[FF] Aim part V
Aim
Part V : S.P.Y
Author :
Near
Genre :
Action, Romance, NC+19
Cast : Choi
Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts
: Kim Min Gyu, Shin Hae Ra (OC), Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui,
Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
Spoiler ver, Part I, Part II, Part III, Part IV
| Fanfiction List |
| Fanfiction List |
***
A warning from
Author...
NC di sini
meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan
ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang
ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari
tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction
ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon
perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
“Yoon Jeong Han, Wen Jun Hui, Jeon
Won Woo, kalian menyamar secara tunggal, untuk daerah kalian stand by nanti akan ku jelaskan begitu
sampai di penginapan. Kwon Sun Young dan Lee Seok Min, serta Choi Sol Ji dan
Kim Min Gyu, menyamar berpasangan.”.
“Oh? Kita tidak sendirian?” sahut
Seokmin, berpandangan dengan Sunyoung.
“Tunggu, berpasangan?” ralat Solji.
“Iya, berpasangan,” ulang
Seungcheol, “apa di sini ada yang belum pernah pacaran??”.
Sunyoung secara spontan mengangkat
tangan, padahal ucapan tadi hanya sekadar kiasan. “Oh? Bercanda, ya?”
cengirnya, dengan canggung menurunkan tangannya. Sementara diam-diam, Mingyu
tersenyum, di samping itu Wonwoo mendengus.
“Cheon Se Ri menyamar sebagai housekeeping, menyelinap ke kamar Cha
Yuk Seon untuk memasang alat penyadap suara, Lee Ji Hun,”.
“Lee Ji Hun, kau ―Seungcheol― dan
aku, kali ini kita bersama-sama.” sela Pak Kim.
Semua memandang ke arah beliau.
“Uh, maaf, Kim Sonsaengnim,” ralat Seungcheol, “bukankan rencana awalnya,”.
“Rencana awal diganti sesuai
perintahku.” tegas beliau, “Kau harus ikut aku dan aku akan mengajarkanmu
bagaimana membangun tim ini seperti caraku.” katanya pada Seungcheol.
“Ta, tapi, Sonsaeng,” tepukan dari Pak Kim membuat ucapan Seungcheol terhenti.
“Apakah ada yang kurang jelas?”
tanya beliau lantang.
“Siap, tidak!” jawab X Team tegas.
“Kalau begitu ―Choi Seung Cheol.”
beliau mempersilahkan si leader itu.
“Sebelum memulai misi hari ini, mari
kita berdoa sejenak ―berdoa dimulai.” ucap Seungcheol, semua menunduk dan
berdoa.
“Aku
tau Hansol juga meminta hal yang sama padaMu, jadi,” Solji mengepalkan erat
tangannya, “biarkan aku pulang dalam
keadaan utuh ke hadapannya ―seperti biasanya.”.
“Berdoa selesai.”.
Seusainya, mereka segera bangun dan
berkumpul. Semua tangan berada dalam tumpukan yang sama, dan lantas
kesebelasnya berseru,
“Ekseu,
ekseu, aja-aja~ FIRE!!!”.
***
Perhatian Wonwoo teralihkan, yang
tadinya ia terfokus pada buku bacaannya kini beralih pada Mingyu yang datang
mendekat pada Solji yang duduk sendirian di dekat jendela bis.
“Jadi, kita ‘sepasang kekasih’?”
ujar Mingyu ceria di samping Solji.
“Ya, seperti yang Oppa katakan.” Solji membalas senyuman
itu.
Wonwoo memandangi keduanya yang
duduk tepat di sampingnya itu sekarang.
“Jadi apa rencanamu, Nuna?” tanya Mingyu.
“Kau punya saran?” Solji berbalik
bertanya.
Junhui pun menyahut dari tempat
duduknya di samping Wonwoo, “Hei, berciumanlah!” usilnya.
Sontak semuanya tertawa, kecuali
Wonwoo. Lelaki itu bahkan melihat Solji juga ikut tertawa karena ulahnya
Junhui.
“Dasar anak muda zaman sekarang.”
celetuk Pak Kim.
“Bilang saja kau yang kepingin ―ya,
kan, Junhui-ya?” celetuk Jeonghan.
“Nasibnya jomblo!” sahut Seokmin dan
Sunyoung berbarengan, makin membuat suasana terasa hangat.
“Yang nyahut, berarti nasibnya juga
sama!” balas Junhui.
“Maja,
maja!” kata Jihun sambil tertawa.
“Hoi, kasih saran itu yang masuk
akal, dong!” protes Solji.
“Benar kata Nuna, eh, Sunbae!” Mingyu
menambahkan, “Seri-ya, punya saran? Atau mungkin, Jeonghan Sunbae? Oh, Wonwoo Hyung?”.
Perhatian Wonwoo loncat lagi dari
buku di tangannya, semua mata kini tengah memandanginya, menunggu pemuda itu
juga ikut menghangatkan suasana. Di saat itulah Solji merasa canggung. Tak
seharusnya Mingyu bertanya pada Wonwoo, entah kenapa Solji merasa tak enak hati
pada lelaki yang pernah menempati bagian kosong di hatinya itu.
Hal ini juga dirasakan Seungcheol.
Sayanganya hanya ia yang tau kalau Solji pernah menjalani hubungan ―meski bukan
hubungan yang jelas― itu dengan Wonwoo.
“Kau ini kayak gak pernah pacaran
aja, sih, Kim Min Gyu!” celetuk Wonwoo sambil menepuk bocah itu dengan buku di
tangannya.
Hanya akting.
“Nah, benar, tuh!” sahut Jeonghan.
Beruntung sandiwara itu berhasil
mempertahankan suasana ―dan mempertahankan rahasia yang sebenarnya di antara ia
dan Solji.
“Eh, bukankah Wonwoo Oppa dan Solji Onnie saling mengenal? Begitu demikian dengan Wonwoo Oppa dan Mingyu, bukan?” ingat Seri.
“Oh? Jinjja?” sahut Junhui.
“Kalau itu,” kata Mingyu, “aku dan
Wonwoo Hyung memang bersahabat sejak
SMP, namun Hyung kembali ke Changwon
begitu aku lulus SMA dan memutuskan menjadi polisi. Jadi baru saat inilah kami
bertemu kembali.” jelasnya, “Bagaimana denganmu, Sunbae?”.
Kini giliran Solji. Ada rasa gugup
ketika ia dan Wonwoo tak sengaja berpandangan.
“Aku dan Wonwoo...,” ucapnya,
“adalah teman sekelas ketika kelas satu dan kelas tiga di bangku SMA... Kami
pun masih berteman sampai bangku kuliah, dan seperti yang Mingyu ceritakan,
Wonwoo kembali ke Changwon jadi aku juga baru kali ini bertemu dengannya
lagi...” umpatnya.
Namun Wonwoo masih memandanginya.
Sementara Seungcheol memastikan Wonwoo dan Solji baik-baik saja.
“Ah, begitu.” kata Jihun,
“Kebetulan, ya?”.
“Ternyata kebetulan itu memang ada.”
kata Sunyoung.
“Yup, seperti kita!” sahut Seokmin.
“Yo, DK!” ia hi5 dengan Seokmin.
“Ey, Hoshi!” Seokmin pun membalasnya
―dua-duanya mulai lagi.
Entah sampai kapan Solji dan Wonwoo
harus menutupi semua rahasia ini dari teman-teman mereka. Setidaknya sudah ada
Seungcheol yang mengetahui hubungan mereka sebelumnya.
Ketika semuanya sedang tertawa,
Mingyu tak sengaja melihat Wonwoo yang tak ikut bersendagurau dan kembali
membaca, hanya saja tatapannya tidak fokus. Hal yang sama didapatinya pada
Solji yang kelihatannya memikirkan sesuatu.
“Ada apa, Nuna?” tanya Mingyu.
Baginya sudah biasa melihat Wonwoo
secuek itu, tapi Mingyu baru pertama kali ini melihat Solji mengalami hal yang
sama.
Gadis itu hanya menggeleng, “Anio.”.
“Apa ada yang salah dengan ucapanku
tadi pada Wonwoo Hyung? Katakan saja,
Nuna. Aku tidak ingin kau marah
padaku.”.
“Mingyu-ya, bisakah kau biarkan aku
supaya aku tidak marah padamu?”.
Baiklah, jika itu memang
keinginannya. “Tentu,” jawab Mingyu, ia pun meninggalkan Solji dalam pikirannya
sendiri.
Tak sengaja ketika ia beralih dari
Solji, Mingyu mendapati Wonwoo berpaling dari gadis itu. Sepertinya, ada
apa-apa di antara keduanya, itu yang Mingyu pikirkan.
***
“Kenapa aku harus bersamamu, Sonsaengnim?” Seungcheol sepertinya tak
terima ia ditugaskan ―hanya untuk― berdiam saja di salah satu kamar yang X Team
tempati di hotel ini.
“Karena aku akan mengajarimu
memimpin tim ini sepenuhnya,” jawab Pak Kim sambil menggulung sebuah kabel.
Seungcheol beralih pada beliau,
“Apakah ada yang salah dari caraku memimpin mereka, Sonsaengnim? Katakan saja padaku, maksudku, mereka butuh aku di
lapangan,”.
Jihun yang berada di ruangan yang
sama pun terpaksa mendengar ucapan mereka.
“aku pemimpin mereka,” lanjut
Seungcheol, “jika memang ada yang salah dari,”.
“Tidak ada yang salah dari caramu
memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku ingin
menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.
“Kenapa? Apa Anda akan meninggalkan
kami?”.
Pertanyaan itu seolah mengunci mulut
semua orang di dalam ruangan, termasuk Pak Kim. Jihun memandangi pria tua itu
dan leader-nya bergantian.
“Sembarangan! Jaga ucapanmu! Anak
nakal!” Seungcheol dipukuli beberapa kali oleh beliau, “Siapa yang bilang aku
akan meninggalkan kalian?!”.
“Makanya, kan, aku bilang begitu!”
Seungcheol berucap seperti pada Ayahnya sendiri ―memang pada dasarnya Pak Kim
telah dianggapnya seperti seorang ayah.
Jihun menggeleng kecil lalu
meninggalkan mereka ke kamar mandi untuk mengambil tasnya di sana. Dan di saat
itu pula, Pak Kim berbisik pada Seungcheol.
“Ku titip keponakanku padamu,”.
Seungcheol terkesiap, “Sonsaengnim, kau ngomong apa lagi, sih?”
ia menganggap ucapan itu sebagai candaan, “Jangan buatku takut dan dipukuli
lagi oleh Anda karena salah ngomong.”.
Pak Kim tak bergeming ketika
Seungcheol terkekeh.
***
“Jangan begitu ―jorok. Jeon Won
Woo.”.
Mingyu mendengar suara Solji
samar-samar dari kamar tidurnya. Ketika ia menoleh, tak sengaja ia menemukan
Solji di sana sementara Wonwoo masih di kamarnya.
Seri, Solji, Mingyu, dan Wonwoo
menempati sebuah kamar presidential
di mana terdapat dua kamar tidur di dalamnya. Satu kamar ditempati Wonwoo dan
Mingyu, sementara sisanya ditempati Seri dan Solji.
Kamar mereka berseberangan dengan
kamarnya Seokmin, Sunyoung, Jihun dan Junhui. Di sebelah mereka ada kamar yang
ditempati Seungcheol, Jeonghan dan Pak Kim.
Di kamar ini, tak hanya ada Seri,
Solji, Mingyu dan Wonwoo saja, tapi juga ada Junhui dan Jeonghan yang mampir
untuk merencanakan penyamaran mereka kali ini.
Dari kejauhan, Mingyu melihat ke
arah pintu kamarnya yang terbuka. Di sana memang ada Solji, katanya ia hanya
ingin mengambil ponselnya yang baterenya diisi ulang di stop kontak di kamar
Mingyu dan Wonwoo, hanya saja gadis itu tak sengaja bertemu Wonwoo di sana.
Mingyu memperhatikan.
“Nappeun
beoreut. Kebiasan buruk.” gerutu Solji sambil mencabut charger-nya.
Wonwoo masih mengancingi lengan
bajunya, “Kau masih mengingatnya.” ujarnya pelan.
Solji menghujamnya dengan tatapan
tajam, “Eoh? Karena itu kebiasaan
burukmu, jadi hilangkan sekarang.” jengkelnya, “Katamu kau bersih.”.
Dari cermin terlihat Wonwoo hanya
tersenyum tipis. “Manis,” itu yang
bisa Mingyu tangkap dari gerak bibirnya.
Solji lalu meninggalkan kamar itu
dan bertemu Mingyu, “Kau sudah siap?” tanyanya.
Mingyu terbangun, “Tentu saja,”
senyumnya.
Sebelum keduanya beranjak menuju
kamar Jihun dan kawan-kawan, Mingyu menoleh sejenak ke arah Wonwoo. Lelaki itu
tak sadar telah diperhatikan sahabat lamanya sendiri, di saat itu pulalah
Jeonghan masuk ke kamarnya dan menghentikan pandangan Mingyu padanya.
***
“Tak disangka mereka sudah datang
lebih awal.” ujar Ilsung, “Bagaimana dengan Yukseon?”.
“Dia masih dalam perjalan menuju
penginapan.” jelas pria yang duduk di depan laptop itu.
Ilsung duduk dengan manis di
kursinya, “Bagaimana rasanya, ya, mematai-matai orang yang sedang
memata-matai.” ia lalu terkekeh sendiri, “Ini menyenangkan, benar, kan,
Haera-ku sayang?”.
Namun gadis yang memakai gaun
sederhana berlapis coat yang manis
itu hanya termangu di depan jendelanya. Ia memerhatikan semua orang yang ia
tangkap dari sana, berharap salah satu dari mereka bisa dikenalinya.
“Oh, mencarinya, ya?” tebak Ilsung.
Haera tak memperdulikan ucapan
Ilsung.
Pria tua itu tertawa lagi, “Lihat
siapa yang merindukan pujaannya.” Ilsung mendatangi Haera, “Aku mengerti betul bagaimana
perasaanmu padanya, Anakku, tapi,” ia menarik dagu gadis itu lembut, “apa kau
yakin hanya ada dirimu di hatinya?”.
Haera berkedip.
Ilsung terkekeh, “Tugasmu kali ini
mudah ―sebagai bonus akan ku pertemukan kau dengannya.” diusapnya kepala Haera,
lalu beliau meninggalkannya begitu saja.
“Hubungi Yukseon, maka akan ku
berikan kau tugas selanjutnya.” suruh Ilsung ketika sampai di atas kursinya.
Haera meremas tangannya sendiri.
***
“Yoon Jeong Han?” tanya Seungcheol.
“Siap.” jawab Jeonghan dari
tempatnya berdiri saat ini, tepatnya di dalam sebuah kafe ―ia menyamar sebagai
seorang barista.
“Moon Jun Hwi?”.
“Siap.” jawab Junhui yang bertugas
menyamar sebagai seorang porter.
“Jeon Won Woo?”.
“Siap.” jawab Wonwoo dari tempatnya
bersepeda.
“Cheon Se Ri?”.
“Siap.” jawab Seri pelan sambil
mendorong troley-nya.
“Kim Min Gyu, Choi Sol Ji?”.
“Siap.” jawab keduanya berbarengan,
di saat yang sama Mingyu menggenggam tangan lembut itu ―seakan-akan mereka
sepasang kekasih.
“Kwon Sun Young, Lee Seok Min?”.
“Siap.” jawab keduanya kompak sambil
menyamar sebagai gardener di taman
yang juga salah satu tujuan wisata di sekitar penginapan mereka. Wonwoo serta
Mingyu dan Solji berada di taman ini juga, namun mereka di lokasi yang berbeda.
“Lee Ji Hun?” Seungcheol menatap
lelaki mungil di sampingnya.
“Siap.” angguk Jihun.
“Kim Jin Po?” dengan canggung
Seungcheol menyebut nama itu sambil menatap Pak Kim di sampingnya.
“Siap.” pria tua itu tersenyum
padanya.
Seperti biasa, Seungcheol memulai
misi mereka dengan menghela nafas dalam-dalam terlebih dahulu kemudian berkata,
“Misi dimulai,”.
[► Rap Monster (ft. Mandy Vetrice) -
Fantastic]
Malam ini, mereka memulai pemantauan
karena diketahui pria bernama Cha Yuk Seon itu baru saja tiba di kamarnya pada
malam hari. Seungcheol kini terpaksa berjibaku dengan teropong yang di pasang
di kamarnya Jihun dkk. Di sinilah ia, Jihun, dan Pak Kim berada.
Ketika mendorong troley-nya melewati pertigaan lorong,
Seri berhasil menangkap sosok Yukseon yang keluar meninggalkan kamarnya. Sambil
mengenakan headset ia berjalan menuju
lift.
“Target meninggalkan kamar.” lapor
Seri.
“Copy.”
sahut Pak Kim.
Seperti orangtua yang kekinian,
Yukseon memakai headset dan
berpura-pura sedang menikmati lagu-lagu klasik dari barang elektroniknya
tersebut. Namun sebenarnya tidak.
“Turunlah ke lantai dasar.” ia
sedang tersambung dengan Haera via telepon. Gadis itu tidak sendirian, di kamar
ini juga ada Ilsung dan dua anak buahnya.
Haera bertugas memberikan arahan dan
perintah pada Yukseon, sebelum akhirnya Ilsung akan memberikan tugas yang telah
dinanti-nantinya.
“Yukseon-nim, sekali lagi, mohon
untuk tidak menjawab maupun menanyakan apapun pada saya, seakan-akan Anda
sedang mendengarkan musik.”.
Yukseon tak menjawab seperti yang
Haera perintahkan.
“Ting!” lift di hadapannya pun terbuka.
“Target memasuki lift.” lapor Seri lagi, sembari sesekali
menyimak sekeliling.
“Copy.”
jawab Junhui, “Selamat datang.” senyumnya pada mereka yang datang melewati
pintu utama hotel, seolah ia benar-benar seorang porter yang juga bertugas sebagai greeter.
Ketika ia mengarahkan seorang tamu
menuju meja reservasi, Junhui menangkap kedatangan Yukseon yang baru saja
keluar dari lift dan berjalan menuju
pintu utama hotel.
Selesai dengan tugasnya, Junhui
kembali berdiri di tempatnya semula dan menyambut semua tamu yang datang dan
pergi.
“Selamat malam.” termasuk pada
Yukseon yang melewatinya.
Yukseon terlihat seperti pria tua
yang berjalan-jalan keluar hotel untuk mencari udara segar. Kemudian ia mendengar
Haera berucap.
“Pergilah ke coffee shop, belilah kopi untukmu, Yukseon-nim.” perintah Haera.
Yukseon melangkahkan kakinya,
mengantarnya ke sebuah kafe yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Target menuju kafe.” lapor Junhui
sambil mendorong troley-nya yang
penuh dengan koper.
“Copy.”
jawab Jeonghan, lalu mulai men-steaming susu
dingin di tangannya.
Tak lama kemudian, ia melihat
Yukseon memasuki kafe tempatnya ―berpura-pura― bekerja. Seorang waitress menyambutnya, lalu Yukseon
berjalan menuju kasir.
“Bisa saya bantu?” tanya wanita yang
berdiri di balik kasir itu.
Jeonghan pun selesai dengan kopinya,
“Mr. Walker.” panggilnya pada si pemesan kopinya.
Begitu beralih, Jeonghan mendapati
teman kasirnya itu berkata padanya, “Satu cafe
au lait, Yukseon-nim.” ia memberikan struk untuknya.
“Baik,” jawab Jeonghan ramah, lalu
wanita itu kembali pada kasirnya yang sudah diantre banyak orang.
Sambil men-steamming susu dinginnya lagi, Jeonghan memperhatikan gerak-gerik
Yukseon. Pria itu terlihat duduk tenang di salah satu kursi sambil membaca
koran yang diambilnya di pojokkan sana.
“Tidak kelihatan mencurigakan atau
akunya saja yang,”.
“Heh, anak baru! Foam-nya tumpah!” seru seorang barista
senior.
Jeonghan kaget melihat steamed milk-nya sudah kelewat panas dan
foam yang dibuatnya pun sudah
kelebihan batas.
“Joesonghamnida,
joesonghamnida.” bungkuknya berulangkali. Ketika seniornya melengos,
Jeonghan menepuk kepalanya, “Pabo, pabo!”.
Lelaki itu pun menyelesaikan cafe au lait-nya.
“Yukseon-nim.” panggilnya pada si
pemilik kopi.
Dengan santai, Yukseon pun
menghampiri kopinya dengan koran di tangan. Pria tua berjaket kulit itu pun
menjemput kopi tersebut dan beranjak pergi ketika Jeonghan berkata dengan
lembut padanya.
“Gamsa
hamnida.” senyum Jeonghan. “Target meninggalkan kafe.” lapornya.
“Copy.”
jawab Wonwoo, lalu menggoes sepedanya.
“Berjalan-jalanlah di taman
sebentar,” kata Haera, “nanti akan saya beritau lagi ketika,”.
Gadis itu terkejut begitu Ilsung
merebut ponsel itu dari tangannya. Beliau tersenyum lembut padanya, “Pergilah,
Nak, temui dia.” katanya lembut.
“A,
Abeonim,” Haera terbengong.
Sementara itu, Sunyoung mendapati
Yukseon berjalan memasuki taman ketika ia sedang memotong beberapa rumput liar
yang berada di dekat gerbang masuk taman.
“Target memasuki taman.” lapor
Sunyoung.
Seokmin bersiaga, “Copy.” katanya sambil menyalakan mesin
penyemprot air untuk semua rumput di hadapannya.
Seperti yang dilaporkan Sunyoung,
Yukseon yang memasuki taman pun melewati Seokmin yang sedang sibuk dengan
rerumputannya.
[■ Rap Monster (ft. Mandy Vetrice) -
Fantastic]
“Jadi, kau dan Wonwoo Hyung hanya saling mengenal?” tanya
Mingyu, ia dan Solji berjalan-jalan seperti sepasang kekasih.
“Tak cuma mengenal, kami teman
sekelas waktu kelas satu dan kelas tiga SMA.” jelas Solji.
“Tapi kalau memang demikian, kenapa
aku tak pernah melihatmu, ya, Nuna. Padahal
kita cuma beda angkatan.”.
“Entahlah.” cengir Solji.
Senyum itu mereda, “Sungguh tak ada
apapun di antara kalian?” Mingyu bertanya lagi.
Solji mengernyitkan dahi, “Kenapa
kau bertanya lagi kalau sudah jelas?”.
Mingyu menggeleng, “Belum.” katanya,
“Aku melihatmu tidak senang dengan candaan kami di bis, sementara aku menangkap
Wonwoo Hyung yang mencuri pandang ke
arahmu. Apakah ada yang salah di antara kalian sebelumnya?”.
“Itu,” Solji tak bisa menjawabnya.
“Waeyo,
Nuna? Kau ragu menceritakannya padaku?” Mingyu menatapnya parau, “Kau
mengkhawatirkan sesuatu?”.
Mereka saling bertatapan.
“Target menuju bagian utama taman.”
tiba-tiba laporan Seokmin terdengar.
“Copy.”
jawab Solji, sekaligus mengisyaratkan pada Mingyu bahwa ia tak bisa menjawab
pertanyaannya.
“Ambil gambarku, Kim Min Gyu. Aku
janji akan menceritakan segalanya di waktu yang tepat.” Solji perlahan berjalan
menuju air mancur di belakangnya, di saat itulah Yukseon lewat.
Sesuai dengan kode yang Solji
katakan, Mingyu paham ―bertanda bahwa target mereka sudah berada sangat dekat
dengan keduanya.
“Siap, ya.” Mingyu mengarahkan
kamera polaroid-nya pada Solji.
“Klik.”.
Seperti yang telah direncanakan,
Solji pun kembali menghampiri Mingyu dan menggenggam tangannya kembali. Setelah
ini, Mingyu harus mengajaknya berjalan.
“Mau ke mana, nih, Nuna?” tanyanya.
“Ke mana saja asal bersamamu.”
senyum Solji ―benar-benar sandiwara yang tersusun rapi. Mereka berjalan jauh di
belakang Yukseon.
Dari jauh, Wonwoo memandangi mereka.
Nafasnya memburu seketika melihat Mingyu berbisik pada Solji dan mereka
tertawa, atau setiap kali Mingyu merangkul, menggandeng, ataupun memeluk tubuh
gadis itu.
Wonwoo menggeleng.
“Duduklah sejenak, Yukseon. Anakku
akan segera datang.” suara Ilsung yang terdengar dari headset-nya.
Yukseon pun sampai di sebuah
panggung besar yang biasa digunakan bila ada perayaan khusus yang menampilkan
penampilan musik, teater, dan semacamnya. Pria tua itu lalu duduk di bangku
penontonnya.
Mingyu dan Solji melihatnya. Mereka
pun berpura-pura melewati Yukseon dan berhenti di bibir panggung. Di sana
mereka saling mengambil gambar sambil memperhatikan gerak-gerik Yukseon.
Pria itu hanya menunggu.
Solji dan Mingyu mendapati Yukseon
beranjak dari tempatnya duduk setelah menenguk kopinya beberapa kali.
Berpura-pura sedang melihat hasil jepretan mereka, “Target meninggalkan
panggung.” Solji melapor.
“Copy.”
jawab Wonwoo.
Lelaki itu meneguk air mineralnya
sekali lagi, lalu memperbaiki handband yang
dikenakannya. Barulah saat itu, Yukseon muncul. Wonwoo baru akan menggoes
sepedanya, sebelum ia menemukan sosok yang Yukseon temui itu.
“Haera.” Wonwoo terbengong.
Gadis itu sedari tadi duduk di
bangku taman di sana, ia pun menyambut kedatangan Yukseon dengan bungkukkan dan
senyuman ramah. Mereka terlihat duduk bersama untuk waktu yang cukup lama.
“Target menemui seseorang.” lapor
Wonwoo.
“Benar,” Seungcheol juga melihatnya
dari teropong, lalu ia bergantian dengan Pak Kim.
Wonwoo membaca gerak bibir mereka.
Tak satupun kelihatan mencurigakan, bahkan dari bahasa bibir yang ditangkapnya
mereka sepertinya sedang membicarakan hal-hal sepele. Tapi sebagai ‘yang
diselundupkan’ Ilsung, Wonwoo tau apa yang harus dilakukannya.
“Aku tak menangkap sesuatu yang
mencurigakan dari ucapan mereka.” kata Wonwoo, “Maksudku secara gerak bibir
mereka seperti mengatakan berbagai hal yang umum.”.
Seungcheol dan Pak Kim berpandangan.
“Terus pantau.” suruh Pak Kim,
sementara Seungcheol kembali berkutat dengan teropongnya.
“Gadis itu memberikan sesuatu.”
terdengar Seungcheol bersuara.
Pak Kim merebut teropong itu dan
menyaksikan hal yang Seungcheol katakan. “Kotak apa itu, Wonwoo?” tanyanya.
“Aku, aku tak yakin,” kata Wonwoo,
“itu hanya kotak makan biasa. Kotak untuk kue beras.”.
“Seolma.”
desis Pak Kim, “Tunggu, apa dia membukanya?”.
Mereka semua sama-sama
memperhatikan. Namun Yukseon bangkit setelah menerima kotak itu dan membungkuk
pamit pada Haera. Lalu pergi begitu saja.
“Tidak dibuka.” ucap Jihun.
Melihat Haera meninggalkan tempatnya
duduk, Wonwoo pun bersiaga, “Aku akan mengikuti gadis itu.” lapornya, ia
menunggu saat yang tepat untuk mengejarnya.
Mingyu menikmati saat-saat berharga
ini, saat di mana ia bisa menggenggam tangan lembut Solji tanpa satupun yang
protes ―bahkan ini tugasnya pula.
“Kalau ku perhatikan, kau manis
juga.” Solji memandangi Mingyu lekat-lekat.
Mingyu mencubit pelan pipi itu, “Kau
juga, Nuna.” katanya, “Aku sudah
menyadarinya sejak lama.” senyumnya sendiri.
Solji terkesiap, “Ne?” ralatnya.
“Mingyu, Sally,” panggil Jihun,
“target ke arah kalian.”.
Mingyu bangun dari lamunannya, “Copy.” jawabnya. “Kau dengar itu, Nuna? Yuk kita jalan-jalan.” senyumnya
lagi.
Mereka berjalan saling beriringan,
Solji menggenggam erat lengan Mingyu sementara tangan Mingyu yang satunya
bergelayut di pinggang Solji. Mereka melihat Yukseon berjalan menuju kamar
mandi laki-laki yang pintu keluarnya terhubung langsung dengan kolam renang.
“Kau di sini saja, Nuna. Aku mau ke kamar mandi.” dalih
Mingyu.
Solji pun mengerti, “Jangan
lama-lama.” senyumnya.
Mingyu pun bergegas mengikuti
Yukseon memasuki bangunan sedang yang berfungsi sebagai kamar mandi, toilet,
dan ruang ganti baju untuk laki-laki tersebut. Kamar mandi ini memiliki dua
pintu masuk sekaligus pintu keluar yang menghubungkan taman dengan kolam renang.
Di matanya, Yukseon sekadar berjalan
melewati kamar mandi ini hanya untuk mencapai kolam renang tersebut. Namun
Mingyu tak menyerah, di antara semua orang yang berlalu lalang, matanya masih
mengincar ke mana Yukseon pergi.
[► Kim Jae Joong – Just Another Girl]
Sementara itu, Wonwoo menggoes
sepedanya mengejar gadis yang tadi Yukseon temui itu ―Haera. Dengan cermat
gadis itu menyusup ke antara pepohonan. Di sana gelap, Wonwoo kesulitan
mencarinya, sementara Haera sebenarnya bersembunyi di balik pohon dan
menunggunya pergi.
Wonwoo menghentikan laju sepedanya,
Haera berhasil menyesatkannya di dalam barisan pepohonan ini. “Sial!”
gerutunya.
Melihat Wonwoo kebingungan, Haera
lantas berlari dari persembunyiannya secepat mungkin. Ilsung memang melarang
Haera untuk melakukan kontak fisik apapun dengan Wonwoo, ia hanya boleh sekadar
melihat sosok lelaki yang dirindukannya itu dari jauh lalu pergi begitu saja
seperti tidak pernah mengenalnya.
Namun Haera terkejut ketika
tiba-tiba, “Kiiitt!!” Wonwoo dan sepedanya berhenti tepat di hadapannya.
Haera bergerak mundur dengan tergesa
sebelum akhirnya Wonwoo berhasil menangkap tubuhnya dan memojokkannya pada
batang pohon.
“Di mana Ilsung?!!” mengerikan
melihat Wonwoo menggeram padanya seperti itu, “Katakan, apa yang kau lakukan di
sini, Shin Hae Ra!!!” bentaknya.
Haera tak mampu berkata dalam
batinnya yang terguncang. Hampir menangis, Haera menunduk.
Geram, Wonwoo menarik dagu itu
kasar, “Apa kau tuli?!! Katakan, di mana Ilsung?!!” bentaknya.
Namun ia melihat mata yang
menatapnya itu berkaca-kaca, “Wonwoo-ssi,” panggil Haera lirih, “aku hanya
ingin menemuimu, Wonwoo-ssi.”.
Nafasnya memburu, “Percuma.” ia
lepaskan cengekeramannya dari wajah manis Haera.
Sementara itu dari jauh, “Wonwoo?” Solji
mendapati Wonwoo menemui seorang gadis di sana.
“Apa yang ia lakukan,” Solji
menerka-nerka. Ia lebih terkejut ketika gadis itu memeluk Wonwoo. Awalnya ia
terdiam, namun Wonwoo membalas pelukan itu kemudian.
Solji membekap mulutnya. Terasa ada
yang mendidih di dalam tubuhnya. Seketika ia berbalik dan berpaling dari
pemandangan mengerikan itu.
“Tidak, tidak akan.” ia menegur
dirinya sendiri yang mulai meluncurkan setetes air mata yang jatuh di pipinya.
Sekali lagi Solji menarik nafas dalam-dalam dan menelan semua rasa pahit yang
diterimanya.
[■ Kim Jae Joong – Just Another Girl]
***
“Klek.” Seri berhasil memasuki kamar
itu, ia meninggalkan troley-nya di
depan pintu masuk.
Dalam situasi seperti ini, Seri pun
menggeledah kamar yang ditempati Cha Yuk Seon itu dengan hati-hati.
“Isanghae,”
gumamnya, “ia hanya membawa satu stel baju dan tas selempang kecil. Tidak
lebih.”.
Seri pun melanjutkkan
penggeledahannya dan tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Meski begitu ia
masih penasaran atas tujuan apa Yukseon datang ke sini, mereservasi kamar, dan
melakukan perjalanan kalau ia sendiri saja bahkan tidak membawa apa-apa.
Jangankan koper, Seri bahkan tidak
menemukan bekal perjalanan penting lainnya di dalam lemari Yukseon. Inilah yang
mencurigakan.
Tak ingin membuang waktu, Seri pun
merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah alat penyadap suara. Gadis itu pun
segera memasangnya di tempat yang tersembunyi.
Sementara Yukseon masih berjalan
melewati kamar mandi itu, tanpa sadar bahwa Mingyu masih mengikutinya.
“Hati-hati, Yukseon. Sebelum
melewati loker, lepaskan headset-mu
karena kami telah memasang penguat gelombang elektromagnetik di sana. Telingamu
bisa rusak nanti.” ingat Ilsung.
Tanpa ragu, Yukseon pun melepas headset-nya. Ia menggulung kabel putih
itu dan menyimpannya di saku jaket kulitnya. Apakah pria tua ini benar-benar
hendak menuju kolam renang? Itu yang Mingyu pikirkan.
Yukseon berhasil melewati loker itu
dengan selamat, namun Mingyu yang tidak tau apa-apa itupun mengikuti Yukseon
dan ketika ia melewati loker tersebut,
“Ngiiiing~~...!!”.
Alat yang Ilsung pasang di dalam
loker tersebut seketika merusak handsfree
yang Mingyu kenakan saat ini. Tak hanya itu, Mingyu juga merasakan ngilu
luar biasa di telinganya.
“Akhh!!” rintihnya keras, ia jatuh
terduduk dan berusaha melepas benda di telinganya itu dengan tergesa.
Tak hanya Mingyu, tapi hal yang sama
dialami pula oleh para anggota X Team lainnya.
“Astaga!!” jerit Seri, ia langsung
terjatuh di atas lantai.
“Aish!!”
Sunyoung langsung melempar benda itu dari telinganya.
Begitu pula yang Seokmin rasakan,
“Keparat!” geramnya melempar handsfree-nya
yang telah melukai telinganya.
“Aww!!” rintih Seungcheol, ia, Pak
Kim juga Jihun bahkan turut kena imbasnya.
“Omo!”
Jeonghan terloncat begitu merasakan handsfree
itu serasa mencubit telinganya. Seketika para senior memperhatikannya.
“Ada apa denganmu, anak baru?” tanya
salah seorang di antaranya, namun Jeonghan hanya tersenyum seakan tak terjadi
apa-apa.
Ketika mereka semua pergi, Jeonghan
berusaha mengenakan handsfree-nya
lagi, namun sekarang benda itu sudah tidak berfungsi.
Hal yang sama pun dirasakan Junhui.
“Sialan!!” ia banting benda itu, untung saja ia hanya seorang diri di koridor.
Paling tidak gerak-geriknya ini hanya terekam CCTV.
“Ouch!!”
pekik Solji, tangannya segera mencabut benda itu dari telinganya, “What the f..., arrgghh!!” gerutunya
sendiri, jengkelnya menjadi-jadi.
“Akh!” rintih Wonwoo, seketika
melepas Haera dari pelukannya begitu saja. Ia memandangi handsfree-nya dan Haera bergantian.
Mata sabit itu menohok ulu hatinya.
“Sebenarnya apa yang Ilsung
rencanakan?!!” ia geram pada gadis itu.
“Sepertinya salah satu temanmu
melewati penguat gelombang elektromagnetik yang kami pasang di kamar mandi.”
jelas Haera ringan.
“Penguat gelombang elektromagnetik?”
Seungcheol mengulangi perkataan Jihun.
“Benar,” kali ini Seungcheol beralih
pada Pak Kim, “pelaku sengaja memasang alat ini untuk merusak alat komunikasi
yang kita pakai. Mungkin salah satu dari anggota X Team ada yang tak sengaja
melewati benda ini. Tak hanya handsfree-nya
saja yang mengalami kerusakan dan merusak telinganya, tapi kerusakan ini juga
akan merambat ke pemakai handsfree yang
lainnya yang tersambung ―tergantung dari radiusnya.” jelas beliau, “Jadi
sekarang, kita tidak bisa tersambung dengan yang lainnya.”.
Seungcheol kembali memasang benda
itu pada telinganya, dan benar saja ―alat itu sudah tidak berfungsi lagi.
***
to be continued
***
next...
“Jeonghan-ah?” jawabnya segera, “Kau di mana?”.
“Astaga, telingamu berdarah!” serunya.
“Mereka seperti tikus yang tergoda akan wanginya keju di perangkap yang
ku pasang!”.
“Aku yakin, Cha Yuk Seon hanyalah umpan untuk kita.” selidik Jeonghan,
“Sebenarnya, ada yang ingin ia tunjukkan pada kita! Sebenarnya, Yukseon
mengantar kita pada sesuatu!” tambahnya, masih saja mondar-mandir di ruang
tengah.
“Call!” Sunyoung menjentikan jari.
“Dan bukankah kau mengejar gadis yang ditemui Cha Yuk Seon, Wonwoo-ya?”
selidik Seungcheol.
Solji mendelik ke arah Wonwoo.
“Yang kau maksud itu,” mereka saling bertatapan, “Wonwoo Hyung,
kan...?”.
Dengan tangannya yang ditelungkupkan, Solji mengambil air danau lalu,
“Byur!” menyiramnya ke arah Mingyu.
Selama beberapa menit ke depan, mereka berdua terlihat asyik
bermain-main air danau. Dan itu
makin membuat Wonwoo geram.
“Lihat, betapa menyenangkannya!” Jihun tersenyum, namun senyumannya
mereda begitu melihat
tatapan mata Wonwoo menajam.
Sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka, kini Jihun yakin.
Solji merasa Mingyu sudah berhenti menyiraminya. Namun ketika Solji
sedang membasuh wajahnya yang basah, ia merasakan seseorang menarik tubuhnya
lembut, merangkul pinggangnya, dan ia merasakan bibirnya berubah menjadi sangat
hangat.
Dipaksanya kedua mata itu terbuka, dan Solji terkejut.
“Plak.” entah apa yang membuat Solji menampar Mingyu.
Mereka bertatapan, “Lancang.” desis Solji.
“Nuna, mianhada!” serunya, “Sungguh itu terjadi begitu saja!”.
“Terjadi begitu saja? Did you mean accident?!” sinis Solji.
Dan yang membuat mereka terkejut adalah kehadiran Wonwoo di depan pintu
masuk.
“Sepertinya kita harus bicara,” ucap Wonwoo setelah memberikan sebuah
bathdrobe pada Solji, lelaki itu memandang Mingyu tajam dan segera menariknya
pergi dari sana.
Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo pada pagar balkon lalu
berbalas memukulnya. Impas keduanya.
“Buk!!” Wonwoo memukul wajahnya dengan keras, lalu mencengkeram Mingyu
lagi.
“Hentikan, ku bilang!!” jerit Solji.
“Solji-ya, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Seungcheol.
Pupil matanya bergetar, “Se, sebenarnya,” Solji gelagapan,
“sebenarnya,”.
***
next...
Aim
Part VI : Accident?
***
Adakah yang sudah lihat photo teaser-nya Joshua, The8, Wonwoo
dan Mingyu??? Near makin jatuh cintrong (?) sama The8!!^^ Yup, The8 itu bias, kalau Wonwoo itu ultimate bias. Hehehehe.
Oya, maaf juga ya, lagunya sering gak muncul di FF. Near juga sudah berulangkali coba, tapi kadang tetep gak muncul.
Sama satu lagi, yang ketinggalan FF Aim, Near kasih link nya langsung ke Fanfiction List, ya. Karena semuanya sudah ada di sana.
Oya, maaf juga ya, lagunya sering gak muncul di FF. Near juga sudah berulangkali coba, tapi kadang tetep gak muncul.
Sama satu lagi, yang ketinggalan FF Aim, Near kasih link nya langsung ke Fanfiction List, ya. Karena semuanya sudah ada di sana.
Akhir kata, Near sangat berterimakasih pada semua yang sudah membaca, komentar, yang kasih saran dan kritikan yang membangun buat tulisan
Near!^^
Ditunggu aja next-nya Aim ya, sepertinya akan
ada kejutan di sana^^
Gamsa hamnida.
Author
Near


