[FF] Almost Black Day
Almost Black Day
Author :
Near
Genre : Sad Romance
Cast : OC,
Wonwoo
| Original Story |
![]() |
| Cover FF terinspirasi dari Tumblr hehehe |
***
[►VIXX - 지금 우린 Now We]
Aku berjalan
sendiri, membayangkan April nanti
aku akan makan mie hitam lagi seperti dua tahun yang lalu, di atas suka cita orang yang merayakan hari
esok. Gusar ku pendam sendiri, berdampak pada langkah kakiku yang berat.
Aku pulang dari tempatku kerja hampir tengah malam dan berjalan menuju rumah
sewaku yang agak jauh dari tempatku bekerja.
Langkahku
terhenti melihat layar televisi di sebuah rumah makan. Aku melihat sosoknya di
sana, senyumku terukir tanpa ku sadari. Namun angin yang berhembus
mengingatkanku bahwa sosok itu hanya digital. Ku kantongi tanganku di saku
jaket dan meneruskan perjalanan.
Sejak
pertama kami bertemu, sejak ia memutuskan menjadi apa yang dia inginkan, kami
sudah siap jika harus hidup terpisahkan. Namun ku rasa, sejak dua tahun yang
lalu hubungan ini telah berakhir.
Tap, tap,
tap.
Ketika aku
sampai di jalan perumahan yang sangat sepi, ku dengar langkah di belakangku.
Seorang pria ―hanya itu― wajahnya tak terlihat
karena hari terlalu gelap dan pria itu sangat jauh.
Aku
melangkah saja, namun lambat laun ku rasakan kehadirannya semakin mendekat.
Secara logis, semakin cepat langkahku maka langkahnya pun makin cepat.
Pikiranku menyempit karena penguntit itu, aku mulai setengah berlari. Makin
lama, langkahku semakin cepat hingga kau bisa menyebutnya lari terbirit-birit.
Adrenalinku
memuncak. “Pscyo!”gerutuku
dalam hati.
Pelarianku
asal hingga membawaku ke sebuah gang yang pintu gerbangnya telah ditutup. Aku
berbalik dan dia di sana ―tamatlah
aku, “Sial!”.
Merinding, kakiku gemetar
―cuma bisa melangkah mundur. Aku terantuk gerbang itu dan menyilangkan
tanganku melindungi wajah ―ngeri.
“Bodoh.” aku terkejut mendengar pria itu berdesis.
Hei, suara
yang tak asing ―tidak―
justru suara yang kurindukan! Ketika
ku buka mata, pria itu membuka kupluknya dan berdesis lagi.
“Kau ini bodoh atau gimana, sih?”.
Wonwoo! Jeon
Won Woo!
Aku membekap
mulutku ―benar itu dia!
“Kenapa kau
menghindariku seperti pembunuh, uh? Apa kau tidak lihat,”.
“Bruk!” tanpa peduli ocehannya, aku
segera berhambur memeluknya. Wonwoo terdiam, lalu mengusap kepalaku.
“Maaf,
maafkan aku. Aku tau apa yang kau pikirkan selama dua tahun ini. Aku tau apa yang ada dalam benakmu
selama aku mengacuhkanmu. Aku sadar telah mengacuhkanmu untuk waktu yang
terlalu lama.” dia
membisikan banyak hal padaku,
“Aku juga tidak tahan hidup tanpa mendengar suaramu, aku tak tahan hidup
tanpamu. Maka dari itu aku datang hari ini ―karena aku masih mencintaimu.
Percayalah itu.” namun bibirku kelu, aku tak bisa mengatakan apapun padanya.
“Benar,
sekarang kaulah yang bodoh, Jeon Won Woo.” batinku, aku hanya ingin
memeluknya ―itu sudah cukup.
“Aku tidak
punya waktu banyak,” ia melepaskan dekapannya, “jadi...,” Wonwoo segera memberiku sebuah kotak
biru maroon berpita kecil.
Aku mendelik ke arahnya, Wonwoo
hanya nyengir.
“Seperti biasa― aku tidak bisa
menjamin apakah kau menyukainya atau tidak.” ia menggaruk tengkuk. Wonwoo itu
tipe laki-laki yang tidak becus memilih hadiah untuk kekasihnya ―huft.
Lalu aku tersenyum, “Aku percaya aku
akan menyukainya” hiburku. Segera ku buka pemberiannya.
Kau tau
wafer cokelat ‘merah
putih’ itu? Benar,
Wonwoo memberikanku yang rasa green tea.
Yup, meski dia memang payah memilih hadiah, setidaknya Wonwoo tau aku maniak
teh hijau.
Hadiah itu ku tanggapi dengan
senyuman. Kudapan seperti itu memang tidak ada di sini, tidak ada di negara
manapun. Hanya ada di Jepang. Ku dengar, ia dan grupnya memang sempat terbang
ke Jepang untuk pembuatan album mereka. Tapi itu kan....,
Aku mendelik ke arahnya lagi.
Wonwoo terkesiap, “Uh, um... Ya, kau
benar.” dialah satu-satunya lelaki yang bisa membaca pikiranku, “Aku membelinya
ketika terbang ke Jepang untuk pertama kalinya, itu sekitar pertengahan tahun
lalu, ketika kami dalam proses menyelesaikan mini album kedua kami...”
cengirnya.
Sudah ku duga.
“Tapi tenang saja, cokelatnya ku
simpan di kulkas, kok. Tidak ada yang menyentuhnya sama sekali. Steril.” aku
Wonwoo, “Ketika melewati sebuah toko dan melihat camilan itu..., aku jadi ingat
dirimu... Aku..., jadi merindukanmu...”.
Mendengarnya, aku terharu. Wonwoo
menyeka setetes buliran bening yang jatuh di pipiku.
“Dan aku..., ingin memberikannya
padamu, terutama karena rasanya enak!” hiburnya, “Lagipula, teh hijau itu
kesukaanmu, kan?”.
“Dua bulan lagi, aku takkan
makan mie hitam lagi nanti,” itu yang kuucapkan padanya
terisak, dia malah tertawa.
“Aku harus
kembali sekarang,” aku mendongak padanya, namun ia langsung menggandeng
tanganku, “tapi sebelum itu, aku akan mengantarmu sampai rumah.”.
Malam
terbaikku, ketika tanggal empat belas baru saja dimulai.
Sampai rumah
aku benar-benar tak ingin melepaskannya. “Bruk!” lagi, kebiasaanku. Aku
memeluknya dan menabrak tubuhnya yang jauh lebih tinggi dariku.
Aku seperti anak kecil yang takut
ditinggal sendirian, aku memeluk Wonwoo seakan tidak mengizinkannya pergi
meninggalkanku. Wonwoo mengerti, ia memelukku, usapan tangannya menenangkanku.
Hangat.
Lama setelahnya, aku menyadari
tindakanku ini tidak baik untuknya. Jadi aku segera melepaskannya, dan
berhambur masuk ke dalam rumah. Wonwoo hanya bingung, dan menunggu.
Aku keluar dengan sebuah syal di
tangan, “Sebagai balasan,”
kataku, “aku ingin memberikan syal yang kurajut..., dua tahun yang lalu...”
aku menyebutkan kalimat
terakhir dengan ragu-ragu.
“Hadiahmu mengendap lebih lama
dibandingkan hadiahku.” candanya.
“Hei, tidak baik mengingat-ingat apa
yang telah kau berikan pada seseorang ―gak ikhlas namanya.” ketusku ―ini juga
candaan.
“Oh, iya lupa.”.
“Meski telah ku rajut dua tahun yang
lalu,” ku pandangi syal itu, “aku lega karena akhirnya aku bisa memberikan ini
padamu”.
Aku berjinjit karena memakaikan syal
tersebut di lehernya. Hadiah yang tepat di bulan Februari yang masih menyisakan
hawa dingin dan salju.
“Cup,” ia memberikanku kecupan
singkat, “Gomawo.” katanya.
“Bahkan aku tidak bilang terima
kasih ketika kau memberikan hadiah itu padaku.” sesalku.
“Syal inilah tanda terima kasihmu.”
senyumnya.
“Kalau begitu, terima kasih
kembali.” ku balas senyuman untuknya.
Wonwoo baru sadar kalau ia masih
menggenggam tanganku. “Sudah waktunya,” lirihnya, “aku harus pergi.” ucapnya
tak enak hati.
“Oh... Ya...” kataku.
Wonwoo mengacak-acak rambutku.
“Jangan makan manis-manis, hati-hati di dapur, jangan keasyikan main salju di
luar, jangan memaksakan diri, jangan keras kepala sekalipun pada chef-mu,”.
“Sepertinya aku mengingkari salah
satunya,” selaku, “tiga hari yang lalu aku berdebat dengan chef.”.
Kami hanya nyengir.
Lalu ia
melanjutkan, “obati luka bakar dan sayatan di lenganmu ―aku melihatnya tadi.”
tatapannya menerawang, “Kau tau, kan, aku tidak bisa selalu di sampingmu
sekarang.”.
Dia benar.
“Kau juga,” ia menatapku, “jangan
terlalu memaksakan diri, jangan keseringan makan tengah malam sekalipun berat
badanmu tidak akan bertambah signifikan, istirahat yang cukup, hati-hati makanan
yang mengandung tomat, jangan makan seafood,”.
“Sepertinya aku juga mengingkari
salah satunya,” sela Wonwoo, “akhir tahun lalu, kami berangkat ke sebuah pulau
tanpa diperbolehkan membawa bekal apapun, dan kami bertahan hidup dengan
memancing... Jadi..., aku makan..., ikan...”.
“Tok!” ku jitak kepalanya.
“Kenapa kau makan ikan?” sebalku.
“Habis, mau makan apa lagi?” ia
mengusap bekas jitakanku, “Tapi cuma segigit, kok.”.
Aku masih mendelik ke arahnya.
“Acara tv, ya ―nanti, deh, aku tonton.” kataku, lalu melanjutkan, “Aku tau
bagaimana sibuknya dirimu, jadi kau harus minum vitamin. Hati-hati sama sasaeng, dan juga,” ku kenakan kupluk
itu menutupi kepalanya, “identitas yang terpenting.”.
Kami saling bertatapan untuk waktu
yang cukup lama.
“Ku rasa aku pernah mendengar
kalimat terakhir.”.
“Kutipan dari The Incredible.”.
“Kau masih suka nonton film anak
kecil.” gemasnya, mengacak-acak rambutku lagi. “Tapi kau benar,” lalu ia
merapatkan jaketnya.
Kurasa, ia akan pergi, karena tak
lagi ku dengar kata-kata keluar dari bibir tipisnya, karena ku lihat tubuh
tinggi tegap itu berbalik memunggungiku. Dan sosoknya berjalan menjauh dariku.
Namun itu tak berlangsung lama,
karena kemudian Wonwoo berbalik dan bergegas kembali padaku. Aku terkejut,
lebih terkejut lagi karena ia kembali untuk mencium bibirku.
Kehangatan kini menyelimuti sekujur
tubuhku. Ia merangkul pinggangku seakan memintaku bertahan lebih lama, sebelum
akhirnya ia benar-benar akan menghilang.
Dan ku akui, itu sangat lama.
“Kita harus siap hidup
seperti ini,” itu ucapan pamitnya
padaku, Wonwoo akhirnya melepaskanku setelah beberapa menit berlalu.
Ia tak bisa menunggu bahkan hingga
aku berkata iya sekalipun. Wonwoo menaikan kupluknya kembali ―dan kali ini kami
benar-benar akan berpisah. Bahkan untuk berkata salam perpisahan pun aku tidak
bisa. Aku ingin menyampaikan betapa aku sangat merindukannya, aku ingin ia
mengetahuinya.
Aku berusaha
tidak menangis ketika ia melambaikan tangannya padaku. Aku mencoba terlihat
baik-baik saja, hingga akhirnya ia benar-benar pergi.
Ia
menghilang dari hadapanku, sosoknya tak lagi berada di pekarangan rumah sewaku
yang kecil ini, dalam sunyi tak ada yang tau bahwa ia telah menemuiku dan
melakukan suatu hal denganku.
Satu jam, untuk dua tahun yang
terlewati sia-sia. Hah, Valentine yang singkat ―air mataku jatuh.
[► Yoon Jong Shin - Chocolate (with
Seventeen Vocal Unit)]
***
Yup, bener banget! Dari keempat
kalinya Near ikutan Drama Queen di ‘Bahana Lagu Korea’ KBS World Radio Sesi
Bahasa Indonesia, pada Drama Queen kali inilah Near berhasil mendapatkan
apresiasi!!
Akhir Maret lalu, BOYS BE Near dari
KBS sampai di rumah!^^ Kyaaa senang sekali, apalagi Near dapat polaroid bias
Near sendiri, THE8!^^
Waktu itu, tema yang DJ berikan
untuk Drama Queen-nya adalah Valentine bersama idola, karena memang edisinya
saat itu bulan Februari. Berhubung sesuai janji Near kemarin kalau hadiah album
dari KBS-nya sudah sampai di rumah, Near baru akan posting Drama Queen-nya
―tapi ternyata hadiahnya datang di akhir Maret.
Makanya, Near kasih judul Drama
Queen ini jadi ‘Almost Black Day’ berhubung Drama Queen ini diposting di bulan
April, di mana pada tanggal yang sama dengan Valentine di bulan April adalah
Black Day (14 April).
Oke, Near sudah lunasi janji Near
yang lalu, juga telah berbagi kebahagiaan dengan Reader-deul semua!! Semoga
pada suka, ya, hehehe..
Komentar, kritik dan saran yang
membangun sangat diperlukan. Near
selalu menanti dengan tangan terbuka semua komentar kalian buat tulisan Near ^^
Oya, ada juga, lho, yang komentar
langsung di website resminya KBS World Radio tentang Drama Queen Near ini^^
Sekian dari Near kali ini, terima
kasih sudah membaca, komentar, like dan/atau G+ nya, dan sampai jumpa
lagi~...^^
Author
Near






