[FF] Aim part VIII
Aim
Part VIII : We are
Team
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri
(OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
| Spoiler ver. |
***
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Sementara itu, Seokmin melihat sesuatu. “Yuk..,
maksudku, target berada di pintu gerbang.” lapornya.
“Dia menunggu sesuatu.” tambah Seri.
“Jeonghan, masuk.” sahut Seungcheol.
Saat ini, lelaki berambut panjang itu sudah
siap di dalam mobil sport-nya. “Stand by,” jawabnya pada Seungcheol.
Mobilnya segera melaju.
“Wonwoo-ya,” panggil Seungcheol.
“Siap.” jawab Wonwoo, ia dan Seungcheol segera
beranjak keluar kamar dan turun ke lantai dasar untuk menemui Jeonghan.
“Sebuah mobil menjemput target.” lapor Seri,
kali ini Solji berdiri di dekatnya ―seperti yang Seungcheol lakukan tadi.
Ketika Sunyoung mendorong troley-nya di lobby, ia
melihat Wonwoo dan Seungcheol bergegas keluar hotel. Di sana, mereka berdua
bertemu sebuah mobil sport putih yang
melintas. Mobil ―dengan Jeonghan yang menyetirnya― itu segera berhenti untuk
Seungcheol dan Wonwoo.
“A, a,”
Seokmin gelagapan melihat isi mobil sedan yang menjemput Yukseon itu, dari
balik semak-semak ia berusaha menutup mulutnya rapat-rapat.
“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.
“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di
dalam mobil yang menjemput target.”.
Aim
Part VIII : We are
Team
“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di
dalam mobil yang menjemput target.”.
“MWO?!” seru Seri terkejut, membuat Mingyu yang
berdiri di ujung sana menoleh padanya, serta membuat Seungcheol jengah karena
pekikan nyaringnya.
“Berhentilah berteriak di HT.” gerutu Junhui
dari posisinya.
“Seri, cukup penguat gelombang itu saja yang
merusak telingaku, tidak usah suara sumbangmu juga,” komplain Sunyoung.
Mobil sport
itu melaju, menyusul mobil sedan hitam yang menjemput Yukseon. Dengan
keberadaan Jung Il Sung di dalam mobil itu membuat Jeonghan tergesa menyetir
mobilnya.
“Kurangi kecepatanmu,” tegur Seungcheol,
“jangan buat mereka mengira kita sedang menguntit.”.
Jeonghan menarik dalam-dalam, benar apa yang
dikatakan lelaki yang duduk di sampingnya ini. Tak sengaja ia beralih pada
Wonwoo yang duduk di kursi belakang.
“Ke, kenapa pelipismu itu, Wonwoo-ya?” ia
menyadari kepala itu ditambal kasa.
“Nanti kita jelaskan,” Seungcheol yang
menjawab, “sekarang fokus ke jalan.”.
Sementara itu, mobil sedan itu segera
mengangkut Yukseon. “Selamat pagi, Yukseon-nim.” sambut Haera ramah dari kursi
di samping supir.
Yukseon duduk di samping Ilsung di kursi
belakang, “Jangan menengok ke belakang karena kita sedang diikuti.” kata Ilsung
pada Yukseon.
Pria tua itu pun mengangguk saja.
“Anda telah menyelesaikan tugas Anda dengan
baik, Yukseon-nim.” senyum Haera.
“Jika demikian,” kata Yukseon, “kalian tidak
akan membunuhku, kan?” tanyanya.
Ilsung tertawa, menurutnya pertanyaan itu
konyol. “Kau sudah tua, Tn. Cha. Untuk apa aku membunuhmu?” katanya, “Justru
kami berterimakasih, kami telah menyiapkan sejumlah upah yang bisa kau bawa
pulang ke kampung halamanmu, kau bisa membeli ladang atau rumah untuk isteri,
anak, dan cucumu. Kami akan memberikannya begitu sampai di markas.”.
Yukseon kelihatan cemas.
“Tenang saja, Yukseon-nim, tidak akan ada yang
melukaimu ―bahkan kami sekalipun.” Ilsung menjamin, “Selama kau menutup mulut
dan menuruti kami, kau akan baik-baik saja.”.
Meski ragu, pria tua itu mengangguk, “Ne,” kata Yukseon.
“Kira-kira, ke mana mereka pergi, ya.” gumam
Jeonghan, dalam hati Wonwoo juga ikut menerka-nerka ―meski ia sendiri
sebenarnya mengenal siapa itu Jung Il Sung.
Dan benar seperti dugaannya, Ilsung ―secara tak
langsung― membawa mereka ke markasnya. Sebuah gedung tua yang urung
diselesaikan dan justru ditinggalkan. Sebagian bangunan telah dilapisi dinding
sepenuhnya, sementara sisanya ―beberapa lantai ke atas― masih berupa
tiang-tiang penyangga.
Dari tepi jalan, mereka bertiga berhasil
menyelidik lebih lanjut tempat itu. Mereka melihat jelas Jung Il Sung yang
turun dari mobil sedan itu bersama Cha Yuk Seon, seorang gadis yang kemarin
mereka temui juga di taman ―Haera, dan seorang supir yang sepertinya juga anak
buahnya Ilsung.
***
Hari ini X Team mengadakan rapat mendesak
setelah kembali dari penginapan. Misi disebut telah usai dan berganti dengan
misi baru.
Jeonghan menunjukkan koordinat yang menjadi
lokasi tempat Jung Il Sung bersarang, itulah markas mereka yang Jeonghan,
Seungcheol, dan Wonwoo temukan tadi pagi. Dalam rapat ini, Seungcheol sekaligus
menyusun rencana-rencana selanjutnya.
Selesai rapat, Seungcheol memanggil semua
anggota timnya kembali ke ruang rapat ―tanpa Pak Kim. Sontak hal ini membuat
mereka bingung, namun tidak untuk Solji, Wonwoo, Mingyu, Seri dan Jihun.
“Jelaskan,”.
Suara dari video itu. Rupanya Seungcheol
berniat mengumpulkan kesepuluh dari mereka untuk menunjukan rekaman tadi pagi,
tentang apa yang terjadi di antara Solji, Wonwoo, dan Mingyu.
Solji
terlihat tidak nyaman,
“Aku
minta maaf kalau selama ini aku tidak jujur pada kalian, aku terkesan
menutup-nutupinya dari kalian yang telah ku anggap keluarga, sebenarnya aku
mengenal Wonwoo lebih dari sekadar teman SMA dan kuliah. Kami dekat, sangat
‘dekat’.”.
“Sudah
cukup,” Seungcheol menyudahi pengakuan Solji, pandangannya beredar seakan
meminta salah satu dari Mingyu maupun Wonwoo untuk angkat bicara.
“Tunggu, jadi apa maksud dari,” ketika Junhui
bersuara, semua berdesis protes padanya, “Maaf.” ralatnya.
“Kami
memang sangat ‘dekat’, hingga kami bahkan ―beberapa kali― melakukan hal-hal di
luar batas.” Wonwoo angkat berbicara.
“Apa
saat itu kau mencintainya?” Mingyu bersuara, Jihun berusaha menenangkannya.
“Aku
sendiri tidak mengerti akan perasaanku saat itu ―aku bahkan belum pernah
berpacaran,” aku Wonwoo, “aku adalah tipe orang yang tidak ingin terikat dalam
hubungan apapun, karena itulah aku memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa
status dengan Solji,”.
“Sehingga
kau bisa meninggalkannya di saat yang kau mau?” sela Mingyu.
“Hei,
tenanglah, sobat,” Jihun berbisik padanya.
Terutama, Jeonghan, Junhui, Seokmin dan
Sunyoung sangat memperhatikan rekaman ini ―karena mereka tidak tau apa-apa.
Agak
lama bagi Wonwoo untuk menjawabnya. “Aku pernah berciuman dengannya,” akunya
lagi, meski sebenarnya berat.
Seri
tercekat, Jihun tak mampu berkata-kata, sementara Solji hanya bisa menunduk.
“Omo..” desis Seri.
“Kau gila?” Sunyoung mendelik ke arah Wonwoo.
“belum
selesai,” ralat Wonwoo, “aku juga pernah..., memakainya...,” katanya ragu,
tatapan Seungcheol membuatnya terpaksa mengungkapkan, “beberapa kali...”.
Barulah
suasana terasa menusuk di sini. “Astaga!” jerit Seri untuk yang kesekian
kalinya, Solji cuma bisa memendam wajahnya.
“Mwoya
ige?!!” Junhui terbelalak.
“Jadi, sebenarnya, apa yang,” Seokmin gelagapan
lagi.
“Sudah, sudah,” Jeonghan menghentikan setiap
komentar yang berterbangan, ia bisa melihat raut wajah Wonwoo sekarang
―kelihatannya mengerikan.
“Jadi, maksudmu, Hyung,” Sunyoung bertanya pada Seungcheol, “Mingyu dan Wonwoo
pukul-pukulan?” mata sipitnya terbuka lebar.
Seungcheol tak menjawabnya, “Yang penting
sekarang tak ada rahasia apapun di antara kita, semuanya sudah jelas ―clear.” ucap Seungcheol yang duduk di
atas meja sana sambil melipat tangan.
“Semoga saja kejadian ini tidak terjadi lagi,”
Jihun menambahkan, “jadi kita bisa hidup dengan kompak karena kita adalah
tim.”.
“Bukan tim biasa,” tambah Seri, “tapi X Team.”
membuat Jihun tersenyum padanya.
Solji langsung bangkit, “Joesonghamnida.” ia membungkuk pada mereka, tak lama Mingyu
menyusul dan melakukan hal yang sama, dan Wonwoo menjadi yang terakhir
mengikuti keduanya. Jadilah mereka bertiga meminta maaf kepada semua anggota
tim.
“Ku anggap masalah ini selesai.” Seungcheol
tersenyum tipis, “Aku tidak mau dengar masalah ini diungkit-ungkit kembali
kedepannya. Khusus untuk Wonwoo dan Mingyu, kalian adalah sahabat, dulu kalian
kompak, aku harap masalah ini adalah tempaan untuk persahabatan kalian sehingga
kalian bisa lebih kompak lagi. Untuk Solji dan Wonwoo, kalian berdua memiliki
‘masa lalu’ yang kurasa tidak perlu kalian ungkit di tim ini. Serta untuk
Mingyu dan Solji, ku harap kalian bisa cukup berteman saja di tim ini.”.
Mingyu sedikit mendongak, apa itu berarti
Seungcheol tidak mengizinkannya menyukai adik sepupunya, Solji? Namun Mingyu
tak berani melawan.
“Dan untuk kalian bertiga, ku minta ke depannya
kalian bisa lebih ‘bersahabat’ lagi di tim ini ―untuk tim ini, untuk anggota
yang lainnya, dan untuk kalian sendiri. Paham?” Seungcheol melanjutkan.
[► Taeyeon – I (ft. Verbal Jint)]
“Siap, paham!” jawab Wonwoo, Solji, dan Mingyu
berbarengan dengan sikap sempurna.
Pandangan Solji tak lepas dari Seungcheol,
“Bubar.” kata lelaki itu. Dalam tatapannya, Solji selalu terkagum-kagum pada
kakak sepupunya tersebut.
Choi Seung Cheol, waktu kecil Solji hanya
mengenalnya sebagai kakak sepupu yang doyan main polisi-polisian dengannya dan
Hansol, karena kedua abangnya tak berminat dengan permainan anak kecil seperti
itu.
Seungcheol tidak memiliki adik, itulah kenapa
ia selalu senang tiap kali keluarga Solji berkunjung ke rumahnya, karena ia
akan memiliki teman bermain, yakni Solji dan Hansol. Meski perempuan, Solji pun
mau diajaknya bermain polisi-polisian. Justru Hansol lah yang sedikit tidak
berminat. Namun karena rasa sayangnya pada Seungcheol, Hansol pun mau ikut bermain
polisi-polisian dengannya.
Sungguh tak disangka, sekarang Solji bahkan
bisa melihat Seungcheol menjadi seorang polisi, bahkan menjadi pemimpin untuk X
Team. Jiwa kepemimpinannya bahkan terlihat tiap kali Seungcheol bermain
polisi-polisian sewaktu mereka kecil.
Dialah yang berperan bak inspektur kepolisian
untuk menangkap penjahat ―yang biasanya diperankan Hansol. Dan sekarang,
Seungcheol benar-benar menjadi seorang pemimpin. Solji kagum padanya.
Dan akan selalu begitu.
[■ Taeyeon – I (ft. Verbal Jint)]
***
“Wah, ada acara apa ini?” sambut Pak Kim
sumringah melihat beberapa meja di satukan, lalu Seri dan Solji bersama
beberapa anggota laki-laki lainnya mulai menata beberapa kotak pizza dan beberapa botol soda di
atasnya.
Sepertinya akan ada acara makan-makan di
markas. Ini idenya Seungcheol, ada niat dalam hatinya untuk lebih mendekatkan
Mingyu, Wonwoo, dan Solji yang sempat berseteru tadi pagi.
Perihal rencana inipun Seungcheol sebarkan ke
anggota lain, kecuali Solji, Wonwoo dan Mingyu ―dan Pak Kim juga karena beliau
memang tidak pernah tau adanya masalah ini.
“Mari makan, Seonsaengnim!” ajak Seokmin dengan cengirannya yang khas.
“Boleh juga,” senyum Pak Kim yang langsung
duduk di kursinya, “dalam rangka apa ini?” tanya beliau.
“Iseng-iseng aja, Seonsaengnim.” senyum Jeonghan.
Mereka pun mulai duduk di kursinya
masing-masing, sengaja menyisakan tiga kursi yang berdekatan di sudut meja
untuk Mingyu, Wonwoo, dan Solji. Dan benar saja, ketiganya pun menduduki ketiga
kursi tersebut dengan terpaksa. Solji berada di antara Mingyu dan Wonwoo.
“Jal
meog-gesseumnida!!” seru mereka semua.
“Bantu sebarkan sodanya.” ucap Seri sebagai maknae di tim ini sambil menuangkan soda
ke beberapa gelas di hadapannya.
Sebagai maknae
di sudut meja, Mingyu pun membantu Seri menyampaikan gelas-gelas itu ke mereka
yang duduk di sudut meja, dua di antaranya adalah Solji dan Wonwoo. Sontak hal
ini sempat membuat Mingyu canggung.
Ia membawa dua gelas soda di tangannya, namun
rupanya yang tertinggal hanyalah Solji dan Wonwoo. “Gomawo.” Solji berusaha tidak canggung, ia segera mengambil sodanya
dari tangan Mingyu.
Sementara itu, ada sedikit ketegangan di antara
Wonwoo dan Mingyu, hal ini sempat membuat anggota lainnya khawatir ―sementara
Pak Kim tidak merasakan apa-apa.
“Sodamu,” Mingyu menyodorkannya, “Hyung.”.
Wonwoo hanya menerimanya tanpa berkata apapun.
Setidaknya, Wonwoo mau menerimanya ―karena semua tau Wonwoo itu orang yang
dingin.
Selama makan, tidak terlihat ada interaksi di
antara ketiganya, bahkan ketika mereka semua bersendagurau bersama-sama
ketiganya juga tidak menyinggung satu sama lain.
Sampai ketika, Solji tak tahan melihat tangan
Mingyu yang kotor gara-gara pizza di
tangannya, yang bahkan juga mengotori lengan bajunya yang panjang, perempuan
itu segera menyodorkan tisu untuknya.
Mingyu terkejut. “Lap tanganmu.” ketus Solji.
Lelaki itu pun hanya bisa menuruti, “Go, gomawo, Sunbae.” canggungnya.
Entah karena cemburu atau memang ia sangat
membutuhkan tisu, terdengar dehaman dari samping Solji, “Ehem.” suara bass-nya Wonwoo.
Solji jengah, “Kalau mau, ya, ngomong.”
ketusnya pada Wonwoo, sambil menyodorkan tisu untuknya.
“Tanganku kotor, mau lapkan untukku?” entah
Wonwoo menggoda atau dasarnya memang tangannya yang kotor, namun itu cukup
membuat Solji kesal.
“Shireo!”
bentak gadis itu.
“♪♫♪!”
tiba-tiba saja ponsel Wonwoo berdering.
Seketika lelaki itu menekankan perkataannya,
“Cepatlah bantu aku, Solji-ya. Seseorang menelponku.” Wonwoo memelas tanpa
ekspresi.
Dengan terpaksa, Solji menurutinya. Setelah
tangannya bersih, Wonwoo pun meminta izin untuk meninggalkan tempat sejenak.
“Ouh, betapa imutnya~...” desis Seokmin disusul
cekikikan dari Sunyoung, tak ayal membuat Solji melayangkan tatapan tajam untuk
keduanya. Dan berhasil membuat duo riang itu terdiam.
[► Bangtan Boys – House of Cards]
Wonwoo sampai di tempat yang sunyi, ia berada
di lorong yang melewati kamar mandi. Di sanalah ia menyadari bahwa Ilsung lah
yang meneleponnya.
“Tn. Muda Park,” Ilsung langsung menyahut,
karena biasanya Wonwoo takkan membuka percakapan lebih dulu ketika menerima
telepon darinya, “sepertinya aku melihatmu tadi pagi, benarkah?”.
“Katakan saja, Ilsung. Apa maumu?” dingin
Wonwoo.
Lelaki tua itu terkekeh, “Kau rupanya tidak
suka basa-basi, ya? Padahal aku ingin bersilaturahmi denganmu, tapi jika kau
memang ingin poin utamanya akan kubiarkan kau dapatkan apa yang kau mau.”
katanya, “Aku ingin kau mengambil salah satu dari mereka.”.
Mata sabitnya terbelalak, “Apa maksudmu?” tanya
Wonwoo.
Kembali ia tertawa, “Bukankah kau tidak suka
basa-basi, Tn. Muda Park?” tanya Ilsung, “Siapa saja, tidak perlu dari timmu,
ambil salah satu yang ‘empuk’ dari mereka, tahan dia di sini, dan bawa ‘inti’
itu untukku.” jelas Ilsung, “Kau paham, kan, sekarang...?”.
Tak ada satupun yang tidak dia mengerti dari
perkataannya. Wonwoo tak menjawab meski jawabannya adalah iya. Namun entah
kenapa mendengar itupun dadanya terasa sesak, hatinya bekerja untuk menolak.
“Kau akan melenyapkan mereka, bukan?” desis
Wonwoo.
“Siapa yang bilang seperti itu, Tn. Muda Park?”
kata Ilsung, “Aku hanya memintamu melakukan apa yang kukatakan.”.
“Aku takkan menuruti maumu! Aku melarangmu
menyentuh mereka!”.
“Lihat siapa yang sekarang sudah punya hati!
Tn. Muda Park!” Ilsung tak mampu menahan tawanya yang membuncah, “Oh astaga!
Aku tidak tau bahkan anaknya Shiyeon punya hati! Kupikir hati kalian telah
digunakan untuk mencabut nyawa-nyawa yang sia-sia itu, bukankah demikian?”
kalimat terakhir begitu menusuk telinganya.
“Jangan takut, kekhawatiranmu takkan terjadi,
Tn. Muda. Lagipula ini adalah tugas terakhirmu di bawah naunganku.”.
Bulan sabit itu memicing. Tugas terakhirnya,
benar ―ini tugas terakhir Wonwoo dari Ilsung.
“Nah, aku bisa mendengar nafasmu terhenti? Aku
bisa merasakan getaran senang dalam keheninganmu, Tn. Muda Park.” kata Ilsung,
“Tidakkah kau ingin bertemu Ibumu? Ibumu sekarang berubah, Tn. Muda. Ia bukan
lagi ‘perempuan’ yang dulu menelantarkanmu.”.
“Ibu...?” tak sengaja nama itu terucap dari
bibirnya.
“Benar, Ibumu.”.
Sekali lagi hatinya menyebutkan nama itu, lagi
dan lagi. Ada rasa sakit dalam hati Wonwoo ketika nama itu bergetar dalam
hatinya. Namun wanita itu satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
Di saat yang sama, tak sengaja Pak Kim berjalan
menuju kamar mandi dan bertemu dengan punggung Wonwoo ―yang tidak menyadari
kedatangannya. Sejenak beliau mengamati, nampaknya tak banyak yang Wonwoo
katakan pada lawan bicaranya.
Bahkan beliau tak kunjung mendengar suara
Wonwoo ketika lelaki itu menyelesaikan percakapan via teleponnya tersebut. Dan
ketika berbalik, Wonwoo sedikit terkejut ―Pak Kim sedari tadi di belakangnya.
“Apa aku membuatmu kaget? Privasi, ya?” ucap
Pak Kim tak enak hati.
Wonwoo hanya membungkuk, lalu pergi
meninggalkan beliau.
“Jika kau merasa ragu,” ucapan Pak Kim
menghentikan langkahnya, “coba kau tarik nafas, perlahan-lahan, berulangkali,
dan mulailah memilah jalanmu sendiri setelah kau merasa tenang.”.
Wonwoo berbalik, ia dan Pak Kim saling
bertatapan.
“Ingatlah, tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang
ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak Kim.
Dahinya berkerut, “Ne? Maaf?” Wonwoo berucap.
“Ah, ngomong apa, sih, aku ini?” Pak Kim
menggeleng singkat, “Maaf, ya, mungkin pria bau tanah ini memang suka
mengada-ngada omongannya.” cengir beliau, “Sudah, bergabunglah dengan yang
lainnya sana ―aku, kan, tujuannya mau ke toilet.”.
Pria itu meninggalkan Wonwoo seorang diri di
lorong. Tak lama berselang, Wonwoo berusaha menepis apa yang terbesit dalam
pikirannya, namun ada satu sisi yang mengiyakan perkataan Pak Kim itu.
“Telepon dari siapa?” tiba-tiba saja Mingyu
―dengan canggung― menyambut.
Wonwoo segera duduk di kursinya, “Bukan
siapa-siapa,” katanya, lalu dengan segera meralat, “dari Ibu.” ucapnya.
Berharap Mingyu takkan melanjutkan perbincangan.
“Apa dia sehat?” Mingyu sekadar berusaha lebih
dekat.
“Entahlah.” mendengar satu kata yang Wonwoo
jawab itupun membuat Mingyu enggan meneruskan percakapannya. Ada isyarat yang
terselip dari ucapannya itu yang menyuruh Mingyu untuk tutup mulut.
Solji yang berada di tengah-tengah keduanya pun
hanya bisa melirik kanan-kiri tanpa berani bersuara. Mereka sudah berusaha yang
terbaik untuk menjadi akrab kembali, meski masih terlihat kaku dan dingin.
***
Seungcheorie
“Nuna, kau sudah makan?”
Malam itu, Nayeon berjalan pulang menuju
rumahnya, berbarengan dengan pesan singkat dari Seungcheol yang menemaninya.
“Lagi di jalan pulang.”
Selalu begitu jawaban Nayeon ―ketus, tidak
peduli, cuek― hanya pada Seungcheol. Entah kenapa sejak pertunangannya gagal
dengan seorang pria yang sangat dicintainya, Nayeon berubah dingin pada setiap
laki-laki ―terutama pada laki-laki yang menyukainya.
Dulu Nayeon adalah tipe gadis yang lembut dan
murah senyum. Ia berpacaran sejak masih di bangku SMA dengan pria yang kemudian
bertunangan dengannya itu. Namun Nayeon merasa sangat terpukul begitu
mengetahui bahwa selama ini tak hanya dirinya yang memiliki bagian di hati pria
itu.
Dan sejak hari itu, Nayeon melampiaskan
segalanya dengan pukulan dan tendangan, hampir setiap harinya dihabiskan di
ruang latihan. Perlahan-lahan, ia berubah menjadi wanita yang keras dan cuek.
Ketika mengenal Seungcheol, Nayeon pun
mendirikan benteng pertahananya sendiri. Ia tak ingin jatuh ke lubang yang
sama, meski banyak yang mengatakan kalau Seungcheol adalah pria yang baik hati
dan tulus padanya. Namun Nayeon tak ingin jatuh lagi.
Seungcheorie
“Oh, kalau begitu, hati-hati, ya, Nuna.
Oya ngomong-ngomong, apa besok Nuna sibuk?”
Nayeon memutar matanya jengah, bocah ini
kadang-kadang menyebalkannya bisa sampai kelewatan. Namun jemari manis itu malah
mengetik kalimat yang berbeda.
“Ku kabari besok, mungkin aku tidak sibuk.”
Nayeon menepuk dahinya, “Han Na Yeon! Kenapa
kau menulis seperti itu?! Pabo!!”
gerutunya sendiri.
Sedikit lagi, Nayeon bisa melihat gang menuju
rumah sewanya.
Seungcheorie
“Nuna, apa kau masih di jalan pulang?
Biarkan aku menemanimu, Nuna. Aku akan
meneleponmu.”
“Gak usah.” ketus Nayeon.
Namun belum sempat Nayeon menulis apa yang
dikatakanya, seseorang menariknya dari belakang dan membekapnya tiba-tiba.
Terkejut, Nayeon segera memberontak dan melawan
pria bermasker dan bertudung itu. Gadis itu bahkan tak peduli meski ponsel dan
tasnya jatuh ke tanah ―yang penting ia harus melindungi dirinya sendiri di
tengah malam yang sepi ini.
“♪♫♪!”
ponsel itu berdering.
Pria yang tidak dikenal itu cukup kuat, bahkan
ia tak segan memukul Nayeon ―sekadar mengalihkan perhatiannya. Dan ketika gadis
itu lengah, pria itu kembali membekapnya.
Nayeon berusaha melepaskan tubuhnya, namun pria
itu takkan pernah melepasnya. Gadis itu bisa membaca nama ‘Seungcheorie’ tengah berusaha mendapatkan jawaban dari
panggilannya. Namun tak lama kemudian, semua menjadi gelap.
***
to be continued
***
next...
“Tidak.”
Seungcheol menepis firasat buruk yang merasuki dirinya. Namun panggilan
selanjutnya, ia terkejut.
“Nomor
yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.
“Ji,
Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.
“Coba
kau pikirkan yang lebih baik daripada memukul terus menerus. Han Na Yeon, kau
seorang atlet. Kemampuanmu tidak diragukan lagi, kalau hanya karena Jiseon saja
kau begitu,”.
Si
pelatih tidak melanjutkan, karena yang ia dengar hanya isakan Nayeon.
“Kau
memotong rambutmu? Lagi?! Sudah ku bilang jangan potong rambutmu, kan?! Kenapa
kau malah memotongnya?!” ia sentil dahinya Nayeon.
“Omo!”
rintih Nayeon, “Sakit!!” gertaknya.
“Han
Na Yeon imnida, jal butak-deurimnida.” bungkuk Nayeon.
“Baiklah,
mulai sekarang kalian harus memanggilnya Pelatih Han, mengerti?”.
“Siap,
mengerti!”.
“Sekarang
giliranmu,”.
“Choi
Seung Cheol,” dengan cepat polisi itu mengutarakan, seakan ia ingin dikenal
oleh Nayeon.
“Ya,
giliranmu, Choi Gyeongchal.” Nayeon mempersilahkan.
“Nuna
mau ke mana?” tanya Seungcheol ―seperti biasa, bak anak kecil.
“Sebenarnya
banyak yang harus aku kerjakan di luar, tapi sepertinya tidak bisa.” ujar
Nayeon.
“Salju,
ya? Kan, ada aku dan payungku.”.
Seungcheol
mulai lagi.
“Oh,
ani. Kau bisa antarkan aku sampai minimarket itu saja.” ralat Nayeon.
“Loh,
kenapa?”.
“Tidak,
tidak apa, hanya,”.
“Nuna
mau beli payung, ya? Bukankah Nuna sudah punya di rumah?” sela Seungcheol,
“Untuk hari ini, biar kupayungi saja ya.”.
“Tidak,
terima kasih,”.
“Kenapa?
Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?”.
Nayeon
tak berkedip.
“Nuna,
sebenarnya aku tak ingin mengucapkan ini, karena aku tau kau akan membencinya,
tetapi...,”.
“Bukk!!”
entah kenapa ia malah memukul Seungcheol hingga lelaki itu jatuh tersungkur.
“Mungkin
memang tak seharusnya aku mengatakannya.” Seungcheol tersenyum miris.
“Tapi
aku akan selalu melindungimu.” batinnya.
***
next...
Aim
Part IX : 널 사랑하겠어 (I Choose to Love You)
***


