[FF] Aim part XIII
Aim
Part XIII : Just
Another Girl
Author : Near
Genre : Action,
Romance, NC+19
Cast : Choi Sol
Ji/Sally Choi (OC), Jeon Won Woo
Other Casts : Kim Min
Gyu, Choi Seung Cheol, Yoon Jeong Han, Lee Ji Hun, Cheon Se Ri (OC), Wen Jun
Hui, Kwon Sun Young, Lee Seok Min
***
| Spoiler
ver. |
A warning from
Author...
NC di sini meliputi
adegan kekerasan ―berhubung genre-nya
action jadi ada adegan pukul-pukulan,
tembak-tembakan, dan darah-darahan (?), beberapa kata tidak sopan ―rada kasar
juga sih, dan adegan dewasa. Meskipun fanfiction
ini tidak secara keseluruhan ―alias tidak 100%― mengandung
adegan-adegan di atas, namun tetap saja pembaca harus mewaspadai hal ini.
Tulisan ini tidak
untuk ditiru atau menjerumuskan pada hal-hal buruk yang ditulis di
dalamnya. Sebagai pembaca yang baik, mohon buang yang jelek dari tulisan ini
dan ambil yang baik dari fanfiction ini.
Jadilah pemabaca yang baik yang mampu menyaring apa yang dibacanya.
Mohon perhatikan
baik-baik peringatan ini terlebih dahulu sebelum membaca, ya.
Author
Near
***
Meski dengan pakaiannya yang kotor, wajah yang
babak belur, tubuh yang lemas, Wonwoo masih bisa berjalan menuju sebuah bukit
di tengah kota. Bukit yang suci, tempat di mana semua jiwa yang telah mati
tertidur dengan tenang.
Di sanalah Kim Jin Po dimakamkan, dan Wonwoo
berdiri lesu di depan nisannya.
“K, Kim..., Sonsaengnim...”
lirihnya, menatap batu hitam mengkilap itu dengan lemah, “Aku..., datang...”
seperti sebuah kebiasaan Wonwoo mengantongi kedua tangannya di saku jeans-nya.
“Maaf aku tidak bawa apa-apa, maaf aku tidak
datang di hari pemakamanmu, maaf aku...,” ia meremas tangannya sendiri, Wonwoo
menggeleng kecil, “maaf aku..., aku salah..., aku bersalah, Pak Kim...”
Pipinya terasa perih ketika bulir itu mengalir
di atas lukanya.
“Aku muncul sebagai pengecut..., pecundang... A loser..” Wonwoo menunduk, malu rasanya
menemui Pak Kim yang sudah tak bernyawa.
“Jika
kau merasa ragu,” ucapan Pak Kim menghentikan langkahnya, “coba kau tarik
nafas, perlahan-lahan, berulangkali, dan mulailah memilah jalanmu sendiri
setelah kau merasa tenang.”
Berulang kali, Wonwoo menarik nafas panjang
perlahan-lahan, namun bukannya merasa tenang justru ia tersedu.
“Apa yang harus ku lakukan, Kim Sonsaengnim? Sekarang tak ada yang
percaya padaku, tetapi sungguh aku ingin menolong mereka.” Wonwoo bisa melihat
titik-titik air matanya di atas tanah pemakaman.
“Apa yang harus ku lakukan...?” lirihnya.
“Ingatlah,
tidak ada kata ‘tidak pernah’, yang ada hanya kata ‘terlambat’.” lanjut Pak
Kim.
Wonwoo jatuh bersimpuh di depan nisan yang bisu
itu, ia jatuh seperti seseorang yang telah kalah, ia bukan seorang Jeon Won Woo
yang sebelumnya. Ia benar-benar pengecut.
“Yongseo
haseyo, Sonsaengnim...” lirihnya, “Yongseo
haseyo...”.


