[FF] Aim (Spoiler ver.)
Aim
Spoiler ver.
Author : Near
Genre : Action, Romance, NC +19, OC
Main Casts : Choi Sol Ji/Sally (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : ▫ Kim Min Gyu
▫Choi Seung Cheol
▫Han Na Yeon (OC)
▫Yoon Jeong Han
▫Wen Jun Hui
▫Lee Ji Hun
▫Cheon Se Ri (OC)
▫Kwon Sun Young
▫Lee Seok Min
▫Choi Han Sol/Vernon Choi
***
Namaku Choi Sol Ji,
nama Inggrisku Sally Choi.
Aku bekerja selama satu
tahun sebagai seorang polisi. Namun karena kelebihanku di lapangan membuatku
akhirnya dipindahkan ke sebuah tim kecil yang dibentuk Kepolisian dan Persatuan
Agen Rahasia.
X-Team, nama yang
kurang kreatif bagiku. Well, di balik
nama itu terdapat banyak anggota yang luar biasa! Bisa dibilang, kami adalah secret agent. Disebut X karena kami
adalah tim yang dibentuk sebagai rencana atau senjata tersembunyi ―bak tanda X
dalam peta harta karun.
Yeah, kau
tau aku tidak pandai berkata-kata.
***
“Oh, sudah datang
rupanya,” seorang pria tua keluar dari ruangan itu, semua membungkuk hormat
padanya, “Putera semata wayang Park Shi Yeon,” sambut pria tua itu.
“Sayang, kau salah
menyebutkan identitasku,” dingin si pemuda.
“Kau tau aku bekerja
untuk siapa, kan? Aku yakin anaknya Shiyeon pasti sudah paham akan tugas yang
diemban Ayahnya. Bukankah begitu, Tuan Muda Park?”.
“Bukan,” sangkal pemuda
itu, “namaku Jeon Won Woo.”.
***
“Namaku Kim Min Gyu!
Mohon bantuannya!”.
“Annyeong haseyo, Choi Sol Ji imnida.”
senyumnya ramah.
“Annyeong haseyo, jal butak-deurimnida.” balas Mingyu, “Cantik juga.” batinnya melihat tatapan
itu.
***
“Klek!!” mereka saling
menodongkan pistol, namun,
“Dor!!” pria itu justru
menembak Jeonghan.
“Bruk!” seketika
Jeonghan ambruk.
“Sekarang tinggal kita
berdua, Tn. Song.” sinisnya pada Seungcheol, “Atau sebenarnya, kau bukan Tn.
Song...?” ia tertawa sambil menodongkan senjatanya ke arah pemuda itu.
***
Ia terbelalak, “Wonwoo Hyung?”.
“Wonwoo?” Mingyu lebih
kaget lagi.
“Kau mengenalnya, Nuna?” kaget Mingyu.
***
“Bangapseumnida.” bungkuk Wonwoo.
“Eh, kata Mingyu, Onnie kenal Wonwoo, ya? Berarti, Onnie tau, dong, sifatnya Wonwoo itu?
Apa dia memang dari dulu begitu?” tanya Seri, “Begitu dingin, cuek, tidak punya
wajah ―eh, maksudku tidak punya ekspresi, tidak pernah senyum, seperti batu
es?”.
“Dia laki-laki yang
pernah menjalin hubungan itu denganku.”.
“Jadi Won―” Seungcheol
hampir berteriak, “―maksudku, jadi Wonwoo orangnya?!” gegernya berbisik.
***
“Hansol? Siapa?” tanya
Mingyu.
“Adik laki-lakiku.”
jawab Solji.
“Kenapa tanya-tanya
soal Hansol?” sahut Seokmin.
“Cemburu, ya?” tambah
Sunyoung.
Mingyu hanya tersenyum
canggung sambil menggaruk tengkuk.
***
“Bagaimana aku hari
ini,” Seungcheol tersenyum menggoda, “Pelatih Han...?”.
***
“Belum ada kabar?”
sahut pemuda itu. “Shin Hae Ra, siapa tau kau ingin mengirim salam padanya.”
cengir pemuda itu.
Wonwoo terbelalak,
“Kalian menyuruhnya bermalam dengan pria-pria busuk itu?!!” geramnya, “Persetan
kalian.”.
***
“Haera-ya,” panggil
Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali ke sini. Berada di dekat Ilsung akan
membuatmu menderita.” bisik Wonwoo, “Pulanglah, dan jangan kembali lagi.”.
***
“Oya, kau tau apa ini?
Kau tau siapa yang memberikannya padaku?” Ilsung menunjukkan map coklat di
tangannya.
Haera menggeleng lagi.
“Wonwoo.”.
Seketika nampan yang Haera
bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya. “Wonwoo...?” lirih Haera.
Diam-diam Wonwoo
menatap dua temannya itu lekat-lekat. “Dokumen
itu, dan ledakan bom hari ini. Semua ini hanyalah butiran gula yang manisnya
mengundang semut,” batinnya, “Ilsung ingin
mereka datang kepadanya, dan di saat itulah...,”.
***
“Maksudku..., kau akan
pulang dalam keadaan utuh jiwa dan raga, kan, Sally...? Kalau bahasa kasarnya,”
Hansol mendongak, “aku tak ingin kau terluka, aku hanya tak ingin kau mati, Nuna... Just that simple...”.
***
“..., Kwon Sun Young
dan Lee Seok Min, serta Choi Sol Ji dan Kim Min Gyu, menyamar berpasangan.”.
“Tunggu, berpasangan?”
ralat Solji.
“Iya, berpasangan,”
ulang Seungcheol, “apa di sini ada yang belum pernah pacaran??”.
Sunyoung secara spontan
mengangkat tangan, padahal ucapan tadi hanya sebagai kiasan. “Oh? Bercanda,
ya?” cengirnya.
***
“Jadi apa rencanamu, Nuna?” tanya Mingyu.
“Kau punya saran?”
Solji berbalik bertanya.
Junhui pun menyahut
dari tempat duduknya di samping Wonwoo, “Hei, berciumanlah!” usilnya.
Sontak semuanya
tertawa, kecuali Wonwoo. Ketika semuanya sedang tertawa, Mingyu tak sengaja
melihat Wonwoo yang tak ikut bersendagurau dan kembali membaca, hanya saja
tatapannya tidak fokus. Hal yang sama didapatinya pada Solji yang kelihatannya
memikirkan sesuatu.
“Ada apa, Nuna?” tanya Mingyu.
Gadis itu hanya
menggeleng, “Anio.”.
“Apa ada yang salah
dengan ucapanku tadi pada Wonwoo Hyung?
Katakan saja, Nuna. Aku tidak ingin
kau marah padaku.”.
“Mingyu-ya, bisakah kau
biarkan aku supaya aku tidak marah padamu?”.
***
“Apakah ada yang salah
dari caraku memimpin mereka, Sonsaengnim?” lanjut Seungcheol, “Jika memang ada yang salah dari,”.
“Tidak ada yang salah
dari caramu memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku
ingin menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.
“Kenapa? Apa Anda akan
meninggalkan kami?”.
“Ku titip keponakanku
padamu,”.
***
Pria tua itu tertawa
lagi, “Lihat siapa yang merindukan pujaannya.” Ilsung mendatangi Haera, “Aku
mengerti betul bagaimana perasaanmu padanya, Anakku, tapi,” ia menarik dagu
gadis itu lembut, “apa kau yakin hanya ada dirimu di hatinya?”.
***
Geram, Wonwoo menarik dagu itu kasar, “Apa kau tuli?!! Katakan, di mana
Ilsung?!!” bentaknya.
“Ngiiiing~~...!!”.
“Akhh!!” rintihnya keras, ia jatuh terduduk dan berusaha melepas benda
di telinganya itu dengan tergesa.
“Astaga!!” jerit Seri, ia langsung terjatuh di atas lantai.
“Aish!!” Sunyoung langsung
melempar benda itu dari telinganya.
Hal yang sama pun dirasakan Junhui. “Sialan!!” ia banting benda itu.
“Ouch!!” pekik Solji,
tangannya segera mencabut benda itu dari telinganya, “What the f..., arrgghh!!”.
“Akh! Sebenarnya apa yang
Ilsung rencanakan?!!” ia geram pada gadis itu.
“Aku yakin, Cha Yuk Seon hanyalah umpan untuk kita.” selidik Jeonghan,
“Sebenarnya, Yukseon
mengantar kita pada sesuatu!”.
***
Solji merasa Mingyu sudah berhenti menyiraminya. Namun ketika Solji
sedang membasuh wajahnya yang basah, ia merasakan seseorang menarik tubuhnya
lembut, merangkul pinggangnya, dan ia merasakan bibirnya berubah menjadi sangat
hangat.
Tunggu, Wonwoo?
“Plak.” entah apa yang membuat Solji menampar Mingyu.
Mereka bertatapan, “Lancang.” desis Solji.
***
“Bruk!” Wonwoo lah yang membanting Mingyu pada dinding. Kedua lelaki itu
saling beradu tatapan tajam. Wonwoo lah yang memukul Mingyu kemudian.
Mingyu membalasnya, ia banting tubuh Wonwoo pada pagar balkon lalu
berbalas memukulnya. Impas keduanya.
“Kurang ajar kau, Kim Min Gyu.” suara bass itu menggema, kerah baju Mingyu dicengkeramnya kuat-kuat.
Kepala mereka berbenturan dan saling beradu, tatapan keduanya saling
memburu.
“Hentikan!” seru Solji.
***
“Kami pernah berhubungan tanpa status,” jawab Wonwoo pada akhirnya, “kami...,
saling mencintai tanpa..., terikat hubungan apapun...”.
Bahkan ketika ia
mencuri pandang ke arah jam di bed side table-nya, Solji berdecak, “Baru lima
belas menit,” gerutunya dalam hati, “ayolah, kenapa waktu berjalan begitu
lambat?! Wonwoo sudah menyiksaku! Tetapi...,”.
“aku menyukainya...”.
***
“DK, masuk,” panggil Seri, “DK, ada apa?”.
“A, ada,” lapor Seokmin, “ada Jung Il Sung di dalam mobil yang menjemput
target.”.
***
“Aku ingin kau mengambil salah satu dari mereka, tahan dia di sini, dan
bawa ‘inti’ itu untukku. Kau paham, kan, sekarang...?” jelas Ilsung, “Jangan
takut, kekhawatiranmu takkan terjadi, Tn. Muda. Lagipula ini adalah tugas
terakhirmu di bawah naunganku.”.
“Ingatlah, tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.”
lanjut Pak Kim.
Dahinya berkerut, “Ne? Maaf?”
Wonwoo berucap.
***
“Nomor yang Anda tuju
sedang tidak aktif, silahkan hubungi beberapa saat lagi.”.
Deg! Firasat itu kini menyerang ke ulu hatinya. Seungcheol yakin ada
yang salah di sini. “Ji, Jihun,” kedua kakinya serasa lemas, “Jihun! Lee Ji
Hun, bangun!!!”.
***
“Kenapa? Apa aku tidak boleh melindungimu, Nuna?” ujar Seungcheol lembut ―namun tegas.
“Bukk!!” entah kenapa Nayeon malah memukulnya hingga lelaki itu jatuh
tersungkur.
***
“Kita akan berangkat sekarang ―meski tanpa Wonwoo.” sambung Seungcheol.
“Siapa kau? Jangan main-main denganku!” galak Nayeon.
“Kau ingin tau?” tanya pria itu.
Segera ia lepas kupluk dan maskernya, dan tak perlu waktu lama hingga
Nayeon terkejut. Pria itu pun menyambut, “Apa kau puas sekarang..., Pelatih
Han...?”.
“Hentikan van ini!!
Hentikan!!” seru Jihun, dengan kemampuannya yang tersisa ia berusaha menggapai
setir itu.
“Sialan!!” gerutu si polisi gadungan tersebut.
“Uwwaaaa...!!”.
“Tiiiinn...!!”.
“Braakkk!!!”.
***
“Klek.” terdengar suara senjata yang Solji genggam berseru.
“Tenang, Manis. Aku tidak bawa senjata.” aku Ryeojin, “Bahkan bukan aku
yang menculiknya. Ditugaskan saja tidak.”.
Semua terbelalak.
“Apa maksudnya?” desis Junhui.
Ryeojin tersenyum penuh arti, “Yang menculik mantan atlet ini ada di
belakang kalian ―yang ada di ambang pintu.” jelasnya.
“Ti, tidak mungkin,” desis Seokmin.
“K, kau,” Mingyu terpaku.
“Persetan kau,” maki Solji, “Jeon Won Woo.”.
“Aku tak tahan lagi ―dasar pengkhianat,”.
“Hoshi!” seru Seungcheol.
“Kau telah membunuh...,” lirih Seri, “Kau telah membunuhnya!!”.
“Aku,” Mingyu mengatur nafasnya, “aku akan membunuhmu sekarang juga, Hyung!! Bersiaplah untuk mati!!”.
“Dor!!” tembakan itu meleset ke arah dada kiri pria tua tersebut.
Solji terkejut bukan main, “Kim Sonsaengnim!!!”
jeritnya melihat pria tua itu sudah tersungkur jatuh di sampingnya.
“Tidak, tidak, tidak!!” Junhui mulai panik begitu mengetahui keadaan Pak
Kim.
“Jihun Hyung! Kau mendengarku,
kan?!” Mingyu menepuk-nepuk pipinya, “Apa mungkin Hyung...,”.
***
Junhui tidak bisa mengatur nafasnya sendiri, “Maafkan aku, kawan-kawan,”
lirihnya, “aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya.”.
***
“Kau kejam sekali pada Ibumu.”.
“Lebih kejam mana ―aku atau Ibu?”.
“Cukup, Jeon Won Woo!!!”.
“Aku lebih senang dipanggil dengan nama Park meski itu kedengaran kuno
dan menyedihkan.” lanjut Wonwoo, “Daripada aku menggunakan nama asli dengan
marga yang dipaksakan.”.
“Dan aku takkan pernah mengampuninya.”.
***
comming soon...
Aim
Part I : Get to Know Us
***
Ppabam~~...
Near berharap banyak yang menantikan Aim ini, ya, Reader-deul^^ Semoga banyak yang baca dan tanggap juga sama karya Near yang satu ini. Jangan jadi siders deh pokoknya!^^
Ditunggu, ya, Aim part pertama, Get to Know Us.
Gamsa hamnida^^
Author
Near