[FF] Aim part XI
Aim
Part XI : In the End
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Choi
Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Kim Min Gyu, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon
Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min
| Spoiler ver. |
***
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
“Lepaskan Han Na Yeon!” seru Jeonghan.
“Yoon Jeong Han!!” Seungcheol seperti marah.
Baginya Jeonghan selalu gegabah dalam misi, itu yang membuatnya jadi galak saat
ini.
Ryeojin tertawa. “Kau menyebalkan, ya, Agent
Yoon.” katanya, “Hati-hati, kalau kalian lengah, kalian bisa saja seperti gadis
mungil itu dan berujung kematian seperti operator lemah kalian.”.
“Woozi tidak lemah,” lirih Seri, tak sengaja
air matanya jatuh, pria itu masih menahan Seri dan senjata Mingyu tak bisa
lepas mengawasinya.
“Klek.” terdengar suara senjata yang Solji
genggam berseru.
“Tenang, Manis. Aku tidak bawa senjata.” aku
Ryeojin, “Bahkan bukan aku yang menculiknya. Ditugaskan saja tidak.”.
Semua terbelalak.
“Apa maksudnya?” desis Junhui.
Ryeojin tersenyum penuh arti, “Yang menculik
mantan atlet ini ada di belakang kalian ―yang ada di ambang pintu.” jelasnya.
Di belakang, tak ada yang ingin menoleh ke
belakang, itu bisa saja tipuan. Namun setelah mendengar suara pelatuk berbunyi,
“Klek!” barulah sebagian dari mereka menoleh ke ambang pintu.
“Ti, tidak mungkin,” desis Seokmin.
“Apa-apaan keparat ini,” Jeonghan lebih kesal
lagi.
Seungcheol tak bisa berkata apa-apa, Seri pun
demikian dalam penyanderaannya. Sunyoung tertawa miris, sinis, dan tidak
percaya menangkap sosok yang dikenalinya.
“K, kau,” Mingyu terpaku.
Nafas Solji memburu, kesal, amarahnya mendidih,
puncak dari kesabarannya habis tertelan sudah. Rasanya ia ingin membunuh pria
di ambang pintu itu sekarang juga.
“Persetan kau,” maki Solji, “Jeon Won Woo.”.
Aim
Part XI : In the End
Tak ada yang menyangka sebelumnya kehadiran
Wonwoo di sini ternyata hanya sebagai pengkhianat. Bahkan jauh sebelum ia
datang ke sini, tepatnya ketika Wonwoo pertama kali menjadi anggota X Team, tak
ada satupun prasangka buruk terhadapnya.
Benar, Wonwoo yang pulang lebih awal kemarin
malam, Wonwoo yang terlambat hari ini, Wonwoo yang tidak bisa dihubungi, kini
semuanya terjawab sudah.
Lelaki itu sesungguhnya pengkhianat.
Tak ada yang mengetahui alasannya pulang lebih
awal, padahal Wonwoo merencanakan penculikan Nayeon yang sudah menjadi
sasarannya ―yang sudah ditugaskan dari Ilsung untuknya.
Wonwoo yang terlambat hari ini, ia menahan
Nayeon, menyandera gadis itu dan memancing X Team datang. Sebagai kejutan, ia
bersembunyi ketika mereka semua tiba dan muncul mengejutkan mereka sebagai si
pagar makan tanaman.
“Ada yang Ilsung janjikan padamu,” kata
Ryeojin. Begitu nama itu tersebut, semua terbelalak bukan main.
Jadi selama ini Wonwoo mengenal penyusup negeri
seberang, Jung Il Sung?!
“Aku tak tahan lagi ―dasar pengkhianat,” baru
saja Sunyoung mengarahkan ujung senjatanya ke Wonwoo.
“Hoshi!” seru Seungcheol, meminta semua
anggotanya untuk sabar.
“Klek. Klek.” semua senjata berseru, pandangan
beralih kembali pada Ryeojin dan Nayeon. Mereka terkejut bukan main melihat
siapa yang datang.
“Wah, wah, pesta besar.” Ilsung lah yang datang
bersama beberapa kaki tangannya, “Aku tau, Tn. Muda Park, kau memang yang
terbaik dan bisa diandalkan.” ia bertepuk beberapa kali ―kagum.
“Tn. Muda Park?” decak Junhui.
“Eoh?
Kenapa? Bingung?” Ilsung bisa mendengarnya, “Jadi kalian tidak tau selama ini
sahabat kalian adalah pengkhianat? Penikam dari belakang?” ia tertawa lepas, “Kalian
tidak tau kalau yang telah menjebak kalian ke sini adalah puteranya Park Shi
Yeon? Si pembunuh sadis yang mati karena telah melaporkan kejahatanku pada
kalian?”.
“Jung Il Sung!!” Wonwoo benci tiap kali
menyebutkan Shiyeon seperti itu.
“Kenapa? Tidak senang?” tantang pria tua itu,
“Lagipula ini misi terakhirmu, Tn. Muda Park. Kau tak usah khawatir, mereka
akan baik-baik saja di tanganku.”.
“Misi terakhir?” dahi Solji berkerut sembari
memandangi Wonwoo.
“Kau menjebak kami, Jeon Won Woo!!” maki
Sunyoung.
Mingyu tak bisa berkata apa-apa, saat
pandangannya bertemu dengan lensa itu, ia membalasnya dengan hujaman yang seakan
mengirisnya. Ia tak percaya, sahabat yang selama ini dipercayainya ternyata
seorang pengkhianat.
“Aku akan membunuhmu, Wonwoo Hyung... Aku benar-benar akan
menerkammu...” ancaman gerak bibir Mingyu itu diacuhkannya. Wonwoo benar-benar
seorang jekyll and hyde. Wajah
bertopeng, seorang beautiful liar.
[► BIGBANG - MONSTER]
“Kau,” lirih Seri, “kau telah membunuh...,
Woozi...” katanya, “Kau telah membunuhnya!!”.
“Dor!! Dor!” selanjutnya hanya letusan-letusan
senjata api yang bergema di ruangan itu.
Semua saling membentuk benteng pertahanan.
Saling berbalas timah panas, saling mencari kelemahan. Ryeojin bersembunyi
dengan Nayeon di dalam sanderaan, Wonwoo bertugas melindunginya yang mencari
tempat persembunyian.
Ketika X Team dan beberapa polisi melawan semua
anak buah Ilsung, Mingyu menemukan celah dan segera menarik Wonwoo. Mereka
terguling keluar rumah itu, tepatnya ke ladang rerumputan yang tanahnya
menjorok ke bawah.
Berhenti terguling, Mingyu mendorong Wonwoo
jatuh terbaring ke atas tanah dan memukulnya brutal. Kebenciannya menjadi-jadi
pada sahabat yang telah dianggapnya sebagai kakak itu.
“Buk! Buk!!”.
Wonwoo berusaha melepaskan diri, dan ketika
kesempatan itu datang ia memukul Mingyu hingga lelaki jangkung itu tersungkur.
Buru-buru ia memungut senjata apinya dan menodongnya ke arah Mingyu, namun
Mingyu juga melakukan hal yang sama.
Sejenak hening, mereka saling menodongkan
senjata masing-masing.
“Aku,” Mingyu mengatur nafasnya, “aku akan
membunuhmu sekarang juga, Hyung!!
Bersiaplah untuk mati!!”.
Wonwoo tak bergeming, “Siapa yang tau?” nadanya
sinis, “Kalau kau bisa, tembak aku.” tantangnya, “Dan lagipula, jika memang kau
hendak membunuhku, kau masih sudi memanggilku kakak...?”.
Kata terakhir itu menggema di gendang
telinganya.
“Apa aku masih seorang kakak di matamu...?”
tanya suara bass itu.
Mingyu mengernyit, entah kenapa otaknya terasa
lebih berkerut daripada dahinya. Benar, Mingyu membencinya sekarang, tapi
kenangannya dulu bersama Wonwoo terus membekas.
Mereka bersama-sama memecahkan masalah, mereka
saling bersumpah sebagai laki-laki sejati, mereka yang bercita-cita menjadi
polisi. Semua kenangan itu.
Wonwoo lah yang menularkan minat itu pada
Mingyu, Wonwoo lah yang mengajarinya berbagai hal dalam penyelidikan, Wonwoo
lah motivator Mingyu untuk meraih cita-citanya sebagai polisi, Wonwoo lah
seseorang yang lebih dari sahabat baginya, Wonwoo lah orangnya.
Lantas, apa Mingyu masih bisa mengiyakan
ucapannya? Apa Mingyu masih bisa membunuhnya begitu saja? Apakah seorang Kim
Min Gyu terhadap Jeon Won Woo memang seperti itu?
Genggaman Mingyu melemah, ia jatuh pada dua
lututnya di atas tanah, hati kecilnya menyeruak dan menyerukan bahwa ia tidak
sanggup membunuh Wonwoo seberapa pun kejinya dia. Sekarang tangan itu jatuh ke
tanah bersama dengan senjata api yang digenggamnya lemah.
Wonwoo bisa lebih bersantai sekarang. Ketika
Mingyu menunduk, Wonwoo menurunkan senjatanya. Ia menyeka darah yang mengalir
dari hidungnya, namun membiarkan cucuran darah dari pelipis maupun bercak merah
di ujung bibirnya.
Lelaki itu melangkah dan mendekati Mingyu
“Aku akan pergi, aku akan menghilang, aku bukan
lagi Jeon Won Woo yang dulu akan selalu menemanimu,” kata Wonwoo, “ini tugas
terakhirku dari Ilsung, jadi aku akan benar-benar,”.
Dalam waktu kurang dari sedetik, Mingyu
mendongak, bangkit, “Bukk!!” dan memukul Wonwoo lagi di saat lelaki itu sedang
lemah. Wonwoo pun terhuyung jatuh, sialnya ia jatuh ke sebuah jurang kecil di
dekat mereka.
Mingyu hanya memandangi tubuh Wonwoo yang
terguling jatuh ―entah sampai ke ujung jurang itu atau tidak. Namun Mingyu tak
berharap lelaki itu mati.
Segera ia mendaki untuk kembali menyelamatkan
Nayeon dan kawan-kawannya. Namun langkah Mingyu tertahan ketika dari kejauhan
sana, ia bisa melihat seonggok van
terbalik.
“Ji, Jihun Hyung!”
seru Mingyu mengenali van yang
jaraknya kurang lebih 100 m dari tempatnya berdiri itu.
Mingyu segera berlari ke sana.
Sementara itu ketegangan masih terasa betul di
rumah yang makin lama makin reot itu. Seri jatuh tersungkur di belakang Seokmin
―untunglah gadis itu bisa selamat.
“Seri! Kita butuh bantuan!” seru Seokmin,
sesekali bersembunyi sesekali melemparkan tembakan.
Sementara itu Seri bersamanya, di balik meja
yang terguling itu mereka bersembunyi, namun Seri tidak bisa menembak saat ini.
Ia segera meraih benda yang bentuk dan fungsinya mirip seperti HT itu.
Seokmin tidak mengerti yang Seri lakukan, yang
penting ia harus tetap menembak dan melindungi gadis itu.
“Seri-ya, ppali~..!”
gerutu Seokmin.
Sementara tak jauh darinya, di balik tumpukan
peti, Solji, Pak Kim, dan Seungcheol bersembunyi. Mereka menargetkan Ryeojin
dan Nayeon.
“Coups!” panggil Pak Kim, “Kau pergilah, selamatkan
Nayeon, biar aku dan Solji yang melindungimu!”.
Seungcheol terkesiap, “Apa?” kagetnya.
Pak Kim menendangnya, hingga Seungcheol
terguling, “Bergegaslah!!” seru beliau lalu menembak lagi bersama Solji.
Mereka berdua terus melindungi Seungcheol yang
semakin lama semakin mendekati Ryeojin. Hal tersebut tertangkap oleh pandangan
Ilsung. Di saat ada kesempatan, Ilsung mengarahkan tembakannya pada Pak Kim
atau Solji.
Namun pada akhirnya, “Dor!!” tembakan itu
meleset ke arah dada kiri pria tua tersebut.
Solji terkejut bukan main, “Kim Sonsaengnim!!!” jeritnya melihat pria
tua itu sudah tersungkur jatuh di sampingnya.
Mendengar nama itu, Seungcheol lengah.
“Choi Seung Cheol!! Tetap berlari!!” seru
Jeonghan, kali ini menggantikan posisi Pak Kim.
“Kim Sonsaengnim!
Sonsaengnim!” Solji terus memanggil
Pak Kim, masih sambil menembak ―dan menahan isakkannya.
Pak tua itu tak lagi merespon suara, teriakan,
jeritan, ledakan. Matanya hanya terhenti pada satu arah. Jantungnya mulai
melemah, mulai kesulitan memompa darah ke seluruh tubuh. Seiringan dengan itu,
otaknya tak mampu mengirim respon.
“Aku,”
batinnya, “apa aku sudah,”.
“Pak Kim!!” seru Solji, namun beliau tak mampu
merespon jeritan yang bercampur tangisan itu.
“Tidak,
Solji, jangan menangis,” ingin sekali Pak Kim mengatakan hal itu, namun
mulutnya sudah terkunci, “kau seorang
polisi wanita yang handal ―jangan menangis.”.
Junhui bergegas, perlahan-lahan mendekat ke
posisi Solji dan Pak Kim berada. Namun itu tak mudah, beberapa kali hampir saja
ia tertembak.
“Sialan.” gerutu Junhui sambil melemparkan
timah panas, kemudian melanjutkan perjalanan.
Bayangan Junhui sudah samar-samar.
“Kim Sonsaengnim!”
serunya, setidaknya berusaha menguatkan Pak Kim. Junhui mengecek beberapa
bagian seperti nafas dan denyut nadinya.
“Tidak, tidak, tidak!!” Junhui mulai panik
begitu mengetahui keadaan Pak Kim, “Junhui, kau harus tenang, tenanglah.”
desisnya dalam bahasa Mandarin.
“Apa yang terjadi, Jun?!” Solji bersembunyi,
kemudian menembak dan bersembunyi lagi.
Junhui mulai melakukan pertolongan pertama,
“Semua akan baik-baik saja, percayalah. Semuanya akan baik saja.” peluh dan air
mata tak ada bedanya.
Semua yang dilihatnya saat ini hanya seperti
bayangan abstrak yang lalu lalang, suara Junhui yang terus memanggilnya hanya
terdengar seperti gemaan kecil di telinganya. Di saat seperti ini, entah kenapa
yang ingin ditemuinya hanya satu,
Mingyu.
[■ BIGBANG - MONSTER]
***
Tergopoh-gopoh, akhirnya Mingyu sampai di dekat
van itu. “Jihun Hyung! Hyung!!”
panggilnya, menyelidik ke seluruh bagian van.
Dan benar saja, ia bisa melihat sosok Jihun
tergeletak tak sadarkan diri di dalam van.
Mingyu berusaha menarik tubuh mungilnya keluar, namun ia menyadari ada bagian
tubuh Jihun yang tersangkut.
Dengan susah payah, Mingyu membuka pintu
belakang van dan menemukan dua bangku
yang menjepit kaki Jihun. Untuk melepaskannya, Mingyu hanya bisa menendang
kedua bangku itu sekeras-kerasnya.
Usahanya membawakan hasil, kaki Jihun yang
tersangkut akhirnya terbebas dari himpitan dua bangku tersebut. Mingyu segera
beralih pada Jihun dan menarik tubuhnya keluar dari van.
“Hyung!
Kau mendengarku, kan?!” Mingyu menepuk-nepuk pipinya, “Hyung! Jawab aku! Ini aku, Mingyu!!”.
Ia geletakan Jihun di atas tanah, Mingyu
menempelkan telinganya pada dada kiri tubuh imut itu. Dan terbelalak, “Apa
mungkin Hyung...,”.
***
Bala bantuan datang. Akhirnya perang timah
panas pun bisa mereda. Beberapa anak buah Ilsung tertangkap, salah satunya
Ryeojin.
“Nuna,”
akhirnya Nayeon kini dalam genggaman, “kau sudah aman, Nuna. Aku akan melindungimu.” ucap Seungcheol tanpa menghiraukan nafasnya
yang ngos-ngosan.
Nayeon menangis, entah karena takut, traumatik,
terharu, atau semacamnya. Begitu Seungcheol berada di dekatnya, Nayeon segera
memeluknya. Sedikit terkejut, akhirnya Seungcheol membalas pelukan itu dan
mengusap surainya lembut.
“Tenanglah, Nuna.”
bisik Seungcheol.
Sementara itu, “Kita butuh oksigen!!” seru
Junhui, yang paling panik dari semuanya.
Ia masih berusaha menyelamatkan Pak Kim apapun
yang terjadi. Ambulans datang bersamaan dengan bala bantuan polisi yang datang.
Mobil putih bergaris merah itu segera membawa tubuh Pak Kim ke rumah sakit.
Kondisi di lokasi saat ini sudah terbilang
cukup aman, semua polisi dan para anggota X team sudah bisa berkumpul dengan
tenang sekarang.
“Sial! Dia lolos!” decak Jeonghan kesal,
“Padahal sedikit lagi!! Ilsung ada di depan mata! Harusnya kita bisa
menangkapnya!”.
Ia duduk bersama Seokmin dan Sunyoung di dekat
sebuah ambulans. Ketiganya mendapat pertolongan pertama setelah mengalami
beberapa luka ringan.
Di ambulans yang satunya terlihat Seungcheol
sedang berusaha menenangkan Nayeon dari gejala trauma yang baru saja
dialaminya. Melihat mereka berdua, emosi Jeonghan jadi mereda. Bersama Seri,
Seungcheol masih berusaha mengalihkan perhatian Nayeon.
Terlihat Solji mendekati ketiganya dengan wajah
memerah dan mata sembab. Ketiganya tau apa yang telah disaksikan Solji.
“Sol, Solji-ya,” panggil Sunyoung.
Kelihatannya gadis itu menangis, tapi seperti
tidak. “Teman-teman,” panggilnya, “aku takut,” lirihnya, “aku takut terjadi hal
buruk...”.
Jeonghan bangkit dan bergegas memeluknya. Ia
tau apa yang harus ia lakukan ketika melihat seorang gadis menangis setelah
mengalami kejadian mengerikan seperti tadi.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Jeonghan
mengusap kepala itu.
“Hyung,”
mereka semua terkesiap melihat Mingyu kembali dengan sedikit perban menggulung
tangannya.
“Mi, Mingyu-ya!” Seokmin tersentak, ia dan
Sunyoung bangkit.
Mingyu mengedarkan pandangan. “Mana Junhui Hyung?” tanyanya.
“Dia ke rumah sakit...,” tak sengaja perkataan
Jeonghan berhenti.
Mingyu mendelik, “Ada apa, Hyung? Apa yang ingin kau katakan?” tanyanya, “Dan juga, mana Kim Sonsaengnim? Di mana beliau?”.
Nah, itulah yang membuat ucapan Jeonghan
terputus.
***
[► Bangtan Boys – House of Cards]
Dingin, tapi lembut. Perasaan itulah yang
membuatnya bangun. Sepertinya ia tidak berakhir di sini kemarin. Bukankah ia
baru saja terguling ke jurang?
Ingatan itu langsung membangunkan Wonwoo, ia
membuka kedua matanya secara paksa dan mencari tau di mana ia saat ini. Ia
terkejut melihat hanya celana panjang kremnya yang tertinggal di tubuhnya.
Kembali ia edarkan pandangan, tembok-tembok
putih yang usang, beberapa perabot bekas, dan udara yang tidak asing baginya.
Wonwoo mengenali tempat ini.
Rasa sakit yang luar biasa menahan tubuhnya
untuk bangkit. Tak lama seseorang datang, “Klek.” membuka pintu, sabitnya
bertemu dengan lensa si pemilik ruangan itu.
“Kau sudah bangun, Wonwoo-ssi?” sapa Haera
dengan nampan berisi makanan kecil dan kotak obat.
Wonwoo sinis, “Apa yang kau lakukan? Kembalikan
bajuku.” dinginnya.
Haera memasuki ruangan dan meletakan nampan itu
di atas meja. “Kiseon menemukanmu di jurang, tak jauh dari lokasi penyanderaan.
Lalu ia membawamu ke sini, ke kamarku.” jelas Haera, “Kau mengalami luka ringan
dan luka berat hampir di sekujur tubuhmu ―kau terguling ke dasar jurang,
ingat?”.
Lelaki itu memangku kepalanya. “Apa Kiseon
bertemu seseorang ketika membawaku ke sini?” tanyanya, hendak menyinggung
Mingyu.
“Dia datang setelah semua polisi itu pergi.”
jawab Haera, ia duduk di tepi kasur yang Wonwoo tempati, “Sekarang, biarkan aku
mengobatimu, Wonwoo-ssi.”.
Wonwoo tak lantas percaya begitu saja.
“Aku takkan melakukan hal aneh padamu, bajumu
ada di sofa.” Haera meyakinkan, “Aku hanya ingin mengobatimu, Wonwoo-ssi.”.
Haera membantu Wonwoo bangkit, ia duduk di atas
kasur Haera. Gadis itu di balik punggungnya, mulai mengobati luka berat di
situ.
Wonwoo hening, menahan sakit. Sepersekian detik
kemudian, ia bersuara, “Kau tidak ikut Ilsung menyandera Nayeon?” tanyanya.
Agak lama Haera menjawab, “Abeoji menyuruhku untuk tinggal, jadi aku tidak ke mana-mana.”
jelasnya, “Ngomong-ngomong, siapa yang kau culik itu? Nayeon itu siapa?”.
“Adalah.” dalih Wonwoo.
“Apa kau akan kembali?” tanya Haera.
“Aku tidak tau, aku sudah muncul di hadapan
mereka sebagai pengkhianat. Ku rasa aku takkan kembali.” sorot matanya
menerawang, “Apa ada yang terluka?”.
“Ku rasa,” Haera ragu.
Wonwoo mulai gusar, “Tidak ada korban jiwa,
kan?” tanyanya lagi.
Tetapi Haera diam, “Banyak yang tertangkap
―cuma itu yang kutau.” lanjutnya.
“Aku akan segera pulang ke Changwon setelah ini,”
katanya, “aku akan menemui Ibuku meski itu terasa sakit.”.
“Wonwoo-ssi mau pulang?” Haera sedikit
terkejut.
“Ng,” Wonwoo mengiyakan, “Ilsung bilang ini
tugas terakhirku, setelah ini aku bisa pulang ke Changwon ―dan memulai hidup
yang aku mau. Sebenarnya aku tidak ingin, aku tidak sudi bertemu Ibuku.”.
“Kenapa?” Haera menyuruh Wonwoo menatapnya,
sekarang ia mengobati luka di perut dan dadanya, “Bukankah beliau orangtuamu
satu-satunya,”.
“Dan menelantarkanku?” sambung Wonwoo.
Haera terdiam. Mata berkantungnya itu melawan
tatap tajam Wonwoo. “Menelantarkanmu?” ia lanjut mengobati tubuh itu.
Wonwoo menarik dagunya, “Kau tak perlu tau asal
usulku, dari mana aku lahir, siapa orangtuaku ―tak penting buatmu.” desisnya
tajam, seperti mengancam.
Gadis itu bisa merasakan hembus nafasnya yang menyentuh
wajahnya. Lama mereka saling bertatapan, lalu Haera memalingkan pandangan
hingga wajahnya terlepas dari genggaman Wonwoo.
“Ada yang ingin Abeoji sampaikan padamu, jadi temuilah dia sebelum kau berangkat,
Wonwoo-ssi,” selesai dengan bagian dada, lengan, dan perut, Haera mengobati
luka di wajahnya yang dingin.
“Sampai kapan kau akan bernaung pada Ilsung?”
Wonwoo menatap lekat gadis manis di hadapannya.
Agak lama Haera menjawab, “Abeoji sudah kuanggap Ayahku sendiri,” jelasnya, “beliaulah yang
telah mengasuh dan mendidikku.”.
“Itu semua awal dari kehancuranmu,” Wonwoo
masih menatapnya, “pada akhirnya kau hanya akan mengancam nyawa rakyat negeri
ini.”.
Haera tak mendengarkan.
“Pergilah,” sinis Wonwoo, mencengkeram wajah
cantik itu, “kau hanya diperalat oleh Ilsung. Kembalilah ke panti asuhan
tempatmu dibuang, Haera.”.
Akhirnya, Haera menatap sepasang sabit yang
terus menerus menatapnya itu. Namun bukan gadis itu yang melepaskan
cengkeramannya, Wonwoo lah yang kemudian bangkit dengan susah payah setelah
membiarkan Haera terdiam di atas kasurnya.
“Wonwoo-ssi,” Haera yang khawatir segera
membantu Wonwoo bangkit.
Namun lelaki itu menepis, ia lalu merebut
kemejanya yang kotor di atas sofa. Dengan segera
memakainya, sebelum akhirnya Haera mendekatinya
lagi.
“Pakailah yang ini, Wonwoo-ssi,” ia bawakan
sebuah kemeja putih di tangan, “yang itu sudah kotor dan sedikit robek.”.
Bola matanya memutar jengah, dengan kasar
Wonwoo melepas pakaian yang baru saja menutupi setengah tubuhnya yang
telanjang. Lalu menyerobot pakaian yang Haera bawakan untuknya.
Haera melihatnya mengenakan kemeja itu. Sama
sekali tak terbesit di pikirannya bahkan hanya untuk mendapatkan kata ‘terima
kasih’ terlontar dari bibir tipis itu. Melihatnya saja, Haera sudah merasa tenang.
Dengan sedikit tertatih, lelaki itu menghampiri
pintu.
“Kau mau ke mana, Wonwoo-ssi?” Haera sedikit
panik.
“Menemui pria tua yang kau sebut Ayah.” sinis
Wonwoo, langkahnya tak berhenti.
“Istirahatlah dulu, Wonwoo-ssi, kau belum
sepenuhnya,”.
“Blam!!” dengan kasar pintu itu tertutup,
sekaligus menutup mulutnya rapat-rapat.
Wonwoo memang takkan pernah berbuat manis di
hadapannya. Apalagi saat ini perasaan lelaki itu campur aduk.
Haera mematung.
[■ Bangtan Boys – House of Cards]
***
Buru-buru Solji berlari di tengah lorong rumah
sakit, sementara di belakangnya Jeonghan menyusul. Solji tak bisa lebih
bersabar lagi, dan terus saja menerobos pintu hingga akhirnya ia sampai di
salah satu ruang rawatnya.
“Solji-ya, pelan-pelan,” Jeonghan berhasil
menarik lengan itu, “kau bisa mengganggu pasien yang lain.” desisnya.
Gadis itu tak perduli, ia segera menggeser
pintu dan menemukan siapa yang ingin ditemuinya di sana.
Mereka semua memandang siapa yang datang.
“Onnie,”
sambut Seri sumringah. Bukan, bukan Seri yang dirawat di ruangan ini.
Dengan perasaan khawatir bercampur lega, Solji
mendekati lelaki yang terbaring di atas ranjang tersebut. “Jihun-ah,”
panggilnya.
Yang terpanggil hanya tersenyum lemah, “Kalian
datang.” lirih Jihun.
“Syukurlah kau sudah siuman.” senyum Jeonghan,
“Kami bawakan buah.” katanya sambil meletakan keranjang itu di atas meja.
Solji duduk di samping Seri, “Apa yang Junhui
katakan?” tanyanya.
“Bukan Jun yang menangani Woozi, ada dokter
lain,” kata Seri, “Woozi mengalami luka serius di sekujur tubuhnya karena
terpelanting berkali-kali di dalam van, jadi
ia harus istirahat total.”.
“Sebenarnya, bagaimana kronologis ceritanya?”
tanya Jeonghan sambil duduk di bangku yang ia tarik ke samping ranjang Jihun.
“Ketika Woozi sibuk di dalam van, seorang polisi memasuki van dan menggerakannya menjauh dari
lokasi. Woozi panik dan mendekatinya ―ia juga meninggalkan komputernya.” Seri
yang mewakili Jihun, “Rupanya ada seorang penyusup menyamar menjadi polisi itu,
ia sudah menghabisi para polisi yang berjaga di luar van.”.
“Kurang ajar,” gumam Jeonghan.
“Dia membawa van dan Woozi menjauh dari lokasi. Di saat itulah Woozi melawan,
meskipun memang sebisanya.” lirih Seri, “Kemudian Woozi berhasil menendangnya
keluar, namun karena tidak bisa menyetir, Woozi membanting stir ke pinggir
jalan, van terguling beberapa kali ke
sebuah lahan kosong.”.
“Woozi mengalami beberapa kali benturan dan
terkena pecahan kaca, kakinya juga terjepit sehingga ia tidak bisa keluar dari van dan tidak sadarkan diri karena luka
yang terlalu parah. Mingyu kemudian menemukannya.” lanjut Seri.
“Greeek.” pintu terbuka.
“Kim Min Gyu.” disusul suara yang tak asing.
Keempatnya memandang ke arah daun pintu dan
menemukan Mingyu menyerobot masuk ke dalam ruangan, disusul Seokmin di
belakangnya.
“Nuna.”
Mingyu tak menghiraukan Seokmin yang memintanya kembali ke ruang rawatnya.
Solji segera mendekatinya, “Kita bicara di
luar.” lalu mendorong Mingyu keluar ruangan ―ia tak ingin mengganggu kondisi
Jihun.
***
[► Zico & Sojin – Sick]
Meski keadaannya tidak terlalu parah, kondisi
mental Mingyu saat ini sedikit kacau. Semua ini bermula dari Wonwoo, dari
kenyataan yang didapatnya bahwa sahabatnya itu ternyata pengkhianat. Kemudian
ia menemukan banyak teman-temannya yang terluka, seperti Jihun. Dan yang paling
utama mengganggu kondisinya saat ini adalah keadaan Pamannnya : Pak Kim.
Selama di rumah sakit, Seokmin lah yang selalu
menunggunya. Baginya, Seokmin tidak bisa mengerti perasaannya yang
meledak-ledak saat ini, setidaknya ia butuh Solji. Gadis itu pasti bisa
memahami keluh kesahnya.
Dan begitu mendengar Solji mengunjungi Jihun, Mingyu
kabur dari ruangannya untuk menemui Solji sesegera mungkin.
Mingyu terus menanyakan kondisi Pak Kim
sekarang ini pada Solji. Gadis itu tidak tau apa yang harus diperbuatnya.
Mungkin Mingyu pikir, Solji lah yang berada paling dekat di lokasi kejadian dengan
Pak Kim ketika pria tua itu ditembak Ilsung, jadi dia menanyakan itu semua
padanya.
Akhirnya, Solji, Mingyu dan Seokmin mendatangi
ruangan Junhui. Dia dikenal dengan panggilan dr. Moon, dia punya ruangan di
rumah sakit yang bekerja sama dengan kepolisian dan pemerintah ini.
Seperti yang dikatakan, Junhui sedang melakukan
operasi untuk menyelamatkan Pak Kim. Namun perawat itu mengatakannya dengan
wajah yang pesimis.
Ketiganya berakhir di ruang tunggu.
“Mingyu-ya, duduklah,” ucap Seokmin, berubah
lembut pada bocah itu ―khusus untuk saat ini saja. Namun lelaki jangkung itu
tak henti-hentinya bermondar-mandir di depan keduanya.
Tak tahan, Solji bangkit dan merangkul kedua
bahunya. Gadis itu sebenarnya tak mengatakan apa-apa, namun akhirnya Mingyu mau
duduk tenang juga.
Segala sentuhan gadis itu membuatnya tenang,
keringat dingin tak lagi mengucur dari pelipisnya. Solji mengusap kepala Mingyu
dengan sayang.
Lama kemudian, hingga akhirnya Junhui keluar
dari ruangan serba steril itu. Seokmin, Solji, dan Mingyu menyambutnya dengan
tanda tanya.
“Jun,” panggil Solji.
Ketiganya hanya mendapat tatapan kosong dari
kedua mata Junhui.
“Jun!” panggil Solji sekali lagi.
Barulah lelaki itu menatap mereka satu persatu.
Ada seorang Junhui yang berbeda di dalam tubuh itu : Junhui yang pesimis.
“Aku berharap kalian bisa menerimanya,”
lirihnya, “aku memang dokter, tapi bukan aku yang menentukan hidup matinya
seseorang.”.
Solji membekap mulutnya. “Maksudmu?” Seokmin
meminta penjelasan.
Junhui tidak bisa mengatur nafasnya sendiri,
tangannya mengepal seakan mengutuk dirinya sendiri. “Maafkan aku, kawan-kawan,”
ia berjanji sebelum mengatakan hal ini ―ia takkan menangis apapun yang terjadi,
“aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya.”.
***
to be continued
***
next...
“Braakkk!!!”.
“Eoh?
Kenapa?” alisnya terangkat, baru kali ini ia melihat Wonwoo semarah itu.
“Sudah
ku bilang, jangan sentuh mereka!!!” geram Wonwoo.
“Memangnya
kenapa? Setidaknya aku tidak menyentuh gadismu yang berharga, kan?”.
“Jangan
pernah mencariku.” sinisnya.
“Blam!”
dan meninggalkan ruangan.
“Wonwoo?”
panggil wanita itu.
“Kau
benar-benar memalukan, Ibu.” sinis Wonwoo. “Ku pikir Ibu sudah berubah,
nyatanya? Ibu masih sama saja, hanya saja sekarang Ibu lebih peduli padaku.”.
“Itu
karena Shiyeon sudah meninggal,”.
“Dia
mati, Bu. Dieksekusi mati.”
“Jeon
Won Woo,”.
“Jeon
Won Woo?” Wonwoo tersenyum sinis, “Aku lebih senang dipanggil dengan nama Park
meski itu kedengaran kuno dan menyedihkan. Daripada aku menggunakan nama asli
dengan marga yang dipaksakan.”.
“Plak.”.
“Kau
kejam sekali pada Ibumu.” lirihnya.
“Lebih
kejam mana ―aku atau Ibu?” Wonwoo menatap Ibunya.
“Cukup,
Jeon Won Woo!!!”.
“Kau
belum sembuh, mana boleh kau keluar rumah sakit, Jihun-ah,” Junhui
menghampirinya.
“Aku
juga ingin memberi penghormatan terakhir,” kata Jihun, semua menatapnya,
“beliau lebih dari seorang pemimpin bagiku, lebih dari seorang kapten, lebih
dari seorang guru buatku. Aku harus memberi salam terakhirku untuknya.”.
“Rupanya
begitu,” Nayeon menatap Seungcheol yang bergumam, lelaki itu menunduk sendu,
“rupanya Anda sudah tau kapan tepatnya Anda akan berpulang.”.
Junhui
mengatur nafasnya, “Aku..., tidak bisa...” lirihnya.
“Aku...,
takkan pernah memaafkannya...”.
“Teman-teman,”
sapanya, berusaha ramah ―tapi gagal.
“Kim
Min Gyu!!” Solji terlalu lamban untuk mengejar Mingyu.
“Buk!!!”.
“Kenapa?
Kenapa, Hyung?” Mingyu tersenyum sinis, “Kenapa kau belum mati?!” teriaknya.
Mingyu
terisak bukan main, “Aku..., aku takkan pernah..., mengampunimu...” lirihnya.
***
next...
Aim
Part XII : Rest in
Peace
***


