Tampilkan postingan dengan label vernon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vernon. Tampilkan semua postingan

[FF] How do I Kiss You : Vernon × Eunwoo

"How do I Kiss You"

Vernon × Eunwoo


Author : Near (RetnoNateRiver)
Genre : Romance
Rating : M
Casts : Seventeen Vernon, Pristin Eunwoo

NO COPY PASTE

Cerita ini murni karya dari otak author


Kalo mau berkarya, usaha dong pake otak kalo masih punya otak
COPAS karya orang lain? Ga punya otak??

Baca juga di
Wattpad | Wordpress



[FF] Aim part XVII

Aim
Part XVII : Fin(al)

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Krek, krek,” kamera itu diarahkan kepadanya.

“Hai,” sapa Solji pada kamera, “ini kamera baruku, aku baru saja membelinya untuk acara reunian besok. Hehehe.” katanya, “Apa yang harus ku katakan, ya?”

“Oh, ya, X team.” ingatnya, “Saat ini, kami memang tidak terlalu aktif lagi, dan kami memang lebih sering terpisah sejak kejadian luar biasa beberapa tahun yang lalu, sampai SWAT pun turun tangan.”

“Dimulai dari Seungcheol Oppa, S.Coups leader kami.” katanya, “Setahun setelah kejadian, semuanya sudah membaik, Korea Selatan menjadi aman dan damai. Dan di saat itulah, ia mempersunting Pelatih Han. Yup, siapa lagi kalau bukan Nayeon Onnie!”

“Tiga tahun yang lalu mereka menikah, dan sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua.” katanya, “Lalu Jeonghan Oppa, Seri, Seokmin dan Sunyoung kini lebih fokus dalam tugas penyelidikan mereka, menjadi detektif dan polisi pada umumnya. Mereka banyak mengungkap kasus-kasus pembunuhan yang rumit.”

“Jihun sendiri masih bekerja untuk Kepolisian sebagai hacker, sementara Junhui harus bolak-balik Cina-KorSel karena tugas. Mingyu baru saja kembali dari camp setelah hampir dua tahun bertugas di sana. Oya, dia sudah berkenalan dengan Haera, dan ku rasa ada sesuatu di antara mereka.” Solji terkekeh, “Sementara Wonwoo dan,”

“Kau lihat di mana handukku?” suara bass itu menggema.

Solji jengah, “Memangnya di situ tidak ada?” teriaknya, dengan segera ia menghampiri si pemilik suara dan meninggalkan kameranya di atas meja rias.

Selama keheningan itu, kamera berhasil menyorot seisi kamar berinterior elegan yang dipenuhi warna-warna lembut. Di dindingnya terdapat sebuah rak besar berdesain unik penuh dengan buku. Tak luput dari rekaman, tertangkap juga beberapa pigura di samping kasur king size itu.

Pigura-pigura yang terbilang masih baru dan sangat cantik. Berisi banyak gambar seorang pria dengan stelan jas rapi dan senjata di tangan serta seorang wanita yang memakai gaun putih juga dengan senjata di tangan. Sebuah pre-wedding photo yang mengusung tema yang sangat unik.

***

Aim
Part XVII : Fin(al)

***

Seorang wanita dengan tubuh semampai, rambut hitam kecoklatan yang dikuncir rapi, dengan langkah tegas memasuki lapangan indoor dan berhadapan dengan beberapa polisi di sana.

“Mulai sekarang, sebagai pengganti Pelatih Han Na Yeon yang harus absen karena baru saja melahirkan anak pertamanya,” ucap wanita itu, “aku akan melatih kalian sampai Pelatih Han kembali atau sampai penggantinya datang. Kalian bisa memanggilku Pelatih Choi,”

“Choi Sol Ji.”

“Siap!” seru seluruh pasukan itu.

“Lihat, dari kecil sampai dewasa pun dia takkan pernah tumbuh menjadi gadis manis,” ucap Seungcheol, dari lantai atas memerhatikan Solji yang memulai hari pertamanya melatih bela diri menggantikan isterinya, Nayeon.

Wonwoo hanya tersenyum.

“Kapan-kapan mampirlah ke rumahku, aku ingin menunjukkan banyak hal tentang Solji padamu.” Seungcheol menatap pria di sampingnya.

Wonwoo mendelik. “Kenapa kau ingin sekali menunjukkannya, Hyung?” herannya.

“Kenapa?” Seungcheol terkekeh, “Wonwoo-ya, kau tak usah pura-pura padaku. Aku tau sebenarnya ada yang ingin kau katakan padaku akhir-akhir ini, tetapi kau tidak bisa mengungkapkannya.”

Hyung, aku,”

Seungcheol keburu mendekap bahunya, “Kau sudah dewasa, Jeon Won Woo. Kau tau apa yang harusnya kau pilih di usiamu yang sudah sangat matang ini.” nasihatnya, “Kau tak perlu takut soal bakcground-mu. Lagipula namamu sudah dibersihkan di persidangan yang lalu, kan?”

Wonwoo ingat itu, “Gomawo, Hyung.” dan Seungcheol lah yang membantunya.

Setelah kejadian menegangkan itu usai, oleh rakyat Korea Selatan nama Wonwoo sempat mencuat dan disebut-sebut sebagai pengkhianat negara dan tidak pantas berada di dalam kepolisian. Hal ini dikarenakan Wonwoo sempat bekerja sama dengan Ilsung untuk mengkhianati negara.

Namun Seungcheol menegaskan bahwa Wonwoo mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan negara ini. Buktinya ia mau kembali pada jalan yang benar, berbalik membasmi Ilsung, dan melindungi segenap bangsanya, bahkan hampir mati.

Tidak ada lagi pembunuh bayaran Park Shi Yeon, tidak ada lagi teroris Jung Il Sung. Semuanya sudah damai dan aman, Korea Selatan tetaplah satu kesatuan yang utuh.

Wonwoo sudah mengurus semua dokumennya yang masih beratasnamakan Park Nam Kyung yang kemudian dirubahnya menjadi Jeon Won Woo. Sebenarnya ada satu alasan kenapa ia membenahi itu semua, namun Wonwoo tak bisa mengungkapkannya pada siapapun.

“Bagaimana? Beberapa identitasmu sudah bernama Jeon Won Woo sekarang, kan?” selidik Seungcheol, Wonwoo terkesiap, “Aku sudah tau, kok.” ditepuknya bahu itu berulangkali.

Wonwoo meragu.

“Kau tak perlu cemas,” kata Seungcheol, “aku sudah merestuimu.”


[FF] Aim part XVI

Aim
Part XVI : COMA

 

Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, Choi Han Sol/Vernon

Cameo : Joshua Hong

***



A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

[Vernon (ft. Pledis Girlz (Eunwoo)) - Sickness]


Setiap malam, buku catatan dengan sampul kulit kecoklatan itu seperti dongeng pengantar tidurku. Benar, di dalam map cokelat wasiatnya, Shiyeon juga memberikan buku catatannya itu padaku. Selain itu, isinya hanyalah dokumen-dokumenku, salah satunya adalah dokumen perubahan namaku.

Sekarang aku hidup sebagai diriku sendiri, aku hidup dengan namaku sendiri. Aku bukanlah Park Nam Kyung, aku Jeon Won Woo.

Buku itu ternyata buku hariannya Shiyeon, di mana semua keping dari puzzle yang tersisa bersembunyi di sana selama bertahun-tahun. Dan kini, aku sedang melengkapi puzzle-ku.


“Setiap kali aku melihatnya, aku menderita. Ada dua alasan mengapa aku ikut menderita. Pertama, karena lelaki itu tak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya. Dan yang kedua, karena ia dan laki-laki itu telah melakukan hubungan spesial.

Aku merasa seperti makhluk halus yang tidak kasat mata. Seharusnya ia tau, sejak awal aku selalu memperhatikannya, akulah orang yang sangat mencintainya. Namun sudah menjadi pekerjaannya memadu kasih dengan banyak laki-laki, dan beginilah akhir dari perbuatannya sendiri.

Ini sudah memasuki bulan kelima, aku makin menderita melihat perut buncitnya. Persetan lelaki yang kabur dari tanggung jawabnya itu.

Aku akan memberinya pelajaran.“.


Dia ―perempuan? Siapa? Apa yang Shiyeon maksud adalah Ibuku? Shiyeon menyukai Ibuku?

Pantas saja Shiyeon selalu ‘merawat’ Ibuku, terutama setiap kali wanita itu pulang dengan pakaian minim dalam keadaan mabuk. Ternyata semua itu berlandaskan satu hal : cinta.

Lembar selanjutnya.


“Dia datang, dia sudah mendatangi kediamannya. Ia menyorakkan keadilan dan menagih tanggung jawab. Namun para penghuni rumah megah itu sama saja, tak bertanggungjawab.

Jadi sebelum ia berbalik, ia bersumpah akan menamai anak itu dengan marga mereka, sebagai tanda itulah hasil dari perbuatan haram mereka yang seharusnya dipertanggungjawabkan. Tetapi sama saja, dia pulang seperti sampah dan tak ada yang mengakuinya sebagai benda berharga.

Persetan lelaki itu.”.


Dari situ setidaknya aku paham, bahwa nama asliku ini ternyata nama yang dipaksakan. Mungkin itulah mengapa Shiyeon menamaiku ―ulang― dengan nama Park Nam Kyung dan berpura-pura menjadi puteranya selama bertahun-tahun.


“Tak ada yang bisa ku ucapkan selain kata maaf. Dia akhirnya tau kalau aku telah menghabisi lelaki kurang ajar itu. Dia memarahiku habis-habisan.

Pasalnya, lelaki itu akhirnya sepakat untuk bertanggungjawab, hanya saja ia takkan memberitau keluarganya perihal rencana tersebut, namun pada malam setelah mereka bertemu aku malah membunuhnya. Bodoh, kenapa aku gelap mata?

Sebentar lagi anak itu akan lahir dengan nama yang dipaksakan, tanpa seorang Ayah, dan itu semua karena kesalahanku. Tidak, maafkan aku, Minchae.

Aku mohon.”.


Heol, desisku.

Dia yang Shiyeon maksud memang benar Ibuku. Dan bodohnya lagi, karena tindakannya yang egois itu membuatku terlahir menderita. Aku baru tau kalau Shiyeon bisa kejam juga padaku, parahnya ia tak pernah memberitauku selama ini.

Heol... Kau bodoh, Shiyeon...


Aim part IV

Aim
Part IV : 내돈생이 My Little Bro 


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Han Sol/Vernon, Shin Hae Ra (OC), Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Dor! Dor!”. Hari ini mereka berlatih menembak.

Omo, omo,” beberapa kali Jihun kehilangan kendali senjatanya, “omo, Jihun-ah.”.

Mendengar kebisingan itu, Seri melirik ke arahnya, “Shikeureo~...” Jihun menatap ke arahnya, “Pegang erat, dan pandangan ke depan! Aiming! Fokus, Woozi-ya!”.

Hari ini Jeonghan sudah bisa kembali bekerja dalam X Team. Dokter yang menanganinya telah memperbolehkannya pulang. Begitu kembali dari rumah sakit, Jeonghan langsung ikut serta dalam pelatihan ini.

“Wow, aku merasa lebih baik.” gumam Jeonghan, lalu kembali menembak.

Selesai menembak, mereka mengumpulkan kertas yang menjadi sasaran tembak mereka kepada Pak Kim dan salah seorang pelatih menembak yang membimbing mereka.

“Hihihi.” Jihun hanya nyengir ketika menunjukkan kertas sasaran tembaknya.

Si pelatih itu menggeleng-gelengkan kepala melihat rata-rata hasil tembakan Jihun hanya mengenai lingkaran nomor tiga, empat, dan lima. Sangat buruk, yang paling buruk.

Namun beliau mendapat hasil yang memuaskan ketika melihat kertas sasaran tembak milik Mingyu dan Wonwoo. Pria itu tersenyum puas melihat hasil keduanya 90% mengenai llingkaran nomor sepuluh, sementara 10% sisanya meleset ke nomor sembilan.

Kedua lelaki itu saling berpandangan, “Wow.” ucap Mingyu mengagumi, sementara Wonwoo hanya cukup dengan senyuman tipis saja.

Terbaik, yang paling baik.

[FF] Aim part III

Aim
Part III : Shin Hae Ra


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Shin Hae Ra (OC), Choi Han Sol/Vernon Choi, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

Jihun terkejut melihat seorang gadis meletakkan sepiring roti lapis untuknya. Ketika mendongak, Jihun mengenalinya ―Seri.

“Sudah sarapan?” gadis itu sedang mengunyah roti lapisnya sendiri.

Jihun tak bergeming, “Kau,”.

“Sarapan di pagi hari akan meningkatkan konsentrasimu ketika bekerja, itu yang ku baca hari ini. Dari tatapan matamu saja, kau kelihatan tidak fokus. Dari gerak-gerikmu aku tau kau kekurangan energi.” oceh Seri lagi. “Semua yang datang hari ini sudah sarapan, kecuali dirimu, Woozi-ya.”.

Jihun berkedip.

“Tunggu apa lagi? Dimakan sandwich-nya!” suruh Seri.

Terasa menggelitik di dadanya ketika ia tau Seri memperhatikannya. Tapi Jihun masih sama saja, “Kapan kau akan memanggilku ‘Jihun Oppa’?” godanya.

Jelas Seri tersinggung. Ia memang tidak pernah memanggil nama aslinya ―Jihun― ia lebih suka memanggil code name-nya ―Woozi― sehingga ia tidak perlu menuakan cowok pendek itu.

Seketika Seri merebut roti lapis itu, Jihun segera menahannya dan berkata, “Aku lapar, aku lapar!” ralatnya, membujuk rayu Seri supaya tidak jadi marah, “Aku akan makan rotinya. Sungguh.” cengirnya.

Meski masih tersinggung, Seri pun membiarkan Jihun merebut sandwich itu dari tangannya.


[FF] Aim part I

Aim
Part I : Get to know Us


Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Han Sol/Vernon, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min

***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near
***

Aku hanyut dalam dekapannya, tubuh terasa panas seketika ia merenggut apa yang ku punya. Ku biarkan ia berkelana dari mulutku yang terbuka untuknya. Jika benar, jika saja ia bersungguh-sungguh.

“Hentikan,” rintihku, “you just bite it.”.

Namun ia berdesis, menolak apa yang ku perintahkan padanya. Ia bermain-main sesuka hati, aku sudah terkunci olehnya.

Stop it,”.

One more time.”.

Kami sadar, semua yang kami lakukan ini tidak berdasarkan pada sesuatu hal yang mendasar, tanpa sesuatu yang jelas. Kau taulah sesuatu itu.

Namun ia terlalu mudah untuk tergoda ―meskipun aku bukan jenis wanita penggoda.

“Manis,” desisnya, “my Sally..., Solji-ya.”.

Aku ingin mendengarnya lagi.

“Solji-ya,”.

[FF] Aim (Spoiler ver.)

Aim

Spoiler ver.



Author : Near

Genre : Action, Romance, NC +19, OC

Main Casts : Choi Sol Ji/Sally (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : ▫ Kim Min Gyu

▫Choi Seung Cheol

▫Han Na Yeon (OC)
▫Yoon Jeong Han
▫Wen Jun Hui
▫Lee Ji Hun
▫Cheon Se Ri (OC)
▫Kwon Sun Young
▫Lee Seok Min
▫Choi Han Sol/Vernon Choi


***

Namaku Choi Sol Ji, nama Inggrisku Sally Choi.

Aku bekerja selama satu tahun sebagai seorang polisi. Namun karena kelebihanku di lapangan membuatku akhirnya dipindahkan ke sebuah tim kecil yang dibentuk Kepolisian dan Persatuan Agen Rahasia.

X-Team, nama yang kurang kreatif bagiku. Well, di balik nama itu terdapat banyak anggota yang luar biasa! Bisa dibilang, kami adalah secret agent. Disebut X karena kami adalah tim yang dibentuk sebagai rencana atau senjata tersembunyi ―bak tanda X dalam peta harta karun.

Yeah, kau tau aku tidak pandai berkata-kata.

***

“Oh, sudah datang rupanya,” seorang pria tua keluar dari ruangan itu, semua membungkuk hormat padanya, “Putera semata wayang Park Shi Yeon,” sambut pria tua itu.

“Sayang, kau salah menyebutkan identitasku,” dingin si pemuda.

“Kau tau aku bekerja untuk siapa, kan? Aku yakin anaknya Shiyeon pasti sudah paham akan tugas yang diemban Ayahnya. Bukankah begitu, Tuan Muda Park?”.

“Bukan,” sangkal pemuda itu, “namaku Jeon Won Woo.”.

***

“Namaku Kim Min Gyu! Mohon bantuannya!”.


Annyeong haseyo, Choi Sol Ji imnida.” senyumnya ramah.

Annyeong haseyo, jal butak-deurimnida.” balas Mingyu, “Cantik juga.” batinnya melihat tatapan itu.

***

“Klek!!” mereka saling menodongkan pistol, namun,

“Dor!!” pria itu justru menembak Jeonghan.

“Bruk!” seketika Jeonghan ambruk.

“Sekarang tinggal kita berdua, Tn. Song.” sinisnya pada Seungcheol, “Atau sebenarnya, kau bukan Tn. Song...?” ia tertawa sambil menodongkan senjatanya ke arah pemuda itu.

***

Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.

“Wonwoo?” Mingyu lebih kaget lagi.

“Kau mengenalnya, Nuna?” kaget Mingyu.

***

Bangapseumnida.” bungkuk Wonwoo.


“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo, ya? Berarti, Onnie tau, dong, sifatnya Wonwoo itu? Apa dia memang dari dulu begitu?” tanya Seri, “Begitu dingin, cuek, tidak punya wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi, tidak pernah senyum, seperti batu es?”.


“Dia laki-laki yang pernah menjalin hubungan itu denganku.”.

“Jadi Won―” Seungcheol hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo orangnya?!” gegernya berbisik.

***

“Hansol? Siapa?” tanya Mingyu.

“Adik laki-lakiku.” jawab Solji.


“Kenapa tanya-tanya soal Hansol?”  sahut Seokmin.

“Cemburu, ya?” tambah Sunyoung.

Mingyu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk.

***

“Bagaimana aku hari ini,” Seungcheol tersenyum menggoda, “Pelatih Han...?”.

***

“Belum ada kabar?” sahut pemuda itu. “Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” cengir pemuda itu.

Wonwoo terbelalak, “Kalian menyuruhnya bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya, “Persetan kalian.”.

***

“Haera-ya,” panggil Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali ke sini. Berada di dekat Ilsung akan membuatmu menderita.” bisik Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.

***

“Oya, kau tau apa ini? Kau tau siapa yang memberikannya padaku?” Ilsung menunjukkan map coklat di tangannya.

Haera menggeleng lagi.

“Wonwoo.”.

Seketika nampan yang Haera bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya. “Wonwoo...?” lirih Haera.


Diam-diam Wonwoo menatap dua temannya itu lekat-lekat. “Dokumen itu, dan ledakan bom hari ini. Semua ini hanyalah butiran gula yang manisnya mengundang semut,” batinnya, “Ilsung ingin mereka datang kepadanya, dan di saat itulah...,”.

***

“Maksudku..., kau akan pulang dalam keadaan utuh jiwa dan raga, kan, Sally...? Kalau bahasa kasarnya,” Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka, aku hanya tak ingin kau mati, Nuna... Just that simple...”.

***

“..., Kwon Sun Young dan Lee Seok Min, serta Choi Sol Ji dan Kim Min Gyu, menyamar berpasangan.”.

“Tunggu, berpasangan?” ralat Solji.

“Iya, berpasangan,” ulang Seungcheol, “apa di sini ada yang belum pernah pacaran??”.

Sunyoung secara spontan mengangkat tangan, padahal ucapan tadi hanya sebagai kiasan. “Oh? Bercanda, ya?” cengirnya.

***

“Jadi apa rencanamu, Nuna?” tanya Mingyu.

“Kau punya saran?” Solji berbalik bertanya.

Junhui pun menyahut dari tempat duduknya di samping Wonwoo, “Hei, berciumanlah!” usilnya.

Sontak semuanya tertawa, kecuali Wonwoo. Ketika semuanya sedang tertawa, Mingyu tak sengaja melihat Wonwoo yang tak ikut bersendagurau dan kembali membaca, hanya saja tatapannya tidak fokus. Hal yang sama didapatinya pada Solji yang kelihatannya memikirkan sesuatu.

“Ada apa, Nuna?” tanya Mingyu.

Gadis itu hanya menggeleng, “Anio.”.

“Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi pada Wonwoo Hyung? Katakan saja, Nuna. Aku tidak ingin kau marah padaku.”.

“Mingyu-ya, bisakah kau biarkan aku supaya aku tidak marah padamu?”.

***

“Apakah ada yang salah dari caraku memimpin mereka, Sonsaengnim?” lanjut Seungcheol, “Jika memang ada yang salah dari,”.

“Tidak ada yang salah dari caramu memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku ingin menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.

“Kenapa? Apa Anda akan meninggalkan kami?”.


“Ku titip keponakanku padamu,”.

***

Pria tua itu tertawa lagi, “Lihat siapa yang merindukan pujaannya.” Ilsung mendatangi Haera, “Aku mengerti betul bagaimana perasaanmu padanya, Anakku, tapi,” ia menarik dagu gadis itu lembut, “apa kau yakin hanya ada dirimu di hatinya?”.

***

Geram, Wonwoo menarik dagu itu kasar, “Apa kau tuli?!! Katakan, di mana Ilsung?!!” bentaknya.


“Ngiiiing~~...!!”.

“Akhh!!” rintihnya keras, ia jatuh terduduk dan berusaha melepas benda di telinganya itu dengan tergesa.

“Astaga!!” jerit Seri, ia langsung terjatuh di atas lantai.

Aish!!” Sunyoung langsung melempar benda itu dari telinganya.

Hal yang sama pun dirasakan Junhui. “Sialan!!” ia banting benda itu.

Ouch!!” pekik Solji, tangannya segera mencabut benda itu dari telinganya, “What the f..., arrgghh!!”.

“Akh! Sebenarnya apa yang Ilsung rencanakan?!!” ia geram pada gadis itu.


“Aku yakin, Cha Yuk Seon hanyalah umpan untuk kita.” selidik Jeonghan, “Sebenarnya, Yukseon mengantar kita pada sesuatu!”.

***

Solji merasa Mingyu sudah berhenti menyiraminya. Namun ketika Solji sedang membasuh wajahnya yang basah, ia merasakan seseorang menarik tubuhnya lembut, merangkul pinggangnya, dan ia merasakan bibirnya berubah menjadi sangat hangat.


Tunggu, Wonwoo?

“Plak.” entah apa yang membuat Solji menampar Mingyu.

Mereka bertatapan, “Lancang.” desis Solji.

***

“Bruk!” Wonwoo lah yang membanting Mingyu pada dinding. Kedua lelaki itu saling beradu tatapan tajam. Wonwoo lah yang memukul Mingyu kemudian.

Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo pada pagar balkon lalu berbalas memukulnya. Impas keduanya.

“Kurang ajar kau, Kim Min Gyu.” suara bass itu menggema, kerah baju Mingyu dicengkeramnya kuat-kuat.

Kepala mereka berbenturan dan saling beradu, tatapan keduanya saling memburu.

“Hentikan!” seru Solji.

***

“Kami pernah berhubungan tanpa status,” jawab Wonwoo pada akhirnya, “kami..., saling mencintai tanpa..., terikat hubungan apapun...”.
  

Bahkan ketika ia mencuri pandang ke arah jam di bed side table-nya, Solji berdecak, “Baru lima belas menit,” gerutunya dalam hati, “ayolah, kenapa waktu berjalan begitu lambat?! Wonwoo sudah menyiksaku! Tetapi...,”.

“aku menyukainya...”.

***

“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.

“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di dalam mobil yang menjemput target.”.

***

“Aku ingin kau mengambil salah satu dari mereka, tahan dia di sini, dan bawa ‘inti’ itu untukku. Kau paham, kan, sekarang...?” jelas Ilsung, “Jangan takut, kekhawatiranmu takkan terjadi, Tn. Muda. Lagipula ini adalah tugas terakhirmu di bawah naunganku.”.


“Ingatlah, tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak Kim.

Dahinya berkerut, “Ne? Maaf?” Wonwoo berucap.

***

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.

Deg! Firasat itu kini menyerang ke ulu hatinya. Seungcheol yakin ada yang salah di sini. “Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.

***

“Kenapa? Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?” ujar Seungcheol lembut ―namun tegas.

“Bukk!!” entah kenapa Nayeon malah memukulnya hingga lelaki itu jatuh tersungkur.

***

“Kita akan berangkat sekarang ―meski tanpa Wonwoo.” sambung Seungcheol.


“Siapa kau? Jangan main-main denganku!” galak Nayeon.

“Kau ingin tau?” tanya pria itu.

Segera ia lepas kupluk dan maskernya, dan tak perlu waktu lama hingga Nayeon terkejut. Pria itu pun menyambut, “Apa kau puas sekarang..., Pelatih Han...?”.



“Hentikan van ini!! Hentikan!!” seru Jihun, dengan kemampuannya yang tersisa ia berusaha menggapai setir itu.

“Sialan!!” gerutu si polisi gadungan tersebut.

“Uwwaaaa...!!”.

“Tiiiinn...!!”.

“Braakkk!!!”.

***

“Klek.” terdengar suara senjata yang Solji genggam berseru.

“Tenang, Manis. Aku tidak bawa senjata.” aku Ryeojin, “Bahkan bukan aku yang menculiknya. Ditugaskan saja tidak.”.

Semua terbelalak.

“Apa maksudnya?” desis Junhui.

Ryeojin tersenyum penuh arti, “Yang menculik mantan atlet ini ada di belakang kalian ―yang ada di ambang pintu.” jelasnya.

“Ti, tidak mungkin,” desis Seokmin.

“K, kau,” Mingyu terpaku.

“Persetan kau,” maki Solji, “Jeon Won Woo.”.


“Aku tak tahan lagi ―dasar pengkhianat,”.

“Hoshi!” seru Seungcheol.


“Kau telah membunuh...,” lirih Seri, “Kau telah membunuhnya!!”.


“Aku,” Mingyu mengatur nafasnya, “aku akan membunuhmu sekarang juga, Hyung!! Bersiaplah untuk mati!!”.


“Dor!!” tembakan itu meleset ke arah dada kiri pria tua tersebut.

Solji terkejut bukan main, “Kim Sonsaengnim!!!” jeritnya melihat pria tua itu sudah tersungkur jatuh di sampingnya.


“Tidak, tidak, tidak!!” Junhui mulai panik begitu mengetahui keadaan Pak Kim.


“Jihun Hyung! Kau mendengarku, kan?!” Mingyu menepuk-nepuk pipinya, “Apa mungkin Hyung...,”.

***

Junhui tidak bisa mengatur nafasnya sendiri, “Maafkan aku, kawan-kawan,” lirihnya, “aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya.”.

***

“Kau kejam sekali pada Ibumu.”.

“Lebih kejam mana ―aku atau Ibu?”.

“Cukup, Jeon Won Woo!!!”.

“Aku lebih senang dipanggil dengan nama Park meski itu kedengaran kuno dan menyedihkan.” lanjut Wonwoo, “Daripada aku menggunakan nama asli dengan marga yang dipaksakan.”.


“Dan aku takkan pernah mengampuninya.”.


***


comming soon...

Aim

Part I : Get to Know Us



***

Ppabam~~...

Near berharap banyak yang menantikan Aim ini, ya, Reader-deul^^ Semoga banyak yang baca dan tanggap juga sama karya Near yang satu ini. Jangan jadi siders deh pokoknya!^^

Ditunggu, ya, Aim part pertama, Get to Know Us.

Gamsa hamnida^^

Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^