Tampilkan postingan dengan label oneshot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oneshot. Tampilkan semua postingan

Drama Queen edisi 20 September 2015



Ini adalah karanganku ori yang ku buat dalam hitungan menit ―kalau gak salah― untuk berpartisipasi di KBS World Radio khusus bahasa Indonesia Bahana Lagu Korea buat Drama Queen-nya edisi 20 September 2015, yang bertemakan Kado untuk Idola. Posting-annya sempet hilang karena kelalaianku sendiri yang pengin ngedit lagu BTS yang salah cantum, eh malah hilang posting-annya. Hehehe, I’m sorry, DJ, please apologize me from my deepest heart ―ya.e.lah.
Karena DJ mintanya tanpa percakapan jadi yang berikut ini karanganku yang sudah diedit dan jadi lebih panjang + berdialog.
Oke, tanpa basa-basi lagi, langsung ku salin karanganku ini dari memo di hape si Mpok.
***
[VIXX Ken & EXID Hani - Gap]

이상한새각을해
이많은사람중에
우리둘만남겨지면어떨까

Lagu itu yang menyambutku dan Jungkook pertama kali ketika kami menginjakkan kaki di kafe ini. Lantas kami mengedarkan pandang, mencari seseorang yang kami kenal.
“Itu di sana!” dengan mudahnya, Jungkook mengenali pemuda yang duduk di ujung sana dan lantas menarikku tanpa basa-basi, “Ayo, Nuna!”.
“Jeon Jung Kook!” pekikku yang diseret olehnya.
Sempat kesal dengan ulahnya, aku dibuat terkejut ketika menatap Namjoon, pemuda itu, setelah Jungkook menyeretku. “Oh? Kalian sudah datang?” sambut pemuda ber-t-shirt abu-abu dan snapback hitam itu.
Ups, aku harus wajar di hadapannya.
Aku dan Jungkook pun bergabung dengannya. Setelah kami memesan minuman, kami kembali mengobrol.
“Masa, sih, Hyung, kau baru di sini lima menit?” ujar Jungkook, ku lepaskan tas itu dari bahunya.
“Kalian sendiri? Sudah dari tadi muter-muternya?” balas Namjoon, mengingat aku dan Jungkook sebelumnya jalan-jalan dulu sebelum akhirnya ketemuan dengannya.
“Sudah cukup muternya.” gurauku. Syukurlah keduanya punya waktu luang cukup banyak hingga lusa, setidaknya mereka bisa santai sekarang.
Habis obrolan, acara utama kini dimulai : tukar kado. Para penyandang Virgo ini segera mengeluarkan kado masing-masing. Pertama, aku memberikan kado pada Jungkook lalu pada Namjoon.
“Wow! Wow! Wa.aa.uu.uw.” bocah itu mulai lagi. Jungkook yang langsung membuka kotak kado itupun  begitu senang mendapat pemberian jaket warna merah dariku.
Sementara Namjoon sengaja ku buat kesal dengan kado yang berlapis-lapis. “Hey, hey, what the hell is this?” protes Namjoon masih sambil membuka kado lapis demi lapis. Aku dan Jungkook menertawainya sambil hi-5.
Dan yang Namjoon dapatkan hanyalahconverse high lamaku. Aku tertawa geli ketika Namjoon menatapku dengan penuh dendam.
Okay, you got it, Lil.” ucapnya, “Aku benci converse-mu yang hanya akan membuatmu kelihatan tambah kecil jika memakainya, dan lebih spesialnya lagi kau memberikan ini padaku. Good job.”. Namjoon pun meletakan hadiah itu dengan jengkel.
Tepat ketika pesanan kami datang, Jungkook sedang memberikan hadiahnya untukku dan Namjoon. Dan sialnya, adikku ini berani mengerjai kami. Ya, apalagi kalau bukan kadonya berlapis, kami dibuat jengkel sementara.
Lil-feet sudah mengerjaiku, sekarang kau yang mengerjaiku, Jungkook-ah.” jengkel Namjoon.
Untunglah, isi kadonya membuat kami senang, sebuah CD untukku dan headphone untuk Namjoon. “Wow, setidaknya kau tau kalau aku suka VIXX. Terima kasih untuk albumnya.” senyumku, hari ini aku mendapat versi lain dari album LR.
Nah, kali ini giliran Namjoon memberikan hadiahnya untukku dan Jungkook.
“Wow! Wow!” dan bocah itu mengulanginya lagi. Jungkook selalu saja takjub, dan itu caranya berterimakasih untuk setiap kado yang kami berikan untuknya. “Ini keren, Hyung!” lantas iahi-5 dengan Namjoon.
Oke, kali ini giliranku membuka kado.”.
Sebuah sepatu untuk Jungkook, dan..., action figure Bumblebee untukku?! Aku terkejut bukan main ketika membuka kado pemberian Namjoon itu. Bagaimana Namjoon tau? Ah, ku rasa dia bersekongkolan dengan Jungkook.
“Wow! Dabong! Daebak! The greatest of the greatest!” aku senang bukan kepalang. “Ini hadiah yang lebih dari keren!” ku pandang Namjoon di hadapanku saat ini.
Hyung, ini yang kau beli di Jepang, kan?” ups, bocah ini membocorkan rahasia Namjoon.
“Sssh! Dasar anak nakal!” Namjoon menjitaknya, lebih tepatnya bocah itu membeberkan dari mana hadiah luar biasa ini berasal.
Jepang? Astaga, ini sekeren robot Gundam! Ini hadiah yang luar biasa, bagaimana bisa Namjoon menemukan yang seperti ini? Bukankah ini mahal?
Kau tau, kan, seberapa mahalnya Yen? Nah, itu yang ku maksud, hehehe. Dan serunya lagi, Namjoon sudah merobek label harganya di kardus Bee-ku. Great job, Mon.
Aku menatap lagi ke arah Namjoon setelah meletakan si Bumblebee di pangkuanku. Eh, converse yang tadi ku berikan untuk Namjoon itu sebenarnya bukan hadiahku untuknya, lho.
Lantas ku keluarkan sebuah kado kecil untuknya yang langsung ku berikan padanya. “Mungkin tidak semahal Bee.” ucapku ketika memberikannya, “Tapi perjuangannya tak mudah.”.
Namjoon terkejut.
It’s real your present from me.” dan ketika ku bilang kalau itu kado untuknya yang sebenarnya Namjoon segera membukanya.
Ia mendapat sebuah sweeter hitam berlambang R merah di situ. “Wah.” Namjoon bahkan lantas memakainya. “Hei, ini nyaman.” katanya, “Aku suka lambang R-nya. Di mana kau mem―”.
“Itu buatanku.” ujarku, Namjoon terkejut, lalu perlahan-lahan tersenyum.
Jeon Lil-feet, you did a great job!” Namjoon lalu mencubit pipiku terlalu keras, lupa akan Tn. Perusak yang disandangnya.
“Aaaw!!” rintihku. Kau tidak tau aku sekecil apa, huh?! Sakit tau! Aku merintih karena memang cubitannya terasa sakit.
Ya, Hyung, kenapa kau lakukan itu pada Nuna-ku?” bela Jungkook, “Kau mencubitnya terlalu keras. Jangan samakan dia denganku, Hyung ―badannya itu kecil tidak sekuat diriku.”.
Barulah ketika Jungkook mengingatkannya, Namjoon segera meminta maaf padaku. “So, sorry ―kelepasan.” digaruknya tengkuk itu dengan canggung.
Mendengar permintaan maaf itu, entah kenapa rasa sakit itu lantas lenyap. Ah, ya sudahlah, lupakan saja yang barusan. Toh, aku senang melihatmu senang, apalagi memakai sweeter itu. Hmm, aku jadi tersenyum sendiri.
“Jaga baik-baik, ya, Destroy-Man.” usilku.
“Ternyata Nuna samaDongsaeng-nyasama-sama usil, ya?” sindir Namjoon, membuat Jeon bersaudara ini tertawa mendengarnya.

[BTS – Coffee]

Baby Baby 그대는
Caramel Macchiato 여전히내입술가엔
그대향기달콤해
Baby baby tonight

“Kau keberatan kalau ku pakai ini untuk syutingMV atau photoshoot nanti?” tanya Namjoon padaku.
“Tentu saja tidaklah, Hyung.” namun malah Jungkook yang menyahut duluan.
“Hei, kau ini?” ku sikut adikku itu.
“Diamlah kau, Kook. Aku bertanya pada Nuna-mu.” kata Namjoon.
“Tidak sama sekali, kok.” jawabku pada Namjoon.
“Tuh, jawabannya sama persis, kan?” dan bocah ini masih saja usil.
“Jungkook-ah, kau mau kena jitak, ya?” tapi Namjoon malah menjitaknya duluan sebelum mengataknnya.
Hyung, kau menyebalkan.” Jungkook berusaha mendapat pembelaan dariku.
“Kau yang menyebalkan.” balas Namjoon.
“Apa kalian selalu begini di dorm?” tanyaku.
“Uh,” Namjoon hendak menjawab, namun Jungkook selalu menyerobotnya duluan.
“Iya!” jawab Jungkook.
“Hei, jangan berkata yang tidak-tidak soal keadaan dorm di depan Nuna-mu!” kesal Namjoon lagi.
“Jadi, Hyung mau jaim, nih?” Jungkook tak berhenti memojokkan leader-nya sendiri.
“Kita bicarakan ini lusa di dorm, Jeon Jung Kook.” Namjoon sudah menyerah. Sayang, kedoknya sudah ketahuan.
“Ayolah, aku mengerti kalau dongsaeng-ku memang nakal. Di rumah juga suka begitu.” kataku, menetralkan suasana.
Nuna...” rengek Jungkook, “Kenapa kau bocorkan yang itu?”.
*end*

Yup, dan sayangnya, Near saat itu kurang beruntung, jadi karangan Near ini tidak terpilih sebagai pemenang. Tapi gwaenchanha.
Kalau ada kesempatan lagi, Near akan nge-posting Drama Queen Near yang edisi Oktober!^^

Author

Near

BTS 방탄소년단 - 화양연화 pt. 2 (Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)

Terdiam, hanya bisa termangu dan mematung. Duduk di situ sendirian, merenungi apa yang baru saja diperbuatnya. Ketika cahaya itu menyinarinya sekali lagi, barulah ia memandang ke dirinya sendiri.
Tangannya yang berlumuran darah, namun hanya ditatapinya. Noda yang sama ia temukan di baju dan wajahnya. Setelah cukup memandanginya, pemuda itu lantas mengelap semua noda merah itu di wajahnya, di tangannya, maupun di bajunya ―ia menghapus semuanya.
Tak cukup dengan mengelap saja, ia raih sebotol air dan menuangkannya ke punggung tangannya hingga noda merah itu tak begitu kentara lagi. Lantas ia usapkan ke wajahnya yang masih menyisakan noda merah yang terlihat jelas. Tak lupa, ia tuangkan air itu ke atas tangannya yang menengadah dan menggunakannya untuk menghapus noda yang sama di bajunya yang putih.
Penderitaannya belum cukup. Ia masih menyeka wajahnya dengan lengan jaket yang dikenakannya, kemudian termenung sejenak.
Dengan gemetaran, pemuda itu meraih ponsel dari sakunya dan menekan salah satu nomor yang sudah lama tak dijumpainya. Sejenak, ia meletakan ponsel itu di telinganya, menunggu nada panjang berakhir dan mendengar suara yang diinginkannya.
Air mata itu tak sengaja jatuh dari pelupuknya. Hingga ketika panggilan terjawab, sambil terisak ia mengatakan, “Hyung...,” lirihnya pada lawan bicaranya di sana, “saat ini aku sangat merindukan kalian...”.
Perlahan namun pasti, ia kembali terisak dan bulir-bulir bening itu kembali jatuh dari pelupuk matanya.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***

Taehyung berjalan, kemudian menjatuhkan diri di atas sebuah kasur lusuh di tengah kolam tua yang sudah mengering dan tak terpakai itu. Matanya terpejam, kemudian tangannya menahan sinar matahari yang menyusup ke kelopak matanya.
Ia seorang diri di sini, karena itulah Taehyung berbalik dan memandangi foto itu : seorang pria yang memangku bayi kecilnya. Tidak, ia sudah gerah, jadi Taehyung meremas foto itu.
Sementara itu,
“Ayo, ayo!” seru Hoseok.
“Ke sana!” tambah Jimin.
Kelima pemuda ini berlari di tengah hutan, “Cepat sedikit.” ujar Namjoon. Daratan dengan pohon-pohon yang tinggi ini seakan menjadi tempat bermain mereka.
“Itu di sana.” ujar Jungkook.
“Hampir sampai.” gumam Yoon-gi.
Mereka menaiki tangga, melewati beberapa bangunan tua, dan sampailah di tempat yang sama dengan Taehyung. Mereka mendekati kolam tua itu dan meloncat turun ke dalamnya begitu melihat Taehyung tengah berbaring di atas kasur lusuh di tengahnya.
Serentak mereka mendekati Taehyung yang sepertinya tak menyadari kehadiran mereka. Lalu mengerumuninya.
Namjoon menepuk pipi Taehyung, lalu berkata, “Mwohae?” senyumnya tengil pada Taehyung yang tengah mengerjapkan matanya. Namjoon lantas membantunya bangun.
“Ngapain kau di sini sendirian?” sambar Hoseok yang datang dari belakangnya.
“Hei, apa kau gak kepanasan berbaring di situ?” Jimin mengalihkan pandangan Taehyung.
Lalu mereka semua saling bersahut-sahutan, membuat kata-kata yang lucu yang membuat Taehyung akhirnya terhibur dan tertawa.
Sementara mereka bergurau, Jungkook tak sengaja menemukan seseorang yang sedang iseng merekam kebersamaan mereka ini dan berseru, “Oh? Itu Jin Hyung!” ditunjuknya pemuda dengan sweeter biru maroon yang tengah memegang handycam sambil berdiri di pinggir kolam.
Semua pun menatapnya ketika Seokjin, pemuda itu, menampakkan wajahnya begitu mengakhiri rekamannya barusan. Ia pun bergegas meloncat turun dan bergabung bersama mereka.
“Jinie Hyung!” Taehyung lah yang menyambutnya pertama kali dengan pelukan.
Tapi Seokjin hanya tertawa, “Hahaha, kau ini ―dasar bocah.” katanya, bergumam pada kalimat terakhir. “Ayo, tunjukan wajah kalian!” serunya ketika ia sekali lagi membuka handycam dan menyorot wajah Taehyung, Namjoon, dan Hoseok bersamaan.
Ya, mereka bisa tertawa jika bersama-sama.
“Euuaakk!!” seru Yoon-gi ketika Jungkook membawanya menggunakan troli dengan kecepatan tinggi.
Entah apapun yang mereka lakukan, semuanya menyenangkan jika dilakukan bersama-sama. Bermain-main dengan troli, menari-nari tidak jelas,
Gawi bawi po!!!”.
adu panco, bermain-main dengan ranting pohon, semuanya, apapun yang menurut mereka menyenangkan membuat mereka melupakan segala hal yang menekan mereka setiap harinya.
“Aahh!!” meski sakit, Namjoon masih bisa merintih sambil tertawa. Setelah Jimin, kini giliran Jungkook disusul Taehyung yang harus melompat naik ke atas teman-temanya yang lain.
Yo! Swag yo!” seakan itu adalah panggilan untuk Yoon-gi yang akhirnya bangkit untuk ikut menari. Dan Seokjin selalu ada untuk merekam kegembiraan mereka bersama-sama.
Seperti kupu-kupu yang tadinya hinggap di salah satu dahan rendah ini. Mungkin karena keindahannya yang membuat Seokjin tergerak untuk mengabadikannya ―seindah persahabatan mereka ini.
“Ssssrrtt...” Taehyung menyemprotkan cat semprot itu ke dinding yang Namjoon sandari, dengan warna merahnya ia membuat garis yang mengitari sandaran Namjoon yang sedang duduk ini.
Dan Namjoon hanya memandanginya, “Kau bikin apa, sih?” tanyanya pada Taehyung yang masih sibuk dengan karyanya.
Tak dapat jawaban, Namjoon pun bangkit dari tempat duduknya dan memandang apa yang sedang Taehyung buat. Di bagian atas garis itu Taehyung menambahkan dua garis tajam di kanan dan kirinya seperti sebuah tanduk atau telinga, kemudian di dalam garis itu Taehyung menambahkan dua titik yang terlihat seperti mata.
Dan inilah gambaran Namjoon karya Kim Tae Hyung, “Ottae?” tanya Taehyung dengan ringannya pada Namjoon.
“Hei, dasar sialan kau!” kesal Namjoon seraya berusaha menendang Taehyung yang kebetulan berhasil menghindarinya.
Kemudian Taehyung menambah beberapa bagian lagi pada karya semprotnya itu. Hingga akhirnya gambar itu malah terlihat aneh, Taehyung dan Namjoon pun hanya bisa tertawa bersama sambil duduk dan bersandar pada dinding itu ―tepat di samping kiri dan kanan gambar tersebut.
“Siap ya...” ujar Jimin sambil meletakan mobil mainan kuning itu di atas botol air mineral yang kosong. Setelahnya Jimin bangkit dan mundur beberapa langkah, lalu memandangi mobil kecil itu.
Sementara di seberangnya, sudah berdiri Namjoon dengan tongkat golf-nya yang sudah siap diayunkannya. Hoseok, Taehyung dan Yoon-gi berada di dekat keduanya, seakan mereka adalah penonton VIP, sementara Seokjin duduk di pinggir kolam sana berseberangan dengan kelima temannya, ia duduk bersama Jungkook di sampingnya dan handycam di tangannya.
Namjoon pun mengayunkan tongkat golf-nya, dan mobil mainan itu seakan bola putih kecil yang biasa digunakan dalam permainan golf. Dan, “Ttok!!” Namjoon memukul mobil beserta botol yang dihinggapinya itu hingga keduanya terpental jauh.
Botol itu terlempar entah ke mana, sementara mobil mainan tadi jatuh di atas kubangan air dan mengambang-ambang di sana. Tak lama, Jimin dan Yoon-gi memberinya sorakan, Namjoon tersenyum puas.
Lelah bermain-main sampai sore, Yoon-gi tak sengaja mendapati Hoseok tertidur dengan lelapnya. Ia bersandar pada dinding sementara kepalanya mendongak ditopang dinding bagian atasnya.
Iseng, Yoon-gi pun memanggil Seokjin dan memintanya mengambil gambarnya bersama Hoseok yang sedang tertidur itu dengan polaroidnya.
Sementara itu, “Eh, apa, tuh?” gumam Jungkook. Ketika ia sedang bermain-main di pinggiran kolam, ia tak sengaja memandang ke arah Yoon-gi, Hoseok, dan Seokjin itu. “Kelihatannya menyenangkan.” batinnya.
Kemudian, Jungkook melesatkan diri ke sana. Melihat Jungkook datang untuk bergabung, Yoon-gi panik, “Hei, hei, apa yang kau lakukan?!”  omelnya sambil berbisik.
Namun, memang dasarnya Jungkook, bocah itu malah bergabung bersama mereka dengan gaduhnya. Bikin Yoon-gi panik kalau-kalau Hoseok terbangun dan keisengannya ini batal.
“Jungkook-ah, jangan beris―”.
“Ikut, dong, Hyung!” dan Jungkook duduk di samping Yoon-gi setelah menggesernya sedikit dan membangunkan Hoseok yang sempat tersenggol Yoon-gi itu.
“Arrggh! Kau ini?!” geger Yoon-gi yang keusilannya batal.
Namun sesi pemotretan tetap berlanjut, “Ayo, merapat, ya!” seru Seokjin, lalu wajahnya bersembunyi lagi di balik kamera polaroid merah muda itu, “Hana..., dul..., set...”.
Jungkook dengan gayanya yang tengil, Yoon-gi yang tadinya marah sekarang jadi cerah, dan Hoseok yang baru bangun tidur namun masih bisa berpose itu akhirnya terabadikan dalam satu lembar polaroid.
“Kalau aku, enggaklah...” ujar Yoon-gi.
“Oh...” dan hanya Namjoon yang merespon.
Sementara itu, Taehyung memisahkan diri dari keenam temannya yang sedang duduk-duduk di pinggir kolam tersebut. “Dinding ini...” gumam Taehyung, ia menemukan sesuatu. Segera ia naik ke atap bangunan tua di pinggir kolam itu. Dengan caranya, Taehyung akhirnya bisa naik ke atapnya dan memandang ke sepanjang kolam ini.
“Yup.” setelah merekam teman-teman di sisi kanannya, Seokjin kini beralih ke sisi kirinya yang hanya ada Jimin di situ. “Jimin-ah?”.
“Haaii!” Jimin pun nampak di kameranya.
Tak lama keenam pemuda ini menyadari kehadiran Taehyung di atas atap bangunan tua itu. Tanpa pikiran yang pasti, Taehyung berjalan ke pinggirannya.
“Taehyungie Hyung?” sahut Jungkook sambil menunjuk ke arahnya.
Dan Taehyung tak memperdulikan suara-suara di pinggiran kolam sana.
***
Sambil masih setengah sadar, Namjoon menyemburkan uap nafasnya ke cermin itu. Begitu berembun, lelaki ini kemudian menuliskan sesuatu di sana.
“Kau harus bertahan hidup”
Kemudian Namjoon meninggalkan tulisannya itu dan kembali bergabung bersama teman-temannya di sana.
Api unggun yang hangat menyelamatkan ketujuh pemuda ini dari dinginnya malam. Sementara handycam itu memutar ulang semua rekaman mereka sepanjang hari ini, Seokjin memandangi semua lembaran polaroid itu.
“Mau?” Seokjin menyodorkan sepotong biskuit itu.
Hoseok pun meraihnya dan menunjukan kalau ia punya dua biskuit sekarang. Mereka tertawa kecil, lalu Hoseok melahap salah satu biskuitnya.
Sementara Jimin, “Ting!” hanya bisa manggut-manggut dan menuruti Namjoon yang hendak bersulang dengan botol mereka masing-masing. Ya, lelaki itu mulai hilang akal sehatnya sekarang, dan Jimin hanya bisa meladeninya yang hampir mabuk itu.
“Numpang bobo, ya, Hyung.” gumam Jungkook pada Yoon-gi yang termangu itu. Ia lalu merebahkan diri di atas sofa dengan menopang kepalanya di atas pangkuan Yoon-gi.
Tak pasti apa yang sedang Yoon-gi pikirkan hingga ia terlihat begitu tertekan, sementara tanpa sadar tangannya terus memainkan pemantik apinya. Nyala, redup, lalu menyala lagi, tanpa sadar Yoon-gi mengulanginya berulangkali.
Sementara itu, Seokjin memandangi salah satu polaroidnya yang ia ambil dari sakunya. Laut lepas, itu yang terabadikan di lembaran kecil polaroid itu.
“Bagaimana kalau...,” ujar Seokjin, “kita ke sini nanti...?” lalu memandang ke Hoseok yang duduk di sampingnya.
Hoseok melirik foto itu sejenak, dan lantas menganggukkan kepala ke arah Seokjin sambil tersenyum. Seokjin pun menunjuk foto itu pada Taehyung, dan pemuda itu melakukan hal yang sama seperti Hoseok. Tak perlu ditanya lagi, semuanya setuju dengan rencana Seokjin itu.
Namun, Yoon-gi masih termangu. Jungkook pun bangun dari pangkuannya, berbalik dan memandang ke arah pemantik yang apinya menyala itu. Kemudian, dia meniupnya, “Fuuh..” dan api itu redup.
***
“Yeah!! Woohoo!!” sambut mereka senang pada pantai dan laut lepas itu.
Dengan mobil bak terbuka, Namjoon duduk di samping si supir ―Seokjin― dan Yoon-gi bersama Hoseok duduk di belakang mereka. Sementara para magnae ―Jimin, Taehyung, dan Jungkook― duduk di bak terbukanya, merasakan terpaan angin yang menyambut mereka dengan gembira.
Setelah mobil berhenti dan terparkir di pinggir laut, ketujuh pemuda ini lantas turun dan berlarian ke arah laut. Dengan bebas, mereka menghela aroma pantai dan udara yang segar, atmosfir yang indah untuk dinikmati.
Mereka tertawa lepas, berburu binatang laut, berlari-larian, segalanya. Dan Seokjin selalu bersama handycam-nya.
“Ayo terus!! Jangan mau kalah!!” kelima pemuda itu menonton aksi Namjoon dan Seokjin yang balap lari. Jimin malah menyusul Namjoon kemudian.
Bahkan Jimin melakukan aksi berbahaya ketika Seokjin mengendarai mobilnya berputar-putar di atas pasir, meski sebenarnya yang Jimin lakukan hanyalah bertengger di belakang bak terbuka dengan satu kaki sambil berpegangan. Jimin tak sendirian, tapi juga ada Yoon-gi di dekatnya.
Sementara Taehyung, Hoseok dan Namjoon menonton aksi gila-gilaannya, dan Jungkook sendiri ikut Seokjin di dalam mobil.
“Wow!” sambut Jimin yang akhirnya duduk di kap mobil, “Ayo, kemari!” serunya melihat Seokjin sudah siap mengabadikan gambar mereka berenam.
Kelima pemuda lainnya pun langsung berebut mengambil posisi di hadapan polaroid Seokjin. Jimin duduk di atas kap mobil, di bawahnya ada Hoseok, Taehyung dan Namjoon yang berdiri, sementara Jungkook dan Yoon-gi dengan kompaknya berpose di depan Taehyung yang merangkul keduanya bersamaan.
Sepanjang hari ini di pantai, menyenangkan sekali. Menghabiskan waktu bersama-sama dan tertawa bersama-sama.
***
“Bruum.” suara halus mesin mobil itu menyambut sebuah pom bensin yang lengang. Seokjin kemudian memberhentikan mobilnya di salah satustation-nya.
Tak lama, Namjoon dan Hoseok turun bersamaan dari mobil. Si partimer SPBU ini rupanya sudah paham akantugasnya, dengan inisiatif Namjoon pun mengisikan bahan bakar ke mobil bak terbuka ini.
Masih sambil mengemut permen batangannya, Namjoon bersandar pada mobil hingga pengisian bahan bakarnya selesai. Tak lama, Namjoon beralih pada Seokjin yang melongok dari jendela, lelaki ini pun menghampirinya.
“Hm, hm.” Namjoon mengisyaratkan pada Seokjin, dan lelaki itu pun memberinya polaroid merah muda itu.
Menyadari Namjoon hendak mengambil gambar Seokjin, dari kursi belakang Yoon-gi muncul dengan senyuman manisnya sambil ber-v-sign.
Hana.., dul...,”.
Sambil menunggu lembaran polaroidnya keluar, Namjoon bergegas kembali ke tempat duduknya di samping Seokjin. Lalu menunjukan hasil fotonya yang masih rabun itu pada Seokjin dan Yoon-gi. Kemudian, Namjoon segera menyimpannya pada laci di dasbor itu.
Sambil membawa belanjaannya, Hoseok kembali ke mobil dan meletakan persediaan makanan itu di atas bak terbuka.
“Oh?” Hoseok terkesiap ketika melihat selimut Jimin itu. Dengan segera, Hoseok menyelimuti Jimin yang masih tertidur lelap bersama Taehyung dan Jungkook.
“Hmm...” Jimin merubah posisi tidurnya sedikit, entah kenapa Hoseok hanya tersenyum.
Tak lama, setelah Hoseok kembali ke mobil, Seokjin segera melajukan mobilnya kembali meninggalkan pom bensin ini.
***
Ia membuat teropong dengan tangannya, ujung laut itu terlihat seperti garis. Jungkook memandangi ujung lautan ini lewat celah yang dibuat tangannya. Ia duduk di pinggiran pelabuhan itu sendirian. Jungkook masih memandangi lautan lepas meski ia sudah menurunkan tanganya.
Yoon-gi pun menghampirinya, “Sendirian?” ujarnya yang kemudian duduk di samping Jungkook lalu merangkulnya. “Bukankah lautnya indah?” kata Yoon-gi.
Namun Jungkook tak menjawab, ia hanya memandang ke arah Yoon-gi dan tersenyum padanya. Yoon-gi lalu memandang ke arah mobil.
“Ayo kita bangunkan mereka.” ajaknya pada Jungkook.
“Tok! Tok! Tok!” suara itu mengejutkan Hoseok yang kemudian menyadari bahwa pelakunya adalah Yoon-gi yang mengetuk kaca mobil.
Lelaki itu mengisyarakan sesuatu padanya. Hoseok hanya bangkit dan membuka jendela. Rupanya, Yoon-gi bersama Jungkook membangunkan Hoseok, Namjoon, dan Seokjin yang tidur di dalam mobil, serta Jimin dan Taehyung yang tidur di bagian bak terbukanya.
“Ayo, bangun. Kita ke sana.” ajak Yoon-gi pada semua teman-temannya yang baru bangun itu. Kelimanya pun bergegas turun dari mobil meski baru tersadar.
Mereka bergegas ke pinggiran sana, Jungkook dan Yoon-gi kompakan sudah sampai di tempat sementara lima lainnya menyusul. Setelah ketujuhnya lengkap, mereka berdiri memandangi laut. Suara angin, ombak, dan burung-burung yang berterbangan menjadi bgm mereka senja ini.
Seokjin pun beraksi lagi dengan kameranya. Ketika semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing, ia menyorot kelima temannya di samping kirinya, dan memunggungi Taehyung yang tanpa seorang pun ketahui menatap ke arah sana.
Entah itu apa, namun itu dibangun sebagai tempat melompat ke laut dari ketinggian yang cukup ekstrem. Taehyung memandang ke arah teman-temannya sekali lagi, sebelum akhirnya diam-diam ia berjalan mendekati benda itu dan menaikinya.
Tak pasti apa yang ada di benak Taehyung saat itu hingga membuat nyalinya begitu kuat untuk mengalahkan ketinggian. Hal ini disadari Seokjin pertama kali. Ia pun mengarahkan handycam yang tadinya menyorot laut itu kini jadi menyorot Taehyung yang sudah berada di puncaknya.
Tak lama, keenam lainnya menyadari aksi berbahaya Taehyung ini. Namun, bukannya berniat menyelamatkannya, mereka malah bersorak, “Ayo loncat kalau berani! Loncat saja!”.
Taehyung hanya berdiri di situ sejenak, mungkin ia sedang mengambil ancang-ancang karena setelah itu Taehyung akhirnya menatap ke arah teman-temannya di bawah sana seraya tersenyum. Lalu ia kembali memandang tepat ke depan.
Huh... Benar...” batinnya, lalu menghela nafas sejenak dan akhirnya berlari hingga ke ujung kemudian menghempaskan diri terjun ke lautan lepas.
Seokjin merekamnya betul-betul, sementara kelima yang lainnya bersorak, “Woooaaahhh!!!”.
***
화양연화
(Hwa Yang Yeon Hwa)
BTS 방탄소년단
***
Nada-nada yang indah, ombak seakan membuat melodi sempurna yang membuat Seokjin betah duduk di kursi pengemudi itu sambil menyandarkan dagunya di atas stir.
Seokjin kemudian teringat akan sesuatu, ia kemudian beralih ke laci mobilnya dan mengambil selembar foto polaroid hasil jepretan Namjoon semalam.
Bermaksud ingin memandangi gambarnya bersama Yoon-gi, Seokjin malah dikejutkan oleh sesuatu hal yang sangat mustahil dan membuatnya tercekat.
Yoon..., gi...?” batinnya, menyadari sosok Yoon-gi menghilang dari lembar polaroid itu.
***
to be continued
***
화양연화 pt. 2
(Hwa Yang Yeon Hwa pt. 2)
BTS 방탄소년단
COMING OCTOBER
***

Annyeong, maaf lagi-lagi telat posting. Ini bukan murni FF, Near hanya menambah dialog dan menjelaskan situasi di dalam prologue ini.
Oya, soal video prologue-nya BTS yang satu ini sayangnya ga ketemu di search engine di blog. Jadi bagi Reader-deul yang penasaran, bisa langsung meluncur ke Youtube, tepatnya ke BANGTANTV ya.
Tapi seperti yang telah diketahui, bagian ending-nya Jin itu sudah di-cut alias sudah tidak ada lagi. Entah kenapa, ya. Mungkin editor-nya lupa, bagian itu harusnya gak jadi dipake atau malah belum saatnya ditunjukan ke pemirsa sekalian. Hehehe.

Author

Near

[FF] 가면속에 (Gamyôn sog-e) Under My Mask

가면속에
(Gamyôn sog-e)
Under My Mask

 

Author : Near
Genre : Sad-romance, Fantasy, Songfic, MVfic
Cast : VIXX LR, OC
-          Leo sebagai Aku
-          Ravi sebagai Dia (sisi di dalam diri Aku)
-          OC sebagai Kamu (wanita yang meninggalkan Aku)

Near ngaku ini pertama kalinya Near bikin sebuah prosa seperti ini, dengan sudut pandang aku, kamu, dan dia. Near rasa, ini unik, sesuatu yang gak biasa Near tulis.
Beatiful Liar yang dinyanyikan VIXX LR, baik secara lagu maupun MV, semua konsepnya itu lebih dari daebak. Near kagum banget sama yang berpartisipasi dalam lagu ini, terutama. Juga si produser wanita ―kalau gak salah wanita― yang menggarap MV ini!
Konsepnya lebih dari daebak!
Inilah yang bikin Near kepikiran untuk bikin sesuatu yang unik juga dalam segi prosa. Yakni, Fanfiction ini. Ini bukan fanfiction yang dipandang sebelah mata, tapi Near memperhatikan keunikan dari fanfiction ini.
Near harap, fanfiction ini bisa menarik banyak perhatian orang karena keunikannya. Happy reading!

Author

Near

Bagi kalian yang bukan STRLIGHT(aka fans-nya VIXX)
atau kalian yang gak tau sama sekali tentang lagu mereka yang 'Beautiful Liar',
ada baiknya kalian tonton MV-nya VIXX LR - Beautiful Liar dulu
supaya gak pusing.
Oke? ;)


***
Desiran ombak menyeret pasir, seakan mengisi keheningan di dalam sini. Tidak, aku hanya ingin sendiri. Tidak ada yang ku inginkan selain itu. Seakan merelakan layang-layang yang terlepas dari genggaman, aku membiarkannya dengan tangan terbuka meskipun itu terasa sakit. Tidak, dengan siapapun itu, berbahagialah.
Sisi di dalam diriku memberontak, seakan hendak meledak keluar dan menahanmu pergi. Namun demi kebahagiaanmu aku berkata 'ya' dan tersenyum.
This is a liar. This is my mask.

Aku, Kamu, Dia

***

[FF] No Apologizing (ONESHOT)

No Apologizing

Author                  :               RetnoNateRiver
Genre                   :               Angst
Main Cast            :               - Yun Ah Young (OC) [Luhan’s Nuna]
                                            - EXO Luhan as Xi Lu Han
Other Cast          :               - EXO Sehun as Oh Se Hun
                                           - SNSD Hyoyeon as Kim Hyo Yeon
                                           - Super Junior Eunhyuk as Lee Hyuk Jae
                                           - BoA as Kwon Bo A


***
FYI, Nate belum siap member EXO di-pairing sama artis cewe Kpop yang lain ^^kecuali Kris (sama Yuri) dan Kai (sama Krystal)^, termasuk Luhan sendiri.
Dan karena hal itu pulalah, Nate buat OC di sini, tapi hanya sekadar kakak angkat aja. Nate emang hobinya bikin FF genre Angst, jadi tolong maklumi, ya!! ^^iya~...^
Makin bagus kalau sambil dengerin lagu Super Junior – Storm 폭풍. Karena pas nulis FF ini, feel-nya dapet banget kalau sambil dengerin lagu itu.

Oke, kalo gitu enjoy~...
Semoga FF ini menghibur kalian semua, ya!

***
“Aku adalah seorang penari...” itu yang selalu dia katakan.
Tapi karena aku lah ia harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Aku menyesal. Tapi ia hanya tersenyum dan berkata.
“Aku tak apa. Kau adalah segalanya bagiku.”.
Aku mengutuk diriku sendiri begitu melihat ke pigura yang dikelilingi berbagai rangkaian bunga itu. ini semua karena aku yang egois. Aku yang egois, benar.
Ia pergi karenaku...
Dasar bodoh...



*****


“Yun Ah Young!”.
Tiba-tiba saja lelaki itu memelukku dari belakang. Aku tersentak.
“Kau?!” seruku.
Ia melepas pelukannya. Lantas aku terus saja berkutat dengan pekerjaan kantorku. Ia memandangiku dan terdiam. Tapi kemudian ia tersenyum.
“Kau mau ku panggil Nuna?” tawarnya, “Baik, Nuna. Ku panggil kau begitu.”.
Sembunyi-sembunyi, aku meliriknya.
“Nuna sudah makan belum? Jam segini harusnya Nuna makan siang..” ku dengar ia beranjak ke sofa dan duduk di atasnya. Ku dengar kemudian, ia membuka risleting tas backpack-nya.
Namanya Xi Lu Han. Ia lebih muda empat tahun dariku, makanya ia memanggilku Nuna. Ia yatim piatu, orangtuanya yang jauh di China adalah teman dekat ayah dan almarhumah ibuku.
Ayahku tau betul kalau aku kesepian sebagai anak tunggal —apalagi ibuku meninggal ketika aku duduk di taman kanak-kanak— makanya ketika orangtua Luhan meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan, ayahku mengadopsinya dan ialah adik angkatku sekarang.
Kini usia Luhan dua puluh satu tahun, kalian bisa hitung berapa umurnya ketika Luhan kehilangan orangtuanya.
Luhan begitu perhatian padaku. ia adikku yang manis, tapi juga nakal. Ia suka bermanja padaku. Ya, itulah dia. Tapi akhir-akhir ini, aku sering mengacuhkannya. Aku sibuk, pastinya.
Semenjak aku mendapatkan pekerjaan di perusahaan ayahku, aku sering mengacuhkan Luhan. Tapi ia tetap saja begitu perhatian padaku.
Oya, Luhan adalah seorang penari —ia penginnya dianggap begitu. Meski ia pandai dalam pelajaran akademis, sepak bola, dan bernyanyi, ia hanya ingin dianggap sebagai penari —ia juga sangat pandai menari.
“Nuna, aku punya coklat kalau kau mau.” Luhan melambai-lambaikan coklat itu ke arahku, namun aku tak bergeming. “Oh, kalau Nuna sedang diet, aku bisa belikan sesuatu buatmu. Mau apa?”.
“Tidak usah.” ujarku datar.
“Kau tidak lapar?”.
Aku tak bergeming.
“Mau jajangmyeon? Sekalian ku belikan buat Sehun juga.”.
Tetap aku tak bergeming. Aku benar-benar tidak memperdulikannya. Tapi Luhan tidak menyerah —itulah karakternya sejak kecil.
“Oke, jajangmyeon tiga, ya —kau, Sehun, dan aku.” susul Luhan kemudian.
Aku tetap tak bergeming sampai-sampai aku tak mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Yang ku tahu, ketika sepersekian detik ku dengar kalimat di atas dan berbalik, aku tak menemukan Luhan di ruang kerjaku.
Oya, soal namja bernama Sehun, ia sepupuku. Namanya Oh Se Hun, ia anak dari adik ibuku. Sehun jauh lebih muda dariku, ia delapan tahun lebih muda.
Luhan berteman dekat dengan Sehun, bahkan bisa dibilang Luhan adalah hyung kedua Sehun setelah hyung kandungnya.
Sehun jarang main ke rumahku di Seoul dan kami hanya saling kirim surat atau komunikasi lewat telepon dan internet. Sehun biasa berkunjung ke rumahku ketika libur sekolah tiba, seperti hari ini misalnya.
ia dan Luhan sama-sama berbakat dalam menari, itulah yang membuat persahabatan mereka semakin erat. Mereka senang sekali menghabiskan waktu bersama dan kemudian battle dance.
Setelah memandangi pintu yang tertutup rapat, aku menggeleng. Lantas aku kembali berkutat pada pekerjaanku.
***
Malam pun turun, aku baru saja keluar dari ruang kerjaku. Aku beranjak menuju dapur dan mengambil segelas air mineral.
Pekerjaan kantor kali ini begitu menumpuk, aku di tengah-tengah sibuknya perusahaan. Tapi aku suka, memang sejak kecil aku ingin meneruskan perusahaan ayahku. Aku selalu berambisi agar bisa melebihi ayahku.
Ketika memandang ke meja makan, aku terheran.
Ada dua bungkus jajangmyeon yang masih utuh tak tersentuh di atasnya. Pandanganku beralih pada tong sampah di dekat lemari es. Ada satu bungkusan bekas jajangmyeon di dalamnya.
“Apa mungkin Sehun sudah pulang?” gumamku, menduga kalau bekas bungkusan jajangmyeon itu milik Sehun sebelumnya.
Lalu apa mungkin dua bungkus jajangmyeon di atas meja ini milikku dan..., Luhan? Astaga, tanpa sadar ku biarkan anak itu menunda jam makan karenaku!
Aku lantas memandang ke lantas atas, mengira-ngira apakah ada Luhan di sana. Lantas aku melangkah menuju tangga dan menaikinya.
Luhan memang tidak tinggal bersamaku dan ayahku sekarang, ia memilih tinggal sendiri di apartemennya. Tapi aku tau apa yang akan ia lakukan kalau ia sudah ada di rumah.
Di lantai atas memang ada ruangan yang luas, studio dengan cermin lebih tepatnya. Diam-diam, karena mengetahui bakat Luhan, ayahku membuatkan ruangan ini untuknya. Luhan senang menghabiskan waktunya di situ —hanya untuk menari pastinya.
Aku sampai di daun pintu studio itu. Daru di sini saja, bisa ku dengar dentuman musik dari dalam. Benar, Luhan ada di dalam.
Perlahan ku buka pintu, ku temukan bayang-bayang yang bergerak aktif ke sana dan ke mari. Aku menemukan sosok Luhan yang terus fokus memandang ke cermin, memandangi bayangannya dan terus menari.
Ku lihat peluh keringatnya mengucur hingga membasahi seluruh t-shirt-nya. Bisa ku duga, ia sudah menari di sini sejak beberapa jam yang lalu —tepat tak lama setelah Sehun pulang.
Luhan masih terus asyik menari hingga ia tersentak memandang ke pintu masuk. Ya, karena aku berdiri di situ, memandanginya serius penuh dengan emosi.
“Nuna.” gumamnya datar.
Aku terus memandanginya. “Kau tidak lapar? Apa kau pikir kau bisa bertahan tanpa makan?” ujarku geger.
Luhan hanya tersenyum nakal, “Hehehe. Nuna.” ia berjalan ke arahku.
Namun aku tersentak ketika ia hampir terjatuh. Aku menopangnya segera. Anak ini benar-benar... “Luhan-ah.” seruku.
Cengiran nakalnya tak terlihat. Kini hanya wajahnya yang pucat yang ku lihat. Luhan berusaha memfokuskan pandangannya lalu berkata, “괜찮아 누나야. 걱정하지마. Gwænchanhta, Nuna-ya. Kôkjonghajima. Gak apa, kok, Kak. Jangan khawatir.” katanya.
Dasar bodoh. Kau bilang seperti itu pun aku tetap khawatir!
***
“Nuna.”.
Aku melirik Luhan. Leganya, sekarang ia kelihatan baikan. Ia menyantap jajangmyeon-nya perlahan bersamaku, tapi setidaknya ia membaik.
“Ng?” sahutku —hanya itu yang bisa ku katakan ketika jajangmyeon ini memenuhi mulutku.
“Gomawo.” lanjut Luhan.
Ya, baiklah. Tapi aku juga merasa bersalah karena telah membiarkanmu seperti ini.
“Lain kali, jangan kau ulangi. aratji?” kataku.
“Ng, ng.” Luhan mengangguk-angguk kecil, lucu sekali.
Ku usap-usap kepalanya. Ku suruh ia untuk makan lagi, dan ia menurutinya. Hal ini tidak boleh terjadi lagi, tidak boleh.
*****
“Nuna, aku boleh ikut kompetisi dance ke Jepang, ya?”. pagi ini, tepat ketika aku hendak berangkat ke kantor, Luhan meminta izin padaku.
Lelaki ini sengaja menginap dari semalam. Kesepian dalihnya. Ia juga ingin berada di dekatku dan ayahku lebih lama.
Tak ada respon dariku, Aboji pun menyahut, “Ahyoung-ah,” kata beliau, “jawablah permintaan adikmu ini.”.
Aku berhenti berbenah, lalu menatap Luhan. “Ya.” jawabku tak peduli, kemudian menyiapkan tas kantorku lagi.
“Aboji. boleh, kan?” kali ini Luhan meminta izin pada Aboji.
Aboji hanya tersenyum. “Bukankah ini mimpimu sejak kecil? Kalau ini terbaik untukmu, ku izinkan.” ujar beliau, “Tapi kau harus menjaga dirimu baik-baik di Jepang —Jepang itu jauh, lho.”.
Luhan hanya tersenyum. “Dekat, kok! Korea dengan China saja dekat!” candanya. Aboji dibuat tertawa olehnya, tapi aku terus saja tidak peduli.
“Nuna, apa kau ada tugas ke Jepang?” tanya Luhan.
“Tidak.” jawabku, masih tidak peduli.
“Kau tidak ingin melihat audisiku di sana?”.
“Aku sibuk.”.
“Mungkin aku bisa membiarkanmu ke Jepang, Ahyoung-ah.” kali ini Aboji yang berujar.
“Tidak usah.” kataku dengan nada yang sama.
Luhan berujar lagi. “Apa benar kau tidak ingin me...,”.
“Aku bilang tidak!” gertakku pada akhirnya.
Tak sengaja, ku buat Luhan tersentak. Aboji terkejut dalam diamnya melihat tindakanku. Beliau tidak pernah melihatku memperlakukan Luhan seperti ini. Luhan membungkam, sementara rasa bersalah yang ku rasakan segera ku pendam.
Aku tak bisa bertahan di tengah keheningan yang memaksaku makin merasa bersalah ini. Segera ku jinjing tasku dan meninggalkan mereka berdua.
Aboji mengusap pundak Luhan, tapi Luhan hanya tersenyum seakan ia berkata “gak apa, kok...”.
***
Sebelum rapat dimulai, ku periksa ponselku. Banyak sekali pesan singkat yang masuk, dan semuanya berasal dari orang yang sama : Boa.

Ahyoung-ssi,
terima kasih karena kau telah mengizinkan Luhan untuk ikut kompetisi ke Jepang.
sender : Kwon Bo A

“Ahyoung-ssi,
kau bisa percayakan Luhan padaku.
Aku akan menjaganya dan teman-temannya dengan baik di jepang.”
sender : Kwon Bo A

“Ahyoung-ssi,
perlu kau ketahui.
Kompetisi dance ini adalah mimpi Luhan sejak kecil.
Sekali lagi aku berterimakasih karena kau telah mengizinkannya pergi, aku tau pasti sangat sulit bagimu melepasnya pergi ke tempat jauh seperti jepang.
Gamsa hamnida.”
sender : Kwon Bo A

“Ahyoung-ssi,
kompetisi akan dimulai beberapa minggu lagi.
Tim kami, termasuk Luhan di dalamnya, akan berlatih di Korea sebelum kami terbang ke Jepang untuk audisi dan tampil dalam kompetisi.
Aku akan melatih mereka sebaik mungkin.”
sender : Kwon Bo A

“Ahyoung-ssi,
meski terlambat berkata ini tapi yang penting kau tau.
Tim kami sudah berlatih sejak lama untuk kompetisi ini, tapi Luhan baru meminta izin padamu dan ayahmu tadi pagi.
Aku harap kau tidak terkejut dan tetap membiarkan Luhan mengejar mimpinya. Selama ia hadir sebagai muridku, ialah tanggung jawabku.”
sender : Kwon Bo A

Masih banyak lagi pesan yang belum ku baca ketika rapatku pun akhirnya dimulai. Ponsel ku nonaktifkan, dan aku harus bersiap untuk kelanjutan perusahaan ini.
Kwon Bo A, ia adalah pelatih di sanggar tempat Luhan biasa latihan menari bersama teman-temannya. Meski seumuran denganku, Boa begitu berbakat dan ambisius.
Boa adalah sosok yang sangat baik dan lembut, ia juga lucu dan bisa berteman dengan siapa saja. Ia membimbing Luhan dan teman-temannya dengan sangat baik.
Kami biasa bertemu di tempat biasa mereka latihan menari, kami biasanya mengobrol banyak. Boa biasa menceritakan segalanya soal Luhan selama dilatihnya padaku. Tapi karena kesibukkanku, kami tidak bisa bertemu lagi seperti biasa.
*****
Sore ini, aku hanya mampu terdiam di kursiku.
Aku merasa nyeri yang luar biasa di lambungku. Pasti maagku kambuh. Akhir-akhir ini, makanku kurang teratur, aku sadar.
Aku tidak mampu meraih tombol telepon di meja kantorku hanya untuk meminta tolong, Rasa nyeri ini membungkamku. Tapi mau tidak mau aku tetap memaksa tanganku meraihnya.
Namun, tanpa disangka, telepon itu berdering sebelum sempat ku sentuh. Lantas ku tekan salah satu tombolnya, dan lantas terdengar suara.
“Manajer Yun, Luhan ingin bertemu dengan anda.” ujar suara wanita lembut di baliknya, “Ia...,”.
Di jeda suaranya, ku dengar wanita itu tengah berbicara dengan seorang lelaki. Bisa ku tebak, pasti suara itu milik Luhan.
“Suruh ia masuk.” ujarku menahan sakit.
Tak perlu semenit, pintu ruanganku lantas terbuka. Seseorang masuk ke ruangan kerjaku.
Sambil menahan nyeri, ku lirik siapa yang datang. Lelaki berwajah manis, dengan jaket dan kupluknya, juga headphone Beats yang dikalungkan, celana pendek di bawah lutut, dan tas backpack. Ialah Luhan.
“Nuna!” serunya melihatku miris seperti ini.
Sebelum sempat aku ambruk, Luhan mendekatiku dan menopang tubuhku. Tidak, aku tetap harus sadar! Aku harus sadar!
***
Luhan terlalu sayang, baik, dan perhatian padaku.
먹어. Môgô. Makanlah.” suruhnya.
Meski aku tidak memperdulikannya dan mengacuhkannya, bahkan membentaknya tempo hari, ia masih saja sayang padaku.
그래. 먹어. Geuræ. Môgô. Ya. Makan.” Luhan terus memerhatikanku.
Aku terus melahap makanan yang Luhan bawakan  untukku. Ia tau kalau aku pasti belum makan dan cepat atau lambat maagku akan kambuh. Ia begitu sayang padaku.
“Lain kali, Nuna tidak boleh seperti ini.” ingat Luhan, “Aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi.”.
Aku tak bergeming. Bodohnya, aku tidak berkata terima kasih padanya yang sudah menolongku. Aku malah terus tak acuh.
*****
Ahyoung onnie.
Bagaimana kabarmu? Lama tak melihatmu di sanggar.
sender : Kim Hyo Yeon

“Onnie.
Perkembangan Luhan begitu pesat. Ia begitu semangat.
Tapi kenapa akhir-akhir ini, aku tidak pernah melihat ia pergi bersamamu?”
sender : Kim Hyo Yeon

“Onnie.
Apa hubunganmu dengan Luhan baik-baik saja?”
sender : Kim Hyo Yeon

Baru ku sadari Hyoyeon mengirimiku banyak pesan singkat sejak kemarin, dan baru ku baca hari ini. Aku mendesah.
Aku menyadari kenapa Hyoyeon, anggota tim yang sama dengan Luhan, mengkhawatirkan hubunganku dengan Luhan. Memang akhir-akhir ini aku tidak dekat dengannya, begitu jauh berbeda dari yang biasanya.
Aku sibuk dengan pekerjaan baruku, pekerjaan yang paling ku impikan seumur hidupku, pekerjaan yang merupakan janjiku pada ibuku.
Kembali ku letakkan ponselku di atas meja kantorku, kemudian ku lanjutkan tugasku hari ini di kantor. Tapi baru saja ku menjejal jemariku di atas keyBoard-ku, pintu ruanganku terbuka dengan kasar.
Aku menoleh ke arah pintu tanpa rasa terkejut, mendapati sosok seorang lelaki yang ku kenal hadir di ruanganku.
“Kau!” seru lelaki berambut kecoklatan, memakai t-shirt dan hoodie, juga celana panjang itu. Ialah Lee Hyuk Jae, pelatih di sanggar Boa —sekaligus kekasihnya Hyoyeon.
“Apa?” tanyaku remeh.
Hyukjae mendekat, seorang sekertaris kantor hanya bisa memandang ke dalam ruanganku takut-takut —aku tidak tau bagaimana Hyukjae mengancamnya hingga ia seperti itu.
“Kau!” lanjut Hyukjae, “Kenapa kau tidak membalas pesannya Hyo?!” sodornya —Hyo itu panggilan kesayangannya untuk Hyoyeon.
Aku mengernyitkan dahi. “Aku sibuk.” ujarku datar.
“Oh?!” Hyukjae menyeringai, “Sekarang aku mengerti kenapa kau seperti itu pada Luhan...”.
Mendengar itu, aku berdiri, “Apa kau bilang?!” seruku.
“Dengar, ya!” Hyukjae melangkah lagi, “Kau pikir aku tidak bisa merasakan bagaimana hubungan kalian?! Kenapa kau begitu acuh pada Luhan?! Dia, kan, adikmu!”.
“Ini urusan pribadiku! Kau tak berhak berkata seperti itu!”.
“Kau pikir aku tak bisa membaca tatapan bocah itu?! Ha?!” lanjut Hyukjae, “Meski ia tidak pernah bahkan enggan bercerita, tapi aku bisa membaca perasaannya dari tatapannya! Kau tak pernah menaruh perhatian padanya lagi! Nuna macam apa kau?!”.
Aku geram. “Keluar dari ruanganku!!” seruku pada akhirnya.
Hyukjae terdiam. “Oke.” ujarnya dingin, “Kalau itu yang kau inginkan, baiklah. Aku keluar!!”.
Lelaki yang seumuran denganku itu lantas melangkah keluar dari ruanganku. Ku rasakan derap langkahnya yang berat semakin menjauh.
Aku terduduk di atas kursiku. Semua pikiran terasa menekanku sekarang.
***
Penat dan lelah serasa menyerangku, memaksaku segera melangkah pulang ke rumah —apalagi bentakan Hyukjae itu masih terngiang di kepalaku. Meski hari ini aku bisa pulang lebih awal, tapi semua rasa itu tetap saja menyerangku seperti hari-hari sebelumnya.
Begitu aku berjalan menuju ruang keluarga, ku dengar ada suara dua orang di sana. Suaranya tidak asing bagiku.
Benar saja, dua orang itu adalah Sehun dan Luhan. Mereka tengah asyik main game di laptop masing-masing. Tapi pandangan mereka beralih padaku begitu aku datang.
“Nuna!” seru Luhan senang.
“Ahyoung Nuna baru pulang ternyata.” sahut Sehun. Ia sudah kebiasaan memanggilku Nuna —tidak dengan sebutan kakak sepupu.
Aku hanya terdiam.
“Nuna, ayo main bersama kami!” ajak Sehun kemudian.
Tapi aku malah beranjak pergi. “Aku lelah, aku mau istirahat.” ujarku begitu saja.
Sejenak kedua bocah itu terdiam begitu ku tinggalkan. Sehun terheran dengan tingkahku barusan. “Kenapa Ahyoung Nuna seperti itu?” gumamnya.
Luhan kemudian tersenyum dan merangkulnya. “Nuna pasti lelah. Lagipula, kita masih bisa main berdua, ya, kan?” hiburnya.
“Kau benar, Hyông!” sahut Sehun senang.
Kedua bocah itu lantas melanjutkan permainan.
***
“Tok, tok, tok.”.
Seseorang mengetuk pintu kamarku begitu aku bersiap untuk tidur.
“Masuk.” suruhku, lantas aku duduk di tepi ranjangku.
Aku mendapati Aboji menyelinap masuk ke kamarku —seperti yang biasa ia lakukan sewaktu aku kecil. “Ah, rupanya kau hendak tidur.” ujarnya.
“Katakan saja.” ujarku, mengerti maksud kedatangannya.
Aboji terdiam, namun ia tersenyum kemudian. Tak lama, ia menghampiriku setelah menutup pintu kamarku. Lantas ia duduk di sampingku.
“Luhan sudah pulang?” tanya Aboji.
Aku memandang asal. “Mana ku tau.” jawabku.
Aboji memandangku heran, terkejut tepatnya. “Apa kau menyadari sesuatu, Ahyoung-ah?” tanyanya kemudian, memalingkan pandangannya dariku.
Aku memandang beliau. Aku tak tahu, makanya aku heran.
“Waktu yang tepat untuk memberikan kasih sayang itu adalah sekarang, sebelum orang yang kau sayangi pergi dan tak pernah kembali lagi.” lanjut Aboji.
Aku mengernyitkan dahi heran. “Apa maksudnya?” tanyaku.
Aboji menatapku lembut. “Tanpa sadar, kau melupakan kata-kata itu.” katanya kemudian.
Kali ini aku mengernyitkan dahi karena merasa tak bersalah. “Aku? Melupakan kata-kata itu?” ujarku.
Kemudian Aboji memalingkan pandangan dariku, lalu menghela nafas. “Aku tidak tau apakah ini salahku atau bukan. Yang penting kau berubah semenjak kau mendapat jabatan ini.”.
Aku terdiam, kemudian berpikir. Berubah? Ya, benar. Sifatku memang berubah, lantas apa hubungannya dengan kata-kata yang tanpa sadar aku lupakan itu?
“Aboji, katakanlah dengan jelas.” pintaku.
Aboji hanya memandangiku. “Indahkan kata-kata tadi, dan jangan sampai menyesal.” katanya, aku tetap tak mengerti.
Kemudian beliau beranjak dari ranjangku menuju pintu kamarku. Aku hanya dapat memandanginya dari tempatku duduk.
Sebelum meninggalkan kamarku, Aboji berkata, “Tidurlah.”.
Pintu segera ditutupnya, dan aku tak menemukan sosok lelaki tangguh itu di kamarku. Dan aku masih terdiam dalam heran.
*****
Pagi ini, aku tengah bersiap-siap ke kantor seperti pagi biasanya. Aku masih di kamar, masih berkutat dengan tas kantor dan berkas-berkasku. Tapi kemudian aku menoleh ke pintu kamarku ketika mendengarnya berderit.
Aku menemukan sosok Luhan melongok ke dalam kamarku.
“Ah, Nuna!” serunya.
Aku terheran. “Kenapa kau ke sini?” tanyaku.
Luhan lantas masuk
Aku mengernyitkan dahi mendengarnya. “Pagi-pagi ke sini, kau hanya menanyakan CD kosong?” ujarku.
Luhan memandangku heran, terlihat ia merasa bersalah. “W, wæ...?” tanyanya, menanyakan apa salahnya, “Ku, ku pikir..., beberapa CD kosongku ada di kamar Nuna —seingatku, pernah ku tinggalkan di sini...”.
Aku memandangnya. “Benda-benda punyamu tidak ada di sini —ini kamarku! Kenapa kau bertanya hal semacam itu padaku?!” gertakku.
Luhan tersentak —lagi. Tapi ia tetap berusaha tersenyum. “Rupanya..., tidak ada, ya...” umpatnya. Ia lantas menatapku sejenak, kemudian berkata, “Aku pergi, ya.”.
Lantas, Luhan meninggalkan kamarku tanpa bicara lagi. Ah, ku rasa aku sudah terlalu keras padanya. Namun ketika pintu kamarku tertutup, Sehun memasuki kamarku.
“Ahyoung Nuna!” serunya.
Aku memandangnya heran. Rupanya Luhan ke sini bersama Sehun.
“Kenapa Ahyoung Nuna seperti itu pada Luhan hyông?!” omel Sehun padaku. Mungkin ia mendengar percakapanku dengan Luhan dari luar barusan.
Aku merasa tidak terima, “Kau bicara apa, sih?!” balasku.
“Dulu, Ahyoung Nuna sangat perhatian pada Luhan hyông. Nuna sangat memperhatikannya dan sayang padanya. Namun sekarang, setelah Ahyoung Nuna mendapatkan pekerjaan yang paling Nuna inginkan, Ahyoung Nuna tidak pernah memperhatikan Luhan hyông lagi! Nuna tidak pernah peduli padanya lagi!.
Jangankan pada Luhan hyông, padaku pun sekarang Nuna juga berbeda! Ahyoung Nuna yang sekarang berbeda!! Ahyoung Nuna juga tidak peduli padaku!!” omel Sehun, “Kenapa Nuna bersikap seperti itu?!!”.
“Oh Se Hun!! Kenapa kau berkata seperti itu?!”.
“Karena aku merasakannya!!” seru Sehun.
Aku terdiam.
“Aku tidak suka melihat Nuna seperti ini terus! Ahyoung Nuna sudah cukup banyak berubah!!” lanjutnya.
“Cukup! Keluar dari kamarku!” gertakku pada akhirnya.
“Nuna!”.
“Keluar!!”.
Sehun terdiam. ku lihat matanya mulai berair. Aku tidak pernah bersikap kasar pada Sehun sebelumnya, apalagi membuatnya menangis. Tapi kali ini, aku terpaksa menggertaknya karena ia sudah keterlaluan menurutku.
Bocah itu keluar dari kamarku. Ia tidak sedih, tapi ia marah, terdengar jelas dari derap langkahnya yang berat ketika ia meninggalkan kamarku.
Ya, lebih baik ia begitu.
Tapi aku tersentak ketika melihat sosok Aboji di depan pintu kamarku. Ia memandangku nanar, penuh ketidakpercayaan atas tindakanku pada kedua adikku ini —Luhan dan Sehun. Ia menggeleng padaku, dan melangkah pergi dengan perlahan.
Lagi-lagi, aku hanya bisa terdiam.
***
Aku punya sedikit waktu untuk mengunjungi toko roti dekat kantor. Cuma sekitar satu jam. Aku hanya ingin membeli beberapa roti, dan segelas kopi atau susu.
Aku membawa nampan untuk memilih roti yang ingin ku beli, namun ketika aku tengah memilih beberapa roti seseorang memanggilku.
“Ahyoung Onnie?”.
Aku menoleh, dan menemukan sosok wanita cantik berambut panjang blonde berdiri di dekatku. Itu Hyoyeon.
“Hyoyeon-ah.” ujarku.
Kemudian Hyoyeon tersenyum manis. “Onnie, senang melihatmu!”.
Ku lihat penampilannya hari ini. Ia tampil rapi dengan t-shirt dan celana jins pendek, kemudian tas jinjing dan beberapa buku dalam dekapannya, rambutnya tertata rapi. Sudah pasti, gadis ini dalam perjalanan menuju kampusnya.
Aku tak bergeming.
“Rupanya onnie selama ini sedang sibuk, ya.” sahut Hyoyeon setelah memperhatikan penampilanku pagi ini. Lagi-lagi ia berkata dengan senyuman.
“Pekerjaan baru di perusahaan ayahku.” dalihku.
“Ah...” Hyoyeon mengerti.
Aku sibuk memilih roti lagi, Hyoyeon pun juga sama. Tapi ia tidak membiarkan keheningan menemani kami berdua.
“Bagaimana kabar Luhan?” tanyanya.
Aku tersentak. Untuk apa ia menanyakan Luhan padaku? Bukankah ia sudah sering bertemu Luhan setiap latihan? Apalagi, mereka latihan tiap hari untuk kompetisi ke jepang nanti.
“Mungkin ia sudah di kampus.” jawabku enteng.
“Kau...,” Hyoyeon terdengar ragu, “masih sayang sama Luhan, kan?” tanyanya pada akhirnya.
ku berbalik ke arahnya, memandangnya heran. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” bukannya menjawab, aku malah bertanya balik.
아니오. Anio. Enggak.” Hyoyeon berusaha tersenyum, “Aku hanya merasakan hal yang berbeda dengan kalian berdua..., akhir-akhir ini...” tapi keraguan jelas tampak di wajah cantiknya.
Kim Hyo Yeon, ia adalah salah satu teman dekat Luhan. Sementara kekasihnya Hyoyeon, Hyukjae, adalah sahabat baikku. Karena begitu dekat dengan kami, Hyoyeon dan Hyukjae sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
Makanya Hyoyeon dan Hyukjae dapat merasakan perubahan ini.
“Meski Luhan tetap perhatian, bertingkah manis dan ceria di hadapanmu, aku tau ia merasa sedih atas perubahan sikapmu, Onnie.” lanjut Hyoyeon.
Kali ini aku menatapnya tajam. “Kenapa semua orang mengeluhkan perubahanku?!” ujarku, “Dan kenapa perubahan ini selalu dikaitkan pada Luhan?! Ini masalah pribadiku! Aku sibuk! Tapi kenapa kalian menggangguku dengan membicarakan hal yang sama?!”.
Ku lihat Hyoyeon sama sekali tidak tersentak, ia tetap tenang. “Ya, mungkin onnie memang sedang sibuk.” katanya pelan, “Tapi Luhan tetap adikmu —meski bukan adik kandungmu.”.
Kali ini aku terperanjat. Kalimat terakhir terasa menusukku.
Hyoyeon kemudian membungkuk tanda pamit. Lantas ia berjalan menjauhiku ke kasir dengan sepotong roti kecil di tangannya. Dan kemudian ia pergi meninggalkan toko roti.
Aku hanya terdiam.
*****
Pagi ini, aku tidak punya banyak waktu.
Rapat penting, terpenting dari yang penting, aku tak boleh sampai melewatkan rapat ini. Aku harus berkonsentrasi untuk rapat kali ini.
“Manager Yun, senang bertemu Anda lagi.” ungkap salah satu peserta rapat yang berasal dari perusahaan lain.
Aku tersenyum dan membungkuk kecil. “Senang bertemu Anda juga.” balasku.
“Wah, kali ini, saya ingin sekali melihat kemampuan Manager Yun dalam mengelola perusahaan ini lewat rapat ini!” seru peserta rapat lain yang ada di belakangnya.
“Saya akan berusaha.” kataku.
Aku dan para peserta rapat lainnya memasuki ruangan yang telah disediakan. Rapat ini akan segera dimulai. Aku harus fokus.
Tapi aku mendesah kesal ketika ponselku bergetar. Aku meliriknya diam-diam. Rupanya panggilan dari Luhan. Aku sempat berpikir berulang kali antara menjawabnya atau tidak.
Aku pun memilih untuk menjawabnya.
여보세요? Yôboseyo? Halo?” bisikku ketika panggilan ku jawab.
“Yun Ah Young!!”  ku dengar seruan Luhan.
Aku terperanjat. “Luhan-ah?! Gwænchanha?!”.
누나!! 도와 주세요!! Nuna!! dowa juseyo!! Kak!! Tolong aku!!” lagi-lagi ku dengar seruan Luhan itu.
Aku berubah panik. “루한아 어디 있어?! Luhan-ah, odi issô?! Luhan, kau di mana?!” tanyaku, tanpa memperdulikan para peserta rapat memandangiku.
“Aku di perempatan di seberang kantormu. Nuna, dowajuseyo!!” seru Luhan lagi.
Kali ini aku benar-benar panik. “Baik, tunggu aku!” ujarku sebelum ku akhiri panggilan. Aku memandangi para peserta rapat itu. “Joesonghamnida. Ada urusan yang sangat penting sehingga rapat terpaksa ku batalkan. Joesonghamnida.” kataku pada mereka.
Tak ku pedulikan seruan tak setuju mereka terhadap tindakanku ini ketika aku bergegas dengan tergesa keluar dari ruang rapat. Aboji yang berada di luar pintu ruangan pun hanya mampu memandangiku heran, tapi ia membiarkanku.
Aku terus berlari tergesa, aku tak ingin terjadi hal buruk pada adikku, Luhan. Aku cukup tak sabaran ketika lift yang ku tumpangi beranjak turun.
Segera aku berlari lagi keluar lift, tak peduli para staff kantor menyalamiku. Aku berlari keluar gedung menuju perempatan.
Jangan, jangan Luhan. Aku mohon jangan sakiti Luhan. Tuhan, aku mohon jangan Luhan. Aku terus berharap dalam hati masih sambil berlari.
Perempatan yang dimaksud Luhan memang tidak jauh dari gedung perusahaan Aboji, sehingga dalam waktu singkat aku sudah berada di seberang perempatan itu.
Di sana! Tepat di seberang sana!
Seseorang dengan jaket tipis, celana pendek, dan headphone Beats yang dikalungkannya. Itu Luhan! Ia tengah terduduk di pagar tanaman di seberang sana.
Begitu lampu hijau menyala, aku menyeberangi jalan raya itu dan mendekat ke arah Luhan yang terus tertunduk itu. Apa yang terjadi padanya?
“Luhan-ah, gwænchanha?” tanyaku panik begitu aku tepat di hadapannya yang masih tertunduk.
Luhan kemudian menenangadahkan pandangan ke arahku. Kemudian Luhan tersenyum padaku. Ia tak apa?
“Kau lupa kapan kau lahir?” tanya Luhan, “Nuna, sængil chukhahæ.” ujarnya.
Aku terkejut setengah mati. Sial, ternyata Luhan hanya membodohiku di tengah rapat pentingku?! Tidak penting hari apa untukku sekarang, tapi tindakan Luhan ini...?!
Tanpa ku sadari, Luhan menyodorkanku kotak kecil berpita itu. Ia lantas meletakannya di atas telapak tanganku.
“Sængil chukhahæ.” ujar Luhan sekali lagi, “Rupanya, kau masih perhatian padaku.”.
Aku memandangnya tajam. “Kau pikir itu lucu?” kataku tajam.
Senyuman Luhan pudar. Ia menyadari bahwa aku tak suka kejutannya ini, kejutannya untukku di hari ulang tahunku.
“Nu, nu, Nuna...” gumamnya.
“Kau pikir aku apa?!” gertakku. “Kau membuatku menyia-nyiakan waktuku!! Aku sedang ada urusan penting di sana! Kau tidak tau kalau aku sudah dibuat panik karena panggilanmu?! Tapi ternyata kau hanya pura-pura!!”.
Luhan serasa membeku. “Nuna..., aku...,”.
“Pulanglah!!” suruhku, aku marah.
Luhan menatapku nanar.
“Apa kau tidak punya kegiatan lain?! Kau tidak latihan menari?! Kau tidak kuliah?!” aku menyuruhnya ulang, “Pulanglah!! Dan jangan ganggu aku!!”.
Luhan hanya mampu terdiam.
Ku lepas kado kecil itu dari genggamanku, membiarkannya terjatuh di atas tanah. Aku lantas berbalik dan beranjak pergi dengan marahnya.
Tanpa ku sadari, Luhan memungut kado kecil itu dan memandang ke arahku. “Nuna!” panggilnya, tapi aku enggan menoleh, “Ahyoung Nuna!!” lagi-lagi aku enggan menoleh.
Aku tengah menyeberangi jalan, dan Luhan terus memanggilku. Aku tak mendengarkannya.
“Ahyoung Nuna!” suaranya mendekat, tapi aku tetap enggan menoleh. Tapi panggilan yang aneh kemudian terdengar, “Nuna, awas!!!”.
Tak lama setelah seruan Luhan itu, aku mendengar suara yang keras sekali mendekat ke arahku, “Tiiinn....!!!!”.
Aku menoleh ke samping, mendapati sebuah truk putih berusaha menahan lajunya agar tak menabrakku. Aku tak mampu berteriak, dan hanya mampu terdiam di tempat.
Tapi dalam sekejap, seseorang mendorongku hingga aku tersungkur sampai ke seberang sana. Namun anehnya, “Braakk!!!” aku masih mendengar suara benturan keras, padahal aku sudah berada di seberang?
Aku menoleh ke belakang, ke arah jalan ketika aku masih tersungkur. Aku terkejut setengah mati melihat ke arah jalan.
Truk itu menabrak seseorang. Orang itu tersungkur di atas aspal dengan penuh luka dan ceceran darah. Itu orang yang mendorongku : Luhan!!
“Luhan?” gumamku ketika aku bangkit. “Luhan!!” seruku.
Aku berlari ke arahnya. Aku orang pertama yang mendekati Luhan saat itu. Aku menopangnya di atas pangkuanku, aku pun tak peduli noda merah itu mengotori pakaian kantorku.
Luhan terpejam, penuh luka. Aku menangis.
“Luhan! Luhan-ah!” panggilku, “Aangunlah! Luhan-ah!!” ku guncang tubuh kecilnya.
Harapan kecil masih berpihak padanya : Luhan membuka matanya. Ia memandang ke arahku dengan tatapan sayu.
“Nu..., na...” panggilnya lirih.
Aku tak mampu menahan tangis. “Luhan-ah...”.
“Sængil..., chukhahæ...” Luhan menggerakan tangannya yang penuh noda merah itu, ia menyodorkan kado kecil itu padaku dari genggamannya.
Aku terus menangis. Di saat itu juga, aku merasakan nafas adik kecilku ini semakin tersengal. Aku mulai panik.
“Dowajuseyo!!” seruku pada orang-orang di dekatku, meminta pertolongan. “Aku mohon tolong adikku!!”.
*****
Aku terduduk di samping ranjang itu. Terus memandangi adik kecilku yang terbaring sejak tiga hari yang lalu dengan peralatan yang membantu kelangsungan hidupnya entah apapun namanya —infus, alat bantu pernafasan, benda yang seperti radar itu, dan, ah, aku tak tau lagi.
Sejak tiga hari lalu pula, aku tak pernah meninggalkannya dan tak sedikitpun aku tertidur. Aku terus terjaga hanya untuk mengawasi Luhan. Ya, Luhan : adik kecilku yang tengah dalam keadaan kritis ini.
Tiba-tiba aku merasakan kehangatan di punggungku.
Hyukjae ternyata menyelimuti punggungku dengan jaketnya. “Kau belum istirahat juga, makan pun tak seberapa.” katanya. “Makan dulu sana. Biar ku jaga Luhan —Hyo juga akan segera datang untuk menemani kalian.”.
Aku memandangnya. “Tapi, aku harus,”.
“Cepat makan sana.” suruh Hyukjae, memotong perkataanku.
Aku hanya tertunduk. Lalu memandang ke Luhan sejenak. Betapa miris keadaannya saat ini, bahkan hanya untuk meninggalkannya sebentar pun aku tak rela.
Tapi Hyukjae tetap memaksaku untuk meninggalkanya sejenak dan bergegas makan. Ia membawakan makanan yang Hyoyeon masak untukku —Hyoyeon memang pandai memasak.
Aku berdiri dan Hyukjae merebut tempat dudukku. Aku segera beranjak pergi, namun pandanganku tak lepas dari Luhan. Aku masih tak rela meninggalkannya —meski hanya sekejap.
***
Aku bergegas ke kamar rawat Luhan segera. aku tak ingin menyia-nyiakan terlalu banyak waktu untuknya. Aku ingin segera menemaninya, melihatnya membuka matanya, dan kembali tersenyum manis padaku. Aku ingin menjadi orang pertama yang diihatnya ketika ia siuman nanti.
Namun ketika ku buka pintu kamar rawat Luhan, aku mendapati kursiku di tempati oleh seseorang : Sehun.
Bocah itu tengah fokus memandang pada Luhan —hyông keduanya. Ia terus berinteraksi pada Luhan, meski ia tau kalau Luhan masih terpejam dan tak sadarkan diri.
Dokter bilang, di hari ketiga ini perkembangan Luhan semakin membaik. Kemarin aku lah orang pertama yang menyadari jemarinya bergerak dan segera memanggil dokter. Dari kejadian yang ku sadari itu, dokter menyatakan bahwa Luhan mulai bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.
Dokter juga berpesan untuk sesering mungkin mengajak Luhan berbicara agar anak itu terbiasa mendengar. Dan hal itu dilakukan pula oleh Sehun.
“..., kalau aku, aku pasti akan selalu di sini bersamamu, Hyông...” Sehun masih terus berbicara pada Luhan, “Aku ingin melihatmu tersenyum dan sembuh. Aku ingin kita main sama-sama lagi.”.
Aku masuk ke dalam kamar rawat Luhan. Masih ada Hyukjae di dalam, dan Hyoyeon yang baru datang bersama Sehun tadi.
Hyoyeon segera menghampiriku. “Onnie, biarkan Sehun bersama Luhan dulu.” bisiknya padaku, “Ku rasa ia masih ingin bersama Luhan.”.
Aku memandang sejenak ke arah Sehun. Kemudian aku mengangguk pada Hyoyeon. Ketika aku menghampiri ranjang Luhan, Hyukjae memberiku kursi agar aku bisa duduk di dekat Luhan juga. Dan aku terus memandangi kedua adikku itu.
“Hyông, aku janji aku akan selalu bersamamu.” ujar Sehun, “Aku janji tidak akan nakal lagi padamu, tapi kau harus bangun dan sembuh..., ya?”.
Mataku berair mendengar perkataan Sehun.
“Kalau kau sudah bangun dan sembuh, ayo kita main PS lagi..., ayo kita pergi jalan-jalan lagi..., ayo kita menari lagi..., ayo kita battle dance lagi...” lanjut Sehun, “Aku tak pernah bertemu orang yang semenyenangkan seperti dirimu, Hyông... Dan aku sangat mensyukuri nikmat Tuhan yang satu ini...”.
Tanpa ku sadari, bulir-bulir air mataku jatuh.
“Meskipun kau hanya kakak sepupuku —bahkan bukan saudara kandungku, tapi kau lebih dari sekadar kakak sepupu angkatku...” kata Sehun, “Aku..., aku telah menganggapmu seperti kakakku sendiri... Aku..., aku sangat menyayangimu, Hyông...”.
Melihat Sehun juga menitikan air mata, aku tak mampu menahan isakku.
“Semua hari-hariku yang ku jalani bersamamu terasa begitu menyenangkan... Aku begitu menyukainya, Hyông... Aku sangat menginginkannya kembali...” lanjut Sehun, “Aku tak bisa melakukan apa-apa, tapi kau bersedia membantuku, mengajariku, bahkan sesering apapun aku menjahilimu kau tak peduli dan kau selalu menganggapnya sebagai permainan...”.
Sehun terdiam, menahan isaknya. Air matanya terus mengalir.
“ku merindukanmu, Hyông... Ku mohon cepatlah bangun dan sembuh...” ujar Sehun lirih, “Aku merindukan orang yang dengan sabar mengajariku matematika, orang yang dengan sabar mengajariku bermain rubik, orang yang selalu mengajakku main game, orang yang selalu mengajakku menari, dan orang yang selalu ceria ini : kau, Luhan hyông... Kau...”.
Aku makin terisak. Hyoyeon menahan harunya, ia mengusap pundakku.
“Aku ini...,” Sehun menunduk, menahan isaknya lagi, “aku ini tak bisa apa-apa..., tanpamu, Hyông...” lanjutnya, ku lirik wajahnya yang berusaha keras menahan isaknya, “Aku ini cuma anak kecil yang gak bisa apa-apa... Aku butuh kau, Hyông! Bangunlah dan cepat sembuhlah!”.
Cukup sudah, aku menangis sejadi-jadinya.
“Sejak hari itu,” Sehun melanjutkan, “Setiap malam, setiap aku akan belajar di sekolah maupun di rumah, setiap aku akan tidur..., aku selalu berdoa... Aku berdoa untuk kesembuhanmu, Hyông... Tidakkah Ia mendengarnya...? Tidakkah Ia memberitaumu...?”.
Hyoyeon memelukku dari belakang.
“Aku juga berkata padaNya dalam doaku : aku membutuhkanmu. Tidakkah kau mengetahuinya, Hyông?” lanjut Sehun, kali ini ia menatap Luhan kembali. “Hyông, bangunlah! Sembuhlah! Aku membutuhkanmu! Aku..., aku...,”.
Tak mampu melanjutkan perkataanya, Sehun terdiam. Kali ini ia biarkan isaknya keluar, ia tak peduli. Ia memang membutuhkan Luhan, ia memang menyayangi Luhan —sama sepertiku. Hyukjae menghampirinya dan mencoba menghiburnya.
Di saat itu juga, suasana terasa begitu pedih.
***
Ku selimuti Sehun yang tertidur dengan lelapnya di atas sofa. Ketika malam turun, Hyukjae dan Hyoyeon berpamitan pulang padaku. Aku berhutang pada keduanya yang sudah menjaga Luhan dan Sehun —apalagi sejak tadi Sehun terus saja menangis dan tak mau berbicara pada siapa pun.
Ku pandang Sehun sekali lagi. Bocah ini pasti kelelahan menangis. Hatinya memang sensitif. Sehun yang masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas ini memang masih dalam tahap pertumbuhan baik fisik maupun psikisnya.
Aku duduk di atas kursi di samping ranjang Luhan. Malam ini aku pasti akan terjaga lagi, apalagi ada Sehun juga di sini.
Terus ku pandangi Luhan yang masih terpejam itu. Ku harap ia tidak mendengar isakkan Sehun tadi —aku takut dalam pejamannya Luhan akan mengkhawatirkan Sehun.
Dalam hati, ku akui satu hal.
Aku salah, aku yang salah. Semua ini karenaku. Keadaan Luhan seperti ini adalah karenaku. Kalau saja tingkahku tidak berubah dingin, Luhan takkan seperti ini. Kalau saja aku masih seperti dulu, mungkin aku sedang melihatnya tersenyum sekarang.
Aku tak mau menangis lagi, makanya ku coba mengalihkan pandanganku dari Luhan. Tak sengaja pandanganku menangkap kado kecil pemberian Luhan itu tergeletak sejak tiga hari yang lalu di atas meja.
Segera ku raih kado kecil itu. Memang, aku belum pernah membukanya, bahkan tak seorang pun berani menyentuhnya. Aku terheran ketika menemukan liontin di dalamnya.
Cantik sekali.
Ketika aku membuka liontinnya, aku tersentak. Fotoku dan Luhan di dalamnya, gambaran kami sewaktu kami kecil. Aku yakin Luhan yang memasangkannya.
Aku terisak. Ku pendam wajahku di lipatan kedua tanganku yang ku letakan di atas ranjang Luhan. Rasa bersalah itu kembali menghujamku. Luhan terus menyayangiku bahkan sampai aku mengacuhkannya pun ia tetap menyayangiku.
Dalam heningnya malam, aku menangis.
*****
Aku terbangun dari tidurku. Astaga, aku tertidur!!
Segera ku tegakkan tubuhku dan memandang ke arah Luhan. Aku menghela nafas lega karena Luhan tetap di ranjangnya —sudah pasti.
“Nuna tidur.”.
Aku terperanjat ketika mendengar suara Sehun tak jauh dariku. Rupanya Sehun bangun lebih awal dariku.
“Sehun-ah.” gumamku.
Ku lihat ada yang aneh dengan kedua mata Sehun. Matanya sembab. Pasti ini karena ia menangis kemarin, bahkan sampai tertidur.
“Ahyoung Nuna tidak sadar apa? Itu, lingkar matamu...” Sehun menunjuk kedua mataku dengan bibirnya.
Aku menyentuh bagian yang Sehun sebutkan. Kemudian, aku bercermin pada ponselku. Ah, benar apa yang Sehun bilang. Ada lingkar hitam di sekitar mataku.
“Ahyoung Nuna mau sarapan apa? Aku belikan, ya.” kata Sehun.
Aku memandangnya lagi, “Tidak usah.” kataku lembut.
“Kalau ku turuti, Nuna gak akan makan.” kata Sehun, “Itu yang Luhan hyông katakan padaku.”.
Mendengar kalimat terakhir, aku terdiam.
“Oke, ku belikan sarapan, ya! Ahyoung Nuna tunggu di sini.” ujar Sehun sebelum meninggalkan kami berdua.
Kini hanya aku dan Luhan di kamar ini. Keheningan cukup lama menemani kami berdua. Aku merasakan sesuatu dalam genggamanku. Rupanya selama aku tidur, aku masih menggenggam liontin itu.
Aku memandanginya, melihat foto di dalamnya.
Kemudian aku teringat sesuatu. Aku memandang Luhan, dan mulai berbicara padanya. “Mi, mianhæyo...” ujarku pelan, “Aku tau aku yang salah...”.
Terus ku pandangi Luhan.
“Kalau saja aku tidak berubah acuh padamu, kau takkan seperti ini sekarang... Mungkin kau akan mengajakku bermain atau bermanja padaku sekarang...” kataku, “Aku merindukanmu, tapi aku cukup pantas untuk berkata ‘mianhæ’..., karena aku tau aku yang salah, Luhan-ah...”.
Aku tak sanggup menatap Luhan terus menerus. Sehingga..., aku merunduk. Ku pendam kembali wajahku di atas lipatan tanganku di atas ranjang Luhan. Aku ingin menangis, tapi aku tak mau. Ku coba menahannya.
Tapi semenit kemudian, “Nu..., na...”. suara itu...?
Aku terperanjat dan langsung memandang ke sumber suara. Luhan?! Luhan memanggilku!!
Ku dapati kedua matanya yang semakin terbuka dan terbuka. Ia memandang sayu, bibirnya terus memanggilku. “Nuna... Nuna...” panggilnya terus dengan lirihnya.
Aku bangkit dari kursiku dan mendekati wajah Luhan, berusaha sebisa mungkin agar Luhan bisa melihatku. “Aku di sini, Luhan-ah. Aku di sini...” ujarku menahan haru.
“Luhan hyông!!” tak lama ku dengar seruan Sehun yang ternyata baru saja sampai di dalam kamar.
Ia jatuhkan begitu saja kantung plastik berisi roti untuknya dan untukku itu. Lantas ia mendekat ke arah kami berdua.
“Panggil dokter! Cepat!” suruhku pada Sehun.
***
Sesuai janjiku pada Luhan, aku tetap berada di dekatnya ketika dokter memeriksa keadaannya. Aku hanya memandanginya dari tempatku duduk.
Setelah selesai memeriksa keadaan Luhan, dokter muda itu mendekatiku dan berkata dengan suara yang pelan. “Luhan ingin sekali bersama Anda. Sebelum saya memberitau lebih detail lagi tentang keadaanya, saya akan membiarkan Anda bersamanya sampai ia merasa lebih baik.” jelasnya.
Aku hanya mengangguk. “Uisanim, gamsa hamnida.” ujarku kemudian sebelum ia meninggalkan kamar rawat ini.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, aku menarik kursiku hingga mendekat ke arah Luhan. Sementara Sehun duduk di sisi satunya, berseberangan denganku.
“Nuna...” panggil Luhan lirih, menatapku penuh dengan peluh.
Aku segera menggenggam tangannya. “Aku di sini, Luhan-ah...” kataku.
“Aku...,” kata Luhan, “aku..., aku ingin bersamamu..., aku ingin bersama Sehun..., aku ingin bersama Aboji..., aku ingin bersama semuanya...”.
Aku menahan air mataku.
“Aku...,” ujar Luhan lirih, “aku ingin pulang...”.
“Aku mengerti.” kataku lembut padanya, “Kau harus bersabar sampai keadaanmu cukup pulih agar bisa pulang, oke?”.
“Aku...,” Luhan bersikeras, “aku ingin latihan menari untuk kompetisi ke Jepang, Nuna-ya... Aku adalah seorang penari...”.
Aku berusaha keras menahan tangisku. “Aku tau.” kataku.
“Tapi Nuna...,” Luhan berujar lagi, “aku tidak bisa merasakan kakiku...”.
Tersentak aku mendengarnya. Pada saat yang bersamaan, Sehun juga merasakan hal yang sama denganku. Aku sempat berpandangan singkat dengannya.
“Jangan khawatir.” kataku pada Luhan, “Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”.
“Aku,” ujar Luhan cepat, “aku percaya padamu..., karena aku sayang padamu...”.
Aku hanya terdiam, dan memandangnya nanar. Ku usap punggung tangannya yang ku genggam dan ku rasakan halusnya tangan itu di pipiku.
Tenang, Luhan-ah. Semua akan baik-baik saja —pegang janjiku.
***
Pandanganku berubah tak tentu begitu aku keluar dari ruangan dokter yang menangani Luhan itu. Rasa terpukul, bersalah, dan menyesal merajamku segera.
Aku menitikan air mata dalam perjalanan kembali ke kamar rawat Luhan. Dengan pahitnya ku terima kenyataan yang baru saja aku ketahui.
Adikku, Xi Lu Han, harus menderita karenaku.
Kedua kakinya lumpuh, itulah kenapa adikku tak dapat merasakan kakinya. Tak hanya luka luar, tapi ia juga menderita luka dalam, salah satunya pada paru-parunya yang membuatnya kesulitan bernafas. Lukanya yang terlalu parah membuat kemungkinan pulihnya ia menjadi sangat kecil : 2%.
Tidak, jangan adikku ku bilang. Ku bilang padaMu : jangan adikku!!
Tanpa sadar, aku sudah sampai di dalam kamar rawat Luhan. Di dalam ku dapati Sehun duduk di kursinya dan menceritakan hal-hal lucu pada Luhan. Di seberang Sehun ada Hyoyeon, ikut tertawa ketika Sehun menceritakan hal-hal lucu itu. Dan Luhan, ia tak mampu tertawa, ia hanya bisa tersenyum.
Ketika aku sudah berada di kamar, Hyoyeon memandangku. Ia segera bangkit dari kursinya dan mempersilahkan aku duduk di dekat Luhan.
Aku segera duduk. Dan Luhan lantas tersenyum senang mendapati kehadiranku di sampingnya.
“Nuna.” ujarnya, semakin lirih.
Aku berusaha tersenyum semampuku. “Luhan-ah...” ujarku.
“Nuna, apa aku sudah bisa pulang?” tanya Luhan antusias, “Apa yang dokter katakan?”.
Mendengar pertanyaan seperti itu, hatiku teriris. Ku genggam tangan Luhan untuk menahan butiran air mataku, kemudian tersenyum seadanya padanya.
“Dokter bilang,” ujarku, “kau pasti pulang.”.
Aku segera menahan kata-kata Luhan dengan mengecup pucuk kepalanya. Aku mengusap kepalanya, tak peduli ia heran dengan tingkahku ini.
Dalam hati, aku mengutuk diriku sendiri.
Hari itu, harusnya aku yang tertabrak. Harusnya aku yang terluka. Harusnya aku yang terbaring. Tapi kenapa Luhan?! Kenapa harus dia yang menanggungnya?! Ini sungguh salahku.
Harusnya aku yang celaka karena keegoisanku, harusnya aku!! Bukan Luhan!!
*****
Aku yakin Luhan akan segera sembuh meski kemungkinannya hanya 2%. Aku yakin Luhan akan seperti sedia kala lagi. Aku yakin Luhan pasti akan menari lagi meski dokter bilang kedua kakinya lumpuh.
Hari ini, Luhan tak banyak bicara. Ia lebih sering diam dan berbicara seperlunya.
Sehun tak bisa datang ke rumah sakit hari ini. Waktu Sehun untuk liburan di Seoul —lebih tepatnya di rumahku— sudah habis sejak kemarin, dan ia enggan untuk pulang, ia ingin di sini untuk menemani Luhan. Aboji menyuruhnya pulang ke penginapan. Dan tentu saja, ia harus berhadapan dengan kedua orangtuanya.
Hyukjae dan Hyoyeon berjanji padaku agar mereka menemaniku dan Luhan di rumah sakit. Dan seperti apa yang mereka janjikan, keduanya ada di sini —di kamar rawat Luhan.
Sudah tiga hari Luhan di sini sejak ia siuman, tapi tak kunjung juga ku dapati perkembangan baik pada dirinya. Semakin hari nafasnya makin tersengal, namun aku yakin Luhan akan segera sembuh...,
karena aku ingn membalas kesalahanku padanya selama ini...
“Nuna...” ku dengar Luhan memanggilku lirih, “Nuna...”.
Segera ku genggam tangannya, “Aku di sini, Luhan-ah...” ujarku. Aku takut Luhan tidak menyadari keberadaanku.
“Aku bertemu mereka...” ujar Luhan.
Aku heran. Mereka?
“Siapa?” tanyaku.
“Ibuku..., dan ayahku...” jawab Luhan.
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. “Luhan-ah, mungkin itu cuma mimpi...”.
“Mereka..., memanggilku...” ku lihat Luhan tersenyum tipis, “Aku senang namaku dipanggil mereka...”.
Aku hanya mampu terdiam.
“Sudah lama tak jumpa mereka...” ujar Luhan lagi. “Aku ingin bersama mereka lagi...”.
Aku hanya mampu memandangi Luhan. Dalam diam, aku berusaha menepis segala hal buruk yang merasuki pikiranku.
Kembali aku teringat sesuatu. Ku pandang Luhan sekali lagi. “Luhan-ah, mianhæyo...” kataku, aku tau Luhan pasti hanya terdiam mendengar perkataanku barusan, “Aku..., aku yang membuatmu seperti ini... Harusnya aku tidak berubah acuh seperti itu padamu...”.
Kali ini aku tertunduk.
“Aku yang salah...” lanjutku, “Aku tau, seharusnya...,”.
“Aku tak apa.” sela Luhan kemudian, “Kau adalah segalanya bagiku.”.
Sontak, aku memandangnya. Tanpa sadar, sebulir air mataku jatuh. Dan di saat seperti ini, tau apa yang Luhan katakan?
“Uljimara...”.
Mendengarnya berkata seperti itu, aku tak mampu menahan air mataku. Tapi demi dirinya, aku berusaha menahannya.
“Oke, aku gak akan nangis...” ku hapus air mataku, dan ku lihat Luhan tersenyum.
Dan setelah ini, aku tak ingin mendengar hal yang membuatku khawatir tentang Luhan.
***
Malam ini, aku seorang yang menemani Luhan di rumah sakit. Aku merasa tak enak hati pada Aboji. Aarena aku selalu menjaga Luhan, Aboji lah yang merangkap posisiku di perusahaan. Tapi Aboji bisa mengerti keadaanku saat ini.
Tak mendengar suara Luhan sedikit pun, ku coba mengajaknya berbicara.
“Luhan-ah, kau sudah mengantuk?” tanyaku.
Kedua mata Luhan bergerak menyorotku. Betapa sayunya sorotan itu.
Lantas aku duduk di kursiku. “Aku akan menemanimu.” janjiku padanya.
Namun Luhan hanya memandangiku. Lama sekali keheningan ini membungkam kami, dan Luhan lantas berbicara, “Nuna,” panggilnya, “aku mau mendengarkan musik.”.
Aku terheran. “Musik?”.
Luhan berkedip, pengganti isyarat anggukan kepala.
무슨 음악? Museun eumak? Musik apa?” tanyaku.
“Apa saja.” pinta Luhan.
Sejenak aku berpikir. Aku segera mengeluarkan ponselku dan memasangkan ujung headset-ku pada port yang disediakan. Ku pasangkan sebelahnya di telinga Luhan dan yang satunya lagi di telingaku. Ku pilihkan lagu yang mengalun pelan yang lantas ku putar dengan volume yang tidak begitu keras untuk Luhan.
Ketika musiknya mulai mengalun, ku rebahkan kepalaku di samping Luhan.
Ku raih sebelah tangan Luhan. “Genggam tanganku.” suruhku padanya.
Dengan segera Luhan menggenggam tanganku —meski tak erat, kemudian aku juga menggenggam tangannya. Ku gerakan tangan kami hingga berdiri. dan ku pandangi keduanya.
“Kau bisa merasakan tanganmu? Apa kau bisa merasakan tanganku?” tanyaku.
“Mm.” sahut Luhan, berarti ‘ya’.
“Terus genggam tanganku sampai lagu ini berakhir, oke?” kataku, “Ini akan melatih otot tanganmu agar terbiasa bergerak lagi.”.
“Mm.” sahut Luhan lagi.
Musik masih mengalun.
“Lihat, tangan kita sama putihnya.” ujarku tersenyum, masih ku pandangi tangan kami, “Jemarimu sedikit lebih besar dari jemariku, ya.”.
Seperti yang ku bilang, Luhan masih menggenggam tanganku.
“Luhan-ah, aku ingin menebus kesalahanku padamu, aku ingin menebus kebodohanku itu. Makanya kau harus sembuh, oke?” kataku, “Aku juga berjanji akan melihat audisimu bersama timmu di Jepang. Aku akan mendukungmu di sana, dan kau harus lolos ke babak berikutnya.”.
Masih ku pandangi tangan kami.
“Aku..., sayang padamu..., Luhan-ah...” kataku, “Aku ingin bersamamu lagi, dan aku berjanji takkan bersikap dingin padamu... Aku...,”.
Ku rasakan genggaman Luhan merenggang. Ku dapati tangan Luhan yang mulai melepas genggaman tanganku. Dan aku terkejut ketika mendengar suara panjang yang terdengar dari benda seperti radar itu.
Tidak.
Luhan..., Luhan tidak apa, kan...?
Aku terperanjat, tubuhku terasa membeku mendengar nada panjang itu. Ku angkat kepalaku dan ku beranikan hatiku untuk memandang ke arah Luhan.
Rupanya, nada panjang itu tak berbohong.
Aku mendapati Luhan terpejam, tak bergerak sedikit pun dan tak bernafas. Aku berusaha agar tidak panik. Lantas aku berdiri dari dudukku dan mendekat pada wajahnya.
“Luhan-ah.” panggilku, air mataku jatuh. “Kau, kau dengar aku, kan?”.
Ahyoung, kau bodoh! Jelas-jelas kau melihatnya dengan keadaan seperti ini! Kenapa kau masih memanggilnya?!
Aku memang tidak panik, tapi jangan paksa aku untuk menahan tangisku.
Ku peluk Luhan dalam dekapanku meski tangisku tersedu —aku tak mampu menahannya. “Luhan-ah.” ku panggil ia lagi meski aku sadar...,
Ia takkan mendengar.
Aku menangis, tak mampu menahan senggukan dan tangisku semakin keras. Aku belum merelakannya, aku belum merelakan Luhan.
가지마. Kajima. Jangan pergi.” pintaku padanya meski aku sadar...,

Luhan takkan kembali.


Aku terus menangis, tak peduli seberapa kerasnya. Aku merasa bahwa Ia tidak adil padaku. Aku sudah bilang padaNya agar Ia tidak mengambil adikku ini!
Tapi Ia malah mengambilnya dari dekapanku.
“Kajima.” aku tak mampu berkata, hanya itu yang terucap.
Dan aku menangis sejadi-jadinya.


*****


Ku pandangi pigura itu lagi.
Ya, siapa lagi kalau bukan gambaran Luhan di dalamnya. Aku hanya terdiam di tengah ramainya manusia-manusia berpakaian serba hitam ini.
Aku seperti orang yang kehilangan akal. Memandang tanpa harapan dan gairah, menapaki hari seakan waktu takkan bergulir, berkata tanpa nada layaknya orang tak pernah hidup. Itulah aku saat ini.
“Manager Yun, Anda belum makan.” ku dengar seorang sekertaris kantorku mengingatkanku.
Tapi aku tak bergeming dan terus memandangi gambaran Luhan di dalam bingkai itu. Aku merasa kehilangan. Aku merasa sangat terpukul saat ini.
Aboji kemudian menggantikan posisi sekertaris itu. Ia duduk tepat di sebelahku.
“Apa yang kau harapkan lagi?” tanya Aboji padaku.
“Luhan...” kataku datar, “Luhan, Aboji... Luhan.”. Ku rasakan pikiranku melayang-layang entah ke mana, dan hanya satu yang ku pikirkan : Luhan.
Mendengar perkataanku, Aboji menghela nafas. “Ingat apa yang pernah ku katakan padamu?” tanyanya, aku hanya diam, “’Waktu yang tepat untuk memberikan kasih sayang itu adalah sekarang, sebelum orang yang kau sayangi pergi dan tak pernah kembali lagi’, kau ingat?” lanjut Aboji.
Aku tak bergeming.
“Kau lupa akan kumpulan kalimat bermakna itu, Ahyoung-ah.” kata Aboji, “Dan sekarang apa yang kau dapati? Uh? Orang yang kau sayangi...,”.
“..., pergi...” kataku.
Aku menitikan air mata. Baru ku sadari maksud perkataan Aboji malam itu detik ini. Bodohnya aku! Kenapa bisa aku sebodoh ini?!
Tertunduk aku tak mampu menatap wajahnya lagi. Aboji mengusap kepalaku dengan lembutnya, berusaha menghiburku.
“Aboji, aku yang salah tapi kenapa Luhan yang celaka?” ujarku di tengah tangisku, “Kenapa Ia tidak mau mendengarku?!”.
“Tak ada gunanya kau sesali itu dan kau pinta gantinya.” kata Aboji, “Luhan sudah pergi, kau tak bisa berbuat apa-apa —ini sudah takdirNya.”.
Aku memandang Aboji. “Tapi harusnya Ia tau siapa yang salah dan siapa yang harusnya menanggung akibat dari kesalahannya, kan?!” geramku.
Tapi Aboji begitu sabar meladeniku. “Ia tau, Ahyoung-ah, Ia tau.” katanya, “Ia tau siapa yang salah dan Ia tau siapa yang harus menanggung akibat dari kesalahannya.”.
“Lalu kenapa Ia harus mengambil Luhan dariku?! Luhan tidak bersalah!!”.
“Ia mengambil Luhan darimu karena Ia tau kau yang salah, Ahyoung-ah.” Aboji tetap sabar, “Ia mengambil Luhan darimu karena Luhan adalah harta yang berharga buatmu. Makanya ia mengambil Luhan darimu agar kau menyadari kesalahanmu.”.
Mendengar penjelasan Aboji, aku membeku.
“Ia mengambil Luhan darimu karena itulah hukuman buatmu,” lanjut Aboji,”sekaligus takdirNya, Ahyoung-ah.”.
Air mataku mengalir begitu saja. Aku menangis, tapi Aboji segera berkata,
“Uljimara.” persis seperti apa yang sempat Luhan katakan padaku. “Jangan buat Luhan khawatir di sana hanya karena kau memikirkannya.”.
Aku membekap mulut dan hidungku. Aku bangkit dari tempatku duduk dan bergegas menuju toilet untuk membasuh wajahku.
Namun ketika langkah keempatku setelah meninggalkan ruangan, “Bruk!” aku menabrak seseorang.
Aku mendapati lelaki yang lebih tinggi tujuh belas senti dariku dengan setelan jas hitam itu. Lelaki muda ini adalah Sehun —ia datang bersama kedua orangtua dan hyôngnya.
Ia terbelalak melihatku, seakan melihat musuhnya. “Sehun-ah.” gumamku.
Tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dariku itu menghalangi jalanku. Ketika aku mencoba melewatinya, Sehun tak memberiku jalan sedikit pun.
Aku berujar, “Sehun-ah, berikan aku jalan,”.
“Kemudian melepasmu dan melupakan kesalahanmu?” sela Sehun segera dengan nada benci.
Aku tersentak dan memandangnya.
Dengan kasar, Sehun membekap kedua lenganku. Ia menatapku tajam. “Kau pikir siapa yang membuat Luhan Hyông seperti itu dan berakhir seperti ini?! Kau pikir siapa?! Apa kau pikir aku tidak tau?!” marahnya padaku.
“Sehun-ah.” ibunya mendekat.
“Ini akibat dari berubahnya sikap perhatianmu pada Luhan Hyông!! Kau merasakan pahitnya sekarang, kan?!” lanjut Sehun, “Kau merasakan akibatnya, kan?!”.
Ibunya tak mampu menenangkan putra bungsunya ini, maka putra sulungnya pun turun tangan. “Sehun-ah, jangan seperti itu!” .
“Aku merasakan akibatnya dan itu sangat menyakitkan!” balasku pada Sehun, “Kau pikir aku tidak sakit?!”.
“Kalau begitu kenapa tidak kau rasakan itu sebelum akhirnya Luhan Hyông pergi?!” balas Sehun. “Kau membuatku kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku!!”.
“Luhan adalah adikku, ia juga berarti bagiku!!”.
“Lantas jikalau ia berarti buatmu, kenapa kau bisa bersikap dingin padanya?! Ha?!”.
“Oh Se Hun!” hyông-nya berusaha melerai kami.
“Aku..., aku...,” aku terbata.
Sehun masih menatapku tajam. “누나야 싫어요! 싫어!! Nuna-ya, shirôyo! shirô!! Aku membencimu, Kak! Aku membencimu!!” teriaknya padaku. Perlahan matanya berair.
“Oh Se Hun!!” Hyông-nya berhasil memisahkan kami.
Aku dan Sehun terpaku. Perlahan Sehun tertunduk, kemudian terduduk di atas lantai dan menangis. Aku hanya menitikan air mata.
“Apa kalian bodoh?!” Hyông-nya berujar begitu tajam pada kami, “Luhan tidak akan senang melihat kalian seperti ini!! Jangan buat ia khawatir karena tindakan bodoh kalian!!”.
Di sela tangisnya, Sehun menandangku tajam, lantas berujar sinis, “Nuna, shirôyo... shirô...!”. Kata-kata itu hanya mampu membuatku terdiam. Dan memandangnya nanar.
*****
Hari ini, hari pertamaku kembali ke perusahaan dan bekerja lagi di kantor. Aboji bilang, aku tak boleh terlalu bersedih akan kepergian Luhan. Jadi ku putuskan untuk kembali bekerja hari ini.
Ketika aku sampai di mejaku, aku tertegun memandang seikat bunga, coklat, dan sebuah kartu ucapan tergeletak di atasnya.
Ku raih kartu ucapan itu, dan ku baca isinya.

“Untuk Manager Yun,
selamat datang kembali ke kantor!
Semoga harimu menyenangkan dan tetaplah bersemangat!
dari : para Staff”

Aku tersenyum tipis begitu selesai membacanya. Betapa perhatiannya mereka padaku. Mereka tau aku bersedih, dan mereka menghiburku.
“Klek.”.
Masih dalam posisiku yang terkagum karena pemberian para staff kantorku, seorang wanita —sekertaris kantorku— memasuki ruanganku.
“Selamat pagi, Manager Yun.” sapanya ramah disambung dengan bungkukan.
Aku tersenyum. “Sekertaris Cho.” sahutku.
“Saya datang membawakan beberapa berkas untuk Anda.” ujar Sekertaris Cho.
“Letakan saja di mejaku.” kataku padanya, kemudian ia segera menghampiri mejaku dan meletakan berkas-berkas yang hendak ia berikan padaku.
Pandanganku kembali pada kartu ucapan tadi.
“Oya, terimakasih, ya, untuk pemberiannya.” kataku pada Sekertaris Cho.
Sekertaris Cho hanya tersenyum. “Bukan apa-apa, Manager Yun.” ujarnya, “Kami senang Anda bisa hadir kembali di kantor dengan senyuman.”.
Aku ikut tersenyum. “Maaf membuat kalian bekerja tanpa arahanku.” kataku, “Setelah adikku meninggal, aku dan Direktur Yun sepakat untuk memakamkannya di Cina, tepat berdekatan dengan makam kedua orangtuanya. Dan aku menetap di sana selama kurang lebih seminggu.”.
“Pasti sangat berat untuk Anda.” ujar Sekertaris Cho merasa simpati.
Aku kemudian tersenyum. Tak tau harus mengatakan apa.
Sekertaris Cho kemudian membungkukkan badan, kemudian meninggalkan ruanganku. Meninggalkan aku sendirian di sini.
Masih berada di sudut mejaku, aku memandang ke jendela besar yang berada di belakang kursiku. Matahari pagi masih menyinari tiap sudut Seoul. Udara sejuk di tengah musim gugur ini masih menemani.
Kemudian teleponku berbunyi, segera ku tekan salah satu tombolnya.
“Manager Yun, ada yang ingin bertemu dengan Anda.” ujar suara wanita di baliknya.
“Siapa?” tanyaku.
“Seorang wanita, namanya Kwon Bo A.” jawabnya.
Aku terdiam sejenak. “Suruh ia masuk.”.
***
Wanita berparas cantik, berkulit putih, dan berambut coklat panjan itu kemudian meletakan cangkir tehnya di atas meja. Ia kemudian bersandar kembali pada sofa di ruanganku.
“Maaf mengganggu.” ujar wanita yang seumuran denganku itu.
Aku hanya tersenyum padanya. “Tak apa, Boa-ya.” ujarku padanya, Boa. “Lagi pula aku sedang tidak begitu sibuk.”.
“Mm.” Boa menyahut, kemudian mengalihkan pandangan.
Suasana hening.
“Sampai Luhan tidak ada, aku baru bertemu lagi denganmu di upacara pemakamannya. Joesonghæyo.” kataku pada Boa, memecah keheningan.
Boa tersenyum manis. “Gwænchanh seumnida.” ujar Boa, “Aku,”.
“Aku ingin berterimakasih padamu, Boa-ya...” selaku, “Aku ingin berterimakasih karena..., kau telah membimbing Luhan hingga ia..., hampir mencapai mimpinya...”.
Bisa ku tebak, Boa pasti melihat mataku berair. “Ia tanggung jawabku, Manager...,”.
’Ahyoung-ah’..” ku pinta ia memanggilku begitu.
“Oh, ya, maksudku..., Ahyoung-ah...” Boa membenarkan ucapannya.
Aku terdiam. “Sayang, aku malah membuatnya pergi sebelum mimpinya tercapai...” kataku, tanpa menatap Boa.
Dan Boa terus mendengarkan.
“Kalau saja aku tidak bersikap angkuh dan acuh padanya..., mungkin aku sudah melihatnya bersama teman-teman satu timnya audisi di Jepang...” kataku, “Mungkin ia akan...,”.
“Jangan kau sesali lagi, Ahyoung-ssi...” sela Boa, ia lupa memanggilku dengan panggilan non-formal.
Aku memandangnya.
“Semua ini terjadi karena kehendakNya, kau tak bisa berbuat apa-apa jika Ia telah menentukan takdir. Kau hanya bisa menerimanya dan meneruskan hidupmu.” lanjut Boa, “Aku tau bagaimana perasaanmu begitu Luhan pergi, karena aku menganggap Luhan dan teman-temannya di sanggarku seperti adikku sendiri, seperti keluarga kandungku.”.
Aku tersenyum untuk menahan isakkanku. “Haruskah aku menangis?” ku tanya begitu pada Boa, dengan lirihnya.
Boa tak mampu berkata apa-apa. Ia menghampiriku dan memelukku, ia berusaha agar aku menahan isakku. Boa sendiri juga sudah berusaha menahan harunya, ia tak ingin aku menangis lagi karena mengingat Luhan.
***
Aku pulang malam seperti biasanya.
Setelah makan malam bersama Aboji, aku bergerak kembali ke kamarku. Kembali aku berkutat dengan berkas-berkas kantorku yang tumpukkannya semakin menipis —aku lebih rajin sekarang.
Ketika berhadapan dengan laptopku, aku tergesa.
“Ke mana dokumen itu?” tanyaku sendiri, kebingungan mencari letak dokumen penting yang ku cari tak ada di dalam ingatan laptopku.
“Ah, sepertinya ku simpan di CD!” ingatku kemudian.
Aku bangkit dari kursiku. Lalu ku hampiri lemariku. Ketika aku membuka kedua pintunya, aku tertegun melihat jumlah CD yang tersimpan di rak yang ada di dalam lemariku.
“Kok, ada banyak, sih?” gumamku heran, “Bukannya waktu itu cuma ada tiga CD, ya?”.
Ku lepas rak CD itu dari lemariku dan ku ambil semua CD-nya dari tiap sela rak. Ku sisihkan CD yang ku kenali —milikku— dan benar jumlahnya ada tiga.
Lantas siapa pemilik CD sebanyak ini?
Rasa penasaran yang sudah terlanjur merambati pikiranku membuatku lantas menyelidiki pemilik CD-CD itu. Semua CD itu ku tumpuk di atas meja kerjaku —jumlahnya sekitar tujuh sampai dua belas keping.
Ku jajal satu persatu CD ke laptopku dan melihat isinya. Siapa tau aku bisa mengetahui siapa pemilik semua CD ini.
CD pertama hingga CD kelima isinya kosong. CD keenam, CD yang selanjutnya.
Aku terheran. Ada satu video di dalamnya yang telah di edit audio-nya. Suara-suara yang muncul dalam video itu dihapus dan diganti dengan iringan musik.
Yang lebih herannya lagi adalah, objek yang direkam hanyalah aku?!
Aku ingat, ini penampilanku dulu sewaktu aku sedang belajar giat di kamarku untuk ujian kelulusan SMA. Tapi aku tidak tau siapa yang merekamnya?
Ketika video baru dimulai, terdapat tulisan,

“Yun Ah Young
18 years old
Shin High School
She’s study hard for her exam!!”

Video berdurasi lima menit itu menampilkan aku yang belajar dengan giat di meja belajarku dari hari ke hari. Tapi anehnya aku tidak tau siapa yang merekamku diam-diam saat itu!

“End
Nuna, hwaiting!”

Begitulah tulisan di akhir video.
’Nuna’?” gumamku. Aku mendapat satu petunjuk.
Ku jajal CD ketujuh. Hanya ada satu foto di dalamnya. Foto yang tidak jelas, mungkin ketika mengambil gambar kamera yang digunakan bergerak terlalu cepat sehingga fotonya tidak jelas.
CD yang kedelapan, kosong.
CD yang kesembilan, ada tulisan ‘Sejarah’ di atasnya. Ada satu dokumen Word, dua foto, dan satu video di dalamnya. Isi dokumen word itu sepertinya berupa tugas sekolah —mata pelajaran Sejarah, dua foto di dalamnya juga merupakan tugas sekolah —bendera dan peta Korea Selatan— dan satu video di dalamnya...
Video itu berisi suasana kelas yang sepi dan hanya terisi beberapa murid. Orang yang merekam video ini tengah duduk di kursinya dan teman-temannya ada yang duduk dan berdiri di sekitarnya, mereka cuma beberapa.
Aku tidak mengenali kelas ini? Kelas siapa ini?
“Ya! Ya!” seru suara yang memanggil dari video itu, orang yang merekam. Aku kenal suara ini!
“Apa yang kau lakukan?” tanya seorang siswa yang sedang duduk tepat di depannya itu.
Kemudian siswa yang merekam pun menjawab, “Merekam video! Lumayan untuk kenang-kenangan perpisahan, kan?”.
Luhan! Suara Luhan!
“Ayolah! Cepat kerjakan tugas kita!” seru seorang siswi yang duduk tak jauh dari Luhan.
“Baiklah.” ujar Luhan.
Namun bukannya ikut mengerjakan tugas, Luhan malah mengalihkan kameranya menoyorot dirinya sendiri.
大家好! 我是鹿晗! Ta jia hao! Wo shi Lu Han!” ujar Luhan pada kameranya sambil tersenyum manis —artinya hampir sama seperti ‘Annyônghaseyo! Lu Han imnida!’.
Aku terus memperhatikan. Luhan kemudian berkata dalam bahasa Mandarin yang setidaknya dapat ku artikan seperti ini,
“Saat ini, aku dan teman-teman sekelasku tengah mengerjakan tugas sekolah kami! Kelas sudah lama berakhir dan kami masih di sekolah untuk berdiskusi!” ujar Luhan, “Mungkin aku akan pulang larut malam!”.
“Luhan-ah!” seru seorang siswi, menegur Luhan untuk berhenti sibuk dengan kameranya dan ikut mengerjakan tugas.
Luhan kembali berbicara dalam bahasa Korea, “Ah, mian.” ujarnya, lalu kamera dimatikan.
Video bersambung lagi, menyorot Luhan dan teman-temannya yang sibuk mengerjakan tugas. Kamera di letakan di atas meja dan menyorot mereka semua. Luhan kelihatan sangat serius.
“Rupanya begini, ya, kalau kau sedang belajar di sekolah...” gumamku.
Aku mengerti bahasa Mandarin, meski memang tidak begitu bagus. Aku belajar banyak bahasa Mandarin dari Luhan. Ia akan mengajariku bahasa Mandarin dengan senang hati.
Video berlanjut —Luhan langsung memotongnya. Terlihat Luhan mengambil gambarnya sendiri di tengah malam setelah selesai mengerjakan tugasnya di sekolah. Ia masih memakai seragam sekolahnya dibalut dengan jaket tipis.
“Sudah tengah malam.” ujar Luhan pelan pada kameranya. “Alasanku memegang kamera dan mengambil gambar hari ini adalah karena kamera ini pemberian Nuna.”.
Kamera pemberianku?
Ah, baru ku ingat! Aku pernah memberinya hadiah karena ia memenangkan olimpiade matematika mewakili sekolahnya. Hadiah itu berupa kamera. Mengetahui Luhan mempunyai banyak bakat, termasuk bakat sebagai editor, aku memberikannya kamera agar ia bisa mengasah bakatnya dalam mengedit banyak video ataupun foto.
Selama semenit berlalu setelah menyorot dirinya sendiri, Luhan kini menyorot jalan menuju rumah. Begitu sunyi dan sepi, hanya lampu jalan yang kekuningan saja yang menerangi jejaknya.
“Sekian untuk hari ini!” Luhan menyorot dirinya lagi, “Dah!”.
Video berakhir.
CD kesepuluh, ada satu video dan foto-foto di dalamnya. Ada beberapa foto Luhan dan Sehun di dalamnya. Ah, aku tau kapan ini diambil. Ini foto sekitar setahun yang lalu, tepatnya ketika Sehun liburan saat ia masih duduk di kelas satu SMA.
Cukup banyak foto yang mereka ambil. Ada yang foto bersama-sama, ada juga yang masing-masing. Mereka sedang pergi jalan-jalan keluar di tengah musim gugur —lokasinya masih di dalam Seoul.
Kemudian ku buka video yang ada di dalamnya.
“Hari ini...”.
Ku lihat Luhan mengambil gambarnya sendiri, kameranya menyorot dirinya sendiri. Ini di lokasi yang tidak jauh berbeda seperti yang ada di foto-foto tadi. Video ini pasti diambil di waktu yang sama dan tempat yang hampir sama.
Di belakang Luhan terdapat pemandangan indah pepohonan dengan dedaunan merah, jingga, dan kuningnya. Sama seperti di foto-foto tadi.
Luhan kemudian terdiam. Dari wajahnya, Luhan pasti memikirkan sesuatu.
“Hari ini aku tidak sendirian —Sehun sedang pergi membeli sesuatu.” ujarnya kemudian. “Tapi alasanku merekam video ini adalah karena aku merindukan mereka.”.
Ia kemudian berkata dalam bahasa Mandarin, yang setidaknya bisa ku artikan seperti ini,
“Ayah, Ibu. Meski aku tidak tau kalian akan mendengarku atau tidak, melihatku atau tidak, tapi aku ingin kalian tau bahwa aku merindukan kalian..., lebih dari apapun...
Di sini, aku tinggal dengan baik bersama Kak Ahyoung dan ayahnya. Mereka sangat baik padaku, mereka seperti keluarga kandungku. Aku sangat nyaman tinggal bersama mereka...
Ayah, Ibu. Tersenyumlah di sana, aku akan tumbuh dewasa dan mandiri sebagai anak kalian. Aku akan membuat kalian bangga karena telah memiliki aku...”.
Aku rasa, mataku pasti sudah berair.
“Aku takkan mengecewakan kalian, aku akan membanggakan kalian. Aku janji.” lanjut Luhan.
Namun tak sengaja terdengar, “Luhan hyông, kaja!” suara Sehun mendekat.
Luhan menatap Sehun yang baru saja datang, dan video segera berakhir sepersekian detik kemudian. Ku rasa Luhan tak ingin Sehun tau apa yang sedang ia rasakan ketika merekam video itu. Singkatnya, video tadi adalah rahasianya.
Aku menghela nafas ketika ku eject CD kesepuluh itu. Kemudian ku jajal CD ke sebelas. Ada tiga video di dalamnya.
Video pertama, judulnya ‘01’. Rupanya video itu berisi Luhan yang sedang menari di kamarnya yang ada di apartemennya.
Aku terpukau menyaksikan gerakan Luhan yang begitu energik. Koreonya pas dengan lagu up beat yang dimainkan. Durasinya hanya tiga menit sebelas detik.
Video kedua berjudul ‘02’.  Rekaman di dalamnya berupa Luhan yang tengah latihan sendirian di studio tempatnya biasa belajar menari —sanggarnya Boa. Kali ini, lagunya berbeda masih dengan beat yang tidak terlalu berbeda.
Dari yang ku amati, ku rasa Luhan merekam video ini setelah jam pulang dan ketika studio sepi —direkam pada hari yang berbeda dari video yang sebelumnya. Terlihat jelas t-shirt dan rambut Luhan yang basah karena keringat, tapi Luhan terus saja menari. Rekaman ini berdurasi empat menit lima puluh empat detik.
Kemudian, video yang berjudul ‘03’ itulah yang membuat mataku kembali berair.
“Ayah, Ibu.” Luhan berujar lagi dalam bahasa Mandarin. Aku terbelalak melihat keadaan Luhan saat itu.
Aku ingat sekali dari keadaannya saat ini. Ini awal musim dingin kemarin. Luhan sakit dan ia cuma bisa berbaring di atas ranjangnya.
Wajah Luhan terlihat sangat pucat. Ia terduduk di atas ranjangnya dan bersandar pada head board-nya. Ia hanya memakai t-shirt putih polos.
“Aku rindu kalian, hanya itu yang ingin ku katakan.” lanjut Luhan. “Aku rindu kalian, sangat rindu kalian. Aku bahkan pernah berharap ingin ‘bertemu kalian lagi’, tapi tidak..., aku tidak boleh seperti ‘itu’, kan...? Aku harus melanjutkan hidupku tanpa kalian...
Ayah, Ibu. Walaupun aku sudah tumbuh sebesar ini, berpijak di bumi sejauh ini, menimba ilmu sebanyak ini, tapi rasa rindu pada kalian tak pernah bisa ku hilangkan, perasaan yang sama seperti seorang bocah...
Aku janji, aku akan menjaga kesehatanku lebih baik lagi. Aku sayang kalian.”.
Video berakhir.
Aku menghapus butiran air mata yang jatuh. Saat itu juga aku menyesal, mengingat hari itu aku tidak menjenguknya. Malah hanya Aboji yang menjenguknya dan aku sudah sibuk dengan pekerjaan kantorku.
Mianhæ. Mianhæ...” batinku.
CD keduabelas, yang terakhir. Hanya ada satu video di dalamnya, judulnya ‘Nuna-ui sængil’ (Hari ulangtahun Nuna).
Kali ini, butiran air mataku harus jatuh menyaksikan isi rekamannya.
“Hari ini adalah hari ulangtahun Ahyoung Nuna.” Luhan menyorot dirinya sendiri —di kamarku.
Hari di mana ia merekam video ini adalah tepat ketika hari ulangtahunku waktu itu. Tepat sebelum Luhan kecelakaan. Inilah salah satu hal yang membuatku menitikan air mata.
“Aku menghadiahkan ia ini, jjajjajjan....!”.
Luhan kemudian menyorot liontin di sebelah tangannya. Ya, liontin itu yang ia jadikan hadiah untukku waktu itu.
“Lihat di dalamnya, aku memasang fotoku dan foto Nuna sewaktu kami kecil!” lanjut Luhan.
Benar, rupanya memang Luhan yang memasangkannya.
“Aku akan mengerjai Nuna. Tau kenapa?” Luhan menyorot dirinya lagi, “Karena aku sedih, Nuna tidak seperti dulu lagi. Ku rasakan perubahan dalam perilakunya. Aku selalu mencoba mencuri perhatiannya, tapi Nuna tetap tak mau beralih padaku. Makanya, sekarang aku akan mengerjai Nuna! Ku harap ia suka!”.
Aku membekap mulutku. Bodohnya aku saat itu, aku malah membenci kejutannya itu! Ini semua benar-benar karena aku!! Bodoh!!
“Aku akan pergi ke seberang kantor Nuna dan mulai mengerjainya! Hihihi!” ujar Luhan kemudian. “Sampai sini dulu, nanti akan ku rekam lagi begitu Nuna sudah ku kerjai dan menerima hadiahku!”.
Rekaman lantas berakhir.
Aku menangis menyadari bahwa harapan Luhan membuatku menerima hadiahnya apalagi mengalihkan perhatianku padanya itu nihil! Aku malah membenci tindakannya dan malah mencelakakannya!
Kepalaku tertunduk, terpangku di atas dua lipatan tanganku. Aku menangis tersedu-sedu, tak mampu berkata apa-apa.
Luhan-ah, mianhæ... Mianhæ...!!”.
*****
Esoknya...
Aku cuti sehari dengan alasan pulang kampung. Ah, haruskah ku sebut seperti itu? Tapi memang kenyataanya seperti itu.
Aku pulang ke Busan, kampung Omoni, dengan mobilku. Rumah bertingkat itulah rumah kakek dan nenekku —ayah dan ibu dari Omoni dan ayahnya Sehun. Tapi karena kakek dan nenekku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, rumah ini hanya ditinggali keluarga kecil Oh.
“Ahyoung-ah!”.
Seru ibunya Sehun melihat kehadiranku ketika aku keluar dari mobilku.
Aku kemudian tersenyum.
***
Hari ini, ayahnya Sehun masih bekerja, Hyông-nya Sehun sedang di kampus, dan Sehun sendiri baru saja pulang sekolah. Ibunya sedang menyapu halaman barusan, makanya beliau lah orang yang pertama kali ku lihat begitu aku sampai di sini.
“Sehun masih belum mau bicara.” cerita beliau ketika kami sudah duduk berhadapan di ruang tamu.
Aku menghela nafas.
“Tapi ia makan dengan teratur, kan?” tanyaku.
Kali ini, beliau yang menghela nafas. “Meski pun ia tetap makan dan sekolah sewajarnya, tapi ia tidak pernah berbicara. Makan, ya, hanya makan. Sekolah, ya, hanya sekolah.” ujar beliau, “Aku begitu khawatir.”.
“Aku,” ujarku cepat, “boleh bertemu dengannya?”.
***
“Tok, tok, tok.”.
Beliau mengetuk pintu kamar putra bungsunya.
“Sehun-ah, ada yang ingin bertemu denganmu...!” ujar beliau kemudian.
Ibunya Sehun mengantarkanku ke kamar Sehun, ia juga yang mengetuk pintu kamarnya untukku. Ia hanya khawatir dengan keadaanku dan Sehun nanti ketika kami bertemu lagi.
Tak terdengar jawaban, beliau mengetuk pintu lagi dan berujar, “Sehun-ah?”.
“Biar aku coba.” selaku.
Aku ketuk pintu kamarnya.
세훈아 아영이에요. Sehun-ah, Ahyoung iyeyo. Sehun-ah, ini aku, Ahyoung.” ujarku kemudian.
Ketika ku putar pegangan pintu, Ibunya Sehun menahanku. “Ahyoung-ah.” ujarnya.
“Jangan khawatir.” kataku, menepis kekhawatiran yang beliau rasakan.
Pintunya tidak dikunci, pintu bisa dibuka. Aku menangkap pemandangan kamar Sehun yang tertata rapi dengan barang-barang yang minim —percayalah, kalau kamar ini ada banyak barang pasti jadi berantakan.
Setelah pintu ku buka lebih lebar, barulah ku temukan sosok Sehun yang tengah terduduk di kursi belajarnya. Posisinya membelakangi pintu masuk.
Aku kemudian beralih pada Ibunya, kemudian mengangguk. Aku meminta pada beliau untuk meninggalkan kami berdua di sini, dan beliau menuruti.
“Sehun-ah.” panggilku setelah pintu tertutup rapat.
Sehun tak bergeming.
“Jadi kau masih marah?” tanyaku.
Ku lihat Sehun masih fokus pada tugas sekolahnya yang sedang ia kerjakan. Tapi aku yakin, ia takkan peduli dengan perkataanku. Ia tetap akan mengacuhkanku.
Namun Sehun sontak menoleh ketika ia mendengar laptopnya menyala. Begitu ia menoleh, ia menemukanku duduk di atas ranjangnya tengah memangku laptopnya.
Aku memandang Sehun. Tak lama, ku keluarkan beberapa CD Luhan yang ku temukan semalam dan memutar semua video di dalamnya.
Ku letakan laptop itu di atas ranjang dan layarnya menghadap ke Sehun.

“Ya! Ya!”.
“Apa yang kau lakukan?”.

Sehun berjalan mendekat begitu ia melihat video itu. Satu per satu, ku tunjukan semua video itu pada Sehun. Ku lihat, matanya berair hingga video terakhir.

“Sampai sini dulu, nanti akan ku rekam lagi begitu Nuna sudah ku kerjai dan menerima hadiahku!”.

Sehun tertunduk begitu video berakhir. Ku lihat, ia menyeka air matanya.
Aku memandanginya. “Kau menangis? Untuk apa?” tanyaku.
Sontak Sehun memandangku. Benar, ia menangis. Ketika ku coba menyeka sisa air matanya, Sehun menepis tanganku.
Aku masih bersabar. “Kau masih marah padaku?” kataku.
Lantas aku berdiri. Dengan kasar, ku pegang wajahnya hingga ia menatapku.
“Kau pikir apa yang kau lakukan?!” marahku. “Bodoh! Dasar kekanakan!” makiku.
“Untuk apa Nuna berkata demikian...?” tanya Sehun sinis padaku.
“Karena aku ingin kau berpikir!” marahku, “Apa hasil yang kau dapat dengan berdiam diri seperti ini?! Bagi Luhan, ia akan merasa sedih melihatmu seperti ini!!”.
Sehun menatapku tajam.
“Mau kau terus berdiam diri, mau kau terus marah padaku, Luhan takkan kembali!!”.
“Nuna!!”.
“Plak.” aku menamparnya. Bukannya tanpa pikir panjang aku menampar adik sepupu yang paling ku sayangi ini. Bocah itu, Sehun, terdiam.
“Kau benar kekanakan...” ujarku pelan, Sehun tertunduk. “Jangan kau sakiti dirimu sendiri. Semua yang kau lakukan percuma. Semua itu takkan membuat hasil! Luhan tidak akan senang melihatmu seperti ini terus! Jangan kau buat Luhan seperti itu di sana! Kau...,”.
“Nuna, cukup.” pinta Sehun lirih. Ini kedua kalinya aku membuatnya menangis.
Aku memeluknya tiba-tiba. Sehun menangis di pundakku dan memelukku erat-erat. Ku harap ia sadar akan tindakannya. Di saat seperti ini, aku hanya mampu menitikan air mata. Aku tidak mau Sehun mendengar isakku.
Bocah itu menangis tersedu-sedu di pundakku.
“Aku hanya anak kecil yang tidak tau apa-apa!” katanya, “Makanya aku kekanakan! Aku membenci Nuna karena perlakuan Nuna yang membuat Luhan Hyông berakhir seperti ini! Aku juga belum merelakan Luhan Hyông pergi! Kalau aku bilang begini pada orang-orang, mereka akan menyuruhku untuk segera merelakan kepergian Luhan Hyông, makanya aku terus berdiam diri!”.
“Sudah, Sehun-ah.” ucapku, berusaha menghentikannya.
“Aku hanya sedih Luhan Hyông pergi, padahal aku sangat menyayanginya! Aku hanya marah pada Nuna karena tingkah Nuna yang berubah menyebalkan!” lanjut Sehun, “Aku memang kekanakan, Nuna! Aku memang kekanakan!”.
“Aku bilang sudah, Sehun-ah.” kataku, “Jangan kau berkata seperti itu, dan relakan kepergian Luhan. Kau masih hidup, maka jalanilah hidupmu. Janganlah kau terus bersedih karena Luhan! Buatlah ia tersenyum dengan hidup lebih baik mulai dari sekarang.”.
Sehun berbicara kemudian setelah sengguk tangisnya berlalu, “Aku..., aku...,”.
Ku usap pelan kepalanya. Sudah cukup aku membuatnya menangis.


Luhan-ah, jangan khawatir.” batinku, “Kami akan baik-baik saja, percayalah...”.


*END*

Oke, yeoreobun... Nate mau bilang sesuatu...
Dengan di-posting-nya Fanfiction ini, Nate menyatakan kalau Nate akan hiatus. Ada beberapa alasan kenapa Nate memilih hiatus untuk sementara waktu.
Pertama, ini yang paling penting, sekarang Nate sudah kelas dua SMK, dan di semester kedua nanti Nate akan disibukan dengan Praktek Kerja Lingkungan alias PKL.
Kedua, ini, sih, emang gak gitu berat, tapi Nate juga punya olshop yang harus Nate urus dengan sangat teliti ^^berhubung Nate orangnya teledor, bahkan hape sempet hilang... -_-^.
Ketiga, Nate sedang mencoba merampungkan semua naskah-naskah novel yang Nate bikin sejak dua tahun yang lalu hingga sekarang. Ya, novelis memang cita-cita Nate banget, meskipun kemarin Nate gak ikut menang di ‘’100 Days of Romance’ Penerbit Haru’s Writing Competition 2013’ tapi semangat Nate gak mereda untuk menulis novel.
Keempat, Nate sekarang sudah bergabung dengan B.G Entertaiment, management Nate untuk menyalurkan hobi dance cover Nate dan ini yang sangat Nate inginkan juga sejak pertama jadi Kpopers. Nate ngerasa senang banget diterima dan bahkan diberi kepercayaan sama keluarga di B.G ent. Nate suka dance seperti Nate suka nulis.


Foto di atas adalah segelintir keluarga B.G ent. Nate ada di situ, tuh.. Itu, lho, makhluk yang pakai kaos hitam yang ada tulisan SJ di dalam lingkaran birunya. Di sebelah kanan, ya!^

Oke, Nate harap, Reader-deul bisa mengerti keadaan Nate, ya!^ Oya, tanggal 10 November 2013 Nate dan grup dance cover Nate akan debut. Nama grup kami adalah fiXion, cover untuk f(x). Posisi Nate adalah sebagai f(Amber) ^^dan Nate senang banget bisa meng-cover Amber!!^.
Untuk perkembangan Nate dan keluarga B.G ent bakalan sering-sering Nate share di blog ini, bahkan B.G ent sendiri nanti bakalan Nate bikinin blog di Blogger juga. Di tunggu, ya!^

Oke, sampai di sini, ya! Jangan kangen-kangen sama Nate! #hueek


Yeoreobun, gamsa hamnida!! Yeolshimhi hagesseumnida!^^ #bow #bow #bow

감사합니다^^

감사합니다^^
Jangan lupa untuk berkunjung lagi!!^