[FF] Aim part VIII

6:00 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part VIII : We are Team

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

Sementara itu, Seokmin melihat sesuatu. “Yuk.., maksudku, target berada di pintu gerbang.” lapornya.

“Dia menunggu sesuatu.” tambah Seri.

“Jeonghan, masuk.” sahut Seungcheol.

Saat ini, lelaki berambut panjang itu sudah siap di dalam mobil sport-nya. “Stand by,” jawabnya pada Seungcheol. Mobilnya segera melaju.

“Wonwoo-ya,” panggil Seungcheol.

“Siap.” jawab Wonwoo, ia dan Seungcheol segera beranjak keluar kamar dan turun ke lantai dasar untuk menemui Jeonghan.

“Sebuah mobil menjemput target.” lapor Seri, kali ini Solji berdiri di dekatnya ―seperti yang Seungcheol lakukan tadi.

Ketika Sunyoung mendorong troley-nya di lobby, ia melihat Wonwoo dan Seungcheol bergegas keluar hotel. Di sana, mereka berdua bertemu sebuah mobil sport putih yang melintas. Mobil ―dengan Jeonghan yang menyetirnya― itu segera berhenti untuk Seungcheol dan Wonwoo.

 “A, a,” Seokmin gelagapan melihat isi mobil sedan yang menjemput Yukseon itu, dari balik semak-semak ia berusaha menutup mulutnya rapat-rapat.

“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.

“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di dalam mobil yang menjemput target.”.



Aim
Part VIII : We are Team


“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di dalam mobil yang menjemput target.”.

“MWO?!” seru Seri terkejut, membuat Mingyu yang berdiri di ujung sana menoleh padanya, serta membuat Seungcheol jengah karena pekikan nyaringnya.

“Berhentilah berteriak di HT.” gerutu Junhui dari posisinya.

“Seri, cukup penguat gelombang itu saja yang merusak telingaku, tidak usah suara sumbangmu juga,” komplain Sunyoung.

Mobil sport itu melaju, menyusul mobil sedan hitam yang menjemput Yukseon. Dengan keberadaan Jung Il Sung di dalam mobil itu membuat Jeonghan tergesa menyetir mobilnya.

“Kurangi kecepatanmu,” tegur Seungcheol, “jangan buat mereka mengira kita sedang menguntit.”.

Jeonghan menarik dalam-dalam, benar apa yang dikatakan lelaki yang duduk di sampingnya ini. Tak sengaja ia beralih pada Wonwoo yang duduk di kursi belakang.

“Ke, kenapa pelipismu itu, Wonwoo-ya?” ia menyadari kepala itu ditambal kasa.

“Nanti kita jelaskan,” Seungcheol yang menjawab, “sekarang fokus ke jalan.”.

Sementara itu, mobil sedan itu segera mengangkut Yukseon. “Selamat pagi, Yukseon-nim.” sambut Haera ramah dari kursi di samping supir.

Yukseon duduk di samping Ilsung di kursi belakang, “Jangan menengok ke belakang karena kita sedang diikuti.” kata Ilsung pada Yukseon.

Pria tua itu pun mengangguk saja.

“Anda telah menyelesaikan tugas Anda dengan baik, Yukseon-nim.” senyum Haera.

“Jika demikian,” kata Yukseon, “kalian tidak akan membunuhku, kan?” tanyanya.

Ilsung tertawa, menurutnya pertanyaan itu konyol. “Kau sudah tua, Tn. Cha. Untuk apa aku membunuhmu?” katanya, “Justru kami berterimakasih, kami telah menyiapkan sejumlah upah yang bisa kau bawa pulang ke kampung halamanmu, kau bisa membeli ladang atau rumah untuk isteri, anak, dan cucumu. Kami akan memberikannya begitu sampai di markas.”.

Yukseon kelihatan cemas.

“Tenang saja, Yukseon-nim, tidak akan ada yang melukaimu ―bahkan kami sekalipun.” Ilsung menjamin, “Selama kau menutup mulut dan menuruti kami, kau akan baik-baik saja.”.

Meski ragu, pria tua itu mengangguk, “Ne,” kata Yukseon.

“Kira-kira, ke mana mereka pergi, ya.” gumam Jeonghan, dalam hati Wonwoo juga ikut menerka-nerka ―meski ia sendiri sebenarnya mengenal siapa itu Jung Il Sung.

Dan benar seperti dugaannya, Ilsung ―secara tak langsung― membawa mereka ke markasnya. Sebuah gedung tua yang urung diselesaikan dan justru ditinggalkan. Sebagian bangunan telah dilapisi dinding sepenuhnya, sementara sisanya ―beberapa lantai ke atas― masih berupa tiang-tiang penyangga.

Dari tepi jalan, mereka bertiga berhasil menyelidik lebih lanjut tempat itu. Mereka melihat jelas Jung Il Sung yang turun dari mobil sedan itu bersama Cha Yuk Seon, seorang gadis yang kemarin mereka temui juga di taman ―Haera, dan seorang supir yang sepertinya juga anak buahnya Ilsung.

***

Hari ini X Team mengadakan rapat mendesak setelah kembali dari penginapan. Misi disebut telah usai dan berganti dengan misi baru.

Jeonghan menunjukkan koordinat yang menjadi lokasi tempat Jung Il Sung bersarang, itulah markas mereka yang Jeonghan, Seungcheol, dan Wonwoo temukan tadi pagi. Dalam rapat ini, Seungcheol sekaligus menyusun rencana-rencana selanjutnya.

Selesai rapat, Seungcheol memanggil semua anggota timnya kembali ke ruang rapat ―tanpa Pak Kim. Sontak hal ini membuat mereka bingung, namun tidak untuk Solji, Wonwoo, Mingyu, Seri dan Jihun.


“Jelaskan,”.


Suara dari video itu. Rupanya Seungcheol berniat mengumpulkan kesepuluh dari mereka untuk menunjukan rekaman tadi pagi, tentang apa yang terjadi di antara Solji, Wonwoo, dan Mingyu.


Solji terlihat tidak nyaman,

“Aku minta maaf kalau selama ini aku tidak jujur pada kalian, aku terkesan menutup-nutupinya dari kalian yang telah ku anggap keluarga, sebenarnya aku mengenal Wonwoo lebih dari sekadar teman SMA dan kuliah. Kami dekat, sangat ‘dekat’.”.

“Sudah cukup,” Seungcheol menyudahi pengakuan Solji, pandangannya beredar seakan meminta salah satu dari Mingyu maupun Wonwoo untuk angkat bicara.


“Tunggu, jadi apa maksud dari,” ketika Junhui bersuara, semua berdesis protes padanya, “Maaf.” ralatnya.


“Kami memang sangat ‘dekat’, hingga kami bahkan ―beberapa kali― melakukan hal-hal di luar batas.” Wonwoo angkat berbicara.

“Apa saat itu kau mencintainya?” Mingyu bersuara, Jihun berusaha menenangkannya.

“Aku sendiri tidak mengerti akan perasaanku saat itu ―aku bahkan belum pernah berpacaran,” aku Wonwoo, “aku adalah tipe orang yang tidak ingin terikat dalam hubungan apapun, karena itulah aku memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status dengan Solji,”.

“Sehingga kau bisa meninggalkannya di saat yang kau mau?” sela Mingyu.

“Hei, tenanglah, sobat,” Jihun berbisik padanya.


Terutama, Jeonghan, Junhui, Seokmin dan Sunyoung sangat memperhatikan rekaman ini ―karena mereka tidak tau apa-apa.


Agak lama bagi Wonwoo untuk menjawabnya. “Aku pernah berciuman dengannya,” akunya lagi, meski sebenarnya berat.

Seri tercekat, Jihun tak mampu berkata-kata, sementara Solji hanya bisa menunduk. “Omo..” desis Seri.


“Kau gila?” Sunyoung mendelik ke arah Wonwoo.


“belum selesai,” ralat Wonwoo, “aku juga pernah..., memakainya...,” katanya ragu, tatapan Seungcheol membuatnya terpaksa mengungkapkan, “beberapa kali...”.

Barulah suasana terasa menusuk di sini. “Astaga!” jerit Seri untuk yang kesekian kalinya, Solji cuma bisa memendam wajahnya.


Mwoya ige?!!” Junhui terbelalak.

“Jadi, sebenarnya, apa yang,” Seokmin gelagapan lagi.

“Sudah, sudah,” Jeonghan menghentikan setiap komentar yang berterbangan, ia bisa melihat raut wajah Wonwoo sekarang ―kelihatannya mengerikan.

“Jadi, maksudmu, Hyung,” Sunyoung bertanya pada Seungcheol, “Mingyu dan Wonwoo pukul-pukulan?” mata sipitnya terbuka lebar.

Seungcheol tak menjawabnya, “Yang penting sekarang tak ada rahasia apapun di antara kita, semuanya sudah jelas ―clear.” ucap Seungcheol yang duduk di atas meja sana sambil melipat tangan.

“Semoga saja kejadian ini tidak terjadi lagi,” Jihun menambahkan, “jadi kita bisa hidup dengan kompak karena kita adalah tim.”.

“Bukan tim biasa,” tambah Seri, “tapi X Team.” membuat Jihun tersenyum padanya.

Solji langsung bangkit, “Joesonghamnida.” ia membungkuk pada mereka, tak lama Mingyu menyusul dan melakukan hal yang sama, dan Wonwoo menjadi yang terakhir mengikuti keduanya. Jadilah mereka bertiga meminta maaf kepada semua anggota tim.

“Ku anggap masalah ini selesai.” Seungcheol tersenyum tipis, “Aku tidak mau dengar masalah ini diungkit-ungkit kembali kedepannya. Khusus untuk Wonwoo dan Mingyu, kalian adalah sahabat, dulu kalian kompak, aku harap masalah ini adalah tempaan untuk persahabatan kalian sehingga kalian bisa lebih kompak lagi. Untuk Solji dan Wonwoo, kalian berdua memiliki ‘masa lalu’ yang kurasa tidak perlu kalian ungkit di tim ini. Serta untuk Mingyu dan Solji, ku harap kalian bisa cukup berteman saja di tim ini.”.

Mingyu sedikit mendongak, apa itu berarti Seungcheol tidak mengizinkannya menyukai adik sepupunya, Solji? Namun Mingyu tak berani melawan.

“Dan untuk kalian bertiga, ku minta ke depannya kalian bisa lebih ‘bersahabat’ lagi di tim ini ―untuk tim ini, untuk anggota yang lainnya, dan untuk kalian sendiri. Paham?” Seungcheol melanjutkan.

[ Taeyeon – I (ft. Verbal Jint)]


“Siap, paham!” jawab Wonwoo, Solji, dan Mingyu berbarengan dengan sikap sempurna.

Pandangan Solji tak lepas dari Seungcheol, “Bubar.” kata lelaki itu. Dalam tatapannya, Solji selalu terkagum-kagum pada kakak sepupunya tersebut.

Choi Seung Cheol, waktu kecil Solji hanya mengenalnya sebagai kakak sepupu yang doyan main polisi-polisian dengannya dan Hansol, karena kedua abangnya tak berminat dengan permainan anak kecil seperti itu.

Seungcheol tidak memiliki adik, itulah kenapa ia selalu senang tiap kali keluarga Solji berkunjung ke rumahnya, karena ia akan memiliki teman bermain, yakni Solji dan Hansol. Meski perempuan, Solji pun mau diajaknya bermain polisi-polisian. Justru Hansol lah yang sedikit tidak berminat. Namun karena rasa sayangnya pada Seungcheol, Hansol pun mau ikut bermain polisi-polisian dengannya.

Sungguh tak disangka, sekarang Solji bahkan bisa melihat Seungcheol menjadi seorang polisi, bahkan menjadi pemimpin untuk X Team. Jiwa kepemimpinannya bahkan terlihat tiap kali Seungcheol bermain polisi-polisian sewaktu mereka kecil.

Dialah yang berperan bak inspektur kepolisian untuk menangkap penjahat ―yang biasanya diperankan Hansol. Dan sekarang, Seungcheol benar-benar menjadi seorang pemimpin. Solji kagum padanya.

Dan akan selalu begitu.

[ Taeyeon – I (ft. Verbal Jint)]

***

“Wah, ada acara apa ini?” sambut Pak Kim sumringah melihat beberapa meja di satukan, lalu Seri dan Solji bersama beberapa anggota laki-laki lainnya mulai menata beberapa kotak pizza dan beberapa botol soda di atasnya.

Sepertinya akan ada acara makan-makan di markas. Ini idenya Seungcheol, ada niat dalam hatinya untuk lebih mendekatkan Mingyu, Wonwoo, dan Solji yang sempat berseteru tadi pagi.

Perihal rencana inipun Seungcheol sebarkan ke anggota lain, kecuali Solji, Wonwoo dan Mingyu ―dan Pak Kim juga karena beliau memang tidak pernah tau adanya masalah ini.

“Mari makan, Seonsaengnim!” ajak Seokmin dengan cengirannya yang khas.

“Boleh juga,” senyum Pak Kim yang langsung duduk di kursinya, “dalam rangka apa ini?” tanya beliau.

“Iseng-iseng aja, Seonsaengnim.” senyum Jeonghan.

Mereka pun mulai duduk di kursinya masing-masing, sengaja menyisakan tiga kursi yang berdekatan di sudut meja untuk Mingyu, Wonwoo, dan Solji. Dan benar saja, ketiganya pun menduduki ketiga kursi tersebut dengan terpaksa. Solji berada di antara Mingyu dan Wonwoo.

Jal meog-gesseumnida!!” seru mereka semua.

“Bantu sebarkan sodanya.” ucap Seri sebagai maknae di tim ini sambil menuangkan soda ke beberapa gelas di hadapannya.

Sebagai maknae di sudut meja, Mingyu pun membantu Seri menyampaikan gelas-gelas itu ke mereka yang duduk di sudut meja, dua di antaranya adalah Solji dan Wonwoo. Sontak hal ini sempat membuat Mingyu canggung.

Ia membawa dua gelas soda di tangannya, namun rupanya yang tertinggal hanyalah Solji dan Wonwoo. “Gomawo.” Solji berusaha tidak canggung, ia segera mengambil sodanya dari tangan Mingyu.

Sementara itu, ada sedikit ketegangan di antara Wonwoo dan Mingyu, hal ini sempat membuat anggota lainnya khawatir ―sementara Pak Kim tidak merasakan apa-apa.

“Sodamu,” Mingyu menyodorkannya, “Hyung.”.

Wonwoo hanya menerimanya tanpa berkata apapun. Setidaknya, Wonwoo mau menerimanya ―karena semua tau Wonwoo itu orang yang dingin.

Selama makan, tidak terlihat ada interaksi di antara ketiganya, bahkan ketika mereka semua bersendagurau bersama-sama ketiganya juga tidak menyinggung satu sama lain.

Sampai ketika, Solji tak tahan melihat tangan Mingyu yang kotor gara-gara pizza di tangannya, yang bahkan juga mengotori lengan bajunya yang panjang, perempuan itu segera menyodorkan tisu untuknya.

Mingyu terkejut. “Lap tanganmu.” ketus Solji.

Lelaki itu pun hanya bisa menuruti, “Go, gomawo, Sunbae.” canggungnya.

Entah karena cemburu atau memang ia sangat membutuhkan tisu, terdengar dehaman dari samping Solji, “Ehem.” suara bass-nya Wonwoo.

Solji jengah, “Kalau mau, ya, ngomong.” ketusnya pada Wonwoo, sambil menyodorkan tisu untuknya.

“Tanganku kotor, mau lapkan untukku?” entah Wonwoo menggoda atau dasarnya memang tangannya yang kotor, namun itu cukup membuat Solji kesal.

Shireo!” bentak gadis itu.

♪♫♪!” tiba-tiba saja ponsel Wonwoo berdering.

Seketika lelaki itu menekankan perkataannya, “Cepatlah bantu aku, Solji-ya. Seseorang menelponku.” Wonwoo memelas tanpa ekspresi.

Dengan terpaksa, Solji menurutinya. Setelah tangannya bersih, Wonwoo pun meminta izin untuk meninggalkan tempat sejenak.

“Ouh, betapa imutnya~...” desis Seokmin disusul cekikikan dari Sunyoung, tak ayal membuat Solji melayangkan tatapan tajam untuk keduanya. Dan berhasil membuat duo riang itu terdiam.

[ Bangtan Boys – House of Cards]
   

Wonwoo sampai di tempat yang sunyi, ia berada di lorong yang melewati kamar mandi. Di sanalah ia menyadari bahwa Ilsung lah yang meneleponnya.

“Tn. Muda Park,” Ilsung langsung menyahut, karena biasanya Wonwoo takkan membuka percakapan lebih dulu ketika menerima telepon darinya, “sepertinya aku melihatmu tadi pagi, benarkah?”.

“Katakan saja, Ilsung. Apa maumu?” dingin Wonwoo.

Lelaki tua itu terkekeh, “Kau rupanya tidak suka basa-basi, ya? Padahal aku ingin bersilaturahmi denganmu, tapi jika kau memang ingin poin utamanya akan kubiarkan kau dapatkan apa yang kau mau.” katanya, “Aku ingin kau mengambil salah satu dari mereka.”.

Mata sabitnya terbelalak, “Apa maksudmu?” tanya Wonwoo.

Kembali ia tertawa, “Bukankah kau tidak suka basa-basi, Tn. Muda Park?” tanya Ilsung, “Siapa saja, tidak perlu dari timmu, ambil salah satu yang ‘empuk’ dari mereka, tahan dia di sini, dan bawa ‘inti’ itu untukku.” jelas Ilsung, “Kau paham, kan, sekarang...?”.

Tak ada satupun yang tidak dia mengerti dari perkataannya. Wonwoo tak menjawab meski jawabannya adalah iya. Namun entah kenapa mendengar itupun dadanya terasa sesak, hatinya bekerja untuk menolak.

“Kau akan melenyapkan mereka, bukan?” desis Wonwoo.

“Siapa yang bilang seperti itu, Tn. Muda Park?” kata Ilsung, “Aku hanya memintamu melakukan apa yang kukatakan.”.

“Aku takkan menuruti maumu! Aku melarangmu menyentuh mereka!”.

“Lihat siapa yang sekarang sudah punya hati! Tn. Muda Park!” Ilsung tak mampu menahan tawanya yang membuncah, “Oh astaga! Aku tidak tau bahkan anaknya Shiyeon punya hati! Kupikir hati kalian telah digunakan untuk mencabut nyawa-nyawa yang sia-sia itu, bukankah demikian?” kalimat terakhir begitu menusuk telinganya.

“Jangan takut, kekhawatiranmu takkan terjadi, Tn. Muda. Lagipula ini adalah tugas terakhirmu di bawah naunganku.”.

Bulan sabit itu memicing. Tugas terakhirnya, benar ―ini tugas terakhir Wonwoo dari Ilsung.

“Nah, aku bisa mendengar nafasmu terhenti? Aku bisa merasakan getaran senang dalam keheninganmu, Tn. Muda Park.” kata Ilsung, “Tidakkah kau ingin bertemu Ibumu? Ibumu sekarang berubah, Tn. Muda. Ia bukan lagi ‘perempuan’ yang dulu menelantarkanmu.”.

“Ibu...?” tak sengaja nama itu terucap dari bibirnya.

“Benar, Ibumu.”.

Sekali lagi hatinya menyebutkan nama itu, lagi dan lagi. Ada rasa sakit dalam hati Wonwoo ketika nama itu bergetar dalam hatinya. Namun wanita itu satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

Di saat yang sama, tak sengaja Pak Kim berjalan menuju kamar mandi dan bertemu dengan punggung Wonwoo ―yang tidak menyadari kedatangannya. Sejenak beliau mengamati, nampaknya tak banyak yang Wonwoo katakan pada lawan bicaranya.

Bahkan beliau tak kunjung mendengar suara Wonwoo ketika lelaki itu menyelesaikan percakapan via teleponnya tersebut. Dan ketika berbalik, Wonwoo sedikit terkejut ―Pak Kim sedari tadi di belakangnya.

“Apa aku membuatmu kaget? Privasi, ya?” ucap Pak Kim tak enak hati.

Wonwoo hanya membungkuk, lalu pergi meninggalkan beliau.

“Jika kau merasa ragu,” ucapan Pak Kim menghentikan langkahnya, “coba kau tarik nafas, perlahan-lahan, berulangkali, dan mulailah memilah jalanmu sendiri setelah kau merasa tenang.”.

Wonwoo berbalik, ia dan Pak Kim saling bertatapan.

“Ingatlah, tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak Kim.

Dahinya berkerut, “Ne? Maaf?” Wonwoo berucap.

“Ah, ngomong apa, sih, aku ini?” Pak Kim menggeleng singkat, “Maaf, ya, mungkin pria bau tanah ini memang suka mengada-ngada omongannya.” cengir beliau, “Sudah, bergabunglah dengan yang lainnya sana ―aku, kan, tujuannya mau ke toilet.”.

Pria itu meninggalkan Wonwoo seorang diri di lorong. Tak lama berselang, Wonwoo berusaha menepis apa yang terbesit dalam pikirannya, namun ada satu sisi yang mengiyakan perkataan Pak Kim itu.

“Telepon dari siapa?” tiba-tiba saja Mingyu ―dengan canggung― menyambut.

Wonwoo segera duduk di kursinya, “Bukan siapa-siapa,” katanya, lalu dengan segera meralat, “dari Ibu.” ucapnya.

Berharap Mingyu takkan melanjutkan perbincangan.

“Apa dia sehat?” Mingyu sekadar berusaha lebih dekat.

“Entahlah.” mendengar satu kata yang Wonwoo jawab itupun membuat Mingyu enggan meneruskan percakapannya. Ada isyarat yang terselip dari ucapannya itu yang menyuruh Mingyu untuk tutup mulut.

Solji yang berada di tengah-tengah keduanya pun hanya bisa melirik kanan-kiri tanpa berani bersuara. Mereka sudah berusaha yang terbaik untuk menjadi akrab kembali, meski masih terlihat kaku dan dingin.

***


Seungcheorie
“Nuna, kau sudah makan?”


Malam itu, Nayeon berjalan pulang menuju rumahnya, berbarengan dengan pesan singkat dari Seungcheol yang menemaninya.


“Lagi di jalan pulang.”


Selalu begitu jawaban Nayeon ―ketus, tidak peduli, cuek― hanya pada Seungcheol. Entah kenapa sejak pertunangannya gagal dengan seorang pria yang sangat dicintainya, Nayeon berubah dingin pada setiap laki-laki ―terutama pada laki-laki yang menyukainya.

Dulu Nayeon adalah tipe gadis yang lembut dan murah senyum. Ia berpacaran sejak masih di bangku SMA dengan pria yang kemudian bertunangan dengannya itu. Namun Nayeon merasa sangat terpukul begitu mengetahui bahwa selama ini tak hanya dirinya yang memiliki bagian di hati pria itu.

Dan sejak hari itu, Nayeon melampiaskan segalanya dengan pukulan dan tendangan, hampir setiap harinya dihabiskan di ruang latihan. Perlahan-lahan, ia berubah menjadi wanita yang keras dan cuek.

Ketika mengenal Seungcheol, Nayeon pun mendirikan benteng pertahananya sendiri. Ia tak ingin jatuh ke lubang yang sama, meski banyak yang mengatakan kalau Seungcheol adalah pria yang baik hati dan tulus padanya. Namun Nayeon tak ingin jatuh lagi.


Seungcheorie
“Oh, kalau begitu, hati-hati, ya, Nuna.
Oya ngomong-ngomong, apa besok Nuna sibuk?”


Nayeon memutar matanya jengah, bocah ini kadang-kadang menyebalkannya bisa sampai kelewatan. Namun jemari manis itu malah mengetik kalimat yang berbeda.


“Ku kabari besok, mungkin aku tidak sibuk.”


Nayeon menepuk dahinya, “Han Na Yeon! Kenapa kau menulis seperti itu?! Pabo!!” gerutunya sendiri.

Sedikit lagi, Nayeon bisa melihat gang menuju rumah sewanya.


Seungcheorie
“Nuna, apa kau masih di jalan pulang?
Biarkan aku menemanimu, Nuna. Aku akan meneleponmu.”


“Gak usah.” ketus Nayeon.

Namun belum sempat Nayeon menulis apa yang dikatakanya, seseorang menariknya dari belakang dan membekapnya tiba-tiba.

Terkejut, Nayeon segera memberontak dan melawan pria bermasker dan bertudung itu. Gadis itu bahkan tak peduli meski ponsel dan tasnya jatuh ke tanah ―yang penting ia harus melindungi dirinya sendiri di tengah malam yang sepi ini.

♪♫♪!” ponsel itu berdering.

Pria yang tidak dikenal itu cukup kuat, bahkan ia tak segan memukul Nayeon ―sekadar mengalihkan perhatiannya. Dan ketika gadis itu lengah, pria itu kembali membekapnya.

Nayeon berusaha melepaskan tubuhnya, namun pria itu takkan pernah melepasnya. Gadis itu bisa membaca nama ‘Seungcheorie’ tengah berusaha mendapatkan jawaban dari panggilannya. Namun tak lama kemudian, semua menjadi gelap.

***
to be continued
***

next...

“Tidak.” Seungcheol menepis firasat buruk yang merasuki dirinya. Namun panggilan selanjutnya, ia terkejut.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.
“Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji Hun, bangun!!!”.


“Coba kau pikirkan yang lebih baik daripada memukul terus menerus. Han Na Yeon, kau seorang atlet. Kemampuanmu tidak diragukan lagi, kalau hanya karena Jiseon saja kau begitu,”.

Si pelatih tidak melanjutkan, karena yang ia dengar hanya isakan Nayeon.


“Kau memotong rambutmu? Lagi?! Sudah ku bilang jangan potong rambutmu, kan?! Kenapa kau malah memotongnya?!” ia sentil dahinya Nayeon.

“Omo!” rintih Nayeon, “Sakit!!” gertaknya.


“Han Na Yeon imnida, jal butak-deurimnida.” bungkuk Nayeon.

“Baiklah, mulai sekarang kalian harus memanggilnya Pelatih Han, mengerti?”.

“Siap, mengerti!”.


“Sekarang giliranmu,”.

“Choi Seung Cheol,” dengan cepat polisi itu mengutarakan, seakan ia ingin dikenal oleh Nayeon.

“Ya, giliranmu, Choi Gyeongchal.” Nayeon mempersilahkan.


“Nuna mau ke mana?” tanya Seungcheol ―seperti biasa, bak anak kecil.

“Sebenarnya banyak yang harus aku kerjakan di luar, tapi sepertinya tidak bisa.” ujar Nayeon.

“Salju, ya? Kan, ada aku dan payungku.”.

Seungcheol mulai lagi.

“Oh, ani. Kau bisa antarkan aku sampai minimarket itu saja.” ralat Nayeon.

“Loh, kenapa?”.

“Tidak, tidak apa, hanya,”.

“Nuna mau beli payung, ya? Bukankah Nuna sudah punya di rumah?” sela Seungcheol, “Untuk hari ini, biar kupayungi saja ya.”.

“Tidak, terima kasih,”.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?”.

Nayeon tak berkedip.

“Nuna, sebenarnya aku tak ingin mengucapkan ini, karena aku tau kau akan membencinya, tetapi...,”.

“Bukk!!” entah kenapa ia malah memukul Seungcheol hingga lelaki itu jatuh tersungkur.


“Mungkin memang tak seharusnya aku mengatakannya.” Seungcheol tersenyum miris.

“Tapi aku akan selalu melindungimu.” batinnya.

***
next...

Aim
Part IX : 사랑하겠어 (I Choose to Love You)

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^