[FF] Aim part XII

6:00 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part XII : Rest in Peace

 

Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Kim Min Gyu, Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min

***


A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

Deg! Itu yang terasa di dada kirinya. Seungcheol tak punya kekuatan lagi untuk menggenggam ponselnya seketika berita buruk itu terdengar telinganya.

“Ada apa?” tanya Nayeon yang masih duduk-duduk di kursi taman rumah sakit, “Seungcheol-ah?” ia bisa melihat raut wajah Seungcheol berubah drastis.

Lelaki tersebut memeluk Nayeon sesegera mungkin, “Berjanjilah kau akan baik-baik saja setelah mendengar ucapanku.”.

***

Jihun panik melihat Seri menitikan air mata begitu menerima telepon dari Seokmin. Tak perlu ditanyakan lagi, pasti hal buruk telah terjadi.

“Seri,” panggil Jihun, “Seri-ya, katakan, ada apa?”.

Tak tahan, Seri memutuskan panggilan. Gadis itu hanya menunduk sambil terus menitikan air mata ―tanpa isakan.

“Ceritakan padaku begitu kau tenang,” bahkan ketika keadaannya belum pulih benar, Jihun masih bisa mengerti perasaan Seri.

Tangan Jihun menyentuh pipinya, menyeka aliran air mata di pipi Seri.

Ia lalu terisak, seraya menatap Jihun dengan air matanya yang berlinang, “Lee Ji Hun...,” panggilnya lirih.

Jihun berkedip, seakan kedua matanya bertanya, “Kenapa?”.

***

“Braakkk!!!” kesal, marah, serasa darahnya mendidih ketika Ilsung mengatakan hal tersebut padanya, hingga akhirnya Wonwoo membanting meja itu hingga terbalik.

Semua menatapnya, tanpa berani bersuara. Suara petir menyambar di saat yang sama, disusul hujaman titik air hujan yang memburu permukaan tanah. Angin kencang berhembus, membuat semua dedaunan bergesekan.

Kumpulan instrumen itu menyambut keheningan yang menyebar.

Hanya Ilsung yang tidak terpengaruh. Pria tua itu bahkan masih bisa menyalakan batangan putihnya dengan tenang. Lalu memandangi Wonwoo yang menatapnya tajam.

Wonwoo bisa saja membunuhnya saat ini.

Eoh? Kenapa?” alisnya terangkat, baru kali ini ia melihat Wonwoo semarah itu.

“Sudah ku bilang, jangan sentuh mereka!!!” geram Wonwoo.

“Hei, aku tidak bermaksud membunuhnya, lelaki tua itu memang sudah dasarnya bau tanah.” Ilsung mengepulkan asap dari mulutnya, “Memangnya kenapa? Setidaknya aku tidak menyentuh gadismu yang berharga, kan?”.

Percuma, tak ada untungnya berdiskusi dengan pria menyedihkan itu. Wonwoo segera mengambil jaket di sofa dan bergegas.

“Jangan pernah mencariku.” sinisnya.

“Blam!” dan meninggalkan ruangan.

***

Hari sudah berganti malam, tak terasa kereta yang dinaikinya secara ilegal ini sudah hampir mencapai kampung halamannya, tempat masa lalunya yang menyedihkan bersemayam.

Belum, ini belum sampai, dia baru saja menginjakkan kaki di perbatasan, namun ia sudah bisa menemukan seseorang yang sangat dikenalnya.

Wanita yang tetap terlihat cantik dan segar di usianya yang tidak lagi muda itu keluar dari sebuah mobil mewah, kemudian melambai manis pada pria di balik setir. Begitu mobil itu pergi, wanita tersebut bertengger di teras sebuah klub malam sambil menunggu sasarannya datang.

Di matanya, wanita itu menjijikan. Bahkan tak terlihat perubahan sedikitpun dari fisik maupun psikisnya. Mungkin ini sudah terlalu lama, bahkan meski ia sudah berdiri di seberang jalan raya ini ―sendirian, tak bergeming, dan diguyur hujan― sejak tadi wanita itu tak juga menyadari kehadirannya.

Atau bahkan tidak mengenalinya?

***
[ Bangtan Boys – House of Cards]
 
Ketika wanita itu sedang menggandeng seorang pria kaya raya sembari memasuki koridor penuh gemerlap itu, tiba-tiba saja datang seseorang yang langsung memukul ‘kekasihnya’ tersebut. Ia menjerit.

“Buk! Buk!” pria itu membalas pukulannya.

“Siapa kau?!! Mengganggu saja!!” pria tersebut memukulnya lagi.

Orang itu tak mau kalah dan memukul lebih kasar lagi, “Menjauh dari Ibuku!!” serunya.

Semua membatu. Ibu?

Sepertinya jadwalnya bermalam untuk hari ini harus dibatalkan karena kehadiran sosok yang tak terduga. Sambil menyeka darah di ujung hidungnya, pria tersebut meninggalkan orang itu dan wanita malamnya.

“Wonwoo?” panggil wanita itu.

Benar, orang itu Wonwoo.

“Astaga, kau sudah besar, Nak?” wanita itu berhambur pada anaknya, “A, apa yang..., kenapa wajahmu begini? Wonwoo-ya, kenapa badanmu basah? Apa yang terjadi padamu?”.

“Kau benar-benar memalukan, Ibu.” sinis Wonwoo.

Wanita itu tak peduli, “Ayo, kita ke rumah, Ibu akan mengobati lukamu.” ia gandeng tangan puteranya.

“Apa Ibu tidak mendengarku?” Wonwoo mematung, wanita itu memandangnya, “Ku pikir Ibu sudah berubah, nyatanya? Ibu masih sama saja, hanya saja sekarang Ibu lebih peduli padaku.”.

“Itu karena Shiyeon sudah meninggal,”.

“Dia mati, Bu. Dieksekusi mati.” ucapnya kasar, “Dia mati sebagai pengkhianat negara, dan Ibu menyerahkan anak Ibu ke orang seperti dia. Ibu angkat tangan dan membiarkan aku dirawat dengan dua tangan yang bersimbah darah. Apa Ibu tidak memikirkannya?”.

“Jeon Won Woo,”.

“Jeon Won Woo?” Wonwoo tersenyum sinis, “Lucunya Ibu memaksakanku memakai marga itu ―padahal Ibu tidak pernah menikah.”.

“Plak.” wanita itu menampar anaknya sendiri, Wonwoo menunduk.

“Kau kejam sekali pada Ibumu.” lirihnya.

“Lebih kejam mana ―aku atau Ibu?” Wonwoo menatap Ibunya, “Ibu yang membiarkan anaknya begitu saja, Ibu yang memaksakan kehendaknya, Ibu yang egois, Ibu yang lebih senang bermain-main dengan laki-laki lain, Ibu yang membiarkan anaknya menyaksikan perbuatan kejinya,”.

“Cukup, Jeon Won Woo!!!”.

“Aku lebih senang dipanggil dengan nama Park meski itu kedengaran kuno dan menyedihkan.” lanjut Wonwoo, “Daripada aku menggunakan nama asli dengan marga yang dipaksakan.”.

Wanita itu menyeka rambutnya yang tergerai. “Ibumu melakukan ini juga untuk menghidupimu, Wonwoo! Ibu melakukan ini agar kau bertahan hidup! Maaf jika Ibu memang sibuk dan tidak pernah hadir di masa kecilmu,” katanya, “tapi Ibu selalu memikirkanmu! Ibu selalu menanyakan keadaanmu pada Shiyeon!”.

“Kapan Ibu benar-benar memikirkanku?!” Wonwoo sampai juga pada puncak kemarahannya, “Kapan Ibu mengerti aku suka atau tidak suka?! Kapan Ibu mengerti perasaan seorang anak melihat Ibunya melakukan hubungan dengan banyak laki-laki?! Kapan, Bu?!!”.

Sekarang, ia kalah ―dia terdiam.

“Bu,” lirih Wonwoo, “Ibu tidak tau kalau anak Ibu yang tidak berguna ini baru saja mengkhianati negaranya sendiri? Ibu tidak tau, kan, kalau anak Ibu yang kurang ajar ini baru saja mengancam keamanan negara?”.

Tak sengaja sebulir air mata jatuh memudarkan riasannya.

“Aku baru saja mengkhianati orang-orang yang telah mempercayaiku, bahkan membunuh salah satunya, Bu. Ibu bahkan tidak tau kalau aku sudah membunuh banyak manusia, kan?” Wonwoo menunduk, “Aku..., aku benar-benar brengsek...”.

“Wonwoo,” wanita itu mendekati anaknya, merengkuh tubuhnya yang kokoh.

Sekarang, ia bisa mendengar wanita itu menangis untuknya, menangis untuk sesuatu yang telah diperbuatnya,menangis untuk sesuatu yang disesalinya seumur hidup.

“Sekarang pergilah, Bu,” Wonwoo mendorong Ibunya yang masih memeluk tubuh jangkungnya.

“Tapi, Wonwoo,”.

“Jangan harap aku akan kembali ―entah itu karena kehendakku sendiri atau karena aku memang sudah mati.” katanya.

“Wonwoo, jangan berkata,”.

“Lakukan apa yang Ibu suka, aku takkan melarang Ibu lagi, tidak ―justru aku tidak pernah melarang Ibu, kan?” ucapnya, “Aku hanya ingin menemuimu..., Ibuku...”.

Riasan wajahnya makin kacau.

“Jaga kesehatanmu, Ibu.” Wonwoo berlalu, meninggalkan wanita yang merupakan Ibu kandungnya. Langkahnya mantap meski Ibunya memanggil namanya : Wonwoo.

[ Bangtan Boys – House of Cards]

***

Di tengah keramaian yang hening ini, mereka dikejutkan dengan kehadiran seseorang.

“Lee Ji Hun?” seru Solji, melihat Jihun datang dengan kursi roda.

Di belakangnya, terlihat Seri yang mendorong kursi itu dan juga Seokmin yang menemani keduanya. Mereka bertiga nampak menggunakan dress code hitam yang rapi dan tertutup sebagai sebuah persembahan terakhir untuk seseorang yang sangat mereka hormati.

“Mana Mingyu?” tanya Jihun, seakan ia baik-baik saja.

“Kau belum sembuh, mana boleh kau keluar rumah sakit, Jihun-ah,” Junhui menghampirinya.

“Kami sudah meminta izin rumah sakit, ini hanya akan sebentar, kok.” kata Seri.

[ Zico & Sojin – Sick (inst.)]
 
“Aku juga ingin memberi penghormatan terakhir,” kata Jihun, semua menatapnya, “beliau lebih dari seorang pemimpin bagiku, lebih dari seorang kapten, lebih dari seorang guru buatku. Aku harus memberi salam terakhirku untuknya.”.

Semua tak bergeming, tak ada yang berani menentang kehendak Jihun.

Di rumah duka ini, semua berkumpul. Keluarganya, kerabatnya, semua rekan kerjanya dari kepolisian, semua anggota X Team ―kecuali yang mengkhianatinya, semua orang yang mengenalnya, semua orang yang menyayanginya.

Di antara kursi-kursi itu, duduklah sederet anggota X Team. Sebelum mereka, duduklah Nayeon disusul Seungcheol di sampingnya, lalu Jeonghan, Sunyoung, Seokmin, Jihun, Seri, Jun, barulah Solji yang paling dekat dengan Mingyu dan keluarga besarnya.

Sebuah pigura di antara rangkaian bunga berduka, di hadapannya satu per satu pelayat memberikan penghormatan terakhirnya.

Nayeon menghadapnya ditemani Seungcheol ―kali ini lelaki itu bukan lagi seseorang yang dihindarinya, justru ia tak bisa berdiri tanpanya.


“Karena aku akan mengajarimu memimpin tim ini sepenuhnya,” jawab Pak Kim sambil menggulung sebuah kabel.

“Tidak ada yang salah dari caramu memimpin, Choi Seung Cheol,” sela Pak Kim kemudian, “hanya saja aku ingin menyempurnakan kepemimpinanmu seperti caraku.”.

“Kenapa? Apa Anda akan meninggalkan kami?”.

“Ku titip keponakanku padamu,”.


“Rupanya begitu,” Nayeon menatap Seungcheol yang bergumam, lelaki itu menunduk sendu, “rupanya Anda sudah tau kapan tepatnya Anda akan berpulang.”.

Gadis itu masih menatapnya lekat-lekat.

“Anda bahkan telah menyiapkan sosok pengganti Anda di X Team : aku.” senyumnya miris, “Aku bahkan tidak tau, aku tidak peka saat itu. Seandainya demikian, aku ingin mengucapkan apa yang ingin ku ucapkan pada Anda sebelum Anda pergi, Sonsaengnim.”.

“Lebih dari seorang pembimbing X Team, Anda adalah sosok ayah keduaku. Kita bahkan bercanda seperti seorang ayah dan anak lelakinya. Menyenangkan.” ia terkekeh, “Seperti yang telah Anda ajarkan selama ini, aku akan menjadi seorang pemimpin X Team yang tidak hanya baik, namun juga bijak dan lebih dewasa. Dan aku janji, aku akan menjaga keponakan Anda, Kim Min Gyu ―sesuai yang Anda minta, Ayahku.”.

Satu per satu, Jeonghan yang biasanya terlihat baik-baik saja sekarang ia bisa menangis untuk melepaskan rasa dukanya, sama halnya dengan Sunyoung dan Seokmin ketika mereka bergantian menghadapnya untuk terakhir kali.

Jihun yang ditemani Seri yang mendorong kursi rodanya. Lelaki manis itu terlihat diam, tidak bergeming, namun ia mengepalkan tangan seperti berdoa untuk beliau. Melihat Jihun seperti itu, Seri pun bisa menahan tangisnya. Sambil mengikuti Jihun yang berdoa, Seri gagal menahan buliran air matanya yang jatuh.

Junhui menghadapnya dengan tubuh gemetar, bagaimana tidak? DIalah yang menanganinya, dialah yang menyaksikan Pak Kim meregang nyawa, dialah yang berusaha menyelamatkan hidupnya, dan sekarang ia menemuinya dalam keadaan tidak bernyawa. Ia merasa menjadi seorang Junhui yang gagal, julukan Optimistic Boy yang disandangnya runtuh sejak ia menemukan kenyataan bahwa ia tidak bisa menyelamatkan nyawa beliau.

“Guruku,” ia menelan tangisnya, “maafkan aku, aku tidak becus, aku tidak bisa menyelamatkanmu. Rasa optimisku yang terlalu tinggi ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan nyawamu, Guruku.”. Lalu Junhui tersenyum getir, “Tapi tenang saja, aku tetaplah Junhui yang optimis. Aku tetap akan seperti itu, Guruku! Semua ilmu yang kau berikan, semua kenyamanan yang kau berikan ―yang membuatku senang tinggal di negeri ini, semuanya! Semua itu sangat berharga! Tapi..., maaf..., aku tidak bisa membalas kebaikanmu, Guruku...”.

Junhui mengatur nafasnya, “Aku..., tidak bisa...” lirihnya.

Terdengar suara seorang wanita menangis, sesenggukan. Dialah salah satu yang berduka karena baru saja kehilangan suami yang sangat dicintainya.

“Apa kabar ―Anda yang sudah ku anggap sebagai Ayahku?” senyum Solji, bergantian dengan Junhui, sekarang gilirannya memberi penghormatan terakhir, “Sepertinya kejadian mengerikan itu takkan pernah hilang dari ingatanku, Sonsaengnim. Kejadian itu mengerikan, yang paling mengerikan, selama aku bertugas sebagai seorang polisi. Dan biasanya, aku tidak bisa menghapus ingatan itu selamanya.”.

Sonsaengnim, lebih dari sekadar memaafkan semua kesalahanmu, justru aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahku, semua kesalahan yang anak-anak didikanmu perbuat, semua yang tidak kau ketahui kenapa makhluk sialan itu muncul di ambang pintu dan mengantarmu ―secara tak langsung― pada kematian.” lanjut Solji, “Aku..., takkan pernah memaafkannya...”.

Sampailah pada persembahan para keluarga besar. Mingyu menjadi yang paling terakhir sebelum wanita yang tadi menangis itu memberikan penghormatannya pada beliau.

Mingyu tak bergeming, sungguh ia tidak bisa mempercayai semua kesialan yang menimpanya. Sahabat yang mengkhianatinya, rekan-rekan yang berjatuhan, dan satu lagi yang paling tidak bisa diterimanya : kematian beliau.

Samchon,” akhirnya bibir yang kelu itu berucap, “Samchon, nae Samchon, kau yang dengan sabar membimbingku, kau yang mendidikku untuk jadi seorang profesional di tengah keanggotaan X Team.” akhirnya tangisnya pecah, “Samchon, aku sungguh tidak tau kejadian itu, aku sungguh menyesal karena tidak bisa melindungimu!!”.

Mingyu meremas tangannya.

“Kim Jin Po, Pamanku, yang paling ku hormati, yang menjadi panutanku, yang mengantarku menuju cita-citaku sebagai polisi.” lirihnya, “Maaf, lagi-lagi kau melihatku menangis seperti anak kecil, padahal aku sudah berjanji padamu aku takkan menangis karena aku laki-laki. Maafkan keponakanmu ini, Pamanku.”.

“Terima kasih, Samchon, kau sudah mengajarkanku yang terbaik. Kaulah yang terbaik bagiku, Samchon. Maaf karena aku tak bisa melindungimu, aku tidak bisa berada di sampingmu di saat-saat terakhirmu. Tapi yang harus kau tau, aku menyayangimu, Samchon.”.

“Aku akan merindukan masa kecilku, setiap kali kau menemaniku bermain sepak bola,” Mingyu menelan tangisnya, “aku akan merindukan nasehatmu, setiap kali kau mengoceh panjang lebar, demi anak-anak didikmu. Samchon, kami akan jadi yang terbaik, kami akan menyerahkan jiwa dan raga kami demi melindungi negeri ini.”.

“Dan aku takkan pernah mengampuninya.”.

***

Dirinya seperti sosok yang tidak pernah diharapkan hadir di pemakaman itu, dirinya seperti sesosok makhluk halus yang tidak dikenali keberadaannya. Sembunyi, dan masih bersembunyi di balik sebatang pohon, menyaksikan bagaimana prosesi pemakaman itu berlangsung.

Benar-benar tak ada satupun yang menyadari kehadiran Wonwoo di sana, yang jaraknya cukup jauh dari lokasi Pak Kim dimakamkan. Semua hanyut dalam kesedihan dan kepedihan yang mendalam atas kepergian seorang Kim Jin Po yang bijaksana, panutan semua orang, kesayangan keluarga.

Wonwoo pun membiarkan ‘gadisnya’, Solji, memeluk Mingyu sepanjang prosesi pemakaman. Meski lelaki jangkung itu tidak terlihat menangis, Solji masih memeluk tubuhnya untuk ―setidaknya― menenangkan hatinya yang hancur berkeping-keping.

Sekarang, ia punya dua pilihan, kembali pada Ilsung, hidup lebih tenang, tapi disebut sebagai penjahat, atau kembali pada X Team, tapi hidupnya lebih rumit karena ia telah disebut sebagai pengkhianat.

[ Zico & Sojin – Sick (inst.)]

***

Hening, dan sepi. Markas saat ini bak tak berpenghuni, padahal hampir semua anggota X Team di sini sejak tadi pagi. Ini sudah seminggu sejak pemakaman Pak Kim, namun masih terasa kehampaan di markas ini.

Tidak ada lagi pria tua yang datang mengejutkan mereka dengan misi mendadak, tidak ada lagi pemimpin yang akan membuat mereka menyahut dengan kata ‘siap’, tidak ada lagi sosok bijak yang selalu bisa memecahkan setiap masalah.

Semuanya terasa hambar di sini.

“Bagaimana kalau kita menyusul Seri dan Seokmin yang menjemput Jihun?” usul Sunyoung, “Lagian, di sini gak ada kerjaan. Semuanya belum berjalan normal.”.

“Benar,” sahut Jeonghan, bersandar pada kursinya dengan enggan, “di rumah sakit juga ada Junhui, kan?”.

Solji menatap Mingyu yang masih berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit. Tatapannya masih kosong, masih sama sejak hari pertama mereka kembali bertugas di markas ini.

Kasihan, Solji iba melihatnya.

“Solji-ya,” terdengar Seungcheol memanggil, Solji melihatnya sudah memakai jaket, “ikutlah menjemput Jihun. Sudah ku cek, hari ini tidak ada tugas, jadi kita bisa pergi keluar sebentar.”.

Seungcheol menyusul Sunyoung dan Jeonghan, sementara Solji kembali memandangi Mingyu. Lelaki itu masih sama saja.

“Kim Min Gyu,” meski Solji memanggilnya, Mingyu tak juga bergeming, “yuk kita jemput Jihun sama-sama.” nadanya ringan.

Namun Mingyu tetap tak bersuara, bergerak saja tidak.

“Kau pasti butuh udara segar,” Solji lalu mengambilkan jaket kulit itu dan memakaikannya pada pundak Mingyu, “setelah menjemput Jihun, kita akan jalan-jalan sebentar.”.

Sepertinya yang dikatakan Junhui benar : Mingyu belum sepenuhnya pulih. Mentalnya masih down. Kalau dibiarkan, dia bisa saja stress berat. Bahkan baru gejala seperti ini saja, berat badan Mingyu turun drastis. Pipinya juga terlihat tirus, dan nafsu makannya tidak lagi selahap yang biasanya ―karena ia shikshin, Mingyu lebih sering melewatkannya karena kehilangan nafsu makan.

“Ayo,” suaranya melembut, Solji lalu menyematkan jemarinya di sela-sela jari Mingyu yang kokoh, seakan merajuknya untuk pergi.

Barulah Mingyu memandang ke arahnya, dan Solji tersenyum untuknya.

***

“Wah, semuanya pada datang, ya?” Jihun menggaruk-garuk tengkuk.

Senangnya bisa melihat Jihun sudah sanggup berjalan dengan normal, tidak lagi kesakitan atau hilang keseimbangan. Senyuman manisnya yang menawan terlihat begitu segar hari ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya ketika ia dirawat, wajahnya sangat pucat dan lesu.

“Bagaimana kabarmu, sobat?” Sunyoung mendekat, melakukan hal yang biasa dilakukan dua orang lelaki kalau bertemu.

“Rumah sakit membosankan,” ucapan Jihun itu disusul gelak tawa yang lainnya, “apalagi Junhui melarangku menyentuh gadget ―termasuk laptopku― sampai berhari-hari. Aku hampir frustasi.”.

“Hei, itu karena radiasi gadget-mu bisa membahayakan keadaanmu, tau!” oceh Junhui.

“Oya, kenapa kalian semua datang menjemputku? Apa tidak ada yang berjaga di markas?” tanya Jihun, mereka berjalan seiringan.

“Selama tiga hari ini, semua belum berjalan normal, bahkan hari ini tidak ada tugas.” keluh Seungcheol, “Tidak apa, kau tak perlu langsung berhadapan dengan layar komputermu dulu untuk saat ini.”.

“Kita sepakat untuk jalan-jalan keluar,” senyum Jeonghan, “menghirup udara segar, menyerap sinar mentari, dan menghilangkan beban yang dipikul bahu kita!”.

“Kalau gitu, ayo kita ke Han Gang!” usul Seokmin.

Call! Call!” seru anggota yang lain.

Ketika mereka bersuka cita, Solji lagi-lagi melihat Mingyu yang lesu dan terbengong. “Hei, kita akan jalan-jalan! Gibuni ottae?” nadanya ringan seperti biasanya, mengajak Mingyu untuk ikut berinteraksi dengan teman-temannya.

Mingyu terbangun, dia hanya mengangguk, dan mendesis, “Joha.” katanya singkat.

Solji tersenyum lagi. Memang benar, Solji lah satu-satunya yang bisa mengerti perasaan Mingyu saat ini. Itulah kenapa Junhui menyarankan Solji untuk tetap berada di dekatnya, karena yang bisa mengendalikan Mingyu hanyalah dirinya.

Bukannya tidak peduli, tapi anggota X Team yang lainnya bertindak seakan Mingyu tidak apa-apa, semata-mata agar ia tidak tertekan. Junhui meminta pada teman-temannya untuk tidak menaruh perhatian berlebih pada Mingyu yang saat ini masih murung, karena itu hanya akan membuat Mingyu terganggu dan lebih tertekan, ia akan merasakan perlakuan khusus yang aneh menurutnya, dan itu akan membuatnya berpikir bahwa ia sedang tidak normal.

Solji pun diminta untuk lebih dekat dengan Mingyu tanpa memberikan perhatian yang berlebihan. Mingyu pun tetap dibiarkan melakukan beberapa hal sendiri, sementara Solji hanya sekadar membantunya kembali ke dalam lingkungan sosial, seperti seorang Kim Min Gyu yang biasanya.

“Ayo kita suit! Yang kalah traktir es krim, ya!” usul Seokmin, ketika mereka baru saja melewati gerbang rumah sakit.

Yang lain pun menyorakinya, “Huu~..! Bilang saja lagi gak ada duit!” sahut Junhui.

“Ayo aku yang traktir,” kata Jihun, “sekalian syukuran karena aku sudah diberikan kesembuhan dan bisa kembali ke X Team lagi oleh Yang Maha Kuasa.”.

“Hore, traktiran!” seru Sunyoung.

Namun suka cita itu tak berlangsung lama. Mereka menemui sosok yang mereka kenal begitu melewati bagian belakang rumah sakit.

Seseorang dengan kaos putih o-neck dibalut jaket tipis abu misty-nya, dengan kupluk yang menutupi kepalanya. Ia hanya berdiri santai sambil bersandar pada plang tipis di tempat yang cukup sepi itu, menunggu mereka keluar dan menghadapi berbagai resiko yang akan ditanggungnya.

Cacian, makian, atau bahkan pukulan.

[ B.A.P – Blind]
   

Mata sabitnya yang dingin tak lagi menusuk seperti yang dulu, bibirnya yang kaku dan kelu berusaha untuk tersenyum meski sulit sekali rasanya. Wonwoo berdiri tegak dari sandarannya. Ia berusaha tampil bersahabat ketika semua anggota X Team menemukan sosoknya dan berhenti melangkah saat itu juga.

“Teman-teman,” sapanya, berusaha ramah ―tapi gagal.

“Kim Min Gyu!!” Solji terlalu lamban untuk mengejar Mingyu yang sudah berhambur ke arah Wonwoo dengan gusarnya.

“Buk!!!” lalu mendaratkan pukulan panasnya pada rahang Wonwoo. Mingyu belum puas melihat lelaki itu hanya tersungkur di atas aspal saja.

Ia menariknya kasar, nafas Mingyu terasa panas dan berat tak beraturan. Kemudian ia memukul Wonwoo kembali, berulang kali. Marah, murka, dendam, lebih dari itu semua, hatinya terasa sakit karena seorang Jeon Won Woo, sahabatnya.

“Mingyu, hentikan! Mingyu!” Seungcheol berseru, ia, Junhui, dan Jeonghan berhambur ke arah mereka berdua.

Junhui memegangi Mingyu, Jeonghan membantu Wonwoo untuk menghindari amukan Mingyu, sementara Seungcheol menengahi mereka.

“Kenapa? Kenapa, Hyung?” Mingyu tersenyum sinis, “Kenapa kau belum mati?!” teriaknya.

Wonwoo menyeka darah yang mengalir di ujung bibirnya, darah juga mengalir dari hidung dan luka di dahinya yang berbenturan dengan panasnya aspal.

“Harusnya kau mati saja, Hyung!! Karena aku sudah muak melihat wajahmu!! Aku muak melihat mukamu yang muncul sebagai pengkhianat!! Pembohong besar!! Berhati busuk!!” Mingyu meluapkan kemarahannya, Junhui hampir kewalahan menggenggamnya yang terus memberontak.

“Harusnya aku tidak berteman dengan seseorang sepertimu, harusnya itu tidak terjadi!!” ia mulai menangis, “Kau tidak tau seberapa sakitnya hatiku, kan? Aku kehilangan sahabatku yang menjadi pengkhianat, aku melihat teman-temanku terluka parah, dan terlebih lagi, kau membunuh Pamanku!! Kau membunuh guru kita semua!!”.

“Pagar makan tanaman! Pengkhianat!! Penikam dari belakang!!” maki Mingyu habis-habisan, “Kau tidak pantas lagi ku sebut sahabat!! Kau tidak pantas ku panggil kakak!! Kau tidak pantas muncul di hadapan kami yang telah kau sakiti!! Sahabat tak pernah menikam teman-temannya!! Dan kau bukan sahabat!!”.

“Kau membunuh Pamanku : Kim Jin Po!! Kau mengantarkannya pada kematian, Jeon Won Woo!! Pembunuh!! Dan aku takkan pernah mengampuni orang yang telah menghilangkan nyawa keluargaku..., orang yang ku cintai...” kali ini Mingyu terduduk lemas.

Wonwoo menatapnya nanar. Penyesalan tersorot dari kedua mata sabitnya yang hanya bisa menatapnya lemah.

Mingyu terisak bukan main, “Aku..., aku takkan pernah..., mengampunimu...” lirihnya.

Solji pun buru-buru menghampiri Mingyu, ia tau apa yang harus ia lakukan sebagai tiang penyangganya. Gadis itu memeluk Mingyu dengan sayang, dengan rasa iba, dan menatap Wonwoo penuh dendam ―lebih dendam dari sebelumnya.

“Pergilah, Jeon Won Woo, kami tidak ingin melihatmu lagi,” desis Solji sinis.

Wonwoo tau ini tak semudah membalikan telapak tangan. Tetapi Wonwo hanya terdiam.

“Pergilah!” gertak Solji, “Kau hanya akan mengganggu Mingyu! Kau telah menyakitinya bertubi-tubi! Kau merusak fisik dan mentalnya! Apa kau masih bisa disebut manusia?!”.

Manusia? Apa benar ia tidak bisa disebut manusia? Senista itukah dirinya?

Tiba-tiba Jeonghan menarik Wonwoo dengan paksaan, ia membawanya sejauh mungkin dari jangkauan teman-temannya. Rasa jengkel yang ia pendam akhirnya meluap juga.

“Bruk!” di antara gang sempit itu, ia membanting Wonwoo pada dinding.

Kepalan panasnya sudah siap mendarat di wajah babak belur itu lagi, namun melihat Wonwoo menyerah dan begitu putus asa, Jeonghan pun membatalkan niat buruknya tersebut.

“Kau tau,” nafasnya memburu, “aku kasihan padamu, tapi aku juga amat sangat membencimu, Jeon Won Woo. Kau brengsek.”.

Lelaki itu tak mampu menatap Jeonghan.

“Lebih baik kau pergi sebelum,”.

“Aku hanya ingin menyampaikan,” Wonwoo tatap Jeonghan saat itu juga, “mungkin akan sulit dipercaya tapi― ada kemungkinan Ilsung akan memburu X team ―lagi.”.

“Huh,” Jeonghan tersengal, “percuma ―dasar pembual.” ia menyunggingkan senyuman sinis. “Pergilah dari hadapan kami.”.

“Jeonghan Hyung,”.

“Sekali lagi kau berusaha merajuk,” nada Jeonghan meninggi, “aku benar-benar akan menghajarmu.” tatapannya dingin. “Ga.”.

Wonwoo menatapnya lemah.

“Dan jangan pernah kembali.”.

***
to be continued
***

next...

“Yongseo haseyo, Sonsaengnim...” lirih Wonwoo, “Yongseo haseyo...”.


“Kau tau siapa Solji itu, kan?” tanya Ilsung.

“Anggota X Team.” jawaban Haera pun disambut gelak tawa Ilsung.

“Nak, jangan pura-pura kau tidak tau, Solji adalah gadisnya Wonwoo. Seseorang yang paling berharga dalam hidupnya, dan dia bukanlah kau, Haera-ku sayang.” lalu Ilsung kembali menekankan, “Solji adalah kesayangan Wonwoo ―bukan kau.”.

“Abeoji,” rasa sakit itu menyuruh mulut Haera untuk terbuka.

“Untuk apa kau selalu menunggu Wonwoo kalau ternyata ia sudah memberikan hatinya untuk gadis lain, sayangku?” hasutan busuknya mulai lagi, “Tidakkah kau marah padanya?”.


“Wonwoo-ssi! Kau tak apa?” paniknya.

“Manis,” tiba-tiba lelaki itu mendesis, Haera terkesiap, “apa yang..., kau lakukan...?”.

“Tidak, Wonwoo-ssi,” Haera berusaha menyadarkan Wonwoo, “ini aku, Shin Hae Ra!”.


“Wonwoo-ssi!!” jerit Haera.


“Oh? Wonwoo?” gumam Junhui, seketika suasana markas mendingin.

“Shit.” desis Solji, “Kenapa dia kembali lagi, sih?!”.

“Si, siapa itu?” Seokmin menyebutkan.

“Bu, bukankah dia gadis yang waktu itu,” Seri mengingatnya, “dia yang waktu itu bertemu Yukseon di area taman hotel, kan?!”.


“Aku membencimu!!” seru Haera, lalu bergegas menikam Wonwoo.

“Shin Hae Ra!! Apa yang Ilsung katakan padamu hingga pikiranmu kacau begini?!” Wonwoo berusaha mencari petunjuk.

“Kau yang harusnya sadar! Siapa yang selama ini memperhatikanmu! Siapa yang selama ini menyimpan tempat untukmu! Kenapa tak sedikitpun kau menyadarinya?!”

Itu dia ―Wonwoo mengerti sekarang.

“Jerb!!” Haera berhasil menancapkan pisaunya pada kaki Wonwoo.

“Aaargh!!” pekik Wonwoo.

Ketika Haera mendatanginya lagi, Wonwoo justru berusaha bangkit, Wonwoo dengan cepat menahan pergerakannya. Ia menggenggam kedua lengan itu dan bergerak...,

“Prang!” sontak melihat adegan itu, Solji tak sengaja menyinggung vas, dan jatuh menimpa lantai hingga terpecah belah.

Semua memandanginya, pantas sajalah kalau Solji merasa panas melihat pemandangan tersebut. Sepertinya ia menangis, karena Solji berlari ke kamar mandi.

“Onnie!” Seri mengejar untuk menenangkannya.

“Ada apa?” Jeonghan jadi yang terakhir mendekat ke jendela besar itu.

“Wonwoo..., ia sedang...,” Junhui gelagapan, “mencium gadis yang berusaha membunuhnya...”.

***

Aim
Part XIII : Just Another Girl

 ***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^