[FF] Catch Me part 2
Catch Me
“싫어요! (Shirhôyo!) I hate it!”
Author : RetnoNateRiver
Genre : Fantasy,
Romance
Main
Casts : -
SJ Yesung as Jeremy
- Moon Geun
Young as Moon Geun Young
- SJ Donghae
as Lee Dong Hae
Other
Cats : -
SJ Leeteuk as Moon Jung Su
***
“Ôdi ga? (Mau ke mana?)” tanya Jungsu ketika melihat Geunyoung
yang baru saja pulang dari kuliahnya lantas bersiap pergi lagi.
“Mau menemui Jeremy...” ujar Geunyoung
singkat sambil menyiapkan tasnya.
Jungsu menghampiri adiknya itu, “Kau
tau..., aku curiga padanya...” ujarnya, berterusterang.
“Mwo?”.
“Geuræ...” kata Jungsu, “Tingkah lakunya
itu..., kelihatan aneh...” jelasnya. “Berarti, kau akan pergi ke hutan? Lagi?”
tanyanya mengubah topik.
“Hu-uh...” Geunyoung mengangguk.
“Berhati-hatilah di sana... Kau tau pasti,
kan, kalau werewolf itu bisa muncul kapan saja...” ingat Jungsu, “Dan karena
ulah mereka..., buruan kami diembat duluan...”.
Mendengarnya, Geunyoung hanya tersenyum.
“Hampir seluruh laki-laki di desa ini senang berburu dengan senapan mereka,
ya?” ujarnya, “Ara, aku akan selalu mengingat nasehatmu, Oppa...” katanya,
“Galke... (Aku pergi...)”pamitnya.
Geunyoung kemudian beranjak meninggalkan
rumahnya dengan tas selempang dan keranjang kecil di tangannya.
“Ingat, pesanku, ya!” kata Jungsu begitu Geunyoung sudah melewati pekarangan
rumah mereka.
***
Berjalan-jalan di sekitar hutan, mungkin
bisa mempertemukannya dengan pemukiman tempat Jeremy tinggal. Namun lama
berjalan, ia tak menemukan apa-apa, bahkan hanya sekadar tanda-tanda keberadaan
pemukiman saja pun tidak.
Tapi Geunyoung tetap berjalan, ia mungkin
salah satu gadis yang gigih. Tapi malah lagi-lagi, suara semak belukar yang
bergesekan lah yang kembali ia temui.
“Srrk, srrk, srrk...” suara itu berasal
dari belakangnya.
Geunyoung terkesiap, dan ia menoleh ke
belakang. Namun tetap, ia tak mendapati apa-apa. Mendapati hal itu, ia tak
ambil pusing. Geunyoung kembali berjalan.
Tapi tak lama, terdengar suara yang sama
dari arah yang sama, “Srrk, srrk, srrk...”.
Geunyoung refleks, “Nuguseyo?!” ujarnya sembari
menoleh ke belakang. Ia tetap tak memiliki rasa takut sama sekali.
Setelah menyimak ke belakang beberapa lama,
Geunyoung juga tak menemukan apa-apa. Kemudian ia kembali berjalan dan fokus ke
depan.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika
mendapati seorang Jeremy tiba-tiba sudah berada sejengkal di depannya.
Jeremy segera mendekap mulut Geunyoung
sebelum sempat yeoja itu berteriak kaget. Namja itu segera mengacungkan jari
telunjuknya di depan bibirnya.
“Sssh, ssh, ssh...” bisiknya, “Jangan kaget
dan berteriak, ya...”.
Geunyoung kemudian melepaskan dekapan
tangan Jeremy dari mulutnya. “Muncul di depanku tiba-tiba apa itu tidak
membuatku kaget dan ingin berteriak?!!” omelnya.
“Hehehe...” Jeremy tersenyum ngeri,
“Mian...” lanjutnya.
***
Geunyoung menggelar tikar kecil di bawah
rindangan pohon besar itu. Sementara Geunyoung mempersiapkan tempat untuk
makan, Jeremy —yang tidak punya kerjaan— hanya berjalan-jalan kecil di
sekitarnya.
Ketika Geunyoung mengeluarkan beberapa
kotak makanan dari keranjang yang dibawanya, Jeremy lantas mendekat. Namja itu
duduk di samping Geunyoung segera.
Meski makanan itu masih terbungkus rapat, namja
yang mengenakan t-shirt abu-abu itu kelihatannya
dapat mencium aroma makanan tersebut dengan sangat pasti. “Kau bawa daging?” tebaknya.
Geunyoung tersenyum, melirik Jeremy sedikit.
“Bagaimana kau tau?” tanyanya, berarti ‘ya’ untuk Jeremy.
Kotak-kotak makanan itu segera Geunyoung
buka. Begitu melihat makanan yang ia suka, Jeremy lantas tersenyum senang.
Kemudian, Geunyoung mengambil kedua pasang jôtgarak (sumpit khas Korea) yang sudah disiapkannya sebelum
ia ke sini. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Jeremy. Keduanya lalu menyantap
makanan yang ada bersama-sama.
Setelah beberapa lama makan, Geunyoung terheran
melihat apa yang Jeremy lakukan. Semangkuk nasi yang ia berikan pada namja itu sejak
tadi tak disentuhnya sama sekali, ia hanya mengambil bulgogi yang ia bawa.
“Makan nasimu...” ujar Geunyoung.
Jeremy menggeleng, masih sambil melahap
beberapa bulgogi lagi.
Geunyoung kembali melihat makanan yang
tersisa. “Omo...?” ucapnya, “Makan sayurnya juga!” suruhnya pada Jeremy.
Jeremy kembali menggeleng.
“Kau ini bagaimana? Bahkan roti isi pun
hanya kau makan dagingnya?!” omel Geunyoung.
“Aku tidak suka sayur! Aku tidak suka roti!
Aku tidak suka nasi!” kata Jeremy, “Shirhôyo!”.
Geunyoung mulai geram. “Eish...?! Kau ini
kekanakan!” ujarnya, “Ya! Apa jadinya makan tanpa nasi?! Nasi saja kau tidak
suka, bagaimana kau bisa kenyang hanya dengan makan daging?!”.
Tapi Jeremy malah mengacuhkannya.
Geunyoung makin geram. “Ya! Dengarkan aku!”
katanya, “Kau ini butuh karbohidrat, mineral, vitamin, dan lain-lainnya! Kalau
kau cuma makan bulgogi dan semacamnya...., kau hanya dapat protein dan lemak!
Kau butuh makanan yang seimbang!” jelasnya.
“Aku tidak peduli!” ujar Jeremy ketus.
Mendengarnya, Geunyoung hanya dapat
memandangnya heran, dan kesal.
***
Beberapa
menit seusainya makan...
Geunyoung duduk di atas tikar sembari
bersandar pada batang pohon itu, ia tengah membaca buku catatan kuliahnya.
Sementara Jeremy sedari tadi hanya bermain-main di sekitarnya, entah hanya
menjangkau dahan-dahan pohon yang tinggi, mengejar serangga kecil, atau
memanjat pohon.
Tapi sepertinya Jeremy sudah terlihat bosan
sekarang. Ia kemudian segera menuruni pohon yang dipanjatnya dan segera duduk
di samping Geunyoung yang tengah membaca buku itu.
Benar-benar pohon yang rindang, bahkan
keduanya tak tersentuh sinar mentari sama sekali. Keduanya dapat duduk dengan
nyaman di bawah pohon itu.
Jeremy, yang duduk di samping kanan Geunyoung,
perlahan-lahan menyandarkan kepalanya pada bahu yeoja tersebut. Dan ia kemudian
memejamkan matanya sejenak.
Awalnya, Geunyoung memang tidak merasa
terganggu. Tapi kemudian, ia menoleh ke arah Jeremy yang bersandar pada
bahunya.
Merasa diperhatikan, Jeremy membuka matanya
dan menemukan Geunyoung tengah memperhatikannya.
“Kenapa memandangku? Aku tampan, ya?”
candanya.
Geunyoung terkekeh, “Dasar ke-PD-an...!”
ucapnya, yang kembali pada bacaannya.
“Eh, jangan bohong~~...” Jeremy menyentil
kecil dahi Geunyoung, “Aku tampan, kan?” candanya lagi.
Geunyoung hanya bisa mengaduh sambil
mengusap dahinya yang kena sentil, “Jangan narsis, deh...” katanya.
Keduanya kemudian hanya tertawa kecil.
Jeremy melirik isi catatan dalam buku yang
Geunyoung genggam. “’Werewolf tidak punya nama’?” ia mengutip, “Huh! Omong
kosong!” ujarnya sinis.
Geunyoung melirik Jeremy. “Jadi, werewolf
punya nama?” tanyanya.
Jeremy mengangkat kepalanya. “Kau ingin
tau?” ujarnya, bukan jawaban yang Geunyoung harapkan. Jeremy kemudian melirik
catatan itu lagi, “’Werewolf hidup abadi’?” ia mengutip lagi.
“Benar, kan?”.
“Setelah ‘menyicipi’ darah dan daging
manusia...” jawab Jeremy.
“Mwo?!” Geunyoung terkejut.
“Tapi harus dari tujuh manusia yang
berbeda...” jelas Jeremy, “Barulah mereka akan menjadi werewolf yang terkuat
dan disegani...”.
“Disegani? Oleh siapa?”.
“Tentu oleh werewolf lain...” kata Jeremy,
“Tapi karena makhluk lain tidak tau soal hal itu, jadi mereka tak
menyeganinya...”.
“Termasuk manusia?”.
“Geurae!”.
“Oh...” Geunyoung mengangguk-angguk.
“Bagaimana..., kau bisa tau?” tanyanya.
“Panggil aku Sunbae! Aku sudah lulus kuliah
kurang lebih dua tahun yang lalu!”canda Jeremy sembari menepuk-nepuk kepala
Geunyoung.
***
“Umma!”.
“Kau
mau ikut Appa-mu?! Ikut saja!!”.
“Umma!
Kajima!”.
“Setiap
hari Umma pulang dengan keadaan yang memprihatikan... Berantakan, marah-marah,
mabuk, dan...,”.
“Oppa!!
Geuman!!”.
“Geunyoung-ah,
gwaenchanha...? Apa yang Umma lakukan padamu...?”.
“Badanku
sakit, Oppa... Kapan Appa pulang...?”.
“Aku
tidak mau Umma dan Appa berpisah... Bisa, kan...?”.
“Geunyoungie...
Kamu tidak mengerti permasalahan Appa dengan Umma...”.
“Tapi
Appa...,”.
“Oppa,
Umma ke mana? Kenapa Appa tak mau menjawabku?”.
“Jangan
tanyakan yeoja itu lagi! Ia sudah pergi dari sini!”.
“Mwo?!”.
“Appa
sedang sakit... Aku tidak mau Appa banyak beraktifitas...”.
“Geunyoungie...,
kau tidak mengerti...”.
“Tapi
Appa..., aku bukan anak kecil lagi... Biarkan aku merawatmu...”.
“Geunyoungie...”.
“Geunyoungie...”
suara itu terasa dekat di telinganya.
“Geunyoung-...” makin dekat, tapi suara itu
berubah.
“Geunyoung-ssi...” sekarang suara itu
benar-benar berubah.
“Geunyoung-ssi...”.
Geunyoung akhirnya membuka matanya dan
mendapati Jeremy di depan matanya, orang yang telah memanggil-manggil namanya.
Ternyata, hari sudah gelap dan Geunyoung
tak sengaja terlelap.
“Jeremy-gun...?” ujar Geunyoung setengah
sadar.
Jeremy terlihat cemas, “Geunyoung-ssi, ayo
bangun...! Kau harus cepat-cepat pergi dari sini...!” ujarnya, setengah
berbisik.
“Memang, ada apa?” tanyanya.
Jeremy tak punya waktu lagi untuk
menjelaskan seutuhnya pada Geunyoung. Lantas namja itu menarik paksa Geunyoung
untuk bangun dengan lembut.
“Cepat, ikuti aku!” ujar Jeremy.
Namja itu segera menarik lengan Geunyoung
untuk segera berlari meninggalkan hutan tersebut. Barulah Geunyoung tersadar
seutuhnya.
“Jamkkan! Bagaimana dengan tas, keranjang,
dan tikarnya?” ujar Geunyoung di tengah pelariannya.
“Jangan khawatir. Aku yang akan
mengembalikannya padamu besok.” ujar Jeremy, kedengaran tergesa-gesa.
“Tapi, tasku...,”.
“Aku janji akan mengembalikannya padamu
besok...” Jeremy meyakinkan, “Yang penting, kau harus segera keluar dari
sini...!”.
Geunyoung pasrah, ia hanya bisa menoleh ke
arah belakang, arah di mana ia terpaksa meninggalkan semua barang-barangnya,
termasuk tas pemberian Ayahnya.
Merasa terlalu lamban, Jeremy segera
memberhentikan langkahnya dan mengangkat Geunyoung ke atas pungggungnya.
Geunyoung tersentak. “Ya! Apa yang kau
lakukan?!”.
“Aku harus menyelamatkanmu sesegera
mungkin...” ujar Jeremy, yang lantas kembali berlari dengan Geunyoung di atas
punggungnya.
Geunyoung agak terheran melihat Jeremy
dapat melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Ia beberapa kali sempat mendengar
gesekan rerumputan yang seakan-akan mengejar mereka.
“Kau dengar itu?” tanya Jeremy.
“Dengar apa?” tanya Geunyoung balik.
Tak butuh waktu lama, keduanya berhasil
keluar dari hutan itu hanya dalam waktu satu menit. Padahal untuk mencapai ke
lokasi tadi, dibutuhkan waktu lebih dari tiga puluh menit untuk berjalan kaki,
itupun waktu tempuh yang paling cepat.
Jeremy segera menurukan Geunyoung. Kemudian
namja itu memeriksa keadaan Geunyoung, memastikan bahwa ia dalam keadaan
baik-baik saja.
“Jeremy-gun..., boleh aku bertanya?” ujar
Geunyoung, “Kenapa tadi sangat terburu-buru? Kau kelihatan cemas? Memang tadi
ada apa?”.
“Kau tak perlu tau...” kata Jeremy, “Yang
penting sekarang juga, kau pulang ke rumah..., segera... Ara? (Mengerti?)”.
Geunyoung tak menjawab dan hanya memandang
Jeremy yang sudah memeriksa sekilas keadaannya itu. Kali ini Jeremy juga
memandang Geunyoung.
Jeremy menatap dalam yeoja di depannya itu.
Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Geunyoung, membuat Geunyoung ngeri.
Semakin dekat wajah namja itu, semakin Geunyoung memejamkan matanya ngeri.
Kemudian rasa hangat dirasakannya di
dahinya, Geunyoung lantas membuka matanya dan menemukan bahwa rupanya Jeremy
tengah mengusap dahinya.
“Apa..., takbam (sentilan di dahi)-ku tadi...,
melukai dahimu...?” tanya Jeremy.
Geunyoung terbengong, tapi kemudian ia
tersadar, “Uh..., ah, ani...” katanya, agak salah tingkah mungkin mengira namja
yang baru dikenalnya ini akan menciumnya, tapi ternyata hanya memeriksa keadaan
dahinya.
“Joha... (Syukurlah...)” Jeremy tersenyum.
Jeremy melepaskan dekapan tangannya dari
dahi Geunyoung. Ia segera berbalik dan melangkah pulang, namun tiba-tiba
seorang namja yang sudah ada di belakangnya sejak tadi menodongkan pistol dan
ditempelkannya ujung pistol itu di dada kirinya.
Jeremy hanya terdiam, memandang ujung
pistol yang menempel di dadanya itu dan perlahan memandang si pemilik tangan
yang menggenggam pistol itu. Namja si pemilik pistol itu memandang tajam
Jeremy.
Geunyoung terkesiap, “Donghae Sônbænim...?”
ujarnya, mengenali siapa namja pemilik pistol itu.
***
To be countinued
***
Yup, Nate ga cuma share satu part, tapi dua
part sekaligus untuk menebus
kelalaian Nate yang jarang ngurus blog dan share
FF.
Semoga, Reader-deul suka sama karya Nate.
Nate ingatkan juga, sebagai Kpopers kita ga boleh saling bash juga fanwar, ya! Mau
itu sama fandom Kpop atau bukan, kek,
yang penting jangan, malu-maluin itu mah namanya^..
Nate senang dengan ending-nya yang mungkin membuat Reader-deul penasaran tujuh
putaran!! ^^bener gak? enggak ya?^
OK, gamsahamnida, sudah membaca karya Nate
ini!!^ Mari tinggalkan komentar~..^
Author
RetnoNateRiver



2 Komentar
Write KomentarFf mu daebak dongseng,,jalan crtny bgs..membuat pnasaran.
ReplyBhs ny ud cetar mnrt Q,,ud cck lh utk menjadi novelis.
Brrti di nnti kn part ke 3 ny yh dongsaeng.
Fam_izzey
Huahahaha, alhamdulillah, FF ini bikin penasaran orang^^ #authorjahat
Replywah, makasih, soal tata bahasanya! ^^tapi Onni-ku suka kritik bahasaku dalam FF sih~ -__-^
ok, tungguin part selanjutnya ya^