[FF] Aim part XII
Aim
Part XII : Rest in
Peace
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se
Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min
***
| Spoiler
ver. |
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Deg! Itu yang terasa di dada kirinya. Seungcheol
tak punya kekuatan lagi untuk menggenggam ponselnya seketika berita buruk itu
terdengar telinganya.
“Ada apa?” tanya Nayeon yang masih duduk-duduk
di kursi taman rumah sakit, “Seungcheol-ah?” ia bisa melihat raut wajah
Seungcheol berubah drastis.
Lelaki tersebut memeluk Nayeon sesegera
mungkin, “Berjanjilah kau akan baik-baik saja setelah mendengar ucapanku.”.
***
Jihun panik melihat Seri menitikan air mata
begitu menerima telepon dari Seokmin. Tak perlu ditanyakan lagi, pasti hal
buruk telah terjadi.
“Seri,” panggil Jihun, “Seri-ya, katakan, ada
apa?”.
Tak tahan, Seri memutuskan panggilan. Gadis itu
hanya menunduk sambil terus menitikan air mata ―tanpa isakan.
“Ceritakan padaku begitu kau tenang,” bahkan
ketika keadaannya belum pulih benar, Jihun masih bisa mengerti perasaan Seri.
Tangan Jihun menyentuh pipinya, menyeka aliran
air mata di pipi Seri.
Ia lalu terisak, seraya menatap Jihun dengan
air matanya yang berlinang, “Lee Ji Hun...,” panggilnya lirih.
Jihun berkedip, seakan kedua matanya bertanya,
“Kenapa?”.
***
“Braakkk!!!” kesal, marah, serasa darahnya
mendidih ketika Ilsung mengatakan hal tersebut padanya, hingga akhirnya Wonwoo
membanting meja itu hingga terbalik.
Semua menatapnya, tanpa berani bersuara. Suara
petir menyambar di saat yang sama, disusul hujaman titik air hujan yang memburu
permukaan tanah. Angin kencang berhembus, membuat semua dedaunan bergesekan.
Kumpulan instrumen itu menyambut keheningan
yang menyebar.
Hanya Ilsung yang tidak terpengaruh. Pria tua
itu bahkan masih bisa menyalakan batangan putihnya dengan tenang. Lalu memandangi
Wonwoo yang menatapnya tajam.
Wonwoo bisa saja membunuhnya saat ini.
“Eoh?
Kenapa?” alisnya terangkat, baru kali ini ia melihat Wonwoo semarah itu.
“Sudah ku bilang, jangan sentuh mereka!!!”
geram Wonwoo.
“Hei, aku tidak bermaksud membunuhnya, lelaki
tua itu memang sudah dasarnya bau tanah.” Ilsung mengepulkan asap dari
mulutnya, “Memangnya kenapa? Setidaknya aku tidak menyentuh gadismu yang
berharga, kan?”.
Percuma, tak ada untungnya berdiskusi dengan
pria menyedihkan itu. Wonwoo segera mengambil jaket di sofa dan bergegas.
“Jangan pernah mencariku.” sinisnya.
“Blam!” dan meninggalkan ruangan.


