[FF] Aim part III
Aim
Part III :
Shin Hae Ra
Author :
Near
Genre :
Action, Romance, NC+19
Cast : Choi
Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts
: Kim Min Gyu, Shin Hae Ra (OC), Choi Han Sol/Vernon Choi, Choi Seung Cheol,
Han Na Yeon (OC), Wen Jun Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young,
Lee Seok Min
| Spoiler ver. |
***
A warning from
Author...
NC di sini
meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan
ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang
ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari
tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction
ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon
perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Jihun terkejut melihat seorang gadis
meletakkan sepiring roti lapis untuknya. Ketika mendongak, Jihun mengenalinya
―Seri.
“Sudah sarapan?” gadis itu sedang
mengunyah roti lapisnya sendiri.
Jihun tak bergeming, “Kau,”.
“Sarapan di pagi hari akan
meningkatkan konsentrasimu ketika bekerja, itu yang ku baca hari ini. Dari
tatapan matamu saja, kau kelihatan tidak fokus. Dari gerak-gerikmu aku tau kau
kekurangan energi.” oceh Seri lagi. “Semua yang datang hari ini sudah sarapan,
kecuali dirimu, Woozi-ya.”.
Jihun berkedip.
“Tunggu apa lagi? Dimakan sandwich-nya!” suruh Seri.
Terasa menggelitik di dadanya ketika
ia tau Seri memperhatikannya. Tapi Jihun masih sama saja, “Kapan kau akan
memanggilku ‘Jihun Oppa’?” godanya.
Jelas Seri tersinggung. Ia memang
tidak pernah memanggil nama aslinya ―Jihun― ia lebih suka memanggil code name-nya ―Woozi― sehingga ia tidak
perlu menuakan cowok pendek itu.
Seketika Seri merebut roti lapis
itu, Jihun segera menahannya dan berkata, “Aku lapar, aku lapar!” ralatnya,
membujuk rayu Seri supaya tidak jadi marah, “Aku akan makan rotinya. Sungguh.”
cengirnya.
Meski masih tersinggung, Seri pun
membiarkan Jihun merebut sandwich itu
dari tangannya.
***
“Namanya Jung Il Sung, diduga kuat
sebagai mata-mata untuk Korea Utara. Buronan selama empat belas tahun dan
keberadaanya sangat sulit dilacak.” ucap
Pak Kim pagi ini.
Di dalam ruang rapat ini hadir semua
anggota X Team, kecuali Jeonghan ―yang masih absen.
“Selama persembunyiannya, Ilsung
kerap kali menyamarkan identitasnya, beberapa nama yang pernah digunakannya di
antaranya Kim Jeon Ho, Kevin Brown, Steve Lee, Ji Ryeo Sun, dan beberapa
identitas lainnya. Diketahui Ilsung tidak bekerja sendirian, ia bekerja bersama
beberapa anak buah dan kaki tangannya ―yang bisa dibilang jumlahnya tidak
sedikit.”.
“Salah satu kaki tangannya yang
berhasil ditangkap adalah Park Shi Yeon.”.
Wonwoo mendelik.
“Park Shi Yeon berhasil di tangkap
dua tahun yang lalu, dan dihukum mati.” lanjut Pak Kim, “Kepolisian berhasil
mendapat informasi bahwa dirinya bekerja untuk Jung Il Sung dan memberikan
informasi tentangnya, namun dengan cepat Ilsung menghilang kembali.”.
Diremasnya pulpen dalam genggamannya
itu, Wonwoo berusaha bersabar.
“Tapi bukankah Park Shi Yeon aslinya
hanya seorang pembunuh bayaran?” tebak Sunyoung.
“Benar, awalnya demikian. Namun
karena Shiyeon dan Ilsung saling mengenal, Ilsung pun memanfaatkannya.” jelas Pak
Kim.
“Bagaimana bisa Shiyeon tertangkap
waktu itu?” tanya Seri.
“Dia sempat menyusup ke dalam
pertahanan Korea Selatan dan membunuh beberapa penjaga serta orang-orang yang
telah memberinya keterangan dengan cara yang sadis.” tambah Jihun, “Ia yang
membuka jalan bagi hacker yang
bekerja di bawah naungan Ilsung untuk meretas dokumen-dokumen penting mengenai
pertahanan Korea Selatan.”.
“Ia membunuh sebagai upaya
menghilangkan jejak?” sahut Mingyu.
Wonwoo menarik ulur nafasnya.
“Jika memang hanya untuk
menghilangkan jejak, caranya itu kurang tepat. Justru hal tersebut yang
membuatnya ―secara tak langsung― dijebloskan ke penjara kemudian dihukum mati.”
tambah Solji.
“Ini adalah misi utama kalian. Tugas
kalian adalah mencari keberadaannya, melacaknya, menangkapnya, dan mengupas
kasus ini bersama kepolisian.” lanjut Pak Kim, dan beliau masih melanjutkan
rapat ini.
***
“Wonwoo Hyung, kau sudah makan?” Mingyu mengejutkan Wonwoo yang sedang
termenung itu, “Wae geurae, Hyung?
Kau ada masalah?” tanya Mingyu memastikan.
Wonwoo menggeleng. “Kau sendiri?
Sudah makan?” dalihnya.
“Selama rapat, kau diam saja, Hyung.” Mingyu tak bisa dialihkan, “Apa
ada yang mengganggu pikiranmu?”.
Senyum tipis itu terukir, “Hanya
kurang konsentrasi, perutku kosong.” dalihnya, “Ayolah, kau tidak lapar?”.
***
[► SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]
“Hap! Bruk!”.
“Perhatikan lawanmu, Lee Ji Hun! Kau
sungguh lemah!” tegur Han Na Yeon, seorang pelatih pertahanan diri khusus untuk
polisi, militer, dan salah satunya, X Team.
“Ahh, menyebalkan.” gerutu Jihun,
yang lalu bangkit lagi setelah dibanting Seri.
Nayeon memang seorang wanita, tapi
ia sangat tegas dan kuat. Keteguhannya membuatnya menguasai beberapa jenis bela
diri. Ketika memperhatikan semua anggota X Team, Nayeon menemukan Seungcheol
berdiri sendirian di sana.
“Oh, iya, Jeonghan absen, ya?” ingat
Nayeon.
Tatapan Seungcheol mengisyaratkan
sesuatu. “Nuna,” bisiknya pelan.
“Aish,
dasar anak―” baru Nayeon hendak memukul anak itu, ia pun menyetujuinya, “―eoh, eoh, Leader-nim.”.
Sejak Nayeon memulai pekerjaannya
sebagai pelatih di sini empat tahun yang lalu, Seungcheol sudah jatuh hati
padanya. Meski terpaut tiga tahun lebih tua darinya, Seungcheol tak pernah
merasa canggung ―apalagi dia lebih senior dua tahun daripada Nayeon.
Hari ini, karena ketidakhadiran
Jeonghan, X Team berjumlah sembilan orang. Jumlah ganjil yang membuat
Seungcheol tak memiliki pasangan untuk berlatih bela diri. Sementara itu sudah
ada empat pasangan lainnya yang sedang berlatih, merekalah Seri dan Jihun,
Junhui dan Sunyoung, Wonwoo dan Seokmin, serta Solji dan Mingyu.
Itulah mengapa, Seungcheol sangat
berharap Nayeon mau jadi pasangannya berlatih hari ini.
“Perhatikan langkahmu... Nah...”
Junhui mengingatkan.
“Ah, begini... Hap.” Sunyoung dan
Junhui saling bekerja sama dan mengingatkan. “Ayo ulangi sekali lagi.”.
“Fuhh, kali ini aku pasti bisa!
Harus! Ayo, Lee Ji Hun!”.
Seri memutar bola matanya enggan.
Melawan Jihun? Apa ada yang lebih mudah dari lelaki di hadapannya satu ini?
Jihun menyerang Seri, namun gadis
itu dengan sigap menangkis dan justru melawannya balik dengan sangat mudah.
“Bruk!” lagi, Seri membantingnya ke atas matras.
Untuk ukuran gadis mungil
sepertinya, Seri memang sangat kuat.
Sementara itu, “Oh! Hap!” Seokmin
berusaha menghindari setiap serangan Wonwoo, “Hoit!” sekarang ia berhasil
mengunci pergerakan lelaki di hadapannya ini.
Di saat itulah tak sengaja Wonwoo
menatap ke arah Mingyu dan Solji.
Mereka terlihat seperti sedang
berkelahi serius, karena rupanya kemampuan mereka sama bagusnya. Cara mereka
menyerang, bertahan, menangkis, keduanya sudah satu level. Rasanya seperti melihat sebuah pertarungan.
Pukulan Solji meleset, Mingyu
berhasil merebut tangannya. Ia lalu menarik dan hampir saja menjatuhkannya.
“Akk!” Solji terpekik kecil ketika
Mingyu hendak menjatuhkannya ke atas matras.
Tapi hei, tidak terasa apa-apa.
Ketika Solji membuka mata, rupanya Mingyu sedang menahan gravitasi yang menarik
tubuh langsingnya. Mingyu tidak ingin menjatuhkannya ―hanya saja hampir.
Ditatapnya gadis yang berada di bawahnya itu.
“Tenang saja, Nuna. Aku tidak akan membantingmu.” cengir Mingyu, sedikit
mengerjai Solji dengan ulahnya.
Solji tertawa, “Ah, ku pikir beneran.”
katanya, “Sekarang ayo bangunkan aku!”.
Mingyu pun membantu Solji bangkit
dari cengkeramannya. Ada perasaan aneh ketika Wonwoo melihat itu. Namun rasa
sakit yang mencubit tangannya itu membangunkannya.
Ia baru ingat kalau ia sedang
berlatih bersama Seokmin. Terbawa perasaannya itu, Wonwoo segera berbalik
menyerang dengan agresif dan membanting Seokmin saat itu juga. Hal ini cukup
menarik perhatian yang lainnya.
“Wow, bukan main!” hanya itu yang
Seokmin katakan, namun Wonwoo meninggalkannya tanpa peduli. “Ish, manusia macam
apa, sih, dia?” gumam Seokmin kemudian.
Setelah saling memberi hormat, kini
Nayeon dan Seungcheol bersiap untuk menyerang. Mereka memulainya dengan baik
dengan saling serang. Namun hari ini Seungcheol cukup berbeda, Nayeon terkejut
mendapatinya cukup lihai menghindar dari setiap serangannya.
Bahkan Seungcheol dapat menguncinya
dengan mudah tanpa hambatan, Nayeon gengsi. Ia berusaha melawan karena tak
ingin kalah dari anak muridnya yang tengil itu. Namun hari ini Nayeon harus
menerima kekalahannya karena Seungcheol menyerangnya bertubi-tubi.
“Huk,” Nayeon tercekat ketika
Seungcheol hampir menyerangnya ketika ia sudah tak berdaya lagi. Kepalan itu
hanya sampai di depan matanya. Skak mat, Seungcheol telah mengalahkannya.
Nayeon memandangnya nanar.
“Bagaimana aku hari ini,” Seungcheol
tersenyum menggoda, “Pelatih Han...?”.
Wanita itu hanya bisa menelan
kekalahannya.
[■ SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]
***
Karena tugas menumpuk hari ini,
Wonwoo dan anggota X Team lainnya baru bisa pulang ketika malam hari. Segera
Wonwoo menumpangi bis yang akan mengantarkannya ke rumah sewanya.
Bisnya sepi tentu saja, selarut ini
tak banyak orang yang berkeliaran di luar. Wonwoo duduk di kursi paling
belakang, berjarak satu kursi di sampingnya ada seorang pemuda tertidur. Topi
yang ia pakai menutupi matanya, sementara high
neck dari turtle yang
dikenakannya menutup seperempat wajahnya.
“Belum ada kabar?” sahut pemuda itu.
Wonwoo merasa pemuda itu berbicara
padanya. Pemuda itu kemudian mengangguk padanya sebagai pertanda.
“Kenapa kau datang begitu mendesak.”
komplain Wonwoo, berat, dingin, dan tajam.
Pemuda itu terkekeh, “Cepatlah,”
gerutunya.
Wonwoo segera mengeluarkan sebuah
map dari tas selempangnya dan memberikannya pada pemuda tersebut. Dengan segera
map itu disimpannya di balik jaketnya.
“Hanya itu saja?”.
Diliriknya jengkel pemuda di
sampingnya, “Apa maumu?” sinis Wonwoo.
“Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin
mengirim salam padanya.” cengir pemuda itu.
Wonwoo mendengus, “Lebih baik kalian
pulangkan saja gadis menyedihkan itu ke panti asuhan tempatnya dibesarkan.” ia
berpaling dari pemuda di sampingnya.
Pemuda itu tertawa, “Lucu sekali,
Tn. Muda Park.” katanya, “Haera adalah investasi kami. Karena ia satu-satunya
gadis di antara kami, dia akan sangat mudah dijadikan umpan bagi
‘mereka-mereka’ di luar sana, mencuri informasi, lalu,”.
Wonwoo terbelalak, lalu dengan
segera menarik kerah pemuda itu dan menatapnya sinis, “Kalian menyuruhnya
bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya.
Namun pemuda itu tak takut sama
sekali, justru ia terkekeh, “Wae geurae?
Kalau memang ia harus melakukan itu kelak?”.
Setidaknya kalimat itu bermakna
baginya ―gadis itu masih bersih. Wonwoo melepaskan cengkeramannya. “Persetan
kalian.” geramnya.
“Lihat, ternyata anaknya Shiyeon
masih mengharapkan gadis yang tidak jelas asal-usulnya itu.” terkekeh pemuda
itu lagi. “Temui saja Ketua jika kau ingin mengetahui keberadaan Haera.”.
Pemuda itu lantas bangkit ketika bis
hendak berhenti di sebuah halte. Wonwoo melihatnya turun dan berdiri di halte
itu lewat jendela di sampingnya. Sebelum bisnya pergi, pemuda itu memberinya
sedikit salam perpisahan.
***
“Kau kelihatan bad mood tiap kali pulang kerja, Nuna?” selidik Hansol menyambut kepulangan sang Kakak, “Ada masalah?”.
Solji menuang air dingin ke dalam
gelasnya, “Aku bertemu Wonwoo lagi.” ujarnya sebelum meneguknya.
“Huh?! Si brandalan itu lagi?!”
geger Hansol, berbaring di atas sofa sambil mengunyah kuki yang Solji bawakan
sebagai camilan, “Bagaimana bisa laki-laki kurang ajar itu berani menampakkan
wajahnya lagi di depanmu.”.
“Dia anggota X Team sekarang.”.
“Uhuk! Uhuk!!” Hansol tersedak, ia
batuk hebat, Solji heran, “Dia?! X Team?! Oh
damn.” gerutunya. “Kau pasti membencinya.”.
“Tak masalah selama tak ada satupun
dari anggota X Team yang mengetahui kami sempat dekat dulu.”.
“Termasuk Seungcheol Hyung?”.
“Oppa
baru tau dua hari yang lalu.”.
“Heol.”
desis Hansol, “Atas dasar apa ia bisa bertemu Kakakku lagi? Awas saja kalau ia
menyakitimu seperti waktu itu ―aku takkan melepaskannya.”.
“Just
stop it, Vernon. Lagian ini urusan kami berdua.”.
“Sally,
you are my Nuna. As your brother I have to protect you!” bela Hansol,
“Katakan padaku kalau ia melakukan sesuatu padamu.”.
“Kau tau kami telah melakukan sesuatu
sebelumnya, kan?”.
“Kau yakin saekki itu hanya melakukannya denganmu?” Hansol melipat tangannya,
“Aku bahkan berani taruhan kalau tak hanya dirimu seorang di matanya.”.
Solji mendelik, Hansol
mengisyaratkannya.
”Am
I right?” Hansol meminta persetujuan, Solji mendengus jengkel.
“Lupakan.”.
***
Gadis manis berambut kemerahan yang
panjangnya sepinggang itu menatapnya ketika ia pertama kali datang. Ia lalu
bangkit dari ayunannya dan tersenyum padanya.
“Tn. Muda Park,” sapanya.
“Kenapa semua memanggilku seperti
itu? Namaku Wonwoo.” protesnya, Wonwoo.
Gadis itu tersenyum. “Shin Hae Ra imnida. Bangapseumnida.” ia
membungkuk hormat.
Wonwoo menatapnya lekat-lekat, “Kau
anaknya Ilsung?” tebaknya.
Haera ―gadis itu― menggeleng, “Aku
hampir sama sepertimu, Wonwoo-ssi.” senyumnya, “Hanya saja sejak bayi aku
dibesarkan di panti asuhan, jadi aku sama sekali tidak mengenal siapa Ayah
Ibuku.”.
Tak bergeming.
“Berapa usiamu?” tanya Wonwoo.
”Sembilan belas.” jawab Haera.
“Miris.” Wonwoo tersenyum sinis,
“Kau masih muda tapi sudah diperbudak Ilsung.”.
“Ketua Jung tidak memperbudak
siapapun! Kami berjiwa patriotisme!”.
“Kau salah satu yang telah dicuci
otaknya.”.
“Kami melakukan ini atas kesadaran
kami sepenuhnya! Bukan karena diperintah!” bela Haera, “Ngomong-ngomong, apa
aku harus memanggilmu Sunbae?”.
“Kau tau harus memanggilku apa,”
Wonwoo berbalik dan meninggalkannya, “dasar gadis polos.”.
“Wonwoo Oppa,” panggil Haera tanpa ragu, “tto mana-bopshida.”.
“Gak peduli.” ketus Wonwoo tanpa
sedikitpun menghentikan langkahnya.
Haera hanya tersenyum. Entah kenapa
sosok Wonwoo itu sangat berkesan di kali pertama ia bertemu dengannya. “Aku
menyukainya.” gumam Haera, kegirangan sendiri.
***
“Shin
Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.” ucapan pemuda itu
terngiang terus di telinganya.
Berkali-kali merubah posisi
tidurnya, tetap saja Wonwoo kesulitan tidur malam ini. Kali ini ia teringat
akan salah satu gadis yang telah dilupakannya itu.
Haera.
***
“Shin Hae Ra!!!”.
Semua anak buah yang Ilsung kerahkan
telah memutuskan untuk mundur, segerombolan polisi segera menyergap mereka.
Meski sempat melawan, para polisi ini berhasil menangkap beberapa di antara
mereka.
Wonwoo ditarik Ilsung dari tempatnya
ketika melihat Haera tergeletak tak sadarkan diri di tengah ricuhnya
penyergapan ini. Ia berkali-kali menolak Ilsung karena tak ingin meninggalkan
gadis lugu itu di sana.
“Mundur kataku! Mundur!!!” gertak
Ilsung.
Namun Wonwoo berhasil melepaskan
diri, ia berlari ke arah gadis itu susah payah dan berhasil menggapai tubuhnya
yang terkapar.
“Haera-ssi! Shin Hae Ra!!!”.
Gadis itu tak mendengarnya. Tanpa
buang waktu, Wonwoo segera mengangkat tubuhnya dan membawanya menjauh dari
tempat itu sebelum terlambat.
Dengan sebuah van, mereka yang berhasil
diselamatkan segera melarikan diri dari lokasi penyergapan. Tubuh Haera masih
dalam pangkuan Wonwoo, tak bergerak dan tak bergeming.
“Haera-ya,” panggil Wonwoo, “kau
bodoh. Kenapa kau harus menuruti kemauan Ilsung? Kau sungguh bodoh telah
memilih jalan cepat menuju ajalmu.”.
Disekanya noda merah di dahi Haera.
“Pulanglah, dan jangan kembali ke
sini. Berada di dekat Ilsung akan membuatmu menderita.” bisik Wonwoo,
“Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.
***
Wonwoo bangkit dari perbaringannya. Merenung
di tengah gelapnya kamar tidurnya. Sekali lagi ia menghembuskan nafas untuk
melepas semua kenangan yang menjepit pikirannya.
Satu gadis lagi muncul di benaknya.
***
“Kau baik-baik saja?”.
Haera mengangguk pada Wonwoo,
“Melihatmu membuatku merasa lebih baik.” katanya, “Terima kasih telah
menjengukku.” senyumnya.
“Ilsung atau yang lainnya
memberikanmu buah?” Wonwoo memandang ke atas meja.
“Itu dari rumah sakit, kaulah yang
pertama menjengukku.” senyum Haera.
Wonwoo terkejut. Bahkan hingga Haera
hampir pulih tak satupun dari Ilsung maupun kaki tangannya yang datang menjenguk
gadis malang ini?!
“Manusia-manusia tidak tau diri.”
geram Wonwoo.
“Odiga,
Wonwoo-ssi?” tanya Haera ketika melihat lelaki itu bergegas memakai
jaketnya dan berjalan menuju pintu.
“Ada janji ―dengan teman.” dalih
Wonwoo.
Haera tersenyum, “Pasti teman
baikmu,” lembutnya, “semoga janjianmu menyenangkan,”.
“Jangan harap aku akan membalas
perasaanmu, Haera-ssi.” Wonwoo
melirik ke belakang, “Kau cuma mendapat simpatiku saja ―tidak lebih.”.
Namun Haera tetap tersenyum. Rupanya
diam-diam Wonwoo tau kalau gadis itu menyukainya. Kali ini Haera mengerti
mengapa Wonwoo tetap berbaik hati padanya meski dengan caranya yang dingin. Itu
hanya karena simpati semata.
“Blam.” Haera membiarkan lelaki itu
pergi.
Dengan tenang, Wonwoo meninggalkan
gadis itu sendirian di ruang rawatnya. Ia pun bertemu dengan seseorang yang
telah ia janjikan sebelumnya.
Seorang gadis masih berdiri
menunggunya di sana. Gadis berambut kecoklatan yang dikucir mengepal di atas
kepalanya itu sesekali memandangi jam tangannya. Gelisah.
“Oh!” gadis itu menemukan kehadiran
Wonwoo di sana, lalu melambaikan tangan.
“Maaf, kau menunggu sampai malam.”
ucap Wonwoo begitu berada di hadapan gadis itu.
“Malam dari mana? Matahari baru
terbenam, kok.” senyum gadis itu.
“Sama saja dengan malam hari,
Solji-ya.” Wonwoo menyunggingkan senyuman tipis.
Solji tersipu malu. “Sibuk kuliah?”.
Wonwoo menggeleng, “Sedang cuti.”
dalihnya.
“Kenapa cuti?”.
“Sepupuku di Changwon sakit keras,
aku harus ikut merawatnya.” jelas Wonwoo, “Maaf jadi membuatmu
mencari-cariku.”.
Solji menggeleng, “Gwaenchanha, aku harap sepupumu cepat
sembuh.”. Padahal yang Wonwoo maksud sebenarnya adalah Haera.
“Besok aku akan kembali ke kampus
―tenang saja.”.
“Bogopa
―ara.”.
Wonwoo terkesiap, “Arasseo.” ucapnya.
Lelaki itu lalu mendorong Solji
lembut ke belakang, tepat ke sebuah belokan kecil yang tidak terkena sinar
lampu penerang jalan. Di situlah Wonwoo melancarkan aksinya.
Dilumatnya bibir itu selama beberapa
menit sesuka hatinya. Solji pun membiarkannya menelusuri rongga mulutnya yang
terbuka selama yang ia inginkan. Wonwoo semakin ingin menelannya, meneguknya
sesekali, atau menggodanya dengan menggigitnya.
Solji menggeram, namun rangkulan
lembut itu membuatnya luluh dan melemas. Dicengkeramnya lengan itu, berusaha
memberinya alarm bahwa ia sudah tak
berdaya lagi. Wonwoo semakin menyukainya.
Justru sebagai lelaki, ia tak mau
mengalah.
***
“Huk!” Solji terbangun hebat dari
tidurnya malam ini. Sial, kenapa ia selalu memimpikan hal yang sama setiap
malamnya.
Semua kenangannya bersama Wonwoo
selalu saja menghantui tidurnya. Itulah mimpi-mimpinya semenjak lelaki itu
meninggalkanya tanpa sebab sekitar dua tahun yang lalu.
Solji bangun dari ranjangnya dan
bergegas keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Hansol dan berbaring di
atas kasur adiknya itu.
Merasa tempat tidurnya yang damai
itu tiba-tiba berguncang, Hansol terbangun. “Yo, Sally... What are you doing, huh...?” ia kedengaran ngantuk berat.
“Just...,
bad dream...” dalih Solji.
“Go
away, Nuna... Kan cuma mimpi buruk, kembalilah ke tempat tidurmu... Sempit
tau...” Hansol membungkus dirinya dengan selimut.
“Vernon,
please...” Solji menggerutu.
“You
better go back, Sal. I’m naked.” Hansol berusaha mengusir kakaknya.
Solji segera bangkit dan menarik
selimut itu untuk mengungkap keadaan adiknya tersebut. “Ta-dah, naked?” koreksi Solji ketika melihat sang Adik masih
berpakaian lengkap.
Dengan engggan, Hansol pun beranjak
pergi dari kasurnya, “Yeah, yeah, you got
it, Sally..” ia berjalan entah ke mana, “Sweet dream,”.
“Wait,”
Solji menahan kepergian Hansol, “odiga?
Please don’t leave me alone.”.
“What
do you thinking of, Sally?” Hansol mengucek-ngucek matanya, lalu membawa
selimut itu bersamanya, “Aku cuma mau tidur di sofa. Sudah, tidur sana.” ia
lalu berbaring di atas sofa yang tak jauh dari kasurnya itu.
Dengan cepat Hansol jatuh tertidur
di sana, sementara Solji butuh waktu lama untuk kembali terpejam di atas kasur
adiknya tersebut.
***
to be continued
***
[► SEVENTEEN – 표정관리 Fronting]
“♫!” tumben-tumbennya seseorang mengiriminya SMS.
Dahinya mengerut, Wonwoo mendapatkan pesan tak bertuan yang tidak jelas
siapa pengirimnya. "02.20.11.12" yang makin membuatnya heran isi pesannya
hanya berupa angka.
“Sebuah bom meledak di pusat perbelanjaan!!” tau-tau Jihun berseru dari
depan layar komputernya.
“Oya, kau tau apa ini?” Ilsung menunjukkan map coklat di tangannya, “Kau
tau dari mana map ini berasal, kan?”.
Haera menggeleng lagi.
“Wonwoo.”.
Seketika nampan yang Haera bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya.
Ia syok bukan main, berharap ia salah dengar.
“Jam sebelas lewat dua belas menit, 11.12. Hari ini Februari tanggal dua
puluh, 02.20.” Wonwoo paham sekarang, “Tak salah lagi,”.
“Apa ini yang namanya menyelam sambil minum air?” sahut Junhui ketika
mereka bergegas meninggalkan tempat duduk. “Menjalankan misi sambil sekalian
refreshing, jalan-jalan keluar kota? Ya, kan?”.
“I’ll be right back.” ucap Solji ketika meraih gagang pintu.
“Will you?” ucapan sang Adik membuat gerak Solji terhenti, “I mean, kau
benar-benar akan kembali, kan?”.
“Kalau bahasa kasarnya,” Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka,
aku hanya tak ingin kau mati, Nuna...”.
***
next...
Aim
Part IV : 내돈생이 My Little Bro
***
Penasaran kenapa Hansol begitu
mengkhawatirkan Nuna-nya? Next, ya, di Aim part IV~...^^
Oya, FF ini juga di-share di fanpage Myfanfictiion di Facebook!! Jangan lupa di-like, ya!!
Near selalu ngucapin terima kasih
bagi yang sudah membaca, terutama yang sudah komen, like, G+, maupun yang
ngasih saran dan kritikan yang membangun!^^ No siders ―I will pay your appreciation with daebak fanfictions.
Gamsa hamnida!^^
Author
Near



