[FF] 160207-160208 Imagine with Near - SEVENTEEN

3:19 PM 0 Comments A+ a-

Imagine with Near - SEVENTEEN

160207-160208 Edisi I 

Oke, Near hadir kali ini dengan sebuah FF ficlet, drable, compilation, atau apalah Near juga bingung nyebutnya. Karena FF berikut merupakan hasil dari imagine Near untuk grup Fanfiction SEVENTEEN tertutup di Facebook..


Seneng deh responnya positif, dan bahkan ada yang minta diadain lagi^^ Nah, dengan dipostingnya FF ini berarti pertanda edisi yag kedua akan Near buka!!^^

Untuk saat ini, Near hanya buka untuk SEVENTEEN, dan itu hanya untuk sebuah grup fanfiction khusus Seventeen di Facebook. Near minta mereka yang pengin dibikinin imagine untuk komentar di postingan Near di grup tersebut beserta nama Korea dan bias mereka di SEVENTEEN.

Sebagai tanda terimakasih, Near juga akan mencantumkan kalian-kalian *kalo baca* yang sudah berkomentar di tiap imagine yang Near buat^^

Dan inilah hasilnya, jreeng jreeeng~~...!!




160207
#imaginewithNear


Kim Han Na x Wen Jun Hui

cr : 휘아야
Ponsel itu diaktifkan.

"Ting! Ting! Ting!" dan begitulah bunyi ponselnya untuk beberapa detik kedepan.

"Huft, sudah tau sibuk, ponsel dimatikan, masih saja kirim pesan. Junhui pabo." gerutu Hanna.

Tak sengaja Hanna membaca beberapa pesan yang paling baru.

"Junhui?" ada rasa senang dan bingung dalam nadanya.

"Hanna-ya odiya? Kau sibuk?", "Hei, cobalah tengok jendelamu.", "Ternyata di luar dingin, ya?".

Satu jam yang lalu?! Hanna terperanjat membaca detil pesan-pesan itu.

Junhui pabo, batin Hanna. "Kau pikir kau bisa luluhkan hatiku?!".

Lalu sebuah pesan masuk. "Sudah tidur? Kalau belum, cepatlah keluar. Dan pakai pakaian hangatmu." dari Junhui.

Bukankah Jun baru saja terbang ke Cina? Bagaimana dengan jadwal sepadat itu Jun bisa sampai di depan rumahnya --sekarang? Heran gadis itu.

***

Dan benar, Jun di sana.

"Hanna-ya," cengir Jun.

"Mau apa kau ke sini? Kau, kan sibuk dengan jadwalmu?" ketus Hanna, Jun terdiam. "Wo hen ni.".

"Jadi beginikah sambutanmu begitu aku pulang ke Korea diam-diam?" Jun kelihatan pasrah, "Salahku tak pernah membalas semua pesanmu selama enam bulan. Junhui pabo." ia tersenyum kecut.

Bagi Hanna, sudah seharusnya Jun menyadari itu.

"Aku sudah minta izin Coups Hyung, memohon pada manager, dan akhirnya aku hanya diberikan waktu dua puluh empat jam --kurang-- untuk kembali ke Korea, menemuimu, lalu terbang lagi ke Cina.".

Tunggu, Jun bilang apa?

"Sebenarnya alasanku pada Coups Hyung dan manager jelas jauh berbeda, aku bohong pada manager. Hihihi."

Junhui benar-benar pabo! Kalau ia melakukan ini ia bisa saja akan menanggung hukuman berat dari management! Hanna serasa ingin menarik kata-katanya barusan.

"Ahh Junhui pabo, gitu kan yang biasa kau ucapkan? Ayo ucapkanlah, aku merindukannya." Jun berusaha tersenyum.

Namun bibir Hanna kelu.

"Ngambek ya? Hao. Hao."  Jun mengangguk, "Mungkin harusnya aku bersabar sampai semua jadwalku di Cina selesai lalu pulang ke hadapanmu.".

"Zaijian." pamit Jun sambil tersenyum. Ketika ia berbalik, wajah itu terlihat kecewa.

Hanna mungkin begitu marah padanya yang sudah diacuhkan berbulan-bulan. Itulah kenapa Hanna gantian tak pernah membalas pesan Jun akhir-akhir ini.

"Wen Jun Hui!" terperanjat Jun mendengar suara itu.

"Bruk!" ketika Jun berbalik, Hanna sudah memeluknya erat-erat. Jun terbelalak.

"Aku kedinginan, Junhui pabo." ketus Hanna. Hampir menangis, inilah ungkapan sayangnya.

Jun terkekeh. Betapa manis yeojanya ini. "Dingin, ya? Kasihan." dipeluknya gadis itu.

"Iya, dingin! Wo hen ni!" Hanna menangis sejadi-jadinya.

"Wo ai ni, honey." Jun mengacak-acak rambut itu gemas. "Aku takkan mengacuhkanmu lagi --janji." dikecupnya pucuk kepala itu.

***

Ahaha..
Apakah ini kepanjangan??


***

Jung Hyora x Yoon Jeonghan

cr : 정한AH

"Tap! Tap! Tap!" Jeonghan menoleh melihat gadisnya berlari dengan sangat tergesa.

"Hyora-ya?!" kagetnya, "Kau,".

"Yoon Jeong Han." panggil Hyora. "Mulai sekarang, kita akan berjuang!" dikepalkanya tangan itu.

Jeonghan mengernyit. "Apa yang terjadi?".

"Oh! Itu dia!" seru Hyora melihat beberapa pria berjas berlari ke arah mereka.

"LARI!!" seru Jeonghan lalu menyambar tangan itu. Mereka pun kabur.

"Bagaimana bisa para bodyguard mu itu mengejarmu?!" tanya Jeonghan dalam pelariannya.

"Mian tapi," ujar Hyora, "aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu!".

"MWO?!" geger Jeonghan. "Michyeosseo! Kau bilang gitu ke Ayahmu?!".

"Geurae!" mendengar jawaban Hyora, Jeonghan tertawa lepas.

"Na kheunil-lattda!!!!" Jeonghan menyorakkan bahwa ia berada dalam masalah besar.

Masih dalam kejar-kejaran, Hyora pun tertawa lepas pula. "Urin kheunil-lattda!!!!" ia meneriakkan bahwa mereka dalam masalah besar.

"Michigetta!!!!" keduanya berteriak kompak, artinya mereka pasti bisa gila.

Seakan bermain-main, kedua sejoli itu sangat menikmati pengejaran ini. Berusaha menghalangi langkah para pria tersebut, Jeonghan sengaja membawa dirinya dan Hyora ke sela-sela pasar.

Drum-drum itu, peti-peti itu, dan benda apapun Jeonghan jatuhkan untuk mengahalangi jalan para bodyguard tersebut.

Sampailah Jeonghan dan Hyora pada sebuah gang sempit. Para pria berjas itu melalui mereka tanpa sadar.

"Gila!" Jeonghan masih bisa tersenyum.

"Huft. Himdeureo." Hyora menyeka rambutnya.

Jeonghan melihat pemandangan indah itu. Ia lalu memojokan Hyora hingga gadis itu terkejut karenanya.

"Jangan mengeluh." godanya, "Ini baru awal dari hidup kita yang menantang. Pasti akan ada adrenalin yang lebih menguras energimu ketimbang kejar-kejaran ini.".

"Maksudmu," Hyora ngeri, "Appa akan mengusirku?".

Jeonghan terkekeh, sepertinya bukan itu maksudnya.

"Cup." ia berhasil mencium bibir itu.

"Nanti kau juga akan 'merasakannya'." Jeonghan tersenyum setelahnya.

Baru sepersekian detik keduanya menikmati kebersamaan ini, "ITU MEREKA!!" para pria gagah itu memergoki keduanya.

"LARI!!" seru Hyora dan Jeonghan, sebelum akhirnya mereka kembali bermarathon-ria.

"Michigesseoyo!!!!!".

***

Kyaaa~~ ottokhaji~~
*ngoyak-ngoyak mamih*

Imagine yg ini penuh olahraga kayanya.
Khukhukhu


***

Jeong Sangri x Boo Seungkwan

cr pic : SEVENTEEN official fanpage

Hari ini, hari di mana semua orang terlihat sangat bahagia di sekolah. Namun tidak untuk gadis itu.

Sebuket bunga itu rasanya tak ingin ia berikan pada Seungkwan. Rasanya ia ingin berlari saja, meski harusnya ia berbahagia bersamanya juga.

Sangri tertunduk. Ia merapatkan coat-nya, lalu berbalik dan pergi begitu saja.

"Ya! Jeong Sangri!" suara itu memanggilnya sebal.

Sangri jelas mengenal suara itu, tapi ia tak punya keberanian untuk berbalik.

Seungkwan dengan sembrono memutar balik tubuh gadis itu. "Ya! Tidak bersyukurkah kau diberi nama itu oleh ayah ibumu?! Aku memanggilmu!" celotehnya.

Mungkin untuk beberapa tahun ke depan, Sangri akan merindukan ocehan panjang lebarnya tersebut.

"Kau?" Seungkwan heran melihat sepasang mata itu memerah.

Buru-buru Sangri merunduk. "Selamat ya Sunbae. Kau sudah lulus." disodorkannya sebuket bunga itu pada Seungkwan.

Sangri tak sanggup menatapnya. "Aku pasti..., akan menyusulmu..." umpatnya, meski air matanya mulai berjatuhan.

Gadis itu terkejut ketika Seungkwan menarik dagunya mendongak.

"Eyy, kok nangis?" Seungkwan menghapus air mata itu.

Sangri terkejut.

"Aigoo sayang aku baru tau kalau di sekolah ternyata ada yang menyukaiku. Bahkan orangnya sangat dekat denganku pula!".

"Sangri-ya," ucap Seungkwan, "kau salah satu yang ku kagumi di sekolah karena kegigihanmu belajar. Lihat saja kalau kau lulus nanti, kau pasti akan melebihi prestasiku sekarang!".

Sangri menahan air matanya.

"Kau juga cantik. Aku menyesal tidak pernah mengetahui perasaanmu itu. Pasti aku akan menerimamu." ucapan itu membuat Sangri mendongak.

"Kau tau, Sunbae,".

"Mm?".

"Aku pasti akan kesepian.".

Seungkwan tertawa, "Hei. Kau tidak punya teman sekelas? Siapa penghuni sekolah ini? Ada banyak orang tau!".

"Maksudku, sosok yang selalu dekat denganku," ucap Sangri, "yang selalu menceramahiku sampai ku ejek mirip Ibu-ibu.".

Seungkwan tertawa lagi.

"Tidak, tidak." kata Seungkwan, "Kau tidak akan kehilangan sosok itu. Aku janji aku takkan berubah --untukmu.".

Sangri terkejut.

"Hoi, Kim Min Gyu! Ambil foto kami, dong!" Seungkwan menyodorkan ponselnya. "Mana ponselmu?".

"Ne?".

"Mau simpan gambarmu bersamaku gak?".

"Eh, uh, iya," Sangri memberikan ponselnya.

"Nah, sekarang ayo kita berfoto mumpung masih pagi dan belum ada media yang datang." kata Seungkwan.

"Kau, Sangri-ya," kata Seungkwan, "aku gak mau ya, melihat di foto kita nanti kau kelihatan habis nangis." protesnya.

Sangri buru-buru mengatur dandanannya sebelum suara Mingyu terdengar, " Satu, dua, tiga,".

"Kimchi!!".

***

Ini special graduate nya Diva Boo~^^
Ikutan poto dong *panci* eh *kimchi*


***

160208
#imaginewithNear


Han Seul Mi x Choi Seung Cheol

cr : 8월8일

“Hei, ayo bangun.” pagi-pagi Seulmi sudah menggoyahkan tubuhnya.

“Memang sudah jam berapa, sih...?” Seungcheol berusaha mendapat pengertian, ia masih enggan bangkit dari ranjangnya.

“Sudah siang! Bukankah nanti akan ada reunian?! Cepatlah mandi dan bersiap-siap!” sebal Seulmi.

Seungcheol pun bangkit, Seulmi meninggalkannya ke meja rias. “Eh? Baru jam tujuh?” kagetnya ketika melihat jam dinding, “Ey, ini masih pagi!” protesnya.

“Justru itu kita harus bangun pagi-pagi supaya bisa siap-siap.” Seulmi memasang antingnya, “Dan jangan kembali tidur!” bentaknya ketika melihat Seungcheol terhuyung jatuh.

Arrgh, ngantuk. Seungcheol terpaksa menuruti gadisnya.

“Astaga, ada apa dengan dress ini?” kaget Seulmi melihat sosoknya di cermin. Seungcheol melongok dari kamar mandi. “Apa aku sudah mulai gemuk?”.

“Pakai yang itu saja, cocok untukmu.”.

“Tapi kenapa semua dress ku membuatku terlihat aneh?”.

“Sudah pakai yang itu saja.”.

Semua sudah siap, mereka pun berangkat. Seungcheol melihat Seulmi begitu sibuk dengan tatanan rambutnya yang terus saja diubah-ubahnya.

“Ada apa dengan rambutmu? Biarkan saja tergerai, lalu diberi jepitan kecil.” komentar Seungcheol.

“Tidak, tidak.” kata Seulmi, “Pokoknya harus rapi.”.

“Kenapa, sih, gadis itu selalu ribet.” gumam Seungcheol.

Mereka sampai di acara ―yang bisa dibilang resmi― itu. “Ayo masuk.” ajak Seungcheol pada Seulmi ketika mereka berada di depan ballroom.

Namun Seulmi merasa ragu. “Mereka yang datang sangat cantik,” mindernya, ia lalu memandangi dirinya sendiri sebagai bentuk koreksi.

“Apa maksudmu? Kau juga cantik.”.

“Tidakkah kau lihat teman-temanku di sana? Mereka bisa berdandan anggun seperti itu, bahkan tubuh mereka masih seramping terakhir kali kami bertemu. Lantas, bagaimana denganku yang,”.

Seungcheol memutar tubuh itu, menyuruh Seulmi menatap matanya. “Dengar, kau sudah cantik sebagai dirimu sendri. Mereka sudah cantik sebagai diri mereka sendiri. Apa yang perlu kau takutkan?” ucapnya bijak, “Kecantikanmu itu tidak hanya dari luar ―tapi juga dari dalam.”.

Seulmi membeku.

“Di mataku, kau sudah cantik di setiap saat aku melihatmu. Jadi aku mohon, berhentilah mengeluh, karena kecantikan yang sesungguhnya berasal dari kepercayaan dirimu sendiri.” lanjut Seungcheol.

Ia lalu menggandeng tangan itu.

“Let’s go, Beauty,” senyum Seungcheol, mengantar Seulmi masuk ke dalam ballroom acara. Membantunya membangun kepercayaan dirinya yang hilang.

“Oppa,”.

“Ya?”.

“Cup.” dikecupnya pipi itu, “Gomawo.”.

Senang bisa melihat Seulmi tersenyum seperti itu, “Sudah kewajibanku.” senyum Seungcheol.

***

ehem, ehem..
Abah Kupse mah memang paling daebak lah^^


***

Kwon Jihoon x Joshua

cr : XVIIsual

"Hei, Josh." panggil Jihoon.

Namun lagi-lagi gadis itu menemukan Joshua sedang sibuk bersama gitarnya.

"Jihoonie, sudah datang." sambut Joshua datar, sementara pandangannya tertuju pada kayar komputer.

Jihoon memutar bola mata. Jengkelnya punya kekasih seorang musisi : sibuk. Kekasih keduanya ya sudah pasti musik. Tidak, justru Jihoon merasa dirinyalah yang dinomorduakan.

"Sudah jam makan siang, yuk makan di luar." Jihoon berusaha manis. Namun lelaki itu tak memberinya respon yang berarti. "Jisoo-ya!" gertaknya.

"Oh? Mian, aku tidak fokus." akhirnya Joshua memandang gadisnya.

Sayang, Jihoon sudah terlanjur cemberut.

"Ok, ok." Joshua menyingkirkan gitarnya, "Kita makan di luar, ya? Mau makan apa?" tangan itu sedang menonaktifkan komputernya.

Namun Jihoon malah bangkit. "Gak lapar!" ketusnya, lalu pergi begitu saja.

Jihoon rasanya ingin menangis, tapi ia menahannya. Sudah sering Joshua memperlakukannya seperti ini, namun hari ini suasana hati Jihoon sedang tidak baik dan ia sangat membutuhkan perhatian lelaki itu.

"Kau selalu saja mengacuhkanku! Tatap saja kek, apa kek! Jangan cuek gitu! Menyebalkan!" akhirnya air mata itu jatuh juga, "Sayang, kau tidak tau kalau hari ini aku,".

"Ting!" voice message sampai di ponselnya.

"Nal bogo ittneun ni moseubi cham areumdapdago. Dajeonghagoman shipeo." Jihoon membeku mendengar Joshua mengirimi suaranya yang bernyanyi.

"Nun ape boineun ni modeungeol da akkigo sipeo. Geunyang naege wajumyeon doe. I want you to want me baby.".

Jihoon tersentuh mendengarnya, namun ia terperanjat ketika mendengar sebuah bisikan bernyanyi di telinganya.

"I wanna be your morning baby. Ijebuteon B alright." terkejut Jihoon menemukan Joshua di belakangnya, "Onjekkajina." Joshua melanjutkan.

"Kau mengagetkanku." senyum Jihoon.

"Kau gak ngambek lagi, kan?" ucapan Joshua membuat Jihoon tersipu.

"Kruwwk.." tak sengaja terdengar suara perut yang berdemo.

"Jadi itu yang namanya gak lapar?" ledek Joshua.

"Jisoo-ya~.." Joshua dihadiahi pukulan dari Jihoon.

"Cup." kecupan di dahinya membuat Jihoon berhenti merengek.

"Tunggu apa lagi? Lapar kan?" Joshua tersenyum sambil merangkul pinggang itu.

***

Aigoo udah dinyanyiin, diajak makan pula
Pengen~~..


***

Jin Ah Reum x Lee Chan

cr : MiChan

Ah sial! Aku terlambat! Gerbang sekolah sudah ditutup dan, "Jin Ah Reum!". Oh-oh, aku mendengar suara mengerikan itu lagi.

Seorang guru pria datang menghampiriku.

"Terlambat lagi?" koreksinya, aku membungkuk minta maaf pada beliau.

"Joesonghamnida, Sonsaengnim!" aku terperanjat melihat seseorang datang menyusul keterlambatanku.

"Lee Chan, benar?" koreksi beliau.

"Hehehe. Iya, Pak." cengirnya.

Wah, bagaimana bisa kebetulan ini terjadi?

"Ah, ya sudahlah!" beliau mulai mengurut dahinya, "Pergi ke lapangan basket --sekarang!!!".

***

Berkutat dengan ember dan pel, itulah aku dan Chan saat ini. Kesialan membawa berkah, yuhu~... Namun entah kenapa, Chan terdiam saja sedari tadi kami membersihkan lapangan basket indoor ini.

"Uh, eum," Chan menggaruk tengkuknya, "aku harus..., membereskan bolanya...".

Chan berjalan ke arah beberapa bola basket yang berserakan, namun tanpa sengaja, "Sluut...".

"Gubrak!" ia malah terpeleset dan jatuh.

"Aigoo..." rintihnya, lucunya aku malah tertawa. "Ya! Areum-ah! Jangan tertawa saja!".

"Iya, iya!" sebalku lalu membantunya bangun. Astaga, betapa licinnya lantai ini hingga aku, "Bruk!" jatuh terduduk bersamanya.

"Apeo~..." rintihku, "Pabo! Lantainya licin sekali! Dan kau, Chan-ah, kau berat tau!" omelku.

"Kau lucu, ya?".

Eh?

"Kalau diperhatikan, namamu sesuai dengan dirimu, hanya saja namamu kurang panjang lagi." kata Chan, "Areum, areumdaun kkochi piotseumnida!" ujarnya, yang artinya bunga yang indah telah bersemi/mekar.

"Itu kepanjangan!" jaimku, "Mana ada nama sepanjang itu.".

"Ada, dong!" kata Chan, "Aku yang akan memanggilmu begitu.".

Glek. Dia bilang apa?

"Maukah kau jadi bunga indahku yang telah mekar?" tanya Chan.

Lee Chan, ia lebih dari sekadar teman buatku. Ia mengenalku betul, aku pun mengenalnya demikian. Jadi, apakah aku harus ragu ketika ia bergerak untuk...,

menciumku...?

"Lee Chan! Jin Ah Reum!!" sayangnya kejadian itu urung kami rasakan ketika guru itu kembali untuk mengecek kami berdua.

Sontak kami berusaha bangun meski berkali-kali jatuh karena lantai yang begitu licin. Akhirnya kami berhasil bangkit.

"Apa ini?! Pokoknya, begitu aku kembali, kalian sudah beres dengan lapangan ini!!" kata beliau.

"Ne, Sonsaengnim!" jawab kami berdua seiring guru itu berlalu.

Kami terkekeh. Malu rasanya mengingat apa yang telah kami berdua lakukan tadi, apalagi sampai tertangkap basah oleh guru sendiri. Dasar bodoh

"Ayo, kita bereskan ini semua, nae Areumdaun kkochi," kata Chan.

Aku termangu ketika ia memanggilku begitu.

"Wae geurae?" tanya Chan, "Apa kau tak ingin jadi Areumdaun kkochi-ku...?".

Lalu perlahan-lahan, aku tersenyum, "Tentu," ujarku, "tentu saja aku ini Areumdaun kkochi-mu.".

***

Neoraneun kkochi piotseumnida Neoraneun kkochi barabomnida
Areumdaun kkochi piotseumnida!!^^


***

Yoon Seo Na x Seo Myung Ho

cr pic : insomnida

Seona menyeruput es kopi itu sebelum seorang lelaki mendekatinya. “Sugohaesseo! (Kau sudah bekerja keras!)” ucapnya pada Myungho sambil memberinya handuk.

Myungho segera merebut sedotan itu dan menyeruput minuman tersebut sebelum ia berlalu bersama teman-temannya yang baru turun dari panggung.

Tak sengaja, seorang teman melihat tingkah Seona dan Myungho itu dari kejauhan.

“Kau dan Myungho itu,” ucapnya, “diam-diam pacaran, ya?”.

“Ah, pacaran?” heran Seona setelah menyeruput minumnya, “Huh, ngomong apa, sih?”.

“Eyy, jeongmallo! Kataku, mana ada laki-laki dan perempuan itu bersahabat? Apalagi melihat tingkah kalian barusan, aku curiga kalian sudah pacaran diam-diam.” ceplos gadis itu.

“Ish, ngomong apa kau? Lagipula tingkah kami yang mana yang kau maksud itu?!”.

“Itu, lho! Kalian minum pakai sedotan yang sama!”.

“Ah, itu mah sudah biasa.”.

“Apa kau tidak menyukai Myungho? Atau kalau tidak, apa Myungho yang menyukaimu?”.

“Ish, berhenti bicara omong kosong!” umpat Seona menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

***

Hari ini, suasana di ruang latihan terasa aneh. Beberapa teman memandangi Seona dengan tatapan yang tidak biasa.

“Ada apa dengan mereka?” gumamnya, lalu duduk di samping Myungho.

Di mata Seona, Myungho juga aneh, ia tidak merebut minuman yang sedang gadis itu seruput padahal ia pasti sudah kelelahan dance dari tadi pagi.

Latihan berlalu dengan suasana hatinya yang canggung dan menduga-duga. Hingga ketika mereka berkumpul untuk evaluasi akhir, Myungho akhirnya membuka mulut.

“Kau lelah?” tanya Myungho.

“Hu-um, panas pula.” ucap Seona.

“Bukan itu maksudku,” Myungho mempertegas, “kau lelah dianggap sudah berpacaran diam-diam denganku?”.

Seona menertawai kebodohanya, “Gak juga, bagiku itu pujian karena kita sangat dekat.”.

“Lalu apa kau tidak ingin kita jadi lebih dekat lagi?”.

Seona menerka-nerka. “Memangnya kenapa..., kalau..., demikian...?”.

“Nekkohaja (jadilah milikku).” ada maksud dari senyumnya.

Seona tersenyum malu-malu, “Lalu apa yang akan terjadi kalau aku menjawab iya?”.

“Kami akan melempari kalian dengan ini!!!” seru seisi ruang latihan.

Sontak semua yang ada di sana menghujani Myungho dan Seona dengan sepatu, jaket, sapu tangan, topi, dan apapun di dekat mereka sebagai ucapan selamat yang unik.

Myungho pun bergegas memeluk Seona dan melindunginya.

Ternyata, suasana aneh yang menyerang latihan kali ini karena teman-teman mendesak Myungho untuk mengutarakan perasaannya pada Seona yang sudah lama dipendamnya. Hanya saja, Myungho yang aslinya dari Cina tidak tau caranya merangkai kata dalam bahasa Korea.

“Ya! Seo Myung Ho! Cuma bilang nekkohaja saja?!”.

“Ayolah, katakan sesuatu! Kau membosankan!”.

“Hei, biarpun hanya satu kata, Seona pun menerimanya.”.

“Benar! Benar!”.

Ketika mereka bersahut-sahutan, diam-diam Myungho merangkul tubuhnya yang kecil dan berbisik, “Wo ai ni.”.

***

ciee
nekkohaja^^ biarpun cuma nekkohaja <3


***

Han Yun Hee x Woozi

cr : 십일월소년

"Eh, eh, temanmu yang tadi, si Han Yun Hee itu, lho. Yang tadi bersamanya itu serius bukan adiknya?".

"Tentu saja, dia kekasihnya Yunhee.".

"Kok, pendek, ya?".

"Ssh, sembarangan! Mungkin itu karena Yunhee pakai heels.".

"Anio. Harusnya, kan, masih ada jarak yang bisa 'ditoleransi', tapi cowoknya Yunhee itu jelas pendek untuk laki-laki seusianya."

Jelb, tak sengaja ku dengar ucapan yang dibisikan ke sahabatku di acara ulang tahunnya ini. Benarkah sepeti itu?

Aku melirik ke arah Woozi yang sedang bersama beberapa sahabatnya di pojokan sana. Berkumpul bersama mereka, dia jadi kelihatan mungil. Aku melirik lagi ke arah kakiku.

Rasanya memang harus ada yang diubah dari penampilanku.

***

"Sudah siap?" tanya Woozi.

"Kau duluan saja, nanti aku menyusul." umpatku, sengaja membiarkannya pergi ketika aku memilih sepatuku.

"Oke, jangan lama-lama, nae Yunhee." Woozi pun berlalu, aku bergegas memilih sepatu.

Kami berangkat menemui beberapa teman kami menggunakan bis. Sayangnya hari itu kami berdesakan jadi kami terpaksa berdiri. Woozi meraih pinggangku, tak ingin aku terlalu jauh atau terbawa arus para penumpang yang berdiri.

Justru di saat itu ia tersadar. Ia bahkan bisa melirikku dengan mudah. Aku mulai gugup.

"Loh, kok," Woozi menelitiku dari ujung kepala hingga kaki, "kau pakai converse?" kagetnya, "Tumben." senyumnya.

"Janjian santai. Jadi sepatunya menyesuaikan." umpatku, dan Woozi mengangguk saja.

Sampai di kafe itu, kami berdua bertemu teman-teman, tak lupa juga beberapa teman baru yang kami temui di acara ulang tahun kemarin.

"Annyeong, kau pasti Han Yun Hee, benar, kan?" sapa gadis itu, "Dan kau pasti kekasihnya, Lee Ji Hoon.".

"Kita berjumpa lagi." senyumku bersama Woozi.

"Kalian kelihatan beda? Oh! Tinggi kalian kelihatan sama!" ucapnya, "Jadi terlihat serasi, ya?".

Woozi tertegun, apalagi aku. Sial, kenapa ia bisa berkata seperti itu?! Ugh, rasanya ingin ku perban mulutnya yang cerewet itu!

Selama acara, aku dan Woozi terdiam. Hingga akhirnya, "Oh, tali sepatumu." ingat Woozi. Baru aku mau menyambar tali sepatuku yang berantakan, lelaki itu sudah mengikatkannya untukku.

Sepatu yang merepotkan.

"Kau tidak perlu beralasan memakai converse padaku." aku terkejut mendengar ucapannya, "Aku tau kau bermaksud baik, tapi kau tak perlu lakukan itu, nae Yunhee-ya.".

Woozi mendongak dan tersenyum padaku.

"Biarkanlah orang berkata apa, bukankah kita sudah merasa nyaman satu sama lain?" senyumnya, "Aku tak ingin kau merasa tidak nyaman memakai converse lamamu dan menyulitkanmu berjalan karena harus mengikat talinya setiap waktu.".

Aku tertunduk ketika Woozi kembali duduk di sampingku.

"Pakailah heels-mu, Yunhee, sepatu-sepatumu itu, jangan hiraukan aku. Wanita memang seperti itu, kan?" ia genggam tanganku, "Senyamanmu saja.".

"Woozi-ya," kataku, "kau membuatku bingung.".

Woozi terkekeh, Lalu meraih pinggangku lagi. "Kau tak perlu bingung, lakukan apa yang membuatmu nyaman, biarkan orang lain menilai kita." katanya.

Aku tersenyum.

***

Ciee ganci~~
Aku terhura *eh* terharu deh^^


***

Baek Su Yeon x Kwon Sun Young

cr : STARRY NIGHT

"Bruk." dengan jengkel Suyeon membuang semua hasil kerjanya yang ditolak mentah-mentah.

Semua projek yang ia kerjakan berhari-hari, bahkan hingga ia harus bermalam, akhirnya hanya masuk tong sampah --seperti saat ini ia lakukan.

Gadis itu jatuh terduduk. Di atas kedua kakinya, ia memendam wajahnya pada kedua lipatan tangannya.

"Hik," sesaknya, "selalu saja karyaku ditolak. Apa mereka tidak tau perjuanganku?! Kapan mereka akan menerimaku?!".

"Nanti, pada saatnya.".

Suyeon mendongak ketika mendengar suara yang tak asing menyahutinya. Rupanya itu Sunyoung.

"Hai." cengirnya, justru Suyeon malah kembali memendamkan wajahnya.

Sunyoung pun ikut berjongkok bersamanya, "Kayaknya, si manis ini sedang menangis? Butuh perhatian, ya?" ucapnya.

"Pergi sana." galaknya.

"Kau tau, bahkan J. K. Rowling baru bisa menerbitkan Harry Potter-nya setelah delapan puluh kali ditolak penerbit.".

"Sok tau.".

"Ish, kau saja yang,".

Tik, tik, tik. Tetesan hujan terasa menimpa tubuhnya. Sunyoung mendongak.

"Hujan?" gumamnya,

Buru-buru ia bangkit lalu menarik tangan gadis itu. "Ya! Ppalli! Hujannya mulai deras!".

Suyeon mendongak. Benar, hujan memang turun. Tapi entah kenapa ia tak ingin beranjak dari sana.

"Ya! Mwohae?" seru Sunyoung melihat gadisnya justru tersenyum memandangi langit mendung itu.

Suyeon lalu berlari ke tengah-tengah lapangan di dekat mereka. Tangannya menengadah dan kepalanya mendongak, ia ingin merasakan hujan membasahi tubuhnya.

"Syur~... Yuuhuu!!" Suyeon terperanjat melihat Sunyoung meluncur bersama sebuah cart yang didapatnya di dekat tong sampah.

"Ya! Sunyoung-ah!".

Jadilah mereka bermain hujan-hujanan siang itu. Suyeon mendorong cart dengan Sunyoung di dalamnya. Mereka berlari-larian, bermain ayunan di tengah-tengah derasnya hujan. Berseluncur dengan skateboard bekas.

Apapun Sunyoung lakukan agar ia tak melihat air mata itu lagi.

"Ayo, melompatlah!" seru Sunyoung dari bawah sana. "Pegang tanganku dan lompat!" ia ulurkan tangan itu.

Suyeon meragu. Ia raih tangan itu dan melompat turun hingga tak sengaja terpeleset, dan "Hap.".

"Tertangkap." Sunyoung berhasil menangkapnya sebelum terjatuh. Di saat itu pulalah ia tak melepaskan pelukannya dari gadis itu.

"Sunyoung,".

"Suatu hari nanti, kau akan menjadi sukses seperti mereka. Nikmatilah perjuanganmu." bisik Sunyoung.

Suyeon pun tersenyum.

"Jangan pernah menyerah.".

"Aku tau," katanya, "kau segalanya bagiku.".

***

Aduh, jadi inget MV-nya BigBang inih..
*gak ikut ujan2an*


***

Kim Jae Shi x Jeon Won Woo

cr : Moody Sparkle

Punya pacar seperti dia itu menyebalkan. Selalu saja buku dinomorsatukan, sementara aku terbengong di sebelahnya. Selalu saja aku datang ke sebuah acara sendirian, padahal aku sudah memiliki pasangan : Jeon Won Woo.

Contohnya seperti hari ini, di tengah malam begini aku berjalan sendirian sepulangnya aku dari pekerjaanku. Memang berbahaya, tetapi hari ini aku memang kedapatan shift sore dan baru pulang sekarang –sekaligus aku ingin tau apakah Wonwoo khawatir atau tidak.

Jarak tempatku kerja dengan rumah sewaku memang agak jauh. Bahkan hingga lima belas menit berjalan, aku tak menemukan kehadiran si makhluk nokturnal itu. Wonwoo memang sosok yang misterius.

Hingga tanpa sadar, aku melewati wilayah rawan itu. Beberapa pria berpenampilan menyeramkan mengikutiku dari belakang. Satu, dua, tiga, sepertinya jumlahnya ada tujuh orang.

“Sendirian, Agassi?” goda salah satunya.

Aku acuh.

“Hei, aku bertanya!” ia menarikku.

“Lepaskan! Dasar brandalan!” seruku. Sial, kenapa Wonwoo tidak muncul malam ini?! Salahku mencari perkara dengannya.

“Mencari siapa, Agassi?” aku terjebak.

Aku memberontak berusaha lari dari cengkeraman maut mereka. Persetan kalian, berani-beraninya menyentuhku! Tapi aku jelas kalah jumlah dan tenaga.

“Aku mohon lepaskan aku!!” rengekku, aku meronta dan menangis. Sungguh aku menyesal telah melakukan hal ceroboh ini demi memancing perhatian seseorang yang sebenarnya tidak akan muncul.

“Buk! Buk!” aku terkejut ketika melihat beberapa pria di belakang sana terjatuh satu persatu. Dan benar saja, itu Wonwoo.

“Oh, halo, Nokturnal.” mereka pasti tidak asing dengan Wonwoo.

“Kalian akan mati jika menyentuh gadis itu.” sinis Wonwoo.

Satu per satu mereka melawan lelaki itu. Dan, ya, Wonwoo memang sendirian, tapi ia berhasil menjatuhkan mereka meski harus menderita beberapa pukulan hingga ia jatuh bangun.

Aku terkejut ketika seorang pria mengeluarkan senjata tajam. Wonwoo memang berhasil menghindar, namun tak semudah itu.

“Jeon Won Woo!!” aku terpekik ketika tikaman itu meleset ke lengannya. Pria itu berhasil menyayat lengannya.

Nah, itulah kenapa Wonwoo disebut si Nokturnal –karena beginilah dunianya, sedikit kriminal.

Puas melihat mereka ambruk, Wonwoo berjalan ke arahku dengan tergopoh-gopoh. “Mau nyari masalah, ya..., Jae-shi-ya...?” cengirnya lalu,

“Bruk!” Wonwoo jatuh ke dalam dekapanku.

***

“Hik,” aku menangisi kecerobohanku.

Dengan segera, aku membawa Wonwoo ke rumahku dan mengobatinya. Melihatnya seperti ini, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.

“Hik, hik,” aku tersedu.

“Berisik.” ketus Wonwoo.

“Kenapa menangis?” ku dengar ia sedikit meringis.

“Kau tidak tau siapa yang membuatmu begini?!” gertakku, “Aku! Aku sengaja berjalan sendirian untuk memancingmu keluar dari persembunyianmu! Tapi sungguh, aku tidak bermaksud mengundang para gangster itu untuk menangkapku!”.

“Huh,” sinis Wonwoo, “kau bodoh juga ya.”.

Ku pukul dadanya, “Aw!” rintihnya pelan.

“Eh, maaf –sakit, ya.” aku lupa kalau ia sedang terluka.

“Buat apa menangis, Jaeshi-ku,” Wonwoo menyeka noda merah di ujung bibirnya, “semuanya sudah terjadi. Lagipula mereka itu,”.

“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” aku menunduk malu –malu pada perbuatanku sendiri. Karena aku, Wonwoo hampir saja mati.

Namun lelaki itu segera menarik daguku dan mencium bibirku untuk beberapa lama –itu terjadi secepat kilat.

“Jangan khawatirkan aku, yang seperti ini sudah biasa bagiku –kau tau aku siapa, kan?” kata Wonwoo. “Aku juga berjanji, tidak akan mengacuhkanmu lagi. Dan jangan lewati daerah rawan itu lagi.”.

Aku mengangguk mantap.

“Sekarang tidurlah.” ujarku.

“Sendirian?”.

“Ya, baiklah.” aku pun ikut berbaring di sampingnya.

“Kau mau aku melakukannya?”.

“Di saat kau sedang luka-luka begini kau ingin melakukannya?!” gegerku.

“Bercanda.” dalihnya. Wonwoo tersenyum, lalu mencium bibirku lagi.

Wonwoo itu..., benar-benar misterius..

***

Woi, woi...
Itu ngapain itu saoloh..


***

Kim Hye Sang x Vernon Hansol Chwe

cr : chuchu!

“Kau datang sendirian? Mana si Caprio itu? Kau tak datang bersamanya?”.

“Ah! Kalian sudah putus jangan-jangan?”.

Putus? Yang benar saja? Tapi iya, memang begitu rasanya. Maaf, ya, dia memang sok sibuk ―dasar rapper. Aku pun tak berharap pesanku selalu dibalasnya. Lagipula aku sudah lelah mengocehinya terus.

Putus? Benar, rasanya aku ingin mengakhiri semuanya.

“Vernon, di mana?” tanyaku lewat pesan. Awalnya, aku hendak menunggunya hingga jalan-jalanku bersama teman-teman usai, lalu mengecek apakah pesanku sudah dibalasnya atau belum.

Namun ternyata, “Di studio. Why?” Vernon membalasnya sepersekian detik kemudian.

Aku terperanjat. “Nanti malam ketemuan, ya.” ku ketik pesan itu sebelum Vernon menghilang.

Cukup lama, sekitar dua menit aku mendapat balasan, “Aku usahakan.”. Huh, jawaban yang tidak memuaskan! Bukan harapanku!

Tapi ya, kalau memang itu jadi jawaban menyebalkanmu yang terakhir kali ku ladeni.

***

Seperti yang ku duga, ia terlambat. Aku sudah di tempat kami biasa bertemu, berdiri sendirian dan agak kedinginan.

Tiga puluh menit kemudian, ku temukan sosoknya datang. “Sorry, too late, Hyesangie.” cengirnya.

“It’s okay, aku cuma mau bilang ini,” kataku, “let’s get it over, Vernon.”.

Lelaki itu tak terlihat terkejut. Aku mengernyit.

“Kau kelihatan bingung?” koreksinya.

“Kau gak kaget?” jelasku.

“Oh my God! You wanna get it over! So shocked!” Vernon berakting seperti terkejut, “Gitu?” cengirnya lagi.

Menyebalkan bocah ini.

“Oke, kalau mau putus,” ucap Vernon enteng, “lihat saja, setelah ini kau akan mencari siapa?”.

“Siapa yang akan jadi tempatmu pukul-pukulan dikala harimu tidak menyenangkan, siapa yang akan kau peluk ketika kau merasa down, siapa yang kau pinta ini-itu ketika jalan-jalan keluar, dan terlebih lagi,” kata Vernon, “siapa yang akan melindungimu.”.

Aku terkejut.

“Alright, see ya, Kim Hye Sang!” Vernon mengantongi tangannya dan berbalik, “Hati-hati di jalan, ya.”.

Aku menggerutu melihatnya meninggalkanku begitu saja. Sial! Gengsiku tidak mampu mengalahkan perasaanku sendiri! Vernon benar, dia memang benar! Sebenarnya aku tak bisa apa-apa tanpanya.

Tapi dia lelaki yang menyebalkan yang sibuk sendiri!

“Heh! Choi Han Sol!” bentakku di belakang punggungnya.

Vernon tak lagi terkejut dan berbalik ke arahku.

“Balas pesanku atau aku akan benar-benar minta putus dan membunuhmu!!” ku kejar ia segera. Vernon tertawa, membuatku merasa malu, benar-benar malu.

Puas dengan tawanya, Vernon lalu menggenggam tanganku dan mengantarku ke dekapannya. “Iya, iya, sorry, sweety.” ucapnya, “Haduh, gak lagi deh mengacuhkanmu, nanti putus beneran, udah gitu dibunuh pula.” lalu ia terkekeh, “Sadis...!”.

Setelah mencium keningku, Vernon menuntunku.

“Ayo, ku antar pulang.” katanya, “Jangan khawatir, di sini ada Vernon Hansol Chwe yang akan melindungimu.”.

“Fronting.” ku pukul dadanya, Vernon hanya tertawa.

***

I woke up kkumajyeodo baby.
Neol ttaradalneun kkum kkwo ottoke~..

*author-nya nyanyi sendirian*


***

Hwang Sung Hyo x Dokyeom

cr : MELLOW MAYB

Langkahnya yang tak jelas membawanya ke sebuah taman yang membeku. Perosotan, ayunan, jungkat-jungkit, semuanya berwarna putih.

Sunghyo duduk di atas ayunan itu setelah membersihkan atasnya. Ia berayun sedikit, betapa sepinya ulangtahunnya kali ini. Ia hanya menerima ucapan dari keluarganya di kampung. Hidup di kota orang ternyata begitu sulit.

Ingin melupakan kesedihannya, Sunghyo pun berayun kuat-kuat. Namun ia lupa akan ayunan yang sedikit beku itu. Jadi Sunghyo tergelincir dari tempatnya berayun dan,

"Bruk!" terjatuh.

"Aw!" rintihnya, "Menyebalkan! Sungguh menyebalkan ulangtahunku kali ini!!".

"Hihihi." lebih menyebalkan lagi, Sunghyo mendengar seseorang menertawainya.

Sunghyo menoleh dan menemukan Dokyeom bersembunyi di balik pohon dan terkikik di sana. "Ya!! Dokyeom-ah!! Berhenti menertawaiku!!" Sunghyo bangkit dan mengomelinya.

"Oops, ketauan." nada yang nakal. Dokyeom mendekat. "Ngapain kau di sini? Sendirian saja? Lagi merenung, ya? Galau? Hahahaha.".

Ish, lelaki ini. Langsung saja Sunghyo menendang kaki itu. Dokyeom merintih di tengah tawanya.

"Pergi sana!".

"Jinjja? Pergi begitu saja? Kau gak mau dapat hadiah ulangtahun?" Dokyeom menggodanya.

Hadiah? Sejenak Sunghyo terdiam.

"Jja-jjan!" Dokyeom mengeluarkan sesuatu dari kantong coat-nya.

Tunggu, sebuah pita?

"Itu? Hadiah?" koreksi Sunghyo.

"Eeeyy, kau gak paham juga ternyata." kata Dokyeom, "Jjan!" katanya sambil memegang pita itu dengan kedua tangannya sekali lagi.

Sunghyo tak juga paham.

"Aku!" kata Dokyeom, "Aku hadiahmu! Aigoo pabo.".

"M, mwo?" benarkah ini terjadi, itu yang ada di benak Sunghyo.

Hingga tanpa sadar, "Oho! Pipimu memerah!" goda Dokyeom.

"Berhenti menjahiliku!!" ketika Sunghyo memukulinya, Dokyeom berhasil menahan kedua tangan itu dan berkata,

"Niga johahae," ucapnya dalam, "Sunghyo-ya.".

Dokyeom tersenyum ketika melihat telinga Sunghyo juga memerah. Gemasnya. Kali ini, Dokyeom meraih pinggang itu dan mencium bibir itu.

“Dingin sekali?” kaget Dokyeom, lalu mengulangi perbuatannya.

“Cukup.” Sunghyo menahannya untuk yang kesekian kalinya.

“Ah, wae?”.

“Nanti ada yang lihat,”.

“Masih pagi, lagipula di luar dingin sekali. Coba cek ponselmu, sudah -3!” kata Dokyeom, “Sekarang, biarkan aku menghangatkannya, oke?”.

“Dokyeom-ah,”.

“Ng?”.

“Kau hadiahku yang terindah.”.

Dokyeom tersenyum, “Kau tau,”.

“Ng?”.

“Aku gak tau mau ngomong apa.” cengirnya, lalu Dokyeom mengulanginya lagi.

***

woi di sini dingin juga kalee
*apalah apalah*


***

Park So Jung x Kim Min Gyu

cr : SEVENTEEN Official Fanpage

“Mingyu-ya!!” Mingyu menoleh ketika melihat gadis itu berlari ke arahnya.

“Sojung-ah!!” Sojung pun menerima lambaian tangan bahagia dari Mingyu.

Memiliki perbedaan tinggi yang kontras, mereka memandang satu sama lainnya lekat-lekat. “Akhirnya kita lulus juga.” cengirnya.

“Igeo.” Sojung membawakan sebuket bunga.

“Aku juga membawakannya untukmu! Kita jadi bertukar sebuket bunga, ya?”.

Terkekeh mereka bersama-sama.

Sojung terkejut ketika Mingyu menyambar tangan itu, “Dingin sekali? Mana sarung tanganmu?” Mingyu sedikit panik.

“Uh, anu,” Sojung canggung, “ada di dalam tas.”.

“Ish, kau ini, kenapa tidak dibawa sekalian? Dasar pabo.”.

Mingyu lalu mengepalkan kedua tangan mungil itu dan meniupkan uap nafasnya hingga tangan Sojung itu menjadi hangat.

“Kim Min Gyu,” panggil Sojung pelan.

“Apa?” Mingyu masih sibuk menghangatkan tangan itu.

“Bagaimana kalau..., selepas kita lulus...,”.

“Sini, pegang telingaku.” suruh Mingyu, lalu menempelkan kedua tangan Sojung itu di telinganya, “Telinga biasanya selalu hangat.” katanya, lalu mulai menyentuh kedua pipi Sojung.

“Mingyu-ya, bagaimana kalau,”.

“Wajahmu juga dingin. Astaga.” Mingyu menghangatkan wajah itu dengan kedua tangannya, “Harusnya kau,”.

“Pabo! Aku lagi ngomong!” Sojung menendang kaki itu.

“Aw!” rintih Mingyu.

“Apa kau tidak mau mendengarku berpamitan?!” mata Sojung mulai memanas.

Mingyu terperanjat. “Berpamitan?” ulangnya, “Memangnya kau mau pergi jauh?”.

Sojung mengatur nafasnya, “Mungkin akan sulit kembali.” katanya, “Aku akan kembali ke kampungku di Changwon dan kuliah di sana. Keluargaku harus merawat nenekku yang sakit keras.” air matanya jatuh, “Dan aku harus berpisah denganmu...”.

Mingyu mematung, kenyataan yang sulit diterimanya.

“Tapi,” Mingyu gelagapan, “bagaimana bisa? Kenapa tidak kau kuliah di sini dan,”.

“Aku tidak bisa menentang kehendak Ayahku!” sebal Sojung, “Lagipula aku sudah tidak pernah pulang kampung ke Changwon sejak usiaku sepuluh tahun! Aku mohon jangan buatku kesulitan berpisah denganmu!”.

“Sojung-ah,”.

“Tidak bisakah kau melepasku segera dan mengakhiri semuanya? Aku hanya ingin kau mengabulkan itu saja, tidak lebih. Aku hanya ingin,”.

“Cup.” Mingyu membungkam mulut itu.

“Cukup.” katanya, “Aku akan melepasmu, aku akan membiarkan kau pergi, tapi dengan syarat.”.

Sojung menatapnya dengan mata yang masih berair.

“Ku mohon jangan mengakhirinya.”.

“Apa? Tapi, Mingyu-ya! Itu sulit!” kata Sojung.

“Aku tau, sulit. Tapi kau takkan pernah tau sebelum mencoba.” kata Mingyu, “Kau tau, sangat sulit mendapatkanmu yang begitu acuh pada laki-laki. Aku sangat beruntung mendapatkanmu. Jadi aku mohon, jangan..”.

Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya, hingga yang bisa Sojung lakukan hanyalah memeluk Mingyu erat-erat –dan menangis.

Sebelum tangisan Sojung lebih deras lagi, Mingyu menciumnya untuk yang terakhir kali, lalu berkata, “Nareul itjima.”.

***

tisu, tisu~ TT,TT

Oke, sekian dari Near imagine-nya^^
Rencananya, kalau ada waktu imagine ini bakal Near share ke blogger Near beserta like dan komentar pada Reader-nim^^

akhir kata, terima kasih banyak ya yang sudah mau baca, komen, like, apalagi ngeladenin Near^^

insyaallah tgl 14 Near mau update ff SEVENTEEN.. Siapakah tokoh utamanya?? jjeng jjeng Rahasia^^
hehe


***

Yup, sampai di sini Imagine with Near - SEVENTEEN edisi pertama 160207-160208!! Sebentar lagi Near akan ngeposting imagine selanjutnya, masih khusus SEVENTEEN ya^^

Mohon maaf soal bahasa asing dan pengetikannya yang kurang, soalnya ini Near ambil langsung asli dari postingan yang Near tulis di grup^^ Dan juga maaf kalau gak semua komen kena screenshoot, soalnya Near cuma ambil pada satu hari yang sama aja^^

Oke, semoga dengan imagine yang Near bikin jadi FF compilation ini dapat menghibur kalian semua, Reader-deul^^

Mohon support-nya selalu ya^^
Author

Near

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^