[FF] Aim part VI
Aim
Part VI : Accident?
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Shin Hae Ra (OC), Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Lee Ji
Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
| Spoiler ver. |
***
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Yukseon berhasil melewati loker itu dengan
selamat, namun Mingyu yang tidak tau apa-apa itupun mengikuti Yukseon dan
ketika ia melewati loker tersebut,
“Ngiiiing~~...!!”.
Alat yang Ilsung pasang di dalam loker tersebut
seketika merusak handsfree yang
Mingyu kenakan saat ini. Tak hanya itu, Mingyu juga merasakan ngilu luar biasa
di telinganya.
“Akhh!!” rintihnya keras, ia jatuh terduduk dan
berusaha melepas benda di telinganya itu dengan tergesa.
Tak hanya Mingyu, tapi hal yang sama dialami
pula oleh para anggota X Team lainnya.
“Astaga!!” jerit Seri, ia langsung terjatuh di
atas lantai.
“Aish!!”
Sunyoung langsung melempar benda itu dari telinganya.
Begitu pula yang Seokmin rasakan, “Keparat!”
geramnya melempar handsfree-nya yang
telah melukai telinganya.
“Aww!!” rintih Seungcheol, ia, Pak Kim juga
Jihun bahkan turut kena imbasnya.
“Omo!”
Jeonghan terloncat begitu merasakan handsfree
itu serasa mencubit telinganya. Seketika para senior memperhatikannya.
“Ada apa denganmu, anak baru?” tanya salah
seorang di antaranya, namun Jeonghan hanya tersenyum seakan tak terjadi
apa-apa.
Ketika mereka semua pergi, Jeonghan berusaha
mengenakan handsfree-nya lagi, namun
sekarang benda itu sudah tidak berfungsi.
Hal yang sama pun dirasakan Junhui. “Sialan!!”
ia banting benda itu, untung saja ia hanya seorang diri di koridor. Paling
tidak gerak-geriknya ini hanya terekam CCTV.
“Ouch!!”
pekik Solji, tangannya segera mencabut benda itu dari telinganya, “What the f..., arrgghh!!” gerutunya
sendiri, jengkelnya menjadi-jadi.
“Akh!” rintih Wonwoo, seketika melepas Haera
dari pelukannya begitu saja. Ia memandangi handsfree-nya
dan Haera bergantian.
Mata sabit itu menohok ulu hatinya.
“Sebenarnya apa yang Ilsung rencanakan?!!” ia
geram pada gadis itu.
“Sepertinya salah satu temanmu melewati penguat
gelombang elektromagnetik yang kami pasang di kamar mandi.” jelas Haera ringan.
“Penguat gelombang elektromagnetik?” Seungcheol
mengulangi perkataan Jihun.
“Benar,” kali ini Seungcheol beralih pada Pak
Kim, “pelaku sengaja memasang alat ini untuk merusak alat komunikasi yang kita
pakai. Mungkin salah satu dari anggota X Team ada yang tak sengaja melewati
benda ini. Tak hanya handsfree-nya
saja yang mengalami kerusakan dan merusak telinganya, tapi kerusakan ini juga
akan merambat ke pemakai handsfree yang
lainnya yang tersambung ―tergantung dari radiusnya.” jelas beliau, “Jadi
sekarang, kita tidak bisa tersambung dengan yang lainnya.”.
Seungcheol kembali memasang benda itu pada
telinganya, dan benar saja ―alat itu sudah tidak berfungsi lagi.
“Sial.” gerutu Jihun, tak tersambung sedikitpun
dengan rekan-rekannya. Bahkan tak satupun keberadaan mereka yang muncul di
layar laptopnya.
Tak lama ponsel Seungcheol berdering.
“Jeonghan-ah?” jawabnya segera.
“Eoh?
Kami tidak bisa tersambung pada operator dan yang lainnya, Seungcheol-ah.” kata
Jeonghan.
“Kau di mana?”.
Jeonghan menyimak sekitar sejenak. “Aku izin ke
toilet sama seniorku.” jelasnya.
Sementara itu, kolom obrolan di ponsel Jihun
dibanjiri pesan suara.
“Keparat orang itu!” suara dari Seokmin.
“Ya, kalian
di mana? Kenapa aku tidak bisa menghubungi kalian?” suara Seri.
“Halo? Kenapa alat ini merusak telingaku dan
dirinya sendiri?!” suara Junhui terdengar buruk.
Tak hanya berupa pesan bersuara, tapi Jihun
juga menerima pesan teks dari Solji. “Kalian
semua baik-baik saja?” begitu yang ditulisnya.
“Semua mengalami kerusakan, tak ada satupun
yang tersambung.” lapor Jihun pada Seungcheol dan Pak Kim.
“Eoh,
eoh, Jeonghan-ah. Kami juga sama.” Seungcheol masih sibuk dengan
teleponnya.
Sementara itu Mingyu yang bertugas mengikuti ke
mana Yukseon pergi, malah kehilangan jejak orangtua itu. Mingyu tak
menemukannya di kamar mandi tersebut, ia lantas segera keluar menuju kolam
renang.
Meski sudah malam, masih banyak orang di sana.
Suasana gelap dan ramai makin membuatnya kesulitan menemukan keberadaan
Yukseon. Kepalanya terasa pusing, Mingyu memutuskan untuk mundur.
“Oh! Mingyu-ya!” panggil Solji masih dari
tempatnya berdiri, “Astaga, telingamu berdarah!” serunya.
Mingyu yang baru sadar pun segera menyentuh
telinganya, dan begitu melihat jemarinya ia menemukan bercak merah di situ.
“Coups menyuruh kita kembali.” kata Solji yang
segera menggandeng tangan Mingyu.
“Mian, aku
kehilangan jejaknya.” sesal Mingyu.
“Jangan pikirkan itu dulu,” tepis Solji yang
langsung mengantar Mingyu kembali, ia sempat menoleh ke arah Wonwoo ―namun
sudah tak ada siapa-siapa di sana.
***
Tawa Ilsung yang menggema serasa menyambut
kedatangan Haera kembali ke kamarnya. Kakinya serasa lemas hingga ia sendiri
hanya bisa berdiri mematung di balik pintu.
“Lihat, kan? Mereka seperti tikus yang tergoda
akan wanginya keju di perangkap yang ku pasang!” ujar Ilsung di tengah tawanya,
“Bak tikus, kini tinggal perangkapku saja yang bergerak untuk ―hap!― menangkap
mereka.”.
“Oh! Sudah kembali rupanya!” Haera terloncat
kaget begitu mendapat sambutan Ilsung itu, “Kenapa, sayang? Apa dia
mencampakkanmu? Maksudku, Tn. Muda Park?”.
Haera tak menjawab, sementara Ilsung
melanjutkan tawanya yang terhenti.
***
“Persetan.” gerutu Jeonghan.
Kini semua anggota X Team berada di kamar Jihun
dkk, semuanya berkumpul. Sementara itu Jihun masih memantau keberadaan Yukseon
secara manual.
Seungcheol sedari tadi berdiri di dekat
jendela, tak jauh-jauh dari Pak Kim dan teropongnya. Mingyu sedang duduk di
sofa bersama Solji yang sedang mengobati telinganya. Seri sesekali membantu
Jihun memperbaiki jaringan laptopnya yang ikut terputus.
Sunyoung duduk di sofa di seberang Solji,
sementara Seokmin duduk di bagian atas sofa yang ‘kembarannya’ itu duduki.
Junhui baru saja keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Sementara
Wonwoo berada sejauh mungkin dari Solji dan Mingyu, ia hanya berdiri di dekat
pintu masuk.
“Aku yakin, Cha Yuk Seon hanyalah umpan untuk
kita.” selidik Jeonghan, “Sebenarnya, ada yang ingin ia tunjukkan pada kita!
Sebenarnya, Yukseon mengantar kita pada sesuatu!” tambahnya, masih saja
mondar-mandir di ruang tengah.
“Call!”
Sunyoung menjentikan jari, “Aku yakin kalian semua juga pasti menyadarinya!”.
“Lagipula, ia hanya terlihat berjalan-jalan
saja. Tidak ada yang mencurigakan, matji?”
Seokjin meminta persetujuan.
Seungcheol berpikir sejenak. “Bagaimana dengan
kamarnya, Seri-ya?” tanyanya.
“Kamarnya bersih, maksudku ia bahkan tidak
membawa koper.” jawab Seri, “Cha Yuk Seon hanya membawa tas selempang dengan
satu stel pakaian di dalamnya. Hanya sesederhana itu bawaannya, tidak ada barang
yang mencurigakan. Justru itulah bagian mencurigakannya ―untuk apa ia datang
jauh-kauh ke sini hanya untuk jalan-jalan?”.
“Dan bukankah kau mengejar gadis yang ditemui
Cha Yuk Seon, Wonwoo-ya?” selidik Seungcheol.
Hampir lupa, batin Wonwoo. “Mm,” angguknya,
“aku bertemu dengannya. Tapi ia tidak berbicara apapun padaku, justru ia
memohon padaku. Hanya itu saja, dan ketika penguat gelombang elektromagnetik
itu menyakiti telingaku, konsentrasiku pecah dan di saat itulah ia kabur. Aku
berusaha mengejarnya, tapi aku tersesat karena pepohonan yang semuanya terlihat
sama itu.”.
Solji mendelik ke arah Wonwoo. Memohon?
Benarkah gadis itu memeluk Wonwoo hanya untuk memohon? Lalu kenapa Wonwoo
membalas pelukan itu? Ada banyak pertanyaan di kepala Solji saat ini.
“Benar, gelombang itu sungguh merusak
konsentrasiku!” susul Seokmin.
“Apalagi aku!” seru Mingyu, “Aku yang berada
paling dekat dengan penguat gelombang itu, rasanya nyeri sekali di telingaku.
Sampai aku baru sadar kalau telingaku berdarah.” jelasnya, “Konsentrasiku buyar
dan kepalaku pening, di saat itulah aku kehilangan jejak Cha Yuk Seon sekalipun
aku sudah mencarinya. Namun karena terlalu pusing aku jadi tidak bisa terlalu
banyak berpikir, jadi akhirnya aku kembali dan bertemu Solji Sunbae.”.
“Gak heran telingamu sampai berdarah.” sambung
Junhui.
Pak Kim beralih, “Bagaimana, Woozi?” tanyanya.
“Belum ada tanda-tanda kembalinya target.”
jawab Jihun.
Beliau melanjutkan setelah menarik nafas, “Kalian
kembalilah ke kamar, mulai sekarang kita terapkan sistem jaga bergilir.” ucap
Pak Kim, “Kloter pertama, Jihun, Seungcheol, Mingyu, Solji, dan Wonwoo. Kloter
selanjutnya, Seri, Junhui, Jeonghan, Seokmin, dan Sunyoung. Aku akan selalu
mengawasi di sini.”.
“Siap.” jawab semuanya berbarengan.
“Kloter kedua silahkan istirahat. Bubar.”
sesuai dengan perintah Pak Kim, Seokmin, Sunyoung, Junhui, Seri dan Jeonghan
kembali ke kamar masing-masing.
“Aja aja,
Fire!” desis Seri menyemangati Jihun yang kebagian kloter pertama, Jihun
hanya tersenyum manis padanya.
“Kim Min Gyu, kau yakin bisa berjaga di kloter
pertama?” tanya Pak Kim.
Mingyu mengangguk tegas, “Siap, Sam.., Kim Sonsaengnim.” ucapnya meski sempat salah sebut.
***
Tak bisa tidur, hal ini pula yang dirasakan
Solji. Hampir semua anggota X Team tak sampai tidur nyenyak hari ini karena
masih bersitegang dengan target mereka.
Di pagi buta, kloter pertama berhasil menangkap
sosok Yukseon kembali ke kamarnya setelah membeli sebotol bir. Setelah itu
tidak ada perkembangan signifikan kemudian, hingga akhirnya giliran kloter
kedua datang.
Meski Pak Kim menyuruh kloter pertama untuk
tidur dan istirahat, tak satupun dari mereka yang bisa tidur dengan nyenyak.
Solji bahkan tidak tidur sampai pagi menjelang, dalam misi seperti ini tidur
terasa tidak mungkin baginya.
Melihat indahnya danau buatan yang terlihat
jelas dari jendela kamarnya, Solji memutuskan untuk menghabiskan waktu di sana
dan beristirahat. Udara yang sejuk cukup membuatnya terasa segar kembali meskipun
ia tidak tidur semalaman.
“Sudah bangun, Nuna?” tau-tau suara Mingyu sudah ada di sampingnya.
Solji menoleh, “Mingyu-ya.” sambutnya, “Aku
tidak tidur.”.
“Sama kalau gitu.” lanjut Mingyu, ia dan Solji
hanya berdiri di pinggir danau sambil menikmati hangatnya matahari yang baru
saja kembali bersinar.
“Bagaimana telingamu? Apa masih sakit?” tanya
Solji.
Mingyu menggeleng, “Aku masih bisa mendengar,
kok, Nuna ―keokjongma.” senyumnya,
senyuman yang sangat manis di mata Solji. “Ngomong-ngomong, Nuna,”.
Solji beralih lagi ke arah lelaki di
sampingnya.
“katanya kau mau menceritakannya padaku di saat
yang tepat.” sambung Mingyu, “Saat yang tepat itu kapan, ya?”.
Solji tak bergeming.
***
“Ini,” Seungcheol menyodorkan secangkir kopi
pada Pak Kim.
Pria tua itu hanya menyerobotnya tanpa berkata
apapun, beliau pun kembali berkutat dengan penjagaannya sambil menyeruput
kopinya.
Seungcheol terlihat gusar, “Sonsaengnim, Anda harus tidur,” katanya,
“biarkan aku yang berjaga,”.
“Tidak, aku bertanggungjawab atas ini.”.
“Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa Anda
akan mengajariku bagaimana cara memimpin tim ini dengan cara Anda?”.
Pak Kim berhasil menoleh padanya.
“Selama misi berlangsung, Anda telah
mengajariku. Sekarang bisakah aku meringankan beban Anda ―bahkan sedikit saja?”
bocah itu ditatapnya, “Anda bisa beristirahat sekarang, Anda hanya cukup
mengawasiku saja.”.
Setelah berpikir cukup panjang, “Ya, baiklah.”
Pak Kim akhirnya minggir dari tempatnya berdiri.
Beliau pun duduk di kursi yang telah Seungcheol
sediakan untuknya. Sementara itu Seungcheol menggantikan tugasnya ―meski tidak
secara keseluruhan. Setidaknya dengan begini, Pak Kim bisa sedikit beristirahat
setelah sepanjang malam tidak tidur sama sekali.
Hampir semua anggota X Team berada di kamar
Jihun dkk. Beberapa anggota yang kebagian kloter pertama tidak bisa tidur dan
akhirnya datang ke sini untuk ikut berjaga-jaga, sementara Junhui, Jeonghan,
Seokmin, dan Sunyoung sedang melakukan penyamaran jadi mereka tidak ada di
sini.
Salah satunya, Wonwoo. Dia hanya berdiri
mematung di dekat jendela sedari tadi. Diam-diam ia memperhatikan Mingyu dan
Solji yang sedang menghabiskan waktu di pinggir danau sana.
“Baru bangun atau tidak tidur, Jeon Won
Woo...?” sambil mengucek-ngucek mata, Jihun datang menghampiri.
Namun Jihun tak mendapat responnya sama sekali,
hingga ia ikut memandang ke arah Solji dan Mingyu di sana. “Hei, sejak kapan
mereka di sana?” gumamnya.
Jihun baru menyadari sesuatu. Tatapan mata
Wonwoo, sekilas nampak berbeda.
“Apa
sebenarnya..., ada sesuatu antara Wonwoo, Solji, dan Mingyu atau...,” batin
Jihun, memandangi Wonwoo, Mingyu, dan Solji bergantian.
“Aku pernah menjalin hubungan tanpa status,”
Solji mulai bercerita, “dengan seseorang.”.
Mingyu mendengarkan.
Solji tersenyum tipis, “Kami sudah mengenal
baik sejak bangku SMA. Kedekatan kami ini bisa dibilang hubungan spesial karena
bahkan teman-teman kami sendiri tidak pernah menyadarinya. Kami ―yeah you know― saling ‘menyayangi’, tapi
tidak pernah sedikitpun terucap pengakuan dari bibir kami.”.
“Jadi, maksudnya?” Mingyu mencari petunjuk.
“Kami melakukan hal-hal yang biasa dilakukan
oleh pasangan kekasih : jalan-jalan berdua, saling menanyakan kabar,
bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, bahkan,” Solji tersenyum tipis,
“tidur bersama.”.
Mingyu menahan nafasnya. Seorang gadis seperti
Solji bahkan sudah pernah melakukan hal-hal semacam itu? Tapi dengan siapa?
“Semua itu kami lakukan tanpa ada hubungan yang
pasti.” lanjut Solji, “Sayangnya, ia meninggalkanku begitu saja di saat aku
sangat-sangat membutuhkannya ―sangat-sangat mencintainya. Bahkan jika perlu,
aku yang akan mengakui perasaanku padanya di saat itu. Namun terlambat,”
katanya, “dia sudah pergi.”.
“Dan ketika ku temukan ia kembali ke
hadapanku,” Solji menambahkan, “aku jadi sangat membencinya. Karena aku merasa
telah dicampakkan.”.
“Yang kau maksud itu,” mereka saling
bertatapan, “Wonwoo Hyung, kan...?”.
Solji tak langsung menjawab, untuk beberapa
saat ia hanya menatapi lelaki si sampingnya. “Apa perkataanku kurang jelas?”
Mingyu bahkan masih bisa melihat Solji tersenyum.
“Seolma.” batin Mingyu, mulutnya hampir
menganga. “Aku bahkan tak pernah tau Wonwoo Hyung
bisa melakukan hal seperti itu.” katanya, “Pasti sangat berat buatmu, Nuna.”.
“Sayangnya kau baru tau sekarang ―but it doesn’t matter.” senyum Solji, “I’m alright now.”.
Mingyu merasa iba, membuat Solji tak tahan
melihatnya. Dengan tangannya yang ditelungkupkan, Solji mengambil air danau
lalu, “Byur!” menyiramnya ke arah Mingyu.
Solji tertawa puas ketika melihat Mingyu
terkejut.
“Oh, Nuna
senang melihatku basah begini? Dingin tau!” Mingyu lalu balas menyiramnya.
Solji terkejut, kali ini gantian Mingyu
tertawa. “Airnya masuk ke telingaku!” jeritnya, lalu membalas perbuatan Mingyu.
Selama beberapa menit ke depan, mereka berdua
terlihat asyik bermain-main air danau. Dan itu makin membuat Wonwoo geram.
“Lihat, betapa menyenangkannya!” Jihun
tersenyum, namun senyumannya mereda begitu melihat tatapan mata Wonwoo menajam.
Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka,
kini Jihun yakin.
“Mingyu, stop
it. So cold!” jerit Solji, keduanya masih asyik bermain-main. “Ouch! Airnya masuk ke telingaku lagi!
Kim Min Gyu!”.
Mingyu tersenyum, menggemaskan melihat Solji
seperti itu. Dengan sembrono, Mingyu menghampiri gadis itu dan menggendongnya.
“Kim Min Gyu!!” jerit Solji ngeri, Mingyu
membawanya ke tengah-tengah danau.
Lalu, “Byur!” melemparnya begitu saja ke dalam
air.
Kemudian Solji kembali ke permukaan dan berdiri
―air danau hampir mencapai pinggangnya. “Uwah! Segarnya!” senangnya.
Mingyu masih tersenyum gemas.
“It’s so
fun!” kembali Solji menyirami Mingyu dengan air danau. Sementara lelaki itu
berulangkali membalasnya dengan hal yang sama.
“Fresh?”
tanya Mingyu, menyunggingkan taringnya yang manis.
“Eoh,
eoh.” Solji dan Mingyu masih siram menyiram. “Hentikan, Mingyu-ya ―stop it! Chuwoyo!” gadis itu menjerit, namun menyukainya.
Sangking seringnya Mingyu menyiraminya, Solji
bahkan tak bisa membuka mata. “Mingyu-ya, geumanhae!
Telingaku penuh dengan air! Ya! Nuna mareul jom deureo bwa!”.
Solji merasa Mingyu sudah berhenti
menyiraminya. Namun ketika Solji sedang membasuh wajahnya yang basah, ia
merasakan seseorang menarik tubuhnya lembut, merangkul pinggangnya, dan ia
merasakan bibirnya berubah menjadi sangat hangat.
Dipaksanya kedua mata itu terbuka, dan Solji
terkejut ketika menemukan Mingyu sedang mencium bibirnya. Sangat lembut, sangat
hangat, entah kenapa Solji merasa sangat nyaman.
Solji bisa merasakan jari-jari kokoh itu mulai
bergelayut manis di pinggangnya, mengantarkannya untuk lebih jauh tenggelam
dalam permainannya. Seketika itu, Solji mengerti akan apa yang ingin Mingyu
sampaikan padanya.
Kim Min Gyu, sejak pertama bertemu Solji lelaki
ini sudah menyimpan perasaan padanya. Apalagi ketika Solji menceritakan masa
lalunya dengan Wonwoo yang makin membuatnya ingin melindungi gadis yang terpaut
setahun lebih tua darinya ini.
Tunggu, Wonwoo?
Solji menyeruak dari hal yang membuatnya merasa
nyaman ini. Ia berusaha melepaskan diri sekuat tenaga. Dan akhirnya, ia bisa
menatap Mingyu sekarang.
“Plak.” entah apa yang membuat Solji menampar
Mingyu.
Mereka bertatapan, “Lancang.” desis Solji
sebelum akhirnya ia meninggalkan lelaki itu dengan gusar.
Mingyu mematung sejenak, kemudian ia bergegas
mengikuti Solji. “Nuna, mianhada!”
serunya, “Sungguh itu terjadi begitu saja!”.
“Terjadi begitu saja? Did you mean accident?!” sinis Solji yang berbalik menghadapnya,
“Aku membencinya.” Solji kembali melangkah.
“Tapi kau membalasku, kan?” lagi, ucapan Mingyu
berhasil memberhentikan langkahnya.
Namun Solji tak berkenan untuk menatapnya
balik, meski ia tau Mingyu berharap tubuh langsing itu berbalik padanya.
Solji mengutuk dirinya sendiri. Benar, yang
Mingyu katakan : Solji membalas ciuman itu, Mingyu memberikannya kenyamanan
yang telah hilang ―namun semua itu terasa berbeda. Kenapa Solji harus melakukan
itu?!
“Maaf tapi,” Mingyu berhati-hati, “aku hanya
ingin membuatmu nyaman. Aku hanya ingin kau melupakan rasa sakitmu, Nuna.”.
Tak berniat melanjutkan, Solji kemudian
meninggalkan Mingyu. Lelaki jangkung itu tak bisa apa-apa selain mengekorinya.
Mereka berdua pun sampai di kamar Jihun dkk, dan yang membuat mereka terkejut
adalah kehadiran Wonwoo di depan pintu masuk.
“Sepertinya kita harus bicara,” ucap Wonwoo
setelah memberikan sebuah bathdrobe pada
Solji, lelaki itu memandang Mingyu tajam dan segera menariknya pergi dari sana.
Suasana di kamar Jihun dkk terasa mencekam
begitu Wonwoo menyeret Mingyu ke balkon, entah kenapa semua perhatian tertuju
pada mereka, tak terkecuali Solji yang paling mengkhawatirkan keduanya.
“Bruk!” Wonwoo lah yang membanting Mingyu pada
dinding. Kedua lelaki itu saling beradu tatapan tajam.
“Buk!” Wonwoo lah yang memukul Mingyu kemudian.
Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo
pada pagar balkon lalu berbalas memukulnya. Impas keduanya.
“Kurang ajar kau, Kim Min Gyu.” suara bass itu menggema, kerah baju Mingyu
dicengkeramnya kuat-kuat.
Kepala mereka berbenturan dan saling beradu,
tatapan keduanya saling memburu.
“Hentikan!” seru Solji yang datang menghampiri
mereka. Namun tak satupun dari kedua lelaki itu yang mau mengalah.
“Justru kau, Hyung,” Mingyu menatapnya tajam tanpa rasa takut, “kau membuangnya
seperti tak terpakai lagi. Kau telah mencampakkannya. Kau bukan laki-laki,”.
“Buk!!” Wonwoo memukul wajahnya dengan keras,
lalu mencengkeram Mingyu lagi.
“Kau?! Bagaimana bisa kau,” suara Wonwoo
menyerangnya.
“Tentu saja aku bisa, karena aku yang akan
melindungi Solji Nuna ―tidak seperti
dirimu.” ujar Mingyu santai meski bibirnya berdarah.
“Hentikan, ku bilang!!” jerit Solji.
Mingyu mendorong sahabatnya sendiri, dan di
saat itulah ia memukul Wonwoo sekali ―hingga kepalanya terbentur. Wonwoo yang
tidak terima itupun bersiap memukulnya lagi, sebelum akhirnya Seungcheol datang
dan memisahkan keduanya.
“Hentikan! Hentikan!!” geram Seungcheol,
menahan Mingyu, sementara Jihun menyusul lalu menahan Wonwoo.
Mereka sudah berada di jarak yang aman
sekarang, namun baik Mingyu maupun Wonwoo masih beradu tatap. Solji hampir saja
berlari ke sana ―ke balkon― namun Seri keburu datang dan menahan langkahnya.
“Tenang dulu, Tuan-tuan.” Seungcheol berusaha
sabar, ia menghela nafas sebelum bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi di
antara kalian berdua, uh? Katakan!”.
Hening, tak ada yang sudi menjawab.
“Solji-ya, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya
Seungcheol.
[► Bangtan Boys – House of Cards]
Pupil matanya bergetar, “Se, sebenarnya,” Solji
gelagapan, “sebenarnya,”.
“Aku baru saja mencium Solji Sunbae.” jawab Mingyu pada akhirnya.
***
to be continued
***
next...
“Kami
pernah berhubungan tanpa status,” jawab Wonwoo pada akhirnya, “kami..., saling
mencintai tanpa..., terikat hubungan apapun...”.
“Ya,
dan kau meninggalkannya begitu saja!” seru Mingyu.
Agak
lama bagi Wonwoo untuk menjawabnya. “Aku pernah berciuman dengannya,” akunya
lagi, meski sebenarnya berat.
Seri
tercekat, Jihun tak mampu berkata-kata, sementara Solji hanya bisa menunduk.
“Omo..” desis Seri.
“belum
selesai,” ralat Wonwoo, “aku juga pernah..., memakainya...,”.
“Kau
keparat, Wonwoo-ya,” Jihun tersenyum miris.
“Nunbichi
wae? Kenapa tatapanmu itu?” Solji menanyakan.
Lelaki
itu menyunggingkan senyuman. “Imi algo isseoya dwae. Harusnya kau sudah tau.”
Wonwoo merapatkan dirinya pada Solji, merangkul pinggangnya, lalu mencium
bibirnya.
“Sorry,”
bisik Wonwoo.
“Kau,”
desis Solji.
“Argh,”
jengkel Wonwoo, “come on, Sally...”.
“Aku
bilang, jangan.”.
“Aku
tau kau menyukainya,” Wonwoo tersenyum, “ayolah, lakukan untukku,”.
“Wonwoo,”
Solji meringis.
“Tidak
apa, tidak akan sakit.” dalih Wonwoo, “Kau hanya belum terbiasa.”.
Bahkan
ketika ia mencuri pandang ke arah jam di bed side table-nya, Solji berdecak,
“Baru lima belas menit,” gerutunya, “ayolah, kenapa waktu berjalan begitu
lambat?! Wonwoo sudah menyiksaku! Tetapi...,”.
“aku
menyukainya...”.
***
next...
Aim
Part VII : 기억해지? (우리 추억) Remember
***
Yes, akhirnya ada bagian Wonwoo dan Mingyu
berantem *Meannie shipper mode on*
Oya, Near kasih bocoran sedikit buat next part nya Aim nanti. NC-nya ada di bagian selanjutnya, yakni part VII. Jadi, hati-hati, ya,
Reader-deul sekalian^^
Terima kasih juga yang sudah baca, komen, like dan/G+ nya, nih^^ Semoga makin pada
suka sama Aim. Oya, bentar lagi,
kan, SEVENTEEN mau comeback, semoga
bisa kasih support penuh buat
Sebongie, ya!^^
Gamsa
hamnida.
Author
Near


