[FF] Aim part VII
Aim
Part VII : 기억해지? (우리 추억) Remember
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri
(OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
| Spoiler ver. |
| Part I | Part II |
Part III | Part IV | Part V | Part VI |
***
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
“Bruk!” Wonwoo lah yang membanting Mingyu pada
dinding. Kedua lelaki itu saling beradu tatapan tajam.
“Buk!” Wonwoo lah yang memukul Mingyu kemudian.
Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo
pada pagar balkon lalu berbalas memukulnya. Impas keduanya.
[► Bangtan Boys – House of Cards]
“Kurang ajar kau, Kim Min Gyu.” suara bass itu menggema, kerah baju Mingyu
dicengkeramnya kuat-kuat.
Kepala mereka berbenturan dan saling beradu,
tatapan keduanya saling memburu.
“Hentikan!” seru Solji yang datang menghampiri
mereka. Namun tak satupun dari kedua lelaki itu yang mau mengalah.
“Justru kau, Hyung,” Mingyu menatapnya tajam tanpa rasa takut, “kau membuangnya
seperti tak terpakai lagi. Kau telah mencampakkannya. Kau bukan laki-laki,”.
“Buk!!” Wonwoo memukul wajahnya dengan keras,
lalu mencengkeram Mingyu lagi.
“Kau?! Bagaimana bisa kau,” suara Wonwoo
menyerangnya.
“Tentu saja aku bisa, karena aku yang akan
melindungi Solji Nuna ―tidak seperti
dirimu.” ujar Mingyu santai meski bibirnya berdarah.
“Hentikan, ku bilang!!” jerit Solji.
Mingyu mendorong sahabatnya sendiri, dan di
saat itulah ia memukul Wonwoo sekali ―hingga kepalanya terbentur. Wonwoo yang
tidak terima itupun bersiap memukulnya lagi, sebelum akhirnya Seungcheol datang
dan memisahkan keduanya.
“Hentikan! Hentikan!!” geram Seungcheol,
menahan Mingyu, sementara Jihun menyusul lalu menahan Wonwoo.
Mereka sudah berada di jarak yang aman
sekarang, namun baik Mingyu maupun Wonwoo masih beradu tatap. Solji hampir saja
berlari ke sana ―ke balkon― namun Seri keburu datang dan menahan langkahnya.
“Tenang dulu, Tuan-tuan.” Seungcheol berusaha
sabar, ia menghela nafas sebelum bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi di antara
kalian berdua, uh? Katakan!”.
Hening, tak ada yang sudi menjawab.
“Solji-ya, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya
Seungcheol.
Pupil matanya bergetar, “Se, sebenarnya,” Solji
gelagapan, “sebenarnya,”.
“Aku baru saja mencium Solji Sunbae.” jawab Mingyu pada akhirnya, sementara
tatapannya dan Wonwoo masih beradu.
Tentu saja hal ini membuat Seungcheol terkejut,
namun Jihun dan Seri yang tidak tau apapun ini masih membutuhkan petunjuk.
“Seolma..
Onnie,” Seri terkejut.
“Lalu kenapa kau memukulnya?” tanya Jihun pada
Wonwoo.
Lelaki bermata sabit itu tak bergeming, bahkan
untuk menelan ludahnya saja begitu sulit. Seungcheol merasa Wonwoo takkan
menjawab pertanyaan Jihun.
“Solji dan Wonwoo,”.
“Kami pernah berhubungan tanpa status,” jawab
Wonwoo pada akhirnya, “kami..., saling mencintai tanpa..., terikat hubungan
apapun...”.
Seri membekap mulutnya terkejut, “Benarkah itu,
Onnie...?” desisnya.
“Ya, dan kau meninggalkannya begitu saja!” seru
Mingyu.
Wonwoo yang tak terima hampir saja lepas dari
genggaman Jihun ―untungnya lelaki mungil itu masih bisa menahan Wonwoo.
Solji mengurut dahinya, kepalanya makin lama
terasa semakin pusing. Perasaannya campur aduk, pikirannya tidak karuan. Kenapa
bisa hal ini terjadi padanya? Solji meratapi nasibnya sendiri.
***
“Jelaskan,”.
Setelah suasana yang panas tadi sudah mereda,
Seungcheol mengumpulkan Wonwoo, Mingyu, Solji, dan yang ada di kamarnya Jihun
dkk di ruang keluarga yang berfungsi sebagai ruang pemantauan ini.
Solji, Mingyu, maupun Wonwoo duduk di bangku
yang berbeda. Gadis itu menatap Wonwoo dan Mingyu bergantian. Di wajah mereka
sudah tertempel beberapa plester bening, bahkan masih ada bercak merah ujung
bibir Mingyu, juga di tangan Wonwoo.
Sementara itu, Seri duduk di bangkunya ―yang
berhadapan dengan laptop ‘si pemantau’-nya itu, Jihun dan Seungcheol ada di
sekitar mereka, sedangkan Pak Kim sudah sedari tadi beristirahat di kamar
Jihun.
Agar tak ada lagi rahasia yang ditutup-tutupi,
Seungcheol merekam pengakuan ketiganya sehingga ia bisa memberitau anggota X
Team yang sedang berada di lapangan setelah misi selesai.
“Aku minta maaf kalau selama ini aku tidak
jujur pada kalian, aku terkesan menutup-nutupinya dari kalian yang telah ku
anggap keluarga,” ujar Solji, berat rasanya, “sebenarnya aku mengenal Wonwoo
lebih dari sekadar teman SMA dan kuliah. Kami dekat, sangat ‘dekat’.”.
“Sudah cukup,” Seungcheol menyudahi pengakuan
Solji, pandangannya beredar seakan meminta salah satu dari Mingyu maupun Wonwoo
untuk angkat bicara.
Namun keduanya ―yang duduk berseberangan itu―
masih bersitegang ―terlihat jelas dari cara mereka berpandangan.
“Kami memang sangat ‘dekat’, hingga kami bahkan
―beberapa kali― melakukan hal-hal di luar batas.” Wonwoo angkat berbicara.
“Apa saat itu kau mencintainya?” Mingyu
bersuara, Jihun berusaha menenangkannya.
“Aku sendiri tidak mengerti akan perasaanku
saat itu ―aku bahkan belum pernah berpacaran,” aku Wonwoo, “aku adalah tipe
orang yang tidak ingin terikat dalam hubungan apapun, karena itulah aku
memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status dengan Solji,”.
“Sehingga kau bisa meninggalkannya di saat yang
kau mau?” sela Mingyu.
“Hei, tenanglah, sobat,” Jihun berbisik
padanya.
“Jadi, kalian dekat bukan karena kalian
sepasang kekasih?” tebak Seri.
“Tidak hanya dekat,” Mingyu yang berujar,
“mereka bukan hanya sekadar dekat.”.
Seungcheol sudah menduga kalau Solji baru saja
menceritakan masa lalunya bersama Wonwoo itu pada Mingyu.
“Ku rasa kau bisa menjelaskannya,” Mingyu
bersandar pada sofa, ia melemparkan jawaban kepada si pelaku : Wonwoo.
Agak lama bagi Wonwoo untuk menjawabnya. “Aku
pernah berciuman dengannya,” akunya lagi, meski sebenarnya berat.
Seri tercekat, Jihun tak mampu berkata-kata,
sementara Solji hanya bisa menunduk. “Omo..”
desis Seri.
“belum selesai,” ralat Wonwoo, “aku juga
pernah..., memakainya...,” katanya ragu, tatapan Seungcheol membuatnya terpaksa
mengungkapkan, “beberapa kali...”.
Barulah suasana terasa menusuk di sini.
“Astaga!” jerit Seri untuk yang kesekian kalinya, Solji cuma bisa memendam
wajahnya.
“Kau keparat, Wonwoo-ya,” Jihun tersenyum
miris, “laki-laki macam apa kau ini?”.
“Kau pengecut, Jeon Won Woo.” desis Mingyu,
untuk pertama kalinya ia begitu membenci sahabatnya sendiri ―dan untuk pertama
kalinya ia berkata kasar padanya.
Batinnya sesak, sebenarnya orang-orang ini
tidak mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya. “Sebut saja aku begitu, Kim Min
Gyu,” tenggorokannya terasa sakit, “sebut saja aku pengecut.” balas Wonwoo.
“Bisakah kalian hentikan?!” sergah Solji, sudah
tertekan mendengar pertengkaran kedua lelaki itu. Mereka terkejut begitu
melihat wajahnya yang basah.
Seri bergegas memeluk Solji, menepuk
punggungnya beberapa kali dan membiarkan pundaknya basah karena air mata Solji
yang berjatuhan.
“Kalian berdua, hentikanlah.” suruh Seri pada
Mingyu dan Wonwoo.
[■ Bangtan Boys – House of Cards]
***
[► EXO – What is Love]
Malam itu, hujan deras dalihnya. Solji meminta
Wonwoo yang telah berbaik hati mengantarkannya pulang untuk tinggal sejenak di
apartemen Solji hingga hujannya reda.
Bukannya apa, Wonwoo hanya tak ingin melihat
gadis itu pulang sendirian di tengah malam sambil menerjang hujan sendirian dan
kedinginan. Namun baru saja sesuatu merasukinya ―rasanya malam ini takkan
berlalu begitu saja.
“Chuwo~...”
desis Solji sambil melepas jaketnya yang sudah basah kuyup.
Ada sesuatu ketika Wonwoo melepas coat-nya, ia memandangi gadis itu penuh
arti. Dan Solji menyadarinya.
“Nunbichi
wae? Kenapa tatapanmu itu?” Solji menanyakan.
Lelaki itu menyunggingkan senyuman. “Imi algo isseoya dwae. Harusnya kau
sudah tau.” Wonwoo merapatkan dirinya pada Solji, merangkul pinggangnya, lalu
mencium bibirnya.
Solji bisa merasakan kenyamanan itu, namun
entah kenapa ia tidak mau berlama-lama. Entah kenapa ia ingin menolak Wonwoo.
Sudah ada ribuan dugaan di kepalanya ―dugaan apa saja yang akan terjadi jika
Wonwoo singgah di rumahnya malam ini.
“Tunggu di sini,” Solji yang mengakhirinya,
“akan ku bawakan baju ganti untukmu.”.
Dalam hatinya menggerutu, ia tak ingin
menyia-nyiakannya begitu saja. Wonwoo pun mengekori langkah Solji ke kamarnya,
lalu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Gwaenchanayo
―solchikhi. Aku tidak apa ―sebenarnya.” dalih Wonwoo, memeluk tubuh Solji
lebih erat dan menelusuri lehernya, “Geunyang
ni momi..., gatgo shipda...” bisiknya.
Solji merinding mendengar bisikan yang
menggodanya itu. Lalu ia berusaha melepaskan diri dari Wonwoo, namun ia malah
terjatuh di atas kasurnya. Dan di saat itulah, Wonwoo beraksi.
“Sorry,”
bisik Wonwoo ketika ia berada di atasnya, lalu beberapa kancing berhasil
dilepasnya.
Solji menolak beberapa kali ―meronta dan
memberontak, “Jangan, ku mohon jangan.” namun lelaki itu memaksanya,
menuntutnya. “Wonwoo!” pekiknya, lalu Wonwoo membungkamnya dengan mulutnya.
Setidaknya yeoja
itu bisa lebih tenang untuk beberapa saat ke depan, sebelum akhirnya Wonwoo
melakukanya dengan sembrono.
“Ah!” rintih Solji, otomatis membuka jalan
untuk lidah nakal lelaki itu.
Baru saja beberapa menit berlalu, namun karena
perbuatan lelaki tersebut Solji merasa waktu bergulir begitu lamban. Hingga
tanpa dirinya sadari, tak sehelai kain pun membaluti tubuh mereka.
“Kau,” desis Solji.
“Argh,” jengkel Wonwoo, “come on, Sally...”.
Solji berusaha menolaknya, berusaha mengusir
lelaki itu dari tempatnya terbaring, “You
hurt me,” desisnya lagi, “aku bilang, jangan.”.
Wonwoo mengguncangnya berkali-kali, memaksanya
mau suka mau tidak suka. “Ayolah, ayo,” tuntutnya pada gadis itu.
“Jangan,” Solji gagal menahan Wonwoo yang kini
berhasil menghisap lehernya, semakin lama tenaganya terkuras ―lelaki tanpa
ampun.
Tak mampu menolaknya, Solji hanya bisa menahan
yang ia rasakan dengan meremas bed sheet-nya
―dan meringis. Dalam kata lain, ia sudah kalah. Sementara lelaki itu makin
senang menghabiskan malam dengannya.
“Berikan padaku milikmu yang berharga.” desis Wonwoo sambil mengguncang tubuh itu.
“Kau..., sudah mengambilnya...,” ujar Solji
susah payah, “bukankah kau..., sudah merenggutnya...?”.
Wonwoo menyeringai lagi, “Belum,” katanya,
“belum semuanya.” lalu ia menyambar salah satu bagian dada itu.
Namun Solji menahan rintihannya sembari
menggigit bibirnya. Dan itulah yang membuat Wonwoo merasa tidak puas dan hanya
melakukannya dalam waktu yang sangat singkat.
“Kenapa kau menahannya, Sally-ku?” godanya,
“Apa kau sedang tidak berselera? Kau masih ingin menolakku?”.
“Bukan begitu, hanya saja,”.
“Kau begitu, bersuaralah untukku.” Wonwoo tak
mau mendengarkan, ia pun lanjut menyambar bagian tadi.
Sesuai dengan yang diperintahkan, Solji
merintih dan mendesis ―membuat permainan Wonwoo semakin menjadi-jadi. Solji
tenggelam dalam nafsunya.
Degup jantungnya memburu tiap kali tangan itu
meraba setiap bagian tubuhnya, Solji tak punya tenaga lagi untuk melawan
―Wonwoo serasa mencabut haknya untuk itu. Di saat ia tak memiliki tenaga, ada
sesuatu yang membuncah di benak Solji.
Wonwoo pun mendengarnya beberapa kali, “Again,” Solji mendesah, “do it.”.
Tanpa diperintah pun, Wonwoo sudah pasti
melakukannya ―untuk kesenangannya sendiri. Namun ia menyadari, pada akhirnya
perempuan itu menikmatinya juga. Sempurna.
“Ah,” rintih Solji, “jangan keras-keras,”.
“Aku tau kau menyukainya,” Wonwoo tersenyum,
“ayolah, lakukan untukku,” lalu mengulanginya beberapa kali, membuat Solji
berirama untuknya.
“Wonwoo,” Solji meringis.
“Tidak apa, tidak akan sakit,” dalih Wonwoo,
melakukan hal yang lebih jauh lagi dari batas. Permainannya sangat rapi namun
juga menantang, hingga membuat Solji terbawa arusnya.
Bahkan ketika ia mencuri pandang ke arah jam di
bed side table-nya, Solji berdecak, “Baru lima belas menit,” gerutunya, “ayolah, kenapa waktu berjalan begitu
lambat?! Wonwoo sudah menyiksaku! Tetapi...,”.
Solji menutup sebelah matanya karena rasa
perih, yang ia lihat Wonwoo sedang menikmati salah satu bagian tubuhnya.
“aku
menyukainya...”.
“Bagaimana jika,” Wonwoo bersuara sambil
mengguncangnya, “kita melakukannya dalam jangka waktu berkala?” ia seperti
merajuk.
Solji menahan nyerinya, “Maksudmu,” ucapannya
seperti rintihan, “memakaiku?”.
“Sssh. Bicaramu kasar sekali.” Wonwoo mengusap
pipi itu, “Tapi sebenarnya, memang itu mauku.”.
Gadis itu tersenyum sedikit meringis, “Aku bisa
apa?” katanya, “Kau tidak lihat apa yang sedang kita berdua lakukan ini? Apa
aku masih bisa menolakmu?”.
Suara bass-nya
menggema, Wonwoo memberinya waktu untuk sedikit beristirahat.
“Hei, tenagaku tak ada apa-apanya dibanding
dirimu, lihat saja tadi pada akhirnya aku kalah.” Solji memperbaiki posisi
tidurnya, “Aku akan selalu kalah ketika kau meminta ‘waktuku’. Bahkan tubuhku
lebih kecil daripada tubuhmu, jelas aku akan kalah.”.
Wonwoo menaikan alisnya, “Jadi kau
menyetujuinya?”.
Namun Solji tak menjawabnya secara gamblang,
“Berjanjilah kau takkan menyemai.” katanya.
Lelaki itu bersiap, “Takkan terjadi,” janjinya,
lalu melanjutkan permainannya.
“Ahh,” Solji terkejut, dadanya sesak, “why you..., do this again...” gerutunya.
“Karena aku belum puas.” ujar Wonwoo di
sela-sela waktunya, “Aku menginginkannya, aku masih menginginkannya.”.
Solji belum sepenuhnya siap, “Wait, ouch!” ia kesakitan, “Jeon Won
Woo!” namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Permainannya semakin lama semakin tak
bisa ditoleransi.
“Kau hanya belum terbiasa,” Wonwoo
mengguncangnya berkali-kali ―lebih keras, “maaf kalau ini menyakitimu.”.
Lelaki itu benar-benar menghabiskan
kesabarannya ―serta tenaganya. Solji merasa ia tak mampu bertahan lagi, mungkin
setelah ini ia tak akan mengingat apa yang telah Wonwoo perbuat padanya. Dan
benar saja, semakin lama kesadarannya makin hilang.
***
Untuk seterusnya, Solji terbiasa dengan tingkah
lelaki itu. Wonwoo biasa mengiriminya kode dalam pesan singkatnya jika ia
membutuhkan gadis itu, dan di saat itu Solji tak lagi terkejut jika menemukan
lelaki itu datang ke apartemennya di malam hari.
Atau ketika mereka seharian di rumah Solji,
maka otomatis mereka akan ‘menghabiskan’ malam bersama. Wonwoo memang
berulangkali melakukan itu dengannya, dengan Solji. Perempuan itu sepertinya
sudah menyerah, dia sudah menyerahkan segala yang ia punya pada lelaki itu.
Meski sebenarnya, mereka tidak memiliki
hubungan apa-apa.
“Wow,” hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Solji memandangi Wonwoo sambil melepaskan coat-nya, “Kenapa?” ia menanyakan alasan
Wonwoo bergumam melihat penampilannya.
“Aku baru tau kau bahkan punya cropped tee.” senyumnya. Tiap kali
Wonwoo datang, Solji selalu berpakaian terbuka untuknya. Seperti hari ini, baru
saja tiba di rumahnya, Wonwoo menemukan Solji memakai hot pants dan cropped tee transparan.
“Kau tidak senang?”.
“Bukan begitu,” Wonwoo memeluknya, otomatis
tangannya langsung menyentuh pinggang itu, “hanya saja, kau tidak kedinginan?
Bukankah cuacanya sedang tidak bersahabat?”.
“Apartemenku dilengkapi penghangat ruangan,
jadi jangan khawatir.” ujar Solji rasional, tak mau tergoda kata-katanya yang
manis.
“Mm?” Wonwoo menatapnya, seperti menggodanya,
“Jangan sampai terlalu panas.”.
“Ish, ngomong apa, sih?” Solji beranjak dari
dekapannya. Sementara gadis itu berlalu menuju dapur kecilnya, Wonwoo hanya
memandanginya dari balik sofa.
“Mwohae?”
tanya Wonwoo.
“Membuatkanmu minuman.” senyum Solji, ia
kembali dengan secangkir teh hangat untuk lelaki itu, “Di luar pasti hujan.”
katanya sambil meletakan minuman itu di hadapan Wonwoo.
“Tidak seberapa, kok.” Wonwoo menyeruputnya,
lalu meletakannya kembali ke atas meja.
Solji duduk di sampingnya, bersandar pada sofa
sambil memandangi pesona lelaki berkarisma itu. Sesekali ia tersenyum, hingga
membuat Wonwoo heran.
“Wae?”
Wonwoo memasang posisi yang sama dengannya.
“Ani.”
ralat Solji, belum sempat ia beranjak dari tempat duduknya Wonwoo segera
menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
“Jangan bergerak,” Wonwoo berhasil menguncinya,
lalu menghisap lehernya.
Solji selalu saja berusaha melarikan diri
dengan caranya, dan itu menantang bagi Wonwoo ―karena Solji memang tipe garis
keras. Ada sedikit adrenalin yang akan membuatnya takkan pernah bosan pada
gadis itu ―ia menyukainya.
“Jangan,” bisik Solji ―seperti biasanya.
“Sally,” desisnya, ia berhasil menyentuh
beberapa bagian di balik cropped tee
itu.
“Bukan, maksudku,” Solji merasakan tangan itu
merabanya, “jangan di sini.”.
Wonwoo sudah terjebak dalam nafsunya sendiri,
ia tak mau beranjak ke mana-mana. Solji pun dibuatnya terjatuh ke atas sofa,
dan sekarang ia bisa menikmatinya. Ia hanya sedikit menggeser beberapa helai
lalu mempermainkan bagian yang ditutupinya.
Tergoda, Solji pun tak bisa apa-apa lagi selain
membuat lelaki itu semakin menikmatinya. Semakin lama, semakin dalam, dan
semakin,
“Ting, tong!” tiba-tiba terdengar bel berbunyi
di tengah permainan mereka.
Solji berusaha menjedanya, namun sulit untuk
membangunkan lelaki itu. “Wonwoo, sebentar,” bujuknya.
“Ting, tong!” bel itu terus berbunyi beberapa
kali, menunggu si pemilik rumah meresponnya.
“Aish,”
jengkel Wonwoo.
Sementara itu, Solji berusaha merajuk, “Jeon
Won Woo,” sebalnya pada lelaki itu. Karena butuh waktu lama hingga Wonwoo mau
melepaskan tubuhnya.
Dengan kepala sedikit pening, Solji bangkit
dari sofa sambil memperbaiki penampilannya. Ia pun berusaha menyembunyikan
keringatnya yang bercucuran begitu bertemu si penekan bel.
Dan Wonwoo hanya menunggu dengan jengah.
“Jangan tidur malam-malam, ya.” itu yang bisa
Wonwoo dengar dari lorong yang mengarah ke pintu masuk ―itulah kenapa ia tidak
berniat untuk bersembunyi.
“Blam!” pintu tertutup, Wonwoo melihat Solji
kembali dengan kotak makan di tangan.
“Siapa?” kedengarannya lelaki itu cemburu.
Wonwoo yang tak sabaran itu segera menghampiri Solji.
“Anak kecil tetanggaku ―seberangan,” Solji bisa
membaca kecemburuan itu dari tatap matanya, “dia yatim, tapi saat ini Ibunya
sedang sakit apalagi dia anak tunggal. Jadi sebagai tetangganya aku
berkewajiban untuk mengurusnya juga.”.
“Oh,” Wonwoo mengangguk.
Menggemaskan melihat lelaki itu cemburu,
“Eeeyy,“ goda Solji.
“Mwoya?”.
“jangan cemburu gitu sama anak kecil ―dia
perempuan, kok.” Solji mencubit hidungnya dengan gemas.
“Siapa yang cemburu?” Wonwoo menyembunyikan
gengsinya itu dengan mencium Solji sesegera mungkin.
Namun gadis itu menyudahinya lebih cepat,
“Pergilah ke kamar, aku akan simpan kotak makan ini dulu ―aku akan menyusul.”
dan Solji berlalu.
Bukan Wonwoo namanya jika ia mau menunggu lama
untuk ‘sesuatu’ yang diinginkannya. Ia tidak mengindahkan kata-kata Solji,
lelaki itu malah bertengger di daun pintu kamar Solji sambil memastikan kalau
gadis itu benar-benar hanya menaruh kotak makan tersebut ―lalu segera kembali
padanya.
Solji hanya terkekeh melihat Wonwoo jengah
menunggu sambil melipat tangannya.
“Wae useo?
Kenapa tertawa?” tanya Wonwoo.
“Siapa yang tertawa?” Solji mendekati lelaki
itu, dan berciuman sedikit.
Di saat itulah Wonwoo mendorongnya lembut
hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Tak perlu diterka lagi apa yang akan terjadi
di antara keduanya.
“Tunggu,” seperti biasa, Solji menolak,
“jangan, ah,”.
Entah kenapa hari itu mata sabitnya menajam,
menatap seorang gadis yang merintih di bawahnya. Ada perasaan cemas, beribu
pertanyaan, di benaknya. Namun pertanyaan yang paling sering terngiang di
telinganya hanya satu : bisakah ia melakukan ini lagi untuk ke depannya?
Bersamanya?
Ada perasaan yang ―seakan-akan― mengatakan
bahwa ia akan pergi jauh, yang akan membuat semua orang memandangnya benci
―termasuk gadis ini. Perasaan itu terus menyeruak dan mengganggunya, hingga
Wonwoo tak sengaja menyerang bagian itu dengan terlalu keras.
“Ak!” hingga Solji tercekat dibuatnya.
“Apa aku terlalu?” bisik Wonwoo.
“I’m
okay, I’m okay,” untuk seterusnya suara Solji terdengar seperti mendesah.
Lelaki itu menyesapi tubuhnya lebih dalam,
membuat Solji menggeram dan meminta pengertian darinya. Namun Wonwoo adalah
laki-laki yang berbeda ketika berada di atasnya.
“Jangan,” Solji mengusir tangan itu, “ku
bilang, jangan!”.
Wonwoo tersenyum, jelas ia yang akan menang
seberapa keras pun Solji menolaknya. “Come
on, Sally,” godanya, tangannya berhasil meraih bagian di dalam hot pants itu.
“Uhh..,” Solji mencakar pundak itu ketika
Wonwoo melakukannya lagi padanya.
Lelaki itu semakin menyukainya. “Kau terlalu
menggoda,” lalu menyambar pengait itu dan membukanya. Jalan baru bagi level
permainanya yang lebih tinggi ―dan lebih dalam.
“Kau..., menggigitnya...,” Solji tak mampu
menahan lelaki itu lagi, “hentikan...,”.
“Bukan salahku ―aku menyukainya,” usil Wonwoo,
tak peduli lalu melanjutkannya lagi. “Manis,” ia sedikit berdecak kemudian.
Solji hampir hilang kesadarannya, Wonwoo
menciumnya untuk mengurangi perih yang ia rasakan. “Sudah berapa lama?”
tanyanya.
Tanpa melirik ke arah jam pun Wonwoo sudah tau,
“Baru berapa menit.” dan lanjut mengguncangnya lebih keras.
“Ssshh,” Solji mendesis, sambil menahannya
ketika Wonwoo melakukan itu lagi padanya.
“Come on,
Sally, come on,” Wonwoo menuntutnya seperti biasa.
Solji tak mampu memberikannya begitu saja,
terasa terlalu sulit dan sakit baginya. “Perlahan,” bujuknya, namun Wonwoo
memang tidak bisa menunggu.
“No,”
tolak Wonwoo, “deeper,” katanya.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari yang
sebelumnya ketika Wonwoo mulai berpindah ke level yang lebih menantang, “Ahh,”
Solji meremas lengan itu, karena rasa sakit yang semakin menggodanya.
“Kau,” desis Solji, “menjijikan,”. Tak lama
terdengar suara bass-nya menggema,
Wonwoo terkekeh. “Sudah berapa perempuan yang kau ambil gadisnya?”.
“Aku tidak menghitungnya,” cengir Wonwoo sambil
meremasnya.
Solji ikutan nyengir, “Bejat.” katanya.
“Dan kau masih mau menuruti nafsu laki-laki
sepertiku ―itu salahmu.”.
Gadis itu terkekeh, “Kau ini bad boy..., atau play boy...?”.
“Ku rasa kedua-duanya, atau malah di antara
keduanya,” lelaki itu masih mengguncangnya, “melakukan hubungan intim memang
bukan hal baru bagiku, tapi aku juga bukan tipe laki-laki yang senang
bermain-main dengan perempuan.”.
“Berarti kau pernah..., berhubungan intim
dengan..., pacarmu...?”.
“Aku bahkan belum pernah pacaran.” ucapan
Wonwoo membuat Solji terpaksa membuka sebelah matanya. “Aku melakukan hubungan
ini beberapa kali dengan orang yang berbeda, namun mereka bukan pacarku.”.
“Jika demikian..., aku adalah korban yang
kesekian,” desis Solji.
“Tidak, kau berbeda dengan para wanita murahan
itu, aku melakukan itu dengan mereka karena aku mencari kepuasan atau
pelampiasan,” ia memasukkannya lebih dalam lagi, “tapi perasaanku berbeda
padamu ―bukan hanya sekadar nafsu. Untuk pertama kalinya, aku mengalami hal
ini.”.
“Lalu, kenapa kau tidak..., melakukan confession...?” Solji masih menahan
sakitnya.
“Aku hanya,” Wonwoo berhenti, “aku hanya tidak
senang terlibat dalam suatu hubungan ―hubungan yang mengikat. Karena aku tipe
orang yang bebas.” dan melanjutkannya lagi. “Kalau aku menyukainya, ya aku
takkan basa-basi. Aku tidak suka basa-basi, jadi aku akan melakukan yang ku mau
dengannya, kemudian,”.
“Jadi kau menyukaiku...? Maksudku, kau sadar,
kan..., kalau kita berhubungan badan..., bahkan tanpa ada hubungan yang
pasti...” sela Solji, “Maksudku apa..., kau mencintaiku?”.
Tidak, Solji bahkan tidak menemukan jawaban
sejernih yang ia harapkan, karena Wonwoo hanya tersenyum padanya, “Ayo terjaga
sampai pagi,” lalu menyambar bagian penting itu dengan mulutnya.
“Hentikan,” Solji meronta, “you just bite it.”.
Namun Wonwoo berdesis, menolak apa yang gadis
itu perintahkan padanya. Ia bermain-main sesuka hati ―semakin memanas, namun
permainan belum sampai pada puncaknya.
“Stop it,”.
“One more
time.”.
Wonwoo mengecapnya sekali lagi, namun tanpa
sadar ia melakukannya berulang kali. Guncangannya pun tak bisa berhenti, dan
tangan nakalnya masih meremasnya.
“Manis,” desisnya, “my Sally..., Solji-ya.”.
Solji tergoda, bisikan Wonwoo di telinganya
makin membuatnya merasa panas. “Ugh,” ia berusaha tetap terjaga untuk
melayaninya ―karena ia bukan tipe laki-laki yang cepat puas.
“Solji-ya,”.
[■ EXO – What is Love]
***
Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, Wonwoo
selalu terlambat bangun ―dibandingkan Solji. Namun yang membangunkannya pagi
ini adalah suara gadis itu.
“Mwoya,”.
Ia terbangun hebat, bahkan tubuhnya masih hanya
diselimuti dengan blanket putih.
Wonwoo pun bergegas mengikuti suara itu ke kamar mandi dan menemukan Solji
memandangi tubuhnya di depan cermin, tanpa menyadari kehadirannya.
“Gwaenchani?”
suara bass Wonwoo mengejutkannya,
Solji buru-buru membaluti tubuhnya dengan bathdrobe
kembali.
“Wonwoo,” Solji tak bisa apa-apa begitu lelaki
itu mendekatinya dan membuka sebagian bathdrobe-nya.
“Astaga,” Wonwoo terkejut, “apa yang telah ku
lakukan padamu semalam...?” jelas ia panik.
“I’m
okay,” namun Solji masih saja tersenyum, “sungguh aku tak apa.” hiburnya.
Tak puas dengan kata-kata gadis itu, Wonwoo
mengungkap bagian yang lainnya. Ia menemukan beberapa memar kecil di bagian
kaki dan tangannya, ada beberapa luka kecil di dada, perut, dan lehernya.
“Astaga,” desis Wonwoo lagi, “harusnya aku
tidak serakah.”.
“Bukankah ini sudah biasa kau lakukan padaku?”.
“Tapi tidak sekejam ini, Choi Sol Ji,”.
Gadis itu meletakan telapak tangannya yang
besar di pipinya, berusaha mengungkapkan bahwa ia benar-benar baik saja. “I’m okay, my boy, I’m okay.”.
Nafasnya memburu, Wonwoo seakan tak bisa
memaafkan dirinya sendiri. Tak biasanya ia merasa bersalah seperti ini setelah
melakukan suatu hubungan, namun kali ini ia bahkan tak bisa memaafkan dirinya
sendiri.
“Aku justru merasa senang ―seperti biasanya,”
Solji mengambilkan bathdrobe untuk
Wonwoo, “kau tak usah khawatir.”.
“Cup,” Wonwoo mengecup dahinya, “Aku akan
melindungimu, aku takkan melukaimu.”.
Jika
benar, jika saja ia bersungguh-sungguh.
“Mm.” angguk Solji, sebelum mereka berciuman
lagi.
***
Seri masih dalam pemantauannya, “Jun, masuk.”
jawabnya.
Sementara itu, Seungcheol masih menggantikan
posisi Pak Kim, Wonwoo dan Mingyu juga masih di kamar Jihun dkk ―namun di
lokasi yang jauh berbeda, Solji sendiri tak ingin berada di dekat keduanya,
saat ini ia tak jauh dari Seri dan Seungcheol.
Misi tetap berjalan, pemantauan dan pengintaian
masih berlanjut ―lebih penting dari hal pribadi apapun bagi mereka. Tugas ini
sudah lebih dari sekadar pekerjaan buat mereka.
“Terlihat pergerakan dari kamar target.” lapor
Seokmin.
“Klek.” Sunyoung ―yang bertugas mengambil
sampah di beberapa trash lalu
dikumpulkan di troley-nya― mendengar
suara pintu kamar yang tak jauh darinya.
Benar saja, Yukseon keluar dari kamarnya
bersama tas selempang yang dibawanya.
“Selamat pagi.” sapa Sunyoung pada pria itu
―seakan-akan ia seorang public attendant.
“Target menuju lift.” lapornya
setelah Yukseon berada sangat jauh darinya.
Junhui bersiap-siap di lobby, “Copy.” jawabnya.
“Jeonghan, masuk,” sahut Seungcheol.
“Aku sudah di parkiran.” Jeonghan mencari-cari
mobil yang menjadi pasangan kunci di tangannya. Sementara ini, Jeonghan sudah stand by.
Di posisinya berdiri, Junhui melihat Yukseon
turun dari lift dan melakukan check out di meja reservasi. Junhui
hanya menunggu.
“Sampai jumpa kembali.” sambut Junhui begitu
Yukseon melaluinya, “DK, saatnya.” kodenya pada Seokmin.
“Copy!”
balas Seokmin dari tempat persembunyiannya, lalu dengan segera ia menghubungi
meja reservasi tersebut.
“♫♪♫!!”
telepon di meja reservasi berbunyi. Sesuai kebijakan hotel, wanita yang berdiri
di balik counter tersebut segera
mengangkat panggilan.
“Selamat pagi, dengan receptionist Seo, bisa saya bantu?” wanita itu meminta Junhui
mendekat untuk mengurusi pekerjaan yang tidak bisa ditanganinya sambil
bertelepon.
Kesempatan yang sengaja Junhui buat untuk
mengambil key card kamar yang sempat
Yukseon tempati ―sebelum kartu itu diformat kembali. Ia pura-pura membantu
seniornya tersebut.
“Benar, dengan Ciel Hotel... Oh, maaf, Tuan,
ini bukan Ciel Hotel Seoul. Namun jika Anda berkenan akan kami sambungkan
dengan...” Junhui memperhatikan wanita itu, “Maaf, Tuan, sekali lagi ini bukan
Ciel Hotel cabang Seoul.”.
Junhui hanya bisa menahan tawa mengetahui
Seokmin bertanya sekonyol itu.
“Ne,
gamsa hamnida.” wanita itu mengakhirinya, “Huft, penelpon macam apa, sih?”
dengusnya.
“Sabar, Sunbae.”
hibur Junhui, “Nih, pekerjaanmu sudah selesai. Aku ke atas dulu ―ada yang minta
diangkut, hehehe.”.
“Sanalah, dan terima kasih, ya!” seru wanita
itu begitu Junhui berlalu ―dengan keycard
di tangan tanpa siapapun sadari.
Junhui berlalu menuju lift khusus tamu dan naik ke lantai di mana kamar yang sempat
Yukseon tempati berada. Dengan keycard
yang didapatkannya tersebut, Junhui berhasil mengakses kamar tersebut dan
menjemput penyadap suara yang terpasang di kaki meja kayu itu.
Sebelum meninggalkan kamar, Junhui terlebih
dahulu menggeledah seisi kamar. Namun ia tak menemukan benda apapun yang
tertinggal di sana. Terlebih lagi, tak ada yang mencurigakan.
Junhui hanya menggaruk-garuk kepalanya heran,
“Tidak ada yang mencurigakan dari kamar yang Yukseon tinggalkan.” lapornya pada
operator.
Sementara itu, Seokmin melihat sesuatu. “Yuk..,
maksudku, target berada di pintu gerbang.” lapornya.
“Dia menunggu sesuatu.” tambah Seri.
“Jeonghan, masuk.” sahut Seungcheol.
Saat ini, lelaki berambut panjang itu sudah
siap di dalam mobil sport-nya. “Stand by,” jawabnya pada Seungcheol.
Mobilnya segera melaju.
“Wonwoo-ya,” panggil Seungcheol.
“Siap.” jawab Wonwoo, ia dan Seungcheol segera
beranjak keluar kamar dan turun ke lantai dasar untuk menemui Jeonghan.
“Sebuah mobil menjemput target.” lapor Seri,
kali ini Solji berdiri di dekatnya ―seperti yang Seungcheol lakukan tadi.
Ketika Sunyoung mendorong troley-nya di lobby, ia
melihat Wonwoo dan Seungcheol bergegas keluar hotel. Di sana, mereka berdua
bertemu sebuah mobil sport putih yang
melintas. Mobil ―dengan Jeonghan yang menyetirnya― itu segera berhenti untuk
Seungcheol dan Wonwoo.
“A, a,” Seokmin gelagapan melihat isi mobil
sedan yang menjemput Yukseon itu, dari balik semak-semak ia berusaha menutup
mulutnya rapat-rapat.
“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.
“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di
dalam mobil yang menjemput target.”.
***
to be continued
***
next...
“Anda
telah menyelesaikan tugas Anda dengan baik, Yukseon-nim.” senyum Haera.
“Jika
demikian,” kata Yukseon, “kalian tidak akan membunuhku, kan?” tanyanya.
“Kau
gila?” Sunyoung mendelik ke arah Wonwoo.
“Mwoya
ige?!!” Junhui terbelalak.
“Jadi,
sebenarnya, apa yang,” Seokmin gelagapan lagi.
Seungcheol
tak menjawabnya, “Yang penting sekarang tak ada rahasia apapun di antara kita,
semuanya sudah jelas ―clear.” ucap Seungcheol yang duduk di atas meja sana
sambil melipat tangan.
“Ku
anggap masalah ini selesai.” Seungcheol tersenyum tipis, “Aku tidak mau dengar
masalah ini diungkit-ungkit kembali kedepannya. Dan untuk kalian bertiga, ku
minta ke depannya kalian bisa lebih ‘bersahabat’ lagi di tim ini ―untuk tim
ini, untuk anggota yang lainnya, dan untuk kalian sendiri. Paham?” Seungcheol
melanjutkan.
“Siap,
paham!”.
“Bubar.”
kata lelaki itu.
“Sodamu,”
Mingyu menyodorkannya, “Hyung.”.
Entah
karena cemburu atau memang ia sangat membutuhkan tisu, terdengar dehaman dari
samping Solji, “Ehem.” suara bass-nya Wonwoo.
Solji
jengah, “Kalau mau, ya, ngomong.” ketusnya pada Wonwoo, sambil menyodorkan tisu
untuknya.
“Cepatlah
bantu aku, Solji-ya. Seseorang menelponku.” Wonwoo memelas tanpa ekspresi.
“Aku
ingin kau mengambil salah satu dari mereka.” katanya, “Siapa saja, tidak perlu
dari timmu, ambil salah satu yang ‘empuk’ dari mereka, tahan dia di sini, dan
bawa ‘inti’ itu untukku.” jelas Ilsung, “Kau paham, kan, sekarang...?”.
***
next...
Aim
Part VIII : We are
Team
***




