No Apologizing
Author : RetnoNateRiver
Genre : Angst
Main Cast : - Yun Ah Young (OC) [Luhan’s Nuna]
-
EXO Luhan as Xi Lu Han
Other Cast : - EXO Sehun as Oh Se Hun
-
SNSD Hyoyeon as Kim Hyo Yeon
-
Super Junior Eunhyuk as Lee Hyuk Jae
-
BoA as Kwon Bo A
***
FYI, Nate belum siap member EXO di-pairing sama artis cewe Kpop yang lain ^^kecuali Kris (sama Yuri) dan Kai (sama Krystal)^, termasuk Luhan
sendiri.
Dan karena hal itu pulalah, Nate buat OC di sini, tapi hanya
sekadar kakak angkat aja. Nate emang hobinya bikin FF genre Angst, jadi tolong
maklumi, ya!! ^^iya~...^
Makin bagus kalau sambil dengerin lagu Super Junior – Storm 폭풍. Karena pas nulis FF ini, feel-nya
dapet banget kalau sambil dengerin lagu itu.
Oke,
kalo gitu enjoy~...
Semoga
FF ini menghibur kalian semua, ya!
***
“Aku adalah seorang penari...” itu yang selalu dia katakan.
Tapi karena aku lah ia harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Aku
menyesal. Tapi ia hanya tersenyum dan berkata.
“Aku tak apa. Kau adalah segalanya bagiku.”.
Aku mengutuk diriku sendiri begitu melihat ke pigura yang dikelilingi
berbagai rangkaian bunga itu. ini semua karena aku yang egois. Aku yang egois,
benar.
Ia pergi karenaku...
Dasar bodoh...
*****
“Yun Ah Young!”.
Tiba-tiba saja lelaki itu memelukku dari belakang. Aku tersentak.
“Kau?!” seruku.
Ia melepas pelukannya. Lantas aku terus saja berkutat dengan pekerjaan
kantorku. Ia memandangiku dan terdiam. Tapi kemudian ia tersenyum.
“Kau mau ku panggil Nuna?” tawarnya, “Baik, Nuna. Ku panggil kau
begitu.”.
Sembunyi-sembunyi, aku meliriknya.
“Nuna sudah makan belum? Jam segini harusnya Nuna makan siang..” ku
dengar ia beranjak ke sofa dan duduk di atasnya. Ku dengar kemudian, ia membuka
risleting tas backpack-nya.
Namanya Xi Lu Han. Ia lebih muda empat tahun dariku, makanya ia
memanggilku Nuna. Ia yatim piatu, orangtuanya yang jauh di China adalah teman
dekat ayah dan almarhumah ibuku.
Ayahku tau betul kalau aku kesepian sebagai anak tunggal —apalagi ibuku
meninggal ketika aku duduk di taman kanak-kanak— makanya ketika orangtua Luhan
meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan, ayahku mengadopsinya
dan ialah adik angkatku sekarang.
Kini usia Luhan dua puluh satu tahun, kalian bisa hitung berapa umurnya
ketika Luhan kehilangan orangtuanya.
Luhan begitu perhatian padaku. ia adikku yang manis, tapi juga nakal. Ia
suka bermanja padaku. Ya, itulah dia. Tapi akhir-akhir ini, aku sering
mengacuhkannya. Aku sibuk, pastinya.
Semenjak aku mendapatkan pekerjaan di perusahaan ayahku, aku sering
mengacuhkan Luhan. Tapi ia tetap saja begitu perhatian padaku.
Oya, Luhan adalah seorang penari —ia penginnya dianggap begitu. Meski ia
pandai dalam pelajaran akademis, sepak bola, dan bernyanyi, ia hanya ingin
dianggap sebagai penari —ia juga sangat pandai menari.
“Nuna, aku punya coklat kalau kau mau.” Luhan melambai-lambaikan coklat
itu ke arahku, namun aku tak bergeming. “Oh, kalau Nuna sedang diet, aku bisa
belikan sesuatu buatmu. Mau apa?”.
“Tidak usah.” ujarku datar.
“Kau tidak lapar?”.
Aku tak bergeming.
“Mau jajangmyeon? Sekalian ku belikan buat Sehun juga.”.
Tetap aku tak bergeming. Aku benar-benar tidak memperdulikannya. Tapi Luhan
tidak menyerah —itulah karakternya sejak kecil.
“Oke, jajangmyeon tiga, ya —kau, Sehun, dan aku.” susul Luhan kemudian.
Aku tetap tak bergeming sampai-sampai aku tak mendengar suara pintu
terbuka dan tertutup. Yang ku tahu, ketika sepersekian detik ku dengar kalimat
di atas dan berbalik, aku tak menemukan Luhan di ruang kerjaku.
Oya, soal namja bernama Sehun, ia sepupuku. Namanya Oh Se Hun, ia anak
dari adik ibuku. Sehun jauh lebih muda dariku, ia delapan tahun lebih muda.
Luhan berteman dekat dengan Sehun, bahkan bisa dibilang Luhan adalah
hyung kedua Sehun setelah hyung kandungnya.
Sehun jarang main ke rumahku di Seoul dan kami hanya saling kirim surat
atau komunikasi lewat telepon dan internet. Sehun biasa berkunjung ke rumahku
ketika libur sekolah tiba, seperti hari ini misalnya.
ia dan Luhan sama-sama berbakat dalam menari, itulah yang membuat
persahabatan mereka semakin erat. Mereka senang sekali menghabiskan waktu
bersama dan kemudian battle dance.
Setelah memandangi pintu yang tertutup rapat, aku menggeleng. Lantas aku
kembali berkutat pada pekerjaanku.
***
Malam pun turun, aku baru saja keluar dari ruang kerjaku. Aku beranjak
menuju dapur dan mengambil segelas air mineral.
Pekerjaan kantor kali ini begitu menumpuk, aku di tengah-tengah sibuknya
perusahaan. Tapi aku suka, memang sejak kecil aku ingin meneruskan perusahaan
ayahku. Aku selalu berambisi agar bisa melebihi ayahku.
Ketika memandang ke meja makan, aku terheran.
Ada dua bungkus jajangmyeon yang masih utuh tak tersentuh di atasnya. Pandanganku
beralih pada tong sampah di dekat lemari es. Ada satu bungkusan bekas
jajangmyeon di dalamnya.
“Apa mungkin Sehun sudah pulang?” gumamku, menduga kalau bekas bungkusan
jajangmyeon itu milik Sehun sebelumnya.
Lalu apa mungkin dua bungkus jajangmyeon di atas meja ini milikku
dan..., Luhan? Astaga, tanpa sadar ku biarkan anak itu menunda jam makan
karenaku!
Aku lantas memandang ke lantas atas, mengira-ngira apakah ada Luhan di
sana. Lantas aku melangkah menuju tangga dan menaikinya.
Luhan memang tidak tinggal bersamaku dan ayahku sekarang, ia memilih tinggal
sendiri di apartemennya. Tapi aku tau apa yang akan ia lakukan kalau ia sudah
ada di rumah.
Di lantai atas memang ada ruangan yang luas, studio dengan cermin lebih
tepatnya. Diam-diam, karena mengetahui bakat Luhan, ayahku membuatkan ruangan
ini untuknya. Luhan senang menghabiskan waktunya di situ —hanya untuk menari
pastinya.
Aku sampai di daun pintu studio itu. Daru di sini saja, bisa ku dengar
dentuman musik dari dalam. Benar, Luhan ada di dalam.
Perlahan ku buka pintu, ku temukan bayang-bayang yang bergerak aktif ke
sana dan ke mari. Aku menemukan sosok Luhan yang terus fokus memandang ke
cermin, memandangi bayangannya dan terus menari.
Ku lihat peluh keringatnya mengucur hingga membasahi seluruh t-shirt-nya. Bisa ku duga, ia sudah
menari di sini sejak beberapa jam yang lalu —tepat tak lama setelah Sehun
pulang.
Luhan masih terus asyik menari hingga ia tersentak memandang ke pintu
masuk. Ya, karena aku berdiri di situ, memandanginya serius penuh dengan emosi.
“Nuna.” gumamnya datar.
Aku terus memandanginya. “Kau tidak lapar? Apa kau pikir kau bisa
bertahan tanpa makan?” ujarku geger.
Luhan hanya tersenyum nakal, “Hehehe. Nuna.” ia berjalan ke arahku.
Namun aku tersentak ketika ia hampir terjatuh. Aku menopangnya segera. Anak
ini benar-benar... “Luhan-ah.” seruku.
Cengiran nakalnya tak terlihat. Kini hanya wajahnya yang pucat yang ku
lihat. Luhan berusaha memfokuskan pandangannya lalu berkata, “괜찮아
누나야. 걱정하지마. Gwænchanhta, Nuna-ya. Kôkjonghajima.
Gak apa, kok, Kak. Jangan khawatir.” katanya.
Dasar bodoh. Kau bilang seperti itu pun aku tetap khawatir!
***
“Nuna.”.
Aku melirik Luhan. Leganya, sekarang ia kelihatan baikan. Ia menyantap
jajangmyeon-nya perlahan bersamaku, tapi setidaknya ia membaik.
“Ng?” sahutku —hanya itu yang bisa ku katakan ketika jajangmyeon ini memenuhi
mulutku.
“Gomawo.” lanjut Luhan.
Ya, baiklah. Tapi aku juga merasa bersalah karena telah membiarkanmu
seperti ini.
“Lain kali, jangan kau ulangi. aratji?” kataku.
“Ng, ng.” Luhan mengangguk-angguk kecil, lucu sekali.
Ku usap-usap kepalanya. Ku suruh ia untuk makan lagi, dan ia
menurutinya. Hal ini tidak boleh terjadi lagi, tidak boleh.
*****
“Nuna, aku boleh ikut kompetisi dance ke Jepang, ya?”. pagi ini, tepat
ketika aku hendak berangkat ke kantor, Luhan meminta izin padaku.
Lelaki ini sengaja menginap dari semalam. Kesepian dalihnya. Ia juga
ingin berada di dekatku dan ayahku lebih lama.
Tak ada respon dariku, Aboji pun menyahut, “Ahyoung-ah,” kata beliau,
“jawablah permintaan adikmu ini.”.
Aku berhenti berbenah, lalu menatap Luhan. “Ya.” jawabku tak peduli,
kemudian menyiapkan tas kantorku lagi.
“Aboji. boleh, kan?” kali ini Luhan meminta izin pada Aboji.
Aboji hanya tersenyum. “Bukankah ini mimpimu sejak kecil? Kalau ini
terbaik untukmu, ku izinkan.” ujar beliau, “Tapi kau harus menjaga dirimu
baik-baik di Jepang —Jepang itu jauh, lho.”.
Luhan hanya tersenyum. “Dekat, kok! Korea dengan China saja dekat!”
candanya. Aboji dibuat tertawa olehnya, tapi aku terus saja tidak peduli.
“Nuna, apa kau ada tugas ke Jepang?” tanya Luhan.
“Tidak.” jawabku, masih tidak peduli.
“Kau tidak ingin melihat audisiku di sana?”.
“Aku sibuk.”.
“Mungkin aku bisa membiarkanmu ke Jepang, Ahyoung-ah.” kali ini Aboji
yang berujar.
“Tidak usah.” kataku dengan nada yang sama.
Luhan berujar lagi. “Apa benar kau tidak ingin me...,”.
“Aku bilang tidak!” gertakku pada akhirnya.
Tak sengaja, ku buat Luhan tersentak. Aboji terkejut dalam diamnya
melihat tindakanku. Beliau tidak pernah melihatku memperlakukan Luhan seperti
ini. Luhan membungkam, sementara rasa bersalah yang ku rasakan segera ku
pendam.
Aku tak bisa bertahan di tengah keheningan yang memaksaku makin merasa
bersalah ini. Segera ku jinjing tasku dan meninggalkan mereka berdua.
Aboji mengusap pundak Luhan, tapi Luhan hanya tersenyum seakan ia
berkata “gak apa, kok...”.
***
Sebelum rapat dimulai, ku periksa ponselku. Banyak sekali pesan singkat
yang masuk, dan semuanya berasal dari orang yang sama : Boa.
“Ahyoung-ssi,
terima
kasih karena kau telah mengizinkan Luhan untuk ikut kompetisi ke Jepang.”
sender
: Kwon Bo A
“Ahyoung-ssi,
kau
bisa percayakan Luhan padaku.
Aku
akan menjaganya dan teman-temannya dengan baik di jepang.”
sender
: Kwon Bo A
“Ahyoung-ssi,
perlu
kau ketahui.
Kompetisi
dance ini adalah mimpi Luhan sejak kecil.
Sekali
lagi aku berterimakasih karena kau telah mengizinkannya pergi, aku tau pasti
sangat sulit bagimu melepasnya pergi ke tempat jauh seperti jepang.
Gamsa
hamnida.”
sender
: Kwon Bo A
“Ahyoung-ssi,
kompetisi
akan dimulai beberapa minggu lagi.
Tim
kami, termasuk Luhan di dalamnya, akan berlatih di Korea sebelum kami terbang
ke Jepang untuk audisi dan tampil dalam kompetisi.
Aku
akan melatih mereka sebaik mungkin.”
sender
: Kwon Bo A
“Ahyoung-ssi,
meski
terlambat berkata ini tapi yang penting kau tau.
Tim
kami sudah berlatih sejak lama untuk kompetisi ini, tapi Luhan baru meminta
izin padamu dan ayahmu tadi pagi.
Aku
harap kau tidak terkejut dan tetap membiarkan Luhan mengejar mimpinya. Selama
ia hadir sebagai muridku, ialah tanggung jawabku.”
sender
: Kwon Bo A
Masih banyak lagi pesan yang belum ku baca ketika rapatku pun akhirnya
dimulai. Ponsel ku nonaktifkan, dan aku harus bersiap untuk kelanjutan perusahaan
ini.
Kwon Bo A, ia adalah pelatih di sanggar tempat Luhan biasa latihan
menari bersama teman-temannya. Meski seumuran denganku, Boa begitu berbakat dan
ambisius.
Boa adalah sosok yang sangat baik dan lembut, ia juga lucu dan bisa
berteman dengan siapa saja. Ia membimbing Luhan dan teman-temannya dengan
sangat baik.
Kami biasa bertemu di tempat biasa mereka latihan menari, kami biasanya mengobrol
banyak. Boa biasa menceritakan segalanya soal Luhan selama dilatihnya padaku. Tapi
karena kesibukkanku, kami tidak bisa bertemu lagi seperti biasa.
*****
Sore ini, aku hanya mampu terdiam di kursiku.
Aku merasa nyeri yang luar biasa di lambungku. Pasti maagku kambuh. Akhir-akhir
ini, makanku kurang teratur, aku sadar.
Aku tidak mampu meraih tombol telepon di meja kantorku hanya untuk
meminta tolong, Rasa nyeri ini membungkamku. Tapi mau tidak mau aku tetap
memaksa tanganku meraihnya.
Namun, tanpa disangka, telepon itu berdering sebelum sempat ku sentuh. Lantas
ku tekan salah satu tombolnya, dan lantas terdengar suara.
“Manajer Yun, Luhan ingin bertemu dengan anda.” ujar suara wanita lembut
di baliknya, “Ia...,”.
Di jeda suaranya, ku dengar wanita itu tengah berbicara dengan seorang
lelaki. Bisa ku tebak, pasti suara itu milik Luhan.
“Suruh ia masuk.” ujarku menahan sakit.
Tak perlu semenit, pintu ruanganku lantas terbuka. Seseorang masuk ke
ruangan kerjaku.
Sambil menahan nyeri, ku lirik siapa yang datang. Lelaki berwajah manis,
dengan jaket dan kupluknya, juga headphone Beats yang
dikalungkan, celana pendek di bawah lutut, dan tas backpack. Ialah Luhan.
“Nuna!”
serunya melihatku miris seperti ini.
Sebelum
sempat aku ambruk, Luhan mendekatiku dan menopang tubuhku. Tidak, aku tetap
harus sadar! Aku harus sadar!
***
Luhan
terlalu sayang, baik, dan perhatian padaku.
“먹어. Môgô. Makanlah.” suruhnya.
Meski
aku tidak memperdulikannya dan mengacuhkannya, bahkan membentaknya tempo hari,
ia masih saja sayang padaku.
“그래. 먹어. Geuræ. Môgô. Ya. Makan.” Luhan terus
memerhatikanku.
Aku
terus melahap makanan yang Luhan bawakan
untukku. Ia tau kalau aku pasti belum makan dan cepat atau lambat maagku
akan kambuh. Ia begitu sayang padaku.
“Lain
kali, Nuna tidak boleh seperti ini.” ingat Luhan, “Aku tidak mau melihatmu
seperti ini lagi.”.
Aku
tak bergeming. Bodohnya, aku tidak berkata terima kasih padanya yang sudah
menolongku. Aku malah terus tak acuh.
*****
“Ahyoung
onnie.
Bagaimana
kabarmu? Lama tak melihatmu di sanggar.”
sender : Kim
Hyo Yeon
“Onnie.
Perkembangan Luhan
begitu pesat. Ia begitu semangat.
Tapi kenapa
akhir-akhir ini, aku tidak pernah melihat ia pergi bersamamu?”
sender : Kim
Hyo Yeon
“Onnie.
Apa
hubunganmu dengan Luhan baik-baik saja?”
sender : Kim
Hyo Yeon
Baru
ku sadari Hyoyeon mengirimiku banyak pesan singkat sejak kemarin, dan baru ku
baca hari ini. Aku mendesah.
Aku
menyadari kenapa Hyoyeon, anggota tim yang sama dengan Luhan, mengkhawatirkan
hubunganku dengan Luhan. Memang akhir-akhir ini aku tidak dekat dengannya,
begitu jauh berbeda dari yang biasanya.
Aku
sibuk dengan pekerjaan baruku, pekerjaan yang paling ku impikan seumur hidupku,
pekerjaan yang merupakan janjiku pada ibuku.
Kembali
ku letakkan ponselku di atas meja kantorku, kemudian ku lanjutkan tugasku hari
ini di kantor. Tapi baru saja ku menjejal jemariku di atas keyBoard-ku, pintu
ruanganku terbuka dengan kasar.
Aku
menoleh ke arah pintu tanpa rasa terkejut, mendapati sosok seorang lelaki yang
ku kenal hadir di ruanganku.
“Kau!”
seru lelaki berambut kecoklatan, memakai t-shirt dan hoodie, juga celana
panjang itu. Ialah Lee Hyuk Jae, pelatih di sanggar Boa —sekaligus kekasihnya Hyoyeon.
“Apa?”
tanyaku remeh.
Hyukjae
mendekat, seorang sekertaris kantor hanya bisa memandang ke dalam ruanganku
takut-takut —aku tidak tau bagaimana Hyukjae mengancamnya hingga ia seperti
itu.
“Kau!”
lanjut Hyukjae, “Kenapa kau tidak membalas pesannya Hyo?!” sodornya —Hyo itu panggilan
kesayangannya untuk Hyoyeon.
Aku
mengernyitkan dahi. “Aku sibuk.” ujarku datar.
“Oh?!”
Hyukjae menyeringai, “Sekarang aku mengerti kenapa kau seperti itu pada Luhan...”.
Mendengar
itu, aku berdiri, “Apa kau bilang?!” seruku.
“Dengar,
ya!” Hyukjae melangkah lagi, “Kau pikir aku tidak bisa merasakan bagaimana
hubungan kalian?! Kenapa kau begitu acuh pada Luhan?! Dia, kan, adikmu!”.
“Ini
urusan pribadiku! Kau tak berhak berkata seperti itu!”.
“Kau
pikir aku tak bisa membaca tatapan bocah itu?! Ha?!” lanjut Hyukjae, “Meski ia
tidak pernah bahkan enggan bercerita, tapi aku bisa membaca perasaannya dari
tatapannya! Kau tak pernah menaruh perhatian padanya lagi! Nuna macam apa
kau?!”.
Aku
geram. “Keluar dari ruanganku!!” seruku pada akhirnya.
Hyukjae
terdiam. “Oke.” ujarnya dingin, “Kalau itu yang kau inginkan, baiklah. Aku
keluar!!”.
Lelaki
yang seumuran denganku itu lantas melangkah keluar dari ruanganku. Ku rasakan
derap langkahnya yang berat semakin menjauh.
Aku
terduduk di atas kursiku. Semua pikiran terasa menekanku sekarang.
***
Penat
dan lelah serasa menyerangku, memaksaku segera melangkah pulang ke rumah
—apalagi bentakan Hyukjae itu masih terngiang di kepalaku. Meski hari ini aku
bisa pulang lebih awal, tapi semua rasa itu tetap saja menyerangku seperti
hari-hari sebelumnya.
Begitu
aku berjalan menuju ruang keluarga, ku dengar ada suara dua orang di sana. Suaranya
tidak asing bagiku.
Benar
saja, dua orang itu adalah Sehun dan Luhan. Mereka tengah asyik main game di laptop masing-masing. Tapi pandangan
mereka beralih padaku begitu aku datang.
“Nuna!”
seru Luhan senang.
“Ahyoung
Nuna baru pulang ternyata.” sahut Sehun. Ia sudah kebiasaan memanggilku Nuna
—tidak dengan sebutan kakak sepupu.
Aku
hanya terdiam.
“Nuna,
ayo main bersama kami!” ajak Sehun kemudian.
Tapi
aku malah beranjak pergi. “Aku lelah, aku mau istirahat.” ujarku begitu saja.
Sejenak
kedua bocah itu terdiam begitu ku tinggalkan. Sehun terheran dengan tingkahku
barusan. “Kenapa Ahyoung Nuna seperti itu?” gumamnya.
Luhan
kemudian tersenyum dan merangkulnya. “Nuna pasti lelah. Lagipula, kita masih
bisa main berdua, ya, kan?” hiburnya.
“Kau
benar, Hyông!” sahut Sehun senang.
Kedua
bocah itu lantas melanjutkan permainan.
***
“Tok,
tok, tok.”.
Seseorang
mengetuk pintu kamarku begitu aku bersiap untuk tidur.
“Masuk.”
suruhku, lantas aku duduk di tepi ranjangku.
Aku
mendapati Aboji menyelinap masuk ke kamarku —seperti yang biasa ia lakukan
sewaktu aku kecil. “Ah, rupanya kau hendak tidur.” ujarnya.
“Katakan
saja.” ujarku, mengerti maksud kedatangannya.
Aboji
terdiam, namun ia tersenyum kemudian. Tak lama, ia menghampiriku setelah
menutup pintu kamarku. Lantas ia duduk di sampingku.
“Luhan
sudah pulang?” tanya Aboji.
Aku
memandang asal. “Mana ku tau.” jawabku.
Aboji
memandangku heran, terkejut tepatnya. “Apa kau menyadari sesuatu, Ahyoung-ah?”
tanyanya kemudian, memalingkan pandangannya dariku.
Aku
memandang beliau. Aku tak tahu, makanya aku heran.
“Waktu
yang tepat untuk memberikan kasih sayang itu adalah sekarang, sebelum orang
yang kau sayangi pergi dan tak pernah kembali lagi.” lanjut Aboji.
Aku
mengernyitkan dahi heran. “Apa maksudnya?” tanyaku.
Aboji
menatapku lembut. “Tanpa sadar, kau melupakan kata-kata itu.” katanya kemudian.
Kali
ini aku mengernyitkan dahi karena merasa tak bersalah. “Aku? Melupakan
kata-kata itu?” ujarku.
Kemudian
Aboji memalingkan pandangan dariku, lalu menghela nafas. “Aku tidak tau apakah
ini salahku atau bukan. Yang penting kau berubah semenjak kau mendapat jabatan
ini.”.
Aku
terdiam, kemudian berpikir. Berubah? Ya, benar. Sifatku memang berubah, lantas
apa hubungannya dengan kata-kata yang tanpa sadar aku lupakan itu?
“Aboji,
katakanlah dengan jelas.” pintaku.
Aboji
hanya memandangiku. “Indahkan kata-kata tadi, dan jangan sampai menyesal.”
katanya, aku tetap tak mengerti.
Kemudian
beliau beranjak dari ranjangku menuju pintu kamarku. Aku hanya dapat
memandanginya dari tempatku duduk.
Sebelum
meninggalkan kamarku, Aboji berkata, “Tidurlah.”.
Pintu
segera ditutupnya, dan aku tak menemukan sosok lelaki tangguh itu di kamarku. Dan
aku masih terdiam dalam heran.
*****
Pagi
ini, aku tengah bersiap-siap ke kantor seperti pagi biasanya. Aku masih di
kamar, masih berkutat dengan tas kantor dan berkas-berkasku. Tapi kemudian aku
menoleh ke pintu kamarku ketika mendengarnya berderit.
Aku
menemukan sosok Luhan melongok ke dalam kamarku.
“Ah,
Nuna!” serunya.
Aku
terheran. “Kenapa kau ke sini?” tanyaku.
Luhan
lantas masuk
Aku
mengernyitkan dahi mendengarnya. “Pagi-pagi ke sini, kau hanya menanyakan CD kosong?”
ujarku.
Luhan
memandangku heran, terlihat ia merasa bersalah. “W, wæ...?” tanyanya, menanyakan apa salahnya, “Ku, ku pikir..., beberapa CD kosongku
ada di kamar Nuna —seingatku, pernah ku tinggalkan di sini...”.
Aku
memandangnya. “Benda-benda punyamu tidak ada di sini —ini kamarku! Kenapa kau
bertanya hal semacam itu padaku?!” gertakku.
Luhan
tersentak —lagi. Tapi ia tetap berusaha tersenyum. “Rupanya..., tidak ada,
ya...” umpatnya. Ia lantas menatapku sejenak, kemudian berkata, “Aku pergi, ya.”.
Lantas,
Luhan meninggalkan kamarku tanpa bicara lagi. Ah, ku rasa aku sudah terlalu
keras padanya. Namun ketika pintu kamarku tertutup, Sehun memasuki kamarku.
“Ahyoung
Nuna!” serunya.
Aku
memandangnya heran. Rupanya Luhan ke sini bersama Sehun.
“Kenapa
Ahyoung Nuna seperti itu pada Luhan hyông?!” omel Sehun
padaku. Mungkin ia mendengar percakapanku dengan Luhan dari luar barusan.
Aku
merasa tidak terima, “Kau bicara apa, sih?!” balasku.
“Dulu,
Ahyoung Nuna sangat perhatian pada Luhan hyông. Nuna
sangat memperhatikannya dan sayang padanya. Namun sekarang, setelah Ahyoung Nuna
mendapatkan pekerjaan yang paling Nuna inginkan, Ahyoung Nuna tidak pernah
memperhatikan Luhan hyông lagi! Nuna tidak pernah peduli padanya
lagi!.
Jangankan
pada Luhan hyông, padaku pun sekarang Nuna juga berbeda! Ahyoung Nuna yang sekarang
berbeda!! Ahyoung Nuna juga tidak peduli padaku!!” omel Sehun, “Kenapa Nuna
bersikap seperti itu?!!”.
“Oh
Se Hun!! Kenapa kau berkata seperti itu?!”.
“Karena
aku merasakannya!!” seru Sehun.
Aku
terdiam.
“Aku
tidak suka melihat Nuna seperti ini terus! Ahyoung Nuna sudah cukup banyak
berubah!!” lanjutnya.
“Cukup!
Keluar dari kamarku!” gertakku pada akhirnya.
“Nuna!”.
“Keluar!!”.
Sehun
terdiam. ku lihat matanya mulai berair. Aku tidak pernah bersikap kasar pada Sehun
sebelumnya, apalagi membuatnya menangis. Tapi kali ini, aku terpaksa
menggertaknya karena ia sudah keterlaluan menurutku.
Bocah
itu keluar dari kamarku. Ia tidak sedih, tapi ia marah, terdengar jelas dari
derap langkahnya yang berat ketika ia meninggalkan kamarku.
Ya,
lebih baik ia begitu.
Tapi
aku tersentak ketika melihat sosok Aboji di depan pintu kamarku. Ia memandangku
nanar, penuh ketidakpercayaan atas tindakanku pada kedua adikku ini —Luhan dan Sehun.
Ia menggeleng padaku, dan melangkah pergi dengan perlahan.
Lagi-lagi,
aku hanya bisa terdiam.
***
Aku
punya sedikit waktu untuk mengunjungi toko roti dekat kantor. Cuma sekitar satu
jam. Aku hanya ingin membeli beberapa roti, dan segelas kopi atau susu.
Aku
membawa nampan untuk memilih roti yang ingin ku beli, namun ketika aku tengah
memilih beberapa roti seseorang memanggilku.
“Ahyoung
Onnie?”.
Aku
menoleh, dan menemukan sosok wanita cantik berambut panjang blonde berdiri di dekatku. Itu Hyoyeon.
“Hyoyeon-ah.”
ujarku.
Kemudian
Hyoyeon tersenyum manis. “Onnie, senang melihatmu!”.
Ku
lihat penampilannya hari ini. Ia tampil rapi dengan t-shirt dan celana jins pendek, kemudian tas jinjing dan beberapa
buku dalam dekapannya, rambutnya tertata rapi. Sudah pasti, gadis ini dalam perjalanan
menuju kampusnya.
Aku
tak bergeming.
“Rupanya
onnie selama ini sedang sibuk, ya.” sahut Hyoyeon setelah memperhatikan
penampilanku pagi ini. Lagi-lagi ia berkata dengan senyuman.
“Pekerjaan
baru di perusahaan ayahku.” dalihku.
“Ah...”
Hyoyeon mengerti.
Aku
sibuk memilih roti lagi, Hyoyeon pun juga sama. Tapi ia tidak membiarkan
keheningan menemani kami berdua.
“Bagaimana
kabar Luhan?” tanyanya.
Aku
tersentak. Untuk apa ia menanyakan Luhan padaku? Bukankah ia sudah sering
bertemu Luhan setiap latihan? Apalagi, mereka latihan tiap hari untuk kompetisi
ke jepang nanti.
“Mungkin
ia sudah di kampus.” jawabku enteng.
“Kau...,”
Hyoyeon terdengar ragu, “masih sayang sama Luhan, kan?” tanyanya pada akhirnya.
ku
berbalik ke arahnya, memandangnya heran. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
bukannya menjawab, aku malah bertanya balik.
“아니오. Anio. Enggak.” Hyoyeon berusaha tersenyum, “Aku
hanya merasakan hal yang berbeda dengan kalian berdua..., akhir-akhir ini...”
tapi keraguan jelas tampak di wajah cantiknya.
Kim
Hyo Yeon, ia adalah salah satu teman dekat Luhan. Sementara kekasihnya Hyoyeon,
Hyukjae, adalah sahabat baikku. Karena begitu dekat dengan kami, Hyoyeon dan Hyukjae
sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.
Makanya
Hyoyeon dan Hyukjae dapat merasakan perubahan ini.
“Meski
Luhan tetap perhatian, bertingkah manis dan ceria di hadapanmu, aku tau ia
merasa sedih atas perubahan sikapmu, Onnie.” lanjut Hyoyeon.
Kali
ini aku menatapnya tajam. “Kenapa semua orang mengeluhkan perubahanku?!” ujarku,
“Dan kenapa perubahan ini selalu dikaitkan pada Luhan?! Ini masalah pribadiku! Aku
sibuk! Tapi kenapa kalian menggangguku dengan membicarakan hal yang sama?!”.
Ku
lihat Hyoyeon sama sekali tidak tersentak, ia tetap tenang. “Ya, mungkin onnie
memang sedang sibuk.” katanya pelan, “Tapi Luhan tetap adikmu —meski bukan adik
kandungmu.”.
Kali
ini aku terperanjat. Kalimat terakhir terasa menusukku.
Hyoyeon
kemudian membungkuk tanda pamit. Lantas ia berjalan menjauhiku ke kasir dengan
sepotong roti kecil di tangannya. Dan kemudian ia pergi meninggalkan toko roti.
Aku hanya terdiam.
*****
Pagi ini, aku tidak punya banyak waktu.
Rapat penting, terpenting dari yang penting, aku
tak boleh sampai melewatkan rapat ini. Aku harus berkonsentrasi untuk rapat
kali ini.
“Manager Yun, senang bertemu Anda lagi.” ungkap
salah satu peserta rapat yang berasal dari perusahaan lain.
Aku tersenyum dan membungkuk kecil. “Senang bertemu
Anda juga.” balasku.
“Wah, kali ini, saya ingin sekali melihat kemampuan
Manager Yun dalam mengelola perusahaan ini lewat rapat ini!” seru peserta rapat
lain yang ada di belakangnya.
“Saya akan berusaha.” kataku.
Aku dan para peserta rapat lainnya memasuki ruangan
yang telah disediakan. Rapat ini akan segera dimulai. Aku harus fokus.
Tapi aku mendesah kesal ketika ponselku bergetar. Aku
meliriknya diam-diam. Rupanya panggilan dari Luhan. Aku sempat berpikir
berulang kali antara menjawabnya atau tidak.
Aku pun memilih untuk menjawabnya.
“여보세요? Yôboseyo? Halo?” bisikku ketika panggilan ku jawab.
“Yun Ah Young!!”
ku dengar seruan Luhan.
Aku terperanjat. “Luhan-ah?! Gwænchanha?!”.
“누나!! 도와 주세요!!
Nuna!! dowa juseyo!! Kak!! Tolong aku!!” lagi-lagi
ku dengar seruan Luhan itu.
Aku berubah panik. “루한아 어디 있어?! Luhan-ah, odi issô?! Luhan, kau di mana?!” tanyaku, tanpa memperdulikan para peserta
rapat memandangiku.
“Aku di perempatan di seberang kantormu. Nuna,
dowajuseyo!!” seru Luhan lagi.
Kali ini aku benar-benar panik. “Baik, tunggu aku!”
ujarku sebelum ku akhiri panggilan. Aku memandangi para peserta rapat itu. “Joesonghamnida.
Ada urusan yang sangat penting sehingga rapat terpaksa ku batalkan. Joesonghamnida.”
kataku pada mereka.
Tak ku pedulikan seruan tak setuju mereka terhadap
tindakanku ini ketika aku bergegas dengan tergesa keluar dari ruang rapat. Aboji
yang berada di luar pintu ruangan pun hanya mampu memandangiku heran, tapi ia
membiarkanku.
Aku terus berlari tergesa, aku tak ingin terjadi
hal buruk pada adikku, Luhan. Aku cukup tak sabaran ketika lift yang ku
tumpangi beranjak turun.
Segera aku berlari lagi keluar lift, tak peduli
para staff kantor menyalamiku. Aku berlari keluar gedung menuju perempatan.
Jangan, jangan Luhan. Aku mohon jangan sakiti Luhan.
Tuhan, aku mohon jangan Luhan. Aku terus berharap dalam hati masih sambil
berlari.
Perempatan yang dimaksud Luhan memang tidak jauh
dari gedung perusahaan Aboji, sehingga dalam waktu singkat aku sudah berada di
seberang perempatan itu.
Di sana! Tepat di seberang sana!
Seseorang dengan jaket tipis, celana pendek, dan headphone Beats yang dikalungkannya. Itu
Luhan! Ia tengah terduduk di pagar tanaman di seberang sana.
Begitu lampu hijau menyala, aku menyeberangi jalan
raya itu dan mendekat ke arah Luhan yang terus tertunduk itu. Apa yang terjadi
padanya?
“Luhan-ah, gwænchanha?”
tanyaku panik begitu aku tepat di hadapannya yang masih tertunduk.
Luhan kemudian menenangadahkan pandangan ke arahku.
Kemudian Luhan tersenyum padaku. Ia tak apa?
“Kau lupa kapan kau lahir?” tanya Luhan, “Nuna, sængil chukhahæ.” ujarnya.
Aku terkejut setengah mati. Sial, ternyata Luhan
hanya membodohiku di tengah rapat pentingku?! Tidak penting hari apa untukku
sekarang, tapi tindakan Luhan ini...?!
Tanpa ku sadari, Luhan menyodorkanku kotak kecil
berpita itu. Ia lantas meletakannya di atas telapak tanganku.
“Sængil chukhahæ.” ujar Luhan sekali lagi, “Rupanya, kau masih perhatian padaku.”.
Aku memandangnya tajam. “Kau pikir itu lucu?”
kataku tajam.
Senyuman Luhan pudar. Ia menyadari bahwa aku tak
suka kejutannya ini, kejutannya untukku di hari ulang tahunku.
“Nu, nu, Nuna...” gumamnya.
“Kau pikir aku apa?!” gertakku. “Kau membuatku
menyia-nyiakan waktuku!! Aku sedang ada urusan penting di sana! Kau tidak tau
kalau aku sudah dibuat panik karena panggilanmu?! Tapi ternyata kau hanya
pura-pura!!”.
Luhan serasa membeku. “Nuna..., aku...,”.
“Pulanglah!!” suruhku, aku marah.
Luhan menatapku nanar.
“Apa kau tidak punya kegiatan lain?! Kau tidak
latihan menari?! Kau tidak kuliah?!” aku menyuruhnya ulang, “Pulanglah!! Dan
jangan ganggu aku!!”.
Luhan hanya mampu terdiam.
Ku lepas kado kecil itu dari genggamanku,
membiarkannya terjatuh di atas tanah. Aku lantas berbalik dan beranjak pergi
dengan marahnya.
Tanpa ku sadari, Luhan memungut kado kecil itu dan
memandang ke arahku. “Nuna!” panggilnya, tapi aku enggan menoleh, “Ahyoung Nuna!!”
lagi-lagi aku enggan menoleh.
Aku tengah menyeberangi jalan, dan Luhan terus
memanggilku. Aku tak mendengarkannya.
“Ahyoung Nuna!” suaranya mendekat, tapi aku tetap
enggan menoleh. Tapi panggilan yang aneh kemudian terdengar, “Nuna, awas!!!”.
Tak lama setelah seruan Luhan itu, aku mendengar
suara yang keras sekali mendekat ke arahku, “Tiiinn....!!!!”.
Aku menoleh ke samping, mendapati sebuah truk putih
berusaha menahan lajunya agar tak menabrakku. Aku tak mampu berteriak, dan
hanya mampu terdiam di tempat.
Tapi dalam sekejap, seseorang mendorongku hingga
aku tersungkur sampai ke seberang sana. Namun anehnya, “Braakk!!!” aku masih
mendengar suara benturan keras, padahal aku sudah berada di seberang?
Aku menoleh ke belakang, ke arah jalan ketika aku
masih tersungkur. Aku terkejut setengah mati melihat ke arah jalan.
Truk itu menabrak seseorang. Orang itu tersungkur
di atas aspal dengan penuh luka dan ceceran darah. Itu orang yang mendorongku :
Luhan!!
“Luhan?” gumamku ketika aku bangkit. “Luhan!!” seruku.
Aku berlari ke arahnya. Aku orang pertama yang
mendekati Luhan saat itu. Aku menopangnya di atas pangkuanku, aku pun tak
peduli noda merah itu mengotori pakaian kantorku.
Luhan terpejam, penuh luka. Aku menangis.
“Luhan! Luhan-ah!” panggilku, “Aangunlah! Luhan-ah!!”
ku guncang tubuh kecilnya.
Harapan kecil masih berpihak padanya : Luhan
membuka matanya. Ia memandang ke arahku dengan tatapan sayu.
“Nu..., na...” panggilnya lirih.
Aku tak mampu menahan tangis. “Luhan-ah...”.
“Sængil...,
chukhahæ...” Luhan menggerakan tangannya yang penuh
noda merah itu, ia menyodorkan kado kecil itu padaku dari genggamannya.
Aku terus menangis. Di saat itu juga, aku merasakan
nafas adik kecilku ini semakin tersengal. Aku mulai panik.
“Dowajuseyo!!” seruku pada orang-orang di dekatku,
meminta pertolongan. “Aku mohon tolong adikku!!”.
*****
Aku terduduk di samping ranjang itu. Terus
memandangi adik kecilku yang terbaring sejak tiga hari yang lalu dengan
peralatan yang membantu kelangsungan hidupnya entah apapun namanya —infus, alat
bantu pernafasan, benda yang seperti radar itu, dan, ah, aku tak tau lagi.
Sejak tiga hari lalu pula, aku tak pernah
meninggalkannya dan tak sedikitpun aku tertidur. Aku terus terjaga hanya untuk
mengawasi Luhan. Ya, Luhan : adik kecilku yang tengah dalam keadaan kritis ini.
Tiba-tiba aku merasakan kehangatan di punggungku.
Hyukjae ternyata menyelimuti punggungku dengan
jaketnya. “Kau belum istirahat juga, makan pun tak seberapa.” katanya. “Makan
dulu sana. Biar ku jaga Luhan —Hyo juga akan segera datang untuk menemani
kalian.”.
Aku memandangnya. “Tapi, aku harus,”.
“Cepat makan sana.” suruh Hyukjae, memotong
perkataanku.
Aku hanya tertunduk. Lalu memandang ke Luhan
sejenak. Betapa miris keadaannya saat ini, bahkan hanya untuk meninggalkannya
sebentar pun aku tak rela.
Tapi Hyukjae tetap memaksaku untuk meninggalkanya
sejenak dan bergegas makan. Ia membawakan makanan yang Hyoyeon masak untukku —Hyoyeon
memang pandai memasak.
Aku berdiri dan Hyukjae merebut tempat dudukku. Aku
segera beranjak pergi, namun pandanganku tak lepas dari Luhan. Aku masih tak
rela meninggalkannya —meski hanya sekejap.
***
Aku bergegas ke kamar rawat Luhan segera. aku tak
ingin menyia-nyiakan terlalu banyak waktu untuknya. Aku ingin segera
menemaninya, melihatnya membuka matanya, dan kembali tersenyum manis padaku. Aku
ingin menjadi orang pertama yang diihatnya ketika ia siuman nanti.
Namun ketika ku buka pintu kamar rawat Luhan, aku
mendapati kursiku di tempati oleh seseorang : Sehun.
Bocah itu tengah fokus memandang pada Luhan —hyông keduanya. Ia
terus berinteraksi pada Luhan, meski ia tau kalau Luhan masih terpejam dan tak
sadarkan diri.
Dokter bilang, di hari ketiga ini perkembangan Luhan
semakin membaik. Kemarin aku lah orang pertama yang menyadari jemarinya
bergerak dan segera memanggil dokter. Dari kejadian yang ku sadari itu, dokter
menyatakan bahwa Luhan mulai bisa mendengar suara-suara di sekitarnya.
Dokter juga berpesan untuk sesering mungkin
mengajak Luhan berbicara agar anak itu terbiasa mendengar. Dan hal itu
dilakukan pula oleh Sehun.
“..., kalau aku, aku pasti akan selalu di sini
bersamamu, Hyông...” Sehun masih terus berbicara pada Luhan, “Aku ingin melihatmu
tersenyum dan sembuh. Aku ingin kita main sama-sama lagi.”.
Aku masuk ke dalam kamar rawat Luhan. Masih ada Hyukjae
di dalam, dan Hyoyeon yang baru datang bersama Sehun tadi.
Hyoyeon segera menghampiriku. “Onnie, biarkan Sehun
bersama Luhan dulu.” bisiknya padaku, “Ku rasa ia masih ingin bersama Luhan.”.
Aku memandang sejenak ke arah Sehun. Kemudian aku
mengangguk pada Hyoyeon. Ketika aku menghampiri ranjang Luhan, Hyukjae
memberiku kursi agar aku bisa duduk di dekat Luhan juga. Dan aku terus
memandangi kedua adikku itu.
“Hyông, aku janji aku akan selalu bersamamu.”
ujar Sehun, “Aku janji tidak akan nakal lagi padamu, tapi kau harus bangun dan
sembuh..., ya?”.
Mataku berair mendengar perkataan Sehun.
“Kalau kau sudah bangun dan sembuh, ayo kita main
PS lagi..., ayo kita pergi jalan-jalan lagi..., ayo kita menari lagi..., ayo
kita battle dance lagi...” lanjut Sehun,
“Aku tak pernah bertemu orang yang semenyenangkan seperti dirimu, Hyông... Dan aku
sangat mensyukuri nikmat Tuhan yang satu ini...”.
Tanpa ku sadari, bulir-bulir air mataku jatuh.
“Meskipun kau hanya kakak sepupuku —bahkan bukan
saudara kandungku, tapi kau lebih dari sekadar kakak sepupu angkatku...” kata Sehun,
“Aku..., aku telah menganggapmu seperti kakakku sendiri... Aku..., aku sangat
menyayangimu, Hyông...”.
Melihat Sehun juga menitikan air mata, aku tak
mampu menahan isakku.
“Semua hari-hariku yang ku jalani bersamamu terasa
begitu menyenangkan... Aku begitu menyukainya, Hyông... Aku
sangat menginginkannya kembali...” lanjut Sehun, “Aku tak bisa melakukan
apa-apa, tapi kau bersedia membantuku, mengajariku, bahkan sesering apapun aku
menjahilimu kau tak peduli dan kau selalu menganggapnya sebagai permainan...”.
Sehun terdiam, menahan isaknya. Air matanya terus
mengalir.
“ku merindukanmu, Hyông... Ku
mohon cepatlah bangun dan sembuh...” ujar Sehun lirih, “Aku merindukan orang
yang dengan sabar mengajariku matematika, orang yang dengan sabar mengajariku
bermain rubik, orang yang selalu mengajakku main game, orang yang selalu
mengajakku menari, dan orang yang selalu ceria ini : kau, Luhan hyông... Kau...”.
Aku makin terisak. Hyoyeon menahan harunya, ia
mengusap pundakku.
“Aku ini...,” Sehun menunduk, menahan isaknya lagi,
“aku ini tak bisa apa-apa..., tanpamu, Hyông...”
lanjutnya, ku lirik wajahnya yang berusaha keras menahan isaknya, “Aku ini cuma
anak kecil yang gak bisa apa-apa... Aku butuh kau, Hyông! Bangunlah
dan cepat sembuhlah!”.
Cukup sudah, aku menangis sejadi-jadinya.
“Sejak hari itu,” Sehun melanjutkan, “Setiap malam,
setiap aku akan belajar di sekolah maupun di rumah, setiap aku akan tidur...,
aku selalu berdoa... Aku berdoa untuk kesembuhanmu, Hyông... Tidakkah
Ia mendengarnya...? Tidakkah Ia memberitaumu...?”.
Hyoyeon memelukku dari belakang.
“Aku juga berkata padaNya dalam doaku : aku
membutuhkanmu. Tidakkah kau mengetahuinya, Hyông?” lanjut Sehun,
kali ini ia menatap Luhan kembali. “Hyông,
bangunlah! Sembuhlah! Aku membutuhkanmu! Aku..., aku...,”.
Tak mampu melanjutkan perkataanya, Sehun terdiam. Kali
ini ia biarkan isaknya keluar, ia tak peduli. Ia memang membutuhkan Luhan, ia
memang menyayangi Luhan —sama sepertiku. Hyukjae menghampirinya dan mencoba
menghiburnya.
Di saat itu juga, suasana terasa begitu pedih.
***
Ku selimuti Sehun yang tertidur dengan lelapnya di
atas sofa. Ketika malam turun, Hyukjae dan Hyoyeon berpamitan pulang padaku. Aku
berhutang pada keduanya yang sudah menjaga Luhan dan Sehun —apalagi sejak tadi Sehun
terus saja menangis dan tak mau berbicara pada siapa pun.
Ku pandang Sehun sekali lagi. Bocah ini pasti
kelelahan menangis. Hatinya memang sensitif. Sehun yang masih duduk di bangku
kelas dua sekolah menengah atas ini memang masih dalam tahap pertumbuhan baik
fisik maupun psikisnya.
Aku duduk di atas kursi di samping ranjang Luhan. Malam
ini aku pasti akan terjaga lagi, apalagi ada Sehun juga di sini.
Terus ku pandangi Luhan yang masih terpejam itu. Ku
harap ia tidak mendengar isakkan Sehun tadi —aku takut dalam pejamannya Luhan
akan mengkhawatirkan Sehun.
Dalam hati, ku akui satu hal.
Aku salah, aku yang salah. Semua ini karenaku. Keadaan
Luhan seperti ini adalah karenaku. Kalau saja tingkahku tidak berubah dingin, Luhan
takkan seperti ini. Kalau saja aku masih seperti dulu, mungkin aku sedang
melihatnya tersenyum sekarang.
Aku tak mau menangis lagi, makanya ku coba
mengalihkan pandanganku dari Luhan. Tak sengaja pandanganku menangkap kado
kecil pemberian Luhan itu tergeletak sejak tiga hari yang lalu di atas meja.
Segera ku raih kado kecil itu. Memang, aku belum
pernah membukanya, bahkan tak seorang pun berani menyentuhnya. Aku terheran
ketika menemukan liontin di dalamnya.
Cantik sekali.
Ketika aku membuka liontinnya, aku tersentak. Fotoku
dan Luhan di dalamnya, gambaran kami sewaktu kami kecil. Aku yakin Luhan yang
memasangkannya.
Aku terisak. Ku pendam wajahku di lipatan kedua
tanganku yang ku letakan di atas ranjang Luhan. Rasa bersalah itu kembali
menghujamku. Luhan terus menyayangiku bahkan sampai aku mengacuhkannya pun ia
tetap menyayangiku.
Dalam heningnya malam, aku menangis.
*****
Aku terbangun dari tidurku. Astaga, aku tertidur!!
Segera ku tegakkan tubuhku dan memandang ke arah Luhan.
Aku menghela nafas lega karena Luhan tetap di ranjangnya —sudah pasti.
“Nuna tidur.”.
Aku terperanjat ketika mendengar suara Sehun tak
jauh dariku. Rupanya Sehun bangun lebih awal dariku.
“Sehun-ah.” gumamku.
Ku lihat ada yang aneh dengan kedua mata Sehun. Matanya
sembab. Pasti ini karena ia menangis kemarin, bahkan sampai tertidur.
“Ahyoung Nuna tidak sadar apa? Itu, lingkar
matamu...” Sehun menunjuk kedua mataku dengan bibirnya.
Aku menyentuh bagian yang Sehun sebutkan. Kemudian,
aku bercermin pada ponselku. Ah, benar apa yang Sehun bilang. Ada lingkar hitam
di sekitar mataku.
“Ahyoung Nuna mau sarapan apa? Aku belikan, ya.”
kata Sehun.
Aku memandangnya lagi, “Tidak usah.” kataku lembut.
“Kalau ku turuti, Nuna gak akan makan.” kata Sehun,
“Itu yang Luhan hyông katakan padaku.”.
Mendengar kalimat terakhir, aku terdiam.
“Oke, ku belikan sarapan, ya! Ahyoung Nuna tunggu
di sini.” ujar Sehun sebelum meninggalkan kami berdua.
Kini hanya aku dan Luhan di kamar ini. Keheningan
cukup lama menemani kami berdua. Aku merasakan sesuatu dalam genggamanku. Rupanya
selama aku tidur, aku masih menggenggam liontin itu.
Aku memandanginya, melihat foto di dalamnya.
Kemudian aku teringat sesuatu. Aku memandang Luhan,
dan mulai berbicara padanya. “Mi, mianhæyo...” ujarku
pelan, “Aku tau aku yang salah...”.
Terus ku pandangi Luhan.
“Kalau saja aku tidak berubah acuh padamu, kau
takkan seperti ini sekarang... Mungkin kau akan mengajakku bermain atau
bermanja padaku sekarang...” kataku, “Aku merindukanmu, tapi aku cukup pantas
untuk berkata ‘mianhæ’..., karena
aku tau aku yang salah, Luhan-ah...”.
Aku tak sanggup menatap Luhan terus menerus. Sehingga...,
aku merunduk. Ku pendam kembali wajahku di atas lipatan tanganku di atas
ranjang Luhan. Aku ingin menangis, tapi aku tak mau. Ku coba menahannya.
Tapi semenit kemudian, “Nu..., na...”. suara
itu...?
Aku terperanjat dan langsung memandang ke sumber
suara. Luhan?! Luhan memanggilku!!
Ku dapati kedua matanya yang semakin terbuka dan
terbuka. Ia memandang sayu, bibirnya terus memanggilku. “Nuna... Nuna...”
panggilnya terus dengan lirihnya.
Aku bangkit dari kursiku dan mendekati wajah Luhan,
berusaha sebisa mungkin agar Luhan bisa melihatku. “Aku di sini, Luhan-ah. Aku
di sini...” ujarku menahan haru.
“Luhan hyông!!” tak
lama ku dengar seruan Sehun yang ternyata baru saja sampai di dalam kamar.
Ia jatuhkan begitu saja kantung plastik berisi roti
untuknya dan untukku itu. Lantas ia mendekat ke arah kami berdua.
“Panggil dokter! Cepat!” suruhku pada Sehun.
***
Sesuai janjiku pada Luhan, aku tetap berada di
dekatnya ketika dokter memeriksa keadaannya. Aku hanya memandanginya dari
tempatku duduk.
Setelah selesai memeriksa keadaan Luhan, dokter
muda itu mendekatiku dan berkata dengan suara yang pelan. “Luhan ingin sekali
bersama Anda. Sebelum saya memberitau lebih detail lagi tentang keadaanya, saya
akan membiarkan Anda bersamanya sampai ia merasa lebih baik.” jelasnya.
Aku hanya mengangguk. “Uisanim, gamsa hamnida.”
ujarku kemudian sebelum ia meninggalkan kamar rawat ini.
Setelah dokter meninggalkan ruangan, aku menarik
kursiku hingga mendekat ke arah Luhan. Sementara Sehun duduk di sisi satunya,
berseberangan denganku.
“Nuna...” panggil Luhan lirih, menatapku penuh
dengan peluh.
Aku segera menggenggam tangannya. “Aku di sini, Luhan-ah...”
kataku.
“Aku...,” kata Luhan, “aku..., aku ingin
bersamamu..., aku ingin bersama Sehun..., aku ingin bersama Aboji..., aku ingin
bersama semuanya...”.
Aku menahan air mataku.
“Aku...,” ujar Luhan lirih, “aku ingin pulang...”.
“Aku mengerti.” kataku lembut padanya, “Kau harus
bersabar sampai keadaanmu cukup pulih agar bisa pulang, oke?”.
“Aku...,” Luhan bersikeras, “aku ingin latihan
menari untuk kompetisi ke Jepang, Nuna-ya... Aku adalah seorang penari...”.
Aku berusaha keras menahan tangisku. “Aku tau.”
kataku.
“Tapi Nuna...,” Luhan berujar lagi, “aku tidak bisa
merasakan kakiku...”.
Tersentak aku mendengarnya. Pada saat yang
bersamaan, Sehun juga merasakan hal yang sama denganku. Aku sempat berpandangan
singkat dengannya.
“Jangan khawatir.” kataku pada Luhan, “Semua akan
baik-baik saja. Percayalah padaku.”.
“Aku,” ujar Luhan cepat, “aku percaya padamu...,
karena aku sayang padamu...”.
Aku hanya terdiam, dan memandangnya nanar. Ku usap
punggung tangannya yang ku genggam dan ku rasakan halusnya tangan itu di
pipiku.
Tenang, Luhan-ah. Semua akan baik-baik saja —pegang
janjiku.
***
Pandanganku berubah tak tentu begitu aku keluar
dari ruangan dokter yang menangani Luhan itu. Rasa terpukul, bersalah, dan
menyesal merajamku segera.
Aku menitikan air mata dalam perjalanan kembali ke
kamar rawat Luhan. Dengan pahitnya ku terima kenyataan yang baru saja aku
ketahui.
Adikku, Xi Lu Han, harus menderita karenaku.
Kedua kakinya lumpuh, itulah kenapa adikku tak
dapat merasakan kakinya. Tak hanya luka luar, tapi ia juga menderita luka
dalam, salah satunya pada paru-parunya yang membuatnya kesulitan bernafas. Lukanya
yang terlalu parah membuat kemungkinan pulihnya ia menjadi sangat kecil : 2%.
Tidak, jangan adikku ku bilang. Ku bilang padaMu :
jangan adikku!!
Tanpa sadar, aku sudah sampai di dalam kamar rawat Luhan.
Di dalam ku dapati Sehun duduk di kursinya dan menceritakan hal-hal lucu pada Luhan.
Di seberang Sehun ada Hyoyeon, ikut tertawa ketika Sehun menceritakan hal-hal
lucu itu. Dan Luhan, ia tak mampu tertawa, ia hanya bisa tersenyum.
Ketika aku sudah berada di kamar, Hyoyeon
memandangku. Ia segera bangkit dari kursinya dan mempersilahkan aku duduk di
dekat Luhan.
Aku segera duduk. Dan Luhan lantas tersenyum senang
mendapati kehadiranku di sampingnya.
“Nuna.” ujarnya, semakin lirih.
Aku berusaha tersenyum semampuku. “Luhan-ah...”
ujarku.
“Nuna, apa aku sudah bisa pulang?” tanya Luhan
antusias, “Apa yang dokter katakan?”.
Mendengar pertanyaan seperti itu, hatiku teriris. Ku
genggam tangan Luhan untuk menahan butiran air mataku, kemudian tersenyum
seadanya padanya.
“Dokter bilang,” ujarku, “kau pasti pulang.”.
Aku segera menahan kata-kata Luhan dengan mengecup
pucuk kepalanya. Aku mengusap kepalanya, tak peduli ia heran dengan tingkahku
ini.
Dalam hati, aku mengutuk diriku sendiri.
Hari itu, harusnya aku yang tertabrak. Harusnya aku
yang terluka. Harusnya aku yang terbaring. Tapi kenapa Luhan?! Kenapa harus dia
yang menanggungnya?! Ini sungguh salahku.
Harusnya aku yang celaka karena keegoisanku,
harusnya aku!! Bukan Luhan!!
*****
Aku yakin Luhan akan segera sembuh meski
kemungkinannya hanya 2%. Aku yakin Luhan akan seperti sedia kala lagi. Aku
yakin Luhan pasti akan menari lagi meski dokter bilang kedua kakinya lumpuh.
Hari ini, Luhan tak banyak bicara. Ia lebih sering
diam dan berbicara seperlunya.
Sehun tak bisa datang ke rumah sakit hari ini. Waktu
Sehun untuk liburan di Seoul —lebih tepatnya di rumahku— sudah habis sejak
kemarin, dan ia enggan untuk pulang, ia ingin di sini untuk menemani Luhan. Aboji
menyuruhnya pulang ke penginapan. Dan tentu saja, ia harus berhadapan dengan
kedua orangtuanya.
Hyukjae dan Hyoyeon berjanji padaku agar mereka
menemaniku dan Luhan di rumah sakit. Dan seperti apa yang mereka janjikan,
keduanya ada di sini —di kamar rawat Luhan.
Sudah tiga hari Luhan di sini sejak ia siuman, tapi
tak kunjung juga ku dapati perkembangan baik pada dirinya. Semakin hari
nafasnya makin tersengal, namun aku yakin Luhan akan segera sembuh...,
karena aku ingn membalas kesalahanku padanya selama
ini...
“Nuna...” ku dengar Luhan memanggilku lirih, “Nuna...”.
Segera ku genggam tangannya, “Aku di sini, Luhan-ah...”
ujarku. Aku takut Luhan tidak menyadari keberadaanku.
“Aku bertemu mereka...” ujar Luhan.
Aku heran. Mereka?
“Siapa?” tanyaku.
“Ibuku..., dan ayahku...” jawab Luhan.
Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. “Luhan-ah,
mungkin itu cuma mimpi...”.
“Mereka..., memanggilku...” ku lihat Luhan
tersenyum tipis, “Aku senang namaku dipanggil mereka...”.
Aku hanya mampu terdiam.
“Sudah lama tak jumpa mereka...” ujar Luhan lagi. “Aku
ingin bersama mereka lagi...”.
Aku hanya mampu memandangi Luhan. Dalam diam, aku
berusaha menepis segala hal buruk yang merasuki pikiranku.
Kembali aku teringat sesuatu. Ku pandang Luhan
sekali lagi. “Luhan-ah, mianhæyo...”
kataku, aku tau Luhan pasti hanya terdiam mendengar perkataanku barusan, “Aku...,
aku yang membuatmu seperti ini... Harusnya aku tidak berubah acuh seperti itu
padamu...”.
Kali ini aku tertunduk.
“Aku yang salah...” lanjutku, “Aku tau,
seharusnya...,”.
“Aku tak apa.” sela Luhan kemudian, “Kau adalah
segalanya bagiku.”.
Sontak, aku memandangnya. Tanpa sadar, sebulir air
mataku jatuh. Dan di saat seperti ini, tau apa yang Luhan katakan?
“Uljimara...”.
Mendengarnya berkata seperti itu, aku tak mampu
menahan air mataku. Tapi demi dirinya, aku berusaha menahannya.
“Oke, aku gak akan nangis...” ku hapus air mataku,
dan ku lihat Luhan tersenyum.
Dan setelah ini, aku tak ingin mendengar hal yang
membuatku khawatir tentang Luhan.
***
Malam ini, aku seorang yang menemani Luhan di rumah
sakit. Aku merasa tak enak hati pada Aboji. Aarena aku selalu menjaga Luhan, Aboji
lah yang merangkap posisiku di perusahaan. Tapi Aboji bisa mengerti keadaanku
saat ini.
Tak mendengar suara Luhan sedikit pun, ku coba
mengajaknya berbicara.
“Luhan-ah, kau sudah mengantuk?” tanyaku.
Kedua mata Luhan bergerak menyorotku. Betapa
sayunya sorotan itu.
Lantas aku duduk di kursiku. “Aku akan menemanimu.”
janjiku padanya.
Namun Luhan hanya memandangiku. Lama sekali
keheningan ini membungkam kami, dan Luhan lantas berbicara, “Nuna,” panggilnya,
“aku mau mendengarkan musik.”.
Aku terheran. “Musik?”.
Luhan berkedip, pengganti isyarat anggukan kepala.
“무슨 음악? Museun eumak? Musik apa?” tanyaku.
“Apa saja.” pinta Luhan.
Sejenak aku berpikir. Aku segera mengeluarkan
ponselku dan memasangkan ujung headset-ku
pada port yang disediakan. Ku
pasangkan sebelahnya di telinga Luhan dan yang satunya lagi di telingaku. Ku
pilihkan lagu yang mengalun pelan yang lantas ku putar dengan volume yang tidak
begitu keras untuk Luhan.
Ketika musiknya mulai mengalun, ku rebahkan
kepalaku di samping Luhan.
Ku raih sebelah tangan Luhan. “Genggam tanganku.”
suruhku padanya.
Dengan segera Luhan menggenggam tanganku —meski tak
erat, kemudian aku juga menggenggam tangannya. Ku gerakan tangan kami hingga
berdiri. dan ku pandangi keduanya.
“Kau bisa merasakan tanganmu? Apa kau bisa
merasakan tanganku?” tanyaku.
“Mm.” sahut Luhan, berarti ‘ya’.
“Terus genggam tanganku sampai lagu ini berakhir,
oke?” kataku, “Ini akan melatih otot tanganmu agar terbiasa bergerak lagi.”.
“Mm.” sahut Luhan lagi.
Musik masih mengalun.
“Lihat, tangan kita sama putihnya.” ujarku
tersenyum, masih ku pandangi tangan kami, “Jemarimu sedikit lebih besar dari
jemariku, ya.”.
Seperti yang ku bilang, Luhan masih menggenggam
tanganku.
“Luhan-ah, aku ingin menebus kesalahanku padamu,
aku ingin menebus kebodohanku itu. Makanya kau harus sembuh, oke?” kataku, “Aku
juga berjanji akan melihat audisimu bersama timmu di Jepang. Aku akan
mendukungmu di sana, dan kau harus lolos ke babak berikutnya.”.
Masih ku pandangi tangan kami.
“Aku..., sayang padamu..., Luhan-ah...” kataku, “Aku
ingin bersamamu lagi, dan aku berjanji takkan bersikap dingin padamu... Aku...,”.
Ku rasakan genggaman Luhan merenggang. Ku dapati
tangan Luhan yang mulai melepas genggaman tanganku. Dan aku terkejut ketika
mendengar suara panjang yang terdengar dari benda seperti radar itu.
Tidak.
Luhan..., Luhan tidak apa, kan...?
Aku terperanjat, tubuhku terasa membeku mendengar
nada panjang itu. Ku angkat kepalaku dan ku beranikan hatiku untuk memandang ke
arah Luhan.
Rupanya, nada panjang itu tak berbohong.
Aku mendapati Luhan terpejam, tak bergerak sedikit
pun dan tak bernafas. Aku berusaha agar tidak panik. Lantas aku berdiri dari
dudukku dan mendekat pada wajahnya.
“Luhan-ah.” panggilku, air mataku jatuh. “Kau, kau
dengar aku, kan?”.
Ahyoung, kau bodoh! Jelas-jelas kau melihatnya
dengan keadaan seperti ini! Kenapa kau masih memanggilnya?!
Aku memang tidak panik, tapi jangan paksa aku untuk
menahan tangisku.
Ku peluk Luhan dalam dekapanku meski tangisku
tersedu —aku tak mampu menahannya. “Luhan-ah.” ku panggil ia lagi meski aku
sadar...,
Ia takkan mendengar.
Aku menangis, tak mampu menahan senggukan dan
tangisku semakin keras. Aku belum merelakannya, aku belum merelakan Luhan.
“가지마. Kajima. Jangan
pergi.” pintaku padanya meski aku sadar...,
Luhan takkan kembali.
Aku terus menangis, tak peduli seberapa kerasnya. Aku
merasa bahwa Ia tidak adil padaku. Aku sudah bilang padaNya agar Ia tidak mengambil
adikku ini!
Tapi Ia malah mengambilnya dari dekapanku.
“Kajima.” aku tak mampu berkata, hanya itu yang
terucap.
Dan aku menangis sejadi-jadinya.
*****
Ku pandangi pigura itu lagi.
Ya, siapa lagi kalau bukan gambaran Luhan di
dalamnya. Aku hanya terdiam di tengah ramainya manusia-manusia berpakaian serba
hitam ini.
Aku seperti orang yang kehilangan akal. Memandang
tanpa harapan dan gairah, menapaki hari seakan waktu takkan bergulir, berkata
tanpa nada layaknya orang tak pernah hidup. Itulah aku saat ini.
“Manager Yun, Anda belum makan.” ku dengar seorang
sekertaris kantorku mengingatkanku.
Tapi aku tak bergeming dan terus memandangi
gambaran Luhan di dalam bingkai itu. Aku merasa kehilangan. Aku merasa sangat
terpukul saat ini.
Aboji kemudian menggantikan posisi sekertaris itu. Ia
duduk tepat di sebelahku.
“Apa yang kau harapkan lagi?” tanya Aboji padaku.
“Luhan...” kataku datar, “Luhan, Aboji... Luhan.”. Ku
rasakan pikiranku melayang-layang entah ke mana, dan hanya satu yang ku pikirkan
: Luhan.
Mendengar perkataanku, Aboji menghela nafas. “Ingat
apa yang pernah ku katakan padamu?” tanyanya, aku hanya diam, “’Waktu yang tepat untuk memberikan kasih
sayang itu adalah sekarang, sebelum orang yang kau sayangi pergi dan tak pernah
kembali lagi’, kau ingat?” lanjut Aboji.
Aku tak bergeming.
“Kau lupa akan kumpulan kalimat bermakna itu, Ahyoung-ah.”
kata Aboji, “Dan sekarang apa yang kau dapati? Uh? Orang yang kau sayangi...,”.
“..., pergi...” kataku.
Aku menitikan air mata. Baru ku sadari maksud
perkataan Aboji malam itu detik ini. Bodohnya aku! Kenapa bisa aku sebodoh
ini?!
Tertunduk aku tak mampu menatap wajahnya lagi. Aboji
mengusap kepalaku dengan lembutnya, berusaha menghiburku.
“Aboji, aku yang salah tapi kenapa Luhan yang
celaka?” ujarku di tengah tangisku, “Kenapa Ia tidak mau mendengarku?!”.
“Tak ada gunanya kau sesali itu dan kau pinta
gantinya.” kata Aboji, “Luhan sudah pergi, kau tak bisa berbuat apa-apa —ini
sudah takdirNya.”.
Aku memandang Aboji. “Tapi harusnya Ia tau siapa
yang salah dan siapa yang harusnya menanggung akibat dari kesalahannya, kan?!”
geramku.
Tapi Aboji begitu sabar meladeniku. “Ia tau, Ahyoung-ah,
Ia tau.” katanya, “Ia tau siapa yang salah dan Ia tau siapa yang harus
menanggung akibat dari kesalahannya.”.
“Lalu kenapa Ia harus mengambil Luhan dariku?! Luhan
tidak bersalah!!”.
“Ia mengambil Luhan darimu karena Ia tau kau yang
salah, Ahyoung-ah.” Aboji tetap sabar, “Ia mengambil Luhan darimu karena Luhan
adalah harta yang berharga buatmu. Makanya ia mengambil Luhan darimu agar kau
menyadari kesalahanmu.”.
Mendengar penjelasan Aboji, aku membeku.
“Ia mengambil Luhan darimu karena itulah hukuman
buatmu,” lanjut Aboji,”sekaligus takdirNya, Ahyoung-ah.”.
Air mataku mengalir begitu saja. Aku menangis, tapi
Aboji segera berkata,
“Uljimara.” persis seperti apa yang sempat Luhan
katakan padaku. “Jangan buat Luhan khawatir di sana hanya karena kau
memikirkannya.”.
Aku membekap mulut dan hidungku. Aku bangkit dari
tempatku duduk dan bergegas menuju toilet untuk membasuh wajahku.
Namun ketika langkah keempatku setelah meninggalkan
ruangan, “Bruk!” aku menabrak seseorang.
Aku mendapati lelaki yang lebih tinggi tujuh belas
senti dariku dengan setelan jas hitam itu. Lelaki muda ini adalah Sehun —ia
datang bersama kedua orangtua dan hyôngnya.
Ia terbelalak melihatku, seakan melihat musuhnya. “Sehun-ah.”
gumamku.
Tubuhnya yang tinggi dan lebih besar dariku itu
menghalangi jalanku. Ketika aku mencoba melewatinya, Sehun tak memberiku jalan
sedikit pun.
Aku berujar, “Sehun-ah, berikan aku jalan,”.
“Kemudian melepasmu dan melupakan kesalahanmu?”
sela Sehun segera dengan nada benci.
Aku tersentak dan memandangnya.
Dengan kasar, Sehun membekap kedua lenganku. Ia
menatapku tajam. “Kau pikir siapa yang membuat Luhan Hyông seperti
itu dan berakhir seperti ini?! Kau pikir siapa?! Apa kau pikir aku tidak tau?!”
marahnya padaku.
“Sehun-ah.” ibunya mendekat.
“Ini akibat dari berubahnya sikap perhatianmu pada Luhan
Hyông!! Kau merasakan pahitnya sekarang, kan?!” lanjut Sehun, “Kau
merasakan akibatnya, kan?!”.
Ibunya tak mampu menenangkan putra bungsunya ini,
maka putra sulungnya pun turun tangan. “Sehun-ah, jangan seperti itu!” .
“Aku merasakan akibatnya dan itu sangat
menyakitkan!” balasku pada Sehun, “Kau pikir aku tidak sakit?!”.
“Kalau begitu kenapa tidak kau rasakan itu sebelum
akhirnya Luhan Hyông pergi?!” balas Sehun. “Kau membuatku kehilangan orang yang sangat
berarti dalam hidupku!!”.
“Luhan adalah adikku, ia juga berarti bagiku!!”.
“Lantas jikalau ia berarti buatmu, kenapa kau bisa
bersikap dingin padanya?! Ha?!”.
“Oh Se Hun!” hyông-nya
berusaha melerai kami.
“Aku..., aku...,” aku terbata.
Sehun masih menatapku tajam. “누나야
싫어요! 싫어!! Nuna-ya, shirôyo!
shirô!! Aku membencimu, Kak! Aku membencimu!!” teriaknya
padaku. Perlahan matanya berair.
“Oh Se Hun!!” Hyông-nya
berhasil memisahkan kami.
Aku dan Sehun terpaku. Perlahan Sehun tertunduk,
kemudian terduduk di atas lantai dan menangis. Aku hanya menitikan air mata.
“Apa kalian bodoh?!” Hyông-nya
berujar begitu tajam pada kami, “Luhan tidak akan senang melihat kalian seperti
ini!! Jangan buat ia khawatir karena tindakan bodoh kalian!!”.
Di sela tangisnya, Sehun menandangku tajam, lantas
berujar sinis, “Nuna, shirôyo... shirô...!”. Kata-kata
itu hanya mampu membuatku terdiam. Dan memandangnya nanar.
*****
Hari ini, hari pertamaku kembali ke perusahaan dan
bekerja lagi di kantor. Aboji bilang, aku tak boleh terlalu bersedih akan
kepergian Luhan. Jadi ku putuskan untuk kembali bekerja hari ini.
Ketika aku sampai di mejaku, aku tertegun memandang
seikat bunga, coklat, dan sebuah kartu ucapan tergeletak di atasnya.
Ku raih kartu ucapan itu, dan ku baca isinya.
“Untuk
Manager Yun,
selamat
datang kembali ke kantor!
Semoga
harimu menyenangkan dan tetaplah bersemangat!
dari
: para Staff”
Aku tersenyum tipis begitu selesai membacanya.
Betapa perhatiannya mereka padaku. Mereka tau aku bersedih, dan mereka
menghiburku.
“Klek.”.
Masih dalam posisiku yang terkagum karena pemberian
para staff kantorku, seorang wanita —sekertaris kantorku— memasuki ruanganku.
“Selamat pagi, Manager Yun.” sapanya ramah
disambung dengan bungkukan.
Aku tersenyum. “Sekertaris Cho.” sahutku.
“Saya datang membawakan beberapa berkas untuk
Anda.” ujar Sekertaris Cho.
“Letakan saja di mejaku.” kataku padanya, kemudian
ia segera menghampiri mejaku dan meletakan berkas-berkas yang hendak ia berikan
padaku.
Pandanganku kembali pada kartu ucapan tadi.
“Oya, terimakasih, ya, untuk pemberiannya.” kataku
pada Sekertaris Cho.
Sekertaris Cho hanya tersenyum. “Bukan apa-apa,
Manager Yun.” ujarnya, “Kami senang Anda bisa hadir kembali di kantor dengan
senyuman.”.
Aku ikut tersenyum. “Maaf membuat kalian bekerja
tanpa arahanku.” kataku, “Setelah adikku meninggal, aku dan Direktur Yun
sepakat untuk memakamkannya di Cina, tepat berdekatan dengan makam kedua
orangtuanya. Dan aku menetap di sana selama kurang lebih seminggu.”.
“Pasti sangat berat untuk Anda.” ujar Sekertaris
Cho merasa simpati.
Aku kemudian tersenyum. Tak tau harus mengatakan
apa.
Sekertaris Cho kemudian membungkukkan badan,
kemudian meninggalkan ruanganku. Meninggalkan aku sendirian di sini.
Masih berada di sudut mejaku, aku memandang ke
jendela besar yang berada di belakang kursiku. Matahari pagi masih menyinari
tiap sudut Seoul. Udara sejuk di tengah musim gugur ini masih menemani.
Kemudian teleponku berbunyi, segera ku tekan salah
satu tombolnya.
“Manager Yun, ada yang ingin bertemu dengan Anda.”
ujar suara wanita di baliknya.
“Siapa?” tanyaku.
“Seorang wanita, namanya Kwon Bo A.” jawabnya.
Aku terdiam sejenak. “Suruh ia masuk.”.
***
Wanita berparas cantik, berkulit putih, dan
berambut coklat panjan itu kemudian meletakan cangkir tehnya di atas meja. Ia
kemudian bersandar kembali pada sofa di ruanganku.
“Maaf mengganggu.” ujar wanita yang seumuran
denganku itu.
Aku hanya tersenyum padanya. “Tak apa, Boa-ya.”
ujarku padanya, Boa. “Lagi pula aku sedang tidak begitu sibuk.”.
“Mm.” Boa menyahut, kemudian mengalihkan pandangan.
Suasana hening.
“Sampai Luhan tidak ada, aku baru bertemu lagi
denganmu di upacara pemakamannya. Joesonghæyo.” kataku
pada Boa, memecah keheningan.
Boa tersenyum manis. “Gwænchanh seumnida.” ujar Boa, “Aku,”.
“Aku ingin berterimakasih padamu, Boa-ya...”
selaku, “Aku ingin berterimakasih karena..., kau telah membimbing Luhan hingga
ia..., hampir mencapai mimpinya...”.
Bisa ku tebak, Boa pasti melihat mataku berair. “Ia
tanggung jawabku, Manager...,”.
“’Ahyoung-ah’..”
ku pinta ia memanggilku begitu.
“Oh, ya, maksudku..., Ahyoung-ah...” Boa membenarkan
ucapannya.
Aku terdiam. “Sayang, aku malah membuatnya pergi
sebelum mimpinya tercapai...” kataku, tanpa menatap Boa.
Dan Boa terus mendengarkan.
“Kalau saja aku tidak bersikap angkuh dan acuh
padanya..., mungkin aku sudah melihatnya bersama teman-teman satu timnya audisi
di Jepang...” kataku, “Mungkin ia akan...,”.
“Jangan kau sesali lagi, Ahyoung-ssi...” sela Boa,
ia lupa memanggilku dengan panggilan non-formal.
Aku memandangnya.
“Semua ini terjadi karena kehendakNya, kau tak bisa
berbuat apa-apa jika Ia telah menentukan takdir. Kau hanya bisa menerimanya dan
meneruskan hidupmu.” lanjut Boa, “Aku tau bagaimana perasaanmu begitu Luhan
pergi, karena aku menganggap Luhan dan teman-temannya di sanggarku seperti
adikku sendiri, seperti keluarga kandungku.”.
Aku tersenyum untuk menahan isakkanku. “Haruskah
aku menangis?” ku tanya begitu pada Boa, dengan lirihnya.
Boa tak mampu berkata apa-apa. Ia menghampiriku dan
memelukku, ia berusaha agar aku menahan isakku. Boa sendiri juga sudah berusaha
menahan harunya, ia tak ingin aku menangis lagi karena mengingat Luhan.
***
Aku pulang malam seperti biasanya.
Setelah makan malam bersama Aboji, aku bergerak
kembali ke kamarku. Kembali aku berkutat dengan berkas-berkas kantorku yang
tumpukkannya semakin menipis —aku lebih rajin sekarang.
Ketika berhadapan dengan laptopku, aku tergesa.
“Ke mana dokumen itu?” tanyaku sendiri, kebingungan
mencari letak dokumen penting yang ku cari tak ada di dalam ingatan laptopku.
“Ah, sepertinya ku simpan di CD!” ingatku kemudian.
Aku bangkit dari kursiku. Lalu ku hampiri lemariku.
Ketika aku membuka kedua pintunya, aku tertegun melihat jumlah CD yang
tersimpan di rak yang ada di dalam lemariku.
“Kok, ada banyak, sih?” gumamku heran, “Bukannya
waktu itu cuma ada tiga CD, ya?”.
Ku lepas rak CD itu dari lemariku dan ku ambil
semua CD-nya dari tiap sela rak. Ku sisihkan CD yang ku kenali —milikku— dan
benar jumlahnya ada tiga.
Lantas siapa pemilik CD sebanyak ini?
Rasa penasaran yang sudah terlanjur merambati
pikiranku membuatku lantas menyelidiki pemilik CD-CD itu. Semua CD itu ku
tumpuk di atas meja kerjaku —jumlahnya sekitar tujuh sampai dua belas keping.
Ku jajal satu persatu CD ke laptopku dan melihat
isinya. Siapa tau aku bisa mengetahui siapa pemilik semua CD ini.
CD pertama hingga CD kelima isinya kosong. CD
keenam, CD yang selanjutnya.
Aku terheran. Ada satu video di dalamnya yang telah
di edit audio-nya. Suara-suara yang
muncul dalam video itu dihapus dan diganti dengan iringan musik.
Yang lebih herannya lagi adalah, objek yang direkam
hanyalah aku?!
Aku ingat, ini penampilanku dulu sewaktu aku sedang
belajar giat di kamarku untuk ujian kelulusan SMA. Tapi aku tidak tau siapa
yang merekamnya?
Ketika video baru dimulai, terdapat tulisan,
“Yun
Ah Young
18
years old
Shin
High School
She’s
study hard for her exam!!”
Video berdurasi lima menit itu menampilkan aku yang
belajar dengan giat di meja belajarku dari hari ke hari. Tapi anehnya aku tidak
tau siapa yang merekamku diam-diam saat itu!
“End
Nuna,
hwaiting!”
Begitulah tulisan di akhir video.
“’Nuna’?”
gumamku. Aku mendapat satu petunjuk.
Ku jajal CD ketujuh. Hanya ada satu foto di
dalamnya. Foto yang tidak jelas, mungkin ketika mengambil gambar kamera yang
digunakan bergerak terlalu cepat sehingga fotonya tidak jelas.
CD yang kedelapan, kosong.
CD yang kesembilan, ada tulisan ‘Sejarah’ di atasnya. Ada satu dokumen
Word, dua foto, dan satu video di dalamnya. Isi dokumen word itu sepertinya berupa tugas sekolah —mata pelajaran Sejarah,
dua foto di dalamnya juga merupakan tugas sekolah —bendera dan peta Korea
Selatan— dan satu video di dalamnya...
Video itu berisi suasana kelas yang sepi dan hanya
terisi beberapa murid. Orang yang merekam video ini tengah duduk di kursinya
dan teman-temannya ada yang duduk dan berdiri di sekitarnya, mereka cuma
beberapa.
Aku tidak mengenali kelas ini? Kelas siapa ini?
“Ya! Ya!” seru suara yang memanggil dari video itu,
orang yang merekam. Aku kenal suara ini!
“Apa yang kau lakukan?” tanya seorang siswa yang
sedang duduk tepat di depannya itu.
Kemudian siswa yang merekam pun menjawab, “Merekam
video! Lumayan untuk kenang-kenangan perpisahan, kan?”.
Luhan! Suara Luhan!
“Ayolah! Cepat kerjakan tugas kita!” seru seorang
siswi yang duduk tak jauh dari Luhan.
“Baiklah.” ujar Luhan.
Namun bukannya ikut mengerjakan tugas, Luhan malah
mengalihkan kameranya menoyorot dirinya sendiri.
“大家好! 我是鹿晗! Ta
jia hao! Wo shi Lu Han!” ujar Luhan pada kameranya sambil tersenyum manis
—artinya hampir sama seperti ‘Annyônghaseyo! Lu
Han imnida!’.
Aku terus memperhatikan. Luhan kemudian berkata
dalam bahasa Mandarin yang setidaknya dapat ku artikan seperti ini,
“Saat ini, aku dan teman-teman sekelasku tengah
mengerjakan tugas sekolah kami! Kelas sudah lama berakhir dan kami masih di
sekolah untuk berdiskusi!” ujar Luhan, “Mungkin aku akan pulang larut malam!”.
“Luhan-ah!” seru seorang siswi, menegur Luhan untuk
berhenti sibuk dengan kameranya dan ikut mengerjakan tugas.
Luhan kembali berbicara dalam bahasa Korea, “Ah,
mian.” ujarnya, lalu kamera dimatikan.
Video bersambung lagi, menyorot Luhan dan
teman-temannya yang sibuk mengerjakan tugas. Kamera di letakan di atas meja dan
menyorot mereka semua. Luhan kelihatan sangat serius.
“Rupanya begini, ya, kalau kau sedang belajar di
sekolah...” gumamku.
Aku mengerti bahasa Mandarin, meski memang tidak
begitu bagus. Aku belajar banyak bahasa Mandarin dari Luhan. Ia akan
mengajariku bahasa Mandarin dengan senang hati.
Video berlanjut —Luhan langsung memotongnya.
Terlihat Luhan mengambil gambarnya sendiri di tengah malam setelah selesai
mengerjakan tugasnya di sekolah. Ia masih memakai seragam sekolahnya dibalut
dengan jaket tipis.
“Sudah tengah malam.” ujar Luhan pelan pada
kameranya. “Alasanku memegang kamera dan mengambil gambar hari ini adalah
karena kamera ini pemberian Nuna.”.
Kamera pemberianku?
Ah, baru ku ingat! Aku pernah memberinya hadiah
karena ia memenangkan olimpiade matematika mewakili sekolahnya. Hadiah itu
berupa kamera. Mengetahui Luhan mempunyai banyak bakat, termasuk bakat sebagai
editor, aku memberikannya kamera agar ia bisa mengasah bakatnya dalam mengedit
banyak video ataupun foto.
Selama semenit berlalu setelah menyorot dirinya
sendiri, Luhan kini menyorot jalan menuju rumah. Begitu sunyi dan sepi, hanya
lampu jalan yang kekuningan saja yang menerangi jejaknya.
“Sekian untuk hari ini!” Luhan menyorot dirinya
lagi, “Dah!”.
Video berakhir.
CD kesepuluh, ada satu video dan foto-foto di
dalamnya. Ada beberapa foto Luhan dan Sehun di dalamnya. Ah, aku tau kapan ini
diambil. Ini foto sekitar setahun yang lalu, tepatnya ketika Sehun liburan saat
ia masih duduk di kelas satu SMA.
Cukup banyak foto yang mereka ambil. Ada yang foto
bersama-sama, ada juga yang masing-masing. Mereka sedang pergi jalan-jalan
keluar di tengah musim gugur —lokasinya masih di dalam Seoul.
Kemudian ku buka video yang ada di dalamnya.
“Hari ini...”.
Ku lihat Luhan mengambil gambarnya sendiri,
kameranya menyorot dirinya sendiri. Ini di lokasi yang tidak jauh berbeda
seperti yang ada di foto-foto tadi. Video ini pasti diambil di waktu yang sama
dan tempat yang hampir sama.
Di belakang Luhan terdapat pemandangan indah
pepohonan dengan dedaunan merah, jingga, dan kuningnya. Sama seperti di
foto-foto tadi.
Luhan kemudian terdiam. Dari wajahnya, Luhan pasti
memikirkan sesuatu.
“Hari ini aku tidak sendirian —Sehun sedang pergi
membeli sesuatu.” ujarnya kemudian. “Tapi alasanku merekam video ini adalah
karena aku merindukan mereka.”.
Ia kemudian berkata dalam bahasa Mandarin, yang
setidaknya bisa ku artikan seperti ini,
“Ayah, Ibu. Meski aku tidak tau kalian akan
mendengarku atau tidak, melihatku atau tidak, tapi aku ingin kalian tau bahwa
aku merindukan kalian..., lebih dari apapun...
Di sini, aku tinggal dengan baik bersama Kak
Ahyoung dan ayahnya. Mereka sangat baik padaku, mereka seperti keluarga
kandungku. Aku sangat nyaman tinggal bersama mereka...
Ayah, Ibu. Tersenyumlah di sana, aku akan tumbuh
dewasa dan mandiri sebagai anak kalian. Aku akan membuat kalian bangga karena
telah memiliki aku...”.
Aku rasa, mataku pasti sudah berair.
“Aku takkan mengecewakan kalian, aku akan
membanggakan kalian. Aku janji.” lanjut Luhan.
Namun tak sengaja terdengar, “Luhan hyông, kaja!”
suara Sehun mendekat.
Luhan menatap Sehun yang baru saja datang, dan video
segera berakhir sepersekian detik kemudian. Ku rasa Luhan tak ingin Sehun tau
apa yang sedang ia rasakan ketika merekam video itu. Singkatnya, video tadi
adalah rahasianya.
Aku menghela nafas ketika ku eject CD kesepuluh itu. Kemudian ku jajal CD ke sebelas. Ada tiga video
di dalamnya.
Video pertama, judulnya ‘01’. Rupanya video itu berisi Luhan yang sedang menari di kamarnya
yang ada di apartemennya.
Aku terpukau menyaksikan gerakan Luhan yang begitu
energik. Koreonya pas dengan lagu up beat
yang dimainkan. Durasinya hanya tiga menit sebelas detik.
Video kedua berjudul ‘02’. Rekaman di dalamnya
berupa Luhan yang tengah latihan sendirian di studio tempatnya biasa belajar
menari —sanggarnya Boa. Kali ini, lagunya berbeda masih dengan beat yang tidak terlalu berbeda.
Dari yang ku amati, ku rasa Luhan merekam video ini
setelah jam pulang dan ketika studio sepi —direkam pada hari yang berbeda dari
video yang sebelumnya. Terlihat jelas
t-shirt dan rambut Luhan yang basah karena keringat, tapi Luhan terus saja
menari. Rekaman ini berdurasi empat menit lima puluh empat detik.
Kemudian, video yang berjudul ‘03’ itulah yang membuat mataku kembali berair.
“Ayah, Ibu.” Luhan berujar lagi dalam bahasa
Mandarin. Aku terbelalak melihat keadaan Luhan saat itu.
Aku ingat sekali dari keadaannya saat ini. Ini awal
musim dingin kemarin. Luhan sakit dan ia cuma bisa berbaring di atas
ranjangnya.
Wajah Luhan terlihat sangat pucat. Ia terduduk di
atas ranjangnya dan bersandar pada head
board-nya. Ia hanya memakai t-shirt
putih polos.
“Aku rindu kalian, hanya itu yang ingin ku
katakan.” lanjut Luhan. “Aku rindu kalian, sangat rindu kalian. Aku bahkan
pernah berharap ingin ‘bertemu kalian lagi’, tapi tidak..., aku tidak boleh
seperti ‘itu’, kan...? Aku harus melanjutkan hidupku tanpa kalian...
Ayah, Ibu. Walaupun aku sudah tumbuh sebesar ini,
berpijak di bumi sejauh ini, menimba ilmu sebanyak ini, tapi rasa rindu pada
kalian tak pernah bisa ku hilangkan, perasaan yang sama seperti seorang
bocah...
Aku janji, aku akan menjaga kesehatanku lebih baik
lagi. Aku sayang kalian.”.
Video berakhir.
Aku menghapus butiran air mata yang jatuh. Saat itu
juga aku menyesal, mengingat hari itu aku tidak menjenguknya. Malah hanya Aboji
yang menjenguknya dan aku sudah sibuk dengan pekerjaan kantorku.
“Mianhæ. Mianhæ...” batinku.
CD keduabelas, yang terakhir. Hanya ada satu video
di dalamnya, judulnya ‘Nuna-ui sængil’ (Hari ulangtahun Nuna).
Kali ini, butiran air mataku harus jatuh
menyaksikan isi rekamannya.
“Hari ini adalah hari ulangtahun Ahyoung Nuna.”
Luhan menyorot dirinya sendiri —di kamarku.
Hari di mana ia merekam video ini adalah tepat
ketika hari ulangtahunku waktu itu. Tepat sebelum Luhan kecelakaan. Inilah
salah satu hal yang membuatku menitikan air mata.
“Aku menghadiahkan ia ini, jjajjajjan....!”.
Luhan kemudian menyorot liontin di sebelah
tangannya. Ya, liontin itu yang ia jadikan hadiah untukku waktu itu.
“Lihat di dalamnya, aku memasang fotoku dan foto
Nuna sewaktu kami kecil!” lanjut Luhan.
Benar, rupanya memang Luhan yang memasangkannya.
“Aku akan mengerjai Nuna. Tau kenapa?” Luhan
menyorot dirinya lagi, “Karena aku sedih, Nuna tidak seperti dulu lagi. Ku
rasakan perubahan dalam perilakunya. Aku selalu mencoba mencuri perhatiannya,
tapi Nuna tetap tak mau beralih padaku. Makanya, sekarang aku akan mengerjai
Nuna! Ku harap ia suka!”.
Aku membekap mulutku. Bodohnya aku saat itu, aku
malah membenci kejutannya itu! Ini semua benar-benar karena aku!! Bodoh!!
“Aku akan pergi ke seberang kantor Nuna dan mulai
mengerjainya! Hihihi!” ujar Luhan kemudian. “Sampai sini dulu, nanti akan ku
rekam lagi begitu Nuna sudah ku kerjai dan menerima hadiahku!”.
Rekaman lantas berakhir.
Aku menangis menyadari bahwa harapan Luhan
membuatku menerima hadiahnya apalagi mengalihkan perhatianku padanya itu nihil!
Aku malah membenci tindakannya dan malah mencelakakannya!
Kepalaku tertunduk, terpangku di atas dua lipatan
tanganku. Aku menangis tersedu-sedu, tak mampu berkata apa-apa.
“Luhan-ah,
mianhæ... Mianhæ...!!”.
*****
Esoknya...
Aku cuti sehari dengan alasan pulang kampung. Ah,
haruskah ku sebut seperti itu? Tapi memang kenyataanya seperti itu.
Aku pulang ke Busan, kampung Omoni, dengan mobilku.
Rumah bertingkat itulah rumah kakek dan nenekku —ayah dan ibu dari Omoni dan
ayahnya Sehun. Tapi karena kakek dan nenekku sudah meninggal bertahun-tahun
yang lalu, rumah ini hanya ditinggali keluarga kecil Oh.
“Ahyoung-ah!”.
Seru ibunya Sehun melihat kehadiranku ketika aku
keluar dari mobilku.
Aku kemudian tersenyum.
***
Hari ini, ayahnya Sehun masih bekerja, Hyông-nya Sehun
sedang di kampus, dan Sehun sendiri baru saja pulang sekolah. Ibunya sedang
menyapu halaman barusan, makanya beliau lah orang yang pertama kali ku lihat
begitu aku sampai di sini.
“Sehun masih belum mau bicara.” cerita beliau
ketika kami sudah duduk berhadapan di ruang tamu.
Aku menghela nafas.
“Tapi ia makan dengan teratur, kan?” tanyaku.
Kali ini, beliau yang menghela nafas. “Meski pun ia
tetap makan dan sekolah sewajarnya, tapi ia tidak pernah berbicara. Makan, ya,
hanya makan. Sekolah, ya, hanya sekolah.” ujar beliau, “Aku begitu khawatir.”.
“Aku,” ujarku cepat, “boleh bertemu dengannya?”.
***
“Tok, tok, tok.”.
Beliau mengetuk pintu kamar putra bungsunya.
“Sehun-ah, ada yang ingin bertemu denganmu...!”
ujar beliau kemudian.
Ibunya Sehun mengantarkanku ke kamar Sehun, ia juga
yang mengetuk pintu kamarnya untukku. Ia hanya khawatir dengan keadaanku dan
Sehun nanti ketika kami bertemu lagi.
Tak terdengar jawaban, beliau mengetuk pintu lagi
dan berujar, “Sehun-ah?”.
“Biar aku coba.” selaku.
Aku ketuk pintu kamarnya.
“세훈아 아영이에요.
Sehun-ah, Ahyoung iyeyo. Sehun-ah, ini
aku, Ahyoung.” ujarku kemudian.
Ketika ku putar pegangan pintu, Ibunya Sehun
menahanku. “Ahyoung-ah.” ujarnya.
“Jangan khawatir.” kataku, menepis kekhawatiran
yang beliau rasakan.
Pintunya tidak dikunci, pintu bisa dibuka. Aku
menangkap pemandangan kamar Sehun yang tertata rapi dengan barang-barang yang
minim —percayalah, kalau kamar ini ada banyak barang pasti jadi berantakan.
Setelah pintu ku buka lebih lebar, barulah ku
temukan sosok Sehun yang tengah terduduk di kursi belajarnya. Posisinya
membelakangi pintu masuk.
Aku kemudian beralih pada Ibunya, kemudian
mengangguk. Aku meminta pada beliau untuk meninggalkan kami berdua di sini, dan
beliau menuruti.
“Sehun-ah.” panggilku setelah pintu tertutup rapat.
Sehun tak bergeming.
“Jadi kau masih marah?” tanyaku.
Ku lihat Sehun masih fokus pada tugas sekolahnya
yang sedang ia kerjakan. Tapi aku yakin, ia takkan peduli dengan perkataanku.
Ia tetap akan mengacuhkanku.
Namun Sehun sontak menoleh ketika ia mendengar
laptopnya menyala. Begitu ia menoleh, ia menemukanku duduk di atas ranjangnya
tengah memangku laptopnya.
Aku memandang Sehun. Tak lama, ku keluarkan
beberapa CD Luhan yang ku temukan semalam dan memutar semua video di dalamnya.
Ku letakan laptop itu di atas ranjang dan layarnya
menghadap ke Sehun.
“Ya! Ya!”.
“Apa yang kau
lakukan?”.
Sehun berjalan mendekat begitu ia melihat video
itu. Satu per satu, ku tunjukan semua video itu pada Sehun. Ku lihat, matanya
berair hingga video terakhir.
“Sampai sini
dulu, nanti akan ku rekam lagi begitu Nuna sudah ku kerjai dan menerima
hadiahku!”.
Sehun tertunduk begitu video berakhir. Ku lihat, ia
menyeka air matanya.
Aku memandanginya. “Kau menangis? Untuk apa?”
tanyaku.
Sontak Sehun memandangku. Benar, ia menangis.
Ketika ku coba menyeka sisa air matanya, Sehun menepis tanganku.
Aku masih bersabar. “Kau masih marah padaku?”
kataku.
Lantas aku berdiri. Dengan kasar, ku pegang
wajahnya hingga ia menatapku.
“Kau pikir apa yang kau lakukan?!” marahku. “Bodoh!
Dasar kekanakan!” makiku.
“Untuk apa Nuna berkata demikian...?” tanya Sehun
sinis padaku.
“Karena aku ingin kau berpikir!” marahku, “Apa
hasil yang kau dapat dengan berdiam diri seperti ini?! Bagi Luhan, ia akan
merasa sedih melihatmu seperti ini!!”.
Sehun menatapku tajam.
“Mau kau terus berdiam diri, mau kau terus marah
padaku, Luhan takkan kembali!!”.
“Nuna!!”.
“Plak.” aku menamparnya. Bukannya tanpa pikir
panjang aku menampar adik sepupu yang paling ku sayangi ini. Bocah itu, Sehun,
terdiam.
“Kau benar kekanakan...” ujarku pelan, Sehun
tertunduk. “Jangan kau sakiti dirimu sendiri. Semua yang kau lakukan percuma.
Semua itu takkan membuat hasil! Luhan tidak akan senang melihatmu seperti ini
terus! Jangan kau buat Luhan seperti itu di sana! Kau...,”.
“Nuna, cukup.” pinta Sehun lirih. Ini kedua kalinya
aku membuatnya menangis.
Aku memeluknya tiba-tiba. Sehun menangis di
pundakku dan memelukku erat-erat. Ku harap ia sadar akan tindakannya. Di saat
seperti ini, aku hanya mampu menitikan air mata. Aku tidak mau Sehun mendengar
isakku.
Bocah itu menangis tersedu-sedu di pundakku.
“Aku hanya anak kecil yang tidak tau apa-apa!”
katanya, “Makanya aku kekanakan! Aku membenci Nuna karena perlakuan Nuna yang
membuat Luhan Hyông berakhir seperti ini! Aku juga belum merelakan Luhan Hyông pergi!
Kalau aku bilang begini pada orang-orang, mereka akan menyuruhku untuk segera
merelakan kepergian Luhan Hyông, makanya aku terus berdiam diri!”.
“Sudah, Sehun-ah.” ucapku, berusaha
menghentikannya.
“Aku hanya sedih Luhan Hyông pergi,
padahal aku sangat menyayanginya! Aku hanya marah pada Nuna karena tingkah Nuna
yang berubah menyebalkan!” lanjut Sehun, “Aku memang kekanakan, Nuna! Aku
memang kekanakan!”.
“Aku bilang sudah, Sehun-ah.” kataku, “Jangan kau
berkata seperti itu, dan relakan kepergian Luhan. Kau masih hidup, maka
jalanilah hidupmu. Janganlah kau terus bersedih karena Luhan! Buatlah ia
tersenyum dengan hidup lebih baik mulai dari sekarang.”.
Sehun berbicara kemudian setelah sengguk tangisnya
berlalu, “Aku..., aku...,”.
Ku usap pelan kepalanya. Sudah cukup aku membuatnya
menangis.
“Luhan-ah,
jangan khawatir.” batinku, “Kami akan
baik-baik saja, percayalah...”.
*END*
Oke, yeoreobun... Nate mau bilang sesuatu...
Dengan di-posting-nya Fanfiction ini, Nate
menyatakan kalau Nate akan hiatus. Ada
beberapa alasan
kenapa Nate memilih hiatus untuk sementara waktu.
Pertama, ini yang
paling penting, sekarang Nate sudah kelas dua SMK, dan di semester kedua nanti
Nate akan disibukan dengan Praktek Kerja Lingkungan alias PKL.
Kedua, ini, sih,
emang gak gitu berat, tapi Nate juga punya olshop yang harus Nate urus dengan
sangat teliti ^^berhubung Nate orangnya
teledor, bahkan hape sempet hilang... -_-^.
Ketiga, Nate sedang
mencoba merampungkan semua naskah-naskah novel yang Nate bikin sejak dua tahun
yang lalu hingga sekarang. Ya, novelis
memang cita-cita Nate banget, meskipun kemarin Nate gak ikut menang di ‘’100
Days of Romance’ Penerbit Haru’s Writing Competition 2013’ tapi semangat Nate
gak mereda untuk menulis novel.
Keempat, Nate
sekarang sudah bergabung dengan B.G Entertaiment, management Nate untuk
menyalurkan hobi dance cover Nate dan
ini yang sangat Nate inginkan juga sejak pertama jadi Kpopers. Nate ngerasa
senang banget diterima dan bahkan diberi kepercayaan sama keluarga di B.G ent. Nate suka dance seperti Nate suka nulis.
Foto di atas adalah segelintir keluarga B.G ent. Nate ada di situ, tuh.. Itu, lho, makhluk yang pakai kaos hitam yang ada tulisan SJ di dalam lingkaran birunya. Di sebelah kanan, ya!^
Oke, Nate harap, Reader-deul bisa mengerti keadaan
Nate, ya!^ Oya, tanggal 10 November 2013 Nate dan grup dance cover Nate akan debut. Nama grup kami adalah fiXion, cover untuk f(x). Posisi
Nate adalah sebagai f(Amber) ^^dan Nate
senang banget bisa meng-cover Amber!!^.
Untuk perkembangan Nate dan keluarga B.G ent
bakalan sering-sering Nate share di
blog ini, bahkan B.G ent sendiri nanti bakalan Nate bikinin blog di Blogger
juga. Di tunggu, ya!^
Oke, sampai di sini, ya! Jangan kangen-kangen sama
Nate! #hueek
Yeoreobun, gamsa hamnida!! Yeolshimhi
hagesseumnida!^^ #bow #bow #bow