[FF] 가면속에 (Gamyôn sog-e) Under My Mask
가면속에
(Gamyôn sog-e)
Under My Mask
Author
: Near
Genre
: Sad-romance, Fantasy, Songfic, MVfic
Cast
: VIXX LR, OC
-
Leo
sebagai Aku
-
Ravi
sebagai Dia (sisi di dalam diri Aku)
-
OC sebagai
Kamu (wanita yang meninggalkan Aku)
Near
ngaku ini pertama kalinya Near bikin sebuah prosa seperti ini, dengan sudut
pandang aku, kamu, dan dia. Near rasa, ini unik, sesuatu yang gak biasa Near
tulis.
Beatiful
Liar yang dinyanyikan VIXX LR, baik secara lagu maupun MV,
semua konsepnya itu lebih dari daebak.
Near kagum banget sama yang berpartisipasi dalam lagu ini, terutama. Juga si
produser wanita ―kalau gak salah wanita― yang menggarap MV ini!
Konsepnya
lebih dari daebak!
Inilah
yang bikin Near kepikiran untuk bikin sesuatu yang unik juga dalam segi prosa.
Yakni, Fanfiction ini. Ini bukan fanfiction yang dipandang sebelah mata,
tapi Near memperhatikan keunikan dari fanfiction
ini.
Near
harap, fanfiction ini bisa menarik
banyak perhatian orang karena keunikannya. Happy reading!
Author
Near
Bagi kalian yang bukan ST★RLIGHT(aka fans-nya VIXX)
atau kalian yang gak tau sama sekali tentang lagu mereka yang 'Beautiful Liar',
ada baiknya kalian tonton MV-nya VIXX LR - Beautiful Liar dulu
supaya gak pusing.
Oke? ;)
***
Desiran ombak menyeret pasir,
seakan mengisi keheningan di dalam sini. Tidak, aku hanya ingin sendiri. Tidak
ada yang ku inginkan selain itu. Seakan merelakan layang-layang yang
terlepas dari genggaman, aku membiarkannya dengan tangan terbuka meskipun itu
terasa sakit. Tidak, dengan siapapun itu, berbahagialah.
Sisi di dalam diriku memberontak, seakan hendak meledak keluar dan menahanmu pergi. Namun demi kebahagiaanmu aku berkata 'ya' dan tersenyum.
This is a liar. This is my mask.
Sisi di dalam diriku memberontak, seakan hendak meledak keluar dan menahanmu pergi. Namun demi kebahagiaanmu aku berkata 'ya' dan tersenyum.
This is a liar. This is my mask.
![]() |
| Aku, Kamu, Dia |
***
Dan aku hanya termangu di sini,
sementara ia menarik wajahku.
“Lihat aku, bodoh!!” makinya dengan
emosi meluap-luap, “Kau dianggapnya sudah seperti sampah ―tidak taukah kau akan
hal itu?! Dan kau masih bisa bermain peran seperti ini?! Dasar pengecut!!”.
Aku takkan melawan.
“Apa kau manusia? Kau tak punya
otak, hati, atau keduanya, uh?!” geramnya, meremas rahangku masih sambil
memakiku.
Aku takkan...,
“Justru karena aku memliki
keduanya,” ucapku, “aku melakukan ini.”.
“Cih,” sinisnya, melempar wajahku
menjauh dari tatapannya, “tak semestinya kau memperlakukannya seperti ini. Tak
semestinya kau biarkan dia.”.
Ku tatap punggungnya. Mataku
membulat seketika.
“Ingat apa yang ia lakukan padamu
terakhir kali?” liriknya dari punggungnya, “Kau ingat hari itu kau
membiarkannya?”.
Tatapan kami saling beradu.
“Kejar dia.”.
***
Lipatan indah kertas biru maroon yang diikat pita dan dihiasi
bunga-bunga kecil berwarna sepadan itu tak seindah yang dipikiranku. Namun
tanganku tetap meraihnya.
Tanpa bergeming, ku biarkan dirimu
melewatiku yang termangu di ujung ranjang. Ketika ku angkat kakiku, kau sudah
mengemasi semuanya ―kenangan kita seakan tak berguna. Ketika kedua tanganku
memeluk kakiku, kau telah mengakhiri semuanya.
“Ini aku.” ucapnya.
“Ini aku.” ucapku.
Seakan aku membiarkanmu
pergi, aku hanya terdiam dan tetap di sini ―meski kenyataannya memang ku biarkan dirimu meninggalkanku.
Tak penting seberapapun sakitnya, jika itu baik untukmu maka aku tak apa.
“Tidak, jangan pergi.” ucapnya.
“Tidak, jangan pergi.” ucapku.
Aku membiarkanmu mondar-mandir
tanpa menanyakan bagaimana maupun mengapa. Aku menatap diriku pada cermin tepat
di hadapanku seolah bertanya-tanya.
“Akankah kau bahagia?” ucapnya.
“Akankah kau bahagia?” ucapku.
***
Putih, ringan, senyum, bahagia
―benar, aku dibalik itu semua. Semua itu sandiwara, semua itu bohong. Bahkan meski memakai topeng itu sakit, aku tetap
akan menyembunyikan rupa burukku darimu.
“Ini aku.” ucapku.
“Benar ―ini aku.” ucapnya.
Namun, rupaku tergambar jelas
ketika cahaya itu menyinariku. Pembohong yang lihai, cahaya itu mengenali
asliku. Tidak, bahkan aku seorang pengecut. Tapi kau tidak tau bagaimana
rupaku.
“Sakit, bukan?” ucapnya.
“Sakit.” ucapku.
Aku di sini, di hadapanmu. Kau dan
aku : duduk berseberangan di bawah sinar membelenggu, terpisahkan oleh meja
yang tak bergeming nan dingin. Aku tau kau melihatku, aku tau kau merasakanku.
Tetapi jika ada tempat di mana kau bisa merasa lebih baik, aku tak apa di sini.
Kau menatapku, sekali lagi
menatapku ketika sorot cahaya itu menyilaukanku. Kau boleh saja pergi, tetapi
kau harus tau satu hal bahwa saat-saat kita saling menyayangi itu indah ―lebih
indah dari apapun.
Ketika ku tegakkan dudukku, kau
bersimpuh di atas meja. Ketika ku genggam tanganmu, kau melepaskanku. Ketika
mulutku hendak melontarkan kata terakhirku, kau sudah menghilang.
Dan yang terakhir kau lihat itu,
adalah topengku.
Ketika aku meringkuk, kau berada di
bawah dirinya. Seakan ia mengajariku bagaimana seharusnya aku tidak
membiarkanmu pergi. Tapi tidak, aku tidak melihatnya.
Dia memperlakukanmu dengan buruk,
dan sekali lagi aku tetap tak ingin melihatnya. Aku tidak ingin melakukan itu
padamu, itu hanya akan menyakitimu. Tapi dia ―dia tetap menunjukkanku cara yang
menurutnya benar padaku.
Ketika aku merasa nyaman bernafas
di balik topeng putih ini, dia memberontak merobek topeng yang menutupi rupa
aslinya ketika kau berbalik. Dan aku masih begini.
Di sini, kau dan aku, sementara dia di antara kita. Aku berusaha tidak mendengarkanya, dan sekali lagi menatapmu.
“Aku pergi.” ucapmu.
“Baik.” ucapku.
“Apa?” dia terkejut, “Kau,”.
“Jaga dirimu baik-baik.” itu yang kau
dengar dari balik topengku.
Dan dia menatapku tajam.
Kau menyeret ikatan pita dan
manik-manik yang mengikat kunci itu ke atas meja, lalu tanganmu menyingkir dari
sana. Di saat itulah dengan ragu tanganku meraih kenangan yang kau berikan itu.
Namun belum sempat aku menyentuhnya seinci pun, dia menyingkirkannya dari atas
meja.
Aku dan dirimu, melihat ke mana
kenangan itu terjun dari dinginnya meja. Kemudian, dia menatapmu ―tajam,
dingin, penuh dendam. Selanjutnya, dia menatapku dan berbicara padaku.
Dan kau bangkit dari kursimu, di
saat itulah dirinya menatap ke arahmu. Aku tak bisa tinggal diam saja ketika
dia mencoba meraihmu untuk menahan langkahmu.
“Hei!! Kembali kau!!” teriaknya.
“Tidak.” dengan segera aku bangkit
dari kursiku, ku tarik dan ku tangkap dia yang berusaha memberontak dari
cengkeramanku.
“Menyingkir!!” dia berhasil
terlepas dariku sementara aku terjatuh.
Meski begitu, aku masih bisa
menahan langkah kakinya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan
langkahnya. Setidaknya, ketika ia terjatuh dan merangkak ke arahmu, aku
berhasil menarik tubuhnya.
Kau memandang lagi ke arahku. Kau
lihat aku, kan? Aku tak apa, jadi pergilah. Tunggu apa lagi ―tinggalkan aku.
“Apa yang kau lakukan?!” geramnya,
“Kau membiarkannya pergi!! Tahan dia!! Kau harus mempertahankannya!!” ia terus
memberontak.
Dan aku masih bertahan di balik
topengku, “Tidak, aku tidak apa.” ucapku, masih menahan dirinya.
Kau masih memandang ke arahku.
Sungguh, aku tak apa.
“Dia masih di sana!! Kenapa kau
diam saja?!” kesalnya, “Jangan bohong!! Kau sebenarnya tak ingin ia pergi,
kan?!!”.
“Pergilah,” ucapku padamu.
Kau masih termangu di sana, mungkin
kau masih ragu akan keadaanku. Jika memang demikian, aku bahkan harus membunuh
sisi di dalam diriku, sehingga aku bisa bersembunyi di balik topeng yang
tersenyum ini dan kau bisa pergi tanpa perlu mengkhawatirkanku.
Perlahan-lahan, aku mencekiknya.
“Apa yang kau―” ia tercekat. Perlahan namun pasti, aku membunuhnya ―sisi di
dalam diriku sendiri.
“Pergilah.” ucapku, sementara sisi
di dalam diriku ini sudah lenyap.
Dan akhirnya kau pergi, kau
benar-benar menghilang dari hadapanku. Aku bahkan tidak berpesan padamu, yang
terpenting adalah kau bisa meninggalkanku dengan tenang.
Aku berpikir bahwa kenangan kita
hanyalah sia-sia, sesuatu yang akhirnya terbuang layaknya sampah. Namun, aku
tidak ingin bergantung padamu, aku hanya ingin kau bahagia.
Inilah aku, yang kau lihat ini
adalah seorang Pembohong.
*END*
“♪ Ige
(geuræ ige) naya (naya)... Dô mangsôri ji ma, ttôna... ♫”. Hehe, bagian yang Near suka ―dari lagu Beautiful Liar...
― Yang pengin tau arti dari lagu
VIXX LR – Beautiful Liar, bisa klik di sini! ―
Ottae? Ottae? Ottae? (kayaknya Near udah kebiasaan kalo di akhir FF
nanyanya kaya begini, maklumilah) Near cukup confident dengan fanfiction ini,
cuma tetep aja Near merasa Near belum apa-apa.
Maaf juga, Near telat banget posting-nya, soalnya baru sekarang Near bisa on di PC. Padahal Near nulisnya udah lama banget.
Selain lagu Beautiful Liar, lagu yang nemenin
Near nulis fanfiction ini adalah 할말 Halmal, 차가운밤에 Cold at
Night, dan Memory. Nah, itu lagu, kan, sebelas
duabelas, ya, sama Beautiful Liar,
baik dari segi konsep, tema, melodi, lirik, instrumen, artis, tempo, beat, desebre desebrenya, ya. Jadi pas banget buat nemenin Beautiful Liar di playlist.
Karena 가면속에
Under My Mask ini tergolong fanfiction Near yang paling unik, jadi
Near berharap banyak yang suka. Dan Near harap, yang baca gak hanya para ST★RLIGHT dan Kpopers aja, nih. Tapi orang-orang
yang suka baca juga ―biar banyak yang tau, gitu, hehehe.
Near mau berterimakasih banget sama
VIXX LR dan semua orang yang berkontribusi bareng mereka! Near bener-bener suka
karya mereka yang satu ini yang bahkan sampai menginspirasi Near untuk bikin fanfiction ini! 나라세~ ♡
Jangan lupa, bagi Reader-deul yang
sudah membaca tolong tinggalkan komentar di bawah ini, ya. Komentar kalian
sangat bermanfaat bagi Near dan fanfiction
di blog ini, lho. Oya, di-share
sekalian, ya, hehehe ―maruk.
Oke, sekian dari Near! Terima kasih
banyak buat Reader-deul yang sudah baca, terutama bagi yang meninggalkan
komentar manhi manhi gamsa-deurôyo!!
Author
Near









