[FF] Aim part I
Aim
Part I :
Get to know Us
Author :
Near
Genre :
Action, Romance, NC+19
Cast : Choi
Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts
: Kim Min Gyu, Choi Han Sol/Vernon, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Wen Jun
Hui, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Kwon Sun Young, Lee Seok Min
***
A warning from
Author...
NC di sini
meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan
ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang
ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari
tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction
ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon
perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Aku hanyut dalam dekapannya, tubuh
terasa panas seketika ia merenggut apa yang ku punya. Ku biarkan ia berkelana
dari mulutku yang terbuka untuknya. Jika
benar, jika saja ia bersungguh-sungguh.
“Hentikan,” rintihku, “you just bite it.”.
Namun ia berdesis, menolak apa yang
ku perintahkan padanya. Ia bermain-main sesuka hati, aku sudah terkunci
olehnya.
“Stop
it,”.
“One
more time.”.
Kami sadar, semua yang kami lakukan
ini tidak berdasarkan pada sesuatu hal yang mendasar, tanpa sesuatu yang jelas.
Kau taulah sesuatu itu.
Namun ia terlalu mudah untuk tergoda
―meskipun aku bukan jenis wanita penggoda.
“Manis,” desisnya, “my Sally..., Solji-ya.”.
Aku ingin mendengarnya lagi.
“Solji-ya,”.
***
“Wooii!! Solji-ya!!”.
Astaga! Aku terbangun dari tidurku.
Ku temukan Jihun sedang memukul-mukulkan koran ke atas meja tempat kepalaku
berbaring.
“Kau seharian ini tidur saja!
Bagaimana kalau tiba-tiba misi datang?!” gerutunya, lalu kembali duduk di
hadapan komputernya.
[► iKON – Airplane ]
Sial, rupanya itu hanya mimpi.
Aku mengacak-acak rambutku. “Kau
baik-baik saja?” tanya Jihun.
Melirik aku padanya, “Kenapa?”
tanyaku.
“Kau kelihatan,” Jihun berkata,
“kacau.”.
Aku mendengus lalu kembali
merubuhkan kepalaku ke atas meja.
“Oh, Kim Sonsaengnim.” mendengar
Jihun menyebut nama itu, aku segera bangun.
Pria paruh baya itu memasuki
ruangan. Segera kami semua berkumpul di hadapannya. “Kepolisian baru saja
mengirimi kita misi kembali.” ucap beliau, lalu mengisyaratkan Jihun untuk melakukan
sesuatu pada komputernya, “Kalian sudah siap?”.
“Siap!” jawab kami semua sigap.
***
Aku bekerja selama satu tahun
sebagai seorang polisi. Namun karena kelebihanku di lapangan membuatku akhirnya
dipindahkan ke sebuah tim kecil yang dibentuk Kepolisian dan Persatuan Agen
Rahasia Korea Selatan.
X-Team, nama yang kurang kreatif
bagiku. Well, di balik nama itu
terdapat banyak anggota yang luar biasa! Bisa dibilang, kami adalah secret agent. Disebut X karena kami
adalah tim yang dibentuk sebagai rencana atau senjata tersembunyi ―bak tanda X
dalam peta harta karun.
Yeah, kau
tau aku tidak pandai berkata-kata.
Namaku Choi Sol Ji, nama Inggrisku
Sally Choi. Benar, aku memang setengah Korea dan setengah Amerika. Ayahku
berkewarganegaraan Korea, sementara Ibuku Amerika. Aku memiliki seorang adik
laki-laki, namanya Choi Han Sol atau Vernon Choi.
“Nuna,
I miss you so much!” Vernon mulai lagi, “How ‘bout your job? Did you,”.
“Just
stop it, stupid.” kesalku.
Benar, misi rahasia, agen rahasia,
pekerjaan rahasia. Tak ada yang boleh tau. Meskipun sebenarnya keluargaku pun
tak boleh tau ―hanya saja aku mengatakannya pada Hansol seorang.
“Sorry,”
sesal Vernon.
“Kau cukup belajar dengan baik dan
jadilah polisi.”.
“Did
you said..., police...?”.
“Yup,
police ―why?”.
Vernon tertawa, “Wait, wait,” katanya, “itu semacam
doktrin, right? Kau ingin aku jadi
sepertimu, Nuna?”.
“Kenapa? Ku kira kau juga ingin.”.
“Sorry
―no.” ketusnya, “I just want to be
what I wanna be ―not what you wanna be, Sally..”.
“Call
me ‘Nuna’, you stupid!”.
“Tidak, dari anak-anak Ayah dan Ibu,
cukup Nuna saja yang berkecimbung di
pekerjaan rahasia itu.” Vernon bangkit, “Oh ya, jangan lupa selesaikan
hubunganmu dengan brandalan itu.”.
Aku mendengus ketika adikku melengos
pergi begitu saja. Yah, begitulah Vernon ―adikku yang paling menyebalkan.
Awalnya kehadiranku di X Team agak
diragukan karena adanya Choi Seung Cheol, leader
team kami, sekaligus kakak sepupuku. Dia anak dari kakaknya Ayah ―memang
seharusnya tidak ada hubungan keluarga di antara para anggota X Team. Namun
karena bakatku, akhirnya aku disetujui untuk bergabung.
Tak seperti anggota lainnya, aku
adalah anggota yang ―bisa dibilang― masih baru dalam dunia kepolisian.
Bayangkan saja, baru setahun saja aku sudah bisa masuk ke dalam tim sehebat
ini. Kakak sepupuku saja ―Seungcheol― telah berpengalaman selama enam tahun
bekerja, begitu juga dengan Jihun.
[■ iKON – Airplane ]
***
“Makanan semuanya!!” Solji datang
membawa beberapa kantung makanan bersama Jihun.
Ketika mereka berdua membagikan
beberapa kotak makanan itu ke beberapa anggota lainnya, tak sengaja Solji
menatap punggung seorang pemuda bersama Pak Kim di sana.
“Siapa dia?” tanya Solji pada
Seungcheol.
“Anak baru ―mungkin.” jawab
Seungcheol.
“Mungkin?” Seungcheol menaikan
bahunya sebagai jawaban.
***
Pemuda itu mendatangi sebuah gedung
serbaguna di pojokkan kota. Gedung yang sangat megah dan besar, di dalamnya
terdapat banyak hall dan ballroom yang bisa digunakan untuk
berbagai keperluan acara. Interiornya sangat mewah dengan sentuhan Barat yang
menawan.
Di ujung koridor, terdapat sebuah
lukisan ladang tulip yang besar dan sebuah patung menemani indahnya lukisan
itu.
Di sentuhnya patung yang cantik itu.
Pemuda tersebut menangkap sesuatu yang aneh pada tangan patung tersebut, lalu
memutarnya.
Sempurna, sebuah pintu rahasia di
bawah lukisan itu terbuka. Sedikit memandang ke sekitar, pemuda itu segera
masuk setelah merasa situasi cukup aman.
Berbeda dengan suasana megah gedung
serbaguna ini, rupanya setelah isi pintu itu ditelusuri dunia kelamlah yang
bersemayam di baliknya selama ini. Remang, di dalamnya ada beberapa pria tak
dikenal yang duduk-duduk sambil ‘bermain-main’ di atas meja.
Tak salah lagi, pemuda itu
melangkah. Namun dua orang yang sedari tadi duduk di dekat pintu rahasia itu
menodongnya dengan senjata.
Pemuda itu tak terkejut, hanya saja
langkahnya berhenti.
“Aku harap kalian punya tata krama.”
dinginnya, suaranya menggema dan memantul pada dinding-dinding yang terdiam.
“Oh, sudah datang rupanya,” seorang
pria tua keluar dari ruangan itu, semua membungkuk hormat padanya, “turunkan
senjata itu dari tamu kita, anak-anak.” suruhnya pada dua pria yang masih
menodong senjata api mereka.
“Putera semata wayang Park Shi
Yeon,” sambut pria tua itu.
“Sayang, kau salah menyebutkan
identitasku,” dingin si pemuda.
Pria tua tersebut tertawa. Rupanya
benar, anak yang diceritakan Shiyeon itu benar-benar dingin. “Kau diutus
Shiyeon untuk menggantikan posisinya, tentu saja.” dan masih terkekeh.
Pemuda tersebut hanya berkedip,
“Jadi apa misiku?” tanyanya.
“Kau tau aku bekerja untuk siapa,
kan?” tanya pria tua itu, “Aku yakin anaknya Shiyeon pasti sudah paham akan
tugas yang diemban Ayahnya. Bukankah begitu, Tuan Muda Park?”.
“Bukan,” sangkal pemuda itu, “namaku
Jeon Won Woo.”.
***
“Namaku Kim Min Gyu! Mohon
bantuannya!” ternyata namanya Mingyu, itu yang ada dalam pikiran Solji. “Aku
sudah satu setengah tahun menjadi polisi, menjadi bagian dari X Team adalah
sebuah kehormatan besar untukku!”.
“Mingyu baru di tim ini, jadi tolong
perlakukan dia dengan baik.” ujar Pak Kim.
“Siap!” jawab kami serentak.
Ketika Mingyu bergabung bersama
mereka, Solji-lah orang pertama yang berkenalan dengannya.
“Annyeong
haseyo, Choi Sol Ji imnida.”
senyumnya ramah.
“Annyeong
haseyo, jal butak-deurimnida.” balas Mingyu, lalu beberapa anggota lainya
menyusul.
“Aku Lee Ji Hun, code name Woozi.” ucap Jihun.
“Choi Seung Cheol, code name S.Coups.” ucap Seungcheol.
“Aku rasa, aku juga harus punya code name.” cengir Mingyu, mereka
tertawa.
“Kim Min Gyu,” Mingyu menoleh ketika
Solji memanggilnya, “kebetulan aku dan Jihun beli lebih, ini ada makanan
untukmu.”.
“Wah, gamsa hamnida.” senyum Mingyu, “Cantik
juga.” batinnya melihat tatapan itu.
“Jadi, berapa usiamu?” tanya Jihun.
“Kata Pa..., maksudku Kim Sonsaengnim, aku harus memanggil leader kita
dengan panggilan Hyung.” jawab
Mingyu.
“Ah, jinjja?!”.
“Berapa tahun usiamu?” tanya
Seungcheol.
“Aku dua tahun lebih muda darimu, Hyung.” jawab Mingyu.
“Ah, kenapa tidak bilang dari tadi
―aku cukup takut dengan badan tinggi tegapmu tau!” kata Jihun, “Kau harus
panggil aku Hyung juga kalau begitu!”
lalu terkekeh dengan khasnya.
“Apa?” dengan tubuh mungil itu dan ‘hyung’?! Mingyu cukup terkejut. Semuanya
tertawa, termasuk Solji. Mingyu hanya bisa mematung melihat gadis itu
menertawakannya.
***
“Solji...,”.
“Nuna.”
ucap Solji.
“Oh? Ya, maksudku Solji Nuna,” Mingyu cukup terkejut kalau ia
harus memanggil Solji dengan panggilan itu, “ini pertama kalinya aku bekerja
sama dalam tim ini dan aku sama sekali tidak mengenal teman-temanku, jadi,”.
“Jadi?”.
“Jadi kau bersedia,”.
“Perkenalkan?”.
“Yah, maksudku itu.”.
Solji tersenyum, “Tentu saja kau
sudah mengenal leader team kita, Choi
Seung Cheol, kan?”.
“Yup,”.
“Dia yang paling senior di sini
―enam tahun bekerja dalam dunia kepolisian. Dia sudah sangat berpengalaman, dan
itulah kenapa ia jadi pemimpin X Team.” katanya, “Ada Lee Ji Hun, operator
kita. Dia memang lemah di lapangan, tapi dia orang yang sangat teliti dan
detail. Dia yang selalu mengawasi kita dari sini ketika kita bertugas di
lapangan. Dan jangan lupa, dia ini si peretas. IT-man, julukannya.”.
”Cheon Se Ri, dia gadis selain aku
di sini. Satu-satunya yang ku andalkan ketika berkeluh-kesah ―karena hanya kami
berdualah perempuan di X Team. Dia gadis yang gesit karena badannya yang
mungil. Terkadang Seri menemani Jihun sebagai operator. Ada lagi Yoon Jung Han,
dia mungkin terlihat ―yeah― cantik
tapi dia manly, kau akan lihat
sendiri ketika di lapangan nanti.”.
“Wen Jun Hui, kami biasa
memanggilnya Jun ―selain karena itu code
name-nya. Dia berasal dari Cina, tadinya hanya pindahan tapi akhirnya ia
menetap di Korea dan menjadi bagian dari X Team. Selain jago di lapangan, dia
adalah ‘Rachet’ kami.”.
“Rachet?” Mingyu heran.
“Kau tau film Transformers, right?” namun Mingyu menggeleng,
“Baiklah, Junhui memang seorang tenaga medis di tim kami, seperti Rachet di
pasukannya Optimus Prime. Lebih tepatnya, tenaga medis mendesak. Jadi ketika di
tengah lapangan ada yang terluka, Junhui akan segera memberinya pertolongan
pertama sebelum tenaga medis dikerahkan untuk menolong kami.”.
“Lalu, Kwon Sun Young dan Lee Seok
Min, otak kanan dan otak kiri X Team. Tanpa mereka, tim kami takkan seimbang,
takkan sekompak ini. Sunyoung dan Seokmin memang tidak bisa dipisahkan lagi,
kerja sama mereka sangat kami butuhkan ―ibarat tangan kanan dan tangan kiri.”.
Mingyu mengangguk-angguk. “Baru kali
ini aku berada di dalam tim sehebat ini.” katanya.
“Tau dari mana kau kalau tim ini
hebat?”.
“Dari Pamanku, oops.”.
Sepertinya Mingyu baru saja
kelepasan, “Kau bilang..., Paman...?”.
Mingyu menepuk dahinya, seakan
menggerutu pada kebodohannya sendiri. “Jangan bilang-bilang, ya, Nuna,”.
“Bilang-bilang? Why?” heran Solji.
“Kalau aku,” Mingyu ragu,
“keponakannya Kim Sonsaengnim.”.
”WHAT?!”.
Tiba-tiba sirine berbunyi. Semua
anggota segera berkumpul menghadap ke beberapa layar yang berjejer di ruang
utama.
“Keberadaan bandar itu berhasil
ditemukan!” seru Jihun, ia mengarahkan beberapa layar ke tempat-tempat yang
dimaksud.
“Itu mereka!” seru Jeonghan.
Seungcheol mulai menyusun rencana,
“Yoon Jeong Han, Kwon Sun Young, Lee Seok Min, kalian bertiga ikut aku.”
katanya, “Moon Jun Hwi, Choi Sol Ji, Kim Min Gyu, kalian satu tim. Dan Cheon Se
Ri,”.
“Siap.” jawab Seri.
“Kau bersama Jihun.” jawab
Seungcheol pada akhirnya.
Seri agak kecewa, tapi itulah tugas
yang diembannya untuk misi kali ini. “Senang kau di sampingku lagi.” goda Jihun
ketika mereka sudah meninggalkan ruangan.
“Jangan main-main, Woozi-ya,” jengkel
Seri yang langsung mengenakan handsfree
itu.
Jihun hanya tertawa.
***
“Kim Min Gyu ya?” ujar Junhui yang
sibuk menyetir.
“Ya, namaku Mingyu.” jawab lelaki
yang duduk di bangku belakang itu.
“Hebat, ya, kami belum pernah
melihat kinerjamu sebelumnya, tapi kau sudah dihadapkan pada misi seperti ini.”
kata Junhui.
“Cuma menangkap bandar narkoba, kok
―gak lebih.” dalih Solji.
“Eeyy, kau jadi kakak Senior jangan
sombong begitu!”.
“Loh, memang ini mudah, kan? Hanya
saja mereka ganas.”.
“Iya, iya.”.
Mingyu pun hanya senyum-senyum di
belakang.
“Woozi, apa ada yang menyamar lagi
kali ini?” tanya Junhui.
“Sudah ada seorang polisi yang
menyamar, dia sudah di dalam sana.” jawab Jihun.
Junhui dan Solji berpandangan,
“Polisi?” tumben sekali seorang polisi dikerahkan hanya untuk menyamar.
“Tapi aku rasa satu spy tidak cukup,” Seungcheol bersuara,
“aku dan Jeonghan akan menyamar dan menyusup masuk. Sunyoung dan Seokmin akan
berjaga-jaga diluar, sekaligus sniper.”.
“Sepertinya kami ―sniper― tidak dibutuhkan,” sahut
Sunyoung.
“Benar, kan, Hyung?” sambung Seokmin.
“Ya,
ya! Jangan bermain-main di HT!!” ingat Seri.
“Hyung,
tak seharusnya kau biarkan Seri bersamaku malam ini ―dia galak sekali.”
ujar Jihun.
“Kalian sudah sampai.” ucap Jihun,
di saat yang sama GPS di mobil Junhui menunjukan mereka hampir sampai di
lokasi. Mereka berhenti di sebuah jalanan yang tinggi, sementara lokasi
penyergapan rupanya merupakan sebuah peternakan kecil yang terlihat berada di
bawah jalanan itu.
“Itu tempatnya,” susul Junhui.
“Seokmin dan Sunyoung sudah
berjaga,” lapor Seri.
“Itu Seungcheol Oppa.” gumam Solji melihat mobil Seungcheol terparkir di depan
sebuah gudang di peternakan tersebut.
“Jangan mulai penyergapan sebelum
aku memberi aba-aba.” ucap Seungcheol, “Woozi akan memberitau kalian.”.
Seungcheol bersama Jeonghan
menghampiri gudang tempat penyimpanan pakan ternak, jerami, dan berbagai alat
berat lainnya tersebut ―yang pada malam harinya beralih fungsi.
“Apa yang Oppa lakukan?” tanya Solji melihat Seungcheol dan Jeonghan bertemu
dengan beberapa pemuda di balik pintu gudang yang besar itu saling
berinteraksi.
“Itu ‘tiket’ masuk mereka.” Junhui
sudah paham lebih dahulu.
[► B.A.P - COMA]
Para pemuda itu mempersilahkan Seungcheol
dan Jeonghan masuk. Sementara Junhui, Solji dan Mingyu masih menunggu aba-aba
dari Jihun.
“Sekarang!” seru Jihun, ketiganya
pun segera mendekat.
“Clear.”
lapor Seri. Tanpa ragu Solji, Junhui dan Mingyu mulai penyergapan mereka.
Sementara itu, Seungcheol berhasil
menemui seorang pria ―yang merupakan otak dari transaksi terlarang ini.
“Aku rasa kita baru bertemu.” ucap
pria itu.
“Aku datang karena mencari
‘sesuatu’.” Seungcheol segera berkata.
Pria itu menyanggupi, “Kami akan
mengedarkan ‘barang’ ke negara-negara seperti Eropa, beberapa akan disalurkan
lewat Asia Tenggara.” lalu ia beralih pada sesuatu di laci mejanya.
“Apakah semuanya berpusat di sini?”
Jeonghan terlalu gegabah.
Pria itu menatapnya, Seungcheol
memberinya isyarat. “Siapa yang datang bersama Anda dari tadi ini, Tn. Song?”
tanya pria itu pada Seungcheol.
“Hanya asisten.” dalih Seungcheol,
“Asisten yang kurang sopan.” tambahnya.
Tertawa pria itu kemudian, “Aku bisa
mengerti itu.” katanya.
Satu lirikan Seungcheol yang membuat
Jeonghan sadar bahwa ia hampir saja membuat mereka dalam ancaman besar karena
ucapannya itu.
“Jun, Sally, Mingyu, masuk.” lapor
Seri.
“Beberapa polisi sudah berdatangan
ke lokasi.” tambah Jihun.
Seungcheol pun memulai aksinya.
Sementara itu, Junhui sudah berhasil
menjatuhkan dua pemuda yang berjaga di pintu depan gudang itu. Bersama beberapa
polisi ia menyusup ke dalam gudang, sementara Mingyu bersama Solji dan polisi
yang lainnya menyusup lewat celah lain.
Perlahan tapi pasti, mereka berhasil
memasuki lokasi yang menjadi tempat transaksi tersebut. Rupanya orang-orang
―yang juga pengguna serta pengedar ini― memiliki senjata berbahaya dan cukup
ganas.
Meski terkepung polisi, mereka tetap
berani melawan.
“Seokmin dan Sunyoung memasuki
gudang.” lapor Jihun.
Seungcheol berkedip. “Sayangnya, aku
tidak bisa memberitau kalian tentang hal mendetil soal bisnis kami.” kata pria
itu, “Tapi jika Anda berkenan,”.
Tak sengaja pandangan mereka
bertemu, ada isyarat di baliknya. Di saat itu pula Seungcheol bersiaga, bersiap
untuk sesuatu yang telah ia kira sebelumnya.
“Klek!!” mereka saling menodongkan
pistol, namun,
“Dor!!” pria itu justru menembak
Jeonghan.
“Bruk!” seketika Jeonghan ambruk.
Seungcheol tercekat. Pria itu
beralih padanya. “Sekarang tinggal kita berdua, Tn. Song.” sinisnya pada
Seungcheol, “Atau sebenarnya, kau bukan Tn. Song...?” ia tertawa sambil
menodongkan senjatanya ke arah pemuda itu.
Nafasnya serasa ditarik-ulur. Bahkan
hanya untuk menarik pelatuk itu saja jari-jari Seungcheol meragu. Melihatnya
seperti itu, pria tersebut tertawa ―lebih tepatnya menertawainya.
“Kenapa? Kau juga ingin mati seperti
temanmu?” tanya pria itu sebelum,
“Dor!” seseorang di belakangnya
menembak kakinya hingga ambruk.
Junhui berdiri di ambang pintu di
belakang pria tersebut. Ia memasuki ruangan diam-diam, dan begitu melihat pria
tersebut tengah beradu senjata dengan Seungcheol, ia segera menembakan timah
panasnya.
Meski ambruk pria tersebut masih
berusaha melawan. Ketika ia berhasil merebut pistolnya, Seungcheol segera
menendang tangan itu hingga pistol itu terlepas lagi. Junhui pun segera
bergerak.
”Maaf tapi,” ia mulai memborgolnya,
“ku biarkan kau hidup untuk memberikan keterangan pada kepolisian dan
menanggung akibatnya.”.
Segerombolan polisi memasuki ruangan
dan segera meringkus pria tersebut. Jeonghan! Seungcheol baru teringat akan
keadaan sahabatnya itu.
Jeonghan tersungkur di pojokan
ruangan, dan Seungcheol segera menghampirinya.
“Yoon Jeong Han! Ya! Jeonghan-ah!” ia membalikkan tubuh
itu.
Wajah Jeonghan terlihat sangat pucat
dengan luka di perut sebelah kirinya. Dia menatap Seungcheol dan tersenyum.
Syukurlah, ia masih hidup.
“Hei, panggilkan Junhui, sakit tau.”
Jeonghan masih saja bergurau.
Seungcheol tersenyum miris, “Ku
pikir kau sudah mati.” ucapnya.
“Cuma pura-pura ―maaf, ya.” Jeonghan
tertawa kecil sambil menahan lukanya, “Tapi, heh, kau ingin aku mati, ya?” dan
ia masih saja bergurau.
“Sudahlah, jangan banyak bicara.” di
saat yang sama Junhui menghampiri mereka.
Sementara itu, “Tunggu!!” beberapa
orang melarikan diri dari lokasi. Tak ayal Solji, Mingyu dan beberapa polisi
segera mengejar mereka.
Meski semua kawanannya sudah
berhasil tertangkap, pemuda yang memakai jaket hitam, topi dan masker itu masih
saja berusaha melarikan diri dari mereka.
“Persetan.” geram Solji yang segera
mengejarnya bersama Mingyu.
Bahkan pemuda itu masih bisa melawan
Mingyu meski ia sudah menyergapnya. Mingyu berhasil membenturkannya pada
dinding dan menguncinya di situ. Ketika ia hendak melawan lagi, Solji langsung
menodongkan senjata ke arahnya.
Hening, dingin.
Mingyu segera membuka topi dan
masker itu untuk mengungkap wajahnya dan mengenalinya. Namun Mingyu terkejut
melihat siapa yang berhasil di tangkapnya itu.
Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.
“Wonwoo?” Mingyu lebih kaget lagi
―ternyata Solji juga mengenal orang ini.
Hening sekali lagi.
***
to be continued
***
“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo Oppa, ya? Apa dia memang dari dulu
begitu dingin, cuek, tidak punya wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi,
tidak pernah senyum, seperti batu es?”.
“Simpan bill-nya.” ingat Solji.
“Iya, tau.” ketus Wonwoo, tak berubah seperti dulu.
Solji dibuat lebih berdebar lagi, ketika Wonwoo menatapnya lekat-lekat.
“Gadis macam apa kau? Tidak pernah bercermin, tidak pernah merawat diri,
sampai tak sadar di wajahnya ada bekas luka yang membuatnya kelihatan jelek.”.
“Tak apa pulang sendirian?” tanya Seungcheol.“Di rumah ada Hansol?”.
“Ada,.”.
“Hansol? Siapa?” tanya Mingyu.
“Adik laki-lakiku.” jawab Solji.
“Kenapa tanya-tanya soal Hansol?”
sahut Seokmin.
“Cemburu, ya?” tambah Sunyoung.
Mingyu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk.
“Jadi Won―” Seungcheol hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo
orangnya?!” gegernya berbisik.
“Jadi belum ada kabar, ya? Hm, hm.” ia menggoyahkan sedikit kursinya,
“Aku akan menunggumu, Tn. Muda Park.”.
***
next...
Aim
Part II :
Flashback
by Near
retnonateriver.blogspot.com
***
AADW, Ada Apa Dengan Wonwoo next di Aim Part II~~..^^
Bagaimanakah bagian pertama dari Aim
ini, Reader-deul?? Semoga memuaskan, ya!^^ Oya, jangan lupa kasih komentar yang
membangun buat Near, ya!^^ No siders^^
Mohon nantikan Aim part II : Flashback!^^
Gamsahamnida bagi yang sudah baca, like, dan komen!^^
Author


