diacuhkan
Kyuhyun sepuluh menit yang lalu itu dengan detailnya.
Dan kemudian Kyuhyun pun
menjawab, “Na molla...!” jawabnya.
Ryeowook geger. “Aku
bertanya dengan kalimat yang panjang dan tak diperdulikan dalam tempo yang lama,
kau hanya menjawab dengan dua kata?!” ujarnya, agak kesal tapi tetap terdengar
polos.
“Kalau aku memang tidak tau,
aku harus menjawab dengan apa?!” ujar Kyuhyun ketus, membuat Ryeowook cemberut
“Oppa! Kau tidak boleh
berbicara seperti itu!” tegur Joohyun pada Kyuhyun, “Uh, Ryeowook Oppa...,
maafkan Kyuhyun Oppa, ya...!”.
“Joohyun-ah?” ujar Kyuhyun.
“Wae?”.
“Sudah, sudah...” kata
Ryeowook, masih dengan cemberutnya, “Aku tau, kok, sifat bocah ini seperti
apa... Kau tak usah khawatir...” katanya pada Joohyun.
Sebuah bis berhenti di depan
halte itu.
Waktunya Joohyun pergi,
“Oppadeul, aku pulang duluan, ya...!” pamit Joohyun sambil membungkukkan badan.
Joohyun menaiki bis itu.
“Hati-hati, ya!” pesan
Ryeowoook pada Joohyun, sementara Kyuhyun tersenyum sambil melambaikan
tangannya pada Joohyun.
***
Jongwoon duduk di situ,
terpaku memandang kertas tebal dengan dekorasi yang indah dan tulisan yang
lagi-lagi harus membuat mood-nya
hancur.
Menerima benda yang
dibungkus amplop berwarna kebiruan itu dari yeoja yang paling dicintainya,
memang merupakan hal yang juga membuat mood-nya
makin hancur. Mungkin karena mood seperti
inilah yang membuat Jongwoon melangkahkan kakinya tak tentu dan akhirnya
berakhir di sini, tepat di depan kursi yang tengah didudukinya ini
Ia memang di situ sejak
beberapa jam yang lalu, dan ia tak juga bergeming. Bahkan ia masih memandangi
dua nama yang terpampang di kertas itu sejak tadi.
***
Kyuhyun dan Ryeowook sudah
sampai di apartemen mereka, dorm. Keduanya
tengah menyusuri koridor. Sebelumnya, mereka berbelanja bahan makanan terlebih
dahulu, lebih tepatnya Ryeowook yang belanja dan Kyuhyun hanya mengikutinya.
Ryeowook memandang ke arah
pintu dorm mereka di samping kiri
mereka itu. “Loh, pintunya, kok, agak terbuka, ya?” ujarnya.
“Apa ada yang masuk tanpa
izin?” tambah Kyuhyun.
Kemudian, Ryeowook
berlari-lari kecil menghampiri pintu mereka bersama Kyuhyun di belakangnya.
Ketika sampai di daun pintu, mereka menyadari orang yang telah membuka pintu dorm mereka.
“Jongwoonie Hyung?!” pekik
Ryeowook girang, Hyung paling disayanginya itu akhirnya ada di hadapannya
tengah duduk termangu memandangi secarik kertas di tangannya, ialah orang yang
masuk ke situ tanpa ada yang tau. Ia ada di dorm.
Dengan langkah riang,
Ryeowook memasuki dorm dan
menghampiri Jongwoon, diikuti Kyuhyun di belakangnya. Meski namanya dipanggil,
Jongwoon juga tak bergeming.
Ryeowook berdiri di samping
kiri Jongwoon, sementara Kyuhyun duduk di samping kanan kursi Jongwoon.
“Hyung, Hyung!” seru
Ryeowook senang, “Karena kau ada di dorm,
aku akan membuatkanmu kimchi yang pedas dan enak! Kita makan sama-sama, ya?!”
ajaknya penuh semangat.
Jongwoon tak juga bereaksi.
Ryeowook menyadari bahwa
Jongwoon tak meresponnya. “Jongwoonie Hyung..., wae geurae...?” tanyanya.
“Hyung-ah, gwaenchanha?”
Kyuhyun ikut memastikan.
Jongwoon memberi kertas di
tangannya itu pada Ryeowook, tanpa memandang siapapun dan tanpa kata-kata
apapun, seakan itulah jawaban untuk kedua pertanyaan itu.
Ryeowook mengambilnya dan
mengamatinya, “Surat undangan... Wedding...?”
ujarnya membaca tulisan paling depan, kemudian membaca isinya. “Mwo?!!” ia
terkejut begitu mengetahui dua nama yang terpampang di dalamnya.
Penasaran, Kyuhyun
menyerobot kertas undangan itu dan membaca isinya segera. “Geunyoung dan Geun-seok?!”
ujarnya.
Ryeowook meletakan kantung
belanjaannya begitu saja dan menggenggam lengan Jongwoon, “Hyung, ini tidak
benar, kan? Iya, kan? Malhaebwa, Hyung~~... Malhaebwa~~...!” pintanya, rasa
panik juga menghinggapinya, Sementara Kyuhyun hanya mengusap-usap punggung
Hyung tertuanya itu.
Tapi kemudian, Jongwoon
bangkit. “Jangan bicarakan soal Geunyoung lagi...” katanya tanpa ekspresi dan
tanpa memandang siapapun, “Ia milik orang lain...” lanjutnya.
Setelah itu, Jongwoon
beranjak meninggalkan dorm kembali.
“Hyung!” Ryeowook menarik
lengannya lagi, namun dengan mudahnya Jongwoon terlepas dari genggaman
Dongsaeng tersayangnya itu dan berlalu begitu saja.
Kyuhyun menahan Ryeowook
untuk mengikuti ke mana Jongwoon pergi.
“Mwoya?!” protes Ryeowook
pada Kyuhyun.
“Hyung kita sedang
bermasalah!” kata Kyuhyun, “Tidakkah kau melihat kalau ia butuh waktu untuk
sendirian sebentar?!”.
Ryeowook terdiam.
“Sekarang kita cuma bisa
membiarkannya sendiri... Ketika ia merasa lebih baik..., kita boleh
mendekatinya dan berbicara baik-baik dengannya...” kata Kyuhyun, tumben kali
ini lebih dewasa.
***
Geunyoung tengah sibuk
membaca buku di kamarnya. Tapi kemudian ponselnya berdering. Rupanya panggilan
dari nomor tak di kenal.
“Yeoboseyo?” ujarnya ketika
mengangkat panggilan.
“Geunyoung-ah..., tolong
temui aku... Aku mohon...” ujar si penelpon.
Geunyoung terkesiap.
“Jongwoon Oppa?” ia mengenalnya.
***
Permintaan yang amat sangat
penting bagi namja itu membuat Geunyoung akhirnya bergerak untuk menemuinya,
meskipun ia tau kalau hari sudah gelap.
Taman Namsan itu, Geunyoung
melihat sosok yang menunggunya, Jongwoon. Begitu ia datang, Jongwoon lantas
menoleh padanya.
Geunyoung merapatkan
jaketnya karena cuaca yang semakin dingin. Kemudian ia berjalan menghampiri
Jongwoon yang tengah duduk-duduk itu. Ia duduk di samping kirinya.
“Chukhahaeyo...” ujar
Jongwoon sembari memandang ke langit, seakan menyambut kedatangan Geunyoung.
Tapi yeoja ini hanya
mampu menghela nafas panjang.
“Aku akan pergi dari
hadapanmu...” kata Jongwoon, membuat Geunyoung memandangnya, “Itu yang aku
inginkan, dan itu hakku...”.
Geunyoung berpaling dari
Jongwoon. “Kalau begitu..., ada apa Oppa memintaku menemuimu...?” tanyanya,
agak ragu, mencoba menghindari kata ‘kenapa?’.
Jongwoon memandanganya,
“Karena aku ingin melihatmu sebelum aku pergi...” katanya, “Dan aku sangat
berterimakasih kau sudah datang...”.
Geunyoung ikut memandangnya.
Jongwoon menoleh pada jam
yang ada di belakang mereka. “Ini sudah tengah malam, kan?” ujarnya, “Sebaiknya
sampai sini saja...”.
Geunyoung tertegun,
“Bukankah kita baru bertemu? Kenapa cepat sekali?” katanya.
“Aku tak mau membuat
orangtuamu khawatir...” kata Jongwoon.
Geunyoung berpikir sesaat.
Mungkin kata-kata Jongwoon ada benarnya. “Baklah...” katanya pada akhirnya.
Jongwoon bangkit, kemudian
Geunyoung mengikutinya. Ketika hendak berpisah, Geunyoung membungkuk memberi
tanda pamit, namun Jongwoon hanya mampu memandangnya terpaku.
“Hati-hati, Oppa...” kata
Geunyoung.
Kemudian keduanya berjalan
dengan arah berlawanan.
“Apa..., Oppa benar-benar akan pergi...?” batin Geunyoung ketika
langkah kecilnya mengantarnya menjauh dari lokasi itu, “Oppa..., kenapa kau mengambil langkah ini...? Aku mohon..., jangan
lakukan ini...” batinnya kembali.
“Oppa..., panggil aku...”
gumam Geunyoung kecil, sangat tak terdengar, “Jebal... Nae ireumeun bureu
juseyo...”.
“Geunyoung-ah...!” panggil
Jongwoon, sesuai dengan apa yang Geunyoung harapkan.
Geunyoung tersentak ketika
Tuhan mengabulkan permintaannya itu. Bahkan hal yang lebih membuatnya tersentak
adalah suara namja itu begitu dekat dari punggungnya.
***
[Jongwoon POV]
Entah ada perintah apa, aku
berhenti melangkah lalu berbalik dan berjalan menuju Geunyoung. Sekitar
beberapa senti di dekatnya, aku menghentikan langkahku.
Lalu, “Geunyoung-ah!” ku
putuskan untuk memanggilnya.
Usahaku berhasil membuatnya
berhenti. Kini ia memandangku, ia menoleh padaku dan menatap mataku dengan
tatapan lembutnya itu.
Aku melangkahkan kakiku
untuk mendekat.
“Jebal...” kataku ketika aku
benar-benar ada di depan matanya, “Ini untuk yang terakhir kalinya...” kataku
sebelum akhirnya mencium bibirnya hangat.
Ia juga tak menolakku.
Untunglah...
Memang ini yang aku
inginkan.
***
[Author POV]
Memang ada dua orang yang
akan merasakan sakit dan menyesal. Tapi ada pihak yang kini mengetahui bahwa
perasaannya kini juga sama dengan perasaan orang itu.
Geunyoung melangkahkan
kakinya berat. Ini memang sulit, apapun keputusan yang akan diambilnya sama
saja akan menyakitinya maupun Jongwoon. Tapi ia tak mau melihat Jongwoon
tersakiti secara terus menerus. Dengan pilihan ini yang diambilnya, ia harap Jongwoon hanya akan tersakiti hanya
untuk saat ini saja, tidak terus menerus. Kini ia tau, bahwa Jongwoon juga
menyukainya.
Ia berbeda, langkahnya
ringan. Jongwoon memang sudah pasrah akan keputusan Geunyoung yang memang
sangat menusuk perasaannya. Namun hatinya enggan bergerak untuk pergi dari
Geunyoung. Bagaimanapun, ia masih menyukai yeoja yang selama ini akrab
dengannya semenjak sekolah dasar itu.
Dan kini, ia akan pergi dari
hadapan yeoja itu..., entah apa itu selamanya atau mungkin..., ia akan kembali
ke hadapan yeoja itu...
*Not
You*
Flasback
end...
[Jongwoon POV]
“Samchon...” kali ini
Jiyoung kembali meminta perhatianku. Ah, aku terlalu banyak bengong. Ini tidak
baik.
“Jongwoonie Hyung...,” panggil
Ryeowook, kedengarannya ia khawatir, “sudah jangan pikirkan masalahmu... Kita
di sini untuk melupakan kepenatan sejenak...”.
“Aku tau betul apa yang kau
rasakan, Hyung...” kata Kyuhyun.
Aku memandang mereka berdua.
Si anak manis yang sangat perhatian tapi agak usil, dan si maknae yang sifatnya
mirip iblis. Aku tau kedua dongsaengku ini memiliki perasaan kekeluargaan dan
persahabatan denganku yang sangat erat, sehingga ketika terjadi situasi seperti
ini mereka dapat mengerti akan keadaanku, begitu pula aku kepada mereka.
“Sudah... Jangan bersedih
lagi, ya~~...” pinta Tiffany, ia memang tidak suka keadaan di mana yang
harusnya bahagia malah menjadi sendu.
Aku tersenyum. “Mian, ya...”
kataku, “Joha... Ayo kita makan sama-sama...!”.
*Not
You*
“Jongwoon Hyung?” sambut
Changmin begitu aku datang ke restoran kecilnya itu. Ia memberiku bungkukan
kecil dan aku hanya membalasnya dengan senyuman.
“Yeobo, kenapa ada pelanggan
kau biarkan di luar?” ku dengar suara sayup-sayup seorang pelayan yeoja
mendekati kami. Rupanya itu Sooyoung.
Begitu melihatku, niat
Sooyoung yang hendak memarahi nampyeon-nya, Changmin, sirna seketika saat
melihat pelanggan yang dimaksudkannya adalah aku.
Sooyoung tertegun ketika
melihatku. Aku memberi senyuman padanya.
***
“Senang bertemu kalian
lagi...” kataku.
“Lama tak bertemu, Hyung...”
kata Changmin menyempatkan waktunya untuk mengobrol denganku.
“Geurae...” kata Sooyoung,
“Kami cuma melihatmu bersama Kyuhyun Oppa dan Ryeowook Oppa lewat layar
televisi... Sudah berapa tahun, ya, kita tak bertemu...?”.
“Tapi akhirnya, kami senang
bisa bertemu dirimu Hyung...” kata Changmin, “Ya, meski itu cuma kau...”.
“Kapan-kapan aku akan
mengajak Ryeowook dan Kyuhyun ke sini...” kataku, “Aku tau kau (Changmin) pasti
kangen bertatap muka dengan Kyuhyun dan makan bareng dengannya, kan?”.
Atas kalimat yang ku
lontarkan, kami hanya terkekeh.
“Jadi...,” aku memandang
sekeliling, “ini restoran yang di ceritakan Kyuhyun itu, ya?”.
“Benar sekali, Hyung...”
kata Changmin, agak tersipu menjelaskannya.
“Kalian mengelola restoran
ini berdua?”.
“Bisa dibilang begitu...”
kata Sooyoung, “Di sini juga ada beberapa tenaga kerja selain kami...”.
Aku memandang mereka berdua.
“Bukankah kalian pasangan yang sangat kompak?” kataku, “Kalian sangat serasi...
Bahkan bisa membangun sebuah bisnis seperti ini bersama-sama...”.
Kata-kataku itu rupanya
berhasil membuat mereka agak tersipu. Ah, ini adalah fakta... Tidak berlebihan,
kok...
“Oya, Hyung... Bagaimana
dengan Geunyoung Nuna?” tanya Changmin kemudian.
Sooyoung menyikutnya. Entah
itu artinya ia tak suka atau ia tak mau membuatku sedih Tapi ku rasa, Sooyoung
ingin Changmin tak membicarakannya Tapi
rupanya, Changmin tak begitu mengerti.
Kemudian keduanya
memandangku yang hanya termenung. Tapi itu tak berlangsung lama.
“Aku sudah tak bertemu
dengannya sejak beberapa tahun yang lalu...” aku tersenyum tipis pada keduanya.
Ya, berita yang mereka
dengar dariku masih sama : sudah tak bertemu dengan Geunyoung sejak beberapa
tahun yang lalu.
“Uh... Joesonghaeyo,
Hyung... Aku..., jadi membuatmu sedih...” ujar Changmin. Rupanya senyumanku tak
cukup membuatnya mengira aku baik-baik saja.
“Gwaenchanha...” kataku,
“Tidak usah khawatir...”.
Meski aku sudah berkata
demikian, Sooyoung maupun Changmin masih saja terlihat bersalah, terutama Changmin.
***
Sudah waktunya aku pulang.
Kyuhyun mengirimiku
pesan-pesan yang sudah dapat dipastikan dari isinya bahwa ia habis kesabaran
menungguiku, sudah 14 pesan masuk di ponselku. Sedangkan sebanyak 38 missed call dari Ryeowook sudah
terpampang di layar ponselku.
Aku hanya memandangi semua
kiriman itu sembari berjalan pulang.
Tapi sudah tiga kali
bolak-balik memandangi kiriman itu satu-persatu, aku merasa jenuh. Ku selipkan
ponselku itu ke kantung bajuku, dan memandang ke depan.
Namun pandanganku tertuju
pada satu titik, seorang bocah laki-laki di dekat lampu jalan itu yang berdiri
sendirian memandang tak tentu arah. Jika dipikir lagi, sedang apa bocah sekecil
itu ada di sini, di hari yang beranjak gelap ini?
Aku kemudian menghampirinya.
“Hai, adik kecil...”
panggilku pada bocah lugu itu yang memandangku begitu aku memanggilnya, “Malam
akan segera turun... Kenapa kau tak segera pulang ke rumah...?” tanyaku.
“Apa Ahjusshi tau di mana Umma-ku...?”
tanya bocah itu. Ah, geuraeyo...
“Kau terpisah dari Umma-mu?”
tanyaku memastikan, dan bocah itu mengangguk. Aigoo, bocah yang berumur sekitar
enam atau tujuh tahun seperti ini kenapa bisa...? Tapi bocah ini tak terlihat
sedih atau panik.
Aku mengusap kepalanya.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Jang Min Hwa...” katanya.
“Jadi, Minhwa-ya..., apa kau
ingat di mana alamat rumahmu...?” tanyaku perlahan.
Tapi rupanya bocah ini dapat
mengerti pertanyaanku dengan baik. “Rumahku di Itaewon...” katanya.
Syukurlah... “Hm... Oya,
kalau boleh tau, siapa nama Ibumu?” tanyaku lagi.
“Nama Ibuku Moon...,”.
“Minhwa!” panggil seorang
yeoja yang mendekati kami.
Minhwa menoleh pada yeoja
itu. “Umma!!” serunya.
Huah, syukurlah... Umma-nya
datang. Mungkin sampai sini saja... Aku sudah terlambat dan aku tidak mau
memaksa dua dongsaengku di dorm untuk
kembali mengirimiku pesan atau menelponku. Jadi aku segera angkat kaki dari
situ.
Aku masih mendengar
percakapan Ibu-anak itu.
“Ahjusshi itu tadi hendak
menolongku...” ujar Minhwa.
“Geuraeyo?” kata Ummanya.
“Jamkkanmanyo!!” panggil
yeoja itu. Iya, dia memanggilku.
Aku lantas berbalik, dan...,
yeoja itu...,
“Gamsa hamnida atas
pertolongan Anda...” ia memberiku bungkukan, “Terima kasih karena te...,”.
Yeoja itu..., juga
mengenaliku...
“Jongwoon..., Oppa...”
ujarnya.
Aku menyadarkan diriku dari
lamunanku, dari rasa keterkejutanku. “Lama tak bertemu..., Geunyoung-ah...”
kataku.
***
“Berapa umurnya Minhwa?”
tanyaku pada Geunyoung ketika kami berjalan menuju halte bis, dan Minhwa sudah
tidur dalam gendongannya.
“Baru enam tahun...” kata
Geunyoung.
Suasana hening sesaat.
“Mian karena aku muncul di
hadapanmu...” kataku.
Geunyoung memandangku. “Apa
maksudmu?” katanya, tak menyetujui pernyataanku.
“Aku..., hanya tak ingin
mengganggu hidup barumu...” kataku.
“Aku menyukaimu Oppa...”
kata Geunyoung.
Aku tertegun mendengarnya.
Aku berbalas memandangnya.
“Aku tau kalau sekarang itu
tak mungkin karena..., kau tau, kan, bagaimana aku sekarang...?” katanya, “Kau
tau kenapa aku bilang bahwa aku tidak menyukaimu hari itu? Hari saat kau
mengatakannya padaku?
Karena aku tak ingin
melihatmu tersakiti... Setiap aku berada di dekatmu, Aboji akan meyuruh Asisten
Kim untuk mencarimu dan.....,” ia tak mampu melanjutkan kata-katanya, “Kau tau,
jika aku mengatakan aku juga menyukaimu dan aku memilihmu..., aku takkan sanggup
melihatmu seperti itu terus menerus... Aku malah merasa tertekan...
Mianhaeyo, Oppa... Harusnya
akulah yang mengucapkannya...”.
Untuk sesaat, hatiku yang
memang telah membeku ini semakin membeku ketika mendengar pernyataanya. Sebuah
penyesalan pasti, namun inilah jalan yang terbaik... Aku sangat menghargai
pilihannya, meski memang rasanya itu sangat menusuk.
Aku tersenyum.
“Kini..., tak ada lagi Kim
Jong Woon namja berantakan di sampingmu... Kini ada seorang namja yang akan
setia padamu..., orang yang akan melindungimu..., orang yang juga akan
melindungi anak kalian...” kataku, “Dan itu bukan aku...”.
Geunyoung memandangku
kembali.
“Sekarang..., berbahagialah
dengannya... Kini ialah yang kau miliki...” kataku, “Maka dari itu..., jaga ia
sebaik mungkin... Karena ialah yang akan menemanimu...”.
“Ani.. Oppa...,”.
“Galkke...” pamitku, ketika
kami sampai di halte bis. Ya, aku memang tidak memerlukan bis untuk pulang,
tapi Geunyoung dan Minhwa lah yang membutuhkannya.
Aku berlalu memunggunginya,
aku segera meninggalkannya, lebih tepatnya mereka. Aku tak mau membuat
Geunyoung mengingatku lagi.
“Oppa!” panggilnya, “Oppa,
jamkkan!”.
Tidak, aku tidak bisa
berbalik seperti waktu itu. Aku harus mengacuhkan panggilan itu apapun yang
terjadi. Aku takkan berbalik lagi, seperti waktu itu.
Aku..., benar-benar akan
pergi..., dari hadapannya...
*Not
You*
Hua~~..., hu, hu~... Nate
jadi mewek, nih~....! T_____T
Reader-deul, adakah yang
mewek juga?
Hehehe.., sekali lagi Nate
ingatkan, saya itu author yang kejam, baik itu pada Reader-deul maupun
FF-nya... Tapi sekejam-kejamnya Nate, aku gak bisa membuat FF yang benar-benar
kejam.
Kekejaman Nate pada FF cuma
terletak pada penyiksaan batin, sedikit penyiksaan fisik ^^misal : pemukulan^, genre, ending, dan lain-lain... ^^catatan : Nate adalah makhluk yang suka FF
ber-ending gantung, apalagi sad ending^
Oya, sekadar info... Dengan
terpaksa dan beribu-ribu kata maaf, Nate harus hiatus lagi...
Kali ini bukan karena gak
ada piti untuk nge-blog, tapi Nate akan melanjutkan penulisan novelku yang
belum ditik di laptop sampai saat ini. ^^setelah
disurvei, pengetikan baru sampai bab dua...^
Kayanya, mengetik novel
sekalian mengetik FF itu gak mungkin dilakukan. Apalagi Nate sekarang sudah
lulus SMP dan baru menapaki kelas sepuluh kejuruan perhotelan... Aku juga gak
mau nge-blog, mengetik FF, mengetik novel, atau sekolah dengan hati yang gak
niat... Jadi, Nate ucapkan, jeongmal joesong hamnida...! (bow)
Mohon do’anya agar
pengetikannya selesai dengan cepat dan novel Nate bisa terbit dan dibaca oleh
Reader-deul..!^
Yeoreobun, jesong
hamnida...! (bow)
Neomu neomu gamsadeuriguyo,
terutama untuk si Isi Hati KimJongWoon atau bisa disebut juga Nuna Yeppo yang
masih bisa ku temui di jam-jam pulang sekolah, Deska yang jauh di mato tapi
dekat di chat^^, dan Azkiya yang sering ku rekomendasikan buat baca FF-ku..
Juga buat Reader-deul, yang meski tidak banyak tapi tetap mengunjungi this simple blog..., Retno Nate
River...!^
Yeoreobun, Annyeong!
Nate akan segera kembali!^
RetnoNateRiver


