[FF] Aim part X

6:00 PM 0 Comments A+ a-

Aim
Part X : Who Knows?

 
Author : Near

Genre : Action, Romance, NC+19

Cast : Choi Sol Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo

Other Casts : Choi Seung Cheol, Han Na Yeon (OC), Kim Min Gyu, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min


***

A warning from Author...

NC di sini meliputi adegan kekerasan ―berhubung genre-nya action jadi ada adegan pukul-pukulan, tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.

Tulisan ini tidak untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini dan ambil yang baik dari fanfiction ini. Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.

Mohon perhatikan baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.

Author

Near

***

“Lee Ji Hun!! Bangun kataku!” Seungcheol mengguncang tubuh mungil itu, “Lee Ji Hun! Coba kau lacak ponselnya Pelatih Han!”.

“Paling baterenya habis, Hyung,” dengan enggan Jihun bangkit sambil mengucek matanya.

“Tidak, ini aneh, Jihun-ah.” Jihun bisa melihat wajah Seungcheol itu, “Ada yang tidak beres dengannya.” berubah menjadi sangat serius.

Jihun tak bisa menolak, “Baik.” ia pun bergegas menuju komputernya.

“Tapi aku hanya bisa melacak lokasi terakhirnya sebelum ponsel dimatikan.” ucap Jihun, jemarinya mulai mengutak-atik keyboard di hadapannya.

“Tidak apa,” Seungcheol mengamati, “aku akan coba hubungi Jeonghan.”.

“Di sini, Hyung.” Jihun menunjuk koordinat di layar komputernya.

Tepat di depan sebuah gang kecil, setelah melewati pertigaan. Di sinilah lokasi terakhir ponsel Nayeon sebelum dinonaktifkan.

Eoh? Jeonghan-ah!” Seungcheol berhasil menghubungi Jeonghan, “Maaf kalau kau sudah tidur, tapi aku rasa ada yang mencurigakan.” preambulnya, “Bisakah kau ke pertigaan sebelum gang rumah Pelatih Han? Coba cek apakah ada yang mencurigakan di sana ―sekarang.”.

Copy.” jawab Jeonghan.

Jihun mendongak ke arahnya, “Kau menelpon Jeonghan Hyung?” tanyanya.

“Rumahnya cuma berjarak 100 m dari rumah sewanya Pelatih Han.” jelas Seungcheol.

Eoh, Seungcheol-ah,” panggil Jeonghan, “memangnya apa yang terjadi?” tanyanya.

Seungcheol beralih pada ponselnya, “Aku curiga dia diculik.” jawabnya.

Mwo?!!” Seungcheol bisa mendengar teriakan di markas ―Jihun― dan di ponselnya ―Jeonghan.

Ya!! Jangan sembarangan kalau ngomong!” tegur Jeonghan.

“Bagaimana bisa kau menduganya seperti itu, sih, Hyung?! Kau ini ada-ada saja!” tegur Jihun, serasa dua ucapan itu bersambung.

Jeonghan dan Jihun memang begini orangnya.

“Seungcheol-ah, aku sudah di depan gang rumah Pelatih Han.” lapor Jeonghan, “Tapi tidak ada siapa-siapa di sini. Tidak ada yang mencurigakan pula.”.

“Benarkah?” Jihun bisa mendengarnya setelah Seungcheol mengaktifkan loudspeaker.

“Aku sudah mencari-carinya.” tambah Jeonghan.

“Kalau begitu coba cek rumahnya ―rumah Pelatih Han.” kata Seungcheol.

Copy.” balas Jeonghan, perlu waktu kurang lebih tiga menit kemudian Jeonghan menjawab, “Coups-ya!” Jeonghan kedengaran kaget, “Masih digembok dari luar! Pagarnya masih digembok! Rumahnya masih gelap!”.

Seungcheol terbelalak.

“Apa jangan-jangan..., yang kau katakan itu...,” Jihun menerka-nerka.

“Oh!” mereka mendengar Jeonghan berseru, “Coups-ya, apa di sana ada Jihun?”.

“Ya, ya, ya!” Seungcheol terkesiap, “Kenapa?”.

Di tempatnya sekarang, Jeonghan menoleh ke segala arah. Ia bergegas keluar gang dan mencari-cari lagi, “Aku sedang mencari kamera CCTV di sekitar sini, apa mungkin Jihun bisa melacaknya?”.

Seungcheol menatap Jihun, “Bisa! Bisa!” seru Jihun, ia kembali pada komputernya.

Jeonghan keluar dari gang itu, setelah berjalan sedikit ia bertemu pertigaan yang dimaksud. Di salah satu tiang listrik yang dihinggapi lampu penerang jalan sederhana, terpasang sebuah kamera CCTV di sana.

“Oh!” seru Jeonghan, “Woozi, kamera di pertigaan!”.

“Baik.” jawab Jihun.

“Eh? Hanya gitu saja?” Seungcheol terkejut, “Kau tidak perlu tau tipe atau koordinatnya?”.

Hyung, aku selalu melacak kamera pengawas di sekitar markas hampir setiap hari,” Jihun masih mengotak-atik komputernya, “aku hampir bisa disebut khatam posisi dari setiap kamera pengawas di setiap sudut kota atau jalan.”.

Chajatda! Ketemu!” seru Jihun kurang lebih semenit kemudian.

Di layar, mereka bisa melihat sosok Jeonghan yang melambaikan tangan. Ia sedang berdiri di antara pertigaan yang sepi itu. Hanya ada sebuah tiang listrik, satu lampu penerang jalan, dan sebuah cermin cembung yang dipasang bagi para pengguna jalan agar tidak bertabrakan di pertigaan.

“Kami bisa melihatmu, Jeonghan-ah.” ucap Seungcheol.

“Dan tolonglah,” Jihun merebut I-phone itu, “Jeonghanie Hyung, berhenti melambai-lambai. Kau bisa dikata kurang waras sama security yang mengawasi kamera ini.”.

Eoh? Jinjja?” Jeonghan jadi malu sendiri, “Memangnya, mereka bisa melihatku, ya?”.

Hyung, aku hanya meretas. Aku tidak mengendalikan kamera pengawas ini.” ingat Jihun, “Server-nya, Hyung. Server.”.

“Aku harap bapak pengawasnya sedang tidur.” desis Jeonghan sendiri.

Kembali ke kasus, “Apa tidak ada kamera pengawas terdekat dengan gang itu?” tanya Seungcheol, masih via telepon.

“Ini sudah yang paling dekat.” kata Jeonghan, “Ada lagi kamera pengawas kalau jalan terus melewati gang, tapi jaraknya lebih jauh dari kamera yang ini. Kamera CCTV yang ada di pertigaan inilah yang terdekat.”.

“Daerah ini memang jarang sekali kamera pengawasnya.” kata Jihun, “Dasarnya kawasan penduduk, dan tingkat kriminalitas di sini memang sangat rendah jadi tidak ada inisiatif dari pihak manapun untuk memasang kamera pengawas lebih ketat.”.

Sedikit informasi, Seungcheol mengangguk kecil.

“Memangnya yang ini tidak menyorot ke gang, ya?” selidik Jeonghan.

“Tentu saja tidak.” kata Jihun, “Kemungkinan kamera ini dipasang untuk mengawasi lalu lintas di pertigaan yang kalau pagi dan sorenya ramai. Kamera ini biasa merekam kecelakaan. Makanya di sudut pertigaan dipasang cermin cembung supaya tidak ada kendaraan yang bertabrakan karena tikungan yang tajam....,”.

Ketika Jihun berceloteh, Seungcheol mendapat pencerahan. Cermin cembung itu! Ia terbangun dan segera menyambar ponselnya.

“Jeonghan-ah, coba berdiri di depan gang!!” seru Seungcheol.

“Oh? Wae?” gumam Jeonghan, ia turuti saja kemauan Seungcheol. Ia pun berjalan dengan jaket tebalnya ke depan gang yang mengarah ke kediaman Nayeon itu.

“Nih, sudah. Terus apa lagi?” Jeonghan sudah berdiri di depan gang itu.

Dugaan Seungcheol tepat!

“Jihun-ah, sekarang kau lihat ke cermin cembung itu!” kata Seungcheol.

Matanya yang sipit makin menyipit ketika Jihun mencermati layar komputernya. “Kenapa? Tidak ada apa-apa. Cuma bisa melihat bayangan Jeonghanie Hyung di depan...,” barulah kemudian nalarnya bekerja, “gang!! Cermin itu memantulkan Jeonghanie Hyung yang berdiri di depan gang!!” Jihun baru paham.

“Apa? Kalian bisa melihatku di cermin?” Jeonghan mendengar seruan Jihun itu.

Hyung, maksudmu, meski kamera ini tidak menyorot ke depan gang rumah Pelatih Han, tetapi,”.

“Cermin itu memantulkan apa yang terjadi di depan gang tersebut.” Seungcheol menyambung analisa Jihun, “Tepat! Itu yang ku maksud.”.

Setelah menjentikan jari, Jihun tak mengulur waktu lagi. Entah apa yang sebenarnya Jihun lakukan di mata Seungcheol, namun yang jelas lelaki ini berusaha mencari kejadian yang sebelumnya direkam oleh kamera ini.

“Hoi, hoi, di sini seram, aku sendirian lagi,” Jeonghan melapor dari depan gang, “kok, kalian diam saja, sih?”.

“Kemarilah, Jeonghan, ke markas,” kata Seungcheol, “kita selidiki ini sama-sama.”.

Copy.” ujar Jeonghan, meski dalam perjalanan ke markas ia tak juga mengakhiri telepon ―untuk berjaga-jaga.

Jihun berhasil mendapatkan rekaman yang dicarinya.

“Pelatih Han!” serunya, memutar balik kejadian sekitar tiga puluh menit yang lalu.

Kini mereka bisa melihat Nayeon sedang berjalan melewati pertigaan, melewati kamera pengawas itu. Pengamatan mereka berlanjut pada cermin cembung itu begitu sosok Nayeon tak lagi tertangkap kamera.

Dan benar saja, “Apa yang,” Jihun tercengang, Seungcheol pun yakin firasatnya ini bukan sekadar prasangka saja begitu melihat apa yang kamera itu saksikan lewat cermin di hadapannya.

Ketika Nayeon hendak memasuki gang rumahnya, dari arah berlawanan datang seorang pemuda ―yang wajahnya sulit dikenali― yang segera menyergap Nayeon bahkan sempat memukulnya, lalu pemuda itu menyekap gadis tersebut hingga hilang kesadaran.

Sebenarnya tidak begitu jelas, namun Seungcheol tau pemuda itu mendengar ponsel Nayeon berdering dan segera mematikannya.

“Dia, dia, dia,” gagapnya Jihun semakin parah, “dia membawa Pelatih Han ke mana?” dilihatnya pemuda itu membawa tubuh Nayeon ke arah berlawanan dari datangnya si pelatih.

Buru-buru Jihun melacak satu kamera pengawas lagi yang sempat Jeonghan jelaskan. Kamera itu terletak di pertigaan lurus yang jauh dari gang. Sayangnya, kamera tersebut tidak menyorot ke arah gang, tapi ke jalanan lurus di pertigaan.

Kembali Jihun dapatkan rekamannya, yang ia lihat hanya sebuah mobil mini bus hitam yang melintas. Diduga kuat mobil ini dikendarai oleh pemuda tersebut yang membawa Nayeon bersamanya.

“Aku akan melaporkan ini ke Pak Kim,” Seungcheol segera berlalu, “kalau Jeonghan sudah sampai, katakan aku sedang menemui Pak Kim.”.

Ok.” Jihun tak berpaling dari komputernya.

***

Pagi menjelang, pagi yang berbeda, di mana semua anggota X Team berkumpul di lebih awal dari biasanya. Pagi yang menegangkan, meninggalkan tanya ketika semua anggota telah tiba di markas.

“Apa semuanya sudah berkumpul?” tanya Junhui.

“Satu lagi,” lapor Seokmin, meminta toleransi sedikit saja.

“Siapa yang belum hadir?” Jeonghan ―yang hari ini mewakili Seungcheol― bertanya.

“Wonwoo Hyung,” jawab Mingyu ―merasa aneh juga.

Tak biasanya Wonwoo terlambat. Ia selalu tepat waktu, tak ada kata terlambat dalam kamusnya. Ini sudah tiga puluh menit sejak semua anggota berkumpul, dan Wonwoo masih dalam tanda tanya.

“Sally,” panggil Jeonghan.

“Sedang dihubungi.” jawab Solji, menekan nomor Wonwoo lagi di ponselnya, lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya untuk yang kesekian kalinya.

“Baiklah, sambil menunggu semua anggota datang,” ucap Seungcheol, “aku mohon perhatiannya sebentar...,”. Ia mulai menjelaskan kronologinya : diduga Nayeon diculik seseorang.

Semua perhatian tertuju pada Seungcheol, termasuk Solji yang masih berusaha menghubungi Wonwoo untuk mengakhiri tanda tanya ‘di mana dirinya saat ini’.

“Sudah dikirimi pesan?” tanya Mingyu berbisik.

“Tidak dibaca.” desis Solji.

Di tengah briefing, Seungcheol tak juga mendapatkan titik cerah dari raut wajah Solji. “Sally,” panggilnya, “sudahi saja. Ini sudah satu jam, Wonwoo mungkin terlambat hari ini.” katanya, ”Begitu ku lihat wajahnya datang nanti, akan ku beri ia hukuman.” desisannya terdengar.

Dengan gundah, Solji melepaskan ponselnya. Ada bisikan dalam hatinya yang mendorongnya untuk ikut serta menghukum Wonwoo begitu lelaki bermata sabit itu datang nanti.

Semua terfokus pada materi yang disampaikan.

“Kami sudah melacak ke mana mobil itu pergi.” kata Pak Kim, “Kita juga mendapatkan tiga lokasi yang diduga menjadi tempat Pelatih Han disekap. Ada satu lokasi yang diduga kuat sebagai tempatnya ditahan, dan kita ―X team― akan datang ke sana dan menyergap. Sementara dua lokasi lainnya kita serahkan pada kepolisian.”.

“Kita akan berangkat sekarang ―meski tanpa Wonwoo.” sambung Seungcheol.

Hening, ini untuk pertama kalinya ada anggota X Team yang absen selama tim hebat ini berdiri. Canggung rasanya.

“Ada pertanyaan lagi?” tanya Pak Kim, “Kalau begitu, Choi Seung Cheol,”.

Seperti biasa, ia menghela nafas sejenak, barulah ia berkata, “Sebelum melaksanakan tugas, mari kita berdoa ―mulai.”.

Hening, dalam hati memanjatkan doa, memohon agar tugas kali ini dimudahkan.

Aku harap Nayeon Nuna baik-baik saja, aku harap semuanya akan baik-baik saja. Kau dengar aku, kan? Aku tau aku tidak sedang berada di dekatnya, karena itulah ku mohon padaMu : lindungilah dia.” harap Seungcheol dalam doanya.

“Berdoa selesai.” Seungcheol menyudahi.

Semua tangan berkumpul menjadi satu, meski ada satu tangan yang tertinggal ―Wonwoo― mereka tetap cheering up.

Ekseu, ekseu, aja-aja~ FIRE!!!”.

***

[ Bangtan Boys – House of Cards]


Pengap, pegal, gelap, pusing, semuanya. Ada bunyi-bunyian dan aroma yang tidak biasa di panca inderanya, yang terasa asing, yang tidak dikenali otaknya.

“Drrrrtt. Drrrrtt.” getaran yang merambat di atas permukaan yang datar, hingga suaranya terdengar paling menggema seruangan ini. Tak hanya sekali dua kali, tapi suara itu terdengar berulangkali.

“Drrrrrtt.” lagi dan itu membangunkannya, memaksakan kedua kelopak matanya terbuka meski sedikit. Barulah ia ―Nayeon― sadari di mana keberadaannya saat ini.

Rumah kayu yang usang, sebuah bangunan tua di antara bangunan tua lainnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang sepertinya dulu berfungsi sebagai dapur. Pengap, tidak ada lampu, cahaya mentari pun mencuri-curi celah untuk menyinari seisi rumah ini.

Di mana aku?” ketika ia hendak mengucapkan kata itu, seutas kain terasa membekap mulutnya rapat-rapat. Ia terkejut dan menatap ke bibirnya yang tertutup rapat tersebut.

Lebih terkejut lagi ketika ia menemukan dirinya terduduk dan terikat di sebuah bangku reot di tengah ruangan ―sendirian. Hingga membuatnya panik dan menjerit, namun tak satupun kata keluar.

“Drrrtt.” bunyi itu lagi.

Nayeon menoleh pada meja di sampingnya, yang tidak jauh dari tempatnya diikat. Sebuah ponsel bergetar di atas meja, itulah si sumber suara dari tadi.

Terpampang sebuah panggilan yang menunggu si pemilik ponsel menjawabnya. Nama ‘Sally’ bertengger manis di bawah sebuah foto profil seseorang yang dikenalnya : Solji. Sejak kapan gadis itu bernama Sally?

Tap, tap, tap.

Mendengar langkah mendekat, segera ia menoleh ke arah berlawanan dan menemukan pria yang menyekapnya semalam mendatanginya.

Langkah pria itu berhenti.

“Sudah bangun?” sambut pria itu, masih memakai pakaian yang sama : jaket hitam dan kupluknya, serta masker.

Ditatapnya tajam pria itu. Mengerti akan hujaman tersebut, si pria mendekatinya dan melepas kain yang membekap bibir manisnya. Namun dengan sembrono Nayeon menggigit tangan yang telah membebaskan bibir itu dari kebisuan.

“Ah!” pria itu merintih sedikit.

Tunggu, ia kenal suara itu?

“Siapa kau? Jangan main-main denganku!” galak Nayeon.

Sambil memegangi tangannya yang digigit, mata sabit itu menatap Nayeon. Membuatnya seperti ditusuk ujung pisau. Nayeon bergidik ngeri.

“Kau ingin tau?” tanya pria itu.

Ada ketegangan ketika jaraknya dengan pria itu semakin dekat dan dekat. Nayeon sekarang bisa mendongak menatap pria yang berhenti tepat di depan wajahnya itu.

Dan mata sabitnya tak henti menusuknya.

Segera ia lepas kupluk dan maskernya, dan tak perlu waktu lama hingga Nayeon terkejut. Pria itu pun menyambut, “Apa kau puas sekarang..., Pelatih Han...?”.

[ Bangtan Boys – House of Cards]

***

Semak-semak dan ilalang tumbuh subur dan meninggi di sini, tingginya menemani pohon-pohon yang menjulang. Nada-nada komunitas insektivora pun menemani suasana lokasi yang diduga menjadi tempat Nayeon disandera ini.

Berkat rerumputan liar tinggi ini, X Team yang dibantu beberapa polisi mampu menyusup ke sebuah pemukiman yang telah ditinggalkan tersebut tanpa mudah dikenali.

Di antara bangunan tuanya berjaga-jaga beberapa pria tegap bersenjata. Begitu waktunya tepat X team dan para polisi menyerang dan melumpuhkan lawan. Perlahan-lahan posisi mereka mendekat ke sebuah rumah kayu tua di tengah pemukiman mati ini.

Clear.” lapor Jihun, berada di dalam sebuah van khusus yang berada di radius yang cukup jauh dari lokasi penyergapan, dengan pengawalan ketat di sekitar van-nya.

Ia sendirian di dalam van ini, sementara beberapa polisi berjaga di luarnya. Ketika Jihun sedang serius dengan laptopnya, seseorang berseragam lengkap memasuki van.

“Loh?” Jihun terkesiap ketika van mulai bergerak, “Shin Gyeongchal, kita mau ke mana?” tanyanya.

Namun yang dikiranya polisi yang segera mengambil alih setir itu tidak menjawab. Ingin jawaban yang pasti, Jihun meninggalkan laptop dan handsfree-nya yang kabelnya terlilit.

Dengan tubuhnya yang mungil ia berhasil menggapai kursi tengah. Tak sengaja memandang ke kaca spion di atas dasbor, Jihun menyadari bahwa yang ia panggil Polisi Shin bukanlah orang yang ia kenal ―melainkan orang lain yang jelas-jelas berbeda.

Jihun terbelalak ketika meninggalkan lokasi yang ditinggalkan van-nya, ia mendapati para polisi yang berjaga untuknya itu telah tergeletak tak berdaya di sana.

“Hentikan van ini!! Hentikan!!” seru Jihun, dengan kemampuannya yang tersisa ia berusaha menggapai setir itu.

“Sialan!!” gerutu si polisi gadungan tersebut.

Jihun tak peduli meski ia harus terkena pukulan beberapa kali, ia terus berusaha merebut setir itu. Kacau, mobil van berwarna silver ini mulai berkelok-kelok di tengah jalan.

Lemah dalam pertahanan diri, Jihun tak bisa membalas pukulan pria itu, justru ialah yang terus menerus kena pukul. Hingga pada akhirnya, Jihun terlempar ke kursi di samping supir.

“Berikan itu padaku!!” gertak Jihun, masih berusaha merebut setirnya.

“Tiiiin!!” beberapa kali klakson berbunyi untuk van silver tersebut.

Pantang menyerah, Jihun menarik kunci pada pintu di samping pria tersebut. Begitu pintu terbuka, Jihun menendangnya hingga terlempar keluar dari van.

“Yes!” gumamnya.

Namun satu masalah lagi yang belum sempat terbesit dalam benaknya : laju van itu. “Tiiiinn...!!!” seruan klakson yang keras membangunkan Jihun.

“Uwwaaaa...!!” jeritnya, dengan sembrono menarik setir seenaknya. “Sial! Bagaimana ini?! Aku tidak bisa nyetir!!”.

“Tiiiinn...!!” sebuah truk besar melewatinya, Jihun yang terloncat kaget di depan setir dengan paniknya menarik benda bundar itu asal.

“Braakkk!!!” van itu terbanting ke sisi jalan, lalu terguling beberapa kali.

Jihun ada di dalamnya, ia terpelanting ke sana ke mari, terbentur kursi dan dasbor, tertimpa benda keras dan tergores pecahan kaca. Selama van itu berputar dan terpelanting ke sebuah lembah rerumputan liar, Jihun sama sekali tidak bisa berteriak.

Gravitasi akhirnya memberinya ampunan, setelah berkali-kali berputar van yang kondisinya menyedihkan itu berhenti terpental, namun posisi terakhirnya mengenaskan : terbalik. Dan Jihun masih di sana.

“Uhuk! Uhuk!” ia tergeletak di atap van bagian dalam.

Darahnya mengucur dari bagian kepala, lengan, dan kaki. Pusing dan mual bercampur jadi satu, asap yang mengepul menjepit paru-parunya. Lelaki mungil itu tidak bisa bertahan, apalagi kakinya terjepit.

Bahkan untuk meminta tolong, nafasnya pun tak sampai. Ia hanya terbatuk-batuk sambil berusaha melepaskan kakinya dari himpitan bangku.

Namun tenaganya hanya sampai di situ, sebelum akhirnya Jihun tidak bergerak lagi.

***

“Bruk.” Sunyoung berhasil menjatuhkan salah satu pria tegap tersebut. Ketika beberapa polisi mengambil alih pria itu, Sunyoung terkesiap.

“Srak, srak,” ia mendengar suara aneh dari handsfree-nya.

“Seokmin-ah,” kagetnya.

Yang ditatap, Seokmin, pun mengiyakan, “Kau juga dengar, Hyung?” tanyanya kemudian.

Sunyoung menguji handsfree-nya, “Woozi, masuk.” namun tak ada panggilan, “Woozi, masuk!” serunya.

“Woozi, masuk. DK melapor.” Seokmin ikutan, namun tak ada respon.

“Apa sambungannya terputus?”.

“Eyy, bagaimana bisa terputus? Kau tau Jihun Hyung itu secanggih apa, kan?”.

Tak lama, Seri datang, “Kalian bisa mendengar suara Woozi?” tanya gadis mungil itu.

Baik Seokmin maupun Sunyoung menggeleng, “Kau juga tidak?” tebak Seokmin.

Namun gadis itu tidak menjawab, “Ada sesuatu,” firasatnya, lalu melengos mencari Jihun begitu saja.

Ya!” Sunyoung menahan lengan lembutnya, “Jangan meninggalkan lokasi, sesuatu yang buruk bisa terjadi.”.

“Lebih baik kita temui Coups.” ide Seokmin.

Mereka bertiga dan beberapa polisi yang tersisa pun mencari keberadaannya sembari mendekati rumah reot yang jadi target utama tersebut.

Sampai di lokasi utama, mereka bertiga bertemu dengan semua anggota yang mengelilingi rumah itu bersama para polisi yang tersisa. Pak Kim memimpin, beliau memberi isyarat bahwa di dalam rumah itulah Nayeon berada bersama lebih dari dua orang penyandera.

Setelah semuanya siap, X Team, Pak Kim, dan beberapa polisi menyergap masuk ke dalam rumah kayu tersebut.

Awalnya memang hanya ada Nayeon, seorang penyandera, dan beberapa anak buahnya. Namun jumlah mereka bertambah. Hal ini membuat mereka kewalahan sehingga ada beberapa yang terluka.

Setelah berhasil menjatuhkan semua, X Team yang dikawal para polisi mulai mendekati Nayeon dan si penyandera.

“Angkat tangan.” ucap Seungcheol, amarahnya meluap-luap melihat wanita yang dikasihinya diperlakukan seperti itu.

Namun pria tersebut tertawa, “Wow, canggih juga, ya?” katanya, “Ngomong-ngomong, hanya segini yang tersisa?” tanyanya.

Yang tersisa? Tak satupun dari mereka yang mengerti artinya.

“Oh, belum tau beritanya, ya?” kata pria itu, “Teman kalian yang mungil itu ―si operator― tewas dalam van-nya.”.

Deg! Tak satupun yang tak terkejut.

“Woo..., zi...,” di saat Seri lengah, seorang anak buah segera menarik dan menahannya ―menyanderanya.

“Klek!” Mingyu yang berada paling dekat dengan Seri menodongkan senjatanya ke arah si penyandera Seri tersebut.

“Jangan gegabah dulu!” seru pria tersebut, kini ia bisa menyentuh Nayeon.

Semua mata kini menatapnya lekat-lekat. “Ini baru permulaannya, X team dan kawan-kawan. Bukan konflik utama dari cerita ini.” senyumnya, “Supaya kita jadi akrab, panggil aku Ryeojin. Jadi kita bisa,”.

“Lepaskan Han Na Yeon!” seru Jeonghan.

“Yoon Jeong Han!!” Seungcheol seperti marah. Baginya Jeonghan selalu gegabah dalam misi, itu yang membuatnya jadi galak saat ini.

Ryeojin tertawa. “Kau menyebalkan, ya, Agent Yoon.” katanya, “Hati-hati, kalau kalian lengah, kalian bisa saja seperti gadis mungil itu dan berujung kematian seperti operator lemah kalian.”.

“Woozi tidak lemah,” lirih Seri, tak sengaja air matanya jatuh, pria itu masih menahan Seri dan senjata Mingyu tak bisa lepas mengawasinya.

“Klek.” terdengar suara senjata yang Solji genggam berseru.

“Tenang, Manis. Aku tidak bawa senjata.” aku Ryeojin, “Bahkan bukan aku yang menculiknya. Ditugaskan saja tidak.”.

Semua terbelalak.

[ B.A.P - Blind]
   

 “Apa maksudnya?” desis Junhui.

Ryeojin tersenyum penuh arti, “Yang menculik mantan atlet ini ada di belakang kalian ―yang ada di ambang pintu.” jelasnya.

Di belakang, tak ada yang ingin menoleh ke belakang, itu bisa saja tipuan. Namun setelah mendengar suara pelatuk berbunyi, “Klek!” barulah sebagian dari mereka menoleh ke ambang pintu.

“Ti, tidak mungkin,” desis Seokmin.

“Apa-apaan keparat ini,” Jeonghan lebih kesal lagi.

Seungcheol tak bisa berkata apa-apa, Seri pun demikian dalam penyanderaannya. Sunyoung tertawa miris, sinis, dan tidak percaya menangkap sosok yang dikenalinya.

“K, kau,” Mingyu terpaku.

Nafas Solji memburu, kesal, amarahnya mendidih, puncak dari kesabarannya habis tertelan sudah. Rasanya ia ingin membunuh pria di ambang pintu itu sekarang juga.

“Persetan kau,” maki Solji, “Jeon Won Woo.”.

***
to be continued
***

next...

“Aku tak tahan lagi ―dasar pengkhianat,” baru saja Sunyoung mengarahkan ujung senjatanya.

“Hoshi!” seru Seungcheol, meminta semua anggotanya untuk sabar.


“Kau,” lirih Seri, “kau telah membunuh...,” katanya, “Kau telah membunuhnya!!”.


Berhenti terguling, Mingyu mendorong Wonwoo jatuh terbaring ke atas tanah dan memukulnya brutal. Kebenciannya menjadi-jadi pada sahabat yang telah dianggapnya sebagai kakak itu.

“Buk! Buk!!”.

“Aku,” Mingyu mengatur nafasnya, “aku akan membunuhmu sekarang juga, Hyung!! Bersiaplah untuk mati!!”.

Dalam waktu kurang dari sedetik, Mingyu mendongak, bangkit, “Bukk!!” dan memukul Wonwoo lagi di saat lelaki itu sedang lemah. Wonwoo pun terhuyung jatuh, sialnya ia jatuh ke sebuah jurang kecil di dekat mereka.


“Coups!” panggil Pak Kim, “Kau pergilah, selamatkan Nayeon, biar aku dan Solji yang melindungimu!”.

Seungcheol terkesiap, “Apa?” kagetnya.

Pak Kim menendangnya, hingga Seungcheol terguling, “Bergegaslah!!”.


“Dor!!”.

Solji terkejut bukan main, “Kim Sonsaengnim!!!” jeritnya.

“Tidak, Solji, jangan menangis, kau seorang polisi wanita yang andal ―jangan menangis.”.


“Tidak, tidak, tidak!!” Junhui mulai panik.

“Apa yang terjadi, Jun?!” Solji bersembunyi, kemudian menembak dan bersembunyi lagi.

Junhui mulai melakukan pertolongan pertama, “Semua akan baik-baik saja, percayalah. Semuanya akan baik saja.” peluh keringat dan air mata tak ada bedanya.


“Jihun Hyung! Hyung!!” panggilnya, “Apa mungkin Hyung...,”.


“Sol, Solji-ya,” panggil Sunyoung.

Kelihatannya gadis itu menangis, tapi seperti tidak. “Teman-teman,” panggilnya, “aku takut,” lirihnya, “aku takut terjadi hal buruk...”.

Jeonghan bangkit dan bergegas memeluknya. “Semuanya akan baik-baik saja.” Jeonghan mengusap kepala itu.


Ingatan itu langsung membangunkannya, ia membuka kedua matanya secara paksa dan mencari tau di mana ia saat ini. Ia terkejut melihat hanya celana panjang kremnya yang tertinggal di tubuhnya.

“Kau sudah bangun, Wonwoo-ssi?” sapa Haera.


“Mi, Mingyu-ya!” Seokmin tersentak, ia dan Sunyoung bangkit.

Mingyu mengedarkan pandangan. “Mana Junhui Hyung?” tanyanya, “Dan juga, mana Kim Sonsaengnim? Di mana beliau?”.

***
next...

Aim
Part XI : In the End

***

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^